Vous êtes sur la page 1sur 28

4

BAB 2

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori


2.1.1 Proses Konversi Energi
Dalam Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), energi primer
yang dikonversikan menjadi energi listrik adalah bahan bakar. Bahan
bakar yang digunakan dapat berupa batubara (padat), minyak (cair),
atau gas. Ada kalanya PLTU menggunakan kombinasi beberapa bahan
bakar.
Konversi energi tingkat pertama yang berlangsung dalam PLTU
adalah konversi energi primer menjadi energi panas atau kalor. Hal ini
dilakukan dalam ruang bakar dari ketel uap PLTU. Energi panas ini
kemudian dipindahkan ke dalam air yang ada dalam pipa ketel untuk
menghasilkan uap yang dikumpulkan dalam drum dari ketel.
Selanjutnya uap dari drum ketel dialirkan ke turbin uap. Dalam
turbin uap, energi uap dikonversikan menjadi energi mekanis
penggerak generator, dan akhirnya energi mekanik dari turbin uap
dikonversikan menjadi energi listrik oleh generator. Secara skematis,
proses diatas digambarkan oleh gambar 2.1.
5

Sumber : Djiteng Marsudi, 2005


Gambar 2.1 Prinsip Kerja PLTU
Gambar 2.1 menggambarkan siklus uap dan air yang berlangsung
dalam PLTU, yang dayanya relatif besar di atas 200 MW. Untuk PLTU
ukuran ini umumnya memiliki pemanas ulang dan pemanas awal serta
memiliki 3 turbin tekanan tinggi, turbin tekanan menengah dan turbin
tekanan rendah.
Air dipompakan ke dalam drum dan selanjutnya mengalir ke
pipa-pipa air yang merupakan dinding yang mengelilingi ruang bakar
ketel. Ke dalam ruang bakar ketel disemprotkan bahan bakar dan
udara pembakaran. Bahan bakar yang dicampur dengan udara ini
dinyalakan dalam ruang bakar sehingga terjadi pembakaran dalam
ruang bakar. Pembakaran bahan bakar dalam ruang bakar mengubah
energi kimia yang terkandung dalam bahan bakar menjadi energi panas
(kalor). Energi panas hasil pembakaran ini dipindahkan ke air yang ada
dalam pipa air ketel melalui proses radiasi, konduksi dan konveksi.
Untuk setiap bahan bakar, komposisi perpindahan panas berbeda.
Misalnya bahan bakar minyak paling banyak memindahkan kalori
hasil pembakaran melalui radiasi dibanding dengan bahan bakar
lainnya. Untuk melaksanakan pembakaran diperlukan oksigen yang
diambil dari udara. Oleh karena itu diperlukan pasokan udara yang
cukup ke ruang bakar. Untuk keperluan memasok udara keruang bakar,
digunakan kipas tekan dan kipas isap yang dipasang masing-masing
pada ujung masuk udara ke ruang bakar dan pada ujung keluar udara
dari ruang bakar.
Gas hasil pembakaran dari ruang bakar setelah memindahkan
energi panasnya ke air yang ada didalam pipa air ketel, dialirkan
melalui saluran pembuangan gas buang (flue gas) untuk selanjutnya
dibuang ke udara melalui cerobong. Gas sisa pembakaran ini masih
6

mengandung banyak energi panas karena tidak tidak semua energi


panas dapat dipindahkan ke dalam air yang ada di dalam pipa air ketel.
Gas buang yang masih mempunyai suhu diatas 400oC ini dimanfaatkan
untuk memanasi :
2.1.1.1. Pemanas Lanjut (Super Heater)
Di dalam pemanas lanjut mengalir uap dari drum ketel yang
menuju ke turbin uap tekanan tinggi. Uap yang mengalir ke
pemanas lanjut ini mengalami kenaikan suhu sehingga uap air
ini semakin kering, oleh karena adanya gas buang di sekeliling
pemanas lanjut.
2.1.1.2. Pemanas Ulang (Reheater)
Uap yang telah digunakan untuk menggerakkan turbin
tekanan tinggi, sebelum menuju turbin tekanan menengah
dialirkan kembali melalui pipa yang dikelilingi oleh gas buang.
Di sini uap akan mengalami kenaikan suhu yang serupa
dengan pemanas lanjut.
2.1.1.3. Economizer
Air yang dipompakan ke dalam ketel, terlebih dahulu
dipompakan melalui economizer agar mendapat pemanasan
oleh gas buang. Dengan demikian suhu air akan lebih tinggi
ketika masuk ke pipa air di dalam ruang bakar yang
selanjutnya akan mengurangi jumlah kalori yang diperlukan
untuk penguapan.
2.1.1.4. Pemanas Udara (Air Preheater)
Udara yang akan dialirkan ke ruang pembakaran yang
digunakan untuk membakar bahan bakar terlebih dahulu
dialirkan melalui pemanas udara agar mendapatkan
pemanasan oleh gas buang, sehingga suhu udara
pembakaran naik yang selanjutnya mempertinggi suhu
nyala pembakaran.

