Vous êtes sur la page 1sur 20

Akalasia Esofagus

Akalasia Esofagus adalah kelainan esophagus primer yaag ditandai dengan adanya
Obstruksi esofagogastrik junction dengan karakteristik bertambahnya tekanan
sfingter~esophagus bagian bawah dan tidak adanya peristaltik esophagus. Gangguan
motilitas esophagus akibat peristaltik yang melemah dan adanya kontraksi yang
menetap pada sfingter esophagus bagian bawah menyebabkan obstruksi relatif di
mana bagian proksimal esophagus melebar (megaesofagus). Diagnosis ditegakkan
berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan radiologis.

Anamnesis

Adanya gejala klinik yang sering berupa:


1. Disfagia
Perjalanan penyakit biasanya kronis dengan disfagia yang bertambah berat. Berat
ringannya disfagia menurut British Oesophageal Surgery dibagi menjadi 5 tingkat,
yaitu:
Tingkat 0 : normal
Tingkat 1 : tidak dapat menelan makanan padat
Tingkat 2 : tidak dapat menelan makanan daging halus
Tingkat 3 : tidak dapat menelan sup atau makanan cair
Tingkat 4 : tidak dapat menelan ludah

1. Nyeri dada

Gejala kurang menonjol pada permulaan penyakit. Rasa nyeri biasanya di substernal
dan dapat menjalar ke belakang bahu, rahang dan lengan, timbul bila makan/minum
dingin.

2. Regurgitasi

Timbul tidak hanya berhubungan dengan bentuk/jenis makanan tetapi juga


berhubungan dengan posisi. Bila penyakit makin kronis, maka pada saat penderita
berbaring sisa makanan dan saliva yang terdapat pada kantong esofagus dapat
mengalir ke faring dan mulut sehingga akhirnya dapat menimbulkan aspirasi
pneumonia.

3. Kehilangan berat
Pemeriksaan Radiologis

1. Foto thoraks polos

Bermakna bila esofagus mengalami dilatasi yang hebat. Foto AP akan tampak
bayangan yang menonjol ke arah jantung. Pada foto lateral akan tampak adanya
bayangan di posterior jantung. Terdapat gambaran air fluid level di dalam esofagus,
tak tampak gelembung udara di daerah gaster.

2. Esofagografi

Stadium permulaan adanya obstruksi kardia dan pelebaran minimal dari esofagus.
Stadium lanjut adanya penyempitan pada bagian distal esofagus pada
batasesofagogastric junction dengan pelebaran pada bagian proksimalnya. Terdapat
gambaran menyerupai paruh burung, beak like appearance atau mouse tail
appearance. Pemeriksaan ini penting untuk menyingkirkan kelainan seperti striktura
esofagus dan keganasan. Pada akalasia, esofagoskopi masih bisa dimasukkan ke
dalam lambung dengan hambatan ringan dan dapat terlihat dilatasi esofagus,
mukosa lembek agak edema, tanda-tanda esofagitis dan penutupan sfingter esofagus
distal.

3. Pemeriksaan Manometer

Setelah menelan, tekanan daerah sfingter esofagus menguat 2 kali normal akibat
dilatasi dan retensi makanan.

Diagnosis Banding
- Ca cardia

- Spasme cardia

- Striktura esofagus dekat diafragma

- Hipermotilitas

- Penyakit cagas

Komplikasi
- Aspirasi pneumonia
- Perdarahan ulkus dalam mukosa
- Perforasi akut
- Ca esofagus
- Ca lambung

Penatalaksanaan
1. Konservatif
a. Diet cair /lunak dan hangat
b. Medikamentosa
- Sedatif ringan untuk penenang
- Preparat kalsium antagonis seperti verapamil atau nifedipin oleh karena dapat
menurunkan tekanan sfingter esofagus bagian bawah. Nifedipin diberikan 10-20 mg
sublingual dapat menurunkan tekanan esofagus bagian bawah kurang lebih 1 jam
akan tampak perbaikan gejala bila diberikan sebelum makan.
2. Tindakan aktif
a. Forced dilatation: dilakukan pada akalasia ringan sedang. Ada 3 macam dilatator:
- mekanik
- pneumatik
- hidrostatik
b. Tindakan bedah yaitu: operasi Heler, melakukan esofagomiotomi.
Komplikasi yang timbul adalah: - perforasi
- paralise n. phrenicus
- refluks gastroesofagal
- perdarahan masif
- disfagia
Askep Pada Klien Dengan Acalasia

