Vous êtes sur la page 1sur 10

APLIKASI RADIOAKTIF PADA BERBAGAI BIDANG HIDROLOGI

I. RUMUSAN MASALAH

A. Bagaimanakah pengertian
aplikasi radioaktif di bidang hidrologi ?
B. Apa saja contoh penggunaan
radioisotop di bidang hidrologi?

II. PEMBAHASAN

A. Pengertian Aplikasi
Radioaktif di Bidang Hidrologi

Pemakaian radioisotop untuk berbagai macam kegiatan memberikan banyak


keuntungan dan kemudahan yang tidak bisa dicapai dengan cara-cara konvensional.
Demikian juga halnya dengan dengan aplikasi radioisotop dalam bidang hidrologi,
telah banyak memberikan manfaat yang sangat berarti bagi kemajuan ilmu
pengetahuan.

Aplikasi teknologi nuklir saat ini sudah banyak dilakukan karena dapat
digunakan untuk mempelajari masalah-masalah pelik dalam bidang hidrologi.
Penggunaan radioisotop dalam bidang hidrologi antara lain dapat untuk mengetahui
permasalahan berikut ini:

1. Pengukuran arah dan kecepatan pengendapan lumpur di dalam sungai, danau,


teluk, dan laut.

2. Pengukuran debit atau kecepatan aliran air baik yang terdapat pada saluran
terbuka maupun pada saluran tertutup (sungai, sungai bawah tanah, air tanah, dan
lain sebagainya).

3. Pelacakan kebocoran dan rembesan aliran pada pipa dalam tanah, pada pipa
yang tertanam dalam bangunan, atau kebocoran dan rembesan pada bendungan.

4. Penentuan pola retakan/rekahan pada lapisan batu-batuan di dalam tanah.

Pemakaian radioisotop pada bidang hidrologi seperti tersebut diatas pada


dasarnya dapat dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu:
1. Radioisotop sebagai perunut (tracer technique)

2. Radioisotop sebagai perangsang (induce technique)

Pemanfaatan radioisotop sebagai perunut yaitu dengan memasukkan


(menginjeksikan) radioisotop tertentu ke dalam suatu sistem yang akan dipelajari
sehingga radioisotop berbaur sistem, yang selanjutnya diikuti gerak dan tingkah laku
perunut radioaktif sebagai yang telah dimasukkan kedalam sistem tadi. Dengan
memakai radioisotop sebagai perunut maka akan diperoleh gambaran tentang sistem
yang dipelajari tersebut. Radioisotop yang akan digunakan sebagai perunut harus
memenuhi beberapa persyaratan, antara lain:

1. Harus larut dalam air dan tidak membentuk endapan karena proses kimia
dengan air, baik proses oksidasi maupun proses reduksi.
2. Harus tidak bereaksi atau diserap oleh suspensi atau materi yang di dalam air.
3. Tidak bersifat racun yang dapat mengganggu kesehatan
4. Harus bisa dideteksi walaupun dalam jumlah yang sangat kecil
5. Mudah didapat dan harganya murah

Tanpa bantuan radioisotop sebagai perunut, gambaran sistem yang dipelajari


tersebut sulit dan tak mungkin diperoleh.

Pemanfaatan radioisotop sebagai perangsang, yaitu dengan meletakkan sumber


radiasi (radioisotop) di dalam sistem. Akibat adanya pancaran radiasi dari radioisotop
maka sistem yang dipelajari akan terinduksi oleh radiasi.Induksi yang terjadi dapat
berupa penyerapan (Atenuasi) atau bisa berupa hamburan balik (back scattering).
Induksi yang ditangkap oleh detektor akan memberikan gambaran sistem yang
dipelajari. Gambaran sistem yang dipelajari akan diperoleh dengan baik setelah
dikalibrasi dengan sistem standar tersebut. Radioisotop yang sering digunakan dalam
bidang hidrologi antara lain adalah: H3, Na24, Cr51, Br82 dan I131.1

Radio isotop-radioisotop banyak digunakan dalam bidang hidrologi dikarena


alasan keselamatan lingkungan. Radioisotop tersebut relatif cepat meluruh atau waktu
paronya pendek sehingga cepat menyesuaikan dengan cacah latar.