Dengan menempatkan alat-alat tersebut di atas saluran gas


buang, maka energi panas yang masih terkandung dalam gas buang
dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin. Energi panas yang timbul
7

dalam ruang pembakaran sebagai hasil pembakaran, setelah


dipindahkan ke dalam air yang ada dalam pipa air ketel, akan
menaikkan suhu air dan menghasilkan uap. Uap ini dikumpulkan
dalam drum ketel. Uap yang terkumpul dalam drum ketel mempunyai
tekanan yang tinggi dimana bisa mencapai sekitar 100 kg/cm 2 dan
suhu 530oC. Drum ketel berisi air di bagian bawah dan uap yang
mengandung entalphy di bagian atas.
Uap dari drum ketel dialirkan ke turbin uap, dan dalam turbin uap
energi dari uap dikonversikan menjadi energi mekanis penggerak
generator. Turbin pada PLTU diatas 150 MW, umumnya terdiri dari 3
kelompok, yaitu turbin tekanan tinggi, turbin tekanan menengah dan
turbin tekanan rendah. Uap dari drum ketel mula-mula dialirkan ke
turbin tekanan tinggi dengan terlebih dahulu melalui pemanas lanjut
agar uapnya menjadi kering.
Setelah keluar dari turbin tekanan tinggi, uap dialirkan ke
pemanas ulang untuk menerima energi panas dari gas buang sehingga
suhunya naik. Dari pemanas ulang, uap dialirkan ke turbin tekanan
menengah. Keluar dari turbin tekanan menengah, uap langsung
dialirkan ke turbin tekanan rendah. Turbin tekanan rendah umumnya
merupakan turbin dengan aliran yang berlawanan untuk mengurangi
gaya aksial turbin.
Dari turbin tekanan rendah, uap dialirkan ke kondensor untuk
diembunkan. Kondensor memerlukan air pendingin untuk
mengembunkan uap yang keluar dari turbin tekan rendah. Oleh karena
itu, banyak PLTU dibangun di pantai karena dapat menggunakan air
laut sebagai air pendingin kondensor dalam jumlah yang besar.
Di pihak lain, penggunaan air laut sebagai air pendingin menimbulkan
masalah-masalah sebagai berikut :
1. Material yang dialiri air harus material anti korosi.
2. Binatang laut ikut masuk dan berkembang biak dalam saluran air
pendingin yang memerlukan pembersih secara periodik.
8

3. Selain binatang laut, kotoran air laut juga akan ikut masuk dan
menyumbat pipa-pipa kondensor sehingga diperlukan
pembersihan pipa kondensor secara periodik.
4. Ada resiko air laut masuk ke dalam sirkuit uap.

Setelah air diembunkan dalam kondensor, air kemudian dipompa


ke tangki pengolah air. Dalam tangki pengolah air, ada penambahan
air untuk mengkompensasi kehilangan air yang terjadi karena
kebocoran. Dalam tangki pengolahan air, air diolah agar memenuhi
mutu yang diinginkan untuk air ketel. Mutu air ketel diantara lain
menyangkut kandungan NaCl, Cl, O2 dan derajat keasaman (pH). Dari
tangki pengolah air, air dipompa kembali terlebih dahulu ke
economizer. Dalam economizer, air mengambil energi panas dari gas
buang sehingga suhunya naik, kemudian mengalir ke ketel uap
(Djiteng Marsudi: 2005).

2.1.2. Siklus Udara Pembakaran dan Gas Buang


Sistem udara pembakaran dan gas buang adalah sebuah sistem
yang menangani pasokan udara untuk kebutuhan pembakaran pada
boiler dan juga menangani gas sisa pembakaran yang dihasilkan oleh
pembakaran pada boiler agar tidak mencemari lingkungan. Sistem
udara pembakaran dan gas buang harus berjalan dengan baik karena
bahan bakar yang digunakan pada PLTU Pangkalan Susu adalah
bahan bakar batu bara yang mana tingkat pencemarannya cukup
tinggi. Skema sistem udara pembakaran dan gas buang terdapat pada
gambar 2.2.
9

(Sumber : PLTU Pangkalan Susu)


Gambar 2.2 Sistem udara pembakaran dan gas buang PLTU

Sistem udara pembakaran dimulai dari penghisapan udara dari


atmosfer menggunakan fan, lalu dialirkan menuju ke boiler, sebelum
masuk ke dalam boiler udara terlebih dahulu dipanaskan dengan alat
penukar kalor atau yang biasa disebut dengan air preheater.
Pemanasan tersebut memanfaatkan panas yang ada pada gas buang
hasil pembakaran. Pemanfaatan panas itu juga berguna untuk
meningkatkan efisiensi boiler.
Udara yang digunakan dalam sistem udara pembakaran dibagi
menjadi dua, yaitu udara primer dan sekunder. Perbandingan antara
udara primer dan sekunder untuk suplai udara pembakaran adalah 30%
udara primer dan 70% udara sekunder. Udara primer didapat dari udara
atmosfer yang dihisap oleh primary air fan (PA Fan) setelah
sebelumnya melalui filter udara. Udara ini kemudian dipanaskan pada
primary air preheater dengan memanfaatkan gas panas setelah
melewati reheater dan economizer agar udara yang masuk pada boiler
sudah mempunyai suhu yang cukup tinggi dan dapat meningkatkan
efisiensi boiler. Udara ini kemudian disalurkan ke penggiling batubara
(mill pulverizer). Udara panas ini akan memanaskan batubara, lalu
akan membawa batubara yang sudah dihancurkan menjadi serbuk
sebesar 200 mesh menuju ke burner pada boiler.
Udara sekunder dihisap dengan kipas tekan paksa (Forced Draft
Fan) setelah sebelumnya melalui filter udara. Setelah melewati FD
Fan, udara sekunder kemudian menuju ke air preheater untuk
dipanaskan lagi dengan memanfaatkan gas pembakaran setelah
melewati reheater dan economizer. Tujuan pemanasan ini adalah udara
dibuat cukup panas (kurang lebih 350oC) sehingga memudahkan
10

