Vous êtes sur la page 1sur 20

3.

Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan moskuloskletal (gout


arthritis)
A. Defenisi
Gout adalah penyakit metabolic yang ditandai dengan penumpukan asam urat
yang nyeri pada tulang dan sendi, sangat sering ditemukan pada kaki bagian atas,
pergelangan dan kaki bagian tengah ( Merkie, Carrie, 2005 ).
Gout merupakan kelompok keadaan heterogenous yang berhubungan dengan
defek genetic pada metabolisme purin atau hiperuricemia ( Brunner & Suddarth, 2001
: 1810 ).
Arthritis pirai ( gout ) merupakan suatu sindrom klinik sebagai deposit Kristal
asam urat di daerah persendiaan yang menyebabkan terjadinya serangan inflamasi
akut.

B. Anatomi fisiologi
A. Anatomi
a. sendi

Muskuloskeletal berasal dari kata muscle (otot) dan skeletal (tulang). Rangka (skeletal)
merupakan bagian tubuh yang terdiri dari tulang, sendi dan tulang rawan (kartilago), sebagai
tempat menempelnya otot dan memungkinkan tubuh untuk mempertahankan sikap dan posisi.
Rangka manusia dewasa tersusun dari tulang tulang (sekitar 206 tulang ) yang
membentuk suatu kerangka tubuh yang kokoh. Walaupun rangka terutama tersusun dari tulang,
rangka di sebagian tempat dilengkapi dengan kartilago. Rangka digolongkan menjadi rangka
aksial, rangka apendikular, dan persendian.

1) Rangka aksial, melindungi organ-organ pada kepala, leher, dan torso.


a) Kolumna vertebra
b) Tengkorak
1. Tulang cranial : menutupi dan melindungi otak dan organ-organ panca indera.
2. Tulang wajah : memberikan bentuk pada muka dan berisi gigi.
3. Tulang auditori : terlihat dalam transmisi suara.
4. Tulang hyoid : yang menjaga lidah dan laring.
2) Rangka apendikular, tulang yang membentuk lengan tungkai dan tulang pectoral
serta tonjolan pelvis yang menjadi tempat melekatnya lengan dan tungkai pada
rangkai aksial.
3) Persendian, adalah artikulasi dari dua tulang atau lebih.
Fungsi Sistem Rangka :
1) Tulang sebagai penyangga (penopang); berdirinya tubuh, tempat melekatnya
ligamen-ligamen, otot, jaringan lunak dan organ, juga memberi bentuk pada
tubuh.
2) Pergerakan ; dapat mengubah arah dan kekuatan otot rangka saat bergerak,
adanya persendian.
3) Melindungi organ-organ halus dan lunak yang ada dalam tubuh.
4) Pembentukan sel darah (hematopoesis / red marrow).
5) Tempat penyimpanan mineral (kalium dan fosfat) dan lipid (yellow marrow).
Menurut bentuknya tulang dibagi menjadi 4, yaitu :
1) Tulang panjang, terdapat dalam tulang paha, tulang lengan atas
2) Tulang pendek (carpals) bentuknya tidak tetap dan didalamnya terdiri dari
tulang karang, bagian luas terdiri dari tulang padat.
3) Tulang ceper yang terdapat pada tulang tengkorak yang terdiri dari 2 tulang
karang di sebelah dalam dan tulang padat disebelah luar.
4) Bentuk yang tidak beraturan (vertebra) sama seperti tulang pendek.
Struktur Tulang
Dilihat dari bentuknya tulang dapat dibagi menjadi tulang pendek,
panjang, tulang berbentuk rata (flat) dan tulang dengan bentuk tidak beraturan.
Terdapat juga tulang yang berkembang didalam tendon misalnya tulang patella
(tulang sessamoid). Semua tulang memiliki sponge tetapi akan bervariasi dari
kuantitasnya. Bagian tulang tumbuh secara longitudinal,bagian tengah disebut
epiphyse yang berbatasan dengan metaphysic yang berbentuk silinder.
Vaskularisasi. Tulang merupakan bagian yang kaya akan vaskuler dengan
total aliran sekitar 200-400 cc/menit.Setiap tulang memiliki arteri menyuplai
darah yang membawa nutrient masuk di dekat pertengahan tulang kemudian
bercabang ke atas dan ke bawah menjadi pembuluh darah mikroskopis, pembuluh
ini menyuplai korteks, morrow, dan sistem harvest. Persarafan. Serabut syaraf
simpatik dan afferent (sensorik) mempersarafi tulang dilatasi kapiler dan di
control oleh saraf simpatis sementara serabut syaraf efferent menstramisikan
rangsangan nyeri.
Pertumbuhan dan Metabolisme Tulang
Setelah pubertas tulang mencapai kematangan dan pertumbuhan maksimal.
Tulang merupakan jaringan yang dinamis walaupun demikian pertumbuhan yang
seimbang pembentukan dan penghancuran hanya berlangsung hanya sampai usia 35
tahun. Tahun tahun berikutnya rebsorbsi tulang mengalami percepatan sehigga
tulang mengalami penurunan massanya dan menjadi rentan terhadap
injury.Pertumbuhan dan metabolisme tulang di pengaruhi oleh mineral dan hormone
sebagai berikut :
1. Kalsium dan Fosfor Tulang mengandung 99% kalsium dan 90% fosfor.
Konsentrasi ini selalu di pelihara dalam hubungan terbalik. Apabila kadar
kalsium meningkat maka kadar fosfor akan berkurang, ketika kadar
kalsium dan kadar fosfor berubah, calsitonin dan PTH bekerja untuk
memelihara keseimbangan.
2. Calsitonin di produksi oleh kelenjar tiroid memiliki aksi dalam
menurunkan kadar kalsium jika sekresi meningkat di atas normal.
Menghambat reabsorbsi tulang dan meningkatkan sekresi fosfor oleh
ginjal bila di perlukan.
3. Vit. D. diproduksi oleh tubuh dan di trasportasikan ke dalam darah untuk
meningkatkan reabsorbsi kalsium dan fosfor dari usus halus, juga memberi
kesempatan untuk aktifasi PHT dalam melepas kalsium dari tulang.