1 Ross Kleinsmidt, Mapping radioactivity in groundwater to identify elevated exposure in remote and rural
communities. Journal of evvironment radioactivity 102, hal 235, 2011
2
B. Contoh Penggunaan
Radioisotop di Bidang Hidrologi

1. Radioisotop Sebagai perunut (tracer technique)


a. Penentuan kebocoran pipa di dalam tanah
Kebocoran pipa di dalam tanah dapat diketahui dengan memasukkan
radioisotop tertentu ke dalam pipa (ikut aliran fluida). Radioisotop akan
keluar pada pipa yang bocor dan ini dapat diketahui dengan bantuan detektor
nuklir yang mengikuti arah aliran dari permukaan tanah.2
Untuk mendeteksi kebocoran pada pipa-pipa yang ditanam di dalam
tanah, biasanya digunakan isotop radioaktif Na-24 (t = 15 jam) dalam
bentuk garam NaCl atau Na2CO3. Radioisotop Na-24 inti dapat memancarkan
sinar gamma yang bisa dideteksi dengan menggunakan alat pencaca
radioaktif geiger cunter.
Untuk mendeteksi kebocoran pada pipa air, garam yang mengandung
radioisotop Na 24 dilarutkan kedalam air kemudian, permukaan tanah di
atas pipa air diperiksa dengan geiger counter. Intensitas radiasi yang
berlebihan menunjukkan adanya kebocoran. Radioisotop juga dapat
digunakan untuk menguji kebocoran sambungan logam pada pembutan
rangka pesawat terbang.3
Radioisotop yang digunakan sebagai perunut harus memenuhi
persyaratan tertentu, antara lain: tidak berbahaya bagi manusia atau makhluk
hidup lain di sekelilingnya, aktivitasnya rendah, waktu paronya pendek, larut
dalam air, tidak diserap oleh tanah atau tubuh bendung/dam dan oleh
tumbuhan. Radioisotop dilepaskan pada tempat tertentu di reservoir (air dam)
yang diper-kirakan sebagai tempat terjadinya rembesan/ bocoran pada
dam/bendungan. Apabila terjadi kebocoran pada bendungan tersebut, maka
air yang telah diinjeksi/dilepas radioisotop akan masuk dan mengikuti arah
bocoran. Dengan mengikuti/mencacah air yang keluar dari mata air, sumur-

2 Wisnu Arya Wardana, Teknologi Nuklir: Proteksi Radiasi dan Aplikasinya, (Yogyakarta: C. V Andi
Offset, 2007), hlm. 317-319.

3 http://wahyunuroru.blogspot.com/2012/04/kegunaan-isotop-radioaktif.html diakses pada tanggal, 02 Des


2013 pukul 13.02
3
sumur pengamat yang terdapat di daerah downstream, maka akan dapat
diketahui adanya bocoran/rembesan dan arah dari rembesan dam tersebut.4
Mencari kebocoran dan sumbatan pipa di bawah tanah merupakan
pekerjaan besar dan tidak sederhana. Dengan teknik perunut radioisotop,
pekerjaan yang membutuhkan tenaga besar tersebut ternyata dapat
disederhanakan.Pemeriksaan kebocoran pipa di bawah tanah dengan perunut
radioisotop dapat dilakukan langsung dari permukaan tanah di atas pipa,
tanpa perlu dilakukan penggalian. Metode pemeriksaan yang dilakukan
adalah dengan menginjeksikan perunut radioisotop kedalam aliran.
Pergerakan radioisotop tersebut di dalam pipa dapat diikuti dari atas tanah
menggunakan pemantau radiasi. Tempat yang memberikan hasil cacahan
radiasi yang tinggi mengindikasikan telah terjadi kebocoran di tempat
tersebut. Untuk menenukan letak sumbatan dalam pipa, sebuah polipig berisi
radioisotop dimasukkan kedalam pipa. Arah pergerakan polipig tersebut
dapat diikuti dengan pemantau radiasi dari luar pipa. Polipig akan berhenti di
tempat terjadinya sumbatan.5

