Vous êtes sur la page 1sur 18

Kata Pengantar

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas kesehatan
dan kemudahan yang diberikan. Penulis dapat menyelesaikan makalah mata kuliah akuntansi
keuangan II ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam makalah ini penulis membahas
mengenai Akuntansi untuk Pajak Penghasilan (PPh).
Penulis juga berterimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini. Karena dengan bantuan dari beberapa pihak makalah ini dapat
terselesaikan. Penulis menyadari masih banyak kekurangan yang terdapat dalam makalah ini.
Saran dan kritik yang membangun dari pembaca sangat diharapkan untuk menambah
pengetahuan dari penulis. Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat dan berguna bagi
pembaca.

Mataram, 20 Juli 2017


Penulis

( Kelompok 8 )

1
Daftar Isi

Kata Pengantar..........1
Daftar Isi...2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...3
B. Rumusan Masalah..3
C. Tujuan3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian PPh...4
B. Penerapan Akuntansi untuk PPh di Indonesia...4 7
C. Prinsip Prinsip Alokasi Pajak..7 17
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan....18

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pajak penghasilan adalah pajak yang dihitung berdasarkan peraturan perpajakan
dan dikenakan atas penghasilan kena pajak perusahaan / orang pribadi. Pajak penghasilan
merupakan beban yang timbul karena diberlakukannya peraturan perpajakan kepada
dunia usaha pada negara tertentu dan pajak penghasilan memiliki jumlah yang material
dalam laporan keuangan perusahaan. Jumlah beban pajak (tax expense) atau penghasilan
pajak (tax income) yang harus diakui dalam perhitungan laba atau rugi pada satu periode
terdiri dari dua unsur utama yaitu pajak pada satu periode (current tax) dan pajak
tangguhan (deffered tax).
Di Indonesia, perhitungan mengenai akuntansi pajak penghasilan diatur dalam
PSAK No. 46 yang berlaku sejak tanggal 1 Januari 1999. PSAK No. 46 adalah cara
mempertanggungjawabkan konsekuensi pajak pada periode mendatang untuk nilai
tercatat aset yang diakui pada neraca perusahaan atau pelunasan nilai tercatat kewajiban
yang diakui pada neraca perusahaan, dan transaksi transaksi lain pada periode berjalan
yang diakui pada laporan keuangan perusahaan. Pajak penghasilan dikenakan terhadap
subjek pajak atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian PPh?
2. Bagaimana penerapan akuntansi untuk PPh di Indonesia?
3. Bagaimana prinsip-prinsip pengalokasian pajak di Indonesia?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian PPh.
2. Untuk mengetahui penerapan akuntansi untuk PPh di Indonesia.
3. Untuk mengetahui bagaimana prinsip-prinsip pengalokasian pajak di Indonesia.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian PPh
Pajak Penghasilan adalah pajak negara yang dikenakan terhadap setiap tambahan
kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak, baik yang berasal dari
Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah
kekayaan wajib pajak yang bersangkutan. Pajak penghasialn merupakan beban yang timbul
karena diberlakukannya peraturan perpajakan kepada dunia usaha pada negara tertentu dan
beban pajak penghasilan ini memiliki jumlah yang material dalam laporan keuangan
perusahaan Jumlah beban pajak (tax expense) atau penghasilan pajak (tax income) yang harus
diakui dalam penghitungan laba atau rugi pada satu periode terdiri dua unsur utama yaitu (i)
pajak kini (current tax), yaitu jumlah pajak pada satu periode dan (ii) pajak tangguhan
(deffered tax).

B. Penerapan Akuntansi Untuk PPh di Indonesia


Di Indonesia, penghitungan mengenai akuntansi pajak penghasilan diatur dalam
PSAK No. 46 yang berlaku sejak tanggal 1 Januari 1999 untuk perusahaan yang menerbitkan
surat-surat berharga yang diperdagangkan kepada publik dan bagi perusahaan lainnya
dimulai pada atau setelah 1 Januari 2001, PSAK No.46 ini bertujuan mengatur perlakuan
akuntansi pajak penghasilan melalui pengakuan, pengukurang/penilaian, penyajian
pengungkapan pajak penghasilan dan pengaruhnya, yaitu Kewajiban Pajak Tangguhan
(deffered Tax Liabilities/ DTL) dan atau aset pajak tangguhan (Deferrred Tax Asset/DTA)
dalam laporan keuangan perusahaan. Pengakuan atas DTL atau DTA muncul akibat adanya
perbedaan temporer antara UU Perpajakan dengan SAK (Standar Akuntansi Keuangan).

