Vous êtes sur la page 1sur 21

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN 11 Januari 2016

UNIV. AL-KHAIRAAT PALU

LAPORAN KASUS
SKIZOFRENIA TAK TERINCI
(F20.3)

Disusun Oleh:
Moh Faisal SY Intam
111 16 777 14 110

Pembimbing:
dr. Nyoman Sumiati M.Biomed, Sp.KJ

BAGIAN ILMU KESEHATAN JIWA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ALKHAIRAAT

RSD MADANI PALU

2017

1
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa:

Nama : Moh Faisal SY Intam


NIM : 111 16 777 14 110
Judul Laporan Kasus : Skizofrenia Tak Terinci (F20.3)

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian


Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Al-Khairaat Palu

Palu, 05 Januari 2016


Pembimbing

dr. Nyoman Sumiati M.Biomed, Sp.KJ

2
LAPORAN KASUS PSIKIATRI

SKIZOFRENIA TAK TERINCI


(F20.3)

IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. T

Jenis Kelamin : Laki-laki

Umur : 19 Tahun

Status Perkawinan : Belum Menikah

Agama : Islam

Suku Bangsa : kaili / Indonesia

Pendidikan / Sekolah : SD

Alamat / No. TLP : Jln setia budi

Alloanamnesis didapat dari

Nama : Tn. T

Hubungan dengan pasien : paman pasien

3
LAPORAN PSIKIATRI

I. RIWAYAT PSIKIATRI

1. Keluhan Utama

keluar tengah malam

2. Riwayat Gangguan Sekarang

Auto anamnesis

Seorang laki-laki berinisial Tn.T berusia 19 tahun di antar keluarga ke RSD


Madani pada tanggal 10 Januari 2017 dengan keluhan sering keluyuran tengah
malam, keluhan dirasakan sudah sejak sebulan lalu pasien di jemput oleh orang
tua di Polsek di karenakan pasien sempat di hajar masa karena mengambil barang
di kios tanpa membayar, saat di rumah pasien sering menyendiri di dalam kamar
kos dan cekikikan sendiri dan tertawa sendiri, serta pasien terlihat berbicara
berbisik kepada diri sendiri, menurut penuturan keluarga pasien memang
merupakan pribadi yang senang menyendiri dan tidak mempunyai teman.saat di
Tanya pasien mengatakan malas berteman karena dia menganggap tidak ada yang
dapat menyaingi pola pikirnya kemudian pasien kembali diam.

Alloanamnesis:

Pasien termasuk tipe orang yang pendiam, di bawa ke RS karena bicara pasien
tidak nyambung, biasanya klo pulang ke kos pasien langsung mengurung diri di
kamar, pernah pasien mengeluh bahwa ada yang ingin mengikuti dia namun tidak
jelas apa yang mengikuti pasien. Menurut penuturan keluarga pasien tidak pernah
mencuri sebelumnya.

4
b. Hendaya / Disfungsi

- Hendaya sosial : (+)

- Hendaya pekerjaan : (+)

- Hendaya penggunaan waktu senggang : (+)

3. Faktor Stressor Psikososial

Pasien belum menikah

4. Riwayat Gangguan Sebelumnya

a. Riwayat Penyakit Dahulu

Kejang (-), Penyakit infeksi (-), Riwayat Trauma (-),Riwayat DM (-),


Riwayat Hipertensi (-)

b. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif

Alkohol (-), merokok (-)

5. Riwayat Gangguan Psikiatrik Sebelumnya

Pasien pernah di rawat di madani 3 bulan yang lalu, riwayat putus obat (+)

6. Riwayat Kehidupan Pribadi

a. Riwayat Prenatal dan Perinatal

Pasien dilahirkan dengan normal dikampungnya dibantu oleh bidan, pada


tanggal 27 maret 1998

b. Riwayat Masa Kanak Awal Pertengahan

Usia 1-3 tahun

Tidak ada gangguan kesehatan yang berarti pada masa anak-anak, dan

beradaptasi seperti anak seusianya.