Gambar kebocoran pipa air

b. Penentuan kecepatan dan aliran air tanah (Ground Water)


Arah aliran air tanah dan kecepatannya seringkali diperlukan dalam
pembuatan perencanaan suatu kawasan sypaya air tanah yang diambil (di-
bor)sebagai sumber air benar-benar baik dan tidak terkontaminasi oleh air
4 Ross Kleinsmidt, Mapping radioactivity in groundwater to identify elevated exposure in remote and rural
communities. Journal of evvironment radioactivity 102, hal 235, 2011

5http://www.infonuklir.com/read/detail/126/radioisotop-untuk-hidrologi#.Upwg-dIW25g di akses pada tanggal,


02 Des 2013 pukul 13.02
4
limbah yang dibuang dalam peresapan. Caranya adalah dengan membuat
sumur pada beberapa tempat (multi well technique).
Radioisotop disuntikan ke dalam sumur A. Setelah beberapa saat, air
dari sumur 1 sampai dengan sumur 6 diambil di-analisis kandungan
radioisotopnya yang terbanyak, menunjukkan arah aliran air tanah dari sumur
A ke sumur yang terbanyak radioisotopnya.

c. Untuk mengetahui transport endapan


Radioisotop dapat juga digunakan untuk mengetahui transport endapan
(pasir, misalnya) di dalamnya sungai, di dalam danau, dan di dalam laut
(teluk). Perunut radioisotop yang digunakan bisa berupa:
1. Pasir yang diambil dari sungai, danau, atau laut yang akan dimati
transport endapannya. Pasir yang dikehendaki sesuai dengan diameter
yang ditentukan (melalui proses pengayakan).
2. Surface labelling, yaitu pasir yang permukaannya diberi lapisan
radioisotop.
3. Exchange resin, yaitu suatu zat yang diberi larutan yang mengandung
radioisotop. Radioisop akan menempel dan diabsorbsi oleh resin.
4. Ground glass, yaitu bahan gelas yang ukurannya dibuat seperti butiran
pasir yang diselidiki dan diberi zat yang akan dijadikan radioisotop.
Setelah perunut selesai dibuat, perunut radioisotop dimasukkan ke
dalam sungai atau danau yang akan diselidiki transport endapannya. Pasir
kemudian diambil dari beberapa tempat, dicacah radiasinya dengan detektor
nuklir, kemudian dianalisis.6

2. Radioisotop sebagai perangsang (induce technique)


a. Mengukur Pergerakan Lumpur dan Pasir di Sungai dan Laut
Lumpur adalah sedimen dengan ukuran butir kurang dari 63 mikron.
Secara alami, lumpur yang terbawa di sungai merupakan hasil dari proses
endapan sungai dimana pada daerah yang terdapat lumpur merupakan daerah
yang memiliki arus yang kecil. Kondisi lumpur yang merupakan sedimen
halus (kohesif) dan kondisi arus yang kecil akan mengakibatkan terjadinya
penggumpalan. Penggumpalan tersebut terjadi dari setiap partikel sedimen
kohesif yang berkumpul dalam tempat dan waktu yang bersamaan tanpa
mendapat gangguan dari kondisi hidrodinamika. Sementara, jika terjadi