Perusahaan harus menyajikan laporan keuangan kepada pemegang saham sesuai


dengan SAK yang berlaku. Namun sebagai wajib pajak, perusahaan juga harus menyajikan
laporan keuangan kepada pemerintah, dalam hal ini Direktorat Jendral Pajak, sesuai dengan
keputusan perpajakan dalam sebuah Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Badan

4
(SPT Tahunan PPh Badan). Karena SAK dan ketentuan perpajakan banyak memiliki
perbedaan, penentu laba akuntansi (financial income) dan penghasilan kena pajak atau laba
fiskal (taxable income) juga seringkali menghasilkan perbedaan. Perbedaan ini dibagi
menjadi dua macam yaitu perbedaan permanen/ tetap (Permanent Differences) dan perbedaan
temporer/ sementara (Temporary Differences).
1. Perbedaan Permanen
Perbedaan ini disebabkan oleh berbagai provisi dari Undang-Undang Perpajakan
yang menentukan beberapa jenis pendapatan yang dibebaskan dari pajak penghasilan tidak
kena pajak (non taxable income) dan beberapa jenis beban yang tidak boleh dikurangkan
(non deductible expense). Jenis Perbedaan Tetap yaitu:
a. Penghasilan yang telah dipotong PPh final
b. Penghasilan yang bukan merupakan objek pajak
c. Pengeluaran termasuk dalam beban yang tidak boleh dikurangkan
d. Pengeluaran yang tidak termasuk dalam beban yang boleh dikurangkan
Contoh-contoh perbedaan tetap adalah pendapatan bunga deposito larena bersifat final, uang
yang dihasilkan dari polis asuransi jiwa, bunga yang diterima dari obligasi pemerintah, beban
entertaiment yang tidak disertai bukti-bukti yang sah, denda karena pelanggaran hukum, dan
pembayaran prermium asuransi jiwa.
2. Perbedaan Temporer
Perbedaan Temporer adalah perbedaan antara laba akuntansi dan penghasilan kena pajak
yang disebabkan oleh ketentuan perpajakan dan membeikan pengaruh di masa mendatang
dalam jangka waktu tertentu sehingga pengaruh terhadap laba akuntansi dan penghasila kena
pajak akhirnya menjadi sama. Perbedaan Temporer dibagi menjadi dua:
a. Perbedaan Temporer kena pajak (taxable temporary differences) adalah perbedaan yang
menimbulkan suatu jumlah kena pajak dalam penghitungan laba fiskal periode
mendatang pada saat nilai tercatat aset dipulihkan atau nilai tercatat kewajiban tersebut
dilunasi. Jumlah pajak penghasilan yang diharapkan akan dibayar pada penghasilan kena
pajak tambahan di masa mendatang akan dicatat pada neraca sebagai Kewajiban Pajak
Tangguhan (Deffered Tax Liabilities/DTL). Contoh-contoh kewajiban pajak tangguhan :

