Vous êtes sur la page 1sur 13

Rencana Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian
a. Biodata klien : nama,tempat lahir, jenis kelamin.
b. Orang tua : nama ayah/ibu, umur, agama, suku atau kebangsaan, pendidikan dan
alamat.
2. Riwayat kesehatan :
3. Riwayat antenatal :
Keadaan ibu selama hamil dengan anemia, HT,gizi buruk,merokok,
ktergantungan obat-obatan,DM, penyakit kardiovaskuler dan paru.
Kehamilan dengan resiko persalinan preterm misalnya kelahiran
multiple,kelainan congenital.
Riwayat komplikasi persalinan juga mempunyai kaitan yang sangat erat dengat
permasalahan pada bayi baru lahir.
Kala I : perdarahan antepartumbaik solusio plasenta maupun plasenta previa.
Kala II : persalinan dengan tindakan pembedahan, karena pemakaian obat
penenang (narkose) yang dapat menekan system pusat pernafasan.

4. Riwayat post natal :


Apgar score bayi baru lahir 1 menit pertama dan 5 menit kedua (0-3), asfiksia
berat (4-6), asfiksia sedang (7-10) asfiksia ringan.
Berat badan lahir : preterm atau BBLR < 2500 gram, untuk aterm 2500 gram, LK
kurang atau lebih dari normal (34-36).
Pola nutrisi yang perlu dikaji pada bayi dengan BBLR gangguan absorbsi
gastrointestinal, muntah, aspirasi, kelemahan menghisap sehingga perlu
diberikan cairan parenteral atau personde sesuai dengan kondisi bayi untuk
mencukupi kebutuhan elektrolit, cairan, kalori dan juga untuk mengoreksi
dehidrasi, asidosis metabolik, hipoglikemi disamping untuk pemberian obat
intravena.
Pola eliminasi yang perlu dikaji pada neonates adalah BAB :
frekuensi,jumlah,konsisten. BAK : frekuensi dan jumlah.
Latar belakang sosial budaya kebudayaan yang berpengaruh terhadap BBLR
kebiasaan ibu merokok, obat-obatan jenis psikotropika, kebiasaan ibu
mengkonsumsi minuman beralkohol, dan kebiasaan ibu melakukan diet ketat
atau pantangan makanan tertentu.
Hubungan psikologis . sebaiknya segera setelah bayi baru alhir dilakukan rawat
gabung dengan ibu jika kondisi bayi memungkinkan.
Keadaan umum : pada neonates dengan BBLR keadaannya lemah dan hanya
merintih.kesadaran neonates dapat dilihat dari responnya terhadap rangsangan.
Adanya BB yang stabil, panjang badan sesuai dengan usianya tidak ada
pembesaran lingkar kepala dapat menunjukan kondisi neonatos yang baik.
Tanda-tanda vital : neonates post asfiksia berat kondisi akan baik apabila
penanganan asfiksia benar, tepat dan cepat. Suhu normal pada tubuh bayi n (36
C-37,5C), nadi normal antara (120-140 x/m), untuk respirasi normal pada bayi
(40-60 x/m), sering pada bayi post asfiksia berat respirasi sering tidak teratur.
Kulit : warna kulit tubuh merah, sedangkan ekstremitas berwarna biru, pada
bayi preterm terdapat lanugo dan verniks.
Kepala : kemungkinan ditemukan caput succedaneum atau cephal haematom,
ubun-ubun besar cekung atau cembung kemungkinan adanya peningkatan
tekanan intrakranial.
Mata : warna conjungtiva anemis atau tidak anemis, tidak ada bleeding
conjungtiva, warna sklera tidak kuning, pupil menunjukan refleksi terhadap
cahaya.
Hidung : terdapat pernafasan cuping hidung dan terdapat penumpukan lender.
Mulut : bibir berwarna pucat ataupun merah, ada lendir atau tidak.
Telinga : perhatiakan kebersihannya dan adanya kelainan.
Leher : perhatikan keberhasilannya karena leher neonates pendek.
Thorak : bentuk simetris,terdapat tarikan intercostals,perhatikan suara wheezing
dan ronchi,frekwensi bunyi jantung lebih dari 100x/m.
Abdomen : bentuk silindris,hepar bayi terletak 1-2 cm dibawah ascus costae
pada garis papilla mamae, lien tidak teraba, perut buncit berarti adanya asites
atau tumor, perut cekung adanya hernia diafragma,bising usus timbul 1-2 jam
setelah masa kelahiran bayi, sering terdapat retensi karena GI tract belum
sempurna.
Umbilicus : tali pusat layu, perhatikan ada perdarahan atau tidak adanya tanda-
tanda infeksi pada tali pusat.
Genetalia : pada neonates aterm testis harus turun, lihat adakah kelainan letak
muara uretra pada neonates laki-laki, neonates perempuan lihat labia mayir dan
labia minor, adanya sekresi mucus keputihan, kadang perdarahan.
Anus : perhatikan adanya darah dalam tinja,frekwensi buang air besar serta
warna dari feces.
Ekstremitas : warna biru,gerakan lemah, akral dingin, perhatikan adanya patah
tulang atau adanya kelumpuhan syraf atau keadaan jari-jari tangan serta
jumlahnya.
Reflex : pada neonates preterm post asfiksia berat rflek moro dan sucking
lemah. Reflek moro dapat memberi keterangan mengenai keadaan susunan
syaraf pusat atau adanya patah tulang.
5. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa yang bisa ditegakkan oleh seorang perawat pada bayi dengan BBLR yaitu:
1. Pola nafas yang tidak efektif yang berhubungan dengan imaturitas pusat
pernapasan, keterbatasan perkembangan otot penurunan otot atau kelemahan,
dan ketidakseimbangan metabolik
2. Resiko termoregulasi inefektif yang berhubungan dengan SSP imatur (pusat
regulasi residu, penurunan massa tubuh terhadap area permukaan, penurunan
lemak subkutan, ketidakmampuan merasakan dingin dan berkeringat, cadangan
metabolik buruk).
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan dengan penurunan
simpanan nutrisi, imaturitas produksi enzim, otot abdominal lemah, dan refleks
lemah.
4. Resiko infeksi yang berhubungan dengan pertahanan imunologis yang tidak
efektif.
5. Resiko kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan usia dan berat
ekstrem, kehilangan cairan berlebihan (kulit tipis), kurang lapisan lemak, ginjal
imatur/ kegagalan mengonsentrasikan urine.
6. Resiko cedera akibat bervariasinya aliran darah otak, hipertensi atau hipotensi
sistemik, dan berkurangnya nutrient seluler (glukosa dan oksigen) yang
berhubungan dengan system sraf sentral dan respons stress fisiologis imatur.
7. Nyeri yang berhubungan dengan prosedur, diagnosis dan tindakan.
8. Resiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang berhubungan dengan
kelahiran premature, lingkungan NICU tidak alamiah, perpisahan dengan orang
tua.
9. Resiko gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan imobilitas,
kelembaban kulit.
10. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kondisi penyakit bayinya ditandai
dengan orang tua klien tampak cemas dan khawatir malihat kondisi bayinya, dan
berharap agar bayinya cepat sembuh.

