Vous êtes sur la page 1sur 29

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih tinggi. Menurut WHO,
pada tahun 2013 AKB di dunia 34 per 1.000 kelahiran hidup, AKB di negara
berkembang 37 per 1.000 kelahiran hidup dan AKB di negara maju 5 per
1.000 kelahiran hidup. AKB di Asia Timur 11 per 1.000 kelahiran hidup, Asia
Selatan 43 per 1.000 kelahiran hidup, Asia Tenggara 24 per 1.000 kelahiran
hidup dan Asia Barat 21 per 1.000 kelahiran hidup (WHO, 2014).
Di Indonesia, dari seluruh kematian bayi, sebanyak 57% meninggal
pada masa neonatal (usia di bawah 1 bulan). Setiap 6 menit terdapat 1
neonatus yang meninggal. Penyebab kematian neonatal di Indonesia adalah
berat bayi lahir rendah 29%, asfiksia 27%, trauma lahir, tetanus neonatorum,
infeksi lain, dan kealainan congenital
AKB Provinsi NTB telah mengalami penurunan dalam kurun waktu
2003-2012, namun masih diatas angka nasional. Menurut data dari Survei
Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) di Provinsi NTB pada tahun
2007 sebesar 72/1000 kelahiran hidup mengalami penurunan menjadi
sebesar 57/1000 kelahiran hidup sesuai data SDKI 2012. .
Laporan rutin (pencatatan) petugas kesehatan di Provinsi NTB tahun
2012 terjadi 1.432 kematian bayi dari 103.524 kelahiran hidup. Kasus
kematian bayi yang dilaporkan di setiap kabupaten/kota di Provinsi NTB
tahun 2008-2012 terlihat pada gambar berikut. memperlihatkan bahwa
jumlah kasus kematian bayi tahun 2012 mengalami peningkatan
dibandingkan tahun sebelumnya. Meningkatnya kematian bayi antara lain
dikarenakan masih adanya persalinan oleh dukun sebesar 9,65% dan masih
adanya ibu hamil resti atau komplikasi yang belum ditangani sebanyak
9,09%.
Diatas dapat memperlihatkan bahwa AKB Provinsi NTB cukup tinggi
dan diperlukan upaya yang sangat keras menurunkan AKB untuk mencapai
target. Menurunkan AKB berpengaruh terhadap terjadinya peningkatan Umur
harapan Hidup (UHH) suatu Negara. Berdasarkan perhitungan target yang

1
ingin dicapai maka Pemerintah Provinsi NTB telah menetapkan target AKB
yang tertuang dalam RPJMD Provinsi NTB tahun 2009-2013 turun menjadi
42/1000 kelahiran hidup. Disamping itu pemerintah pusat juga telah
menetapkan target yang ingin dicapai sesuai MDGs ke-4 pada tahun 2015
yaitu AKB turun menjadi 23/1000 kelahiran hidup. Laporan rutin (pencatatan)
petugas kesehatan di Provinsi NTB tahun 2012 terjadi 1.432 kematian bayi
dari 103.524 kelahiran hidup.
Berdasarkan tingginya angka kelahiran bayi dengan asfiksia, maka
penulis tertarik mengambil kasus dengan judul asuhan kebidanan bayi baru
lahir dengan Neonatus cukup bulan, sesuai masa kehamilan, umur 0 hari
dengan Asfiksia sedang di Rs. Dr.R.Soedjono Selong.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melaksanakan Asuhan Kebidanan Kegawatdaruratan
dengan pendekatan Manajemen Kebidanan pada kasus Bayi Baru Lahir
serta mendokumentasikannya dengan SOAP
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu melakukan pengumpulan data Subyektif
pada Bayi Ny.F
b. Mahasiswa mampu melakukan pengumpulan data Objektif
pada Bayi Ny.F
c. Mahasiswa mampu melakukan Analisa pada Bayi Ny.F
d. Mahasiswa mampu melakukan Penatalaksanaan pada Bayi
Ny.F

C. Manfaat
1. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan laporan ini dapat menjadi acuan dalam sumber teori asuhan
kebidanan pada bayi baru lahir patologis serta mengenai kendala atau
masalah masalah kesehatan yang terjadi di masyarakat, khususnya
kendala atau masalah yang terkait dengan kebidanan, sehingga institusi
pendidikan dapat meningkatkan mutu dan kualitas peserta didik.
2. Bagi Institusi Pelayanan
Agar dapat tetap menerapkan manajemen kebidanan dalam memberikan
asuhan kebidanan pada bayi baru lahir patologis sehingga dapat lebih
meningkatkan mutu pelayanan yang akan memberikan dampak untuk
menurunkan angka kematian dan kesakitan ibu serta bayi.

2
3. Bagi Mahasiswa
Dapat belajar menerapkan langsung pada masyarakat di lapangan
mengenai perkembangan ilmu pengetahuan (asuhan kebidanan pada
bayi baru lahir) yang diperolehnya di dalam kelas sehingga nantinya pada
saat bekerja di lapangan dapat dilakukan secara sistematis yang pada
akhirnya meningkatkan mutu pelayanan yang akan memberikan dampak
menurunkan angka kematian ibu dan bayi.
4. Bagi Masyarakat
a. Dapat membina hubungan baik dengan tenaga kesehatan dan
fasilitas kesehatan yang ada, serta tetap pro-aktif terhadap tindakan
atau asuhan kebidanan yang diberikan.
b. Dapat menambah pengetahuan klien khususnya dan
masyarakat pada umumnya dalam bayi baru lahir patologis.
c. Klien atau masyarakat dapat mengenali tanda tanda bahaya
dan resiko terhadap bayi baru lahir.
d. Klien khususnya dan masyarakat pada umumnya dapat
menolong dirinya sendiri dalam mengenali tanda bahaya pada bayi
baru lahir.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Asfiksia