proses pembakaran. Dari pemanas ini udara sekunder dialirkan ke


wind box yang dihubungkan ke lubang udara pembakaran pada burner.
Fungsi udara ini selain sebagai pensuplai udara pembakaran juga
sebagai pendingin bagian-bagian pembakar (firing system) agar tidak
rusak karena panas radiasi yang disebabkan oleh panas pancaran api.
Proses pembakaran akan terjadi di dalam boiler karena
pencampuran antara bahan bakar (bisa HSD ataupun batu bara), udara
pembakaran, serta sumber panas. Gas hasil pembakaran inilah yang
digunakan untuk memanaskan air umpan sampai menjadi uap dengan
suhu dan tekanan tinggi. Setelah digunakan untuk proses pemanasan
air, gas hasil pembakaran tidak serta merta dibuang ke atmosfir. Gas
sisa hasil pembakaran ini akan melalui sistem gas buang terlebih
dahulu agar gas sisa pembakaran tetap aman bagi lingkungan.
Sistem gas buang adalah sistem yang menangani segala
komponen udara hasil pembakaran dari furnace ke atmosfer dan
sekaligus menjaga agar sisa pembakaran PLTU tidak menyebabkan
polusi berlebihan kepada lingkungan. Gas buang dari sisa pembakaran
di dalam furnace akan dimanfaatkan panasnya untuk memanaskan
superheater, reheater, economizer, dan air preheater. Udara yang
keluar dari economizer akan keluar menuju ke air preheater sebelum
masuk ke ESP (Electrostatic Precipitator). Di ESP udara disaring
debunya sebelum keluar di udara bebas. Dari ESP udara dihisap oleh
IDF untuk selanjutnya akan disalurkan ke cerobong, (Aditya
Mahendra: 2015).

2.1.3. Air Preheater (Pemanas Udara)


Air preheater adalah salah satu alat penukar panas. Alat penukar
panas adalah alat yang menghasilkan perpindahan panas dari satu fluida
ke fluida lainnya. Fluida panas memberikan panasnya ke fluida dingin
melalui suatu media atau secara langsung sehingga akan terjadi
perubahan sesuai dengan yang dikehendaki, baik penurunan maupun
kenaikan temperatur. Air preheater pada PLTU digunakan untuk
11

memanaskan udara pembakaran dan meningkatkan efesiensi proses


pembakaran.
Prinsipnya, flue gas adalah sumber energi dan air preheater
berfungsi sebagai perangkap panas untuk mengumpulkan energi dari
flue gas dan memindahkannya ke udara yang akan digunakan untuk
pembakaran dalam boiler. Hal ini dapat meningkatkan efisiensi boiler
secara keseluruhan efisiensi yang dihasilkan 5 sampai 10%. Unit ini
biasanya difungsikan untuk mengontrol temperatur udara yang akan
masuk kedalam boiler. Air preheater terletak dibawah economizer,
seperti yang digambarkan dalam Gambar 2.2 di mana air preheater
menerima flue gas dari economizer dan udara dingin dari forced draft
fan dan primary air fan.
Udara panas yang dihasilkan oleh air preheater meningkatkan
pembakaran bahan bakar dan membawa batubara menuju burner untuk
dibakar dari pulverizer. Air preheater memiliki beberapa jenis atau
macam yang biasa digunakan di peralatan-peralatan industri. Jenis-jenis
ini dibedakan karena memang beberapa industri memiliki tujuan dan
rancangan berbeda dalam memilih jenis air preheater. Adapun jenis air
preheater yaitu:

2.1.3.1. Recuperatif Air Heater


Pada recuperatif heat exchanger, panas dipindahkan secara
terus menerus dan langsung melalui stasioner, permukaan
perpindahan panas yang padat memisahkan aliran panas dari
aliran yang dingin. Pada recuperatif heat exchanger biasanya
pada permukaan perpindahan panas berbentuk tabung dan plat
paralel. Berikut jenis recuperatif air heater:
2.1.4.1.1 Tubular Air Heater
Tubular air heater memiliki ciri-ciri yaitu energi
yang ditransfer dari panas flue gas mengalir tabung
menaik di dalam tabung yang berdinding tipis dan
didinginkan oleh udara yang berada diluar tabung
sehingga temperatur udara yang berada di luar.
12

Tubular air heater seperti tertampil pada gambar


2.3. memiliki ciri-ciri yaitu unit tersusun dari
tumpukan tabung berbentuk lurus yang menggulung
atau di las kedalam lapisan tabung dan tertutup dalam
casing baja. Casing berfungsi sebagai penutup udara
atau gas dan memiliki lubang masuk dan lubang
keluar udara dan gas.

