Vous êtes sur la page 1sur 46

AKIDAH AKHLAK

DASAR DAN TUJUAN AKIDAH ISLAM

A. Dasar aqidah islam


Akidah menurut bahasa adalah berasal dari kata Al-aqdu yang berarti ikatan, At-Tausiku yang berarti
kepercayaan atau keyakinan yang kuat, Al-Ihkamu artinya mengukuhkan/ menetapkan, dan Ar-Robtu
biquwwah yang berarti meningkat yang kuat.
Menurut istilah, akidah islam adalah ajaran tentang kepercayaan yang teguh terhadap ajaran yang
meliputi kemaha Esaan Allah SWT (tauhid) dan segala ajaranya, yang tercakup kedalam rukun iman
yang enam, yaitu iman kepada Allah SWT, iman kepada malaikat,iman kepada kitab, iman kepada
rasul, iman kepeda hari kiamat, dan iman kepada qohdo dan qodhar.
Dari definisi diatas dapat dipahami bahwa dasar akidah islam adalah rukun iman yang enam. Yaitu:
iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada rasul, iman kepada kitab, iman kepada hari
kiamat, iman kepada Qodho (takdir baik) dan Qodhar (takdir buruk)

1. Beriman kepada Allah SWT


Akidah yang mendasar adalah beriman kepada Allah, beriman kepada Allah berarti keyakinan teguh
akan wujud Allah, bahwasanya dia adalah Rabb dan pemilik segala sesuatu, hanya Dia sang pencipta
dan hanya dia yang berhak disembah (diibadahi) tidak ada sekutu baginya.ungkapan pada kata tauhi,
(laailaahaillallah), pada kata ilah, tidak hanya mengandung kataTuhan, akan tetapi juga mengandung
maknayang ditaati. Oleh karenanya berakidah tauhid tidak hanya mengakui adanya Allah yang Esa,
yang menciptakan segala sesuatu, akan tetapi harus juga taat kepada apa yang diperintahkan dan apa
yang dilarangnya.
Tauhid adalah ajaran yang dibawak oleh para Nabi mulai Nabi Adam As sampai pada nabi Muhammad
Saw. Ajaran yang dibawa nabi semuanya adalah ajaran tauhid, yaitu agar semua manusia agar
menyembah kepada Allah dengan tidak mempersekutukanya.Dialam ini tidak ada yang panatas
dijadikan sebagai tuhan selain Allah. alQuran menegaskan bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa
orang yang mempersekutukanNya;

Artinya; Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni dosa selain
dari syirik itu, bagi siapa yang dikehendakinya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah maka
sesungguhnya ia telah berbuat dosa yang besar.(Q.S An-Nisa; 48)
Allah adalah tuhan sekalian alam hanya Allahlah yang Esa, tidak pernah mempunyai anak dan tidak
pernah beranak, serta tidak ada sesuatu apapun yang sama dengan dia, sebagaimana ditegaskan dala
Quran Surat Al-Iklhas;

Artinya; Katakanlah Dialah Allah yang maha Esa. Allah SWT tuhan yang bergantung pada tiap-tiap
sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan
dia (Q.S al-Ikhlass; 1-4).
Jika diantara langiot dan bumi ini ada tuhan selain Allah maka keduanya antara langit dan bumi ini
akan hancur binasa.
2. Beriman kepada para malaikat

Malaikat adalah mahluk ghoib ciptaan Allah yang di ciptakan dari cahaya, mereka dianugrahkan sifat
kepatuhan, dan selalu taat kepada Allah atas apa yang telah Allah perintahkan kepadanya, oleh karena
itu malaikat tidak pernah durhaka atas apa yang telah aAllah perintahkan kepadanya.
Allah berfirman;

Artinya; malaikat itu tidak mendurhakai Allahterhadap apa yang diperintahkan kepadanya dan mereka
selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(Q.S; At-tahrim: 6)
Beriman kepada malaikat cukup dnagan hal-hal sebagai berikut;
a) Beriman dan mempercayai akan wujudya(keberadaan) mereka.
b) Beriman dan mempercayai para malaikat yang telah diajarkan namanya kepada kita, yaitu 10
malaikat. Sedangkan para malaikat yang kita tidak mengetahui namanya, maka kita hanya mengimani
secara menyeluruh.
c) Beriman kepada sifat-sifat malaikat, misalnya ketika malaikat jibril menyampaikan wahyu kepada
Nabi, malaikat itu dengan izin Allah bisa berubah-rubah.
d) Beriman dan mempercayai tugas-tugas yang nereka lakukan. Seperti menyampaikan wahyu,
mencatat amal baik dan buruk manusia, menanyai mayat dalam kubur, menjaga pintu neraka, menjaga
pintu surga, menyabut nyawa dan meniup terompet sangkakala, dan lain sebagainya.

3. Beriman kepada kitab-kitab Allah

Beriman kitab kepada kitab-kitab Allah SWT adalah meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa Allah
SWT memiliki kitab-kitab yang diturunkan-Nya kepada para nabi dan rasul-Nya; yang benar-benar
merupakan kalam (firman,ucapan)-Nya.Kitab-kitab itu adlah cahaya dan petunjuk dari Allah SWT.Hal
ini ditegaskan dalam firman Allah SWT:

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman,tetaplah beriman kepada Allah SWT, rasul-Nya dan kitab-
Nya yang diturunkan kepada rasul-Nya,serta kitab-kitab yang diturunkan kepada nabi
sebelumnya.barang siapa yang ingkar terhadap Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabny, rasul-
rasulNya, dan hari akhir, maka sesungguhnya orang itu telah tersesat sangat jauh. (Q.S An-nisa;136)

Alquran merupakan kitab penyempurna dari kitab sebelumnya, seluruh kitab yang dahulu semuanya
tergabung dalam kitab alquran. Alquran adalah kalam Allah yang diturunkan, bukan makhluk, akan
tetapi berasal dari Allah dan akan kembali kepadanya.
Beriman kepada kitab Allah SWT mengandung empat unsur, yaitu:
a) mengimani kepada kitab-kitab itu benar-benar diturunkan dari Allah.
b) Mengimani kitab-kitab yang sudah kita kenali, seperti Al-Quran, taurad, injil, dan zabur.
c) Membenarkan berita yang ada didalam alquran dan kitab-kitab yang terdahulu yang tidak
bertentangan dengan Alquran.
d) Tunduk dan mengerjakan apa yang diperintahgkan didalam alquran dan apa yang dilarang oleh
alquran, karena perintah bdan larangan yang ada didalam alquran itu adalah perintah dan larangan
Allah SWT.

4. Beriman kepadapara nabi dan Rasul


Rasul adalahsetiap orang yang mendapat wahyu agama dan mendapat perintah untuk menyampaikanya.
Nabi yang pertama adalah Adam As, dan yang terahir adalah nabi Muhammad Saw.
Allah SWT beer firman;

Artinya; hatakanlah hai orang-orang mukmin. Kami beriman kepada Allah SWT dan apa yang
diturunkan kepada kami dan apayang ditrurunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, yaqub, dan anak
cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dab Isa serta apa yng diberikan kepada nabi-nabi dari
tuhannya. Kami yidak membedakan seorangpun diantara merekadan kami hanya tunduk dan patuh
kepada-Nya.(QS. Al-Baqarah; 136)

Allah SWT selalu mengutus nabi dan rasuluntuk membimbing mereka pada jalanyaatau yang
meneruskan ajaran nabi dan rasul yang diturunkan sebelumya.para rasul Allah SWT adalah manusia
biasa, akan tetapi dia adalah manusia terbaik dan pilihan Allah. Para nabi dan rasul mendapat derajat
nabi dan rasul bukan dengan usaha mereka akan tetapi Allahlah yang mengangkat derajat mereka.
Beriman kepada nabi dan rasul meliputi hal-hal sebagai berikut;
a) mempercayai bahwa kerasulan mereka adalah benar, dan barang siapa yang menginkari salah satu
dari mereka berarti orang tersebut mengingkari seluruh nabi dan rasul.
b) Membenarkan berita-berita yang sahih tentang mereka
c) Mengamalkan ajaran (syariat) rasul yang terahir dari mereka, yaitu rasul yang diutus kepada setiap
umat manusia, yaitu nabi Muhammad Saw.

5. Beriman Kepada Hari Kiamat

Hari kiamat adalah hari dimana Allah SWT menghancurkan manusia danseluruh ciptaanya dan
membangkitkan manusia kembali untuk dihisab dan diberi balasan. Sesudah terjadinya hari kiamat,
maka ditetapkan golongan ahli surga dan ahli neraka. Allah SWT berfirman;

Artinya; maka apabila sekali sangkakala ditiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu
keduanya dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah kiamat, dan terbelahlah
langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. (QS. Al-Haqqah; 13-16)

Makna beriman kepada hari kiamat adalah percaya dan membenarkan dengan keyakinan yang pasti
akan datangnya dan beramal salah untuk menghadapinya.
Beriman kepada hari kiamat meliputi empat hal yaitu;
a) Beriman dan mempercayai akah adanya kebangkitan sesudah kematian.
b) Percaya akan adanya balasan atas semua perbuatan, sebagaimana Allah jelaskan dalam Quran surat
Al-Zalzalah ayat 7-8;
c) Beriman dan mempercayai akan adanya surga dan neraka.
d) Beriman kepada sesudah terjadsinya kematian, yaitupertanyaan malaikat sesudah sesorang dikubur
dan azab kubur.

6. Beriman Kepada Takdir (Qada Dan Qadar)


Takdir adalah ketetapan Allah terhadap alam semesta, pencatatan dan kehendaknya, dan penciptaan
dari segala sesuatu tersebut. Allah SWT berfirman;

Artinya; tiada bencanapun yang menimpa bumi dan (tidak pula) dirimu sendiri melainkan sudah tertulis
dalam (lauhul mahfuz) sebelum kami ciptakanya. Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi
Allah SWT. (QS. Al-Hadid; 22)
Beriman kepada takdir adalah percaya dan menyakini seyakin-yakinyabahwa Allah SWt telah
mengetahu apa yang sedang dan akan terjadi. Setiap apa yang terjadi di langit dan bumi ini semuanya
tidak pernah terlepas dari catatanya, termasuk segala perbuatan baik dan buruk manusia.
Oleh karena itu orang-orang yang beriman kepada qada dan qadar mereka merasakan ketentraman dan
kedamaian jiwa.

B. Tujuan akidah islam


Dengan adanya pondasi akidah islam seperti yang telah dipaparkan diatas,tujuan yang dicapai adalah;
1. Melluruskan dan mengikhglaskan niat dan ibadah kepada Allah SWT. Karena dia adalah pencipta
yang tidak ada sekutu baginya, tujuan dari ibadah hanya diperuntukan kepada Nya.
2. Membebaskan akal dan pikiran dari kosongnya hati.
3. Ketenangan jiwa dan pikiran.
4. Meluruskan tujuan dan perbuatan dari penyelewengan dalam beribadah kepada Allah SWT. Dasar
dari ibadah ini dalah adalah mengimani para rasul mengikuti jalan merekan yang lurus.
5. Bersungguh-sungguh dalam beramal baik dengan mengharapbalasan dari Allah SWT, serta menjauhi
perbuatan dosa karena takut akan balasanya.
6. Mencintai umat yang kuat serta menjalin rasa kesatuan yang kuat sesama umat, dan berjuang
menegkkan agama Allah.
7. Meraih kebahagiaan dunia dan akherat dengan beramal sholeh demi meraih pahala dan kemuliaan.

C. Hubugan Iman, Islam Dan Ikhsan


Iman, islam, dan ikhsan merupakan suatu bagian yang tidak bisa di pisahkan antara satu dengan lainya.
Hal ini dijelaskan dalam hadis Nabi yang diriwayatkan ole imam muslim yaitu;

Artinya: Dari Umar r.a. beliau berkata pada suatu hari ketika kami duduk didekat Rasulullah SAW
tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Pada
dirinya tidak tampak bekas dari perjalalan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang
mengenalnya. Kemudian dia duduk dihadapan Nabi, lalu menempelkan kedua lututnya kelutut Nabidan
meletakkan kedua tanganya diatas kedua pahanya kemudian berkata; wahai Muhammad, terangkanlah
kepadaku tentang Islam, Rasulullah menjawab, islam yaitu hendaklah kamu mengucapkan tidak ada
tuhan yang patut disembah kecuali Allah, dan sesungguhnya muhammad adalah ututsan Allah,
hendaklah kamu mendirikan sholat, membayar zakat, menunaikan puasa dibulan ramadhan dan
mengerjakan haji jika kamu orang yang mampu, orang itu berkata engkau benar, kami heran dia yang
bertanya dan dia pula yang membenarkan. Lalu terangkanlah kepadaku tentang iman. Rasulullah
menjawab; hendaklah kamu beriman kepada Allah, keppada malaikat Nya, kitab-kitab Nya, rasul-rasul
Nya, hari akhir, dan hendaklah kamu beriman kepada qada dan qadar, orang tadi berkata engkau benar,
lalu orang itu bertanya lagi; lalu terangkanlah kepadaku tentang ikhsan, beliau menjawab, hendaklah
engkau beribadah seolah-olah engkau melihatnya, namun jika engkau tidak dapat beribadah seolah-
olah melihatnya, sesungguhnya Ia melihat engkau, orang itu berkata lagi, beritahukanlah kepada kami
tentang hari kiamat, beliau menjawab, orang yang ditanya tidak lebih tahu dari orang yang bertanya,
orang itu kemudian berkata lagi; beritahukanlah kepadaku tanda-tandanya, beliau menjawab, apabila
budak melahirkan tuanya, dan orang-orang baduwi yang bertelanjang kaki, yang miskin lagi
mengembala domba berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan, kemudian orang itu pergi, dedang
aku tetap tinggal beberapa saat lamanya, lalu nabi bersabda, wahai Umar! Tahukah engkau siapa
orang y6ang bertanya itu, aku menjawab, Allah dan Rasulnyalah yang lebih tahu, lalu beliau bersabda;
dia adalah Malaikat Jibril yang yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian. (HR.
Muslim)
Dari hadis diatas, menunjukan bahwa iman, islam, dan ikhsan, yang semuanya disebut ad-din/ agama
yang mencakup 3 tingkatan, islam, iman dan ikhsan.
1. Tingkatan islam, yaitu mencakup rukun iman yang lima.
2. Tingkatan iman yaitu mencakup rukun iman yang lima
3. Ikhsan adalah sikap menyembah kepada Tuhanya dengan penuh mengharap dan keinginan, seolah
olah engkau melihatnya, dan inilah derajat ikhsan yang sempurna, akan tetapi jikAa kita tidak dapat
beribadah seakan-akan engkau melihatnya, maka ibadah kita merasa takut dan cemas akan siksanya,
jadi tingkatan ikhsan mencakup perkara lahir dan batin,
Dari uraian diatas jelas perbedaan antara islam, iman, dan ikhsan yaitu islam adal perihal ibadah
(jasmaniah), iman prihal tentang keyakinan (rohaniah), dan ikhsan yaitu mencakup kedua-duanya (lahir
maupun batin)

Sifat-Sifat Wajib Allah SWT


Sifat-sifat wajib Allah SWT terdapat 20 sifat, antara lain sebagai berikut..
1. Wujud
Allah SWT. bersifat wujud artinya ada. Seandainya Allah SWT. itu tidak ada tentu alam ini pun tidak
ada, sebab Allah-lah yang menjadikan alam seisinya.
Contohnya
Rumah atau gedung, meja, kursi, dan lemari pasti ada yang membuat, yaitu tukang kayu. Demikian
pula bumi, langit, matahari, bintang, dan bulan pasti ada yang menciptakannya, tidak mungkin dengan
sendirinya. Penciptanya adalah Allah SWT.
Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tidak ada tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Allah,
Dialah yang mahaperkasa lagi mahabijaksana. (Q.S. Alim Imran. 62).

2. Kidam
Allah bersifat kidam artinya dahulu. Adanya Allah SWT. pasti tidak berpermulaan, dan tidak
berkesudahan. Sebagaimana firman Allah SWT. berikut..

3. Baqa
Allah SWT bersifat baka artinya kekal. Dia tidak akan mati. Allah SWT tidak akan binasa atau rusak.
Jika Allah SWT binasa, tentu alam yang dijadikan-Nya tida kekal. Apa saja yang tidak kekal tentu akan
binasa atau rusak.

4. Mukhalafau Lilhawadisi
Allah SWT. itu bersifat mukhlafau lilhawadisi, artinya berbeda dengan makhluk. Allah SWT esa dalam
zat-Nya dan perbuatannya-Nya, bahkan dalam segala-galanya.

5. Qiyamuhu Binafsihi
Allah SWT. bersifat qiyamuhu binafsihi artinya berdiri sendiri. Allah SWT. tidak memerlukan bantuan
dari kekuatan lain dalam menciptakan dan memelihara alam semesta. Apabila Allah SWT. memerlukan
kekuatan atau bantuan lain berarti Allah SWT lemah. Hal yang seperti mustahil terjadi pada Allah
SWT.

6. Wahdaniyat
Allah SWT. bersifat wahyaniyat, artinya Maha Esa. Mustahil bagi Allah SWT bersifat ta'dud artinya
terbilang, dua, tiga, atau lebih. Bayangkan dengan adanya bulan dan bintang yang gemerlapan,
matahari yang bersinar terang, indahnya panaroma, aingin sepoi-sepoi, semua itu menunjukkan
keagungan dan keesaan Allah SWT. Seandainya Allah SWT. itu lebih dari satu pasti timbul perebutan
kekuasaan dan aturan-aturan yang berbeda. Antara Tuhan yang satu akan menyaingi Tuhan lainnya,
serta akan terjadi perpecahan yang mengakibatkan kehancuran karena perebutan kekuasaan itu.

7. Kodrat
Allah SWT. bersifat kodrat, artinya kuasa atau mempunyai kekuasaan. Allah SWT, berkuasa mencipta,
kuasa memelihara dan mengatur, serta kuasa menghancurkan tanpa pertolongan kekuatan lain.
Kekuasaan Allah SWT. tidak hanya dalam hal membuat atau menciptakan saja, tetapi juga berkuasa
menghancurkan atau merusak. Dalam hal melaksanakan kekuasaan-Nya itu tidak ada yang dapat
memaksa, melarang, dan menghalang-halangi. Tidak ada kekuasaan di dunia ini yang menyamai
kekuasaan Allah SWT, sebab Dia Mahakuasa atas segala sesuatu yang ada di dunia ini.