5
Metode penjualan pencicilan (Installment sales method), untuk tujuan perpajakan
menggunakan dasar kas, sedangkan untuk pelaporan keuangan (financial
reporting) menggunakan dasar akrual untuk pengakuan pendapatan penjualannya.
Keuntungan yang belum direalisasi untuk trading securities, keuntungan tersebut
akan diakui untuk tujuan pelaporan keuangan, sedangkan untuk tujuan perpajakan
keuntungan akan diakui pada saat sekuritas tersebut dijual.
Perbedaan metode penyusunan aset tetap untuk tujuan pelaporan keuangan dan
perpajakan.
b. Perbedaan yang boleh dikurangkan (deductible Temporary diffrences) adalh perbedaan
temporer yang menimbulkan suatu jumlah yang boleh dikurangkan dalam penghitungan
laba fiskal periode mendatang pada saat nilai tercatat aset dipulihkan atau nilai tercatat
kewajiban tersebut dilunasi. Jumlah pengangguran pajak penghasilan yang diharapkan ini
akan dicatat pada neraca sebagai Aset Pajak Tangguhan (Deffered Tax Asset/ DTA).
Contoh-contoh aset pajak tangguhan:
Pendapatan diterima dimuka (unearned revenue), pendapatan akan diakui pada
saat periode perolehannya untuk tujuan perpajakan, tapi akan ditangguhkan
pengakuan pendapatannya pada periode mendatang untuk tujuan pelaporan
keuangan.
Beban garansi (Warranty expense) atau beban piutang tak tertagih (bad debt
expense) akan dikurangkan untuk tujuan perpajakan ketika telah benar-benar
terjadi, namun akan menjadi akrual pada tahun penjualan untuk tujuan pelaporan
keuangan.
Kerugian yang belum direalisasi untuk trading securities, kerugian tersebut akan
diakui utnuk tujuan pelaporan keuangan, sedangkan untuk tujuan perpajakan akan
diakui pada saat sekuritas tersebut dijual.
Jenis perbedaan temporer yaitu penyisihan/ akual dibandingkan dengna realisasinya,
penyusutan dan amortisasi, aset sewa guna usaha dengan hak opsi dibandingkan dengan
sewa menyewa biasa.

Pajak Penghasilan diperlakukan sebagai biaya bagi perusahaan. Oleh karena itu Pajak
Penghasilan harus diasosiasikan dengan laba dimana pajak penghasilan tersebut dikenakan

6
atau diperhitungkan. Proses untuk mengasosiasikan Pajak Penghasilan dengan laba dimana
pajak itu dikenakan disebut Alokasi Pajak Pada dasarnya terdapat 3 alternatif metode alokasi
pajak yang bisa dipakai, yaitu :
1. Deferred Method
Menurut metode ini, selisih jumlah Pajak Penghasilan Terhutang (berdasar SPT)
dengan Biaya Pajak Penghasilan (berdasar laba akuntansi) dalam suatu periode harus
dicatat dan disajikan dalam Laporan Keuangan sebagai Pajak yang Ditangguhkan.
Jumlah Pajak yang Ditangguhkan ditentukan berdasar tarif pajak yang berlaku pada saat
terjadinya transaksi atau item yang menyebabkan terjadinya perbedaan atau selisih antara
laba kena pajak dan laba akuntansinya. Deffered Method berorientasi pada Laporan Rugi
Laba dan menitik beratkan pada tercapainya proper matching antara pendapatan dan
biaya dalam periode di mana selisih perhitungan pajak terjadi.
2. Liability Method
Menurut metode ini jumlah Pajak yang Ditangguhkan ditentukan berdasar tarif pajak
yang diharapkan akan berlaku dalam periode di mana selisih pajak akan
dikompensasikan. Perhitungan Pajak yang Ditangguhkan bersifat tentatif yang selalu
memerlukan penyesuaian pada setiap kali terjadi perubahan tarif pajak penghasilan.
Menurut liability method, Pajak yang Ditangguhkan harus dipandang sebagai kewajiban
ekonomis untuk Pajak yang Terhutang atau sebagai aktiva untuk Pajak yang Dibayar
Dimuka.
3. Net of Tax Method
Menurut metode ini, melaporkan Pajak yang Ditangguhkan dalam neraca tidak
dibenarkan karena Biaya Pajak Penghasilan yang dilaporkan dalam Laporan Rugi Laba
harus sama dengan jumlah Pajak Penghasilan Terhutang atau pajak yang harus dibayar
untuk periode yang bersangkutan. Selisih yang terjadi karena adanya perbedaan laba kena
pajak dan laba akuntansi tidak dibukukan dalam suatu rekening tersendiri, tetapi
ditambahkan atau dikurangkan kepada aktiva atau hutang tertentu serta unsur pendapatan
atau biaya yang bersangkutan.