Proses Pembentukan Tulang


Pada bentuk alamiahnya, vitamin D di proleh dari radiasi sinar ultraviolet
matahari dan beberapa jenis makanan. Dalam kombinasi denagan kalsium dan fosfor,
vitamin ini penting untuk pembentukan tulang.
Vitamin D sebenarnya merupakan kumpulan vitamin-vitamin, termasuk vitamin
D2 dan D3. Substansi yang terjadi secara alamiah ialah D3 (kolekalsiferol), yang
dihasilkan olehakifitas foto kimia pada kulit ketika dikenai sinar ultraviolet matahari. D3
pada kulit atau makanan diwa ke (liver bound) untuk sebuah alfa globulin sebagai
transcalsiferin,sebagaian substansi diubah menjadi 25 dihidroksi kolekalsiferon atau
kalsitriol. Calcidiol kemudian dialirkan ke ginjal untuk transformasi ke dalam
metabolisme vitamin D aktif mayor, 1,25 dihydroxycho lekalciferol atau calcitriol.
Banyaknya kalsitriol yang di produksi diatur oleh hormone parathyroid (PTH) dan kadar
fosfat di dalam darah, bentuk inorganic dari fosfor penambahan produksi kalsitriol terjadi
bila kalsitriol meningkat dalam PTH atau pengurangan kadar fosfat dalam cairan darah.
Kalsitriol dibutuhkan untuk penyerapan kalsium oleh usus secara optimal dan
bekerja dalam kombinasi dengan PTH untuk membantu pengaturan kalsium darah.
Akibatnya, kalsitriol atau pengurangan vitamin D dihasilkan karena pengurangan
penyerapan kalsium dari usus, dimana pada gilirannya mengakibatka stimulasi PHT dan
pengurangan,baik itu kadar fosfat maupun kalsium dalam darah.
1. Hormon parathyroid. Saat kadar kalsium dalam serum menurun sekresi
hormone parathyroid akan meningkat aktifasi osteoclct dalam menyalurkan
kalsium ke dalam darah lebih lanjutnya hormone ini menurunkan hasil
ekskresi kalsium melalui ginjal dan memfasilitasi absorbsi kalsium dari usus
kecil dan sebaliknya.
2. Growth hormone bertanggung jawab dalam peningkatan panjang tulang dan
penentuan matriks tulang yang dibentuk pada masa sebelum pubertas.
3. Glukokortikoid mengatur metabolism protein. Ketika diperlukan hormone ini
dapat meningkat atau menurunkan katabolisme untuk mengurangi atau
meningkatkan matriks organic. Tulang ini juga membantu dalam regulasi
absorbsi kalsium dan fosfor dari usus kecil.
4. Seks hormone estrogen menstimulasi aktifitas osteobalstik dan menghambat
hormone paratiroid. Ketika kadar estrogen menurun seperti pada masa
menopause, wanita sangat rentan terjadinya massa tulang (osteoporosis).