(Sumber : Djokosetyaardjo, 2003)


Gambar 2.3 Tubular air heater

Material pada tubular air heater biasanya adalah


baja karbon atau material tabung logam tahan korosi
yang digunakan dalam tabung dengan diameter yang
berkisar 1,5-4 inci (38-102 mm) dan memiliki
ketebalan dinding 1.24 - 3,05 mm.

Tubular air heaters dilengkapi dengan uap atau


udara sootblowers untuk menghilangkan akumulasi
debu dari bagian pipa gas yang terbuka selama
operasi. Pengaturan aliran yang paling umum adalah
counter flow yaitu gas naik secara vertical melalui
tabung dan udara mengalir secara horizontal dalam
satu atau lebih jalur di luar tabung. Satu variasi dari
13

pengaturan jalur gas udara tunggal dan ganda


digunakan untuk mengakomodasi tata ruang
pembangkit. Desain biasanya mencakup perlengkapan
resirkulasi pada udara dingin atau udara panas untuk
mengontrol korosi dan pencemaran debu.

2.1.4.1.2 Plate Air Heater

Plate air heater memindahkan panas dari aliran


gas panas yang berada di salah satu sisi plat ke aliran
udara dingin di sisi yang berlawanan, biasanya dalam
aliran silang dan juga elemen pemanas terdiri dari
tumpukan pelat paralel. Plate air heaters adalah
beberapa jenis pertama yang digunakan, tetapi
penggunaannya menurun karena masalah seal plate.
Plate air heater tertambil pada gambar 2.4.

(Sumber : Djokoseryardjo, 2003)

Gambar 2.4 Plate Air Heater


14

2.1.4.2 Steam Coil Air Heater

Steam coil and water coil re-cuperative air heater adalah


pemanas udara yang secara luas digunakan dalam utilitas
pembangkit uap untuk memanaskan udara pembakaran. Udara
pemanasan mengurangi potensi korosi dan penyumbatan pada
cold end dalam air heater utama. Pemanas ini terdiri dari
tumpukan tumpukan diameter kecil tabung bersirip eksternal
yang diatur horizontal atau vertikal di pipa antara combustion
air fan dan air heater utama. Udara pembakaran yang melewati
aliran silang di luar tabung, dipanaskan oleh uap ekstraksi turbin
atau feedwater yang mengalir di dalam tabung. Glikol etilena
terkadang digunakan sebagai fluida panas untuk mencegah
kerusakan.

2.1.4.3 Regeneratif Air Heater

Regeneratif air heater mentransfer panas secara tidak


langsung dengan konveksi sebagai media penyimpanan panas
secara berkala untuk bagian panas dan dingin oleh putaran atau
pergantian katup. Pada pembangkit listrik tenaga uap, rangkaian
lempengan besi bergelombang yang rapat berfungsi sebagai
media penyimpanan. Dalam unit ini baik pelat baja atau elemen
permukaan berputar melalui udara dan aliran gas atau berputar
melalui saluran udara langsung dan uap gas melalui elemen
permukaan statis.

Regeneratif air heater relatif padat dan merupakan jenis yang


paling banyak digunakan untuk pemanasan udara pembakaran
pada pembangkit listrik tenaga uap. Karakteristiknya operasi
yang paling signifikan yaitu kebocoran udara ke dalam aliran
gas dikarenakan operasi putaran.
15

2.1.4.4 Ljungstrom Air Heater

Ljungstrom Air Heater adalah yang paling umum pada tipe


regeneratif yang dilengkapi dengan shell silinder ditambah rotor
dengan rangkaian elemen pemanasan yang diputar dan dilalui
udara primer dan sekunder yang berlawanan dengan aliran gas.
Rotor ini dibatasi oleh penempatan tetap yang memiliki saluran
pada kedua ujungnya. Udara mengalir melalui setengah dari
rotor dan aliran gas melalui setengah lainnya. Seal digunakan
untuk meminimalisir kebocoran gas. Bantalan di atas dan bawah
penyusunan penyangga menopang dan mengantar rotor pada
pusat poros. Kecepatan rotor pada tipe Ljungstrom yaitu satu
sampai tiga rpm. Desain poros baik vertikal maupun horisontal
digunakan untuk mengakomodir berbagai udara pembangkit dan
aliran gas. Desain poros vertikal lebih umum dipakai pada tipe
Ljungstrom air heater.

Pengaturan aliran yang paling umum adalah aliran counter


flow yaitu gas panas yang memasuki bagian atas rotor dan udara
dingin memasuki bagian bawah rotor. Pemanas yang
menggunakan skema aliran ini diidentifikasi sebagai hot end on
top dan cold end on bottom. Dalam pengoperasiannya, rotor
terkena suhu yang berbeda, panas pada bagian atas dan dingin
pada permukaan bawah, sehingga menyebabkan rotor melentur
(atau mengubah bentuk) ke atas. Perubahan bentuk rotor ini
membuka celah antara rotor itu sendiri yang menyebabkan
kebocoran terjadi antara bagian udara ke sisi gas.

Perangkat sootblowing di outlet gas juga harus digunakan


untuk mengarahkan superheated steam atau udara kering
melalui nozzles ke dalam elemen-elemen pemanasan permukaan
16

rotor. Perangkat sootblow ini digunakan agar secara berkala


dapat membersihkan rotor dari akumulasi residu bahan bakar
selama operasi. Selain harus ada perangkat sootblow harus
dipasang juga seal-seal untuk mencegah kebocoran sehingga
dapat bercampur antara udara dan gas buang. Berikut gambar
2.5 mengenai Ljungstrom air heater.