7. Rencana Keperawatan
1. Pola nafas yang tidak efektif yang berhubungan dengan imaturitas pusat
pernapasan, keterbatasan perkembangan otot penurunan otot atau kelemahan,
dan ketidakseimbangan metabolic.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan, pola napas kembali efektif.
Kriteria hasil:
Neonatus akan mempertahankan pola pernapasan periodik
Membran mukosa merah muda.
Intervensi Rasional
Mandiri:
Kaji frekwensi dan pola pernapasan, Membantu dalam membedakan periode
perhatikan adanya apnea dan perputaran pernapasan normal dari
perubahan frekwensi jantung. serangan apnetik sejati, terutama sering
Isap jalan napas sesuai kebutuhan terjadi pad gestasi minggu ke-30
Menghilangkan mukus yang neyumbat
Posisikan bayi pada abdomen atau jalan napas
posisi telentang dengan gulungan Posisi ini memudahkan pernapasan dan
popok dibawah bahu untuk menurunkan episode apnea, khususnya
menghasilkan hiperekstensi bila ditemukan adanya hipoksia, asidosis
Tinjau ulang riwayat ibu terhadap metabolik atau hiperkapnea
obat-obatan yang akan memperberat Magnesium sulfat dan narkotik menekan
depresi pernapasan pada bayi pusat pernapasan dan aktifitas SSP
Hipoksia, asidosis netabolik,
Kolaborasi : hiperkapnea, hipoglikemia, hipokalsemia
Pantau pemeriksaan laboratorium dan sepsis memperberat serangan apnetik
sesuai indikasi Perbaikan kadar oksigen dan
Berikan oksigen sesuai indikasi karbondioksida dapat meningkatkan fungsi
Berikan obat-obatan yang sesuai pernapasan
indikasi