1. Pengertian Asfiksia
a. Asfiksia adalah keadaan bayi tidak bernafas secara spontan dan
teratur segera setelah lahir. Seringkali bayi yang sebelumnya

3
mengalami gawat janin akan mengalami asfiksia sesudah persalinan.
Masalah ini mungkin berkaitan dengan keadaan ibu, tali pusat, atau
masalah pada bayi selama atau sesudah persalinan (Depkes RI, 2009).
b. Asfiksia pada bayi baru lahir (BBL) menurut IDAI (Ikatatan Dokter
Anak Indonesia) adalah kegagalan nafas secara spontan dan teratur
pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir (Prambudi, 2013).
c. Asfiksia neonatorum adalah kegagalan bernapas secara spontan dan
teratur segera setelah lahir (WHO, 1999).
2. Patofisiologi
Gangguan suplai darah teroksigenasi melalui vena umbilical dapat
terjadi pada saat antepartum, intrapartum, dan pascapartum saat tali pusat
dipotong. Hal ini diikuti oleh serangkaian kejadian yang dapat diperkirakan
ketika asfiksia bertambah berat.
Awalnya hanya ada sedikit nafas. Sedikit nafas ini dimaksudkan untuk
mengembangkan paru, tetapi bila paru mengembang saat kepala dijalan
lahir atau bila paru tidak mengembang karena suatu hal, aktivitas singkat ini
akan diikuti oleh henti nafas komplit yang disebut apnea primer.
Setelah waktu singkat-lama asfiksia tidak dikaji dalam situasi klinis
karena dilakukan tindakan resusitasi yang sesuai usaha bernafas otomatis
dimulai. Hal ini hanya akan membantu dalam waktu singkat, kemudian jika
paru tidak mengembang, secara bertahap terjadi penurunan kekuatan dan
frekuensi pernafasan. Selanjutnya bayi akan memasuki periode apnea
terminal. Kecuali jika dilakukan resusitasi yang tepat, pemulihan dari
keadaan terminal ini tidak akan terjadi.
Frekuensi jantung menurun selama apnea primer dan akhirnya turun di
bawah 100 kali/menit.Frekuensi jantung mungkin sedikit meningkat saat
bayi bernafas terengah-engah tetapi bersama dengan menurun dan
hentinya nafas terengah-engah bayi, frekuensi jantung terus
berkurang.Keadaan asam-basa semakin memburuk, metabolisme selular
gagal, jantungpun berhenti. Keadaan ini akan terjadi dalam waktu cukup
lama.
Selama apnea primer, tekanan darah meningkat bersama dengan
pelepasan ketokolamin dan zat kimia stress lainnya.Walupun demikian,
tekanan darah yang terkait erat dengan frekuensi jantung, mengalami
penurunan tajam selama apnea terminal.

4
Terjadi penurunan pH yang hampir linier sejak awitan asfiksia.Apnea
primer dan apnea terminal mungkin tidak selalu dapat dibedakan.Pada
umumnya bradikardi berat dan kondisi syok memburuk apnea terminal.
3. Etiologi
Faktor-faktor yang dapat menimbulkan gawat janin (asfiksia) antara lain :
a. Faktor ibu
1) Preeklampsia dan eklampsia
2) Pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
3) Partus lama atau partus macet
4) Demam selama persalinan Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC,
HIV)
5) Kehamilan Lewat Waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)
b. Faktor Tali Pusat
1) Lilitan tali pusat
2) Tali pusat pendek
3) Simpul tali pusat
4) Prolapsus tali pusat.
c. Faktor bayi
1) Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)
2) Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia
bahu, ekstraksi vakum, ekstraksi forsep)
3) Kelainan bawaan (kongenital)
4) Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan)
(DepKes RI, 2009).
Towel (1966) mengajukan penggolongan penyebab kegagalan
pernafasan pada bayi yang terdiri dari :

1) Faktor Ibu
Hipoksia ibu. Hal ini akan menimbulkan hipoksia janin
dengan segala akibatnya. Hipoksia ibu ini dapat terjadi karena
hipoventilasi akibat pemberian obat analgetika atau anestesia
dalam.
Gangguan aliran darah uterus. Mengurangnya aliran darah
pada uterus akan menyebabkan berkurangnya pengaliran oksigen

5
ke plasenta dan demikian pula ke janin. Hal ini sering ditemukan
pada keadaan: (a) gangguan kontraksi uterus, misalnya hipertoni,
hipertoni atau tetani uterus akibat penyakit atau obat, (b) hipotensi
mendadak pada ibu karena perdarahan, (c) hipertensi pada
penyakit eklampsia dan lain-lain.
2) Faktor plasenta
Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan
kondisi plasenta. Asfiksia janin akan terjadi bila terdapat gangguan
mendadak pada plasenta, misalnya solusio plasenta, perdarahan
plasenta dan lain-lain.
3) Faktor fetus
Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran
darah dalam pembuluh darah umbilikus dan menghambat
pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini
dapat ditemukan pada keadaan tali pusat menumbung, tali pusat
melilit leher, kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir dan
lain-lain.
4) Faktor neonatus
Depresi tali pusat pernafasan bayi baru lahir dapat terjadi karena
beberapa hal, yaitu: (a) pemakaian obat anastesi/analgetika yang
berlebihan pada ibu secara langsung dapat menimbulkan depresi
pusat pernafasan janin, (b) trauma yang terjadi pada persalinan,
misalnya perdarahan intrakranial, (c) kelainan kongenital pada
bayi, misalnya hernia diafragmatika, atresia/stenosis saluran
pernapasan, hipoplasia paru dan lain-lain.
4. Manifestasi Klinis
Asfiksia biasanya merupakan akibat hipoksia janin yang menimbulkan
tanda-tanda klinis pada janin atau bayi berikut ini :

a) DJJ lebih dari 100x/menit atau kurang dari 100x/menit tidak


teratur

b) Mekonium dalam air ketuban pada janin letak kepala

6
c) Tonus otot buruk karena kekurangan oksigen pada otak, otot,
dan organ lain

d) Depresi pernafasan karena otak kekurangan oksigen

e) Bradikardi (penurunan frekuensi jantung) karena kekurangan


oksigen pada otot-otot jantung atau sel-sel otak

f) Tekanan darah rendah karena kekurangan oksigen pada otot jantung,


kehilangan darah atau kekurangan aliran darah yang kembali ke
plasenta sebelum dan selama proses persalinan

g) Takipnu (pernapasan cepat) karena kegagalan absorbsi cairan


paru-paru atau nafas tidak teratur/megap-megap

h) Sianosis (warna kebiruan) karena kekurangan oksigen


didalam darah

i) Penurunan terhadap spinkters

j) Pucat

k) (Depkes RI, 2007)