5
Usia 3-11 tahun

Pada masa ini pasien bersosialisasi layaknya anak seusianya. Dan sekolah
SD di Desa kulawi

Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja


Pasien mulain menyendiri dan menarik diri dari pergaulan

a. Riwayat Masa Dewasa

- Riwayat Pendidikan

Pasien tamat SMA dan sementara berkuliah di UNTAD jurusan statistik

- Riwayat Pendidikan Militer

Tidak ada

- Riwayat Pekerjaan

Belum bekerja

- Riwayat Pernikahan

Belum menikah

- Riwayat Keluarga

Pasien merupakan anak kedua dari tiga bersaudara

- Riwayat Kehidupan Sosial

Hubungan pasien dengan keluarga kurang baik karena ayah pasien sering

membatasi dan bersifat otoriter terhadap pasien

- Riwayat Agama

Pasien menganut ajaran agama islam

- Situasi Kehidupan Sekarang

Pasien tinggal di tempat kos dan jauh dari keluarga.

6
- Persepsi Pasien Tentang Diri dan Kehidupannya

Pasien tidak merasa sakit.

WAWANCARA PSIKIATRIK
Berdasarkan Autoanamnesis dan alloanamnesis
Jam : 18.30 di UGD (tgl 10 Januari 2017)
Keterangan:
DM: Dokter Muda ; P: Pasien , KP: Keluarga pasien
DM Selamat siang Tn.T perkenalkan saya faisal, dokter muda yang dinas di RS
Madani khususnya di bagian jiwa, kalau boleh tau kamu namanya siapa?
(sambil jabat tangan)
P Tn.T
DM Tn. usianya berapa?
P (diam menatap dokter pemeriksa) eee kelahiran 1998
DM Rumahnya dimana Tn.T ?
P ( diam, mata melirik ke sembarang tempat)
DM Bapak, tn T Tinggal dimana yaa klo saya boleh tau?
P Di jln setia budi
DM Tn.S sudah menikah?
P Belum
DM Tn.S masih sekolah atau sdh kerja?
P Saya kuliah dok semester 1
DM Kenapa Tn.S bisa dibawa kesini?
P Saya tidak tahu
DM Tn. S mengamuk atau perna pukul orang?
P (Diam dan tersenyum sendiri)
KP Tidak pernah dok, dia ini orangnya senang menyendiri, tidak ada temannya
ini
DM Tn.S ada nda dengar yang bisik-bisik ditelinganya ?

7
P Tidak ada dokter.
DM Apakah Tn.S ada melihat sesuatu seperti bayangan
atau hal lain?
P Diam dan senyum
DM Kenapa sering menyendiri?
P Pasien diam dan terlihat senyum sendiri
DM Tn. T tau tidak sekarang ada dimana?
P Di Rumah Sakit Madani dokter
DM Tn T. Sering mengkonsumsi minuman yang beralkohol?
P Tidak
DM Tn. T juga pernah konsumsi obat-obat terlarang?
P Tidak
DM Tn.T merokok? Kalau merokok berapa banyak satu hari?
P Tidak merokok saya
DM Tn T kenapa tuan T tidak punya teman?
P Macam tidak ada yang bias saingi fikiranku dok saya pernah berdiskusi 10
lawan satu saya yang menang.
DM Biasanya apa yang kamu diskusikan?
P (diam dan kemudian senyum sendiri)
DM Dimana lalu kamu diskusi, terus menan?
P (Pasien hanya diam dan senyum sendiri)
DM Bapak memang tn S ini pernah ikut diskusi begitu?
KP Tidak pernah dok, dia ini pendiam tdk banyak bergaul
DM Ada bisikan tidak yang bilang kamu lebih heat diskusi dari temanmu?
P Yaaa begitu saja, memnang saya biasa menang dari temanku
P Siang dokter
DM Kenapa bisa bilang kalau ini siang?
P Kan terang dokter
DM Apa bedanya motor sama sepeda Tn.S?
P Pasien diam dan hanya melihat penderita sambil cekikikan sendiri

8
DM Bagaimana biasa dia dirumah?
KP Memang biasa ini anak diam, kitorang bawa kesini dia ini karena sdh tidak
nyambung pembicaraan nya, terus sering ketawa sendiri
DM Tidak nyambung bgmn bicaranya?
KP Biasa dia di Tanya Cuma ketawa saja dan senyum sendiri
DM Sering tidak dia di rumah macam main main air atau bgmn?
KP Tidak tau juga saya, soalnya dia ba kos
DM Kan bapak bilang pasien ini di duga mencuri, pernah tidak dia begini
sebelumnya?
KP Tidak perna
DM Apa biasa dia bikin di rumah?
KP Biasa dia bilanng dia liat nenek nya yg sudah meninggal, terus dia rasa
macam ada yang ba ikut dia begitu, apa dia ini pernah belajar ilmu begitu
DM Apa yang biasa ba ikut dia, dia bilang?
KP Tidak ada dia bilang sama saya Cuma dia rasa ada yang ikut terus berapa
minggu lalu pernah dia lari say tahan terus dia ba bikin macam harimau
begitu
DM Maaf sebelumnya pasien ini ada masalah keluarga?
KP Ndk usah di kasih tau sama siapa-siapa papa nya ini keras seklai mendidik
anaknya, macam dia batasi bgitu pergerakannya ini anak
DM Oh iya pak terima kasih infonya

II. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL

1. Deskripsi Umum
a. Penampilan
Tampak seorang laki-laki mengenakan baju biru dongker dan celana jeans
panjang berwarna biru muda,penampilan normal pada umumnya, wajah
sesuai usia dan perawatan diri baik
b. Kesadaran
Kesadaran baik (compos mentis)

9
c. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
Pasien cukup tenang saat diwawancarai
d. Sikap Terhadap Pemeriksa
Kooperatif
e. Pembicaraan
Tidak spontan, intonasi cukup menjawab seadanya

1. Keadaan Afektif

a. Mood : labil

b. Afek : Labil

c. Empati : Tidak dapat dirabarasakan

2. Fungsi intelektual (kognitif)

a. Taraf Pendidikan : Sesuai dengan tingkat pendidikannya.

b. Orientasi

- Waktu : Baik

- Tempat : Baik

- Orang : Baik

c. Daya ingat

- Jangka panjang : Baik

- Jangka pendek : Baik

- Jangka segera : Baik

d. Konsentrasi dan perhatian : Terganggu

e. Pikiran abstrak : Sulit dinilai

f. Bakat kreatif : Tidak ada

g. Kemampuan menolong diri sendiri : baik

10
3. Gangguan Persepsi

- Halusinasi :

Halusinasi Visual : menurut penuturan keluarga pasien melihat

ada bayangan yang mengikuti

- Ilusi : Tidak ada

- Depersonalisasi : Tidak ada

- Derealisasi : Tidak ada

4. Pikiran

- Arus Pikiran

Produktivitas : baik

Kontinuitas : relevan

Hendaya Berbahasa : Tidak ada

- Isi Pikiran

Preokupasi : terganggu

Gangguan Isi Pikiran :

waham kebesaran : pasien menganngap tidak ada yang dapat

menyainginya dalam hal diskusi

Waham Kejar : pasien merasa diikuti oleh bayangan

5. Pengendalian Impuls : normal

6. Daya Nilai dan Tilikan

a. Norma Sosial : Sulit di nilai

b. Uji Daya Nilai : baik

c. Penilaian Realitas : baik

11
d. Tilikan : derajat 1 (penyangkalan total

terhadap penyakitnya)

7. Taraf dapat Dipercaya : Dapat dipercaya

8. Emosi Yang Terikat


Kasus ini menarik untuk dibahas dimana pasien mengalami gejala berupa
halusinasi visual, waham kebesaran, senang menyendiri, afek labil,mood
labil, girgling,senyum sendiri dimana merujuk ke diagnosis skizofrenia tak
terinci.

III. PEMERIKSAAN FISIK DAN NEUROLOGIS

Status Internus

TD : 110/70 mmHg

N : 82 x/menit

P : 20 x/menit

S : 36,5 C

kongjungtiva tidak anemis , sclera tidak icterus, jantung dan paru dalam
batas normal,periestaltik normal, fungsi motorik dan sensorik ke empat
ekstremitas dalam batas normal.

Status Neurologis :
GCS E4M6V4, pupil bundar isokor, ukuran 3 mm, reflex cahaya +/+, reflex
cahaya tidak langsung +/+, Pemeriksaan kaku kuduk : (-), reflex fisiologis
(+), reflex patologis (-). fungsi kortikal luhur dalam batas normal.