8. Iradat
Allah SWT. bersifat iradat, artinya berkehendak. Apabila Allah SWT. menghendaki sesuatu cukup
mengatakan "Jadilah", terjadilah makhluk yang dikehendaki Allah SWT itu. Dengan sifat itulah, Allah
SWT menentukan segala sesuatu yang dikehendaki baik waktu, tempat dan segalanya untuk
diwujudkan atau ditiadakan.

9. Ilmu
Allah SWT bersifat ilmu, artinya mengetahui. Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, baik yang
konkret (nyata) maupun abstrak (gaib) yang tidak tampak (tersembunyi). Semua itu tidak lepas dari
pengamatan Allah SWT. Karena itu tidak ada perbuatan manusia yang tidak diketahui oleh Allah SWT.
baik di tempat yang ramai maupun yang tesembunyi, apa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi,
maupun yang akan terjadi.
10. Hayat
Allah SWT. bersifat hayat yang berarti hidup. Allah SWT. hidup dengan sendiri-Nya, tidak ada yang
menghidupkan. Mustahil kalau ada yang menghidupkan, hidup Allah SWT berlainan dengan hidup
makhluk yang diciptakannya-Nya. Kalau Allah itu tidak hidup, tentu tidak mempunyai kekuasaan
kepada makhluk yang dihidupkan-Nya

11. Sama'
Allah SWT bersifat sama' artinya mendengar. Suara apa pun yang ada di alam ini, baik suara yang
keras maupun yang lembut, semua didengar oleh Allah SWT. Mendengar niat manusia untuk
melakukan perbuatan yang terpuji maupun perbuatan yang tercela, doa manusia yang keras maupun
doa dalam hati.

12. Basar
Allah SWT bersifat basar artinya melihat. Allah SWT melihat apa saja, baik berada di tempat gelap
maupun di tempat yang terang. Allah SWT yang mengatur dan menjalankan benda alam seperti bumi,
matahari, bulan, bintang-bintang, planet-planet dan sebagainya. Allah SWT yang mengawasi dan
menjalankan benda-benda tersebut sehingga dapat berjalan dengan rapi dan teratur serta tidak pernah
berbenturan satu sama lain. Semua itu menjadi bukti bahwa Allah SWT. Maha mengetahui.

13. Kalam
Allah SWT. bersifat kalam artinya berfirman. Firman (kata-kata) Allah tidak sama dengan kata-kata
makhluk yang diciptakan-Nya. Firman Allah SWT diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw dengan
perantara Malaikat Jibril.

14. Kaunuhu Qadirun


Kaunuhu qadirun adalah keadaan Allah Ta'ala yang maha berkuasa mengadakan dan meniadakan

15. Kaunuhu Muridun


Kaunuhu muridun adalah Allah Ta'ala yang menghendaki dan menentukan tiap-tiap sesuatu, ia
berkehendak atas nasib dan takdir manusia.

16. Kaunuhu Alimun


Kaunuhu alimun adalah Allah Ta'ala yang mengetahui setiap sesuatu, baik yang telah terjadi maupun
belum terjadi, Allah SWT juga mengetahui isi hati dan pikiran manusia.

17. Kaunuhu Hayyun


Kaunuhu Hayyun adalah Allah SWT tidak akan pernah mati, tidak akan pernah tidur ataupun lengah.

18. Kaunuhu Sami'un


Kaunuhu sami'un adalah Sifat Allah SWT yang mendengar artinya Allah SWT selalu mendengar apa
yang dibicarakan hambanya, pemintaan atau doa hambanya.

19. Kaunuhu Basirun


Kaunuhu basirun adalah sifat Allah SWT yang melihat setiap maujudat (benda yang ada). Allah SWT
selalu melihat gerak-gerik kita. sehingga kita harus selalu berbuat baik.

20. Kaunuhu Mutakallimun


Kaunuhu mutakallimun adalah sifat Allah SWT berkata-kata, artinya Allah tidak bisu, ia berbicara atau
berfirman melalui ayat-ayat Al-Qur'an.
A. Khauf
1. Pengertian
Secara bahasa khauf adalah lawan kata al-amnu. Al-Amnu adalah rasa aman, maka khauf berarti rasa
takut. Secara istilah khauf adalah pengetahuan yang dimiliki seorang hamba di dalam hatinya tentang
kebesaran dan keagungan Allah serta kepedihan siksa-Nya.
Khauf (Takut) adalah tempat persinggahan yang amat penting dan paling bermanfaat bagi hati. Ini
merupakan keharusan bagi setiap orang. Firman Allah dalam QS. Ali Imran: 175:

Karena itu janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kalian benar-benar
orang yang beriman. (Qs. Ali Imran: 175).

B. Ikhlas
1. Pengertian
Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka
orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan
menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal. Sedangkan
secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya
dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.
Dalam KBBI ikhlas adalah bersih hati, tulus hati. Jadi, Ikhlas artinya memurnikan tujuan bertaqarrub
(mendekatkan diri) kepada Allah dari hal-hal yang dapat mengotorinya. Dalam arti lain, ikhlas adalah
menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam segala bentuk ketaatan.

C. Taubat
1. Pengertian
Dalam bahasa Arab, kata tobat diambil dari huruf ta, wawu, dan ba, yang menunjukkan pada arti
pulang dan kembali. Adapun maksud dari tobat kepada Allah adalah pulang kepadanya, kembali
keharibaannya, dan berdiri di depan pintu surga-Nya. Adapun dalam kitab Misabahul Munir di situ
dijelaskan, bahwa kata taaba min dzalika bermakna, dia telah meninggalkan perbuatan dosa, kemudian
kalimat taaba alaihi bermakna, Allah SWT telah mengampuninya dan menyelamatkannya dari
kemaksiatan. Selanjutnya dalam kitab Mujammul-Wasiit, diterangkan sebagai berikut: taaba,bermakna
kembali dari kemaksiatan, taaba Allah ala abdihi, bermakna Allah telah memberikan taufiq kepada
hamba-Nya itu untuk bertaubat. Taubat adalah pengakuan, penyesalan sebagai upaya untuk
meninggalkan dosa serta berjanji tidak akan mengulangi berbuat dosalagi.

D. Taat
1. Pengertian
Taat secara bahasa artinya senantiasa tunduk dan patuh. Secara istilah taat adalah tunduk dan patuh,
baik terhadap perintah Allah Swt, Rasul-Nya, maupun ulil amri (pemimpin). Perilaku taat ini mungkin
sering kita langgar, contoh sederhana apakah kita sudah melakukan shalat 5 fardhu?, apakah kita sudah
taat kepada Allah?, bahkan terkadang mungkin kita juga masih belum taat terhadap diri sendiri.

1. ADAB SHALAT
Shalat adalah ibadah wajib bagi setiap muslim yang sudah baligh dan berakal sehat. Shalat pada
hakikatnya adalah bentuk komunikasi anatara seorang hamba dengan Allah SWT. Akan tetapi, banyak
orang kurang bisa menikmati ibadah sholat. Hal ini disebabkan beberapa hal, diantaranya adalah karena
ia menganggap sholat hanyalah rutinitas belaka, sehingga sholatnya tidak berdampak apa-apa dalam
kehidupannya. Padahal Allah berfirman bahwa dengan sholat yang khusyu maka seseorang akan dapat
terhindar dari berbuat kekejian dan kemunkaran. Sehingga diantara masalah bangsa ini adalah banyak
orang yang sholat, tapi sebagian mereka ada yang melakukan korupsi. Naudzu Billahi. Lalu kita perlu
bertanya; Ada apa dengan sholatnya? Bagaimanakah sholatnya?
Marilah kita agungkan ibadah shalat ini dengan cara memperhatikan adab-adabnya, yaitu :
1. Menjaga waktu dan batas-batasnya.
Ketika waktu shalat masuk, bersegera menunaikannya dengan penuh semangat saat kewajiban itu
tiba. Nabi bersabda pada Bilal: wahai Bilal, hiburlah kami dengan sholat!(maksudnya : beradzanlah
lalu kita melaksnakan sholat dan menikmati sholat).
Allah berfirman yang artinya: maka celaka bagi orang-orang yang sholat. Yaitu orang yang
sholat mereka lupa diri. Para ulama mengatakan lupa dalam ayat ini terutama adalah masalah
meneledorkan waktu sholat.

2. Demikian pula tempat shalat dan sujud, kita rapikan dan bersihkan dari najis-najis yang ada, singkirkan
gambar, tulisan atau apa saja yang mengganggu kekhusyuan sholat.

3. Memakai pakaian kita yang terbaik, saat panggilan shalat telah tiba, rapi, santun, baik, harum semerbak
(bagi laki-lai) dan menutup aurat secara sempurna.
Allah amat senang kalau perintahnya kita amlkan dengan suka cita. Allah memerintahkan dalam Al-
Quran Q.S . Al Araf Ayat 31 :
hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuk)i masjid,...)

4. Menyesal serta bersedih, jika tidak dapat menunaikan dan menikmati sholat dengan baik dan
sempurna. Dintara inti sholat adalah berdzikir di dalam sholat. Allah berfirman pada Nabi
Dawud: dan dengan berdzikir padaKu hendaklah mereka merasa nikmat.

Allah berfirman, dan sungguh, zikir pada allah-lah yang terbesar. Maksudnya adalah kita
diharapkan menikmati dzikir atau bacaan-bacaan sholat kita, sehingga berpengaruh pada hati nurani dn
amal perbuatan sehari-hari.

5. Dan supaya kita khusyu, nabi memerintah : sholatlah seperti sholatnya orang yang berpamitan (dari
dunia ini). Maksudnya solatlah sekan-akan ini adalah sholat kalian yang terakhir di dunia.

2. ADAB BERDZIKIR
Kurang afdhal apabila orang yang melaksanakan sholat, usai slaam ia langsung berdiri pulang tanpa
berdzikir. Sehingga bada sholatpun seseorang dianjurkan berdzikir. Zikir menuru bahasa berarti ingat.
Dalam hal ini yang dimaksud adlah mengingat Allah dengan cara memperbanyak mengucapkan
klaimat-klaimat thoyibah sesuai dengan yang diajarkan oleh rasulullah, sahabat, dan orang-orang yang
sholeh sebelum kita.
Allah swt berfirman dlam surah al-araf ayat 205 :

dan sebutlah (nama) Tuhanmu dlam hatimu dengan merendah diri dan rasa takut, dan dengan tidak
mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang
lalai (Q.S S Araf (7) : 205 ).

Ayat diatas membuat kita memahami bahwa dzikir adlah suatu yang diperintahkan oleh Allah sesering
mugkin. Kita sebagai seorang muslim tentunya tidak asing lagi dengan dzikir. Hanya saja, terkadang
kita idak memmperhatikan adab/ car berdzikir. Sehingga tidak jarang zikir yang kita lakukan tidak
berbekas sama sekali terhadap kehidupan kita. Padahl minimal, dzikir bisa menenteramkan hati
pelakunya, sebagaimana firman Allah yng berarti: bukankah dengan brdzikir/mengingat Allah hati
kan menjadi tenteram? Oleh karena itu kita perlu memperhatikan adab-adab saat berdzikir kepada
Allah. Adapun adab berdzikir diantaranya adalah :
1. Ikhlas dalam berdzikir mengharap ridho Allah, memebrsihkan amal dari campuran dengan sesuatu.
Menghadirkan makna dzikir dala hati, sesuai dengan tingkatannya dlam musyahadah.
2. Berdzikir dengan zikir dan wirid yang telah dicontohkan Rasulullah, karena dzikir adalah ibadah.
Membaca al-quran dengan niat berdzikir juga dianjurkan.
3. Mencoba memahami maknanya dan khusyu dalam melakukannya.
4. Duduk di suatu tempat atau ruangan yang suci seperti duduk dalam sholat juga dianjurkan.
5. Mewangikan pakaian dan tempat dengan minyak wnagi, pakaian yang bersih dan halal.
6. Memilih tempat yang agak sunyi, boleh memejamkan dua mata, karena dngan mata terpejam itu,
tertutup jaln-jalan pana indera lahir, mengakibatkan terbukanya panca indera hati.

Nama-Nama 10 Malaikat dan Tugasnya

1. Malaikat Jibril yang menyampaikan wahyu Allah kepada nabi dan rasul.

2. Malaikat Mikail yang bertugas memberi rizki / rejeki pada manusia.

3. Malaikat Israfil yang memiliki tanggung jawab meniup terompet sangkakala di waktu hari kiamat.

4. Malaikat Izrail yang bertanggungjawab mencabut nyawa.

5. Malikat Munkar yang bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan pada amal perbuatan
manusia di alam kubur.

6. Malaikat Nakir yang bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan pada amal perbuatan
manusia di alam kubur bersama Malaikat Munkar.

7. Malaikat Raqib / Rokib yang memiliki tanggung jawab untuk mencatat segala amal baik manusia
ketika hidup.

8. Malaikat Atid / Atit yang memiliki tanggungjawab untuk mencatat segala perbuatan buruk / jahat
manusia ketika hidup.

9. Malaikat Malik yang memiliki tugas untuk menjaga pintu neraka.

10. Malaikat Ridwan yang berwenang untuk menjaga pintu sorga / surga.

Ghaib secara bahasa adalah sesuatu yang tidak tampak. Sedangkan ghaib menurut istilah adalah
sesuatu yang tidak tampak oleh panca indra tapi ada dalil tertulis yang menjelaskan akan
keberadaannya. Apabila ada dalil dari ayat atau hadits yang shahih akan keberadaan sesuatu yang ghaib
itu lalu diingkari, maka pengingkaran itu bisa menjadikan pelakunya kafir. Karena dia telah
mengingkari bagian dari ajaran agama yang penting. Al-Quran sendiri telah menyebutkan kata ghaib
kurang lebih sebanyak 56 kali. Dan di permulaan surat al-Baqarah, Allah meyebutkan salah satu dari
karakter orang-orang yang bertaqwa adalah, orang-orang yang beriman kepada yang ghaib. Alif Lam
Mim. Kitab al-Quran ini tidak ada keraguan didalam padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib... (QS. Al-Baqarah: 1 - 3).
Makhluk ghaib selain malaikat adalah Jin. Jin secara harfiah berarti sesuatu yang berkonotasi
tersembunyi atau tidak terlihat.Menurut Ibnu Aqil sebagaimana dikutip asy-Syibli dalam
bukunya Akam al-Marjan fi Ahkam al-Jann, mengatakan bahwa makhluk ini disebut dengan jin karena
secara bahasa jin artinya yang tersembunyi, terhalang, tertutup. Disebut jin, karena makhluk ini
terhalang (tidak dapat dilihat) dengan kasat mata manusia. Dalam Al-Quran terdapat banyak ayat yang
menceritakan tentang Jin. Diantaranya:
1. Surah Al-Hijr ayat 26 27
Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari tanah liat yang kering kerontang
yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk dan Kami telah ciptakan Jin sebelum di ciptakan
manusia dari api yang sangat panas.
2. Surah Ar-Rahman ayat 15
Artinya: Dia (Allah) menciptakan Jann (Jin) dari nyala api (Pucuk api yang menyala-nyala atau
Maarij)

Maarij yaitu nyala api yang sangat besar dan sangat panas atau Al-Lahab yaitu lidah api yang
bercampur menjadi satu yaitu merah, hitam, kuning dan biru. Beberapa ulama juga mengatakan bahwa
Al-Maarij itu adalah api yang sangat terang yang memiliki suhu yang sangat tinggi sehingga
bercampur antara merah, hitam, kuning dan biru. Beberapa pendapat mengatakan Al-Maarij itu ialah
api yang bercampur warnanya dan sama artinya dengan As-Samuun yaitu api yang tidak berasap
tetapi suhu panasnya sangat tinggi. Angin Samuun yang telah tercampur dengan Al-Maarij itulah yang
dijadikan Allah untuk menciptakan Jaan/Jin.
Menurut suatu Hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Masud juga menyatakan bahwa angin Samuun
yang dijadikan Jaan itu hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian angin Samuun yang sangat panas.
Dari api yang sangat panas inilah Allah telah menciptakan Jin, yaitu dari sel atau atom atau dari
nukleas-nukleas api. Kemudian Allah masukkan roh atau nyawa padanya, maka jadilah ia hidup seperti
yang diinginkan oleh Allah. Jin juga di beri izin oleh Allah Merubah diri kebentuk yang disukai dan
dikehendakinya kecuali bentuk rupa Rasulullah SAW.
Jin juga diperintahkan oleh Allah menerima syariat Islam sebagaimana yang diperintahkan oleh
Allah kepada manusia. Bentuk asal Jin setelah diciptakan dan ditiupkan roh itu hanya Allah dan
Rasulnya saja yang mengetahuinya. Menurut beberapa ulama rupa, tabiat, kelakuan dan perangai Jin
adalah 90 persen mirip ke manusia.