5. Diagnosis
Asfiksia yang terjadi pada bayi biasanya merupakan kelanjutan dari
hipoksia janin. Diagnosis hipoksia dapat dibuat ketika dalam persalinan
yakni saat ditemukanna tanda-tanda gawat janin. Tiga hal yang perlu
mendapat perhatian (Saifuddin, 2002) :

a. Denyut jantung janin


Frekuensi normal denyut jantung janin adalah antara 120 sampai
160x/menit.Selama his frekuensi tersebut bisa turun, tetapi di luar his
kembali lagi kepada keadaan semula.Peningkatan kecepatan denyut
jantung umumnya tidak banyak artinya, namun apabila frekuensi turun
sampai dibawah 100 per menit di luar his dan terlebih jika tidak teratur,
hal tersebut merupakan tanda bahaya.
b. Mekonium dalam air ketuban

7
Pada presentasi kepala mungkin menunjukan gangguan oksigenasi
dan harus menimbulkan kewaspadaan.Adanya mekonium dalam air
ketuban pada presentasi kepala dapat merupakan indikasi untuk
mengakhiri persalinan bila hal tersebut dapat dilakukan dengan mudah.
c. Pemeriksaan darah janin
Dengan menggunakan amnioskop yang dimasukan melalui servik yang
dibuat sayatan kecil pada kulit kepala janin, dan diambil contoh darah
janin.Darah tersebut diperiksa pH nya, adanya asidosis menyebabkan
turunnya pH.Apabila pH turun sampai 7.2 hal tersebut dianggap
sebagai tanda bahaya. Kelahiran yang telah menunjukan tanda-tanda
gawat janin dimungkinkan akan disertai dengan asfiksia neonatorum.
Oleh karena itu perlu diadakan persiapan untuk menghadapi keadaan
tersebut jika terdapat asfiksia.Tingkatannya perlu diketahui untuk
melakukan tindakan resusitasi yang sempurna.Hal tersebut diketahui
dengan penilaian menurut APGAR.

a. Penilaian dengan Apgar score


Tabel 2.1: Penilaian bayi baru lahir dilakukan dengan sistem nilai Apgar
Score

Aspek Yang Nilai


No
Dinilai 0 1 2

1. Apperence Biru/puca Badan Seluruh


(Penampilan) merah, badan dan

8
t ekstremitas ekstremita
biru s merah

2. Pulse (Denyut Tidak ada Tidak Teratur


jantung) teratur >100x/mnt

<100x/mnt

3. Grimace Tidak ada Menyeringai Menangis


(Reaksi kuat
terhadap
Rangsangan)

4. Activity (Otot) Tidak ada Fleksi Aktifitas


sedikit kuat

5. Respiration Tidak Lemah Teratur


bernafas
(Pernapasan)

Nilai Apgar pada umumnya dilaksanakan pada 1 menit dan 5 menit


sesudah bayi lahir.Akan tetapi, penilaian bayi harus dimulai segera sesudah
bayi lahir.Apabila bayi memerlukan intervensi berdasarkan penilaian
pernafasan, denyut jantung atau warna bayi, maka penilaian ini harus dilakukan
segera.Intervensi yang harus dilakukan jangan sampai terlambat karena
menunggu hasil penilaian Apgar 1 menit. Kelambatan tindakan akan
membahayakan terutama pada bayi yang mengalami depresi berat.

Walaupun Nilai Apgar tidak penting dalam pengambilan keputusan pada


awal resusitasi, tetapi dapat menolong dalam upaya penilaian keadaan bayi dan
penilaian efektivitas upaya resusitasi.Jadi nilai Apgar perlu dinilai pada 1 menit
dan 5 menit. Apabila nilai Apgar kurang dari 7 penilaian nilai tambahan masih

9
diperlukan yaitu tiap 5 menit sampai 20 menit atau sampai dua kali penilaian
menunjukkan nilai 8 dan lebih (Saifuddin, 2009).

Bayi baru lahir dievaluasi dengan nilai Apgar, tabel tersebut dapat untuk
menentukan tingkat atau derajat asfiksia, apakah ringan, sedang, atau asfiksia
berat (Mochtar, 1998).

1. Asfiksia berat (nilai Apgar 0-3)


Memerlukan resusitasi segera secara aktif, dan pemberian oksigen
terkendali.Pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung 100 x/menit,
tonus otot buruk, sianosis berat, dan terkadang pucat, refleks iritabilitas tidak
ada.
2. Asfiksia sedang (nilai Apgar 4-6)
Memerlukan resusitasi dan pemberian oksigen sampai bayi dapat
bernapas kembali.Pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung lebih
dari 100 x/menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, refleks iritabilitas
tidak ada.
3. Bayi normal atau sedikit asfiksia (nilai Apgar 7-10)

6. Penatalaksanaan Resusitasi
a. Algoritma Resusitasi Neonatal

10
Sumber: New algorithm for 6th.edition (Prambudi, 2013).

b. Langkah-langkah resusitasi neonatus


Pada pemeriksaan atau penilaian awal dilakukan dengan menjawab 3
pertanyaan:

1) Apakah bayi cukup bulan?


