Vous êtes sur la page 1sur 4

c. Bagaimana etiologi dan mekanisme terjadinya mulut mengot pada kasus?

Paparan udara/ suhu dingin saat bergadang malam hari nervus fasialis
sembab kompresi dari saraf tersebut pada saat melalui tulang temporal yang
sempit gangguan motorik kelumpuhan otot-otot ekspresi wajah mulut
mengot

f. Bagaimana tatalaksana pada mulut mengot?


1. Medikamentosa
Untuk menghilangkan penekanan, menurunkan edema akson dan kerusakan
N.VII dapat diberikan prednison (kortikosteroid) dan antiviral sesegera mungkin.
Prednison dapat diberikan jika muncul tanda-tanda radang.
Kortikosteroid
Prednison 1 mg/kgBB/hari selama 5 hari kemudian diturunkan bertahap
10 mg/hari dan berhenti selama 10-14 hari.
Tabel 1. Dosis Kortikosteroid

Dosis dewasa 1 mg/kg atau 60 mg PO selama 7 hari diikuti


tappering off dengan total pemakaian 10 hari.
Dosis Anak 1 mg/kg PO selama 6 hari diikuti tappering off
dengan total pemakaian 10 hari.
Kontraindikasi Hipersensitivitas, diabetes berat yang tak terkontrol,
infeksi jamur, ulkus peptikum, TBC, osteoporosis.

Obat antiviral
Acyclovir 400 mg dapat diberikan 5 kali perhari selama 7 hari, atau 1000
mg/hari selama 5 hari sampai 2400 mg/hari selama 10 hari jika hasil
menunjukkan bahwa Bells Palsy disebabkan oleh HSV, jika disebabkan oleh
VZV maka diperlukan dosis yang lebih tinggi (800 mg secara oral, 5 kali
sehari).
Valacyclovir, 500 mg secara oral, 2 kali sehari selama 5 hari, juga dapat
digunakan sebagai pengganti acyclovir. Meskipun harganya mahal, efeknya jauh
lebih baik. Sama dengan acyclovir, jika Bells Palsy disebabkan oleh VZV maka
diperlukan dosis yang lebih tinggi (1000 mg secara oral, 3 kali sehari).
Tabel 2. Dosis Antiviral
Nama Obat Asikovir, obat antiviral yang menghambat kerja
HSV-1. HSV-2, dan VZV

Dosis dewasa 400 mg PO 5 kali/hari selama 10 hari.

Dosis Anak <2 tahun : belum dipastikan


>2 tahun : 20 mg/kg PO selama 10 hari
Kontraindikasi Hipersensitif, penderita gagal ginjal

Vitamin B1, B6, dan B12


Dengan dosis tinggi, digunakan untuk pertumbuhan serabut
syaraf yang rusak.

2. Non-Medikamentosa
Tindakan fisioterapi seperti:
Terapi panas superfisial, untuk menghilangkan pembengkakan pada jaringan.
Stimulasi listrik/electrical stimulation, merangsang otot yang innervasinya
terganggu, dapat dalam bentuk bentuk E -stimuli, dan akupuntur.
Mengurut (massage) otot wajah, selama 5 menit pagi sore atau dengan
faradisasi (gerakan yang dapat dilakukan berupa tersenyum, mengatupkan bibir,
mengerutkan hidung, mengerutkan dahi, gunakan ibu jari dan telunjuk untuk
menarik sudut mulut secara manual, mengangkat alis secara manual dengan
keempat jari menutup mata).

Perawatan mata
Diutamakan pada perawatan mata. Karena penderita Bells Palsy tidak
bisa menutup mata secara sempurna, maka penderita rentan menderita sindrom
dry eye yang dapat berujung pada masalah penglihatan. Pengobatan yang
dianjurkan adalah dengan menggunakan jari untuk menutup dan membuka mata
secara manual, atau dengan menggunakan obat tetes mata untuk menjaga
kelembapan mata. Bisa juga dengan menggunakan penutup mata ketika tidur
dan kacamata saat beraktivitas sehari-hari. Pemberian air mata buatan, lubrikan,
dan pelindung mata. Pemakaian kacamata dengan lensa berwarna atau kacamata
hitam kadang diperlukan untuk menjaga mata tetap lembab saat bekerja.
Pembedahan
Tindakan bedah perlu dipikirkan pada pasien dengan Bells Palsy yang
tidak responsif terhadap pengobatan dan dengan degenerasi akson >90%.

g. Bagaimana dampak dari mulut yang mengot?


Aktivitas sehari-hari tidak terganggu tetapi merasa ada makanan yang
tertinggal selesai mengunyah-menelan makanan. Pasien biasanya merasa kurang
percaya diri bila bertemu orang lain, ketakutan stroke atau terkena penyakit yang
tidak bisa disembuhkan.

h. Apa makna klinis dari riwayat deman yang ditanyakan?


Apabila ada riwayat demam sebelum terjadinya kelumpuhan otot wajah
dapat berarti kemungkinan kelumpuhan disebabkan oleh adanya infeksi virus.
Beberapa teori mengemukakan bahwa ada kaitan antara infeksi virus dengan
kelumpuhan otot wajar yang bersifat perifer, biasanya berkaitan dengan infeksi virus
herpes.

k. Apakah jenis lesi yang menyebabkan kelainan keluhan pada kasus?


Inti nervus fasialis juga dapat dibagi menjadi kelompok atas dan bawah. Inti
bagian atas mensarafi otot wajah bagian atas dan inti bagian bawah mensarafi otot
wajah bagian bawah. Inti nervus fasialis bagian bawah mendapat innervasi
kontralateral dari korteks somatomotorik dan inti nervus fasialis bagian atas
mendapat inervasi dari kedua belah korteks somatomotorik. Oleh karena itu, pada
paresis nervus fasialis UMN (karena lesi di korteks atau kapsula interna) otot wajah
bagian bawah saja yang jelas paretik, sedangkan otot wajah atas tidak jelas lumpuh.
Sebaliknya, pada kelumpuhan nervus fasialis LMN (karena lesi infranuklearis), baik
otot wajah atas maupun bawah, kedua-duanya jelas lumpuh.

f. Apakah indikasi pemeriksaan crocodile tears syndrome?


Crocodile tears syndrome merupakan gejala sisa atau komplikasi dari bells
palsy. Timbul beberapa saat setelah terjadi paresis dan diakibatkan oleh regenerasi
yang salah dari serabut saraf otonom yang seharusnya ke kelenjar saliva tetapi
menuju ke kelenjar lakrimalis.