a. Persendian
Persendian dapat diklasifikasikan menurut struktur (berdasarkan ada tidaknya
rongga persendian diantara tulang-tulang yang beratikulasi dan jenis jaringan ikat yang
berhubungan dengan paersendian tersebut) dan menurut fungsi persendian (berdasarkan
jumlah gerakan yang mungkin dilakukan pada persendian).
Klasifikasi struktural persendian :
a. Persendian fibrosa
b. Persendian kartilago
c. Persendian synovial.
Klasifikasi fungsional persendian :
a. Sendi Sinartrosis atau Sendi Mati
Secara structural, persendian ii dibungkus dengan jaringan ikat fibrosa atau kartilago.
b. Amfiartrosis
Sendi dengan pergerakan terbatas yang memungkinkan terjadinya sedikit gerakan
sebagai respon terhadap torsi dan kompresi .
c. Diartrosis
Sendi ini dapat bergerak bebas,disebut juga sendi sinovial.Sendi ini memiliki rongga
sendi yang berisi cairan sinovial,suatu kapsul sendi yang menyambung kedua tulang,
dan ujung tilang pada sendi sinovial dilapisi kartilago artikular.
Klasifikasi persendian sinovial :
a. Sendi sfenoidal : memungkinkan rentang gerak yang lebih besar,menuju ke tiga arah.
Contoh : sendi panggul dan sendi bahu.
b. Sendi engsel : memungkinkan gerakan ke satu arah saja. Contoh : persendian pada
lutut dan siku.
c. Sendi kisar : memungkinkan terjadinya rotasi di sekitar aksis sentral.Contoh :
persendian antara bagian kepala proximal tulang radius dan ulna.
d. Persendian kondiloid : memungkinkan gerakan ke dua arah di sudut kanan setiap
tulang. Contoh : sendi antara tulang radius dan tulang karpal.
e. Sendi pelana : Contoh : ibu jari.
f. Sendi peluru : memungkinkan gerakan meluncur antara satu tulang dengan tulang
lainnya. Contoh : persendian intervertebra.
B. Fisiologi Otot.
Otot (muscle) adalah jaringan tubuh yang berfungsi mengubah energi kimia menjadi
kerja mekanik sebagai respon tubuh terhadap perubahan lingkungannya. Jaringan otot,
yang mencapai 40% -50% berat tubuh,pada umumnya tersusun dari sel-sel kontraktil yang
serabut otot. Melalui kontraksi, sel-sel otot menghasilkan pergerakan dan melakukan
pekerjaan.
Fungsi sistem Muskular
a. Pergerakan
b. Penopang tubuh dan mempertahankan postur
c. Produksi panas.
Ciri-ciri otot
a. Kontraktilitas
b. Eksitabilitas
c. Ekstensibilitas
d. Elastisitas
Klasifikasi Jaringan Otot
Otot diklasifikasikan secara structural berdasarkan ada tidaknya striasi silang
(lurik), dan secara fungsional berdasarkan kendali konstruksinya,volunteer (sadar) atau
involunter (tidak sadar), dan juga berdasarkan lokasi,seperti otot jantung, yang hanya
ditemukan di jantung.
Jenis-jenis Otot
a. Otot rangka adalah otot lurik,volunter, dan melekat pada rangka.
b. Otot polos adalah otot tidak berlurik dan involunter. Jenis otot ini dapat
ditemukan pada dinding organ berongga seperti kandung kemih dan uterus, serta
pada dinding tuba, seperti pada sistem respiratorik, pencernaan,reproduksi,
urinarius, dan sistem sirkulasi darah.
c. Otot jantung adalah otot lurik,involunter, dan hanya ditemukan pada jantung.