C. Prinsip Prinsip Alokasi Pajak

7
Pada dasarnya Alokasi Pajak Penghasilan bagi perusahaan sebagai wajib pajak bisa
mencakup dua hal :

1. Interperiod Allocation
Yaitu proses alokasi pajak penghasilan antar periode tahun buku yang satu dengan
periode-periode tahun buku berikut atau sesudahnya. Alokasi pajak penghasilan antar periode
tahun buku ini diperlukan karena adanya perbedaan terhadap jumlah laba kena pajak dan laba
akuntansi.
2. Intraperiod Allocation
Yaitu proses alokasi pajak penghasilan dalam suatu periode akuntansi karena adanya
perbedaan tarif pajak yang dikenakan terhadap tiap-tiap komponen laba atau pendapatan
(Misal : tarif pajak untuk laba sebelum pos luar biasa berbeda dengan tarif pajak untuk laba
atau rugi luar biasa.) Karena Undang-Undang Perpajakan di Indonesia tidak mengenal
diskriminasi tarif yang diberlakukan terhadap tiap-tiap komponen laba atau pendapatan,
maka masalah Intraperiod. Allocation praktis tidak ,pernah dijumpai, sehingga pembahasan
lebih dititikberatkan pada masalah Interperiod Allocation.

Alokasi Pajak Penghasilan Antar Periode Tahun Buku (Interperiod Allocation)

CONTOH KASUS
Pada tanggal 1 Januari 1997 sebuah perusahaan membeli sebuah villa berikut tanahnya
dengan harga Rp 90.000.000,- Sebesar Rp 15.000.000,- diantaranya merupakan harga tanahnya.
Menurut ketentuan perpajakan, bangunan villa harus disusut berdasar metode garis lurus dengan
taksiran umur 20 tahun. Sementara kebijakan akuntansi pada perusahaan tersebut menetapkan
bahwa bangunan villa disusutkan berdasar metode garis lurus dengan taksiran umur 10 tahun.
Apabila perusahaan memperoleh pendapatan sebesar Rp 10.000.000,- dengan biaya operasi
(tidak termasuk biaya depresiasi) sebesar Rp 1.000.000,- setiap tahun selama 20 tahun, sedang
tarif pajak yang berlaku untuk tingkat laba yang dihasilkan perusahaan pada saat itu sebesar
40%, maka perhitungan jumlah pajak penghasilan setiap tahun selama 20 tahun adalah sbb :

8
Keterangan Masa 10 tahun pertama Masa 10 tahun berikutnya

SPT Akuntansi SPT Akuntansi

Pendapatan 10.000.000 10.000.000 10.000.000 10.000.000

Biaya Usaha 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000

Biaya Depresiasi 3.750.000 7.500.000 3.750.000 -

Laba Kena Pajak 5.250.000 1.500.000 5.250.000 9.000.000

Pajak Penghasilan 2.100.000 600.000 2.100.000 3.600.000

Tanpa alokasi pajak penghasilan, maka besarnya pajak penghasilan yang harus disajikan dalam
laporan Rugi/Laba akan sama jumlahnya dengan pajak yang terutang menurut kantor pajak
(dalam SPT), yaitu sebesar Rp 2.100.000,- per tahun, yang berlangsung selama 20 tahun.

Dengan demikian, Laporan Rugi Laba perusahaan akan tampak sebagai berikut :

Laporan Rugi Laba Partial


(Tanpa Alokasi Pajak Antar Periode)

Masa 10 tahun Masa 10 Tahun


Pertama Berikutnya

Pendapatan 10.000.000 10.000.000

Biaya Usaha ( 1.000.000) ( 1.000.000)

Depresiasi Bangunan ( 7.500.000) -

Laba sebelum PPh 1.500.000 9.000.000

Pajak Penghasilan ( 2.100.000) ( 2.100.000)

9
Laba (Rugi) Bersih 600.000 6.900.000

Pada tahun buku 1997 Pajak Penghasilan dicatat dengan jurnal :