2) Apakah bayi bernapas atau menangis?
3) Apakah tonus otot bayi baik atau kuat?

11
Bila semua jawaban ya maka bayi dapat langsung dimasukkan dalam
prosedur perawatan rutin dan tidak dipisahkan dari ibunya. Bayi dikeringkan,
diletakkan di dada ibunya dan diselimuti dengan kain linen kering untuk
menjaga suhu. Bila terdapat jawaban tidak dari salah satu pertanyaan di
atas maka bayi memerlukan satu atau beberapa tindakan resusitasi berikut
ini secara berurutan:

a. Langkah awal dalam stabilisasi


a) Memberikan kehangatan
Bayi diletakkan dibawah alat pemancar panas (radiant warmer)
dalam keadaan telanjang agar panas dapat mencapai tubuh bayi
dan memudahkan eksplorasi seluruh tubuh.
b) Memposisikan bayi dengan sedikit menengadahkan
kepalanya
Bayi diletakkan telentang dengan leher sedikit tengadah dalam
posisi menghidu agar posisi farings, larings dan trakea dalam satu
garis lurus yang akan mempermudah masuknya udara. Posisi ini
adalah posisi terbaik untuk melakukan ventilasi dengan balon dan
sungkup dan/atau untuk pemasangan pipa endotrakeal.
c) Membersihkan jalan napas sesuai keperluan
Cara yang tepat untuk membersihkan jalan napas adalah
bergantung pada keaktifan bayi dan ada/tidaknya mekonium.Bila
terdapat mekoneum dalam cairan amnion dan bayi tidak bugar (bayi
mengalami depresi pernapasan, tonus otot kurang dan frekuensi
jantung kurang dari 100x/menit) segera dilakukan penghisapan
trakea sebelum timbul pernapasan untuk mencegah sindrom
aspirasi mekonium.Penghisapan trakea meliputi langkah-langkah
pemasangan laringoskop dan selang endotrakeal ke dalam trakea,
kemudian dengan kateter penghisap dilakukan pembersihan daerah
mulut, faring dan trakea sampai glotis. Bila terdapat mekonium
dalam cairan amnion namun bayi tampak bugar, pembersihan sekret
dari jalan napas dilakukan seperti pada bayi tanpa mekoneum.

12
4) Mengeringkan bayi, merangsang pernapasan
5) Mengatur kembali posisi bayi dengan yang benar
6) Melakukan Penilaian

Keputusan untuk melanjutkan dari satu kategori ke kategori


berikutnya ditentukan dengan penilaian 3 tanda vital secara simultan
(pernapasan, frekuensi jantung dan warna kulit).Waktu untuk setiap
langkah adalah sekitar 30 detik, lalu nilai kembali, dan putuskan untuk
melanjutkan ke langkah berikutnya.
b. Ventilasi Tekanan Positif (VTP)
1) Pastikan bayi diletakkan dalam posisi yang benar.
2) Agar VTP efektif, kecepatan memompa (kecepatan ventilasi)
dan tekanan ventilasi harus sesuai.
3) Kecepatan ventilasi sebaiknya 40-60 kali/menit.
4) Tekanan ventilasi yang dibutuhkan sebagai berikut. Nafas
pertama setelah lahir, membutuhkan: 30-40 cm H2O. Setelah nafas
pertama, membutuhkan: 15-20 cm H2O. Bayi dengan kondisi atau
penyakit paru-paru yang berakibat turunnya compliance,
membutuhkan: 20-40 cm H2O. Tekanan ventilasi hanya dapat diatur
apabila digunakan balon yang mempunyai pengukuran tekanan.
5) Observasi gerak dada bayi: adanya gerakan dada bayi turun
naik merupakan bukti bahwa sungkup terpasang dengan baik dan
paru-paru mengembang. Bayi seperti menarik nafas dangkal.
Apabila dada bergerak maksimum, bayi seperti menarik nafas
panjang, menunjukkan paru-paru terlalu mengembang, yang berarti
tekanan diberikan terlalu tinggi. Hal ini dapat menyebabkan
pneumothoraks.
6) Observasi gerak perut bayi: gerak perut tidak dapat dipakai
sebagai pedoman ventilasi yang efektif. Gerak paru mungkin
disebabkan masuknya udara ke dalam lambung.
7) Penilaian suara nafas bilateral: suara nafas didengar dengan
menggunakan stetoskop. Adanya suara nafas di kedua paru-paru
merupakan indikasi bahwa bayi mendapat ventilasi yang benar.

13
8) Observasi pengembangan dada bayi: apabila dada terlalu
berkembang, kurangi tekanan dengan mengurangi meremas balon.
Apabila dada kurang berkembang, mungkin disebabkan oleh salah
satu penyebab berikut: perlekatan sungkup kurang sempurna, arus
udara terhambat, dan tidak cukup tekanan.
Apabila dengan tahapan diatas dada bayi masih tetap kurang
berkembang sebaiknya dilakukan intubasi endotrakea dan ventilasi
pipa-balon (Saifuddin, 2009).
c. Kompresi dada
Teknik kompresi dada ada 2 cara yaitu:
1) Teknik ibu jari (lebih dipilih)
a) Kedua ibu jari menekan sternum, ibu jari tangan
melingkari dada dan menopang punggung
b) Lebih baik dalam megontrol kedalaman dan tekanan
konsisten
c) Lebih unggul dalam menaikan puncak sistolik dan
tekanan perfusi coroner
2) Teknik dua jari
a) Ujung jari tengah dan telunjuk/jari manis dari 1 tangan
menekan sternum, tangan lainnya menopang punggung
b) Tidak tergantung
c) Lebih mudah untuk pemberian obat

Kedalaman dan tekanan

a) Kedalaman 1/3 diameter anteroposterior dada


b) Lama penekanan lebih pendek dari lama pelepasan
curah jantung maksimum
c) Koordinasi VTP dan kompresi dada

1 siklus: 3 kompresi + 1 ventilasi (3:1) dalam 2 detik. Frekuensi:


90 kompresi + 30 ventilasi dalam 1 menit (berarti 120 kegiatan
per menit).

