Vous êtes sur la page 1sur 16

WORK PLAN

POST TRAUMATIC STRESS DISORDER (PTSD)

Oleh:

Pebriansyah

NIM: 01307101030139

Pembimbing :
dr. Malawati, Sp.KJ

BAGIAN/SMF ILMU JIWA


BLU RUMAH SAKIT JIWA ACEH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2014

1
GANGGUAN STRES PASCATRAUMA

Definisi
Gangguan Stress Pasca Trauma / Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) dapat didefinisikan
sebagai keadaan yang melemahkan fisik dan mental secara ekstrim yang timbul setelah seseorang
melihat, mendengar, atau mengalami suatu kejadian trauma yang hebat dan atau kejadian yang
mengancam kehidupannya. Keadaan ini ditandai dengan suasana perasaan murung, sedih,
kurangnya semangat dalam melakukan kegiatan sehari-hari maupun kegiatan yang menimbulkan
kesenangan, kadang-kadang disertai dengan waham dan bila sudah berat dapat menimbulkan
gangguan dalam fungsi peran dan kehidupan sosial.

Gangguan Stress Pascatraumatik adalah gangguan cemas yang terdiri dari :


1. Pengalaman trauma yang muncul kembali dalam mimpi atau pikiran-pikiran waktu terjaga.
2. Emosi yang tumpul dalam kehidupan atau hubungan interpersonal
3. Terdapat gejala-gejala otonom yang tidak stabil, depresi dan gangguan kognitif (seperti
kesukaran konsentrasi)
Gangguan tersebut timbul apabila mengalami stres emosional / trauma psikologik yang besar yang
berada di luar batas - batas pengalaman manusia yang lazim.
Gangguan stres pascatraumatik dapat terjadi dengan segera, hal ini dapat dilihat langsung
pada bencana alam, pengalaman seseorang terhadap reaksi dari trauma tersebut merespon kejadian
yang baru dialaminya di luar kontrol dirinya, menangis, hilang ingatan sesaat, menjerit-jerit, histeria
dan sebagainya. Gangguan stres pascatraumatik juga dapat disebabkan oleh stres ringan yang pada
awalnya, akan tetapi stres berlangsung secara kontinu, stres tersebut berlangsung sampai
berminggu-minggu, bulan dan bahkan tahunan.

Epidemiologi
Prevalensi gangguan stres pascatraumatik pada masyarakat umum diperkirakan dari 1
sampai 3 persen dimana 0,5 % untuk pria dan 1,2 % pada wanita, anak-anak juga mengalami
gangguan tersebut. Sebagai contoh peristiwa perang, perkosaan atau penyerangan secara seksual,
serangan yang melukai tubuh, penyiksaan, penganiayaan anak, peristiwa bencana alam seperti :
gempa bumi, tanah longsor, banjir bandang, kecelakaan lalu lintas atau musibah pesawat jatuh.

2
Walaupun gangguan stres pascatraumatik dapat tampak pada setiap usia, gangguan ini
paling menonjol pada dewasa muda, karena sifat situasi yang mencetuskannya. Tetapi, anak-anak
dapat mengalami gangguan stres pascatraumatik.
Trauma untuk pria biasanya akibat pengalaman peperangan dan trauma untuk wanita paling
sering adalah penyerangan atau pemerkosaan. Gangguan sangat mungkin terjadi pada mereka yang
sendirian, bercerai, janda, mengalami gangguan ekonomi atau menarik diri secara sosial.
Penelitian terhadap korban yang selamat dalam kamp NAZI menemukan bahwa 97% dari
korban masih terganggu dengan kecemasan sampai 20 tahun setelah ia dibebaskan dari kamp
tersebut. Banyak dari mereka yang membayangkan trauma hukuman mati di dalam mimpi mereka
dan merasa takut bahwa sesuatu dapat terjadi pada pasangan atau anak-anak saat tidak terlihat
(Krystal, 1968)
Suatu survei yang menyangkut veteran Vietnam disebutkan bahwa 15% dari veteran tersebut
mengalami gangguan stres paca-traumatik sejak kepulangan mereka (Centers Disease Control,
1988), sementara penelitian lain menyebutkan bahwa reaksi stres terhadap horor perang juga
ditemukan pada Perang Dunia I yang disebut dengan shell shock sindrom dan combat fatigue pada
Perang Dunia II