BAB I
TINJAUAN TEORITIS

A. PENGERTIAN
Akalasia merupakan gangguan atau hilangnya peristalsis esophagus dan kegagalan sfingter
kardio-esofagus untuk relaksasi sehingga makanan tertahan di esophagus.
Achalasia adalah penyakit jarang yang mengenai otot esophagus. Kegagalan untuk relaksasi
dan mengacu pada ketidakmampuan dari sfingter esophagus bawah untuk membuka dan
membiarkan melewatinya masuk kedalam lambung.

B. ETIOLOGI
Dasar penyebab akalasia adalah kegagalan koordinasi relaksasi esophagus bagian distal disertai
peristalsis esophagus yang tidak efektif berdilatasi. Hasil penelitian menunjukkan kelainan
persarafan parasimpatis berupa hilangnya sel ganglion di dalam pleksus Auerbach yang juga
disebut pleksus mienterikus.
Ada teori-teori yang meliputi infeksi, keturunan atau abnormalitas system imun yang
menyebabkan tubuh sendiri merusak esophagus.

C. PATOLOGI
Segmen esophagus di atas dinding sfingter esofagogaster yang panjangnya berkisar antara 2-8
cm menyempit dan tidak mampu berelaksasi.
Esophagus bagian proksimal dari penyempitan tersebut mengalami dilatasi dan perpanjangan
sehingga akhirnya menjadi megaesofagus yang berkelok-kelok. Bentuk esophagus ini sangat
bergantung pada lamanya proses, bisa berbentuk botol, fusiform, sampai berbentuk sigmoid
dengan hipertrofi jaringan otot sirkuler dan longitudinal.
Mokusa mungkin mengalami peradangan akibat rangsangan retensi makanan. Akalasia adalah
salah satu faktor resiko untuk terjadinya karsinoma epidermoid. Karsinoma dapat terjadi pada
5% pasien yang tidak mengalami pengobatan, rata-rata 20 tahun setelah terdiagnosis.

D. GAMBARAN KLINIS
Akalasia biasanya mulai pada dewasa muda walaupun ada juga yang ditemukan pada bayi dan
sangat jarang pada usia lanjut. Gejala utama akalasia adalah disfagia, regurgitasi, rasa nyeri
atau tidak enak di belakang sternum dan berat badan menurun. Lama gejala timbul sangat
bervariasi dari beberapa hari sampai bertahun-tahun dan gejala makin berat secara perlahan-
lahan.
Disfagia adalah gejala utama yang mula-mula dirasakan sebagai rasa penuh atau rasa
mengganjal di daerah esophagus distal yang hilang timbul dan makin lama makin berat. Pasien
akan makan secara perlahan-lahan dan selalu disertai minum yang banyak. Regurgitasi terjadi
bila penyakit sudah lanjut dan sudah terjadi dilatasi esophagus bagian proksimal. Regurgitasi
biasanya dirasakan pada waktu malam sehingga pasien bangun dari tidurnya. Makanan yang
diregurgitasi tidak dicerna, tidak asam, dan baunya manis karena pengaruh ludah. Keadaan ini
berbahaya karena dapat menimbulkan radang paru-paru akibat aspirasi. Keluhan nyeri
umumnya tidak dominan. Mula-mula keadaan gizi baik dan baru mundur pada tahap lanjut.

E. DIAGNOSIS
Pada pemeriksaan fisik tidak kelaianan yang berarti. Dengan anamnesis sebetulnya sudah dapat
diduga adanya akalasia, walaupun demikian tetap harus dideferensiasi dengan penyakit
keganasan, stenosis atau benda asing esophagus.