C. Etilogi
Penyebab utama terjadinya gout adalah karena adanya deposit/penimbunan Kristal asam
urat dalam sendi. Penimbunan asam urat sering terjadi pada penyakit dengan metabolisme
asam urat abnormal dan kelainan metabolic dalam pembentukan purin dan eksresi asam
urat yang kurang dari ginjal.
Beberapa faktor lain yang mendukung seperti :
a. Faktor genetic seperti gangguan metabolisme purin yang menyebabkan asam urat
berlebihan ( Hiperuricemia ), retensi asam urat atau keduanya.
b. Penyebab sekunder yaitu akibat obesitas, diabetes mellitus, hipertensi, gangguan ginjal
yang kan menyebabkan :
1. Pemecahan asam yang dapat menyebabkan hiperuricemia
2. Karena penggunaan obat obatan yang menurunkan eksresi asam urat seperti :
aspirin, diuretic, levodopa, diazoksid, asam nikotinat, aseta zolamid dan etambutol.
c. Pembentukan asam urat yang berlebih :
1. Gout primer metabolic disebabkan sistensi langsung yang bertambah.
2. Gout sekunder metabolic disebabkan pembentukan asam urat berlebih karena
penyakit lain seperti leukemia.
d. Kurang asam urat melalui ginjal
e. Gout primer renal terjadi karena eksresi asam urat di tubulus distal ginjal yang sehat.
f. Gout sekunder renal disebabkan oleh karena kerusakan ginjal misalnya glomeronefritis
kronik atau gagal ginjal kronik.
95 % penderita gout ditemukan pada pria. Gout sering menyerang wanita pada post
menopause usia 50 60 tahun. Juga dapat menyerang laki laki usia pubertas dan atau usia
diatas 30 tahun. Penyakit ini paling sering mengenai sendi metarsofaringeal, ibu jari kaki,
sendi lutut dan pergelangan kaki.
D. Klasifikasi
a. klasifikasi berdasarkan manifestasi klinik
1. Stadium artritis gout akut

Pada tahap ini penderita akan mengalami serangan artritis yang khas dan serangan

tersebut akan menghilang tanpa pengobatan dalam waktu 5 7 hari. Karena cepat

menghilang, maka sering penderita menduga kakinya keseleo atau kena infeksi

sehingga tidak menduga terkena penyakit gout dan tidak melakukan pemeriksaan

lanjutan. Pada serangan akut yang tidak berat, keluhan-keluhan dapat hilang dalam

beberapa jam atau hari. Pada serangan akut berat dapat sembuh dalam beberapa hari

sampai beberapa minggu.

Faktor pencetus serangan akut antara lain berupa trauma lokal, diet tinggi

purin, kelelahan fisik, stres, tindakan operasi, pemakaian obat diuretik atau penurunan

dan peningkatan asam urat.

2. Stadium interkritikal

Pada keadaan ini penderita dalam keadaan sehat selama jangka waktu tertentu.

Jangka waktu antara seseorang dan orang lainnya berbeda. Ada yang hanya satu tahun,

ada pula yang sampai 10 tahun, tetapi rata-rata berkisar 1 2 tahun. Panjangnya

jangka waktu tahap ini menyebabkan seseorang lupa bahwa ia pernah menderita

serangan artritis gout atau menyangka serangan pertama kali dahulu tak ada

hubungannya dengan penyakit gout.


Walaupun secara klinik tidak didapatkan tanda-tanda akut, namun pada

aspirasi sendi ditemukan kristal urat. Hal ini menunjukkan bahwa proses peradangan

tetap berlanjut, walaupun tanpa keluhan. Dengan manajemen yang tidak baik , maka

keadaan interkritik akan berlajut menjadi stadium dengan pembentukan tofi.