Etiologi
Stresor adalah penyebab utama dalam perkembangan gangguan stres pascatraumatik. Tetapi
tidak semua orang akan mengalami gangguan stres pascatraumatik setelah suatu peristiwa
traumatik. Walaupun stressor diperlukan, namun stressor tidak cukup untuk menyebabkan
gangguan. Faktor-faktor yang harus ikut dipertimbangkan adalah faktor biologis individual, faktor
psikososial sebelumnya dan peristiwa yang terjadi setelah trauma.
Penelitian terakhir pada gangguan stres pascatraumatik sangat menekankan pada respon
subjektif seseorang terhadap trauma ketimbang beratnya stresor itu sendiri. Walaupun gejala
gangguan stres pascatraumatik pernah dianggap secara langsung sebanding dengan beratnya stresor,
penelitian empiris telah membuktikan sebaliknya. Jika dihadapkan dengan trauma yang berat,
sebagian orang tidak akan mengalami gangguan stres pascatraumatik. Sebaliknya peristiwa yang
mungkin tampaknya biasa atau kurang berbahaya bagi kebanyakan orang mungkin dapat
menyebabkan gangguan stres pascatraumatik pada beberapa orang karena arti subjektif dari
peristiwa tersebut.

3
Faktor kerentanan yang merupakan predisposisi tampaknya memainkan peranan penting dalam
menentukan apakah gangguan akan berkembang yaitu :
1. Adanya trauma masa anak-anak
2. Sifat gangguan kepribadian ambang, paranoid, dependen, atau antisosial
3. Sistem pendukung yang tidak adekuat
4. Kerentanan konstitusional genetika pada penyakit psikiatrik
5. Perubahan hidup penuh stres yang baru terjadi
6. Persepsi lokus kontrol eksternal
7. Penggunaan alkohol, walaupun belum sampai pada taraf ketergantungan.

Penelitian psikodinamika terhadap orang yang dapat bertahan hidup dari trauma psikis yang
parah telah menemukan aleksitimia, yaitu ketidakmampuan untuk mengidentifikasi atau
mengungkapakan keadaaan perasaan sebagai ciri yang umum. Jika trauma psikis terjadi pada masa
anak- anak, biasanya dihasilkan perhentian perkembangan emosional. Jika trauma terjadi pada masa
dewasa, regresi emosional sering kali terjadi. Mereka tidak mampu menenangkan dirinya jika dalam
keadaan stres.

Perbedaan Stres Biasa dengan PTSD

4
Faktor Psikodinamika
Model kognitif dari gangguan stres pascatraumatik menyatakan bahwa orang yang terkena
stres pascatraumatik tidak mampu memproses atau merasionalkan trauma yang mencetuskan
gangguan.
Mereka terus mengalami stres dan berusaha untuk tidak mengalami kembali stres dengan
teknik menghindar. Sesuai dengan kemampuan parsial mereka untuk mengatasi peristiwa secara
kognitif, pasien mengalami periode mengakui peristiwa dan menghambatnya secara berganti-ganti.
Model perilaku dari gangguan stres pascatraumatik menyatakan bahwa gangguan memiliki
dua fase dalam perkembangannya. Pertama, trauma (stimulus yang tidak dibiasakan) adalah
dipasangkan, melalui pembiasaan klasik dengan stimulus yang dibiasakan (pengingat fisik atau
mental terhadap trauma). Kedua, melalui pelajaran instrumental, pasien mengambangkan pola
penghindaran terhadap stimulus yang dibiasakan maupun stimulus yang tidak dibiasakan.
Model psikoanalitik dari gangguan menghipotesiskan bahwa trauma telah mereaktivasi
konflik psikologis yang sebelumnya diam dan belum terpecahkan. Penghidupan kembali trauma
masa anak-anak menyebabkan regresi dan penggunaan mekanisme pertahanan represi,
penyangkalan, dan meruntuhkan (undoing). Ego hidup kembali dan dengan demikian berusaha
menguasai dan menurunkan kecemasan. Pasien juga mendapatkan tujuan sekunder dari dunia luar,
peningkatan perhatian atau simpati, dan pemuasan kebutuhan ketergantungan. Tujuan tersebut
mendorong gangguan dan persistensinya. Suatu pandangan kognitif tentang gangguan stres
pascatraumatik adalah bahwa otak mencoba untuk memproses sejumlah besar informasi yang
dicetuskan oleh trauma dengan periode menerima dan menghambat peristiwa secara berganti-ganti.