2. Resiko termoregulasi inefektif yang berhubungan dengan SSP imatur (pusat


regulasi residu, penurunan massa tubuh terhadap area permukaan, penurunan
lemak sebkutan, ketidakmampuan merasakan dingin dan berkeringat, cadangan
metabolik buruk).
Tujuan : termoregulasi menjadi efektif sesuai dengan perkembangan.
Kriteria hasil :
Mempertahankan suhu kulit atau aksila (35 37,50C).
Intervensi Rasional
Mandiri : Hipotermia membuat bayi cenderung
Kaji suhu dengan memeriksa merasa stres karena dingin, penggunaan
suhu rektal pada awalnya, simpanan lemak tidak dapat diperbaruai bila
selanjutnya periksa suhu aksila atau ada dan penurunan sensivitas untuk
gunakan alat termostat dengan meningkatkan kadar CO2 atau penurunan
dasar terbuka dan penyebar kadar O2.
hangat. Mempertahankan lingkungan termonetral,
Tempatkan bayi pada inkubator membantu mencegah stres karena dingin
atau dalam keadaan hangat Hipertermi dengan peningkatan laju
Pantau sistem pengatur suhu , metabolisme kebutuhan oksigen dan glukosa
penyebar hangat (pertahankan serta kehilangan air dapat terjadi bila suhu
batas atas pada 98,6F, bergantung lingkungan terlalu tinggi.
pada ukuran dan usia bayi) Penurunan keluaran dan peningkatan
Kaji haluaran dan berat jenis berat jenis urine dihubungkan dengan
urine penurunan perfusi ginjal selama periode
Pantau penambahan berat badan stres karena rasa dingin
berturut-turut. Bila penambahan Ketidakadekuatan penambahan berat
berat badan tidak adekuat, badan meskipun masukan kalori adekuat
tingkatkan suhu lingkungan sesuai dapat menandakan bahwa kalori digunakan
indikasi. untuk mempertahankan suhu lingkungan
Perhatikan perkembangan tubuh, sehingga memerlukan peningkatan
takikardia, warna kemerahan, suhu lingkungan.
diaforesis, letargi, apnea atau Tanda-tanda hip[ertermi ini dapat
aktifitas kejang. berlanjut pada kerusakan otak bila tidak
teratasi.
Kolaborasi : Stres dingin meningkatkan kebutuhan
Pantau pemeriksaan laboratorium terhadap glukosa dan oksigen serta dapat
sesuai indikasi (GDA, glukosa mengakibatkan masalah asam basa bila bayi
serum, elektrolit dan kadar mengalami metabolisme anaerobik bila
bilirubin) kadar oksigen yang cukup tidak tersedia.
Berikan obat-obat sesuai dengan Peningkjatan kadar bilirubin indirek dapat
indikasi : fenobarbital terjadi karena pelepasan asam lemak dari
meta bolisme lemak coklat dengan asam
lemak bersaing dengan bilirubin pada pada
bagian ikatan di albumin.
Membantu mencegah kejang berkenaan
dengan perubahan fungsi SSP yang
disebabkan hipertermi
Memperbaiki asidosis yang dapat terjadi
pada hiportemia dan hipertermia

3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan dengan penurunan


simpanan nutrisi, imaturitas produksi enzim, otot abdominal lemah, dan refleks
lemah.
Tujuan : nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan.
Kriteria hasil :
Bayi mendapat kalori dan nutrient esensial yang adekuat.
Mempertahankan pertumbuhan dan peningkatan berat badan dalam
kurva normal dengan penambahan berat badan tetap, sedikitnya 20-30
gram/hari.

