Vous êtes sur la page 1sur 1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Seiring peningkatan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang
kesehatan, semakin meningkat pula kualitas hidup dan kesehatan masyarakat yang salah
satunya ditandai dengan bertambahnya angka usia harapan hidup. Sejalan dengan
bertambahnya angka usia harapan hidup, semakin banyak ditemukan penyakit yang
berhubungan dengan pertambahan usia, diantaranya adalah pembesaran prostat jinak atau
istilah lainnya adalah Benigna Prostatic Hypertrophy (BPH)
Benigna Prostatic Hypertrophy (BPH) adalah pembesaran prostat yang jinak,
bervariasi berupa hiperplasia kelenjar atau hiperplasia fibromuskular. Walaupun selama ini
dikenal dengan hipertrofi prostat namun secara histologis yang dominan adalah hiperplasia
(Sjamsuhidajat, 2005).
Lanjut usia (lansia) pada umumnya mengalami perubahan-perubahan pada jaringan
tubuh, yang disebabkan oleh proses degenerasi terjadi terutama pada organ-organ tubuh,
dimana tidak ada lagi perkembangan sel seperti otot, jantung dan ginjal tetapi kurang pada
organ-organ dimana masih ada mitosis seperti hepar. Proses degenerasi menyebabkan
perubahan kemunduran fungsi organ tersebut, termasuk juga sistem traktus urinarius,
sehingga menyebabkan macam-macam kelainan atau penyakit urologis tertentu.
Menurut penelitian Rasyidin yang dilakukan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Ibnu
Sina Makassar menunjukkan bahwa responden yang berusia lansia sebagian besar
mengalami Hipertropi Prostat (88,9%) sedangkan responden yang berusia dewasa hanya
setengah yang mengalami Hipertropi Prostat (50,0%) (Rasyidin, 2013).
Menurut seluruh dunia 2002 di Global Kanker station statistik, ada sekitar 680.000
pasien dengan Kanker per tahun. Kanker prostat dicatat untuk 11,7% dari semua kanker
pada laki-laki, peringkat kedua hanya untuk kanker paru-paru. Tingkat kejadian disesuaikan
usia pada populasi dunia adalah 25,3 (per 100.000 populasi), yang berada di peringkat
kedua, melebihi kanker lambung. Tingkat kejadian tertinggi di Amerika Utara, diikuti oleh
Australia, Eropa, dan Afrika. Kanker prostat adalah paling sering terjadi di Asia. Meskipun
sulit untuk menentukan jumlah pasien dengan benign prostatic hyperplasia, survei pasien
menunjukkan bahwa jumlah pasien adalah 319.000 pada tahun 1996, 334.000 pada tahun
1999, 398.000 pada tahun 2002, dan 459.000 pada tahun 2002 di Jepang(Suzuki, Kazuhiro,
2009).
Umumnya proses hiperplasia mulai pada umur 30 tahun, dengan kejadian 8% pada
laki-laki 30-40 tahun, 40-50% pada laki-laki berumur 51-60 thn dan pada umur lebih dari 80
tahun angka kejadian lebih dari 80%. Pada umur 30-40 tahun terjadi hiperplasia
mikroskopis, 40-50 tahun hyperplasia makroskopis dan setelah umur 50 tahun
hiperplasia sudah menimbulkan gejalah klinik.( Berry MJ, Collin MN 2004, Palinrungi AM
2008).
Penyebab BPH belum diketahui secara pasti, tetapi sampai saat ini berhubungan
dengan proses penuaan yang mengakibatkan penurunan kadar hormon pria, terutama
testosteron. Hormon Testosteron dalam kelenjar prostat akan diubah menjadi
Dihidrotestosteron (DHT). DHT inilah yang kemudian secara kronis merangsang kelenjar
prostat sehingga membesar.(Amalia, Rizki, 2002)
Prevalensi BPH pada otopsi hampir sama pada berbagai ethnis. Di Amerika Serikat
hampir 1/3 laki-laki berumur 40-79 thn mempunyai gejala traktus urinarius bagian
bawah sedang sampai berat dengan penyebab utama adalah BPH.( Kabala J, Sibley GN,
Jenkis JPR 2002, Alam AM,Sugimura K,Okizuka H 2003)
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti bermaksud untuk mengetahui
hubungan antara pengaruh faktor usia terhadap kejadian Benigna Prostatic Hyperplasia.