Faktor biologis
Teori biologis tentang gangguan stres pascatraumatik telah dikembangkan dari penelitian
praklinik dari model stres pada binatang dan dari pengukuran variable biologis dari populasi klinis
dengan gangguan stres pascatraumatik. Banyak system neurotransmitter telah dilibatkan dalam
kumpulan data tersebut. Model praklinik pada binatang tentang ketidakberdayaan, pembangkitan,
dan sensitisasi yang dipelajari telah menimbulkan teori tentang norepinefrin, dopamine, opiat
endogen, dan reseptor benzodiazepine dan sumbu hipotalamus, hipofisis adrenal. Pada populasi
klinis, data telah mendukung hipotesis bahwa system noradrenergik dan opiat endogen, dan juga

5
sumbu hipotalamus-hipofisis adrenal, adalah hiperaktif pada sekurangnya beberapa pasien dengan
gangguan stres pascatrauamtik.
Temuan biologis utama lainnya adalah peningkatan aktivitas dan responsivitas system saraf
otonom, seperti yang dibuktikan oleh peninggian kecepatan denyut jantung dan pembacaan tekanan
darah, dan arsitektur tidur yang abnormal (sebagai contohnya, fragmentasi tidur dan peningkatan
latensi tidur).

Gambaran Klinis dan Diagnosis


Gambaran klinis utama dari gangguan stres pascatraumatik adalah pengalaman ulang
peristiwa yang menyakitkan, suatu pola menghindar dan kekakuan emosional dan kesadaran yang
berlebihan yang hampir tetap. Gangguan mungkin tidak berkembang sampai berbulan-bulan atau
bertahun-tahun setelah peristiwa. Pemeriksaaan status mental seringkali mengungkapkan rasa
bersalah, penolakan dan penghinaan. Pasien mungkin juga menggambarkan keadaan disosiatif dan
serangan panik. Ilusi dan halusinasi mungkin ditemukan. Tes kognitif mungkin mengungkapkan
bahwa pasien memiliki gangguan daya ingat dan perhatian.
Gejala penyerta dapat berupa agresi, kekerasan , pengendalian impuls yang buruk dan
depresi. Berbagai ciri anti sosial mungkin ditemukan termasuk penyalahgunaan dan ketergantungan
alkohol dan obat, perasaan bersalah yang menonjol, insomnia, ilusi dan halusinasi, disosiasi,
serangan panik, agresi, kekerasan dan gangguan daya ingat serta gangguan memusatkan perhatian
(konsentrasi).
Kriteria diagnosis DSM-IV untuk gangguan stres pascatraumatik ditulis untuk memperjelas
beberapa kriteria dalam DSM-III-R.
Pertama DSM-III-R menggambarkan stresor di luar rentang pengalaman manusia pada
umumnya. Karena kriteria adalah tidak jelas dan tidak dapat dipercaya, DSM-IV memperjelas
artinya (Kriteria A).
Dalam DSM-IV, kriteria B menyebutkan, seperti dalam DSM-III-R, bahwa pasien secara
menetap mengalami kembali peristiwa traumatik.
Kriteria C dan D pada DSM IV tetap sama dengan DSM-III-R, mereka menyebutkan
penghindaran persisten terhadap situasi tertentu dan peningkatan kesadaran pada pasien.
DSM-IV menyebutkan bahwa gejala pengalaman ulang (reexperiencing), menghindar dan
kesadaran yang berlebihan (hiperarousal) harus berlangsung lebih dari 1 bulan. Bagi pasien yang

6
gejalanya ditemukan kurang dari satu bulan, diagnosis yang tepat mungkin adalah gangguan stres
akut. Kriteria diagnostik DSM-IV untuk gangguan stres pascatraumatik yang memungkinkan klinisi
menentukan apakah gangguan adalah akut (jika berlangsung kurang dari tiga bulan ) atau kronis
(jika gejala berlangsung tiga bulan atau lebih). DSM-IV juga memungkinkan klinisi menentukan
bahwa gangguan adalah dengan onset lambat jika onset gejala adalah enam bulan atau lebih setelah
peristiwa stres.