F. PEMERIKSAN PENUNJANG
Pada esofagografi terdapat penyempitan daerah batas esofagogaster dan dilatasi bagian
proksimalnya. Jika proses akalasia sudah lama, bentuk esophagus berubah menjadi berkelok
dan akhirnya berbentuk huruf S.
Dengan pemeriksaan esofagoskopi dapat disingkirkan kelainan penyempitan karena struktur
atau keganasan.
Pada akalasia terdapat gangguan kontraksi dinding esophagus sehingga pengukuran tekanan
didalam lumen esophagus dengan manometri sangat menentukan diagnosis. Tekanan di dalam
sfingter esofagogaster meninggi dan tekanan didalam lumen esophagus lebih tinggi daripada
tekanan didalam lambung.

G. KOMPLIKASI
a. Pengurangan berat badan dan pneumonia aspirasi
b. Sering terdapat peradangan esophagus / esofagitis karena efek iritasi dari makanan dan cairan
yang terkumpul dalam esophagus pada periode waktu yang lama.
c. Kemungkinan peningkatan kanker esophagus.

H. PENATALAKSANAAN
Tujuan utama penatalaksanaannya adalah menurunkan tahanan sfingter esophagus bagian
bawah terhadap bolus makanan dan hal ini dapat dicapai dengan cara dilatasi balon dan bedah
esofagomiomotomi.
Diet dan obat-obatan untuk menghilangkan atau mengurangi kontraksi sfingter esophagus dan
otot polos dinding esophagus dianjurkan pada tahap awal penyakit. Tindakan ini biasanya
disertai dengan dilatasi. Tujuan melakukan dilatasi ialah membuat sfingter esophagus bagian
terbuka dan otot-ototnya rusak.
Toksin botolinum adalah toksin yang bekerja menghambat pengeluaran asetilkolin di prasinaps
pada serabut syaraf sehingga dapat menurunkan tonus otot sfingter esophagus. Meskipun
demikian, terapi ini hanya berhasil pada dua pertiga pasien. Selain itu pula, botolinum hanya
efektif untuk jangka pendek dan oleh karena itu, harus dilakukan penyuntikan berulang.
Dilatasi dilakukan dengan dilatators yang terdiri atas sonde dengan balon yang dapat diisi
dengan udara atau air bertekanan dengan tinggi sehingga otot sirkuler teregang dan robek.
Dilatasi ini harus diulang sewaktu timbul gejala kembali. Hasil pengobatan dengan cara ini
berhasil memuaskan pada 65% kasus; pada kurang dari 1% timbul koplikasi perforasi.
Bedah esofagomiotomi terdiri atas memotong otot esophagus pada arah sumbu esophagus
sepanjang sfingter bawah, diluar mukosa. Hasil operasi ini cukup memuaskan.