Pada dasarnya bentuk rupa Jin tidak banyak berbeda dari bentuk rupa manusia, yaitu memiliki
jenis kelamin, memiliki hidung,mata,tangan,kaki,telinga dan sebagainya. Sebagaimana yang di miliki
oleh manusia. Pada dasarnya 80-90% Jin menyerupai manusia. Hanya perbedaan fisik Jin adalah lebih
kecil dan halus dari manusia. Bentuk tubuh mereka ada yang pendek, ada yang tinggi dan bermacam-
macam warnanya, yaitu putih, merah, biru, hitam dan sebagainya. Jin kafir dan Jin Islam yang fasik itu
memiliki rupa yang buruk dan menakutkan. Sedangkan Jin Islam yang saleh memiliki paras yang elok.
Menurut beberapa pendapat, tinggi Jin yang sebenarnya adalah sekitar tiga hasta saja.
Pengetahuan mereka lebih luas dan berumur sangat panjang sampai beribu-ribu tahun umurnya.
Kecepatan Jin bergerak melebihi kecepatan cahaya dalam suatu waktu. Karena Jin terdiri dari mahkluk
yang seni dan tersembunyi, tidak zahir seperti manusia dan tidak sepenuhnya ghaib seperti Malaikat,
maka ruang yang kecil pun bisa di duduki oleh jutaan Jin dan juga dapat merasuki dan menghuni tubuh
manusia.
Jumlah Jin terlalu banyak sehingga menurut beberapa pendapat mengatakan bahwa jika jumlah
semua manusia dari Nabi Adam sampai hari kiamat dikalikan dengan hewan-hewan, dikalikan dengan
batu-batu,pasir-pasir dan semua tumbuh-tumbuhan, itu pun hanya sepersepuluh dari total
Jin.Sedangkan total Jin adalah 1/10 dari total Malaikat. Total Malaikat hanya Allah dan Rasulnya saja
yang mengetahuinya.
Alam tempat berdiamnya Jin adalah di lautan, daratan, di udara dan di Alam Mithal yaitu suatu
alam yang terletak diantara alam manusia dan alam malaikat. Jika kita diberikan oleh Allah
kemampuan untuk melihat Jin, sudah tentu kita akan melihat jarum yang jatuh dari atas tidak akan
jatuh ke bumi, tetapi jatuh dibelakang Jin, karena sangat banyaknya jumlah mereka.
1. Pengertian Riya
Kata riya berasal dari bahasa Arab Arriyaau yang berarti memperlihatkan atau pamer, yaitu
memperlihatkan sesuatu kepada orang lain, baik barang maupun perbuatan baik yang dilakukan,
dengan maksud agar orang lain dapat melihatnya dan akhirnya memujinya. Kata lain yang mempunyai
arti serupa dengan riya ialah sumah. Kata sumah berasal dari bahasa Arab Assumatu atau Sumatun
yang berarti kemasyhuran nama, baik sebutannya. Orang yang sumah dengan perbuatan baiknya,
berarti ingin mendengar pujian orang lain terhadap kebaikan yang dilakukan. Dengan adanya pujian
tersebut, akhirnya masyhurlah nama baiknya di lingkungan masyarakat. Dengan demikian, pengertian
sumah sama dengan riya. Orang yang riya berarti juga sumah, yakni ingin memperoleh komentar
yang baik atau pujian dari orang lain atas kebaikan yang dilakukan.[1]

2. Pengertian Nifaq
Nifaq secara bahasa berasal dari kata naafaqa,dikata pula berasal dari kata an-nafaqa (nafaq) yaitu
lubang tempat bersembunyi. Nifaq menurut syara yaitu menampakkan Islam dan kebaikan tetapi
menyembunyikan kekufuran dan kejahatan. Dinamakan demikian karena dia masuk pada syariat dari
satu pintu dan keluar dari pintu yang lain.

Nama-nama Kitab Allah dan Rasul yang Menerimanya

Kitab berasal dari bahasa Arab yang artinya sesuatu yang ditulis. Kitabullah adalah
ketentuan-ketentuan Allah SWT. Kitab-kitab yang telah Allah turunkan ada empat.

a. Taurat, kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa AS.


b. Zabur, kitab yang diturunkan kepada Nabi Daud AS.
c. Injil, kitab yang diturunkan kepada Nabi Isa AS.
d. Al-Quran, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

A. Tawakkal
1. Pengertian Tawakkal
Kata tawakkal berasal dari bahasa Arab yang artinya pasrah dan menyaerah. Secara istilah,
tawakkal berarti sikap pasrah dan menyerah terhadap hasil suatu pekerjaan atau usaha dengan
menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT .
Tawakkal dapat diberi pengertian berserah diri kepada Allah SWT setelah semua proses pekerjaan
atau amalan lain sudah dilakkan secara optimal. Tawakkal harus dilakukan setelah ada usaha dan kerja
keras dengan menerahkan segala kemampuan yang dimiliki. Akan tetapi, ketika seseorang belum
berusaha secara optimal untuk mencapai suatu angan atau cita-citanya, kemudian ia pasrah atau
berserah diri, maka orang tersebut belum dapat dikatakan tawakkal.
Serahkan semua urusan hanya kepada Allah SWT, jangan menggantungkan sesuatu kepada selain
Allah. Sebab, hanya Allah-lah yang mempunyai kekuasaan atas segala sesuatu. Segaloa usaha dan kerja
keras tidak akan berarti apa-apa, jika Allah tidak menghendaki keberhasilan ats usaha itu. Manusia
boleh berharap dan harus terus berusaha dengan seganap daya upaya, namun jangan lupa bahwa
manusia tidak dapat menentukan suatau usaha itu berhasil atau gagal.
Dengan demikain, tawakkal dilakukan sesuai dengan aturan yang benar, sehinga tidak ada
penyimpangan akidah dan keyakinan dari perbuatan tawakkal yang salah.

2. Perintah Bertawakal
Tawakal kepada Allah termasuk perkara yang diwajibkan dalam Islam. Allah berfirman dalam
surat Ali-Imran ayat 159,
yang artinya Maka disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah membut terhadap mereka.
sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu ,
kaena itu maafkanlah mereka dan bermusawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian,
apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah, Sungguh Allah mencintai
orang yang bertawakal.
Dan dalam surat al-Maidah ayat 23

yang artinya dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang yang beriman.

3. Bentuk-bentuk Bertawakal
Sebagai muslim kita harus mengenali bentuk-bentuk perilaku tawakkal, agar kelak dapat
mengamalkannya dalam kehidupan sehari-sehari, di antaranya sebagai berikut :
a. Melakukan sesuatu atas dasar niat ibadah kepada Allah SWT.
b. Tidak menggantungkan keberhasilan suatu usaha kepada selain Allah SWT.
c. Bersikap pasrah dan siap menerima apa pun.
d. Tidak memaksakan kehendak atau keinginan kepada siapa pun dan pihan mana pun.
e. Bersikap tegar dan tenang, baik dalam menerima keberhasilan maupun kegagalan.
Contoh :
1) Rajin belajar dan tawakal dengan berdoa kepada Allah akan menghasilkan kemudahan dalam
mengerjakan soal.
2) Ayah dan Ibu Ahmad adalah petani kecil. Ia sangat mendambakan agar Ahmad kelak menjadi
anak saleh yang cerdas. Sebagai muslim dan muslimat yang taat beragama, setiap hari mereka selalu
berdoa dan bertawakal kepada Allah semoga keluarganya hidup tentram di bawah ridho Allah.

4. Dampak Positif Tawakal


a. Memperoleh kepuasan batin karena keberhasilan usahanya mendapat ridho Allah.
b. Memperoleh ketenangan jiwa karena dekat dengan Allah yang mengatur segala-galanya.
Mendapatkan keteguhan hati.

5. Membiasakan Diri Berperilaku Tawakal


Manusia harus sadar dirinya lemah, terbukti sering mengalami kegagalan. Keberhasilan usaha
manusia ada pada kuasa dan kehendak Allah semata-mata. Oleh sebab itu, manusia harus mau
bertawakal kepada Allah setelah melakukan usaha secara sungguh-sungguh. Orang yang tawakal
berarti menunggu keberhasilan usahanya. Oleh sebab itu, pada waktu tawakal hendaknya
memperbanyak doa kepada Allah agar usahanya berhasil baik.

B. Ikhtiar
1. Pengertian Ikhtiar
Kata ikhtiar berasal dari bahasa Arab (ikhtara-yakhtaru-ikhtiyaaran) yang berarti memilih. Ikhtiar
diartikan berusaha karena pada hakikatnya orang yang berusaha berarti memilih.
Adapun menurut istilah, berusaha dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada untuk meraih
suatu harapan dan keingina yang dicita-citakan, ikhtiyar juga juga dapat diartikan sebagai usaha
sungguh-sungguh yang dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di
akhirat.

2. Perintah untuk Berikhtiar


Dalil-dalil yang mewajibkan kita berikhtiar, antara lain :
a. Surat al-Jumuah ayat 10

Yang artinya :Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia
Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.
b. H.R. al-Bukhori nomor 1378 dari Zubair bin Awwam r.a
Yang artinya : Sungguh, jika sekiranya salah seorang diantara kamu membawa talinya(untuk mencari
kayu bakar), kemudian ia kembali dengan membawa seikat kayu di atas punggungnya, lalu ia jual
sehingga Allah mencukupi kebutuhannya(dengan hasil itu) adalah lebih baik daripada meminta-minta
kepada manusia, baik mereka(yang diminta) member atau menolaknya.

3. Bentuk-bentuk Ikhtiar
Sebagai muslim kita harus mengenali bentuk-bentuk perilaku ikhtiar, agar kelak dapat
mengamalkannya dalam kehidupan sehari-sehari, di antaranya sebagai berikut :
a. Mau bekerja keras dalam mencapai suatu harapan dan cita-cita.
b. Selalu bersemangat dalam menghadapi kehidupan.
c. Tidak mudah menyerah dan putus asa.
d. Disiplin dan penuh tanggung jawab.
e. Giat bekerja dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup.
f. Rajin berlatih dan belajar agar bisa meraih apa yang diinginkannya.

4. Dampak Positif Ikhtiar


Banyak nilai positif yang terkandung dalam perilaku ikhtiar, di antaranya sebagai berikut :
a. Terhindar dari sikap malas.
b. Dapat mengambil hikmah dari setiap usaha yang dilakukannya.
c. Memberikan contoh tauladan bagi orang lain.
d. Mendapat kasih sayang dan ampuna dari Allah SWT.
e. Merasa batinnya puas karena dapat mencukupi kebutuhan hidupnya.
f. Terhormat dalam pandangan Allah dan sesame manusia karena sikapnya.
g. Dapat berlaku hemat dalam membelanjakan hartanya.

5. Membiasakan Diri Berikhtiar


Sikap perilaku ikhtiar harus dimiliki oleh setiap muslim agar mampu menghadapi semua godaan
dan tantangan dengan kerja keras dan ikhtiar. Untuk itu hendaklah perhatikan terlebih dahulu beberapa
hal berikut :
a. Kuatkan iman kepada Allah SWT.
b. Hindari sikap pemalas.
c. Jangan mudah menyerah dan putus asa.
d. Berdoa kepada Allah agar diberi kekuatan untuk selalu berikhtiar.
e. Giat dan bersemangat dalam melakukan suatu usaha.
f. Tekun dalam melaksanakan tugas, Pandai-pandai memanfaatkan waktu.
g. Tidak mudah putus asa, selalu berusaha memajukan usahanya.

C. Sabar
1. Pengertian Sabar
Menurut bahasa, sabar artinya tabah,tahan uji.
Sabar berarti tahan menderita sesuatu, tidak lekas marah, tidak lekas patah hati, dan tidak lekas
putus asa.
Adapun menurut istilah, sabar ialah kondisi ental seseorang yang mampu mengendalikan hawa
nafsu yang ada dalam dirinya. hawa nafsu di sini mengandung arti sangat luas, misalnya amarah,
ambisi, serakah, tergesa-gesa, dan sebagainya. Oleh karena itu, orang yang sabar adalah orang yang
mampu mengendalikan hawa nafsunya. Sabar merupakan salah satu akhlak terpuji dan kunci untuk
mendapatkan ketentraman dan kebahagiaan hidup.

Kesabaran merupakan salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa kepada Allah SWT. Bahkan
sebagian ulama mengatakan bahwa kesabaran merupakan setengahnya keimanan. Sabar memiliki
kaitan yang tidak mungkin dipisahkan dari keimanan: Kaitan antara sabar dengan iman, adalah seperti
kepala dengan jasadnya. Tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran, sebagaimana juga tidak ada
jasad yang tidak memiliki kepala.
Namun kesabaran adalah bukan semata-mata memiliki pengertian "nrimo", ketidak mampuan dan
identik dengan ketertindasan. Sabar sesungguhnya memiliki dimensi yang lebih pada pengalahan hawa
nafsu yang terdapat dalam jiwa insan. Dalam berjihad, sabar diimplementasikan dengan melawan hawa
nafsu yang menginginkan agar dirinya duduk dengan santai dan tenang di rumah. Justru ketika ia
berdiam diri itulah, sesungguhnya ia belum dapat bersabar melawan tantangan dan memenuhi
panggilan ilahi.
Sabar juga memiliki dimensi untuk merubah sebuah kondisi, baik yang bersifat pribadi maupun
sosial, menuju perbaikan agar lebih baik dan baik lagi. Bahkan seseorang dikatakan dapat diakatakan
tidak sabar, jika ia menerima kondisi buruk, pasrah dan menyerah begitu saja. Sabar dalam ibadah
diimplementasikan dalam bentuk melawan dan memaksa diri untuk bangkit dari tempat tidur,
kemudian berwudhu lalu berjalan menuju masjid dan malaksanakan shalat secara berjamaah. Sehingga
sabar tidak tepat jika hanya diartikan dengan sebuah sifat pasif, namun ia memiliki nilai keseimbangan
antara sifat aktif dengan sifat pasif.
2. Macam-macam Sabar
Iman al-Gazali membagi kesabaran menjadi tiga macam, yaitu :
a. Sabar dalam ketaatan, yaitu melaksanakan tugas atau kewajiban dengan ikhlas.
b. Sabar dalam menghadapi musibah, yaitu tabah atau kuat hati saat menerima cobaan hidup.
c. Sabar dari maksiat, yaitu rela meninggalkan perbuatan maksiat dan tidak menyesal atau iri apabila
melihat orang lain dapat bersenang-senang dalam maksiat.

3. Perintah untuk Bersabar


a. Sabar dalam Ketaatan, dalam firman Allah, surat Ali-Imran ayat 200
b. Sabar dalam Musibah, dalam Firman Allah surat al-Baqarah ayat 155-156
c. Sabar dari Maksiat, dalam firman Allah surat an-Nahl ayat 126-127
d. Dari Suhaib ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang
beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat
kecuali hanya pada orang mu'min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia
mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia
bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya." (HR.
Muslim)

4. Bentuk-bentuk atau Contoh Sikap Sabar


Sebagai muslim kita harus mengenali bentuk-bentuk perilaku sabar, agar kelak dapat
mengamalkannya dalam kehidupan sehari-sehari, di antaranya sebagai berikut :
a. Bersabar dalam hal belajar untuk meraih cita-cita dan harapan
b. Sabar ketika diejek oleh teman-teman, karena kesabaran akan membawa hasil yang positif.
c. Tidak mudah emosi atau marah.
d. Tidak tergesa-gesa.
e. Menerima segala sesuatu dengan kepala dingin.
f. Tidak mudah menyalahkan orang lain.
g. Selalu berserah diri kepada Allah SWT.

5. Dampak Positif Sikap Sabar


Banyak nilai positif yang terkandung dalam perilaku sabar, di antaranya sebagai berikut :
a. Terhindar dari bencana dan mala petaka yang disebabmkan oleh nafsu.
b. Melatih diri mengendalikan hawa nafsu.
c. Disayang oleh Allah.
d. Memiliki emosi yang stabil
e. Memiliki harapan akan masuk ke surge sesuai janji Allah da;am surat al-Baqarah ayat 155
f. Berhasil mengembalikan persaudaraan yang hamper rusak.

6. Membiasakan Diri Bersikap Sabar


a. Selalu ingat bahwa marah tidak dapat menyelesaikan masalah
b. Memperbanyak bergaul dengan teman-teman yang baik, berakhlak mulia
c. Membatasi diri dan bersikap-hati-hati dalam bergaul dengan teman yang berwatak keras dan kasar.
d. Hindari bergaul dengan orang-orang yang berperilaku tidak menyenangkan.
e. Hadapi segala sesuatu dengan tenang.
f. Hindari sifat tergesa-gesa.

D. Syukur
1. Pengertian Syukur
Syukur berasal dari bahasa Arab yang berarti berterima kasih. Menurut istilah, bersyukur adalah
berterima kasih kepada Allah atas karunia yang dianugerahkan kepada dirinya.
Apabila direnungkan secara mendalam, ternyata memang banyak nikmat Allah yang telah kita
terima dan gunakan dalam hidup ini. Demikian banyaknya sehingga kita tidak mampu menghitungnya.
Hakikat syukur adalah menampakkan nikmat dengan menggunakannya pada tempat dan sesuai
dengan kehendak pemberinya. Sedangkan kufur adalah menyembunyikan dan melupakan nikmat.
Pada dasarnya, semua bentuk syukur ditujukan kepada Allah. Namun, bukan berarti kita tidak
boleh bersyukur kepada mereka yang menjadi perantara nikmat Allah. Ini bisa dipahami dari perintah
Alah untuk bersyukur kepada orang tua yang telah berjasa menjadi perantara kehadiran kita di dunia.
Perintah bersyukur kepada orang tua sebagai isyarat bersyukur kepada mereka yang berjasa dan
menjadi perantara nikmat Alloh. Orang yang tidak mampu bersyukur kepada sesama sebagai tanda ia
tidak mampu pula bersyukur kepada Alloh swt.
Manfaat syukur akan menguntungkan pelakunya. Allah tidak akan memperoleh keuntungan
dengan syukur hamba-Nya dan tidak akan rugi atau berkurang keagungan-Nya apabila hamba-Nya
kufur.

2. Perintah Bersyukur
Mensyukuri nikmat Allah adalah kewajiban setiap muslim dan muslimat. Dalil-dalil yang mewajibkan
bersyukur, diantaranya :
a. Surat al-Baqarah ayat 152
b. Surat an-Nahl ayat 114
c. Surat al-Ankabut ayat 17
d. Allah berfirman, ''Dan siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan)
dirinya sendiri dan siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.'' (QS
27: 40)
e. Nabi bersabda, ''Siapa yang tidak mensyukuri manusia, maka ia tidak mensyukuri Alloh.'' (HR
Tirmidzi).
f. Firman Allah SWT, ''Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu-bapakmu, hanya kepada-
Kulah kamu kembali.'' (QS 31: 14).
g. Allah SWT berfirman, ''Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),
sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'.'' (QS 14: 7).
h. Allah berfirman, ''Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat
menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.''
(QS 16: 18).
i. Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika
kamu mengingkari (nikmat-Ku),maka pasti azab-Ku sangat berat."(QS.ibrahim : 14)
3. Bentuk-bentuk Bersyukur
Sebagai muslim kita harus mengenali bentuk-bentuk perilaku syukur, agar kelak dapat
mengamalkannya dalam kehidupan sehari-sehari, di antaranya sebagai berikut :
a. Selalu mengucapkan al hamdulillah atau terima kasihsetiap kali menerima menukmatan.
b. Menggunakan apa yang diberikan sesuai dengan kehendak pamberinya.
c. Menjaga dan merawat dengan baik apa yang telah diberikan.
d. Menyisihkan sebagian harta kita untuk diserahkan ke baitul mal
e. Menyisihkan waktunya untuk membantu orang yang belum bisa membaca Al-Quran.