14
Untuk memastikan frekuensi kompresi dada dan ventilasi yang
tepat, pelaku kompresi mengucapkan satu dua tiga -
pompa-(Prambudi, 2013).
d. Intubasi Endotrakeal
1) Langkah 1: Persiapan memasukkan laringoskopi
a) Stabilkan kepala bayi dalam posisi sedikit tengadah
b) Berikan O2 aliran bebas selama prosedur
2) Langkah 2: Memasukkan laringoskopi
a) Daun laringoskopi di sebelah kanan lidah
b) Geser lidah ke sebelah kiri mulut Masukkan daun sampai
batas pangkal lidah
3) Langkah 3: Angkat daun laringoskop
a) Angkat sedikit daun laringoskop
b) Angkat seluruh daun, jangan hanya ujungnya
c) Lihat daerah farings
d) Jangan mengungkit daun
4) Langkah 4: Melihat tanda anatomis
a) Cari tanda pita suara, seperti garis vertical pada kedua sisi
glottis (huruf V terbalik)
b) Tekan krikoid agar glotis terlihat
c) Bila perlu, hisap lender untuk membantu visualisasi
5) Langkah 5: Memasukkan pipa
a) Masukkan pipa dari sebelah kanan mulut bayi dengan
lengkung pipa pada arah horizontal
b) Jika pita suara tertutup, tunggu sampai terbuka
c) Memasukkan pipa sampai garis pedoman pita suara berada di
batas pita suara
d) Batas waktu tindakan 20 detik (Jika 20 detik pita suara belum
terbuka, hentikan dan berikan VTP)
6) Langkah 6: mencabut laringoskop
a) Pegang pipa dengan kuat sambil menahan kea rah langit-
langit mulut bayi, cabut laringoskop dengan hati-hati.
b) Bila memakai stilet, tahan pipa saat mencabut stilet.

15
7. Obat-obatan dan cairan

a. Epinefrin
1) Larutan = 1 : 10.000
2) Cara = IV (pertimbangkan melalui ET bila jalur IV sedang
disiapkan)
3) Dosis : 0,1 0,3 mL/kgBB IV
4) Persiapan = larutan 1 : 10.000 dalam semprit 1 ml (semprit
lebih besar diperlukan untuk pemberian melalui pipa ET. Dosis
melalui pipa ET 0,3-1,0 mL/kg)
5) Kecepatan = secepat mungkin
Jangan memberikan dosis lebih tinggi secara IV.

b. Bikarbonat Natrium 4,2%


c. Dekstron 10%
d. Nalokson
(Prambudi, 2013).

B. Konsep Pendokumentasian SOAP


Dokumentasi dalam bidang kesehatan adalah suatu system pencatatan dan
pelaporan informasi tentang kondisi dan perkembangan kesehatan pasien dan
semua kegiatan yang dilakukan oleh petugas kesehatan (dokter, bidan, perawat
dan petugas kesehatan lainnya).
Dokumentasi asuhan kebidanan pada bayi merupakan bentuk catatan dari
hasil asuhan kebidanan yang dilaksanakan pada bayi, yakni mulai dari neonatal
anak prasekolah yang meliputi pengkajian, pembuatan diagnosis kebidanan,
pengidentifikasian masalah terhadap tindakan segera dan melakukan kolaborasi
dengan dokter atau tenaga kesehatan lain serta menyusun asuhan kebidanan
dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang dibuat sebelumnya.
SOAP adalah catatan yang bersifat sederhana, jelas, logis, dan tertulis.
Metode 4 langkah yang dinamakan SOAP ini disarikan dari proses pemikiran
penatalaksaan kebidanan. Dipakai untuk mendokumenkan asuhan pasien
dalam rekaman medis pasien sebagai catatan kemajuan. Model SOAP sering
digunakan dalam catatan perkembangan pasien. Seorang bidan hendaknya
menggunakan SOAP setiap kali dia bertemu dengan pasiennya. Selama

16
neonatus, seorang bidan bisa menulis satu catatan SOAP untuk setiap
kunjungan, sementara dalam masa neonatus seorang bidan boleh menulis lebih
dari satu catatan untuk satu pasien dalam satu hari. Bentuk penerapannya
adalah sebagai berikut (Mufdlilah, 2009).
Menurut Hellen Varney, alur berpikir saat menghadapi klien meliputi 7
langkah. Untuk orang lain mengetahui apa yang telah dilakukan oleh seorang
bidan melalui proses berfikir sistematis, didokumentasikan dalam bentuk SOAP
yaitu:
S = SUBJEKTIF
Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui
anamnesa sebagai langkah I varney.
O = OBJEKTIF
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil
laboratorium.
A = ANALISA
Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi data subjektif
dan data objektif dalam suatu identifikasi.
P = PENATALAKSANAAN
Menggambarkan pendokumentasian dari tindakan I dan evaluasi perencanaan
(E) berdasarkan Assesment ( Varney, 2007).
1. Pentingnya melakukan pendokumentasikan SOAP
a. Menciptakan catatan permanen tentang asuhan kebidanan
yang diberikan kepada pasien
b. Kemungkinan berbagai informasi diantara para pemberi
asuhan
c. Memfasilitasi pemberian asuhan yang berkesinambungan
d. Memungkinkan pengevaluasian dari asuhan yang diberikan
e. Memberikan data untuk catatan nasional, riset, dan statistic
mortalitas morbiditas
f. Meningkatakan pemberi asuhan yang lebih aman, bermutu
tinggi pada klien

2. Alasan SOAP digunakan sebagai pendokumentasian


a. Pembuatan grafik metode SOAP merupakan progesi informasi
yang systematis yang mengorganisir penemuan dan konklusi bidan
menjadi suatu rencana asuhan.