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Stres Pascatraumatik :


A. Orang telah terpapar dengan suatu kejadian traumatik dimana kedua dari berikut ini
terdapat:
1. Orang mengalami, menyaksikan, atau dihadapkan dengan suatu kejadian atau
kejadian-kejadian yang berupa ancaman kematian atau kematian yang sesungguhnya
atau cedera yang serius, atau ancaman kepada integritas fisik diri atau orang lain.
2. Respon orang tersebut berupa rasa takut yang kuat, rasa tidak berdaya atau horor.
B. Kejadian traumatik secara menetap dialami kembali dalam satu (atau lebih) cara berikut :
1. Rekoleksi yang menderitakan, rekuren, dan mengganggu tentang kejadian, termasuk
angan pikiran atau persepsi.
2. Mimpi menakutkan yang berulang tentang kejadian.
3. Berkelakuan atau merasa seakan-akan kejadian traumatik terjadi kembali (termasuk
perasaan penghidupan kembali pengalaman kembali pengalaman, ilusi, halusinasi
dan episode kilas balik disosiatif, termasuk yang terjadi saat terbangun atau saat
terintoksikasi).
4. Penderitaan psikologis yang kuat saat terpapar dengan tanda internal atau eksternal
yang menyimbolkan atau menyerupai suatu aspek kejadian traumatik.
5. Reaktivitas psikologis saat terpapar dengan tanda internal atau eksternal yang
menyimbolkan atau menyerupai suatu aspek kejadian traumatik.
C. Penghindaran stimulus yang persisten yang berhubungan dengan trauma dan kaku karena
responsivitas umum (tidak ditemukan sebelum trauma), seperti yang ditunjukkan oleh tiga
(atau lebih) berikut ini :
1) Usaha untuk menghindari pikiran, perasaan, atau percakapan yang
berhubungan trauma

7
2) Usaha untuk menghindari aktivitas, tempat atau orang yang menyadarkan
rekoleksi dengan trauma.
3) Tidak mampu untuk mengingat aspek penting dari trauma.
4) Hilangnya minat atau peran serta yang jelas dalam aktivitas yang bermakna
5) Rentang afek yang terbatas
6) Perasaan bahwa masa depan menjadi pendek.
D. Gejala menetap adanya peningkatan kesadaran (tidak ditemukan sebelum trauma ) yang
ditunjukkan oleh dua (atau lebih) berikut :
1) Kesulitan untuk tidur atau tetap tidur
2) Iritabilitas atau ledakan kemarahan
3) Sulit berkonsentrasi
4) Kewaspadaan berlebihan
5) Respon kejut yang berlebihan
E. Lama gangguan (gejala dalam kriteria b, c, d) adalah lebih dari satu bulan
F. Gangguan menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam
fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lain.
Sebutkan jika :
Akut : jika lama gejala adalah kurang dari 3 bulan
Kronis : jika lama gejala adalah 3 bulan atau lebih
Sebutkan jika :
Dengan onset lambat : onset gejala sekurangnya enam bulan setelah stressor

Tabel dari DSM- IV, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disoerder, ed 4. Hak cipta American Psychiatric
Association, Washington 1994.

Kriteria diagnostik untuk Gangguan Stres Akut


A. Orang telah terpapar dengan suatu kejadian traumatik dimana kedua dari berikut ini
ditemukan :
1. Orang mengalami, menyaksikan, atau dihadapkan dengan suatu kejadian atau
kejadian-kejadian yang berupa ancaman kematian atau kematian yang sesungguhnya
atau cedera yang serius, atau ancaman kepada integritas diri atau orang lain.
2. Respon orang tersebut berupa rasa takut yang kuat, rasa tidak berdaya atau horor.