4. Nilai Positif Bersyukur


Banyak nilai positif yang terkandung dalam perilaku syukur, di antaranya sebagai berikut :
a. Memperoleh kepuasan batin karena dapat menaati salah satu kewajiban hamba terhadap Allah
SWT.
b. Terhindar dari sifat tamak
c. Terhindar dari murka Allah SWT.
d. Mendapat jaminan tambahan nikmat Allah

5. Membiasakan Diri Bersyukur


a. Menerima pemberian orang tua dengan senang hati
b. Memanfaatkan uang untuk membeli hal-hal yang bermanfaat
c. Tidak boros dalam menggunakan uang

E. Qanaah
1. Pengertian Qonaah
Kata qonaah berasal dari bahasa Arab yang berarti rela, suka menerima yang dibagikan kepadanya.
Adapun secara istilah, qonaah adalah sikap menerima semua yang telah dikaruniakan Allah SWT
kepada kita. Dapat pula dikatakan bahwa qanaah ialah sikap perilaku menerima dan menggunakan
suatu pemberian Allah sesuai dengan ketentuan Allah dan kebutuhan kita.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Kekayaan (yang haqiqi) bukanlah dengan
banyaknya harta. Namun kekayaan (yang haqiqi) adalah kekayaan jiwa. (HR. Bukhari dan Muslim).
Kekayaan jiwa dalam hadits tersebut adalah Qonaah. Dalam bahasa jawa sering diartikan sebagai
sikap nerimo. Bersyukur terhadap apa-apa yang telah diberikan oleh Allah. Terkadang yang diterima
oleh manusia menurut ukuran materi jumlahnya sedikit, tetapi sebenarnya nikmat yang diberikan oleh
Allah tidak bisa terhitung jumlahnya.
Di kesempatan yang lain rasulullah juga bersabda Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk
Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan
kepadanya. (HR. Muslim). Islam memberikan jaminan rezeki bagi penganutnya selama mereka taat
terhadap perintah-perintah Allah disamping mereka harus Qonaah terhadap apa-apa yang diberikan
Allah untuknya.
Merasa puas terhadap apa yang didapatkan akan menjadikan hati menjadi Qonaah. Dan orang-orang
yang bersikap Qonaah akan mudah untuk bersyukur pada Allah. Yang kemudian akan diberikan
limpahan rahmat lebih banyak lagi karena kesyukurannya tersebut.
Sebenarnya orang fakir itu adalah orang yang tidak pernah mempunyai sifat Qonaah dalam dirinya.
Karena mereka merasa kekurangan terus menerus dalam hidupnya. Tetapi lain halnya dengan hakekat
orang yang kaya, Ia selalu merasa puas terhadap apa yang didapatnya sehingga ia bersyukur.Setan
selalu menggoda manusia untuk tidak Qonaah terhadap dunia. Akibatnya manusia selalu merasa
kurang terhadap apa yang diberikan oleh Allah. Memang sifat Qonaah itu tidak jatuh dari langit
dengan sendirinya kepada manusia, tetapi harus diasah dan dilatih. Dan hanya dengan sikap sabar bisa
menumbuhkan sifat Qonaah. Sabar untuk selalu berusaha merasa puas terhadap apa yang didapatnya.
Dengan sifat Qonaah ini, orang akan selalu merasa bersyukur, sehingga mudah baginya untuk berbagi
kepada orang lain dan dapat menghilangkan sifat serakah dalam hati. Nimat yang digenggamnya tidak
ia nikmati sendiri tetapi ia bagikan kepada orang-orang disekitarnya yang membutuhkan. Artinya
qanaah tidak hanya pada waktu rizki yang kita terima sedikit, tetapi pada waktu rizki melimpah pun
kita harus tetap qanaah.

2. Perintah untuk Bersifat Qonaah


Dalil tentang wajibnya memiliki sifat qonaah, antara lain :
Dalam surat an-Nisa ayat 32 , dimana ayat ini berisi tentang larangan bersikap iri terhadap karunia
yang diterima orang lain, sedangkan sikap iri berarti tidak suka melihat orang lain mendapatkan
kesenangan

3. Bentuk-bentuk Qonaah
a. Selalu ikhlas menerima kenyataan hidup.
b. Tidak banyak berangan-angan.
c. Tidak bersikap iri ter hadap kenikmatan yang diterima orang lain.
1) Sudah cukup merasa senang walaupun ke sekolah dengan berjalan kaki.
2) Merasa cukup dengan kondisi yang pas-pasan,asalkan mampu menyekolahkan anaknya.

4. Nilai Positif Qonaah


a. Terhindar dari sifat tamak
b. Dapat merasakan ketenteraman hidup karena merasa cukup atas karunia Allah yang dianugerahkan
kepada dirinya
c. Mendapat jaminan tambahan nikmat dari Allah dan terhindar dari ancaman siksa yang berat
5. Membiasakan Diri Bersifat Qonaah
a. Sering memperhatikan orang-orang yang lebih miskin daripada kita
b. Tidak sering memerhatikan orang yang lebih kaya agar kita tidak merasa kurang
c. Membiasakan diri berlaku hemat.
d. Biasakan bersikap ikhlas.
e. Hindari kebiasaan berangan-angan.

a. Pengertian Ananiah
Kata Ananiah berasal bahasa Arab yang berarti aku . Ananiah berarti sebangsa aku atau keakuan.
Secara istilah, ananiah berarti sikap keakuan , sikap mementingkan diri sendiri, kurang memerhatikan
orang lain. Dalam bahasa Indonesia, sikap seperti itu disebut egois. Sikap ananiah terkait erat dengan
sikap takabur. Dalam kehidupan sehari-hari sikap ananiah sering kali kita jumpai, baik pada diri remaja
maupun orang dewasa. Sudah barang tentu sikap ananiah tidak disukai dalam pergaulan karena
cenderung meremehkan atau tidak menghargai orang lain.

b. Bentuk-bentuk Ananiah
Ananiah dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk. Bentuk-bentuk sikap ananiah yang dapat kita
jumpai dalam kehidupan sehari-hari, antara lain
1. Selalu ingin menang dalam pembicaraan bersama teman;
2. Kurang menghargai pendapat orang lain, walaupun benar;
3. Menonjolkan kemampuan dirinya di hadapan sesama manusia;
4. Susah menerima saran dan/atau kritik dari orang lain;
5. Tidak peduli terhadap penderitaan orang lain;
6. Tidak mau membantu orang yang ditimpa kesusahan.

c. Larangan Bersikap Ananiah


Islam melarang umatnya bersikap ananiah dan mendidik umatnya agar pandai-pandai menghormati
orang lain sebagaimana wajarnya. Aisyah r.a. berkata sebagai berikut.

Artinya: Rasulullah saw.. menyuruh kita agar kita menghormati manusia (orang lain) sesuai
dengan kedudukannya. (H.R. Muslim dari Aisyah).[1]
Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah saw. Bersabda sebagai berikut.

Artinya : Tidaklah seorang anak muda yang memuliakan orang tua karena ketuannya, melainkan
Allah akan mengadakan baginya orang yang akan memuliakan dia setelah tuanya. (H.R. at-Tirmizi
nomor 1945 dari Anas bin Malik).
Apabila kita sebagai generasi muda mau menghormati yang tua, insya Allah kelak (setelah tua)
akan dihormati pula oleh yang muda. Dengan demikian , hadis di atas sebagai motivasi bagi kita untuk
menghormati orang lain (terutama yang lebih tua).
Walaupun pada hadist di atas dikatakan menghormati orang tua karena ketuaannya, bukan berarti
bahwa selain orang tua tidak dihormati. Semua wajib dihormati sebagaimana diri kita ingin dihormati.
Salah satu bentuk menghormati orang lain ialah menjaga diri agar tidak bersikap ananiah atau egois.
Contoh perbuatan ananiah lainnya yakni Teddi adalah anak kelas dua MTs, semula ia tinggal di
kota bersama kedua orang tuanya, namun karena selalu membuat ulah di sekolahnya maka ia
dikeluarkan dari sekolah dengan tidak hormat. Untuk menutupi rasa malunya terhadap tetangga dan
orang lain, ayahnya mengirim Teddi ke pondok pesantren yang letaknya tidak jauh dari rumah
neneknya. Di pesantren tersebut, kebetulan sudah ada MTs, sehingga Teddi bisa langsung diterima di
madrasah tersebut.
Namun kebiasaan jelek Teddi tetap tidak mau berubah, ia tetap menjadi anak nakal,
bandel,sombong dan selalu mementingkan diri sendiri. Egoisme Teddi semakin menjadi setelah
bergaul dengan teman-temannya dari kampung. Ia tidak mau melaksanakan piket kebersihan kelas,
tidak mau melakukan gotong royong untuk kepentingan sekolah, dan tidak mau bergaul dengan teman-
teman lainnya. Sikap perilaku Teddi menunjukkan sikap egoisme atau ananiah yang sesungguhnya
tidak pantas dimiliki oleh seorang muslim. [2]

2. PUTUS ASA
Banyak orang yang tampak murung karena kegagalan usaha yang dialami. Orang yang demikian
dikatakan putus asa. Bagaimanakah yang dimaksud putus asa? Apa pula penyebab utamanya?

a. Pengertian Putus Asa


Putus asa berarti habis harapan, tidak ada harapan lagi. Seseorang dikatakan putus asa apabila tidak
lagi mempunyai harapan tentang sesuatu yang semula hendak dicapai.[3]
Penyebab seseorang putus asa biasanya karena terjadinya kegagalan yang berulang kali dalam
mencapai cita-cita atau pengharapan sesuatu. Sebenarnya, penyebab utama seseorang putus asa
bukanlah persoalan yang dihadapi semata-mata , melainkan cara menyikapi persoalan tersebut.
Padahal Allah melarang orang berputus asa. Apapun yang pernah dikerjakan di masa lalu kalau
orang mau menyesali perbuatannya dan bertaubat kepada Allah, maka allah akan mengampuni dosa.
Allah berfirman:

(#quZ)s? w NgRr& #n?t (#qu r& t%!$# y$t7t @% *


z>qR t !$# b) 4 !$# `BpuHq
qt9$#Lm9$# uqd mR) 4 $Hsd %!$#
Artinya: Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa
semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Az
Zumar:53).[4]

b. Bentuk-Bentuk Putus Asa


Putus asa yang dialami seseorang dapat tercermin dalam sikap sebagai berikut:
1. Bermalas-malasan setelah mengalami kegagalan dalam suatu usaha.
2. Tidak bersemangat untuk meneruskan usahanya yang gagal.
3. Tampak murung dan tidak memiliki gairah untuk berusaha lagi.
4. Mudah terpancing emosinya sehingga sebentar-sebentar marah walaupun hanya dengan sebab
yang kecil saja.

c. Larangan Berputus Asa


Orang putus asa berarti kehilangan semangat dan gairah untuk mencapai sesuatu yang semula
diharapkan. Putus asa biasanya diikuti dengan sikap masa bodoh, tidak mau lagi berusaha. Islam
mendidik umatnya agar tidak putus asa dari rahmat Allah. Allah swt. Berfirman sebagai berikut:
!$# yr `B t($t w mR) ( !$# yr `B (#qt($s? wur.
tbrs39$# w)Pqs)9$#
Artinya:
Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari
rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". (Q.S. Yusuf 12:87).
Walaupun ayat diatas berkaitan dengan sejarah Nabi Yusuf a.s., namun dapat diambil pengertian
secara umum bahwa setiap muslim hendaknya tidak putus asa dalam menghadapi masalah apa pun.
Contoh perbuatan putus asa yakni Andi sebenarnya anak yang pintar di kelasnya, ia memiliki otak
yang cerdas dan daya pikir yang tajam. Hanya saja, orang tua Andi tergolong keluarga kurang mampu,
sehingga mereka sangat kesulitan membiayai sekolah anaknya. Orang tua Andi hanya seorang buruh
tani yang tinggal disuatu kampung. Penghasilannya tidak tetap dan tidak mencukupi untuk kebutuhan
sehari-hari.[5]
Pada mulanya Andi bersemangat ingin melanjutkan sekolahnya ke MTs, ia dan teman-temannya
setahun yang lalu mendaftarkan diri ke madrasah Tsanawiyah negeri dan mereka pun diterima di
sekolah tersebut. Selama setahun pertama, Andi dapat berhasil mempertahankan sekolahnya dengan
segala kekurangan dan keterbatasan yang dimilikinya. Biaya yang sangat pas-pasan bahkan
kekurangan, tidak membuatnya gentar menghadapi pelajaran. Namun menginjak tahun kedua, ketika ia
duduk di bangku kelas dua, semangat belajar Andi menurun drastis, ia selalu mengeluhkan tentang
ketidak mampuan orang tuanya. Banyak kewajibannya sebagai siswa yang belum dilunasi, dan ia pun
merasa malu kepada teman-temannya. Akhirnya Andi memutuskan berhenti sekolah dan berusaha
mengubur segudang cita-citanya yang mulia.
Bagi Andi, sekolah hanya menyakitkan hati dan hanya untuk anak-anak orang mampu. Sedangkan
anak seperti dirinya tidak pantas melanjutkan sekolah, cukup dengan ijazah SD saja, dan tidak perlu
mempunyai cita-cita yang tinggi. Demikianlah sikap putus asa yang dimiliki oleh Andi, dan sikap
seperti itu hendaknya dihindari.

3. GHADAB
Ghadab adalah salah satu akhlak mazmumah yang amat negatif akibatnya, baik bagi diri sendiri
maupun orang lain. Apakah ghadab itu?
a. Pengertian Ghadab

Ghadab berasal dari bahasa Arab

yang berarti merasa (perasaan) sangat
tidak senang dan panas (karena dihina, diperlakukan kurang baik) dan sebagainya. Rasa sangat tidak
senang dan panas tersebut mungkin karena dihina, disakiti hatinya atau dirampas haknya. Akibatnya,
menimbulkan kekecewaan . Apabila kekecewaan cukup mendalam , akhirnya dilampiaskan dengan
kemarahan.[6]

b. Bentuk-bentuk Ghadab
Orang yang marah darahnya memanas sehingga memengaruhi seluruh syarafnya. Darah yang
mengalir ke kepala memengaruhi seluruh syaraf di kepala sehingga wajahnya memerah.
Kemarahan seseorang dapat diwujudkan dalam bentuk :
1. Pandangan mata yang tajam dengan mata memerah dan jarang berkedip;
2. Wajah cemberut dan mudah terpancing emosinya;
3. Susah diajak berbicara baik-baik;
4. Terkadang melontarkan kata-kata kasar yang tidak enak didengar;
5. Bertindak anarkis , merusak sesuatu yang ada di sekelilingnya;
6. Mengancam terhadap orang yang menyebabkan kecewa.

c. Larangan Ghadab
Ghadab atau marah termasuk sikap yang kurang terpuji. Islam mendidik umatnya agar bersikap
sabar, tidak mudah marah, kecuali apabila sudah keterlaluan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan
dari Abu Hurairah dinyatakan sebagai berikut:

Artinya: Sesungguhnya seorang lelaki berkata (meminta nasehat kepada Rasulullah saw), Ya
Rasulullah , nasehatilah aku! Sabdanya , Janganlah engkau marah! Lalu beliau mengulanginya
beberapa kali, dan sabdanya, Janganlah engkau marah! (H.R. al-Bukhari nomor 5651 dari Abu
Hurairah).
Orang yang mampu mengendalikan dirinya (tidak marah) telah memiliki tanda-tanda sebagai orang
yang takwa, yang dijanjikan Allah akan memperoleh janah. Firman Nya sebagai berikut:
$ygt >pYy_ur N6n/ `iB ;ottB 4n<) (#q$yur *
t)- N& NuqyJ9$#F{$#ur
tJx69$#ur !#9$#ur !#9$# tbq)Z t%!$# GJ=9
ZsJ9$# =t 3!$#ur $Y9$# `t t$y9$#ur xt9$#
Artinya :
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas
langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa;
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan
orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-
orang yang berbuat kebajikan.(Q.S.Ali Imran/3 :133-134).
Contoh perbuatan ghadab yakni tidak seperti biasanya hari itu Risma terlambat pulang ke rumah.
biasanya tidak lebih dari jam dua siang ia telah sampai di rumahnya. Namun pada hari itu, Risma
mengikuti kegiatan ekstrakulikuler yakni latihan paskibra. Hanya saja, sebelumnya ia lupa tidak
memberitahu ayah dan ibunya bahwa hari itu ada kegiatan latihan paskibra. Jam lima sore, Risma baru
pulang ke rumah dengan hati was-was, karena takut dimarahi ayah dan ibu. Benar saja, belum juga kaki
Risma menginjak lantai rumah, ayah telah memanggilnya dan memarahinya habis-habisan. Risma
tertunduk ketakutan dan dalam hatinya mengakui bersalah. Ayah terus bersungut-sungut dan
membentak-bentak melampiaskan amarahnya, namun Risma tetap tidak melawan melainkan hanya
menangis. Ayah hendak menampar Risma dengan tangannya yang kekar , namun ibu keburu hadir dan
menenangkannya. Dengan penuh kelembutan, sang ibu akhirnya dapat meredahkan amarah ayah, dan
Risma pun dipeluknya seraya dinasehati agar tidak mengulanginya lagi pada kemudian hari. [7]

4. TAMAK
Banyak orang yang amat tamak untuk memiliki harta yang banyak agar sejahterah hidupnya.
Karena besarnya sifat tamak , terkadang nekat berbuat sesuatu yang melanggar norma agama dan
susila. Apakah tamak itu?

a. Pengertian Tamak

Kata tamak berasal dari bahasa arab yang berarti loba, tamak, dan rakus.
Secara istilah, tamak berarti terlampau besar nafsunya terhadap keduniaan, misalnya terhadap kekayaan
harta benda. Orang yang terlampau besar nafsunya untuk memiliki harta mencurahkan pikiran dan
tenaga agar harta kekayaannya semakin banyak. Sikap seperti ini amat tercela dalam pandangan agama
maupun sesama manusia.[8] Pentingnya menghindari sikap tamak, antara lain disebabkan beberapa hal
berikut: manusia mau menerima apa yang telah menjadi miliknya, dan selalu mensyukurinya dengan
jalan ibadah kepada Allah SWT; Manusia dapat mengikuti hukum dan aturan Allah SWT. Yang telah
digariskan kepada setiap makhluk-nya, tidak menghalalkan segala cara yang dapat merugikan orang
lain; manusia terhindar dari sifat-sifat iblis yang selalu tidak pernah puas atas apa yang menjadi
miliknya; manusia pandai bersyukur atas rahmat dan karunia Allah SWT. Yang telah diterimanya.[9]

b. Bentuk-Bentuk (Ciri-Ciri) Tamak


Orang yang tamak mempunyai ciri-ciri , antara lain :
1. Giat melakukan sesuatu apabila diperkirakan akan memperoleh hasil;
2. Enggan melakukan sesuatu yang memerlukan biaya;
3. Enggan mengeluarkan harta yang dimiliki untuk agama dan kemanusiaan;
4. Menghabiskan waktunya untuk mengumpulkan kekayaan;
5. Mau menerima , tetapi enggan memberikan sesuatu kepada pihak lain.