(Sumber: Djokosetyardjo, 2003)


Gambar 2.5 Ljungstrom Air Heater

Dibawah ini juga terdapat komponen utama penyusun


Ljungstrom Air Heater yang ditunjukkan oleh gambar 2.6 serta
skema Ljungstrom Air Heater pada gambar 2.7.
17

(Sumber: Djokosetyardjo, 2003)


Gambar 2.6. Komponen utama Ljungstrom Air Heater
18

(Sumber: Djokosetyardjo, 2003)

Gambar 2.7 Skema Pemanas Udara Ljungstrom

2.1.4. Udara Pembakaran

Seperti diketahui bahwa proses pembakaran memerlukan oksigen


yang diambil dari udara. Udara yang dialirkan ke dalam ketel untuk
memenuhi kebutuhan agar terbentuk reaksi pembakaran disebut udara
pembakaran. Berikut sifat-sifat udara disajikan dalam tabel 2.1.

Tabel 2.1. Sifat-sifat Udara

Sifat Nilai
o
Densitas pada 0 C 1292,8 kg/m3
Temperatur kritis -140,7 0C
Tekanan kritis 37,2 atm
Densitas kritis 350 kg/m3
Panas jenis pada 10000C,281,650K
0,28 kal/gr 0C
dan 0,89876 bar
Faktor kompresibilitas 1000
Berat molekul 28,964
Viskositas 1,76 E-5 poise
Koefisien perpindahan panas 1,76 E-5 W/m.K
Sumber: Anonim, 2011

Sifat kimia udara adalah sebagai berikut :

a. Mempunyai sifat yang tidak mudah terbakar, tetapi dapat


membantu proses pembakaran.
19

b. Terdiri dari 79% mol N2 dan 21% mol O2 dan larut dalam air.

Berdasarkan fungsinya, udara pembakaran dapat dibedakan


menjadi tiga macam yaitu:

1. Udara Primer (Primary Air)

Udara primer merupakan udara yang memiliki fungsi utama


untuk membawa batubara dari mill ke burner. Selain itu, udara
primer juga berfungsi untuk mengeringkan batubara serta
memanaskan batubara bubuk sampai temperatur tertentu. Karena
itu tiga tugasnya adalah :

1.1. Membawa batubara

1.2. Mengeringkan batubara

1.3. Menyediakan oksigen untuk pembakaran sampai sekitar 30 %


dari udara pembakaran total.

2. Udara Sekunder (Secondary Air)

Udara sekunder adalah udara yang dimasukkan keruang bakar


melalui winbox yang ada di sekeliling ruang bakar. Fungsi
utamanya adalah untuk memenuhi kebutuhan oksigen yang
diperlukan bagi proses pembakaran. Agar diperoleh percampuran
yang baik antara bahan bakar dengan udara, maka aliran udara
sekunder dibuat berputar (turbulensi). Karena itu fungsi udara
sekunder adalah :

2.1. Menciptakan turbulensi

2.2. Menyediakan oksigen untuk pembakaran

2.3. Kira kira 70 % dari udara pembakaran total adalah udara


sekunder air.
20

3. Udara Tersier (Tertiary Air)

Pada beberapa desain boiler, udara sekunder dibagi lagi.


Apabila turbulensi ekstra diperlukan maka suatu proporsi udara
sekunder yang disebut udara tersier, digunakan untuk diberikan
pada sudut yang tajam atau bahkan sudut tegak lurus, terhadap
nyala pembakaran. Penambahan udara tersier ini menyebabkan
turbulensi agresif lebih lanjut. Karena itu tugasnya adalah sama
dengan tugas lain yaitu mengontrol nyala api atau sebagai
pengatur posisi nyala api.

Aliran campuran bahan bakar/udara primer harus dipusatkan


ketika melalui burner. Turbulensi berikutnya diperoleh ketika
campuran berkontak dengan udara sekunder. Udara sekunder atau
udara sekunder yang bercampur udara tersier, mencapai jumlah
antara 70 dan 77% total udara untuk pembakaran.

2.1.5. Gas Buang

Bahan bakar yang digunakan pada pembangkit thermal adalah


jenis bahan bakar padat, cair, dan gas. Untuk bahan bakar padat
(batubara) sedangkan untuk bahan bakar cair/residu/heavy oil
diperlukan peralatan bantu yaitu mill dan pemanas sebelum bahan
bakar dimasukkan keruang bakar. Batubara dibuat menjadi serbuk
dengan menggunakan mill. Selanjutnya batubara disemburkan
dengan udara pembakar masuk keruang bakar sehingga terjadi
proses pembakaran.

Pada proses pembakaran akan dihasilkan gas buang. Gas


buang atau hasil pembakaran berupa CO (Karbon monoksida), gas
O2 (Oksigen), gas CO2 (Karbon dioksida) dan asam.

1. Gas CO (Karbon monoksida)


21

Gas CO dihasilkan dari pembakaran Carbon dimana


pembakaran berlanjut secara tidak sempurna.

Reaksi kimia.:

C + CO2 CO (+ 10.120 KJ/Kg)


Karbon Karbon dioksida Karbon monoksida
Panas dihasilkan sekitar 10.120 KJ/Kg, sehingga ada kerugian
panas yang dibawa oleh gas buang ke cerobong.