8
B. Salah satu selama mengalami atau setelah mengalami kejadian yang menakutkan, individu
tiga (atau lebih) gejala disosiatif berikut :
1. perasaan subyektif kaku, terlepas, atau tidak ada responsivitas emosi
2. penurunan kesadaran terhadap sekelilingnya (misalnya, berada dalam keadaan tidak
sadar)
3. derelisasi
4. depersonalisasi
5. amnesia disosiatif (yaitu, ketidakmampuan untuk mengingat aspek penting dari
trauma)
C. Kejadian traumatik secara menetap dialami kembali sekurangnya satu cara berikut :
bayangan, pikiran, mimpi, ilusi, episode kilas balik yang rekuren, atau suatu perasaan
hidupnya kembali pengalaman atau penderitaan saat terpapar dengan mengingat kejadian
traumatik
D. Penghindaran jelas terhadap stimuli yang menyadarkan rekoleksi trauma (misalnya, pikiran,
perasaan, percakapan, aktivitas, tempat, orang).
E. Gejala kecemasan yang nyata atau pengingat kesadaran (misalnya, sulit tidur, iritabilias,
konsentrasi buruk, kewaspadaan berlebihan, respon kejut yang berlebihan, dan kegelisahan
motorik).
F. Gangguan menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam
fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lain, menganggu kemampuan individu untuk
mengerjakan tugas yang diperlukan, seperti meminta bantuan yang diperlukan atau
menggerakan kemampuan pribadi dengan menceritakan kepada anggota keluarga tentang
pengalaman traumatic.
G. Gangguan berlangsung selama minimal 2 hari dan maksimal 4 minggu dan terjadi dalam 4
minggu setelah traumatik
H. Tidak karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat yang disalahgunakan,
medikasi) atau kondisi medis umum, tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan psikotik
singkat dan tidak semata-mata suatu eksaserbasi gangguan Aksis I atau Aksis II dan telah
ada sebelumnya.

9
Perjalanan penyakit dan Prognosis
Gangguan stres pascatraumatik biasanya berkembang pada suatu waktu setelah trauma,
dapat sependek satu minggu atau selama 30 tahun. Gejala dapat berfluktuasi dengan berjalannya
waktu dan mungkin paling kuat selama periode stres. Kira-kira 30% pasien piulih secara lengkap,
40% terus menderita gejala ringan, 20% terus menderita gejala sedang, dan 10% tetap tidak berubah
atau menjadi buruk.
Prognosis yang baik diramalkan oleh onset gejala yang cepat, durasi gejala yang singkat
(kurang dari enam bulan), fungsi pramorbid yang baik, dukungan sosial yang kuat dan tidak adanya
gangguan psikiatrik, atau berhubungan dengan zat lainnya.
Pada umumnya, orang yang sangat muda atau sangat tua memiliki lebih banyak kesulitan
dengan peristiwa traumatik dibandingkan mereka yang dalam usia pertengahan. Kecacatan
psikiatrik yang ada sebelumnya, apakah suatu gangguan kepribadian atau suatu kondisi yang lebih
serius, juga meningkatkan efek stresor tertentu.
Tersedinya dukungan sosial juga mempengaruhi perkembangan, keparahan dan durasi
gangguan stres pasca traumatik. Pada umumnya, pasien yang mendapat dukungan sosial yang baik
kemungkinan tidak mengalami gangguan atau tidak mengalami gangguan dalam bentuk yang parah.

Diagnosis Banding
Pertimbangan utama dalam diagnosis banding gangguan stress pascatraumatik dengan
kemungkinan bahwa pasien juga mengalami cedera kepala selama trauma.
Pertimbangan organik lainnya yang dapat menyebabkan atau mengeksaserbasi gejala adalah
epilepsi, gangguan penggunaan alkohol dan gangguan yang berhubungan dengan zat lainnya.
Intoksikasi akut atau putus dari suatu zat mungkin juga menunjukkan gambaran klinis yang
sulit dibedakan dari gangguan stres pascatraumatik sampai efek zat hilang.
Gangguan stress pascatraumatik pada umumnya sering keliru didiagnosis sebagai gangguan
mental lain, yang menyebabkan pengobatan yang tidak tepat. Klinisi harus mempertimbangkan
gangguan stres pascatraumatik pada pasien yang menderita gangguan nyeri (pain disorder),
penyalahgunaan zat, gangguan kecemasan lain, dan gangguan mood.
Pada umumnya, gangguan stres pascatraumatik dapat dibedakan dari gangguan mental
organik dengan mewawancarai pasien tentang peristiwa traumatik sebelumnya dan melalui sifat
gejala sekarang ini.