c. Larangan Memiliki Sifat Tamak


Islam mendidik umatnya agar tidak tamak terhadap keduniaan. Allah SWT menciptakan dunia ini
sebagai sarana untuk kehidupan manusia. Tanpa harta, manusia susah hidupnya , namun dengan harta
pula , manusia dapat celaka (apabila tidak bersikap hati-hati). Larangan bersikap tamak terungkap
dalam firman Allah SWT. Berikut ini:
: Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang
melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang
banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani;
kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.
dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan
kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Q.S.al-Hadid/57:20)
Ayat diatas menjelaskan bahwa hidup di dunia hanya seperti orang yang asyik dalam permainan,
berbangga-bangga kekayaan dan anak, seperti petani yang mengagumi tanamannya, tetapi tanaman
tersebut kemudian hancur. Penjelasan tersebut berisi larangan secara halus agar manusia tidak terlalu
tamak terhadap keduniaan.
Contoh perbuatan tamak Rusdi dan Rasad adalah dua bersaudara. Mereka berdua mendapatkan
harta warisan dari kedua orang tua mereka. Karena keduanya laiki-laki, mereka mendapatkan bagian
yang sama. Rusdi menerima bagiannya dengan ikhlas dan bermaksud menggunakan harta warisan itu
sebagiannya untuk membangun masjid peninggalan ayah mereka, sedangkan sebagiannya akan
digunakan untuk modal usaha.[10]
Lain halnya dengan Rasyad, ia tidak menerima bagian yang telah ditetapkan oleh hukum waris
dalam islam. Rasad menuduh Rusdi mengambil bagian lebih banyak. Rasad menuntut Rusdi agar
menyerahkan sebagian harta warisnya kepadanya. Sebab ia masih merasa tidak cukup dengan bagian
harta waris yang diterimanya. Rusdi menolak permintaan adiknya, tetapi Rasad sang adik terus
menuntut agar ia mendapatkan harta waris lebih banyak dari pada kakaknya.
Pertengkaran pun terjadi, bahkan hampir saja mereka berkelahi, namun Pak ustadz keburu datang
melerai dan menasehati mereka. Rusdi sadar dan menerima nasehat Pak ustadz, tetapi lain halnya
dengan Rasad, ia tetap menuntut bagian lebih banyak dari kakaknya. Akhirnya, Rusdi mengalah dan
memberikan sebagian miliknya kepada Rasyad.
Demikianlah, contoh sikap tamak atau rakus yang dimiliki seseorang akan berakibat buruk, baik
bagi pelakunya maupun orang lain.

Sifat wajib bagi Nabi dan Rasul ada 4, yakni:

Sidiq Sifat ini berarti jujur atau benar, artinya nabi dan Rasul dijaga oleh Allah SWT kejujurannya
dan kebenarannya. Jadi tidak pernah ingkar apapun yang dikatakan oleh Nabi dan Rasul kepada
umatnya karena mereka adalah laki-laki pilihan Allah SWT.

Amanah Sifat ini artinya dapat dipercaya, seperti yang dikatakan diatas bahwa Nabi dan Rasul tidak
pernah ingkar maupun berdusta. Nabi dan Rasul selalu bisa dipercaya untuk melaksanakan apapun
yang diperintahkan oleh Allah SWT kepadanya.

Tabligh Sifat ini artinya meyampaikan, jadi memang tugas utama mereka adalah menyampaikan
pesan-pesan Allah SWT atau menyampaikan wahyu dari Allah SWT kepada umat mereka.

Fathonah Sifat wajib yang satu ini artinya cerdas, Nabi dan Rasul diberi kecerdasan oleh Allah SWT
agar mereka mampu memerangi kaum yang tidak berada dijalan Allah SWT dan mengajaknya untuk
berada dijalan yang benar, yakni jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT.

1. Adam
Manusia pertama yang dijadikan oleh Allah secara langsung dan menyuruh agar para malaikat tunduk
kepadanya. Allah mengajarinya
nama-nama berbagai benda, menciptakan istrinya dan menempatkannya didalam surga serta
memperingatkan kepada mereka agar tidak mendekati sebuah pohon tertentu. Akan
tetapi setan menggoda mereka hingga mereka memakan buah pohon itu. Allah menurunkan mereka ke
bumi dan
membekali mereka dengan sarana-sarana kehidupan. Mereka berdua diminta untuk beribadah hanya
kepada Allah dan mengajak orang lain
berbuat demikan pula. Ia dijadikan khalifah Allah di muka bumi dan juga sebagai rasul kepada anak-
anaknya. Dia adalah nabi pertama di atas bumi.

2. Ayub
Termasuk keturunan Nabi Ibrahim, beliau termasuk nabi yang banyak mendapat wahyu. Ayub adalah
orang kaya yang mempunyai banyak anak. Akan tetapi Allah mengujinya dengan menghilangkan
kekayaan itu semua. Pisiknya juga diuji dengan berbagai macam penyakit selama 18
tahun, selama itu dia dikucilkan oleh warganya kecuali istrinya yang dengan penuh kesabaran berbakti
menyediakan kebutuhan makannya
sampai Ayub disembuhkan kembali oleh Allah dan menggantikan semua kekayaan yang telah hilang
itu. Oleh karena itu, orang sering
membuat Nabi Ayub sebagai umpama dalam masalah kesabaran dan keteguhan hati menerima cobaan.
Dalam satu riwayat disebutkan bahwa
dalam surga kelak, Allah akan menjadikan Ayub sebagai contoh (bukti) orang-orang yang pernah
menerima ujian.

3. Daud
Kepadanya, Allah memberikan hikmah dan ilmu pengetahuan dan menundukkan gunung dan burung
untuk bertasbih bersamanya
(diperlakukan sesuka hatinya dengan seizin Allah), serta melunakkanbesi baginya. Beliau adalah
seorang hamba yang sangat tulus dan pandai bersyukur, dia selalu berpuasa sehari dan tidak berpuasa
hariberikutnya, selalu bangun di tengah malam, tidur sepertiga malam dan berjaga seperenamnya.
Kepadanya, Allah menurunkan Kitab Zabur dan juga diberikan kerajaan yang besar dan Allah
memerintahkannya untuk melaksanakan pemerintahan dengan adil.

4. Harun
Nabi Harun adalah saudara Musa dan partner (pasangan) dakwahnya dalam mengajak Firaun beriman
kepada Allah, karena kefasihan dan
kepandaiannya berbicara. Musa mewakilkan urusan kaumnya kepada Harun ketika ia pergi menemui
Allah di bukit Thur. Namun Samiri menyebarkan fitnah mengajak Bani Israel menyembah patung anak
sapi yang terbuat dari emas. Nabi Harun mengajak mereka kembali menyembah
Allah, tetapi mereka semakin menunjukkan kesombongan. Ketika Nabi Musa kembali dan
menyaksikan apa yang dilakukan kaumnya, dia memarahi saudaranya, Harun.

5. Hud
Beliau ini diutus kepada kaum Ad yang beriman kepada Nuh. Mereka terkenal dengan kaum yang
berbadan kekar dan kuat serta dikaruniai
banyak rezeki oleh Allah. Akan tetapi mereka tidak mau bersyukur kepada Allah atas nikmat yang
banyak itu, malah mereka menyembah
berhala. Untuk itu Allah mengutus Nabi Hud sebagai pemberi kabar gembira. Nabi Hud sebenarnya
sangat bijaksana, namun demikian kaumnya tetap mendustakan dan menyakitinya. Oleh karena itu
Allah mengirimkan badai yang berkepanjangan selama tujuh malam delapan hari untuk
menghancurkan mereka.

6. Ibrahim
Nabi Ibrahim adalah kekasih Allah (khalilullah), ia nabi yang dipilih oleh Allah untuk mengemban
risalah-Nya dan diberikan
kepadanya berbagai keistimewaan dari manusia lain. Ibrahim hidup di lingkungan penyembah bintang.
Dia tidak puas dengan hal itu. Dengan
fitrahnya dia merasakan bahwa pasti ada tuhan yang lebih besar dari bintang-bintang itu, akhirnya dia
diberi petunjuk oleh Allah dan
dipilih menjadi utusan-Nya. Nabi Ibrahim pun mulai mengajak kaumnya mengesakan dan menyembah
Allah, tetapi mereka mendustakannya dan
membakarnya. Dia diselamatkan oleh Allah dari perlakuan kaumnya itu. Dari keturunan Ibrahim, Allah
mengutus banyak nabi melalui dua anaknya, Ismail dan Ishak. Nabi Ibrahim membangun Kakbah
bersama anaknya, Ismail.

7. Idris
Adalah ayah dari kakek Nabi Nuh, nabi pertama setelah Adam. Beliau adalah nabi yang terkenal
dengan kejujuran dan kesabaran. Kepadanya
diturunkan tiga puluh sahifah. Dia dianggap sebagai orang pertama yang pandai menulis dengan pena
dan orang pertama yang pandai
menjahit dan memakai pakaian berjahit, juga orang pertama berpikir soal astrologi.

8. Ilyas
Nabi Ilyas diutus kepada penduduk Baalbek, sebelah barat Kota Damaskus (Libanon Timur sekarang).
Dia mengajak kaumnya beribadah
hanya kepada Allah dan meninggalkan penyembahan terhadap patung yang mereka namakan Ba`la.
Hal inilah yang mengakibatkan mereka menganiayanya. Ibnu Abbas mengatakan bahwa Ilyas adalah
paman Nabi Ilyasak.
9.Ilyasak
Nabi ini termasuk hamba Allah yang terbaik. Konon nabi inilah yang disebut dalam kitab Taurat. Di
antara mukjizatnya adalah menghidupkan kembali orang yang telah mati.

10. Isa
Nabi Isa, sama seperti Nabi Adam diciptakan dari tanah (tanpa ayah dan ibu) kemudian Allah
mengatakan kun lalu Nabi Adam pun lahir.
Isa putra Maryam, adalah rasulullah yang lahir dengan kalimat-Nya (kun) yang diberikan kepada
Maryam. Dialah nabi yang memberi kabar
kedatangan Muhammad saw. Allah memberikan kepadanya berbagai tanda dan menguatkannya dengan
roh kudus. Dia adalah orang yang terkemuka, baik di dunia maupun di akhirat dan termasuk orang-
orang yang dekat kepada Allah, sudah pandai bicara ketika ia masih dalam buaian. Dia
pernah membuat burung dari tanah lalu meniupnya dan tanah itupun menjadi burung. Dia pernah
menyembuhkan orang buta dan penderita
penyakit kusta serta menghidupkan orang yang sudah mati dengan izin Allah. Nabi Isa mengajak
kaumnya menyembah Allah Yang Maha Esa
tetapi mereka enggan dan merasa sombong dan bahkan menentangnya. Yang beriman dengan beliau
hanyalah sebagian kecil, yaitu mereka
yang mempunyai taraf hidup sederhana. Allah mengangkatnya ke langit dan akan menurunkannya
kembali ke bumi pada waktu yang dikehendaki-Nya untuk menjadi saksi untuk umat manusia akan
kebenaran Allah.

11. Ishak
Adalah anak Ibrahim dari istrinya Sarah. Berita kelahirannya dibawa oleh malaikat kepada Nabi
Ibrahim dan Sarah, ketika dia melewati mereka dalam perjalanan ke kota peninggalan kaum Luth untuk
menghancurkannya akibat kekufuran dan keonaran mereka. Dalam Alquran, Allah menjuluki Nabi
Ishak sebagai seorang anak yang arif dan bijak. Dia diutus Allah sebagai nabi mengajak manusia
berbuat kebaikan. Dari keturunannyalah muncul Nabi Yakub.

12. Ismail
Nabi Ismail adalah anak pertama Nabi Ibrahim dari istri keduanya, Hajar. Nabi Ibrahim membawa
Hajar pergi dan menempatkannya bersama
anaknya di suatu tempat yang kelak disebut Mekah, dengan dibekali sedikit air dan makanan. Ketika
perbekalan sudah habis, Hajar
berkeliling mencari makanan ke sana ke mari, akhirnya Allah menunjukkan kepadanya sumber air
Zamzam. Sejak itu mulailah orang
berdatangan ke tempat itu dan dari sini datanglah perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk
membangun Kakbah dan meninggikan fondasi
Baitullah. Nabi Ismail mengangkat batu-batu, sementara Nabi Ibrahim membangunnya sampai selesai.
Setelah itu Allah menurunkan wahyu
meminta Nabi Ibrahim mengorbankan Ismail, yang diterimanya melalui mimpi di mana dalam mimpi
tersebut beliau melihat dia menyembelih
anaknya Ismail. Ia menceritakan mimpinya itu kepada anaknya, anaknya pun menerima seraya berkata,
Hai ayahku. Lakukanlah apa yang
diperintahkan kepadamu. Engkau akan dapatkan aku termasuk orang-orang yang sabar , insya Allah.
Kemudian Allah mengganti
Ismail dengan seekor sembelihan yang besar. Ismail adalah seorang satria dan orang pertama yang
dapat menjinakkan kuda. Ismail juga
terkenal sebagai orang yang sangat penyabar dan penyayang. Ada pendapat mengatakan bahwa Nabi
Ismail adalah penutur pertama bahasa
Arab. Dia juga terkenal sebagai orang yang menepati janji dan selalu mengajak keluarganya
mendirikan salat, mengelurkan zakat serta beribadah hanya kepada Allah.

13. Luth
Allah mengutus Nabi Luth untuk memberi petunjuk kepada kaumnya dan mengajaknya menyembah
Allah. Kaum Luth adalah kaum yang zalim;
sering berbuat keji dan memusuhi pendatang asing di negerinya. Dalam hubungan seksual, mereka
tertarik kepada sesama lelaki, tidak senang kepada perempuan. Tatkala Nabi Luth mengajak mereka
meninggalkan kemungkaran itu, mereka ingin mengusir Nabi Luth beserta
pengikutnya. Ajakan Nabi Luth itu hanya diikuti oleh sebagian keluarga dekatnya saja, sedangkan
istrinya sendiri tidak
mengikutinya. Ketika Nabi Luth hampir merasa putus asa, dia berdoa kepada Allah agar diselamatkan
bersama pengikutnya serta
membinasakan orang-orang yang berbuat kerusakan. Kemudian datanglah malaikat menyelamatkan
Nabi Luth beserta pengikutnya dan menghancurkan yang lainnya dengan batu-batuan.

14. Musa
Nabi Musa diutus untuk mengajak Firaun dan pengikutnya agar beriman kepada Allah. Untuk itu dia
diberikan dua mukjizat; tongkat yang
dapat berubah menjadi naga, memakan ular-ular lain dan tangannya yang bila dimasukkan ke dalam
saku akan mengeluarkan cahaya putih
bersih tanpa cela. Dia mengajak mereka mengesakan Allah, tetapi Firaun memeranginya dan
mengumpulkan beberapa pawang sihir untuk di
adu dengan beliau. Dengan izin Allah, Musa dapat mengalahkan mereka, kemudian Allah
memerintahkan kepada Musa dan pengikutnya untuk
keluar dari Mesir. Firaun mengejarnya dengan pasukan tentara yang cukup banyak. Ketika pengikut
Musa merasa sudah hampir terkejar
tentara Firaun, Allah memerintahkan kepadanya untuk memukul laut dengan tongkatnya, agar mereka
dapat selamat sementara Firaun dan pengikutnya tenggelam yang kelak menjadi pelajaran untuk orang
lain.

15. Nuh
Nabi Nuh adalah orang yang bertakwa dan jujur. Dia diutus Allah memberikan bimbingan kepada
kaumnya dan memberikan peringatan kepada
mereka tentang adanya siksa hari akhirat. Namun kaum Nuh tidak menaati ajakannya, malah
mendustakannya. Walaupun demikian, Nabi Nuh
tetap mengajak mereka kepada ajaran agama yang lurus. Ajakannya itu hanya diikuti oleh sedikit
orang, sementara warga kafir terus
menunjukkan sikap permusuhan mereka terhadap Nabi Nuh. Sebagai siksaan terhadap mereka, Allah
tidak menurunkan hujan. Nuh mengajak
mereka beriman, agar Allah mencabut siksanya itu. Setelah mereka beriman, siksaan pun dicabut,
namun mereka kafir kembali, maka Nabi Nuh pun kembali mengajak mereka. Demikian berkelanjutan
selama 950 tahun. Setelah itu, Allah memerintahkannya untuk membuat kapal dan
mengangkut setiap jenis makhluk sepasang-sepasang kemudian Allah mendatangkan angin topan yang
menenggelamkan mereka semua.

16. Saleh
Nabi Saleh diutus Allah kepada warga Tsamud, suatu warga yang sangat ingkar dan keras kepala.
Allah telah memberikan kepada mereka rezeki
yang melimpah-ruah, akan tetapi mereka tidak menaati perintah Allah,bahkan menyembah berhala.
Mereka mempunyai perasaan superior dengan
kekuatan mereka. Dari itu, maka Allah mengutus Nabi Saleh untuk memberi kabar gembira dan
peringatan kepada mereka, namun mereka mendustakan, menentang dan menuntutnya untuk
mendatangkan seekorunta betina sebagai bukti yang dapat mereka percayai. Allahmemberikan seekor
unta untuk mereka dan menyuruh mereka agar tidak mengganggunya. Akan tetapi mereka tetap
mempertahankan kesombongan,malah membunuh unta itu. Oleh karena itu Allah menurunkan badai
kencang sebagai siksaan bagi mereka dan menyelamatkan Nabi Salehbeserta orang-orang yang
beriman bersamanya.