(D) Pajak Penghasilan Rp 2.100.000,- -
(K) Hutang Pajak Penghasilan - Rp 2.100.000,-
Perbedaan tarif depresiasi bangunan villa tersebut mengakibatkan Laporan Rugi-Laba untuk
masa 10 tahun pertama menunjukkan adanya kerugian sebesar Rp 600.000,- per tahun, dan tarif
pajak efektif sebesar 140 % dari laba sebelum pajak.
Sedangkan untuk 10 tahun berikutnya, di mana biaya depresiasi tidak lagi diperhitungkan, tarif
pajak efektifnya menjadi sebesar 23 % dari Laba sebelum pajak.
Alasan Perlunya Alokasi Pajak
Tanpa Alokasi Pajak, Laporan Perhitungan Rugi Laba untuk Perusahaan tersebut tidak
menunjukkan jumlah yang realistis jika dibandingkan dengan laba yang diperoleh perusahaan.
Hal ini disebabkan biaya depresiasi untuk tujuan akuntansi diperhitungkan atas dasar taksiran
umur bangunan selama 10 tahun, sedang untuk perhitungan pajak penghasilan ditetapkan umur
bangunan adalah 20 tahun. Sebagai akibatnya, Pajak Penghasilan dilaporkan (dalam Laporan
Rugi Laba) tidak sesuai dengan Laba Kena Pajaknya.
Oleh karena itu perlu diadakan alokasi pajak antar periode agar Pajak Penghasilan menunjukkan
korelasinya dengan laba yang diperoleh perusahaan, sehingga aplikasi prosedur alokasi pajak
pada Laporan Perhitungan Rugi Laba perusahaan setiap tahunnya selama 20 tahun sbb :

Laporan Rugi Laba Partial (Dengan Alokasi Pajak Antar Periode)

Masa 10 tahun Masa 10 tahun


pertama Berikutnya

Pendapatan 10.000.000 10.000.000

Biaya Usaha ( 1.000.000) ( 1.000.000)

Depresiasi Bangunan ( 7.500.000) -

10
Laba sebelum Pajak 1.500.000 9.000.000

Pajak Penghasilan 40 % ( 600.000) ( 3.600.000)

Laba Bersih 900.000 5.400.000

Dengan alokasi pajak antar periode tidak berarti jumlah pajak yang harus dibayar perusahaan
tiap tahunnya menjadi berbeda. Pada dasarnya perusahaan tetap diwajibkan membayar pajak
penghasilan sebesar Rp 2.100.000,- setiap tahun selama 20 tahun.

Perbandingan kedua prosedur tersebut dilihat dari segi pengaruhnya terhadap pajak penghasilan
yang dilaporkan dalam Laporan Rugi Laba adalah sbb :

Jumlah Pajak Penghasilan


Keterangan
Disajikan dalam Laporan Rugi Laba
Dibayarkan
Tanpa Aloksi Dengan Alokasi

Masa 10 tahun Pertama :

1. Jumlah per-tahun 2.100.000 2.100.000 600.000

2. Jumlah selama 10 tahun 21.000.000 21.000.000 6.000.000

Masa 10 tahun Berikutnya :