2. Gas O2 (Oksigen)

Gas O2 pada gas buang menunjukkan adanya excess air (udara


bersih) pada proses pembakaran. Kandungan O2 pada gas buang
dapat digunakan untuk menentukan kesempurnaan dari
pembakaran dan efesiensi dari proses pembakaran.

3. Gas CO2 (Karbon dioksida)

Gas CO2 dihasilkan dari pembakaran karbon, dimana


pembakaran berlangsung secara sempurna.

Reaksi kimia:

C + O2 CO2 (+ 33.820 KJ/Kg)


Karbon Oksigen Karbon dioksida
Panas yang dihasilkan sekitar 33.820 KJ/Kg. Panas yang
dihasilkan tiga kali pembakaran yang menghasilkan gas CO2.

4. Asam

Terbentuknya zat asam pada proses pembakaran tidak dapat kita


harapkan terbentuknya zat asam tersebut berasal dari
pembakaran sulfur (belerang).

Reaksi kimia:
22

S + O2 SO2
Sulfur Oksigen Sulfur dioksida

Dalam proses pembakaran ketel, selalu diberikan udara lebih.


Dengan demikian maka juga terdapat Oksigen lebih. Selanjutnya bila
gas sulfur dioksida ini bertemu dengan oksigen yang berasal dari
udara lebih, maka akan terjadi reaksi.

2 SO2 + O2 2 SO3
Sulfur dioksida Oksigen Sulfur trioksida

Hasil pembakaran hidrogen adalah 2H + O 2 2H2O. Selain itu


dalam gas sisa pembakaran juga terdapat air yang berasal dari udara
pembakaran maupun dari bahan bakar. Apabila H2O ini bertemu
dengan SO3 akan terjadi reaksi :

SO3 + H2O H2SO4 (Asam sulfat)


Sulfur trioksida Air Asam Sulfat

Asam sulfat ini bersifat sangat korosif terhadap logam sehingga


sering dijumpai terjadinya korosi pada saluran gas asap pada daerah
yang temperaturnya cukup rendah dimana terjadi pengembunan
H2SO4. Kerusakan ini terutama sering dijumpai pada elemen sisi
dingin. Selain itu, bila terbuang ke atmosfir melalui cerobong akan
dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan serta hujan asam yang
dapat membunuh tanaman.

Gas sisa pembakaran/ gas buang di unit PLTU sebelum dibuang


ke atmosfir dimanfaatkan untuk pemanas lanjut (super heater),
pemanas awal air pengisi (economizer) dan pemanas udara
pembakaran (air preheater). Untuk menghindarkan terjadinya polusi
gas buang di saluran gas buang dipasang dust colecctor dan
precipicator yang berguna sebagai penangkap abu terbang.
23

2.1.6. Perpindahan Panas


Perpindahan kalor atau alih bahang (heat transfer) ialah ilmu untuk
meramalkan perpindahan energi yang terjadi karena adanya perbedaan
suhu diantara benda atau material. Energi yang pindah itu dinamakan
kalor atau panas. Ilmu perpindahan kalor tidak hanya mencoba
menjelaskan bagaimana perpindahan kalor itu berpindah dari satu
benda ke benda yang lain, tetapi juga dapat meramalkan laju
perpindahan yang terjadi pada kondisi-kondisi tertentu (J. P Holman,
1993).
Panas yang dihasilkan karena pembakaran bahan bakar dan udara,
yang berupa api (yang menyala) dan gas asap (yang tidak menyala)
dipindahkan kepada air, uap ataupun udara, melalui bidang yang
dipanaskan atau heating Surface. Ada 3 jenis perpindahan panas, yaitu:

2.1.6.1. Perpindahan Panas dengan Cara Radiasi (Pancaran)


Perpindahan panas dengan cara radiasi adalah perpindahan
panas antara suatu benda ke benda yang lain dengan jalan
melalui gelombang-gelombang elektromagnetis tanpa
tergantung pada ada atau tidaknya media atau zat diantara
benda yang menerima pancaran gas tersebut.
Pemindahan panas secara pancaran dapat dibayangkan
berlangsung melalui media berupa Aether yaitu suatu jenis
materi bayangan tanpa bobot yang mengisi sela-sela ruangan
diantara molekul-molekul dari suatu zat tertentu, ataupun
didalam ruang hampa sekalipun. Molekul-molekul api yang
merupakan hasil pembakaran bahan bakar dan udara akan
menyebabkan terjadinya gangguan keseimbangan
elektromagnetis terhadap Aether tersebut.
Sebagian dari panas atau energi yang timbul dari hasil
pembakaran tersebut, diserahkan kepada Aether, dan yang
24