6 Wisnu Arya Wardana, Teknologi Nuklir: Proteksi Radiasi dan Aplikasinya, hlm. 319-320.

5
kondisi hidrodinamika yang cukup besar sehingga terjadi turbulensi massa
air, maka sedimen halus tersebut akan mudah terbawa oleh aliran air dan
akan berhenti hingga pada saat terjadi penurunan kondisi aliran hingga
menuju stagnan. Hal tersebut sangat berbeda dengan kondisi sedimen non
kohesif seperti pasir dimana ukuran partikelnya lebih besar dari
lumpur sehingga pembentukan dan perusakan penggumpalan memerlukan
energi yang lebih besar.7
Pendangkalan pelabuhan dan alur pelayaran yang menyangkut
kelangsungan pelayanan perhubungan laut merupakan masalah yang cukup
serius. Pergerakan dan pengendapan lumpur tanah ini merupakan peristiwa
alam, oleh karena itu tidak dapat dihentikan namun hanya diusahakan
mengurangi dampaknya terhadap alur dan kolam pelabuhan. Terjadinya
pendangkalan alur pelabuhan dan kolam pelabuhan, mengakibatkan kapal-
kapal besar tidak dapat merapat ke dermaga, sehingga bongkar muat barang
akan terganggu, sedangkan untuk mengeruk lumpur itu membutuhkan biaya
yang cukup besar.
Salah satu usaha untuk memperkecil kecepatan terjadinya
pendangkalan (endapan lumpur) adalah dengan cara mengetahui dari mana
asal dan ke mana arah gerakan sedimen tersebut. Untuk estimasi laju
pendangkalan alur pelabuhan dapat diterapkan teknik nuklir dengan
menggunakan teknik perunut radioisotop. Radioisotop yang dipergunakan
berupa pasir tiruan, bentuk dan ukurannya menyerupai pasir yang terdapat
pada pelabuhan yang akan diteliti. Radioisotop yang sering dipergunakan
adalah Iridium-192 (192Ir), Scandium-46 (46Sc), dan 140
BaSO4 yang memiliki
waktu paruh singkat yaitu t1/2 = 12,8 hari.
Radioisotop diinjeksikan ke dasar laut, kemudian radiasi yang
dipancarkan dilacak dengan detektor dan responnya akan dicatat dengan
mesin pencatat radiasi (recorder). Pemantauan terhadap radioisotop yang
dilepas ke dasar laut dilakukan beberapa kali dengan jangka waktu tertentu.
Dari hasil pemantauan itu secara kumulatif dapat ditentukan arah gerakan
sedimen, tebal lapisan sedimen dan kecepatan rata-rata lapisan sedimen.8
1. Pengukuran kepadatan lapisan suatu sistem atau proses logging

7 http://. Sediment Transport Model Porong (please site the author as a reference) _ Huda Bachtiar -
Academia.edu.htm

8 Atomos, Aplikasi Teknik Nuklir dalam Hidrologi, PDIN I Tenaga Nuklir Nasional
6
Prinsip pengukuran kepadatan lapisan suatu sistem ini hampir
mirip dengan pengukuran kecepatan pengendapan lumpur di dalam air,
hanya saja radiasi yang ditangkap oleh detektor bukan adanya atenuasi,
tetapi oleh karena adanya hamburan balik (back scattering) dari
kepadatan lapisan suatu sistem. Prinsip pengukuran seperti ini sering
disebut sebagai proses logging. Perkembangan proses logging ini
kemudian dapat digunakan untuk menerjemahkan arti kepadatan lapisan
suatu sistem sebagai lapisan minyak, Lapisan Gas atau lapisan
tambang lainnya. Logging sering digunakan dalam pengeboran lapisan
tanah dari hanya beberapa meter sampai ribuan meter dibawah permukaan
tanah.
Hamburan balik (back scattering) yang berasal dari lapisan tanah 3
ditangkap oleh detektor, kemudian dicatat oleh rekorder. Data yang
diperoleh dari hamburan balik lapisan tanah 3 sudah barang tentu lain
dengan data hamburan balik dari lapisan tanah lainnya (lapisan 1, 2 dan
4). Data setiap lapisan tanah kemudian di kalibrasi dengan data hasil
analisis di laboratorium dari hasil pengeboran (sondering) secara
konvensional, sehingga didapat suatu data (hasil kalibrasi) yang bisa
dibaca secara langsung kandungan mineral pada setiap lapisan tanah.
Perlu diingat bahwa kalibrasi alat untuk proses logging sangat penting dan
sangat menentukan dalam pembacaan hasilnya.
Pemanfaatan teknik atau proses logging saat ini sangat pesat,
karena dalam pengeboran dengan teknik loging ini data yang diperoleh
dapat langsung digunakan untuk mengetahui keadaan lapisan tanah dan
kandungan mineralnya. Pada saat ini dikenal beberapa macam teknik atau
proses logging, yaitu:
a. Gamma-gamma logging
Teknik logging ini menggunakan sumber radiasi Gamma dan
detektor khusus untuk radiasi Gamma. Hamburan balik radiasi
Gamma dari lapisan tanah di sekitar alat (mata) bor akan ditangkap
oleh detektor khusus untuk radiasi Gamma.
b. Neutron-Gamma logging
Alat ini memanfaatkan sumber radiasi neutron dan detektor-nya,
khusus untuk radiasi Gamma yang timbul adalah akibat interaksi
radiasi neutron dengan lapisan tanah disekitar alat (mata) bor. Jadi