Intervensi Rasional
Mandiri : Menentukan metode pemberian makan
Kaji maturitas refleks berkenaan yang tepat untuk bayi
dengan pemberian makan (misalnya : Pemberian makan pertama bayi stabil
mengisap, menelan, dan batuk) memiliki peristaltik dapat dimulai 6-12 jam
Auskultasi adanya bising usus, kaji setelah kelahiran. Bila distres pernapasan
status fisik dan statuys pernapasan ada cairan parenteral di indikasikan dan
Kaji berat badan dengan cairan peroral harus ditunda
menimbang berat badan setiap hari, Mengidentifikasikan adanya resiko
kemudian dokumentasikan pada derajat dan resiko terhadap pola
grafik pertumbuhan bayi pertumbuhan. Bayi SGA dengan kelebihan
Pantau masuka dan dan cairan ekstrasel kemungkinan kehilangan
pengeluaran. Hitung konsumsi kalori 15% BB lahir. Bayi SGA mungkin telah
dan elektrolit setiap hari mengalami penurunan berat badan dealam
Kaji tingkat hidrasi, perhatikan uterus atau mengalami penurunan
fontanel, turgor kulit, berat jenis simpanan lemak/glikogen.
urine, kondisi membran mukosa, Memberikan informasi tentang masukan
fruktuasi berat badan. aktual dalam hubungannya dengan
Kaji tanda-tanda hipoglikemia; perkiraan kebutuhan untuk digunakan
takipnea dan pernapasan tidak dalam penyesuaian diet.
teratur, apnea, letargi, fruktuasi Peningkatan kebutuhan metabolik dari
suhu, dan diaphoresis. Pemberian bayi SGA dapat meningkatkan kebutuhan
makan buruk, gugup, menangis, nada cairan. Keadaan bayi hiperglikemia dapat
tinggi, gemetar, mata terbalik, dan mengakibatkan diuresi pada bayi.
aktifitas kejang. Pemberian cairan intravena mungkin
diperlukan untuk memenuhi peningkatan
Kolaborasi : kebutuhan, tetapi harus dengan hati-hati
Pantau pemeriksaan laboratorium ditangani untuk menghindari kelebihan
sesuai indikasi : Glukas serum. cairan
Nitrogen urea darah, kreatin, Karena glukosa adalah sumber utama
osmolalitas serum/urine, elektrolit dari bahan bakar untuk otak, kekurangan
urine dapat menyebabkan kerusakan SSP
Berikan suplemen elektrolit sesuai permanen.hipoglikemia secara bermakna
indikasi misalnya kalsium glukonat meningkatkan mobilitas mortalitas serta
10% efek berat yang lama bergantung pada
durasi masing-masing episode.

Kolaborasi :
Hipoglikemia dapat terjadi pada awal 3
jam lahir bayi SGA saat cadangan glikogen
dengan cepat berkurang dan
glukoneogenesis tidak adekuat karena
penurunan simpanan protein obat dan
lemak.
Mendeteksi perubahan fungsi ginjal
berhubungan dengan penurunan simpanan
nutrien dan kadar cairan akibat malnutrisi.
Ketidakstabilan metabolik pada bayi
SGA/LGA dapat memerlukan suplemen
untuk mempertashankan homeostasis.

4. Resiko infeksi yang berhubungan dengan pertahanan imunologis yang tidak


efektif.
Tujuan : pasien tidak memperlihatkan adanya tanda infeksi.
Kriteri hasil :
Suhu tubuh dalam batas normal
Tidak ada tanda-tanda infeksi.
Leukosit 5.000-10.000

Intervensi Rasional
Mandiri : Untuk mengetahui lebih dini adanya
Kaji adanya tanda tanda infeksi tanda-tanda terjadinya infeksi
Lakukan isolasi bayi lain yang Tindakan yang dilakukan untuk
menderita infeksi sesuai kebijakan meminimalkan terjadinya infeksi yang
insitusi lebih luas
Sebelum dan setelah menangani Untuk mencegah terjadinya infeksi
bayi, lakukan pencucian tangan Untuk mencegah terjadinya infeksi
Yakinkan semua peralatan yang Untuk mencegah terjadinya infeksi yang
kontak dengan bayi bersih dan steril berlanjut pada bayi
Cegah personal yang mengalami
infeksi menular untuk tidak kontak
langsung dengan bayi.
5. Resiko kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan usia dan berat
ekstrem, kehilangan cairan berlebihan (kulit tipis), kurang lapisan lemak, ginjal
imatur/ kegagalan mengonsentrasikan urine.
Tujuan : cairan terpenuhi
Kriteria hasil :
Bebas dari tanda-tanda dehidrasi
Menunjukan penambahan berat badan 20-30 gram/hari.