akan menyerahkannya lebih lanjut melalui gelombang-


gelombang elektromagnetik kepada benda atau bidang yang
akan dipanasi. Penyerahan panas dari api atau gas asap melelui
Aether kepada bidang yang akan dipanasi tersebut melalui
gelombang-gelombang elektromagnetik yang lintasannya
lurus seperti halnya lintasan sinar. Apabila lintasan penyerahan
panas melalui gelombang-gelombang elektromagnetis dari
Aether tersebut tertutup atau terhalang oleh benda lain, maka
bidang yang akan dipanasi tadi tidak akan menerima panas
secara pancaran, atau terhalang penyerahan panas secara
pancarannya.
Dengan demikian, bidang yang akan dipanasi hanya dapat
menerima perpindahan panas secara pancaran bila
bidang/benda tersebut dapat melihat api tersebut. Dan bila
sesuatu benda/bidang terhalang penglihatannya kepada api,
maka bidang/benda tersebut tidak akan memperoleh panas
secara pancaran.
Semua zat-zat yang memancarkan panasnya (molekul-
molekul api atau gas asap), intensitas radiasi thermisnya atau
kuat pancaran panasnya tergantung dari temperatur zat yang
memancarkan panas tersebut.
Bila pancaran panas menimpa sesuatu benda atau bidang,
sebagian dari panas pancaran yang diterima benda tersebut,
akan dipancarkan kembali atau dipantulkan, dan sebagian yang
lain dari panas pancaran tersebut akan diserapnya.

2.1.6.2. Perpindahan Panas dengan Cara Konveksi (Aliran)


Perpindahan panas secara dengan cara konveksi atau aliran
adalah perpindahan panas yang dilakukan oleh molekul-
molekul suatu fluida (cair ataupun gas). Molekul-molekul
fluida tersebut dalam gerakannya melayang-layang kesana
kemari membawa sejumlah panas masing-masing q joule. Pada
saat molekul fluida tersebut menyentuh dinding maka
25

panasnya dibagikan sebagian, yaitu q1 joule kepada dinding,


selebihnya yaitu q2 = q q1 joule dibawanya pergi.
Bila gerakan dari molekul-molekul tersebut disebabkan
karena perbedaan temperatur didalam fluida itu sendiri, maka
perpindahan panasnya disebut konveksi bebas (free
convection) atau konveksi alamiah (natural convection). Bila
gerakan molekul-molekul tersebut sebagai akibat dari kekuatan
mekanis (karena dipompa atau karena dihembus dengan fan)
maka perpindahan panasnya disebut konveksi panas (forced
convection).
Dalam gerakannya, molekul-molekul tersebut tidak perlu
melalui lintasan yang lurus untuk mencapai dinding atau
bidang yang dipanasi.

2.1.6.3. Perpindahan Panas dengan Cara Konduksi (Perambatan)


Perpindahan panas secara perambatan atau konduksi adalah
perpindahan panas dari suatu bagian benda padat ke bagian
lain dari benda padat yang sama, atau dari benda padat yang
satu ke benda padat yang lain karena terjadinyaa
persinggungan fisik (kontak fisik atau menempel) tanpa
terjadinya perpindahan molekul-molekul dari benda padat itu
sendiri (Djokosetyardjo: 2003).

2.1.8 Panas (Kalor)


Panas adalah suatu energi yang dapat dipindahkan melalui batas
sistem yang ada pada temperatur yang lebih tinggi ke sistem lain atau
lingkungan yang mempunyai temperatur yang lebih rendah, karena
adanya perbedaan temperatur.
Energi panas selalu berpindah dari sistem panas ke sistem dingin.
Akibat perpindahan energi panas tersebut, molekul-molekul panas
sistem bersuhu tinggi akan kehilangan energi kinetik dan suhunya akan
lebih kecil. Pada kondisi seperti ini terjadi kesetimbangan thermal dan
26

suhu kedua benda akan sama. Secara induktif, makin besar kenaikan
suhu suatu benda, makin besar pula panas yang diserap (Bueche, 2006).
Panas merupakan faktor ekstensif, yang artinya bergantung pada
jumlah zat, sedangkan suhu/temperatur merupakan faktor intensif yang
tidak tergantung pada jumlah zat. Besar jumlah atau kuantitas panas
biasanya bersimbol Q dan tergantung pada jumlah zat, jenis zat dan
banyaknya zat. Ketiga faktor ini digabungkan menjadi satu kapasitas
panas. Satuan SI untuk panas ialah Joule. Satuan lain untuk panas
adalah kalori (1 Joule = 0,239 kalori).
1. Panas Laten (Laten Heat)
Merupakan panas yang diserap atau yang dilepas suatu benda
yang mengalami perubahan fase atau wujud. Persamaan untuk
panas laten ialah:
Q=M. (2.1)
Dimana:
Q = Jumlah panas yang diberi (kkal/jam)
M = Massa (kg)
= Kalor Laten

2. Panas Sensibel
Panas ini merupakan panas yang dilepas atau yang diserap oleh
suatu zat atau benda yang mengalami perubahan temperatur. Efek
panas ini sangat berhubungan dengan kapasitas panas. Persamaan
untuk efek panas sensibel adalah:

Q = M . Cp . T (2.2)
Dimana:
Q = Jumlah panas yang diberi oleh fluida (kkal/jam)
M = Massa (kg)
Cp = Panas jenis air (kkal/kg oC)
T = Perubahan Temperatur (oC)

Panas jenis benda/zat menunjukkan banyaknya panas yang


diperlukan oleh 1 kg zat untuk menaikkan suhunya sebesar satu satuan
suhu (oC). Tiap benda atau zat berbeda dikarenakan masing-masing
memerlukan jumlah panas yang berbeda-beda meskipun untuk
menaikkan suhu yang sama dengan massa yang sama.
27