10
Gangguan kepribadian ambang, gangguan disosiatif, gangguan buatan atau berpura-pura
juga harus dipertimbangkan.
Gangguan kepribadian ambang mungkin sulit dibedakan dari gangguan stress
pascatraumatik. Dua gangguan tersebut dapat terjadi bersama-sama atau bahkan saling berhubungan
sebab akibat.

Gangguan disosiatif biasanya tidak memiliki derajat perilaku menghindar, kesadaran


berlebih otonomik, atau riwayat trauma yang dilaporkan oleh pasien gangguan stres pascatraumatik.

Sebagian karena publisitas yang telah diterima gangguan stres pascatraumatik dalam berita
populer, klinisi harus juga mempertimbangkan kemungkinan suatu gangguan buatan dan berpura
pura.

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan Gangguan Kecemasan khususnya Gangguan Stres Pascatrauma

Terdapat tiga pendekatan terapetik untuk mengatasi gejala berhubungan dengan kecemasan yaitu :

1. Manajemen krisis
2. Psikoterapi
3. Farmakoterapi
Tujuan utama dari Manajemen Krisis adalah :

1. Peredaan gejala
2. pencegahan konsekuensi yang merugikan dari krisis tersebut untuk jangka pendek
3. Suportif (dukungan)
Psikoterapi

Psikoterapi harus dilakukan secara individual, karena beberapa pasien ketakutan akan
pengalaman ulang trauma. Rekosntruksi peristiwa traumatik dengan abreaksi dan katarsis yang
menyertai mungkin bersifat terapeutik.

Intervensi psikodinamika untuk gangguan stres pascatraumatik adalah terapi perilaku, terapi
kognitif dan hipnosis. Banyak klinisi menganjurkan psikoterapi singkat untuk korban trauma. Terapi
tersebut biasanya menggunakan pendekatan kognitif dan juga memberikan dukungan dan jaminan.
Sifat jangka pendek dari psikoterapi menekan risiko ketergantungan dan kronisitas. Masalah

11
kecurigaan, paranoia, dan kepercayaan seringkali merugikan kepatuhan. Ahli terapi harus mengatasi
penyangkalan pasien tentang peristiwa traumatik, mendorong mereka untuk santai, dan
mengeluarkan mereka dari sumber stress. Pasien harus didorong untuk tidur, menggunakan
medikasi jika dilakukan. Dukungan dari lingkungan (seperti teman-teman dan sanak saudara) harus
disediakan. Pasien harus didorong untuk mengingat dan melepaskan perasaan emosional yang
berhubungan dengan peristiwa traumatik dan merencanakan pemulihan di masa depan.

Psikoterapi setelah peristiwa traumatik harus mengikuti suatu model intervensi krisis dengan
dukungan, pendidikan, dan perkembangan mekanisme mengatasi dan penerimaan peristiwa. Jika
gangguan stress pascatraumatik telah berkembang, dua pendekatan psikoterapetik utama dapat
diambil. Pertama adalah pemaparan dengan peristiwa traumatik melalui teknik pembayangan
(imaginal technique) atau pemaparan in vivo. Pemaparan dapat kuat, seperti pada terapi implosif,
atau bertahap. Seperti pada desensitisasi sitematik. Pendekatan kedua adalah mengajarkan pasien
metoda penatalaksanaan kognitif untuk mengatasi stres, termasuk teknik relaksasi dan pendekatan
kognitif. Beberapa data awal menyatakan bahwa, walaupun teknik penatalaksanaan stress adalah
efektif lebih cepat dibandingkan teknik pemaparan, hasil dari teknik pemaparan adalah lebih lama.

Disamping teknik terapi individual, terapi kelompok dan terapi keluarga telah dilaporkan
efektif pada kasus gangguan stres pascatraumatik. Keuntungan terapi kelompok adalah berbagi
berbagai pengalaman traumatik dan mendapatkan dukungan dari anggota kelompok lain. Terapi
kelompok telah berhasil pada veteran Vietnam. Terapi keluarga seringkali membantu
mempertahankan suatu perkawinan melalui periode gejala yang mengalami eksaserbasi. Perawatan
di rumah sakit mungkin diperlukan jika gejala adalah cukup parah atau jika terdapat risiko bunuh
diri atau kekerasan lainnya.