Intervensi Rasional
Mandiri : Pengeluaran harus 1-3 ml/kg/jam,
Bandingkan masukan dan sementara kebutuhan terapi cairan kira-
pengeluaran urine setiap shift dan kira 80-100 ml/kg/hari pada hari pertama,
keseimbangan kumulatif setiap meningkat sampai 120-140 ml/kg/hari
periodik 24 jam pada hari ketiga postpartum. Pengambilan
Pantau berat jenis urine setiap darah untuk tes menyebabkan penurunan
selesai berkemih atau setiap 2-4 jam kadar Hb/Ht.
dengan menginspirasi urine dari Meskipun imaturitas ginjal dan
popok bayi bila bayi tidak tahan ketidaknyamanan untuk
dengan kantong penampung urine. mengonsentrasikan urine biasanya
Evaluasi turgor kulit, membran mengakibatkan berat jenis yang rendah
mukosa, dan keadaan fontanel pada bayi preterm ( rentang normal1,006-
anterior. 1,013). Kadar yang rendah menandakan
Pantau tekanan darah, nadi, dan volume cairan berlebihan dan kadar lebih
tekanan arterial rata-rata (TAR) besar dari 1,013 menandakan
ketidakmampuan masukan cairan dan
dehidrasi.
Kehialangan atau perpindahan cairan
Kolaborasi : yang minimal dapat dengan cepat
Pantau pemeriksaan laboratorium menimbulkan dehidrasi, terlihat oleh
sesuai dengan indikasi Ht turgor kulit yang buruk, membran mukosa
Berikan infus parenteral dalam kering, dan fontanel cekung.
jumlah lebih besar dari 180 ml/kg, Kehilangan 25% volume darah
khususnya pada PDA, displasia mengakibatakan syok dengan TAR < 25
bronkopulmonal (BPD), atau entero mmHg menandakan hipotensi.
coltis nekrotisan (NEC) Dehidrasi meningkatkan kadar Ht diatas
Berikan tranfusi darah. normal 45-53% kalium serum
Hipoglikemia dapat terjadi karena
kehilangan melalui selang nasogastrik
diare atau muntah.
Penggantian cairan darah menambah
volume darah, membantu mengenbalikan
vasokonstriksi akibat dengan hipoksia,
asidosis, dan pirau kanan ke kiri melalui
PDA dan telah membantu dalam
penurunan komplikasi enterokolitis
nekrotisan dan displasia bronkopulmonal.
Mungkin perlu untuk mempertahankan
kadar Ht/Hb optimal dan menggantikan
kehilangan darah.

6. Resiko cedera akibat bervariasinya aliran darah otak, hipertensi atau hipotensi
sistemik, dan berkurangnya nutrient seluler (glukosa dan oksigen) yang
berhubungan dengan system sraf sentral dan respons stress fisiologis imatur.

Tujuan : pasien mendapatkan asuhan untuk mencegah cedera dan


memeprtahankan aliran darah sistemik dan otak memadai, glukosa dan oksigen
otak adekuat; tidak memperlihatkan adanya perdarahan intaventrikular.
Kriteria hasil:
Pasien tidak memperlihatkan tanda peningkatan tekanan intrakranial atau
perdarahan intraventrikel.

Intervensi Rasional
Kurangi rangsangan lingkungan Respons stres, terutama peningkatan
Organisasikan asuhan selama tekanan darah, dapat miningkatkan resiko
jamsibuk normal sebanyak mungkin peningkatan TIK
Tutup dan buka kelambu dan lampu Untuk meminimalkan gangguan tidur
tidur dan kebisingan intermiten yang sering
Tutup inkubator dengan kain dan Untuk memungkinkan jadwal siang dan
pasang tanda jangan diganggu malam
Kaji dan tangani nyeri menggunakan Untuk mengurangi cahaya dan tidak
metode farmakologis dan non- membangunkan periode istirahat bayi
farmakologis Nyeri meningkatkan tekanan darah
Kenali tanda stres fisik dan stimulasi Untuk segera memberi intervensi yang
berlebih memadai
Hindari obat dan larutan hipertonis Akan meningkatkan tekanan darah otak
Pertahankan oksigenasi yang Hipoksia akan meningkatkan aliran
adekuat darah otak tekanan intrakranial
Hindari memutar kepala ke samping Akan mengurangi aliran arteri karotis
tiba-tiba dan oksigenasi ke otak

7. Nyeri yang berhubungan dengan prosedur, diagnosis dan tindakan.


Tujuan: pasien tidak memperlihatkan adanya nyeri yang dirasakan.
Kriteria hasil :
Pasien tidak merintih atau menangis kesakitan.
Pasien tidak memperlihatkan tanda nyeri atau tanda nyeri yang minimal.