Kapasitas panas (C) adalah banyaknya energi yang diberikan dalam


bentuk panas untuk menaikkan suhu benda sebesar satu derajat (1oC).
Kapasitas panas yang ada pada sebagian besar sistem tidaklah konstan,
namun bergantung pada variasi kondisi dari sistem termodinamika.
Kapasitas panas bergantung pada temperatur itu sendiri, dan juga
tekanan dan volume dari sistem.
Bila pada suatu sistem diberi panas sebesar dQ sehingga menaikkan
temperatur sebesar dT, maka perbandingan panas dQ dengan kenaikan
temperatur dT disebut kapasitas panas dari sistem. Bila C adalah
kapasitas panas dari sistem, maka:
C = dQ / dT (2.3)
Kapasitas panas persatuan massa disebut panas jenis, diberi simbol c,
jadi pada sistem adalah:
c=C/m (2.4)
c = dQ / m . dT (2.5)
Secara umum, pengukuran kapasitas panas dapat dilakukan pada
kondisi tekanan konstan atau volume konstan. Bila berjalan dengan
volume konstan, maka disebut panas jenis pada volume konstan (cv) dan
bila berjalan pada tekanan kostan maka disebut panas jenis pada
tekanan kostan (cp).
cv = Cv / m (2.6)
cp = Cp / m (2.7)
Dari persamaan (2.1 2.3) panas yang masuk ke sistem persatuan
massa untuk perubahan dT , besarnya:
dq = c . dT (2.8)
Untuk proses dengan volume konstan:
dq = cv . dT (2.9)
Untuk proses dengan tekanan kostan:
dq = cp . dT (2.10)
Panas total yang masuk ke sistem besarnya;
dQ = m . dq = m . cp . dT (2.11)
Bila cp konstan maka:
Q = m . cp . dT = m . cp . (T2 T1) (2.12)

2.1.8. Neraca Energi


Neraca energi dibuat berdasarkan hukum pertama termodinamika.
Hukum pertama ini menyatakan kekekalan energi, yaitu energi tidak
dapat dimusnahkan atau diciptakan, namun dapat diubah bentuknya.
28

Perumusan dari neraca energi suatu sistem mirip dengan perumusan


neraca massa. Namun demikian, terdapat beberapa hal yang perlu
diperhatikan yaitu suatu sistem dapat berupa sistem tertutup namun
tidak terisolasi (tidak dapat terjadi perpindahan massa namun dapat
terjadi perpindahan panas) dan hanya terdapat satu neraca energi
untuk suatu sistem (tidak seperti neraca massa yang memungkinkan
adanya beberapa neraca komponen). Suatu energi memiliki suatu
persamaan:
Energi Masuk = Energi Keluar + Energi Akumulasi

Tidak seperti neraca massa yang memiliki variabel produksi, neraca


energi tidak memiliki variabel produksi. Hal ini disebabkan energi
tidak dapat diproduksi, hanya dapat diubah bentuknya. Namun
demikian bila terdapat suatu jenis energi diabaikan, misalnya bila
neraca dibuat dengan hanya memperhitungkan energi saja, maka
persamaan neraca energi akan menjadi:

Panas Masuk + Panas Produksi = Panas Keluar + Panas Akumulasi

Dalam proses pemanasan udara terjadi perpindahan panas dari


flue gas (pemberi panas) terhadap udara dari lingkungan. Perpindahan
panas terjadi secara tak langsung, dimana flue gas tidak bersentuhan
langsung dengan udara.
Penurunan efesiensi Air Preheater sama hal nya seperti masalah
yang terjadi pada alat penukar panas lainnya, yaitu fouling. Fouling
dapat didefinisikan sebagai pembentukan deposit pada permukaan alat
penukar kalor yang menghambat perpindahan panas dan
meningkatkan hambatan aliran fluida pada alat penukar kalor tersebut.
Efesiensi ialah perpindahan antara input (masukan) dengan
output (keluaran) pada suatu proses, sehingga efesiensi perpindahan
panas dapat dirumuskan sebagai perbandingan jumlah panas yang
diterima oleh udara dengan jumlah panas yang diberi oleh flue gas.
Sehingga untuk menghitung besarnya efesiensi perpindahan panas ini
dapat dirumuskan:
29

2.2. Kajian yang Relevan

Kajian yang relevan dengan penelitian ini antara lain:

Purwanto dan Wahyono (2013) dalam penelitiannya yang berjudul


Pengaruh Unjuk Kerja Air Heater Type Ljungstorm Terhadap Perubahan
Beban Di PLTU Tanjung Jati B Unit I Berdasarkan Perhitungan ASME
PTC 4.3 mendapati bahwa penggunaan air heater pada unit dapat
memberikan peningkatan efisiensi termal unit hingga 10,476% sebagai
pemanfaatan energi panas gas buang untuk memanaskan udara
pembakaran dan mengurangi kandungan moisture pada batubara. Efisiensi
air heater tertinggi terdapat pada 69,060 %. Penggunaan air heater tipe
Ljungstorm mempunyai kondisi leakage yang mempengaruhi nilai
efisiensi air heater. Semakin kecil leakage maka efisiensi sisi gas akan
30

semakin baik, karena gas buang dan akan lebih optimal memanaskan
udara pembakaran.

2.3. Kerangka Konseptual


31

Menghitung perpindahan
panas yang diterima oleh
Hot Air