17. Sulaiman
Allah memberikan kepadanya banyak hikmah dan ilmu pengetahuan,mengajarinya bahasa burung dan
binatang-binatang serta menundukkan
angin dan jin sesuai perintahnya. Sulaiman mempunyai kisah denganseekor burung hudhud (belatuk)
yang memberitahukan kepadanya tentang
adanya sebuah kerajaan di Yaman yang warganya menyembah matahari.Nabi Sulaiman-pun mengirim
utusan kepada penguasa Saba untukmengajaknya beriman kepada Allah. Akan tetapi penguasa Saba,
(RatuBilqis), hanya mengirimkan semacam hadiah kepadanya, sehingga NabiSulaiman meminta
kepada jin untuk membawa singgasana Ratu Bilqiskepadanya. Di saat Ratu Bilqis melihat
singgasananya berada ditempat itu, ia pun beriman kepada Allah.

18. Syuaib
Nabi Syuaib diutus kepada warga Madyan yang menyembah Aykah (kayu). Dalam transaksi sehari-
hari, mereka selalu curang menimbang dan
menakar barang serta tidak memberikan hak-hak orang lain sepenuhnya. Nabi Syuaib mengajak
mereka menyembah Allah dan berlaku adil dalam
semua tindakan, tetapi mereka enggan dan berlaku sombong, malah kekeras kepalaan mereka semakin
menjadi-jadi sampai mengancam untuk merajam dan mengusir Nabi Syuaib. Mereka menuntut
kepadanya untuk mendatangkan gumpalan dari langit, maka Allah menurunkan balasan berupa tiupan
badai yang sangat keras dan mematikan mereka semua.

19. Muhammad SAW


Nabi Muhammad , berasal dari warga Arab yang menyeru orang kepada agama Islam. Dia berasal dari
keturunan Hasyim yang dilahirkan di Mekah beberapa bulan setelah ayahnya, Abdullah, meninggal
dunia. Aminah, ibunya, meninggal dunia ketika dia masih kanak-kanak. Setelah itu pemeliharaan
beliau secara bergilirian ditangani oleh kakeknya Abdul Mutalib dan pamannya Abu Thalib. Selama
beberapa waktu dia bekerja sebagai penggembala kambing, kemudian menikah dengan sayidah
Khadijah binti Khuwailid pada usia 25 tahun. Dia mengajak orang-orang memeluk Islam, dengan
beriman kepada Allah Yang Maha Esa dan kepada rasul-Nya. Dakwahnya dimulai dari sejak beliau
tinggal di Mekah. Karena tekanan dari penduduknya, pada tahun 622, bersama beberapa orang
pengikutnya dia berhijrah ke Madinah, di mana mereka mendapatkan sejumlah pendukung yang
disebut Ansar. Tahun hijrah ini kemudian diabadikan sebagai permulaan penanggalan dalam sejarah
Islam. Beliau wafat setelah melaksana kan haji wada.

DALIL IMAN KEPADA PARA RASUL ALLAH

Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi

IMAN KEPADA NABI DAN RASUL MERUPAKAN SALAH SATU RUKUN IMAN
Iman kepada para nabi dan rasul Allah, merupakan salah satu rukun iman.Keimanan seseorang itu tidak
sah, sampai ia mengimani semua nabi dan rasul Allah dan membenarkan bahwa Allah telah mengutus
mereka untuk menunjuki, membimbing dan mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya
kebenaran. Ditambah juga keharusan membenarkan bahwa mereka telah menyampaikan apa yang
Allah turunkan kepada mereka dengan benar dan sempurna, dan mereka telah berjihad dengan sebenar-
benarnya di jalan Allah.

Adapun dalil tentang kewajiban iman kepada para rasul, ialah sebagai berikut:
Allah berfirman:

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya, demikian pula
orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya
dan rasul-rasulNya. (Mereka mengatakan): Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun
(dengan yang lain) dari rasul-rasulNya, dan mereka mengatakan: Kami dengar dan kami taat.
(Mereka berdoa): Ampunilah kami, ya Rabb kami. Dan kepada Engkaulah tempat kembali. [Al
Baqarah:285].

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebaktian, akan tetapi
sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab,
nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang
miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan
(memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang
menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan
dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang
yang bertaqwa. [Al Baqarah:177].

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya dan kepada kitab yang
Allah turunkan kepada RasulNya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir
kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan hari kemudian, maka
sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. [An Nisaa:136].

Dalam ayat-ayat tersebut di atas, Allah memerintahkan kaum mukminin untuk beriman kepada Allah,
RasulNya, Al Quran dan kitab suci yang diturunkan sebelumnya. Hal ini menunjukkan kewajiban
beriman kepada para rasul.

Juga sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits Jibril yang terkenal, ketika ditanya
tentang iman, Beliau Shallallahu alaihi wa sallam menjawab :

Beriman kepada Allah, malaikatNya, kitab-kitab suciNya, para RasulNya dan hari akhirat serta taqdir
yang baik dan yang buruk.

Dalam hadits ini, Rasulullah menjadikan iman kepada para rasul termasuk salah satu rukun iman.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: Satu keharusan dalam iman, (yaitu) seorang hamba beriman
kepada Allah, Malaikat, kitab-kitab suciNya, para RasulNya dan hari akhir. Dia harus beriman kepada
seluruh rasul yang diutus dan seluruh kitab suci yang diturunkan.[1]
PERBEDAAN ANTARA NABI DAN RASUL
Para ulama berselisih pendapat dalam mendefinisikan nabi dan rasul [2]. Namun yang rajih (kuat),
menyatakan rasul adalah seorang yang mendapatkan wahyu dengan membawa syariat baru. Adapun
nabi adalah seorang yang diberi wahyu untuk menetapkan syariat sebelumnya.[3]

AN NUBUWAH (KENABIAN) ADALAH ANUGERAH ILAHI


An nubuwah (kenabian) merupakan perantara antara Sang Pencipta dengan makhlukNya dalam
menyampaikan syariatNya.

Ditinjau dari sisi makhluk, an nubuwah merupakan duta antara Allah dengan hambaNya, serta ajakan
Allah kepada makhlukNya untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya kebenaran.
Memindahkan makhlukNya dari kesempitan dunia menuju keluasan dunia dan akhirat. Sehingga
kenabian merupakan nikmat petunjuk dari Allah kepada hambaNya dan anugerah Ilahi kepada mereka.

Adapun ditinjau dari diri rasul tersebut, maka kenabian merupakan karunia Allah untuknya, pilihan
Allah untuknya dari seluruh manusia dan hadiah yang Allah khususkan kepadanya dari seluruh
makhluk.[4]

Dengan begitu, kenabian tidak dapat dicapai dengan ketinggian ilmu, ibadah dan ketaatan. Kenabian
juga tidak dapat dicapai dengan semedi, mengosongkan perut, meditasi dan yang lainnya. Namun
kenabian merupakan anugerah Ilahi semata, dan pilihan dari Allah, sebagaimana firmanNya:

Allah memilih utusan-utusan(Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha
Mendengar lagi Maha Melihat. [Al Hajj:75].

Dan Allah menentukan siapa yang dikehendakiNya (untuk diberi) rahmatNya (kenabian); dan Allah
mempunyai karunia yang besar. [Al Baqarah:105].

Demikianlah, kenabian adalah kedudukan dan martabat yang tinggi, yang Allah khususkan kepada para
nabi, semata-mata karena keutamaanNya, lalu Allah mempersiapkan dan memudahkan mereka
mengembannya. Dengan keutamaan dan rahmatNya tanpa bersusah payah, Allah menjaga mereka dari
pengaruh syetan dan menjaganya dari kesyirikan.

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan
Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil,
dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayt-ayat
Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.
[Maryam:58].

Allah berfirman kepada Musa:

Allah berfirman: Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain
(di masamu) untuk membawa risalahKu dan untuk berbicara langsung denganKu, sebab itu berpegang
teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang
bersyukur. [Al Araf:144].

Demikian juga Allah menceritakan pernyataan Nabi Yaqub kepada anaknya :

Dan demikianlah Rabb-mu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkanNya kepadamu sebagian
dari tabir mimpi-mimpi dan disempurnakanNya nikmatNya kepadamu dan kepada keluarga Yaqub,
sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmatNya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu)
Ibrahim dan Ishaq. Sesungguhnya Rabb-mu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. [Yusuf:6].

Ayat-ayat di atas jelas menunjukkan, bahwa kenabian bukanlah sesuatu yang dapat diraih dengan
latihan dan pencarian dan angan-angan. Oleh karena itu, ketika kaum musyrikin berkata:

Mengapa Al Quran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekkah dan
Thaif) ini? [Az Zukhruf:31]

Maka Allah menjawab dengan firmanNya:

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabb-mu? Kami telah menentukan antara mereka
penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas
sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang
lain. Dan rahmat Rabb-mu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. [Az Zukhruf:32].

URGENSI IMAN KEPADA PARA NABI DAN RASUL


Pertama : Iman kepada kenabian (an nubuwah) adalah jalan mengenal untuk Allah dan mencintaiNya.
Juga merupakan piranti untuk mencapai keridhaan Allah dan keselamatan dari adzabNya, serta menjadi
dasar kebahagian dan keselamatan di dunia dan akhirat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan: Iman kepada nubuwah merupakan dasar pokok
keselamatan dan kebahagiaan. Barangsiapa yang tidak memahami benar permasalahan ini, akan
bingung untuk mengetahui mana pintu petunjuk dan kesesatan, iman dan kufur, dan tidak dapat
membedakan yang salah dan yang benar.

Kedua : Kebutuhan hamba Allah untuk mengakui kenabian lebih besar dan mendesak daripada
kebutuhan mereka terhadap udara, makanan dan minuman. Sebab, akibat kehilangan udara, makanan
atau minuman hanyalah kematian dan kerugian dunia. Berbeda jika ia tidak mengakui kenabian, akan
mengakibatkan kerugian di dunia dan akhirat.

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah berkata,tanda-tanda kenabian termasuk menjadi bukti-bukti rububiyah
Allah. Semuanya jelas dan nyata pada setiap orang, seperti kejadian yang tampak terlihat; karena
makhluk membutuhkan pengakuan kepada Sang Pencipta dan para rasulNya.[5]

Tidak diragukan lagi, setiap makhluk yang mukalaf membutuhkan untuk mengenal Allah, iman
kepadaNya, beribadah kepadaNya dan mengenal para rasulNya serta mentaatiNya?. Oleh karena itu,
Allah memudahkan hambanya untuk mendapatkan hal-hal tersebut.
Syaikh Islam berkata,Sesungguhnya sesuatu yang dibutuhkan pengenalannya oleh manusia seperti
iman kepada Allah dan RasulNya, maka Allah menjabarkan dan memudahkan jalan mendapatkannya.
[6]

Kemudian Syaikh Islam Ibnu Taimiyah menambahkan : Demikianlah, setiap kali manusia sangat
butuh mengenal sesuatu. Maka Allah memudahkan mereka dengan bukti-bukti yang mengenalkannya,
seperti bukti-bukti yang menunjukkanNya, bukti-bukti kenabian RasulNya dan bukti-bukti ketentuan
taqdir dan ilmuNya.[7]

Dalam masalah ini, Syaikh Islam Ibnu Taimiyah berkata: Sesungguhnya Allah menjadikan para rasul
sebagai perantara antara Dia dengan hambaNya, dalam mengenalkan kepada mereka apa-apa yang
bermanfaat dan yang merugikan mereka, dan menyempurnakan apa-apa yang mashlahat bagi
kehidupan dunia dan akhirat mereka. Para rasul ini seluruhnya diutus untuk berdakwah kepada Allah,
mengenalkan jalan untuk sampai kepada Allah dan menjelaskan keadaan mereka setelah sampai
kepadaNya.

Selanjutnya beliau rahimahullah menjelasakan beberapa pokok yang perlu diperhatikan :

Pokok pertama : Mengandung penetapan sifat-sifat Allah, tauhid dan taqdir, serta penjelasan perlakuan
Allah terhadap para wali dan musuhNya. Yaitu yang Allah kisahkan kepada hambaNya dan permisalan
yang dibuat untuk mereka.
Pokok Kedua : Mengandung perincian syariat, perintah, larangan dan perkara mubah, serta penjelasan
apa-apa yang dicintai dan dibenci Allah.
Pokok ketiga : Mengandung iman kepada hari akhir, syurga, neraka, pahala dan siksaan.

Al khalqu (penciptaan) dan al amru (selain penciptaan), berporos kepada tiga pokok ini. Begitu pula
kebahagiaan dan kesuksesan pun tergantung padanya. Tidak ada jalan untuk mengenal semua ini,
kecuali dari para rasul; karena akal tidak mengerti perincian dan tidak dapat mengenal hakikatnya;
walaupun akal dapat mengenal sesuatu yang darurat darinya secara global, seperti layaknya orang yang
sakit, ia memerlukan obat dan orang yang mengobatinya, namun tidak mengetahui diagnosa penyakit
dan resep obatnya.

Kebutuhan hamba kepada risalah, jauh lebih besar dari kebutuhan orang sakit terhadap pengobatan.
Pasalnya, karena batas perkiraan dengan tidak adanya thabib (dokter) adalah kematian badan.
Sedangkan seorang hamba, jika tidak mendapatkan cahaya dan pancaran risalah, maka ia telah mati
sebelum waktu ajalnya, dan tidak diarapkan akan ada kehidupan dalam dirinya untuk selamanya, atau
ia akan sengsara dengan kesengsaraan yang tidak akan diselingi kebahagiaan selama-lamanya.. Oleh
karena itu, tidak ada keberuntungan, kecuali hanya dengan mengikuti Rasul.[8]

Ibnul Qayyim berkata: Dari sini diketahui, urgensi seorang hamba untuk mengenal rasul, ajaran dan
membenarkan beritanya, serta mentaati perintahnya, melebihi segala kepentingan lainnya. Sebab, tidak
ada jalan kebahagian dan kesuksesan di dunia dan akhirat, kecuali hanya di tangan para rasul. Tidak
ada jalan mengenal kebaikan dan kejelekan secara terperinci, kecuali dari mereka. Dan tidak akan
mendapatkan keridhaan Allah, kecuali dengan mereka. Perkara baik dari amalan, perkataan dan akhlak,
tidak lain adalah petunjuk dan ajaran mereka. Amalan, perkataan dan akhlak mereka merupakan
timbangan untuk seluruh amalan, perkataan dan akhlak manusia. Dengan mengikuti mereka, terseleksi
orang yang mendapat petunjuk dan yang sesat. Sehingga kebutuhan manusia terhadap mereka lebih
besar dari kebutuhan badan kepada nyawanya, mata terhadap cahaya dan nyawa terhadap
kehidupannya. Apapun kepentingan dan kebutuhan yang terbetik, kepentingan dan kebutuhan hamba
terhadap para rasul lebih tinggi di atasnya. Bagaimana tanggapan anda terhadap sosok yang petunjuk
dan ajarannya jika hilang darimu sekejap mata saja akan merusak hatimu, dan menjadi seperti ikan
yang terpisah dengan air dan diletakkan di penggorengan? Seperti itulah keadaan hamba ketika hatinya
lepas dari ajaran para rasul, bahkan bisa lebih fatal lagi. Namun tidak akan ada yang merasakan hal ini,
kecuali kalbu yang hidup [9].

KANDUNGAN IMAN KEPADA PARA NABI DAN RASUL


Pertama : Meyakini dengan benar dan mantap bahwa Allah Subhanahu wa Taala telah mengutus
kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak untuk menyembah Allah saja dan mengkufuri
sesembahan selainNya.

Artinya, substansi dakwah para rasul, dari yang pertama sampai yang terakhir sama, yaitu
mentauhidkan Allah dalam uluhiyah, rububiyah dan asma wa sifat (nama dan sifat Allah), dan
meniadakan lawannya atau meniadakan kesempurnaannya [10]. Begitulah, para nabi dan rasul
membawa agama satu, yaitu Islam, dan setiap rasul menegaskan kepada kaumnya:

Hai kaumku, sembahlah Allah, (karena) sekali-kali tidak ada ilah bagimu selain Dia. [Al
Muminun:23].

Dan firmanNya:

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah
Allah (saja), dan jauhilah thagut itu. [An Nahl:36].

Seluruh syariat mengajak kepada tauhid. Itulah inti sari dakwah para rasul sejak Nabi Nuh
Alaihissallam sampai Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah berkata: Inilah agama nabi yang pertama sampai nabi terakhir dan para
pengikut mereka, yaitu Islam. Agama Islam itu, intinya ialah beribadah kepada Allah saja yang tidak
ada sekutu bagiNya. Ibadah kepada Allah di setiap waktu dan tempat, yaitu dengan mentaati para
rasulNya. Sehingga seorang hamba beribadah kepadaNya dengan tidak menyelisihi ajaran para rasul
tersebut, sebagaimana orang yang Allah ceritakan dalam firmanNya:

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka
agama yang tidak diizinkan Allah. [Asy Syura:21].

Tidaklah beriman kepada Allah, kecuali orang yang beribadah kepada Allah dengan mentaati para
rasulNya. Dan tidaklah beriman kepada Allah dan beribadah kepadaNya, kecuali orang yang beriman
kepada seluruh para rasul dan mentaati mereka. Sehingga setiap rasul ditaati sampai datang rasul
berikutnya, lalu ketaatannya diberikan kepada rasul yang tersebut. [11]

Kedua : Beriman bahwa para rasul adalah orang yang memberikan petunjuk dakwah dan bimbingan
menuju hidayah, sebagaimana firman Allah :

Sesunguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang
memberi petunjuk. [Ar Rad:7].

Dan firmanNya.

Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Yaitu) jalan Allah.
[Asy Syura:52, 53].

Adapun hidayah taufiq, hanyalah di tangan Allah, Dialah yang membolak-balik hati dan mengatur
segala perkara.[12]

Ketiga : Membenarkan kerasulan dan mengakui kenabian mereka. Meyakini bahwa mereka jujur dan
benar dalam menyampaikan semua yang dari Allah. Mereka telah menyampaikan risalah Ilahi, serta
menjelaskan kepada semua manusia semua, yang tidak mereka ketahui [13]. Para rasul tidak pernah
menyembunyikan satu huruf pun dari risalah Ilahi. Mereka tidak merubah, menambah dan mengurangi
dengan sesuatu. Allah berfirman:

Maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.
[An Nahl:35].

Barang siapa yang mengkufuri salah seorang dari mereka, berarti telah mengkufuri seluruh para rasul
dan kufur terhadap Allah yang mengutus mereka. Allah berfirman.

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya, demikian pula
orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya
dan rasul-rasulNya. (Mereka mengatakan): Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun
(dengan yang lain) dari rasul-rasulNya, dan mereka mengatakan: Kami dengar dan kami taat.
(Mereka berdoa): Ampunilah kami ya Rabb kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali. [Al
Baqarah:285].