7
radiasi Gamma yang timbul di analisis dengan spektrometri Gamma.
Untuk mengetahui unsur unsur yang terdapat dalam lapisan tanah
tersebut. Proses neutron-gamma logging mirip dengan teknik analisis
aktivasi neutron. Alat neutro-gamma logging, selain untuk
menganalisi unsur di dalam mata bor, juga dapat dipakai untuk
menentukan pengaruh air pasang surut laut terhadap sungai, dalam hal
ini untuk mengetahui batas air tawar dan air asin di dalam sungai
c. Neutron-neutron Logging
Teknik logging ini menggunakan sumber radiasi neutron dan
detektor khusus neutron. Detektor neutron digunakan untuk
menangkap hamburan balik radiasi neutron dari lapisan tanah di
sekitar alat (mata) bor. Neutron-neutron logging pada umumnya
digunakan untuk menentukan kadar air dalam lapisan tanah.9

III. KESIMPULAN

Aplikasi teknologi nuklir saat ini sudah banyak dilakukan karena dapat
digunakan untuk mempelajari masalah-masalah pelik dalam bidang hidrologi.
Penggunaan radioisotop dalam bidang hidrologi antara lain dapat untuk
mengetahui permasalahan berikut ini:

1. Pengukuran arah dan kecepatan pengendapan lumpur di dalam sungai,


danau, teluk, dan laut.
2. Pengukuran debit atau kecepatan aliran air baik yang terdapat pada
saluran terbuka maupun pada saluran tertutup (sungai, sungai bawah tanah, air
tanah, dan lain sebagainya).
3. Pelacakan kebocoran dan rembesan aliran pada pipa dalam tanah, pada
pipa yang tertanam dalam bangunan, atau kebocoran dan rembesan pada
bendungan.
4. Penentuan pola retakan/rekahan pada lapisan batu-batuan di dalam
tanah.

Contoh Penggunaan Radioisotop di Bidang Hidrologi

1. Radioisotop Sebagai perunut (tracer technique)

a.Penentuan kebocoran pipa di dalam tanah


9 Wisnu Arya Wardana, Teknologi Nuklir: Proteksi Radiasi dan Aplikasinya, hlm. 324.
8
b. Penentuan kecepatan dan aliran air tanah (Ground Water)
c.Untuk mengetahui transport endapan

2. Radioisotop sebagai perangsang (induce technique)

a.Mengukur Pergerakan Lumpur dan Pasir di Sungai dan Laut


b. Proses Pengukuran Kedalaman Perairan
c.Pengukuran Kepadatan Lapisan Suatu Sistem atau Proses Logging

DAFTAR PUSTAKA

Atomos, Aplikasi Teknik Nuklir dalam Hidrologi, PDIN I Tenaga Nuklir Nasional

Ross Kleinsmidt, Mapping radioactivity in groundwater to identify elevated exposure in


remote and rural communities. Journal of evvironment radioactivity 102, 235-243,
2011
9
Wisnu Arya Wardana, Teknologi Nuklir: Proteksi Radiasi dan Aplikasinya, (Yogyakarta: C.V
Andi Offset, 2007), hlm. 317-319.

http://wahyunuroru.blogspot.com/2012/04/kegunaan-isotop-radioaktif.html

http://www.infonuklir.com/read/detail/126/radioisotop-untuk-hidrologi#.Upwg-dIW25g

http://. Sediment Transport Model Porong (please site the author as a reference) _ Huda
Bachtiar - Academia.edu.htm

10