3. Stadium artritis gout menahun (kronik)

Tahap ketiga disebut sebagai tahap artritis gout kronik bertofus. Tahap ini terjadi

bila penderita telah menderita sakit selama 10 tahun atau lebih. Pada tahap ini akan

terjadi benjolan-benjolan di sekitar sendi yang sering meradang yang disebut sebagai

tofus. Tofus ini berupa benjolan keras yang berisi serbuk seperti kapur yang

merupakan deposit dari kristal monosodium urat. Tofus ini akan mengakibatkan

kerusakan pada sendi dan tulang di sekitarnya. Pada stadium ini kadang-kadang

disertai batu saluran kemih. pirai menahun dan berat, yang menyebabkan terjadinya

kelainan bentuk sendi.

Pengendapan kristal urat di dalam sendi dan tendon terus berlanjut dan

menyebabkan kerusakan yang akan membatasi pergerakan sendi. Benjolan keras dari

kristal urat (tofi) diendapkan di bawah kulit di sekitar sendi. Tofi juga bisa terbentuk di

dalam ginjal dan organ lainnya, dibawah kulit telinga atau di sekitar sikut. Jika tidak

diobati, tofi pada tangan dan kaki bisa pecah dan mengeluarkan massa kristal yang

menyerupai kapur.

b. Klasifikasi berdasarkan penyebabnya:

1. Gout primer

Gout primer merupakan akibat langsung pembentukan asam urat berlebihan,

penurunan ekskresi asam urat melalui ginjal.


2. Gout sekunder

Gout sekunder disebabkan oleh penyakit maupun obat-obatan

E. Patofisiologi
Adanya gangguan metabolisme purin dalam tubuh, intake bahan yang mengandung asam
urat tinggi, dan sistem ekskresi asam urat yang tidak adequat akan menghasilkan akumulasi
asam urat yang berlebihan di dalam plasma darah (Hiperurecemia), sehingga
mengakibatkan kristal asam urat menumpuk dalam tubuh. Penimbunan ini menimbulkan
iritasi lokal dan menimbulkan respon inflamasi.
Hiperurecemia merupakan hasil :
a. Meningkatnya produksi asam urat akibat metabolisme purine abnormal.
b. Menurunnya ekskresi asam urat.
c. Kombinasi keduanya.
Saat asam urat menjadi bertumpuk dalam darah dan cairan tubuh lain, maka asam urat
tersebut akan mengkristal dan akan membentuk garam-garam urat yang akan berakumulasi
atau menumpuk di jaringan konectiv diseluruh tubuh, penumpukan ini disebut tofi. Adanya
kristal akan memicu respon inflamasi akut dan netrofil melepaskan lisosomnya. Lisosom
tidak hanya merusak jaringan, tapi juga menyebabkan inflamasi.
Pada penyakit gout akut tidak ada gejala-gejala yang timbul. Serum urat maningkat tapi
tidak akan menimbulkan gejala. Lama kelamaan penyakit ini akan menyebabkan hipertensi
karena adanya penumpukan asam urat pada ginjal.
Serangan akut pertama biasanya sangat sakit dan cepat memuncak. Serangan ini meliputi
hanya satu tulang sendi. Serangan pertama ini sangat nyeri yang menyebabkan tulang sendi
menjadi lunak dan terasa panas, merah. Tulang sendi metatarsophalangeal biasanya yang
paling pertama terinflamasi, kemudian mata kaki, tumit, lutut, dan tulang sendi pinggang.
Kadang-kadang gejalanya disertai dengan demam ringan. Biasanya berlangsung cepat
tetapi cenderung berulang dan dengan interval yang tidak teratur.
Periode intercritical adalah periode dimana tidak ada gejala selama serangan gout.
Kebanyakan pasien mengalami serangan kedua pada bulan ke-6 sampai 2 tahun setelah
serangan pertama. Serangan berikutnya disebut dengan polyarticular yang tanpa kecuali
menyerang tulang sendi kaki maupun lengan yang biasanya disertai dengan demam. Tahap
akhir serangan gout atau gout kronik ditandai dengan polyarthritis yang berlangsung sakit
dengan tofi yang besar pada kartilago, membrane synovial, tendon dan jaringan halus. Tofi
terbentuk di jari, tangan, lutut, kaki, ulnar, helices pada telinga, tendon achiles dan organ
internal seperti ginjal. Kulit luar mengalami ulcerasi dan mengeluarkan pengapuran,
eksudat yang terdiri dari Kristal asam urat.
F. Woc