Sesungguhnya orang-orang kafir kepada Allah dan rasul-rasulNya, dan bermaksud memperbedakan
antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasulNya, dengan mengatakan: Kami beriman kepada yang
sebahagian dan kafir terhadap sebahagian (yang lain), serta bermaksud (dengan perkataan itu)
mengambil jalan (tengah) diantara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir
sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang
menghinakan. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasulNya dan tidak membedakan
seorangpun diantara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan adalah
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [An Nisaa:150, 152].

Keempat : Beriman bahwa Allah meninggikan derajat sebagian rasul atas sebagian lainnya.
Menjadikan Nabi Ibrahim Alaihissallam dan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam sebagai
khalilNya. Berbicara kepada Nabi Musa Alaihissallam, mengangkat Nabi Idris Alaihissallam pada
martabat yang tinggi, dan menjadikan Nabi Isa Alaihissallam sebagai hamba dan rasulNya serta
Muhammad sebagai penutup para nabi dan rasul, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Taala.







Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Diantara mereka ada
yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa
derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mujizat, serta Kami perkuat dia
dengan Ruhul Qudus. [Al Baqarah:253].

Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi khalilNya (kesayanganNya). [An Nisaa:125]

Allah berfirman: Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain
(di masamu) untuk membawa risalahKu dan untuk berbicara langsung denganKu, sebab itu berpegang
teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu, dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang
bersyukur. [Al Araf:144].

Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. [An Nisaa:164]

Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang disebut) di dalam Al Quran.
Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah
mengangkatnya ke martabat yang tinggi. [Maryam:56, 57].

Kelima : Beriman kepada para nabi dan rasul secara umum, baik yang telah kita ketahui maupun yang
belum kita ketahui. Demikian juga beriman secara khusus kepada setiap nabi dan rasul yang telah Allah
sebutkan namanya, dengan berkeyakinan bahwa Allah memiliki para rasul lainnya yang tidak Dia
kisahkan. Allah berfirman:

Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, diantara mereka ada yang
Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. [Al
Mumin:78]

Keenam : Mentaati para nabi dan rasul dengan mengikuti seluruh perintah mereka dan menjauhi
seluruh larangannya, serta berjalan di atas manhaj mereka. Karena, mereka telah menyampaikan
syariat dari Allah. Mereka sebagai contoh teladan bagi umat mereka. Allah memberikan kemasuman
kepada mereka dalam menyampaikan berita dari Allah dan risalahNya menurut kesepakatan umat.
Allah berfirman tentang Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.

Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Taatilah
Allah dan RasulNya; Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
kafir. [Ali Imran:31, 32]

Taat dan ibadah kepada Allah dengan mengikuti dan mencontoh mereka. Sedangkan yang menjadi
kewajiban kita adalah beramal dengan syariat rasul yang diutus kepada kita, yaitu Muhammad
Shallallahu alaihi wa sallam, yang menjadi penutup sekalian para nabi dan rasul. Nabi Muhammad
Shallallahu alaihi wa sallam diutus untuk segenap umat manusia. Allah berfirman:

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman, hingga mereka menjadikan kamu hakim
dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka
terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. [An Nisaa:65].

Demikianlah sebagian pembahasan mengenai iman kepada rasul. Mudah-mudahan bermanfaat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun VIII/1425H/2004M Diterbitkan Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Jl. Solo Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp.
08121533647, 08157579296]
________
Footnote
[1]. Ibnu Taimiyah, Al Furqaan Baina Aulia Ar Rahman Wa Aulia Asy Sayithan, hlm. 77, dinukil
dari muqaddimah yang ditulis Dr. Abdulaziz bin Shalih Ath Thawiyan dalam kitab An Nubuwwah
karya Ibnu Taimiyah, Cetakan I, Tahun 1420 H, Maktabah Adhwaa As Salaf, Riyadh, KSA hlm. 1/37.
[2]. Lihat lebih lengkap tulisan Ibnu Ahmad Al Lambunji berjudul Iman Kepada Rasul Allah, dalam
Majalah As Sunnah, edisi 12/TahunVI/ 1423H/2003M hlm. 42-43.
[3]. Tim Kurikulum Aqidah, Muqarrar At Tauhid Li Shaf Ats Tsaani Al Ali Fi Al Maahid Al
Islamiyah, tanpa tahun dan penerbit, hlm. 57.
[4]. Diambil dari muqaddimah yang ditulis Dr. Abdulaziz bin Shalih Ath Thawiyaan dalam kitab Al
Nubuwwah, karya Ibnu Taimiyah, Op.Cit. hlm. 1/19
[5]. Al Jawaabu Ash Shahih Liman Baddala Din Al Masiih, hlm. 5/435.
[6]. Ibnu Taimiyah, Daru Taarud Al Aql Wa An Naql, tahqiq Muhammad Rasyaad Saalim, tanpa
tahun dan penerbit, hlm. 9/66
[7]. Ibid, hlm. 10/129
[8]. Majmu Fatawa, Op.Cit., hlm. 19/96-97. Lihat muqaddimah kitab An Nubuwah, Op.Cit., hlm.
1/20-22, dengan tambahan.
[9]. Ibnu Al Qayyim, Zaad Al Maad Fi Hadyi Khairi Al Ibaad, tahqiq Syuaib Al Arnauth dan
Abdulqadir Al Arnauth, Cetakan II, Tahun 1418, Muassasah Ar Risalah, Bairut, hlm.1/68-69.
[10]. Hisyam Abdulqadir, Mukhtashar Maarij Al Qabul Bi Syarhi Sullam Al Wushul Ila Ilmi Al
Ushul Li Haafizh bin Ahmad Al Hakami, Cetakan II, tahun 1413H, Daar Ash Shafwah, Kairo, Mesir,
hlm. 200, 201.
[11]. Ibnu Taimiyah, Al Jawaab Ash Shahih Liman Baddala Din Al Masih, tahqiq Dr. Ali Hasan
Naashir, Dr. Abdulaziz Ibrahim Al Askar dan Dr. Hamdaan Muhammad Al Hamdan, Cetakan II,
Tahun 1419 H, Daar Al Aashimah, Riyadh KSA, hlm. 1/83-84.
[12]. Mukhtashar Maarij Al Qabul, Op.Cit., hlm. 201.
[13]. Dr. Shalih bin Fauzaan Al Fauzaan, Al Irsyaad Ila Shahih Al Itiqaad Wa Ar Radd Ala Ahli Asy
Syirik Wal Ilhaad, Cetakan Pertama, Tahun 1423 H, Dar Al Aashimah, Riyadh, KSA, hlm. 235.
[14]. Mukhtashar Maarij Al Qabul, Op.Cit., hlm. 201.
[15]. Ibid.
[16]. Muqarrar Tauhid Lish Shaf Ats Tsani, Op.Cit., hlm. 62.
[17]. Ibid.

MUKJIZAT ROSSUL
1. Mukjizat Nabi Adam: Nabi Adam diyakini sebagai manusia pertama yang menginjakkan kaki di
bumi. Sebagai pasangan Nabi Adam adalah Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk kiri Nabi Adam.

Mereka diturunkan ke bumi karena telah berbuat kesalahan akibat godaan iblis/syetan, Adam dan Hawa
dikaruniai dua pasangan putra-putri yang bernama Qabil dan Iklima, kemudian Habil dan Labuda.

Qabil bersifat kasar, sedangkan Labuda bersifat lembut, Kedua sifat inilah yang akhirnya menjadi cikal
bakal dalam sifat-sifat dasar manusia.

2. Mukjizat Nabi Ayub: Nabi Ayub dikenal seorang yang kaya raya dan sangat dermawan. Namun
kesejahteraan ini tidak membuatnya sombong, ini yang mendorong iblis untuk menggodanya.

Allah pun menentang iblis sekiranya dia dapat meruntuhkan iman Nabi Ayub. Ujian itu pun tiba,
seluruh harta kekayaan yang dimiliki Nabi Ayub habis terbakar, setelah itu Nabi Ayub terserang
penyakit kulit hingga 80 tahun lamanya.

Namun dia dan istrinya yang setia, Rahmah, tetap bertawakal kapada Allah SWT. Sampai akhirnya
Allah berfirman agar Nabi Ayub menapakkan kakinya ditanah. kemudian dari tanah tersebut keluar air
yang dapat menyembuhkan penyakit yang dideritanya selama 80 tahun.

3. Mukjizat Nabi Daud: Figur Nabi Daud memuncak saat dia berhasil membunuh jalut, pemimpin
kaum pemberontak palestina. Nabi Daud kemudian menjadi seorang raja dan berlaku sangat adil.

Di masa kerajaan Nabi Daud tumbuh kuat dan masyarakat menjadi makmur. Suatu saat Nabi Daud
melarang para nelayan untuk tidak melaut di hari sabtu, namun peringatan tersebut dilanggar, sehingga
terjadi bencana gempa yang menewaskan seluruh penduduk.

4. Mukjizat Nabi Dzulkifli: Sejarah menyebutkan bahwa Nabi Dzulkifli adalah putra Nabi Ayub.
Dikisahkan pula bahwa dia mewarisi sifat sabar ayahnya. Suatu saat beliau ditunjuk menjadi seorang
raja setelah dapat memenuhi persyaratan yang diminta.

Yaitu calon pengganti haruslah seorang yang sanggup berpuasa di siang hari, beribadah di malam hari,
dan bukan seorang yang pemarah.

5. Mukjizat Nabi Harun: Nabi Harun disebut sebagai partner Nabi Musa. Dia adalah sosok yang
cakap berdakwah, pandai berdiplomasi, dan penuh perhatian. Nabi Harun selalu mendampingi Nabi
Musa dalam berdakwah, hingga suatu saat Nabi Musa memutuskan untuk beruzlah dan menitipkan
pembinaan umatnya kepada Nabi Harun.

Nabi Harun juga sempat berjuang untuk memberantas penyembahan berhala yang dipimpin oleh
Samiri, salah seorang tukang sihir kerajaan Fir'aun.

6. Mukjizat Nabi Hud: Nabi Hud tergolong dalam kaum Ad yang terhormat. kehidupan mereka serba
maju dan berkecukupan, namun sayangnya mereka selalu berfoya-foya dan tenggelam dalam
kehidupan fana.

Nabi Hud mengingatkan mereka untuk bersyukur dan selalu memohon kepada Allah SWT, namu
mereka menolak. Akhirnya murka Allah datang dengan menurunkan azab berupa badai gurun selama 7
hari 7 malam. Kaum yang mendengarkan himbauan Nabi Hud selamat dengan berpindah ke kota
Hadramaut.
7. Mukjizat Nabi Ibrahim: Nabi Ibrahim dikenal sebagai bapak para Nabi. Dia dihormati oleh
pemeluk 3 agama, yaitu Islam, Kristen dan Yahudi. Nabi Ibrahim lah yang membangun Ka'bah di kota
Mekkah.

Keyakinannya yang kuat terhadap Islam dimulai dari pencariannya akan Tuhan, dia sangat tidak
menerima orang-orang disekitarnya yang menyembah berhala, sampai akhirnya dia dibakar hidup-
hidup, namun Allah SWT menurunkan mukjizatnya dengan menyelamatkan Nabi Ibrahim dari kobaran
api.

8. Mukjizat Nabi Idris: Nabi Idris diyakini Nabi pertama yang menulis dengan pena, Masyarakat
terdahulu mempercayai pula bahwa ia dibawa ke surga tanpa mengalami kematian. Peristiwa itu terjadi
ketika beliau berusia 82 tahun.

9. Mukjizat Nabi Ilyas: Nabi Ilyas tinggal di lembah sungai Yordan dimana penduduknya
menyembah berhala, Nabi Ilyas menyuruh kepada mereka semua untuk meninggalkan berhala, namun
mereka tidak mengindahkannya.

Bahkan menantang agar Tuhan yang disembah Nabi Ilyas menurunkan bencana, dan akhirnya
kekeringan melanda daerah tersebut. Setelah beberapa tahun, Nabi Ilyas dapat meyakinkan kaum
tersebut untuk menyembah Allah SWT.

10. Mukjizat Nabi Ilyasa: Nabi Ilyasa merupakan kerabat dekat Nabi Ilyas. Setelah Nabi Ilyas
meninggal, beliau melanjutkan perjuangan Nabi Ilyas untuk menghalau penyembahan berhala yang
kembali merebak di lembah sungai Yordan.

Namun kaum tersebut tidak mau mendengarkan sehingga terjadi bencana kekeringan kembali melanda
mereka.

11. Mukjizat Nabi Isa: Nabi Isa adalah putra dari Bunda Maryam yang dilahirkan tanpa memiliki
suami, Hal ini menimbulkan kontroversi dan hujatan bertubi-tubi kepada Maryam.

Secara ajaib Nabi Isa yang saat itu masih bayi tiba-tiba berbicara dan menjelaskan apa yang sebenarnya
terjadi. Bahwa penciptaan dirinya diawalai dari kedatangan malaikat jibril kepada ibunya.

Nabi Isa juga memperlihatkan banyak mukjizat lainnya ketika ia tumbuh dewasa, diantaranya
membentuk seekor burung hidup dari sebuah tanah liat, menghidupkan orang mati, menyembuhkan
kebutaan dan mendatangkan makanan yang semula tidak ada dan menjadi ada.

Penyelamatan Nabi Isa dari penyaliban juga merupakan salah satu bentuk mukjizat yang diberikan oleh
Allah SWT.

12. Mukjizat Nabi Ishaq: Nabi Ishaq banyak menemani bapaknya yaitu Nabi Ibrahim dalam
berdakwah menyebarkan ajaran Islam.

13. Mukjizat Nabi Ismail: Nabi Ismail dan keluarganya merupakan orang-orang yang terdahulu
melaksanakan Haji. Suatu saat Nabi Ismail haus dan ibunya bolak-balik dari bukit Safa-Marwah untuk
mencari air, hingga akhirnya keluar sebuah mata air zamzam.

Dalam perjalanan menuju tempat penyembelihan, Nabi Ismail digoda oleh Syaitan agar membatalakan
niatnya. Namun Nabi Ismail tidak goyah dan melempar syaitan tersebut dengan batu. yang saat ini
menjadi ritula ibadah haji, yaitu lempar jumrah.
Seperti yang kita ketahui, saat akan disembelih jasad Nabi Ismail digantikan oleh seekor kambing, yang
akhirnya menjadi cikal bakal ibadah Idul Adha.

14. Mukjizat Nabi Luth: Perjuangan Nabi Luth adalah menyeru kaum sodom untuk kembali ke jalan
yang benar, yaitu meninggalkan homoseksual, kemudian menyembah Allah.

Pada akhirnya Allah SWT berfirman agar Nabi Luth segera meninggalkan pemukimannya dan
kemudian ia menurunkan azab yang pedih kepada kaum tersebut.

15. Mukjizat Nabi Musa: Kisah pertarungan Nabi Musa dengan Fir'aun merupakan salah satu kisah
yang tersohor. Dikisahkan bahwa Fir'aun merasa terancam dengan keberadaan Nabi Musa yang
menyebarkan ajaran untuk mengesahkan Allah.

Mereka bertarung dan Nabi Musa memenangkannya dengan bantuan tongkatnya, kemudian ia dan
kaumnya dikejar oleh pengikut Fir'aun. namun mereka berhasil lolos dengan bantuan tongkat Nabi
Musa yang dapat membelah lautan.

Nabi Musa mendapat mukjizat kitab Taurat, yang dikenal dengan perjanjian lama yang berisi ajaran
pokok 10 perintah Allah SWT.

16. Mukjizat Nabi Nuh: Nabi Nuh menyebarkan ajaran untuk menyembah Allah SWT. namun
masyarakat menolak dan menganggapnya gila, Nabi Nuh kemudian diberikan peringatan oleh Allah
bahwa akan terjadi banjir besar yang akan melanda daerahnya.

Oleh karena itu Nabi Nuh diperintahkan untuk membuat sebuah kapal, masyarakat sekitar tetap tidak
mengindahkan peringatan yang disampaikan oleh Nabi Nuh. sehingga mereka akhirnya hanyut dalam
banjir tersebut.

17. Mukjizat Nabi Shalih: Yang paling dikenal adalah unta betina yang keluar dari batu setelah ia
memukulkan telapak tangannya. Nabi Shalih meminta kepada penduduk setempat untuk tidak
mengganggu unta tersebut dan susunya boleh diperah untuk memenuhi kebutuhan penduduk miskin.

Namun kaum yang tidak menyukainya berusaha membunuh unta itu dan pada akhirnya mereka dijatuhi
azab petir dan gempa.

18. Mukjizat Nabi Sulaiman: Salah satu keahlian Nabi Sulaiman yang paling menonjol adalah
kemampuannya berkomunikasi dengan binatang. Dia juga merupakan raja yang sangat bijaksana,
kekuasaannya bahkan mencakup bangsa jin.

19. Mukjizat Nabi Syuaib: Nabi Syuaib menyebarkan ajaran Islam di daerah Madyan, namun
masyarakat Madyan menolak ajaran tersebut hingga akhirnya Allah menurunkan azab berupa petir dan
kilat yang menghanguskan mereka.

20. Mukjizat Nabi Yahya: Nabi Yahya mengajarkan bahwa kebenaran harus ditegakkan dengan
resiko apapun. Pada riwayatnya dicontohkan saat ia bersikeras melarang pernikahan antara seorang
paman dengan keponakannya sendiri.

21. Mukjizat Nabi Ya'qub: Nabi Ya'qub adalah kakek moyang para rasul sebelum masa Nabi
Muhammad. Sikap dan cara berpikirnya tentu berpengaruh kepada para rasul keturunannya, serta kaum
Yahudi dan kemudian Nasrani penegak panji keesaan Allah sebelum era Nabi Muhammad SAW.
22. Mukjizat Nabi Yunus: Nabi yunus berusaha menyebarkan ajaran Allah, namun ia tidak mendapat
sambutan baik dari masyarakat. Dalam perjalanannya menjauhi daerah tersebut karena khawatir akan
dibunuh, kapal yang ia tumpangi diguncang topan dan diputuskan bahwa Nabi Yunus akan
dikorbankan untuk ditenggelamkan ke laut demi keselamatan penumpang lainnya.

Namun mukjizat Allah tiba, Nabi Yunus dimakan oleh seekor ikan yang kemungkinan adalah ikan
paus, dan ditemukan masih hidup didalam perut ikan paus tersebut.