1. Jumlah per-tahun 2.100.000 2.100.000 3.600.000

2. Jumlah selama 10 tahun 21.000.000 21.000.000 36.000.000

TOTAL (20 tahun) 42.000.000 42.000.000 42.000.000

Prosedur Pembukuan Alokasi Pajak Antar Periode

11
Contoh : Perusahaan melakukan setoran pajak penghasilan setiap bulan sebesar Rp 125.000,-
dimulai pada bulan Januari 1997. Dengan demikian, sampai dengan akhir bulan Desember 1987
Pajak Penghasilan yang sudah disetor sebesar Rp 1.375.000,- (Rp 125.000 x 11 bulan Setoran
pajak dalam bulan tertentu diperlakukan sebagai angsuran pajak untuk bulan sebelumnya
Januari 1997 untuk Desember 1996, Februari 1997 untuk Januari 1997, dst)
Apabila Pajak Penghasilan yang Terhutang untuk tahun 1997 sebesar Rp 2.100.000,- dan Pajak
Penghasilan yang diperhitungkan dari laba akuntansinya sebesar Rp 600.000,- maka jurnal yang
dibuat untuk tahun 1997 adalah sbb :
Mencatat setoran Pajak Penghasilan bulanan (Februari Desember 1997)
(D) Uang muka Pajak Penghasilan Rp 125.000,- -
(K) Kas - Rp 125.000,-
Mencatat Pajak Penghasilan yang diperhitungkan untuk tahun 1987
(D) Pajak Penghasilan Rp 600.000,- -
(K) Hutang Pajak Penghasilan - Rp 600.000,-
Mencatat perhitungan penyelesaian Uang Muka Pajak Penghasilan Terutang menurut SPT
tahunan pada tahun 1997
(D) Pajak Penghasilan yang Ditangguhkan Rp 1.500.000,- -
(K) Uang Muka Pajak Penghasilan - Rp 1.375.000,-
(K) Hutang Pajak Penghasilan - Rp 125.000,-
Dalam Buku Besar perusahaan, rekening Pajak Penghasilan Ditangguhkan akan tampak sbb :

Pajak Penghasilan Ditangguhkan

Tanggal Uraian No. Debet Kredit Saldo


Bukti

31/12/1997 - - 1.500.000 - 1.500.000

31/12/1998 - - 1.500.000 - 3.000.000

dst

31/12/2006 - - 1.500.000 - 15.000.000

12
Pada akhir tahun 1997 rekening Pajak Penghasilan Ditangguhkan bersaldo debet sebesar
Rp1.500.000,- yang akan disajikan dalam neraca sebagai Aktiva Lain-Lain. Situasi yang
demikian akan berlangsung untuk jangka waktu 10 tahun, yaitu sampai 31 Desember 1996,
sehingga pada akhir tahun 2006 tersebut rekening Pajak Penghasilan Ditangguhkan akan
mempunyai saldo debet sebesar Rp 15.000.000,-
Untuk masa 10 tahun berikutnya, jumlah pajak penghasilan yang harus dibayarkan setiap
tahunnya sama, yaitu sebesar Rp 2.100.000,- sedangkan pajak penghasilan yang dilaporkan
dalam Laporan Rugi Laba setiap tahunnya sebesar Rp 3.600.000,-. Sehingga dengan demikian,
selama 10 tahun terakhir tersebut rekening Pajak Penghasilan yang ditangguhkan harus dikredit
sebesar Rp 1.500.000,- setiap tahun.
Jurnal yang dibuat perusahaan adalah sbb :
Mencatat PPh yang diperhitungkan untuk tahun 2007
(D) Pajak Penghasilan Rp 3.600.000,-
(K) Hutang Pajak Penghasilan - Rp 3.600.000,-
Mencatat perhitungan penyelesaian Uang Muka PPh dan PPh terutang menurut SPT tahunan
dalam tahun 2007
(D) Hutang Pajak Penghasilan Rp 2.875.000,-
(K) Uang Muka Pajak Penghasilan - Rp 1.375.000,-
(K) Pajak Penghasilan yang Ditangguhkan - Rp 1.500.000,-
Dalam Buku Besar perusahaan, rekening Pajak Penghasilan Ditangguhkan akan tampak sbb :