Asuhan Keperawatan Teoritis


A. Pengkajian
1. Identitas Klien
Nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, tanggal masuk, alamat, nomor MR, Dll.
2. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Dahulu
Biasanya klien pernah mengalami penyakit saluran pencernaan atas.
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya klien mengalami disfagia, regurgutasi, rasa nyeri dibelakang sternum, anoreksia dan
berat badan menurun.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ada atau tidaknya anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama dengan klien.
3. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala dan Leher
Biasanya hygiene kepela tetap terjaga dan pada leher biasanya tidak terdapat pembesaran
kelenjar getah bening
b. Mata
Biasanya konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik dan palpebra tidak oedema
c. Hidung
Biasanya tidak ditemukan kelainan
d. Mulut
Biasanya kebersihan mulut dan gigi tetap terjaga dan mukosa bibir kering
e. Telinga
Bisanya tidak ditemukan kelainan
f. Dada/Thorax
Paru-paru
I : biasanya simetris kiri-kanan
P : biasanya fremitus kiri-kanan
P : biasanya sonor
A : biasanya vesikuler, ronchi tidak ada, wheezing tidak ada
Jantung
I : biasanya Ictus tidak terlihat
P : biasanya Ictus teraba 1 jari LMCS RIC V
P : biasanya jantung dalam batas-batas normal
A : biasanya irama teratur
g. Abdomen
I : biasanya tidak asites, cekung
P : biasanya Hepar dan lien tidak teraba
P : biasanya Tympani
A : biasanya BU normal
h. Genitourinaria
Biasanya tidak ada kelainan dan keluhan
i. Ekstremitas
Biasanya tidak ada oedema
4. Aktivitas Sehari-hari
a. Nutrisi
Anoreksia, mual, muntah, tidak enak diperut, penurunan berat badan.
b. Istirahat/tidur
Rasa lemah, cepat lelah, aktivitas berat timbul sesak nafas, sulit tidur
c. Eliminasi
Biasanya klien tidak mengalami gangguan
d. Personal hygiene
Biasanya kebersihan klien tetap terjaga
B. Fokus Intervensi
a. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake yang tidak adekuat
ditandai dengan mual muntah.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan kriteria hasil : BB dalam batas normal
Intervensi :
Kaji kebutuhan nutrisi klien
Beri klien makan dalam porsi kecil tapi sering
Beri makanan dalam keadaan hangat
Beri klien motivasi agar mau menghabiskan makanan
Rasional :
Dengan mengetahui kebutuhan nutrisi klien dapat dinilai sejauh mana kekurangan nutrisi
klien dan menentukan langkah selanjutnya
Untuk mengurangi pemenuhan lambung dan memudahkan penyerapan
Makanan hangat diharapkan dapat mengurangi mual/muntah
Klien merasa diperhatikan dan berusaha menghabiskan makanannya
b. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan fisik
Tujuan : Klien dapat melakukan aktivitas sesuai tingkat toleransi dengan kriteria hasil : Klien
dapat melakukan aktivitas sehari sesuai tingkat kemampuan.
Intervensi :
Kaji penyebab keletihan
Bantu klien memenuhi kebutuhan dasar
Berikan lingkungan yang tenang dan periode istirahat tanpa gangguan
Berikan lingkungan yang aman

Rasional :
Untuk mengetahui faktor yang menurunkn toleransi aktivitas
Memaksimalkan pemenuhan kebutuhan dasar klien
Menghemat energy untuk aktifitas
Menghindari cedera akibat kecelakaan
C. Implementasi
Merupakan penerapan dari rencana tindakan yang telah disusun dengan prioritas masalah dan
kegiatan ini dilakukan oleh perawat untuk membantu memenuhi kebutuhan klien dan
mencapai tujuan yang diharapkan.
D. Evaluasi
Merupakan tahap akhir dari proses keperawatan untuk menentukan hasil yang diharapkkan
dari tindakan yang telah dilakukan dan sejauh mana masalah klien teratasi. Perawat jaga
melakukan pengkajian ulang untuk menentukan tindakan selanjutnya bila tujuan tidak
tercapai.
askep disfagia akalasia

BAB III

Asuhan Keperawatan

3.1 Pengkajian

a. Anamnesis

Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan,
golongan darah, penghasilan, alamat, penanggung jawab, tanggal dan jam masuk rumah sakit,
nomor register, diagnosa medis.

b. Keluhan utama : Keluhan utama yang sering menjadi masalah saat makan atau minum.

c. Riwayat Penyakit Sekarang : Mengalami masalah saat makan atau minum, seringkali tersedak
sampai beberapa kali makanan bukannya tertelan tapi masuk ke rongga hidung sehingga terbatuk
dan bersin saat makan.

d. Riwayat penyakit dahulu : -

e. Riwayat Penyakit Keluarga : Untuk mengetahui adanya penyakit yang sama pada generasi
sebelumnya.

f. Pola kebiasaan :

1. Pola nutrisi

2. Pola tidur/istirahat

3. Pola aktivitas

4. Pola eliminasi

5. Pola kopinh

6. Konsep diri.

g. Pemeriksaan fisik

a. B1 (Breathing) : awasi adanya peningkatan RR, penggunaan otot bantu nafas dan nyeri di dada.

b. B2 (Blood) : Nadi normal (60-100 x/menit), TD normal (120/80 mmHg)

c. B3 (Brain) : -

d. B4 (Bladder) : -

e. B5 (Bowel) : nafsu makan turun, nyeri saat menelan

f. B6 (Bone) : pasien lemah, turgor kulit jelek

3.2 Analisis data

Data menyimpang
Etiologi

Masalah keperawatan

DS:

1. Sulit menelan

2. Dada terasa terbakar sebelum dan sesudah makan

DO:

X-ray, esophagus dilatasi

Sulit menelan

disfagia

makanan tertahan di

esofagus

absorpsi nutrient

berkurang

nutrisi kurang dari

kebutuhan

Nutrisi kurang dari kebutuhan

3.3 Diagnosa Keperawatan

1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d masukan nutrisi yang kurang.