Intervensi Rasional
Kaji keefektifan upaya kontrol Beberapa upaya (misalnya menggosok)
nyeri non farmakologis dapat meningkatkan distres bayi prematur
Dorong orang tua untuk Sebagai orang tua bayi, kenyamanan lebih
memberikan upaya kenyamanan bila efektif diberikan langsung oleh orang tua
mungkin kepada bayinya
Tunjukkan sikap sensitif dan kasih Seorang bayi sangat membutuhkan kasih
sayang pada bayi sayang, khususnya dari orang tua

Resiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang berhubungan dengan


kelahiran premature, lingkungan NICU tidak alamiah, perpisahan dengan orang tua.

Intervensi Rasional
Berikan nutrisi yang maksimal Untuk menjamin penambahan berat
Berikan periode istrahat yang badan dan pertunbuhan otak yang tetap
teratur tanpa gangguan Untuk mengurangi panggunaan O2 dan
Kenali tanda stimulus yang kalori yang tidak perlu
berlebihan (terkejut, menguap, aversi Untuk membiarkan istirahat bayi denagn
aktif, menangis) tenang
Tingkatkan interaksi orang tua-bayi Sangat penting untuk pertumbuhan dan
perkembangan normal

8. Resiko gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan imobilitas,


kelembaban kulit.
Tujuan: bayi mempertahanmkan integritas kulit.
Kriteria hasil:
o Kulit tetap bersih dan utuh.
o Tidak terlihat adanya tanda-tanda terjadinya iritasi.

Intervensi Rasional
Observasi tekstur dan warna kulit. Untuk mengetahui adanya kelainan pada

Jaga kebersihan kulit bayi. kulit secara dini


Ganti pakaian setiap basah. Meminimalkan kontak kulit bayi dengan
Jaga kebersihan tempat tidur. zat-zat yang dapat merusak kulit pada bayi
Lakukan mobilisasi tiap 2 jam. Untuk meminimalisir terjadinya iritasi
pada kulit bayi
Untuk mencegah kerusakan kulit pada
bayi

9. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kondisi penyakit bayinya ditandai


dengan orang tua klien tampak cemas dan khawatir malihat kondisi bayinya, dan
berharap agar bayinya cepat sembuh.
Tujuan: keluarga mendapat informasi tentang kemajuan kondisi bayi
Kriteria hasil:
Orang tua atau keluarga mengekspresikan perasaan dan keprihatinan
mengenai bayi dan prognosis serta memperlihatkan pemahaman dan
keterlibatan dalam asuhan.
Intervensi Rasional
Kaji tingkat pemahaman klien Belajar tergantung pada emosi dan

berikan instruksi /informasi pada kesiapan fisik dan diingatkan pada tahapan
klien maupun keluarga tentang individu
penyakitnya, baik tertulis atau lisan. Menurunkan ansietas dan dapat
Jelaskan proses penyakit individu. menimbulkan perbaikan partisipasi pada
Dorong orang terdekat menanyakan rencana pengobatan.
pertanyaan Meningkatkan kerjasama dalam program
Jelaskan tentang dosis obat, pengobatan dan mencegah penghentian
frekwensi, tujuan pengobatan dan obatsesuai perbaikan kondisi pasien.
alasan tentang pemberian obat Mencegah/menurunkan ketidaknyaman
kepeda keluarga sehubungan dengan terapi dan
Kaji potensial efek samping obat meningkatkan kerjasama.

8. Implementasi

Implementasi merupakan tindakan yang sesuai dengan yang telah direncanakan,mencakup


tindakan mandiri dan kolaborasi. Tindakan mandiri adalah tindakan keperawatan
berdasarkan analisis dan kesimpulan perawat dan bukan atas petunjuk tenaga kesehatan
lain. Sedangkan tindakan kolaborasi adalah tindakan keperawatan yang didasarkan oleh
hasil keputusan bersama dengan dokter atau petugas kesehatan lain.

9. Evaluasi

Merupakan hasil perkembangan klien dengan berpedoman kepada hasil dan tujuan yang
hendak dicapai.