IV. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA

Didapatkan dari autoanamnesis pasien sering keluyuran tengah malam,


keluhan dirasakan sudah sejak sebulan lalu pasien di jemput oleh orang tua di
Polsek di karenakan pasien sempat di hajar masa karena mengambil barang di

12
kios tanpa membayar, saat di rumah pasien sering menyendiri di dalam kamar kos
dan cekikikan sendiri dan tertawa sendiri, serta pasien terlihat berbicara berbisik
kepada diri sendiri, menurut penuturan keluarga Pasien termasuk tipe orang yang
pendiam, di bawa ke RS karena bicara pasien tidak nyambung, biasanya klo
pulang ke kos pasien langsung mengurung diri di kamar, pernah pasien mengeluh
bahwa ada yang ingin mengikuti dia namun tidak jelas apa yang mengikuti pasien.
Menurut penuturan keluarga pasien tidak pernah mencuri sebelumnya

Tampak seorang laki-laki mengenakan baju biru dongker dan celana jeans

panjang berwarna biru muda, wajah sesuai usia dan perawatan diri baik Perilaku

dan aktivitas psikomotor pasien tenang, pembicaraan sesuai dengan yang

ditanyakan dan Koperatif, mood labil, afek labil empati tidak dapat

dirabarasakan. Tilikan derajat I.

V. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL (BERDASARKAN PPDGJ III)

Aksis I :

Pada autoanamnesis didapatkan pasien sering keluyuran tengah malam, keluhan

dirasakan sudah sejak sebulan lalu pasien di jemput oleh orang tua di Polsek di

karenakan pasien sempat di hajar masa karena mengambil barang di kios tanpa

membayar pada pasien ini hal ini menimbulkan distress dan disability maka dapat

di katakan gangguan jiwa.

Pada pasien ini terdapat afek pasien labil, mood labil,halusinasi visual, waham

kebesaran,waham kejar, giggling, self obasrobed smiling hingga dapat dikatakan

pasien mengalamai Gangguan Jiwa Psikotik.

Pada status internus dan neurologis tidak ditemukan adanya kelainan yang
mengindikasi gangguan medis umum yang menimbulkan gangguan fungsi otak

13
serta dapat mengakibatkan gangguan jiwa yang diderita pasien ini, sehingga
diagnosa Gangguan mental dapat disingkirkan dan didiagnosa Gangguan Jiwa
Psikotik Non Organik.

Dari pasien ini di dapatkan afek pasien labil, mood labil,waham


kebesaran,halusinasi visual, giggling, self obasrobed smiling Skizofrenia (F20)

Berdasarkan gejala yang didapatkan dari pasien, pasien masuk dalam subtype
untuk skizofrenia baik itu paranoid, dan hebefrenik sehingga digolongkan ke
dalam Skizofrenia Tak Terinci (F20.3).
Aksis II :

Ciri kepribadian skizoid

Aksis III :
Tidak ada diagnosis aksis III

Aksis IV :
Masalah primary suport group ( keluarga)

Aksis V :
GAF scale 60-51 gejala sedang (moderate), disabilitas sedang

VI. DIAGNOSIS BANDING


Skizoafektif tipe manik (F25.0)

VII. PROGNOSIS

Malam

1. Faktor pendukung :

a. Adanya dukungan dari keluarga pasien untuk kesembuhan pasien

2. Faktor penghambat :

a. Usia pasien masih muda

14
b. Onset yang berulang

c. Putus obat 3 bulan yang lalu

d. Pasien menyangkal dirinya sakit

VIII. RENCANA TERAPI

Psikofarmaka :

Risperidon 2 mg 2x1

Psikoterapi suportif

Ventilasi
Memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan isi hati
dan keinginannya sehingga pasien merasa lega.

Cognitive Behavioral Theraphy (CBT)


Menjelaskan bahwa penyakit Tn.S ini bukan tidak dapat disembuhkan,
dapat disembuhkan tetapi membutuhkan waktu untuk mencari
penyebab dan begitu pula pada pengobatan, tidak akan langsung
bereaksi menghilangkan semua gejala tersebut sekaligus.

Sosioterapi
Memberikan penjelasan kepada keluarga dan orang-orang sekitarnya
sehingga tercipta dukungan sosial dengan lingkungan yang kondusif
untuk membantu proses penyembuhan pasien.

IX. FOLLOW UP
Memantau keadaan umum pasien dan perkembangan penyakit serta menilai
efektifitas pengobatan yang diberikan dan kemungkinan munculnya efek
samping obat yang diberikan.