G. Manifestasi klinis
a. Nyeri tulang sendi
b. Kemerahan dan bengkak pada tulang sendi
c. Tofi pada ibu jari, mata kaki dan pinna telinga
d. Peningkatan suhu tubuh.
1. Gangguan akut :
Nyeri hebat
Bengkak dan berlangsung cepat pada sendi yang terserang
Sakit kepala
Demam.
2. Gangguan kronis :
Serangan akut
Hiperurisemia yang tidak diobati
Terdapat nyeri dan pegal
Pembengkakan sendi membentuk noduler yang disebut tofi (penumpukan
monosodium urat dalam jaringan)
H. Komplikasi
1. Erosi, deformitas dan ketidakmampuan aktivitas karena inflamasi kronis dan tofi yang
menyebabkan degenerasi sendi.
2. Hipertensi dan albuminuria.
3. Kerusakan tubuler ginjal yang menyebabkan gagal ginjal kronik.
I. Pemeriksaan penunjang
a. Laju sedimentasi eritrosit (LSE) meningkat, yang menunjukkan inflamasi
b. SDP meningkat (leukositosis)
c. Ditemukan kadar asam urat yang tinggi di dalam darah
d. Pada pemeriksaan terhadap contoh cairan sendi di bawah mikroskop khusus akan
tampak kristal urat yang berbentuk seperti jamur
e. Pemeriksaan sinar X dari daerah yang terkena untuk menunjukkan masa tefoseus dan
destruksi tulang dan perubahan sendi

J. Penatalaksaan
Tujuan untuk mengakhiri serangan akut secepat mungkin, mencegah serangan berulang,
dan pencegahan komplikasi.
a. Pengobatan serangan akut dengan Colchicine 0,6 mg (pemberian oral), Colchicine 1,0-
3,0 mg (dalam NaCl intravena), phenilbutazone, Indomethacin.
b. Sendi diistirahatkan (imobilisasi pasien)
c. Kompres dingin
d. Diet rendah purin
e. Terapi farmakologi (Analgesic dan antipiretik)
f. Colchicines (oral/IV) tiap 8 jam sekali untuk mencegah fagositosis dari Kristal asam
urat oleh netrofil sampai nyeri berkurang.
g. Nonsteroid, obat-obatan anti inflamasi (NSAID) untuk nyeri dan inflamasi.
h. Allopurinol untuk menekan atau mengontrol tingkat asam urat dan untuk mencegah
serangan.
i. Uricosuric (Probenecid dan Sulfinpyrazone) untuk meningkatkan ekskresi asam urat dan
menghambat akumulasi asam urat (jumlahnya dibatasi pada pasien dengan gagal ginjal).
j. Terapi pencegahan dengan meningkatkan ekskresi asam urat menggunakan probenezid
0,5 g/hari atau sulfinpyrazone (Anturane) pada pasien yang tidak tahan terhadap
benemid atau menurunkan pembentukan asam urat dengan Allopurinol 100 mg 2
kali/hari.

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TEORITIS

A. DATA UMUM KELUARGA


1. Nama Kepala Keluarga :
2. Umur :
3. Agama :
4. Pendidikan :
5. Pekerjaan :
6. Suku / Bangsa :
7. Alamat :
8. Komposisi Keluarga :
9. Tipe Keluarga :
10. Genogram :
11. Sifat Keluarga
a. Pengambilan Keputusan
b. Kebiasaan Hidup Sehari Hari
1) Kebiasaan Tidur / Istirahat
2) Kebiasaan Rekreasi
3) Kebiasaan Makan Keluarga
12. Status Sosial Ekonomi Keluarga
13. Suku ( kebiasaan kesehatan terkait suku bangsa )
14. Agama ( kebiasaan kesehatan terkait suku bangsa )