Pajak Penghasilan Ditangguhkan

Tanggal Uraian No. Debet Kredit Saldo


Bukti

31/12/2006 - - - - 15.000.000

31/12/2007 - - 1.500.000 13.500.000

31/12/2008 - - - 1.500.000 12.000.000

13
dst

31/12/2015 - - - 1.500.000 1.500.000

31/12/2016 - - - 1.500.000 -

Melalui prosedur alokasi pajak yang demikian tersebut, maka pada akhir masa kegunaan
bangunan, yaitu pada akhir tahun 2016, rekening Pajak Penghasilan Ditangguhkan akan bersaldo
NIHIL (0). Berbagai Faktor yang Memerlukan Prosedur Alokasi Pajak antar Periode. Ada
banyak faktor yang menyebabkan timbulnya perbedaan Pajak Penghasilan menurut ketentuan
perpajakan, dan Pajak Penghasilan yang dihitung berdasar laba akuntansi. Faktor-faktor tersebut
dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu :
1. Perbedaan Waktu (Time Differences)
Selisih terjadi apabila terdapat item-item dari pendapatan dan biaya yang diperhitungkan dalam
penentuan laba akuntansi untuk suatu periode, tetapi diperhitungkan dalam penentuan
pendapatan atau laba kena pajak untuk periode yang berlainan. Beberapa trransaksi yang
menyangkut perbedaan waktu tersebut antara lain :
- Pendapatan atau laba kena pajak diperhitungkan sebagai bagian dari Pendapatan Kena Pajak
lebih awal dari pada pengakuannya dalam Laba Akuntansi. Contoh : Pendapatan Sewa, Royalti,
Jasa, Bunga yang diterima dimuka
- Pendapatan atau laba yang diperhitungkan sebagai bagian dari Pendapatan Kena Pajak lebih
akhir daripada pengakuannya dalam Laba Akuntansi.Contoh : Laba Kotor untuk Penjualan
Angsuran, Laba Atas Kontrak Jangka Panjang (Akuntansi metode % penyelesaian, Pajak
Metode Kontrak Selesai) Pendapatan atau hak atas laba dari investasi pada perusahaan afiliasi
(Akuntansi metode equity, Pajak metode Harga Pokok)
- Biaya atau rugi yang diperhitungkan dalam penentuan pendapatan atau laba kena pajak lebih
awal dari pada pengakuannya dalam penentuan laba akuntansi.
Penggunaan metode depresiasi yang semakin berkurang jumlahnya untuk tujuan pajak, sedang
untuk tujuan akuntansinya digunakan metode garis lurus, Penggunaan taksiran umur aktiva tetap
yang lebih pendek sebagai dasar perhitungan depresiasi untuk tujuan pajak dibanding untuk
tujuan akuntansinya. Biaya bunga selama masa konstruksi aktiva tetap yang dibebankan kepada

14
pendapatan pada saat terjadinya transaksi untuk tujuan pajak, sedang untuk tujuan akuntansi
dikapitalisasi sebagai bagian dari harga perolehan aktiva tetap ybs. Biaya atau rugi yang
diperhitungkan lebih akhir dalam penentuan lba kena pajak dari pada pengakuannya dalam
penentuan laba akuntansi. Contoh : Taksiran biaya garansi dan hadiah. Taksiran rugi penurunan
nilai persediaan, kontrak pembelian dengan penyerahan kemudian, kerugian piutang, dan
penurunan nilai surat berharga. Taksiran kerugian dari klaim ganti kerugian atau kontingensi
2. Perbedaan Permanen (Permanent Differences)
Selisih ini terjadi karena transaksi yang diperhitungkan dalam penentuan laba akuntansi tetapi
tidak diakui untuk tujuan pajak. Contoh : Pendapatan bunga dari deposito berjangka, Amortisasi
Goodwill, amortisasi biaya pendirian, Biaya Premi asuransi jiwa para karyawan, Biaya
kompensasi karyawan yang dikaitkan dengan program pemberian hak beli saham kepada
karyawan ybs. Transaksi yang diakui untuk tujuan pajak, tetapi tidak diakui untuk tujuan
akuntansi. Contoh : Rugi Operasi Selisih permanen ini tidak pernah terkompensasikan, atau
dengan kata lain, selisih permanen tidak dibenarkan atau tidak memerlukan adanya alokasi antar
periode untuk tujuan akuntansinya. Sehingga apabila dalam suatu periode terdapat selisih
permanen, maka akan dibebankan seluruhnya kepada periode ybs.
Contoh : PT GUNADARMA melaporkan laba sebelum pajak (Laba Akuntansi) untuk tahun 2008
s.d. 2010 sebesar Rp 5.000.000,- per tahun. Tarif pajak yang berlaku 30 %. Informasi yang
diperoleh sehubungan dengan pajak penghasilan adalah sbb : Laba kotor dari penjualan
angsuran pada tahun 2008 sebesar Rp 525.000,-. Laba tersebut untuk keperluan perpajakan
seharusnya diakui secara bulanan selama 18 bulan terhitung sejak tanggal 1 Januari 2009,
dengan jumlah yang sama setiap bulan. Sedangkan untuk keperluan akuntansi, laba tersebut
diakui seluruhnya dalam tahun buku 2008. Perusahaan telah mengamortisasi Biaya Pendirian
sebesar masing-masing Rp 375.000,- untuk tahun 2009 dan 2010 yang ternyata tidak
diperkenankan untuk tujuan perpajakan. Rekonsiliasi yang dibuat sehubungan dengan adanya
perbedaan perhitungan antara perusahaan dengan kantor Pajak adalah sbb :