17
b. Metode ini merupakan penyulingan inti sari dari proses
penatalaksanaan kebidanan untuk tujuan penyediaan dan
pendokumentasian asuhan.
c. SOAP merupakan urutan-urutan yang dapat membantu bidan
dalam mengorganisir pikiran bidan dan memberikan asuhan yang
menyeluruh.

BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN NEONATUS PADA BAYI NY. F

18
DENGAN ASFIKSIA SEDANG DI RUANG OK
RSUD DR. R. SOEDJONO SELONG
TANGGAL 12 JUNI 2017

Tanggal/ Waktu Pengumpulan Data : Senin, 12 Juni 2017, pukul 09.55 WITA

Nomor Rekam Medik : 37-89-83

Tempat Pengumpulan Data : Ruang OK (Operative Kammer)

A. Data Subyektif (S)


1. Identitas
Identitas bayi
Nama : By. Ny. F
Umur : 0 Hari
Tanggal lahir : 12 Juni 2017. (09.55 Wita)
Identitas Orang Tua/Wali

Identitas Ibu Ayah


Nama Ny. F Tn. L
Umur 19 tahun 23 tahun
Agama Islam Islam
Suku Bangsa Sasak Sasak
Pendidikan SD SMA
Pekerjaan IRT Wiraswasta
Alamat Terara utara
SUMBER INFORMASI : REKAM MEDIS RUANG NEONATUS

2. Anamnesa
a. Keluhan Utama
Bayi F lahir dengan keadaan lemah tidak menangis spontan, denyut
jantung lemah, warna kulit pucat.
b. Riwayat Perjalanan Penyakit
Bayi kiriman dari Ruang OK IBS dengan persalinan SC pada tanggal
12-06-2017 pukul 09.55 wita dengan indikasi letak gemeli dan
oligohidrmnon, A-S : 6-7-8, JK laki-laki (), menangis(-), sesak (+),
sianosis (+), hipotermi (+). BB : 1500 gr, PB : 41 cm, LIKA : 29 cm,
LIDA : 30 cm, LILA : 8 cm, ketuban mekonium (-), Masuk ke Ruang

19
NICU pada tanggal 14-06-2016 pukul 11.50 wita dengan keluhan
riwayat asfiksia sedang.
c. Riwayat
1.) Riwayat kehamilan
Hamil ke :I
Frekuensi ANC :8 x di puskesmas Denggen
Imunisasi TT :2x
Kenaikan BB Hamil : 8 kg
Kejadian waktu hamil : Tidak ada
HPHT :20-9-2016
Usia kehamilan : 38 minggu
2.) Riwayat penyakit/kehamilan
Perdarahan : tidak ada
Pre-eklampsia/ Eklampsia : tidak ada
Penyakit kelamin : tidak ada
Penyakit lain : tidak ada
3.) Faktor Sosial
Jumlah anggota keluarga : 2 orang
Pola pengasuhan anak dalam keluarga :baik dan demokratis
Respon keluarga atas kehadiran anak :senang dengan
kelahiran anak, tetapi
khawatir karena saat ini
anaknya dirawat di rumah
sakit.
4.) Kebiasaan waktu hamil
Makanan : tidak ada
Obat-obatan/jamu : tidak ada
Merokok : tidak ada
Lain-lain : tidak ada
d. Riwayat Persalinan
Jenis persalinan : SC
Penolong : dokter
Jam/tgl/lahir : 12 Juni 2017
BB/PB :1500 gr/ 41 cm
e. Riwayat Persalinan yang lalu

Hami Uk Riwayat persalinan Masalah Anak


l
ke Tempat Penolong Jenis H P N BBL JK H/M Usia
persalinan persalinan

ini

20
f. Keadaan bayi baru lahir

Tanda Nilai APGAR Menit


0 1 2 1 5 10
Denyut Tidak <100 >100 2 2 2
jantung ada
Usaha Tidak Tidak Menangis 1 2 2
bernafas ada teratur kuat
Tonus Lumpuh Flexi Gerakan 1 1 2
otot ekstremitas aktif
minim
Reflex Tidak Bergerak Reaksi 1 1 1
ada sedikit aktif
Warna Biru Tubuh Tubuh 1 1 1
kulit pucat kemerahan, kemerahan
kaki dan
tangan biru
Jumlah 6 7 8

B. Data Obyektif (O)


1. Pemeriksaan umum
Keadaan umum : Lemah
BB : 1.500 gram
SPO2 : 88%
Tanda-tanda vital
Suhu : 36,2oc
Respirasi : 48 x/m
Denyut jantung : 153 x/m

2. Pemeriksaan fisik
a. Kepala
Fontanel mayor
1) Inspeksi
Bentuknya datar, tidak menonjol dan tidak cekung, hidrosepali (-),
mikrosepali (-).
2) Palpasi
Teraba lunak dan berdenyut, batasnya tegas.
Sutura sagitalis
1) Palpasi
Teraba rapat dan tidak terpisah/menjauh

Pada kepala

21
1) Palpasi
Tidak terdapat caput Succedaneum atau Cephal Hematoma.

b. Mata
1) Inspeksi
Bersih, bentuknya simetris, tidak terdapat sekresi seperti pus,
tidak terdapat tandatanda infeksi lain, konjungtiva tidak pucat,
tidak ada perdarahan konjungtiva, sklera tidak ikterus.
2) Palpasi
Tidak ada edema, refleks pupillary (+)
c. Hidung
1) Inspeksi
Bentuk simetris, bersih, tidak terdapat tanda-tanda infeksi,
pernapasan cuping hidung (-)
b. Mulut
1) Inspeksi
Bentuk bibir normal, warna merah, tidak ada kelainan kongenital
seperti labioskizis atau labiopalatozkizis.
c. Telinga
1) Inspeksi
Lengkung, terbentuk baik, dimana hubungan antara telinga
dengan mata dan kepala simetris, lubang telinga ada dan tidak
terdapat secret pada lubang telinga, tidak terlihat tanda-tanda
infeksi
2) Palpasi
Tulang telinga lunak.
d. Leher
1) Inspeksi
Tidak ada benjolan
2) Palpasi
Tidak ada massa atau pembengkakan
e. Dada
1) Inspeksi
Simetris, bentuk normal, areola agak menonjol, areola simetris,
tidak ada tarikan dinding dada saat bernafas.