Farmakoterapi

Obat-obat anti anxietas sebaiknya digunakan untuk waktu yang singkat karena ditakutkan akan
terjadi ketergantungan, meskipun banyak obat yang efektif untuk meredakan anxietas.

1. Trycyclic and monoamine oxidase inhibitors (MAOIs)

Bahwa reversible MAOIs, moclobimide juga dapat berguna dalam perawatan gangguan stress
pascatrauma.

2. Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs)

12
Perubahan terutama terlihat untuk reexperiencing dan gejala hyperarousal daripada penolakan.
Yang juga menarik adalah penurunan rasa bersalah dari yang selamat. Fluvoxamine tampaknya
lebih efektif.

Digunakan pula paroxetine sampai 60 mg untuk 12 minggu. Disamping itu dapat pula dicoba
dengan Trazodone, dosis sampai 400 mg/hari.

3. Benzodiazepin

Benzodiazepin telah merupakan obat terpilih untuk gangguan kecemasan umum. Pada
gangguan benzodiazepin dapat diresepkan atas dasar jika diperlukan, sehingga pasien
menggunakan benzodiazepin kerja cepat jika mereka merasakan kecemasan tertentu.
Pendekatan alternatif adalah dengan meresepkan benzodiazepin untuk suatu periode terbatas,
selama mana pendekatan terapetik psikososial diterapkan.

Beberapa masalah adalah berhubungan dengan pemakaian benzodiazepin dalam gangguan


kecemasan umum. Kira-kira 25 sampai 30 persen dari semua pasien tidak berespon, dan dpat
terjadi toleransi dan ketergantungan. Beberapa pasien juga mengalami gangguan kesadaran saat
menggunakan obat dan dengan demikian, adalah berada dalam risiko untuk mengalami
kecelakaan kendaraan bermotor atau mesin.

4. Obat-obat lainnya

Propanolol dan Clonidin, keduanya secara efektif menekan aktivitas noradrenergik, telah
digambarkan berguna dalam beberapa serial kasus terbuka.

Selain itu juga terdapat laporan kasus yang menunjukkan keberhasilan dari alfa-agonis
Guanfacine pada wanita muda.

Serotonergik dibandingkan antidepresan lainnya juga berguna untuk kasus gangguan stress
pascatrauma, sebagai contoh Buspirone.

Dosis 60 mg/hari atau lebih dapat efketif, trauma untuk gejala hyperarousal.

Sebagai tambahan, Cyproheptadine (sampai 12 minggu saat tidur) dilaporkan berguna untuk
melepaskan mimpi buruk pada pasien dengan gangguan stress pascatrauma.

13
Dopamine blocker juga dilaporkan berguna untuk beberapa kasus gangguan stress pascatrauma.
Ada pula yang melaporkan kegunaan Risperidone gangguan stress pascatrauma ditunjukkan
melalui kilas balik yang jelas dan mimpi-mimpi buruk.

Naltrexone (50 mg/hari) dilaporkan efektif dalam mengurangi kilas balik pada pasien dengan
gangguan stress pascatrauma. Tetapi tidak terdapat controlled studies dengan opiat agenda pada
gangguan stress pascatrauma.

Ada beberapa laporan mengenai kegunaan Thymoleptics-lithium Carbamazepine dan Valproat


dalam gangguan stress pascatrauma.

14
DAFTAR PUSTAKA

1. Gabbard GO : Anxiety Disorders : The DSM IV Edition, American Psychiatric Press,


Washington, 1994
2. Kaplan, Sadock : Synopsis of Psychiatry, 7th Edition, William & Wilkins, Baltimore, 1993
3. Ibrahim A. S : Panik, Neurosis dan Gangguan Cemas, PT. Dian Ariesta,Jakarta, 2003
4. Andreasen. N.C and Black. D.W, 2001, Introductory Textbook of Psychiatry. 3 rd ed, British
Libarry, USA: 335-342.

15
16