15
X. PEMBAHASAN
a. Definisi
Skizofrenia paranoid merupakan salah satu dari beberapa jenis skizofrenia,
yaitu suatu penyakit mental yang kronis di mana seseorang kehilangan kontak
dengan kenyataan/ realitas (psikosis).
b. Epidemiologi
Skizofrenia tak dapat ditemukan pada semua kelompok masyarakat dan di
berbagai daerah. Insiden dan tingkat prevalensi sepanjang hidup secara kasar
hampir sama di seluruh dunia. Gangguan ini mengenai hampir 1% populasi
dewasa dan biasanya onsetnya pada usia remaja akhir atau awal masa
dewasa.Pada laki-laki biasanya gangguan ini mulai pada usia lebih muda yaitu
15-25 tahun sedangkan pada perempuan lebih lambat yaitu sekitar 25-35 tahun.
Insiden skizofrenia lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan dan lebih
besar di daerah urban dibandingkan daerah rural

c. Etiologi
Teori tentang skizofrenia yang saat ini banyak dianut adalah sebagai berikut:
1. Genetik
Teori ini telah dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga-keluarga penderita
skizofrenia terutama anak-anak kembar satu telur sehingga dapat dipastikan
factor genetik turut menentukan timbulnya skizofrenia. Angka kesakitan bagi
saudara tiri 0,9-1,8 %, bagi saudara kandung 7-15 %, bagi anak dengan salah
satu orang tua yang menderita Skizofrenia 40-68 %, kembar 2 telur 2-15 % dan
kembar satu telur 61-86 % (Maramis, 2009). Pengaruh genetik ini tidak
sederhana seperti hokum Mendel, tetapi yang diturunkan adalah potensi untuk
skizofrenia (bukan penyakit itu sendiri).
2. Neurokimia
Hipotesis dopaminmenyatakan bahwa skizofrenia disebabkan overaktivitas pada
jaras dopamine mesolimbik. Hal ini didukung dengan temuan bahwa amfetamin
yang kerjanya meningkatkan pelepasan dopamine, dapat menginduksi psikosis

16
yang mirip skizofrenia dan obat anti psikotik bekerja dengan mengeblok reseptor
dopamine, terutama reseptor D2.
3. Hipotesis Perkembangan Saraf
Studi autopsi dan studi pencitraan otak memperlihatkan abnormalitas struktur
dan morfologi otak penderita skizofrenia antara lain berupa berat orak rata-rata
lebih kecil 6% dari normal dan ukuran anterior-anterior yang 4% lebih pendek,
pembesaran ventrikel otak yang nonspesifik, gangguan metabolisme di daerah
frontal dan temporal serta kelainan susunan seluler pada struktur saraf di
beberapa korteks dan subkortek. Studi neuropsikologis mengungkapkan deficit di
bidang atensi, pemilihan konseptual, fungsi eksekutif dan memori pada penderita
skizofrenia.

d. Diagnosis dan Gambaran Klinis


Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa
(PPDGJ III)
Pedoman diagnosis skizofrenia tipe paranoid :
1. Memenuhi kriteria umum skizofrenia
2. Sebagai tambahan:
Halusinasi dan atau waham harus menonjol
a) Suara suara halusinasi yang mengancam pasien atau member
perintah atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi
peluit, mendengung atau bunyi tawa
b) Halusianasi pembauan atau pengecapan rasa atau bersifat seksual,
atau lain lain perasaan tubuh halusinasi visual mungkin adda tapi
jarang menonjol
c) Waham dapat berupa hamper setiap jenis, tetapi waham
dikendalikan ( delution of control), dipengaruhi ( delucion of
influence ),atau passivity dan keyakinan di kejar kejar yang
beraneka ragam adalah yang paling khas.
3. Gangguan afektif dorongan, kehendak dan pembicaraan,serta gejala
katatonik secara relative tidak nyata atau tidak menonjol

17
Pedoman diagnostic Skizofrenia Hebefrenik

1. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia.