2) Auskultasi
DJ : 153 x/menit
f. Bahu, lengan, dan tangan
1) Inspeksi
Panjang lengan simetris, gerakan aktif, jumlah jari normal, tidak
ada kelainan kongenital seperti polidaktili, sindaktili atau amelia.
2) Palpasi
Tidak ada fraktur tulang

22
g. Abdomen
1) Inspeksi
Bentuk simetris, berkontur, bergerak secara bersamaan dengan
gerakan dada saat bernafas, tidak terdapat benjolan sekitar tali
pusat pada saat menangis, tali pusat lembab, tidak ada kelainan
konginetal seperti omfalokel, gastroritis, tumor/massa
(hepatospenomegali dan tidak distensi abdomen
2) Palpasi
Perut teraba lunak/lembek (saat tidak menangis), tidak ada
tonjolan atau pembengkakan (hernia umbilikalis) dan tidak ada
cekungan (hernia diafragmatika)
h. Genetalia
1) Inspeksi
Jenis kelamin laki-laki, testis sudah turun, tidak ada kelainan,
BAK (+).
i. Anus
1) Inspeksi
Anus berlubang, Belum BAB.
j. Punggung
1) Inspeksi
Tidak terdapat pembengkakan dan cekungan pada punggung,
kelainan lain tidak ada seperti spina bifida.
k. Tungkai dan kaki
1) Inspeksi
Panjang tungkai simetris, gerakan normal, jumlah jari-jari lengkap
dan tampak normal, tidak terdapat kelainan konginetal seperti
amelia, polidaktili, sindaktili.
2) Palpasi
Kuku tidak pucat
l. Kulit
1) Inspeksi
Warna kulit kemerahan pada bagian kepala dan wajah, tanda
lahir tidak ada, sudah tidak terdapat verniks kaseosa, dan tidak
terdapat pembengkakan, tidak terdapat lanugo.
2) Palpasi
Tidak ada benjolan atau massa.
3. Pemeriksaan reflex
a) Refleks sucking dan swallowing : ada,lemah
b) Refleks moro : ada, lemah
c) Refleks palmar grafs : ada,lemah
d) Refleks galants : ada
e) Refleks walking-stapping : ada,lemah
f) Reflek babinski : ada

23
4. Penilaian Ballard score (tanggal 14 juni 2016)
Nilai ballard score keseluruhan: 32

Usia kehamilan: 38 minggu

5. Pemeriksaan Laboratorium
Tanggal 12 Juni 2016,

Jenis pemeriksaan Hasil Nilai normal Keterangan


WBC 15,7 ^3/uL 9,40-21,00 Normal
10^3/uL
RBC 4,72 ^6/uL 4,30-6,10 Normal
10^6/uL
PLT 296 103/uL 150-440 Normal
10^3/uL
HCT 48,1 % 44,0-82,0 % Normal
HGB 19,1 g/Dl 15,2-24,6 g/dL Normal

C. Analisa (A)
1. Diagnosa
Neonatus cukup bulan, kecil masa kehamilan, umur 0 hari dengan
asfiksia sedang + hipotermi
2. Masalah
Bayi mengalami kesulitan bernafas
3. Masalah potensial
a. Potensial terjadi Asfiksia berat
b. Potensial terjadi Cacat bawaan
c. Potensial terjadi Kematian
4. Kebutuhan
Pembebasan jalan nafas

D. Penatalaksanaan (P)
Tanggal 12 Juni 2017, pukul 09.55 Wita
Tempat Ruang OK
1. Menjaga kehangatan bayi dengan meletakkan bayi di bawah
radiant warmer dengan pakaian yang bersih dan kering. Kehangatan
bayi telah terjaga.
2. Melakukan pembersihan jalan nafas, jalan nafas bayi telah
dibersihkan
3. Memberikan ransangan pernafasan dengan menepuk telapak
kaki, ransangan telah diberikan dan bayi sudah mulai menangis.
4. Melakukan observasi terhadap tanda-tanda vital bayi.

24
5. Menginjeksi vitamin K 0,5 ml IM dan memberikan salep mata
(chloramphenicol)
Vitamin K dan salep mata telah diberikan
6. Memasang gelang nama
Pamasangan gelang telah dilakukan
7. Mengolaborasikan dengan ahli medis

CATATAN PERKEMBANGAN

Hari/ tanggal/ jam Hasil Pemeriksaan, analisis, penatalaksanaan


Senin, 12 Juni 2017, S: -
pukul 10.00 wita O: BB: 1.500 gram, PB: 41 cm, LK: 29 cm, LD 30 cm,
LL: 8 cm. suhu: 36,2oc, RR: 48 x/m, DJ: 15 x/m. SPO2 :
88%
A: Asfiksia+ Hipotermi
P: melakukan manajemen Airway, Jaga kehangatan
bayi, rawat bayi dalam radiant warmer, observasi
tanda-tanda vital, dan memasang O2 (1 lpm)
Senin, 12 Juni 2017, S: -
O: k/u lemah, terpasang infus + O 2, suhu 36,5 oc, RR:
pukul 12.00 wita
40x/m
A: masalah belum teratasi
P: Intervensi Lanjut
Coba pemberian asi/ dot
Observasi O2 dan rawat bayi dalam inkubator
Senin, 12 Juni 2017, S: bayi masih Nampak sesak
O: k/u lemah, terpasang infus + O 2, suhu 36,5oc, RR:
pukul 18.00 wita
44x/m
A: masalah belum teratasi
P: observasi keadaan umum bayi
Observasi pemasangan infus + O2
Pemberian ASI / dot
Senin, 13 Juni 2017, S: bayi Nampak cukup membaik
O: k/u lemah, terpasang infus + O 2, suhu 36,5 oc, RR:
pukul 08.00 wita
42 x/m
N: 123 x/m, Spo2: 100 %, BB : 1500 GR
A: masalah belum teratasi
P: Intervensi Lanjut
Selasa, 13 Juni 2017, S: -
O: k/u lemah, terpasang infus, suhu 36,9 oc
pukul 12.00 wita
A: Masalah belum teratasi