2. Resiko nyeri b.d kesulitan menelan

3. Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan sulit menelan


4. Resiko tinggi aspirasi berhubungan dengan makanan masuk ke saluran nafas.

3.4 Intervensi Keperawatan

1. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan sulit menelan ditandai oleh pasien
mengeluh mengalami masalah saat makan dan minum.

Tujuan : Setelah dilakukan perawatan maka masalah kekurangan nutrisi dapat diatasi

Kriteria hasil

1. Perawat mampu meningkatkan status nutrisi pasien

2. Perawat mampu mengontrol BB pasien

3. Pasien terbebas dari tanda-tanda malnutrisi

Intervensi dan rasional

No

Intervensi

Rasional

1.

2.

3.
4.

Tanyakan pada pasien apakah ia memiliki riwayat alergi terhadap makanan.

Beri dukungan pada pasien untuk mendapatkan intake kalori yang adekuat sesuai dengan tipe tubuh
dan pola aktivitasnya.

Pasien dianjurkan untuk makan dengan perlahan dan mengunyah makanan secara seksama.

Pemberian makanan sedikit dan sering dengan bahan makanan yang tidak bersifat iritatif.

Untuk menentukan nutrisi yang tepat untuk pasien.

Agar terjadi keseimbangan antara kebutuhan kalori dengan pemasukan kalori.

makan perlahan dan mengunyah secara seksama dapat memudahkan makanan lewat kedalam
lambung.

meningkatkan pencernaan dan mencegah.

2. Resiko nyeri b.d kesulitan menelan

Tujuan : Setelah dilakukan perawatan nyeri akut dapat diatasi dan berkurang.

Kriteria hasil.

1. Perawat mampu menurunkan tingkat nyeri, meningkatkan tingkat kenyamanan dan


mengontrol nyeri.

2. Pasien mampu menggunakan skala nyeri untuk mengidentifikasi tingkat nyeri saat ini dan
menentukan tingkat kenyamanan yang diinginkan.

Intervensi dan rasional

No

Intervensi

Rasional

1.
2.

3.

4.

Mintalah kepada pasien untuk melaporkan lokasi, intensitas dengan menggunakan skala nyeri dan
kualitas nyeri.

Pemberian makan sedikit dan sering.

Ajari pasien metode nonfharmakologi untuk menurunkan nyeri klien.

Anjurkan pasien untuk menggunakan obat analgesik sesuai dengan yang dianjurkan.

Intensitas, lokasi dan kualitas nyeri hendaknya dilaporkan sesudah prosedur tindakan untuk
mengetahui keberhasilan treatmen .

pemberian makan dan sering dianjurkan karena jumlah makanan yang terlalu banyak akan
membebani lambung dan meningkatkan refluks lambung.

Digunakan untuk sebagai suplemen dari metode pharmakologik.


Mencegah terjadinya penyalahgunaan obat.

3. Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan sulit menelan

Tujuan : Kebutuhan cairan pasien dapat terpenuhi / tidak mengalami kekurangan cairan tubuh.

Kriteria Hasil :

1. Pasien tidak bermasalah saat minum

2. Turgor kulit baik

No

Intervensi

Rasional

1.

Memantau jumlah keluaran urin pasien

Agar dapat mengetahui jumlah cairan yang harus diberikan dan jenis cairan

2.

Memberikan cairan yang adekuat

Agar pasien tidak kekurangan elektrolit dan kebutuhan cairan stabil (normal)

3.

Memberikan buah dan sayur yang mengandung banyak air

Untuk menambah cairan yang dibutuhkan

4.