2. Diagnosis hebefrenia untuk pertama kalinya hanya ditegakkan pada usia
remaja atau dewasa muda (onset biasanya mulai 15 25 tahun)
3. Kepribadian premorbid menunjukkan ciri khas: pemalu dan senang
menyendiri (solitary), namun tidak harus demikian untuk menentukan
diagnosis.
4. Untuk diagnosis henefrenik yang meyakinkan umumnya diperlukan
pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya, untuk memastikan
bahwa gambaran yang khas berikut ini memang benar bertahan :
a) Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diramalkan, serta
mannerisme; ada kecenderungan untuk selalu menyendiri (solitary), dan
perilaku menunjukkan hampa tujuan atau hampa perasaan;
b) Afek pasien dangkal (shallow) dan tidak wajar (inappropiate), sering disertai
oleh cekikikan (giggling) atau perasaan puas diri (self satisfied), senyum
sendiri (self absorbed smilling) atau oleh sikap, tinggi hati (lofty manner),
tertawa menyeringai ( grimaces), mannerisme, mengibuli secara bersenda
gurau (pranks), keluahan hipokondriakal, dan ungkapan kata yang diulang
ulang (reiterated phrase).
c) Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu
(rambling) serta inkoheren.
5. Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir
umumnya menonjol halusinasi atau waham mungkin ada tetapi biasanya tidak
menonjol (fleeting and fragmentary delusions and hallucinations). Dorongan
kehendak (drive) dan yang bertujuan (determination) hilang serta sasaran
ditinggalkan, sehingga perilaku penderita memperlihatkan ciri khas, yaitu
perilaku tanpa tujuan (aimless)dan tanpa maksud ( empty of puspose) adanya
suatu preokupasi yang dangkal dan bersifat dibuat buat terhadap agama,

18
filsafat dan tema abstrak lainnya, makin mempersukar orang memahamijalan
pikiran pasien.

A. Diagnosis Banding
- Skizoafektif tipe manik (F 25.0)

B. Terapi
APG-1 :
Obat-obat psikosis tipikal bekerja dengan memblok dopamin pada reseptor pasca-
sinaptik di otak, khususnya di sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal
(Dopamine D2 receptor antagonists), sehingga obat ini efektif untuk gejala positif.

1. golongan phenotiazone :
- rantai aliphatic : chlorpromazine
- rantai piperazine : perpenazine,trifluoperazine,fluphenazine
- rantai piperidine : thioridazone
2. Golongan butherophenone : halloperidole
3. Golongan diohenylbuthilpiperidine : pimozide

Efek samping obat anti-psikosis dapat berupa :

1. Sedasi dan inhibisi psikomotor > rasa mengantuk, kewaspadaan


berkurang, kinerja psikomotor menurun, kemampuan kognitif menurun).
2. Gangguan otonomik > hipotensi, antikolinergik/parasimpatolitik, mulut
kering, kesulitan miksi dan defekasi, hidung tersumbat, mata kabur,
tekanan intraokuler meninggi, gangguan irama jantung.
3. Gangguan ekstrapiramidal (EPS) > distonia akut, akathisia, sindrom
parkinson (tremor, bradikardi, rigiditas).
4. Gangguan endokrin (amenorrhoe, gynecomastia), gangguan metabolik
(jaundice), gangguan hematologik (agranulocytosis), biasanya pada
pemakaian jangka lama.

19
APG golongan 2 :

Obat antipsikosis atipikal di samping berafinitas terhadap Dopamine D2


receptor, juga terhadap Serotonin 5 Ht2 receptors (Serotonin-dopamin
antagonists),

1 golongan benzamide : supiride

2. golongan dibenzodiazepim : clozapine, olanzapine

3. benzisoxazole : risperidone,aripripazole

20
DAFTAR PUSTAKA

1. Amir N. Skizofrenia. Dalam: Elvira SD, Hadisukanto G, penyunting. Buku


ajar psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2010.h.170-94.
2. Muttaqin H, Sihombing RNE, penyunting. Skizofrenia. Dalam: Sadock
BJ, Sadock VA. Kaplan & sadocks concise textbook of clinical
psychiatry. Edisi ke-2. Jakarta: EGC; 2010.h.147-75.

3. Maslim. R: Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di


Indonesia, edisi 3, Direktorat Kesehatan Jiwa Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.

4. Maggina, P., et al. 2012. Anti-N-Methyl D Aspartate Receptor Encephalitis


Presenting eith Acut Psychosis in A Preteenage girl: A Case Report. Journal
of Medical Case Report.

5. Maslim, R. 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa : Rujukan Ringkas dari


PPDGJ-III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya

6. Sadock BJ, Kaplan HI, Grebb JA. 2003. Kaplan & Sadocks Synopsis of
Psychiatri. 9th ed. Philadelpia: Lippincott William & Wilkins.

7. Trimble MR., George MS. 2010. Biological Psychiatry 3rd edition. Wiley-
Blackwell.

21