25
P: Intervensi Lanjut
-Obeservasi keadaan umum
-Observasi pemberian 02
-Observasi tetesan infus
-merawat tali pusat
-mengganti popok yang basah
Selasa, 13 Juni 2017, S: -
O: k/u lemah, terpasang infus, suhu 36,9 oc
pukul 15.00 wita
A: Masalah belum teratasi
P: Intervensi Lanjut
-tetap Obeservasi keadaan umum
-tetap Observasi pemberian 02
-tetap Observasi tetesan infus
-mengganti popok yang basah
-Tetap observasi TTV

BAB IV

PEMBAHASAN

Asfiksia Neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas


spontan dan teratur, sehingga dapat menurunkan O2 dan makin meningkatkan
CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut (Manuaba,
1998 : 319).

26
Pembahasan merupakan analisa dalam meninjau antara kesenjangan
dengan teori yang ada dengan tinjauan kasus, pada tanggal 12 Juni 2017
dilakukan pengkajian pada bayi Ny F dengan asfiksia sedang. Pengkajian ini
sesuai prosedur, namun ada beberapa kesenjangan antara teori dengan
praktiknya.
Dalam pengkajian bayi Ny F didapatkan data subyektif yaitu ibu
mengatakan melahirkan anak pertamanya dengan seksio caesarian ditolong
oleh dokter dengan jenis kelamin laki-laki, berat badan 1500 gram dan panjang
badan 41 cm.
Hal yang dialami bayi Ny F bersifat patologis karena dapat memberikan
efek yang buruk bagi bayi, oleh karena itu bayi Ny F membutuhkan perawatan
dan pemantauan agar tidak terjadi komplikasi.
Berdasarkan pengkajian bayi Ny F mengalami masalah potensial yaitu
terjadi hipotermi, Hipoglikemia, maka intervensi yang diberikan pada bayi Ny K
adalah menjaga suhu tubuh bayi agar tetap hangat dengan radiant warmer dan
pemberian nutrisi melalui cairan infus.
Kemudian, pada penatalaksanaan yang ada pada teori terdapat langkah
menggunakan sepatu boot, kaca mata dan sudah tersedia bengkok tetapi pada
penatalaksanaan di atas belum dilakukan, sehingga menimbulkan kesenjangan
antara teori dan praktik. Untuk itu pada bayi Ny F masih membutuhkan
perawatan dan pengawasan karena bayi yang lahir dengan asfiksia sedang
rentan mengalami komplikasi.

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Pengumpulan data subyektif dengan benar pada bayi Ny. F tentang
Asuhan Kebidanan Neonatus Dengan Asfiksia Sedang Di Ruang Ok Rsud
Dr. R. Soedjono Selong

27
2. Pengumpulan data obyektif dengan benar pada bayi Ny. F tentang
Asuhan Kebidanan Neonatus Dengan Asfiksia Sedang Di Ruang Ok Rsud
Dr. R. Soedjono Selong
3. Menentukan diagnose dengan benar pada bayi Ny. F tentang Asuhan
Kebidanan Neonatus Dengan Asfiksia Sedang Di Ruang Ok Rsud Dr. R.
Soedjono Selong
4. Melaksanakan tindakan asuhan kebidanan pada bayi Ny.F tentang
Asuhan Kebidanan Neonatus Dengan Asfiksia Sedang Di Ruang Ok Rsud
Dr. R. Soedjono Selong
B. Saran
1. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan dengan penyusunan laporan ini dapat menjadi acuan dalam
sumber teori asuhan kebidanan pada bayi baru lahir patologis serta
mengenai kendala atau masalah masalah kesehatan yang terjadi di
masyarakat, khususnya kendala atau masalah yang terkait dengan
kebidanan, sehingga institusi pendidikan dapat meningkatkan mutu dan
kualitas peserta didik.
2. Bagi Institusi Pelayanan (RSUD dr. R. Soedjono Selong)
Diharapkan tetap menerapkan manajemen kebidanan dalam memberikan
asuhan kebidanan pada bayi baru lahir patologis sehingga dapat lebih
meningkatkan mutu pelayanan yang akan memberikan dampak untuk
menurunkan angka kematian dan kesakitan ibu serta bayi.
3. Bagi Mahasiswa
Untuk lebih dapat belajar menerapkan langsung pada masyarakat di
lapangan mengenai perkembangan ilmu pengetahuan (asuhan kebidanan
pada bayi baru lahir) yang diperolehnya di dalam kelas sehingga nantinya
pada saat bekerja di lapangan dapat dilakukan secara sistematis yang pada
akhirnya meningkatkan mutu pelayanan yang akan memberikan dampak
menurunkan angka kematian ibu dan bayi.
4. Bagi Masyarakat
a. Untuk dapat membina hubungan baik dengan tenaga kesehatan dan
fasilitas kesehatan yang ada, serta tetap pro-aktif terhadap tindakan atau
asuhan kebidanan yang diberikan.
b. Untuk dapat menambah pengetahuan klien khususnya dan
masyarakat pada umumnya dalam perawatan bayi baru lahir
c. Bagi klien atau masyarakat dapat mengenali tanda tanda bahaya
dan resiko terhadap bayi baru lahir.

28
d. Bagi klien khususnya dan masyarakat pada umumnya dapat
menolong dirinya sendiri dalam mengenali tanda bahaya pada bayi baru
lahir.

29