Rekonsiliasi Laba Akuntansi dan Laba Kena Pajak serta Perhitungan Pajak Penghasilan
Terhutang

2008 2009 2010

15
Jumlah Laba Akuntansi 5.000.000 5.000.000 5.000.000

Selisih Permanen :
Amortisasi Biaya Pendirian - ( 375.000) ( 375.000)

Selisih Temporer :
Laba Kotor Penjualan Angsuran

- Jumlah mula-mula ( 525.000) - -

- Jumlah reversing - 350.000 175.000

Jumlah Laba Kena Pajak 4.475.000 5.725.000 5.550.000

Pajak Penghasilan Terhutang (30 %) 1.342.500 1.717.500 1.665.000

Untuk mencatat ke dalam rekening yang berhubungan dengan Pajak Penghasilan, maka perlu
dibuat suatu perhitungan yang teliti, khususnya terhadap jumlah pajak yang ditangguhkan.

Perhitungan Pajak Penghasilan dan Pajak Yang Ditangguhkan

2008 2009 2010

Jumlah PPh Terhutang 1.342.500(K) 1.717.500 (K) 1.665.000 (K)

Pengaruh selisih laba temporer thd PPh 157.500 (K) 105.000 (D) 52.500 (D)
(Pajak yang ditangguhkan) ***

Pajak Penghasilan diperhitungkan 1.500.000 1.612.500 (D) 1.612.500 (D)


(D)

*** Perhitungan : Jumlah Selisih Laba Temporer x tarif PPh


2008 Rp 525.000 x 30 % = Rp 157.500,-
2009 Rp 350.000 x 30 % = Rp 105.000,-
2010 Rp 175.000 x 30 % = Rp 52.500,-

16
Atas dasar perhitungan di atas, maka jurnal yang dibuat untuk mengakui biaya Pajak Penghasilan
adalah sbb :
Tanggal 31/12/2008
(D) Pajak Penghasilan Rp 1.500.000,- -
(K) Hutang Pajak Penghasilan - Rp 1.342.500,-
(K) Pajak Penghasilan Ditangguhkan - RP 157.500,-

Tanggal 31/12/2009
(D) Pajak Penghasilan Rp 1.612.500,- -
(D) Pajak Penghasilan Ditangguhkan Rp 105.000,- -
(K) Hutang Pajak Penghasilan - Rp 1.717.500,-

Tanggal 31/12/2010
(D) Pajak Penghasilan Rp 1.612.500,- -
(D) Pajak Penghasilan Ditangguhkan Rp 52.500,- -
(K) Hutang Pajak Penghasilan - Rp 1.665.000,-

Pada akhir tahun buku 2010, yaitu pada saat berakhirnya masa kompensasi dari selisih temporer,
maka saldo rekening Pajak Penghasilan Ditangguhkan menjadi NIHIL (0).

17
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pajak Penghasilan (PPh) bersifat wajib untuk dikeluarkan oleh semua Pengusaha
Kena Pajak (PKP) atas tambahan kemampuan ekonomis (laba) yang didapatkan dan
tarifnya telah ditetapkan oleh undang undang. Objek pajak penghasilan adalah laba
yang dihasilkan suatu perusahaan, dan subjek pajak dari pajak penghasilan adalah
pengusaha kena pajak (PKP).

18