Kaji suhu, warna kulit, kelembapan kulit

Mengindikasikan terjadinya dehidrasi

4. Resiko tinggi aspirasi berhubungan dengan makanan masuk ke saluran nafas.

Tujuan : Pasien tidak lagi beresiko aspirasi saat pemberian nutrisi

Kriteria Hasil :

1. Pasien tidak tersedak saat makan

2. Pola nafas pasien tidak terganggu

No

Intervensi
Rasional

1.

Dorong latihan abdomen atau bibir

Memberikan beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dispnea dan menurukan jebakan
udara

2.

Mengajarkan pasien posisi duduk saat makan

Posisi duduk mengurangi resiko terjadinya aspirasi


Akalasia adalah kegagalan relaksasi serat-serat otot polos saluran cerna pada persimpangan
bagian yang satu dengan yang lain khususnya kegagalan sfingter esofagogaster untuk
mengendur pada waktu menelan akibat degenerasi sel-sel ganglion pada orang itu (kamus saku
kedokteran dorlan, 2007)
Akalasia adalah gagal melemas: gagal relaksasi incomplete sfingter esophagus bawah
sebagai respon terhadap menelan yang menimbulkan obstruksi fungsional yang menyebabkan
esophagus lebih proksimal mengalami dilatasi (Buku Ajar Patologi Robbins, 2007)

Akalasia adalah suatu keadaan khas yang ditandai dengan tidak adanya peristalsis korpus
esophagus bagian bawah dan sfingter esophagus bagian bawah (SEB) yang hipertonik sehingga
tidak bisa mengadakan relaksasi secara sempurna pada waktu menelan makanan.(Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam Jilid , 2006)
Jadi akalasia adalah kegagalan relaksasi serat-serat otot polos saluran cerna pada
persimpangan bagian yang satu dengan yang lain khususnya kegagalan sfingter esofagogaster
untuk mengendur sehingga tidak bisa mengadakan relaksasi secara sempurna pada waktu
menelan makanan.

B. Etiologi
Penyebab akalasia masih belum diketahui dengan jelas. Namun ada beberapa teori tentang
etiologi akalasia yang masih bertahan yaitu: teori familial, autoimun dan infeksi. > 1% kasus
akalasia bersifat familial, yang menunjukkan diturunkan secara resesif autosomal. Adanya sel
T di sel ganglion esofagus mendukung proses autoimun sebagai penyebab akalasia.
Type of Achalasia Motility
1. Primer Achalasia
a) sel ganglion Plexus Auerbach/Mienterikus (-)
b) Tidak ada peristaltik esofagus & relaksasi LES.
c) Beak-like appearance pd esofagografi.
d) Onset dysfagia sejak usia dini.
2. Secondary Achalasia
a) Tidak ada peristaltik tumor, inflamasi/infeksi gastoresofial junction.
b) Beak-like appearance dg dilatasi esophagus
c) Onset dysfagia < 6 bln dimulai saat Dewasa/Tua (>60th).
d) Berat badan sering menurun

C. Manifestasi Klinis
Adanya gejala klinik yang sering berupa:
1. Disfagia atau kesulitan menelan
Perjalanan penyakit biasanya kronis dengan disfagia yang bertambah berat. Berat ringannya
disfagia menurut British Oesophageal Surgery dibagi menjadi 5 tingkat, yaitu:
- Tingkat 0 : normal
- Tingkat 1 : tidak dapat menelan makanan padat
- Tingkat 2 : tidak dapat menelan makanan daging halus
- Tingkat 3 : tidak dapat menelan sup atau makanan cair
- Tingkat 4 : tidak dapat menelan ludah

2. Nyeri dada
Gejala kurang menonjol pada permulaan penyakit. Rasa nyeri biasanya di substernal dan dapat
menjalar ke belakang bahu, rahang dan lengan, timbul bila makan/minum dingin.
3. Regurgitasi
Timbul tidak hanya berhubungan dengan bentuk/jenis makanan tetapi juga berhubungan
dengan posisi. Bila penyakit makin kronis, maka pada saat penderita berbaring sisa makanan
dan saliva yang terdapat pada kantong esofagus dapat mengalir ke faring dan mulut sehingga
akhirnya dapat menimbulkan aspirasi pneumonia.