B. RIWAYAT DAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA


1. Tahap perkembangan keluarga saat ini
2. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
3. Riwayat keluarga inti
4. Riwayat keluarga sebelumnya ( pihak istri dan suami )
C. LINGKUNGAN
1. Karakteristik rumah (tipe, ukuran, jumlah ruangan)
2. Ventilasi dan penerangan
3. Persedian air bersih
4. Pembuangan sampah
5. Pembungan air limbah
6. Jamban/ wc (tipe, jarak dari sumber air)
7. Denah rumah
8. Lingkungan sekitar rumah
9. Sarana komunikasi dan transportasi
10. Fasilitas hiburan (TV, radio, dll)
11. Fasilitas pelayanan kesehatan

D. SOSIAL
1. Karakteristik tetangga dan komunitas
2. Mobilitas geografis keluarga
3. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
4. System pendukung keluarga

E. STRUKTUR KELUARGA
1. Pola komunikasi keluarga
2. Struktur kekuatan keluarga
3. Struktur peran (formal dan informal)
4. Nilai dan norma keluarga

F. FUNGSI KELUARGA
1. Fungsi Afektif
2. Fungsi Social
3. Fungsi Perawatan Kesehatan

Penapisan masalah berdasarkan 5 tugas perawatan ksehatan :


a. Mengenal masalah kesehatan
b. Memutuskan untuk merawat
c. Mampu merawat
d. Modifikasi lingkungan
e. Memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada
4. Fungsi Reproduksi
5. Fungsi Ekonomi
G. STRESS DAN KOPING KELUARGA
1. Stressor jangka pendek dan jangka panjang
a. Stressor jangka pendek
b. Stressor jangka panjang
2. Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi atau stressor
3. Strategi koping yang digunakan
4. Strategi adaptasi disfungsional

H. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA


1. Riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga
a. Ayah
b. Ibu
c. Anak
2. Keluarga berencana
3. Imunisasi
4. Tumbuh kembang
a. Pemeriksaan tumbuh kembang anak
1) Anak I
2) Anak II
b. Pengetahuan orang tua terhadap tumbuh kembang anak

I. PEMERIKSAAN FISIK KELUARGA


1. Pemeriksaan Fisik Bapak . . . .
a. Keadaan Umum :
b. Kesadaran :
c. Tanda Tanda Vital
1) TD :
2) Nadi :
3) Suhu :
4) RR :
d. Kepala
1) Rambut
2) Mata
3) Hidung
4) Telinga
5) Mulut
e. Thoraks
I =
P =
P =
A =
f. Jantung
I =
P =
P =
A =
g. Abdomen
I =
A =
P =
P =
h. Genitalia

i. Ekstremitas

2. Pemeriksaan Fisik Ibu . . . .


a. Keadaan Umum :
b. Kesadaran :
c. Tanda Tanda Vital :
1) TD :
2) Nadi :
3) Suhu :
4) RR :
d. Kepala
1) Rambut
2) Mata
3) Hidung
4) Telinga
5) Mulut
e. Thoraks
I =
P =
P =
A =
f. Jantung
I =
P =
P =
A =
g. Abdomen
I =
A =
P =
P =
h. Genitalia
i. Ekstremitas
3. Pemeriksaan Fisik Anak I . . . .
a. Keadaan Umum :
b. Kesadaran :
c. Tanda Tanda Vital :
1) TD :
2) Nadi :
3) Suhu :
4) RR :
d. Kepala
1) Rambut
2) Mata
3) Hidung
4) Telinga
5) Mulut
e. Thoraks
I =
P =
P =
A =
f. Jantung
I =
P =
P =
A =
g. Abdomen
I =
A =
P =
P =
h. Genitalia
i. Ekstremitas
4. Pemeriksaan Fisik Anak II . . . .
a. Keadaan Umum :
b. Kesadaran :
c. Tanda Tanda Vital :
1) TD :
2) Nadi :
3) Suhu :
4) RR :
d. Kepala
1) Rambut
2) Mata
3) Hidung
4) Telinga
5) Mulut
e. Thoraks
I =
P =
P =
A =
f. Jantung
I =
P =
P =
A =
g. Abdomen
I =
A =
P =
P =
h. Genitalia
i. Ekstremitas
J. HARAPAN KELUARGA