D. Patofisiologi
Akalasia memiliki karakteristik tekanan tinggi pada eofagus, sfingter bawah esofagus yang
tidak dapat berelaksasi dan esofagus yang mengalami dilatasi dan tidak memiliki peristaltik.
Secara patologi, esofagus hanya menunjukkan dilatasi minimal pada awalnya, namun lama
kelamaan dapat menjadi seluas 16 cm. Secara histologis, abnormalitas utama berupa hilangnya
sel ganglion di pleksus mienterikus (pleksus Auerbach) pada esofagus distal. Beberapa lesi
neuropatik lain juga dapat ditemukan, antara lain:
a) Inflamasi atau fibrosis pleksus myenterikus pada awal penyakit,
b) Penurunan varikosa serabut saraf pleksus myenterikus,
c) Degenerasi n. Vagus,
d) Perubahan di dorsal nukleus motoris n. Vagus dan
f) Inklusi intrasitoplasma yang jarang pada dorsal motor nukleus vagus dan pleksus
myenterikus.
Segmen esofagus di atas sfingter esofagogaster (LES) yang panjangnya berkisar antara 2-
8 cm menyempit dan tidak mampu berelaksasi. Esofagus bagian proksimal dari penyempitan
tersebut mengalami dilatasi dan perpanjangan sehingga akhirnya menjadi megaesofagus yang
berkelok-kelok. Bentuk esofagus sangat bergantung pada lamanya proses, bisa berbentuk
botol, fusiform, samapai berbentuk sigmoid dengan hipertrofi jaringan sirkuler dan
longitudinal. Mukosa dapat mengalami peradangan akibat rangsangan retensi makanan.
Penatalaksanaan
1. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Radiologis
a) Foto thoraks polos
Bermakna bila esofagus mengalami dilatasi yang hebat.
- Foto thoraks polos akan tampak bayangan yang menonjol ke arah jantung.
- Pada foto lateral akan tampak adanya bayangan di posterior jantung. Terdapat gambaran air
fluid level di dalam esofagus, tak tampak gelembung udara di daerah gaster.
b) Esofagografi
- Stadium permulaan adanya obstruksi kardia dan pelebaran minimal dari esofagus.
- Stadium lanjut adanya penyempitan pada bagian distal esofagus pada batas esofagogastric
junction dengan pelebaran pada bagian proksimalnya. Terdapat gambaran menyerupai paruh
burung, beak like appearance atau mouse tail appearance.

c) Pemeriksaan Manometer
Setelah menelan, tekanan daerah sfingter esofagus menguat 2 kali normal akibat dilatasi dan
retensi makanan.

2. Terapi Medis
a. smooth-muscle relaxant
- nitroglycerin 5 mg SL atau 10 mg PO, dan juga
- methacholine,
b. alcium channel blockers (nifedipine 10-30 mgSL) dimana dapat mengurangi tekanan pada
sfingter esofagus bawah.
Indikasi: Terapi ini sebaiknya digunakan untuk pasien lansia yang mempunyai
kontraindikasi atas pneumatic dilatation atau pembedahan.

c. Penatalaksanaan keperawatan
a. Diet cair /lunak dan hangat
b. Medikamentosa
- Sedatif ringan untuk penenang
- Preparat kalsium antagonis seperti verapamil atau nifedipin oleh karena dapat menurunkan
tekanan sfingter esofagus bagian bawah. Nifedipin diberikan 10-20 mg sublingual dapat
menurunkan tekanan esofagus bagian bawah kurang lebih 1 jam akan tampak perbaikan gejala
bila diberikan sebelum makan

F. Komplikasi
Beberapa komplikasi dan akalasia sebagai akibat an retensi makanan pada esofagus adalah
sebagai berikut:
1. Obstruksi saluran pernapasan.
2. Bronkhitis.
3. Pneumonia aspirasi.
4. Abses paru.
5. Divertikulum.
6. Perforasi esophagu.
7. Small cell carcinoma
8. Sudden death.