23. Mukjizat Nabi Yusuf: Nabi Yusuf dikisahkan dalam riwayatnya sebagai seorang pria yang sangat
tampan dan sangat piawai dalam memimpin negaranya. Sejak kecia dia mendapat mimpi yang tidak
biasa dan ketika besar dia dapat mentakwilkan mimpinya tersebut, sehingga dia sangat dihormati oleh
masyarakat sekitarnya.

24. Mukjizat Nabi Zakaria: Nabi Zakaria dan istrinya, Isya, membaktikan diri untuk menjaga Baitul
Maqdis - Rumah Ibadah peninggalan Nabi Sulaiman di Yerusalem. Nabi Zakaria dikaruniai keturunan
oleh Allah SWT di saat usianya sudah cukup uzur, yaitu sekitar 100 tahun, anak tersebut adalah Nabi
Yahya.

25. Mukjizat Nabi Muhammad SAW: Nabi Muhammad SAW adalah Rasul terakhir, sekaligus
sebagai penutup para Rasul-Rasul sebelumnya. Dia lah yang menyempurnakan ajaran-ajaran Islam.

CONTOH KARAMAH MAUNAH DAN IRHAS

nabi Isa as., sewaktu beliau masih bayi dalam buaian ibunya, beliau berbicara kepada orang-orang yang
melecehkan ibunya. Kejadian itu diabadikan dalam QS. Maryam ayat 29-33.

adalah kejadian yang dialami oleh Maryam binti Imran ra., yang selalu mendapatkan makanan di
mihrab, sedangkan Maryam sendiri tidak pernah keluar dari mihrab. Hal ini diabadikan dalam QS. Al-
Imran ayat 37. Selain itu, kejadian pada Amir bin Fuhairah ketika wafat, jasadnya diangkat oleh para
malaikat dan disaksikan oleh sahabatnya Amir bin Thufail.

HUSNUZAN, TASAMUH, TAAWUN, DAN TAWADUK.

1. . HUSNUZON
2. PENGERTIAN HUSNUZAN Berasal dari bahasa Arab yang berarti prasangka, perkiraan,
dugaan baik. Husnuzon adalah cara pandang seseorang yang membuatnya melihat segala
sesuatu secara positif, seseorang yang memiliki sikap husnuzon akan mempertimbangkan
segala sesuatu dengan pikiran jernih, pikiran dan hatinya bersih dari prasangka yang belum
tentu kebenerannya. Lawan kata husnuzon ialah suuzon, yakni berprasangka buruk terhadap
seseorang.
3. 3HUKUM DAN BENTUK HUSNUZON 1) Hukum Husnuzon kepada Allah dan rasul-Nya
ialah wajib Meyakini dengan sepenuh hati bahwa semua perintah Allah dan rasul-Nya (perintah
agama) adalah untuk kebaikan manusia. Dan semua larangan agama akan berakibat buruk untuk
manusia (jika dilanggar). Husnuzon kepada sesama manusia adalah mubah atau jaiz (boleh
dilakukan). Suuzon kepada siapapun haram. 2) Bentuk perilaku yang mencerminkan sikap
husnuzon, antara lain Mengembangkan sikap baik dalam kehidupan bertentangga dan
bermasyarakat
4. Memberi keprcayaan kepada sesama manusia tentang suatu urusan dengan keperceyaan
bahwa ia dapat melaksanakan tugasnya Menjauhi suuzon terhadap siapapun apabila tidak ada
bukti-bukti nyata. "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka.
Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari
kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah
salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah
kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha
Penerima tobat lagi Maha Penyayang." (Q.S. Al-Hujurat [49]: 12) DAMPAK POSITIF
5. HUSNUZON Semakin dekat hubungan batin antara pelaku dan pihak lain yang diduga
berbuat kebaikan. Memperoleh kepercayaan dari orang yang menduga dirinya telah berbuat
baik. Memperkuat hubungan persaudaraan antara keduanya (orang yang menduga dan yang
diduga)TAWADUK
6. PENGERTIAN TAWADUK Tawaduk seacra bahasa berarti rendah hati. Secara istilah,
tawaduk ialah merendahkan hati, baik dihadapan Allah swt maupun sesama manusia. Lawan
kata dari tawaduk ialah takabur. Manusia yang sadar akan hakikat kejadian dirinya tidak akan
pernah mempunyai alasan untuk merasa lebih baik antara yang satu dengan yang lainnya.
7. PERINTAH DAN BENTUK BERSIKAP TAWADUK 1) Perintah
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka .
berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, Wahai Tuhanku,kasihilah mereka
keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil. (Qs. Al Israa [17]:24)
Bentuk Menghormati keoada yang lebih tua atau lebih pandai darinya Menghargai ) 2
pendapat dan pembicaraan orang lain Bersedia mengalah demi kepentingan umum Santun
dalam berbicara kepada siapapun Tidak suka disanjung orang lain atas kebaikan atau
keberhasilan yang dicapai
8. . DAMPAK POSITIF TAWADUK Menimbulkan rasa simpati pihak lain sehingga suka
bergaul dengannya. Akan dihormati secara tulus oleh pihak lain sesuai naluri setiap manusia
ingin dihormati dan menghormati. Mempererat hubungan persaudaraan atara dirinya dan
orang lain. Mengankat derajat dirinya sendiri dalam pandangan Allah maupun manusia.
9. TASAMUH
10. . PENGERTIAN TASAMUH Tasamuh berrarti sikap tenggang rasa, saling menghormati,
saling menghargai. Secara istilah yakni suatu sikap yang senantiasa saling antar sesama
mahluk manusia. Bersikap tasamuh berarti memberikan kesempatan kepada orang lain untuk
mengambil haknya sebagimana mastinya.
11. PERINTAH DAN BENTUK SIKAP TASAMUH 1) Perintah

Dan janganlah kamu memaki
sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki
Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat
menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu
Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS: Al-An'am Ayat:
Bentuk Tidak menggangu ketenangan tetangga. Menyukai sesuatu untuk ) 2) 108
. tetangganya, sebagaimana ia suka untuk dirinya sendiri
12. Lapang dada dalam setiap menerima setiap perbedaan. Tidak mengganggu pelaksaan ibadah
pemeluk agama lain. Tidak mencela atau memaki sesembahan pemeluk agama lain.
DAMPAK POSITIF TASAMUH Dapat memperluas kesempatan untuk memperoleh rezeki
karena banyak relasi Kepuasan batin yang tercermin dalam raut wajahnya menjadikan
semakin eratnya hubungan persaudaraan. Memperlancar terwujudnya kerja sama yang baik
dalam kehidupan bermasyarakat.
13. . TAAWUN
14. PENGERTIAN TAAWUN Kata taawun berasal dari bahasa Arab, yakni taaawana,
yataaawanu, taaawunan yang berarti tolong-menolong, gotong royong, bantu membantu
sesama manusia. PERINTAH DAN BENTUK SIKAP TAAWUN 1) Perintah






Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar Allah, dan jangan melanggar
kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-
binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah
sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah
. menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu
15. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-
halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-
menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong
dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya
Allah amat berat siksa-Nya. (QS: Al-Maidah Ayat: 2) 2) Bentuk Meringankan bebean hidup,
menutupi aib, dan memberi bantuan seseorang. Mengunjungi pada saat sakit atau menerima
suatu musibah.
16. DAMPAK POSITIF TAAWUN Terpenuhinya kebutuhan hidup berkat kebersamaan.
Memperingan tugas berat karena dilakukan secara bersama-sama. Terwujudnya persatuan
dan kesatuan sesama anggota masyarakat. Menimbulkan rasa simpati kelompok masyarakat
lain karena melihat kekompakan dalam menghadapi suatu urusan bersama.
17. NAMA ANGGOTA: 1. Aldhafa Namira A P 2. Inas Zulfa S 3. Najwah Syarifah 4. Nisrina
Sukma D 5. Salwa Shofiya H

ANANIAH, GHABAB, HASAD, GHIBAH, NAMIMAH

1. Pengertian Ananiah
Ananiah adalah sikap seseorang yang selalu mementingkan diri sendiri tanpa memperdulikan
orang lain disekitarnya. Sifat ini sangat tercela, dan membahayakan di dalam pergaulan di masyarakat.
Ananiah termasuk penyakit hati, apabila dibiarkan akan berkembang menjadi sombong, kikir, takabur
yang diiringi sifat iri dan dengki.
Firman Allah Swt Q.S. Luqman [31]: 18:
Artinya :
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu
berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
sombong lagi membanggakan diri. (Q.S. Luqman [31]: 18)
Nabi saw bersabda :


(

)
Artinya :
Menimpa kepadamu suatu penyakit umat-umat sebelum kamu yaitu benci membenci dan dengki.
Dialah pencukur agama, bukan sekedar pencukur rambut. (H.R. Thabrani )

2. Bahaya Ananiah
Semua penyakit, pasti mendatangkan bahaya. Sifat ananiah akan mendatangkan bahaya bagi
dirinya sendiri dan orang lain.
a. Bahaya ananiah bagi diri sendiri :
- Dimurkai Allah
- Dijauhi teman
- Menyiksa diri sendiri
- Orang lain enggan untuk menolongnya
- Dibenci orang banyak
b. Bahaya ananiah bagi orang lain :
- Terkurangi haknya dalam berteman dan bergaul
- Orang lain akan terkurangi haknya untuk memperoleh bantuan, dan
- Orang lain akan merasa tergganggu ketenteraman dan kenyamanan dalam hidupnya.

3. Contoh Perbuatan Ananiah


a. Dalam sebuah diskusi, Dodo sebagai pembicara dari perwakilan kelompok A tidak terima hasil diskusi
kelompoknya di sanggah oleh kelompok lain. Karena ia merasa bahwa hasil diskusi kelompoknya
adalah paling benar.
Apa yang dilakukan Dodo merupakan cerminan dari sifat ananiah.
b. Dadu adalah anak pertama dari sebuah keluarga. Ia mempunyai dua orang adik yang semuanya
perempuan. Dalam kehidupan di rumah ia selalu ingin semua kebutuhannya terpenuhi dan lebih
dibandingkan dengan kedua adiknya.Ia selalu ingin menang sendiri. Karena ia merasa dirinya adalah
anak pertama dan anak laki-laki satu-satunya dikeluarganya.
Perbuatan yang dilakukan Dadu termasuk perbuatan yang tidak terpuji karena Dadu hanya
mementingkan dirinya sendiri.

4. Cara Menghindari Ananiah


a. Sadar bahwa ananiah akan berbahaya untuk dirinya sendiri dan orang lain.
b. Ingat, bahwa ananiah adalah penyakit hati, tiada seorang pun yang dapat menyembuhkan kecuali
dirinya sendiri. Nabi saw bersabda :







) (

Artinya :
Ketahuilah, didalam tubuh manusia ada segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik,baiklah
tubuh seluruhnya, dan apabila daging itu rusak, rusaklah tubuh seluruhnya. Ketahuilah olehmu,
bahwa segumpal daging itu adalah qalbu (hati) (H.R. Bukhari)

c. Menyadari bahwa manusia mempunyai hak dan martabat yang sama


d. Menyadari bahwa perbuatan ananiah termasuk perbuatan dosa
e. Membiasakan diri untuk bersedekah

Ghadab (Pemarah)

1. Pengertian

Ghadab yaitu sifat seseorang yang mudah marah. Orang yang memiliki sifat ghadab apabila
menyelesaikan masalah tidak mempergunakan cara yang baik dan kekeluargaan, tetapi
mengedepankan(mendahulukan) emosinya, sekalipun pada akhirnya ia menyesal.
Sifat ghadab harus dijauhi, karena ghadab tidak dapat menyelesaikan masalah bahkan dapat
menimbulkan masalah yang baru. Sifat sabar yang dapat mengatasi masalah yang sedang dihadapi.
Imam Ghazali mengatakan bahwa orang yang sabar adalah orang yang sanggup bertahan dalam
menghadapi gangguan dan rasa sakit serta sanggup memikul beban yang tidak disukainya. Nabi
bersabda :
)

(


Artinya :
Orang yang kuat itu bukanlah orang yang menang berkelahi, tetapi orang kuat ialah yang dapat
menguasai dirinya ketika sedang marah. (H.R. Bukhari)

Nabi Muhammad saw juga bersabda yang artinya :


Dari Abi Hurairah r.a : Bahwa seorang laki-laki telah berkata kepada nabi saw. Berilah aku
nasehat, janganlah engkau jadi pemarah, laki-laki itu kembali berkata lagi beberapa kali, dan nabi
saw bersabda : Janganlah engkau jadi pemarah! (H.R. Bukhari).

2. Bahaya Ghadab
a. Ghadab melahirkan sifat lemah
b. Ghadab akan dimurkai oleh Allah
c. Jauh dari ampunan dan surga Allah
d. Ghadab akan mudah dimasuki oleh setan.
e. Mudah menimbulkan masalah
f. Mendatangkan kerusakan.
Firman Allah Swt :





)41 : (
Artinya :
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya
Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke
jalan yang benar). (Q.S. Ar Rum [30]: 41)

3. Contoh Perbuatan Ghadab


a. Dalam pertandingan sepak bola antara kesebelasan Persepa dengan Persatu, terjadi perkelahian antar
pemain. Hal ini disebabkan karena Ahmad, salah satu pemain dari Persepa tanpa sengaja menjatuhkan
Aditya , pemain dari Persatu. Ahmad sudah meminta maaf kepada Aditya, tetapi permintaan maaf
Ahmad dibalas dengan pukulan ke wajah Ahmad oleh Adtya. Hal inilah yang menjadi penyebab
terjadinya perkelahian diantara pemain.
b. Pada saat melihat hiburan dalam acara peringatan HUT RI yang diadakan di kecamatan Petarukan,
Rozaq tanpa sengaja menyenggol seorang pemuda yang berada di sampingnya dan ia meminta maaf
kepada pemuda itu. Pemuda itu tidak terima dan mengajak berkelahi, tetapi Rozaq tidak
menanggapinya. Dan tanpa disadari oleh Rozaq, pemuda itu melayangkan pukulan ke arah wajahnya,
dengan gerak reflek Rozaq mampu menagkis dan memegang tangan pemuda itu tanpa membalas
pukulan itu, dan pemuda itu tidak berkutik lagi. Sambil memegang kedua tangan pemuda itu, Rozaq
sekali lagi meminta maaf. Akhirnya pemuda itu menyadari kekeliruannya, dan iapun meminta maaf.
4. Cara menghindari sifat ghadab
a. Mewaspadai bahaya ghadab
b. Sadarilah bahwa ghadab menjadi sumber mara bahaya
c. Tanam dan tumbuh kembangkanlah sifat sabar, karena orang yang sabar akan disayang Allah
Swt. Firman Allah Swt :


)153 : (

Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan
(mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Q.S. Al Baqarah [2] :
153)

Sabar dapat menyelesaikan persoalan tanpa menimbulkan masalah.


d. Berusaha untuk mengoreksi kekurangan dan kesalahannya sendiri
e. Melatih diri untuk dapat memiliki banyak kesabaran.
Cara meredam ghadab, antara lain ;
1. Bila kita sedang marah dalam keadaan berdiri, maka segeralah duduk,
2. Apabila dengan duduk belum juga bisa hilang rasa marahnya, maka berbaringlah,
3. Jika dengan berbaring juga belum hilang rasa marahnya, maka ambillah air untuk wudhu
(berwudhulah), kemudian salat.

Hasad

1. Pengertian Hasad
Hasad ialah perasaan tidak senang melihat orang lain mendapatkan kenikmatan (kesenangan). Hasad
dapat membuat seseorang mudah membuat dan menyebarkan berita yang tidak benar (kejelekan) orang
lain yang tidak ada buktinya. Sifat hasad mudah membuat gosip (berita tidak benar) terhadap orang
yang tidak disukainya. Sifat hasad dapat merusak kebaikan yang dimiliki seseorang. Nabi saw bersabda
:

) (



Artinya :
Dengki itu memakan kebaikan, sebagaimana api memakan kayu bakar (H.R. Abu Daud)

Firman Allah :





)54 : (
Artinya :
Aaukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan
kepadanya? sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan
Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar. (Q.S. An Nisa [3] : 53)

Firman Allah dalam surat Al Baqarah: 109 :




)109 : (
Artinya :
Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada
kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata
bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan
perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Q.S. Al Baqarah [2] : 109)

Sifat hasad dimanapun pasti ada yang memilikinya. Kadang kala sifat hasad yang dimiliki tersebut
kurang disadari bahayanya bagi diri sendiri di kemudian hari. Orang yang memiliki sifat hasad merasa
bangga kalau orang yang dibencinya dapat ia sengsarakan.

2. Bahayanya sifat hasad :


a. Menjatuhkan nama baik seseorang
b. Memutuskan rasa persaudaran dengan sesama manusia
c. Menimbulkan rasa permusuhan dengan orang lain
d. Membuat hati tidak tenang dan tidak tenteram dalam menjalani kehidupan
e. Dimusuhi oleh banyak orang

3. Contoh Perbuatan Hasad


a. Amir berangkat ke sekolah dengan sepeda barunya. Melihat Amir memiliki sepeda baru, Toni merasa
tidak senang. Toni menghampiri sepeda milik Amir dan menggembesi kedua ban sepeda itu, ketika
Amir meninggalkan sepedanya di tempat parkir.
b. Toko milik Pak H. Kohar tidak pernah sepi dari pembeli. Ia selalu menyediakan barang dagangannya
dengan kualitas yang baik dan harganya terjangkau oleh masyarakat. Disamping itu juga P H. Kohar
tidak pernah menipu kepada pembeli dan selalu bersikap ramah kepada siapa saja yang datang ke
tokonya, baik kepada yang mau membeli atau sekedar mau hutang. Melihat keberhasilan Pak H. Kohar,
Pak Tadi tidak senang dan merasa tersaingi, karena tokonya selama ini sepi dari pembeli. Ia berusaha
agar tokonya ramai dan toko Pak H. Kohar sepi, maka ia datang ke dukun agar tokonya ramai
sedangkan toikonya Pak H. Kohar sepi.

4. Untuk menghindari sifat hasad dengan cara :


a. Menyadari tentang bahayanya sifat hasad terhadap amal perbuatan kita
b. Menyadari bahwa keberuntungan masing-masing orang tidak sama
c. Mensyukuri atas nikmat yang diterimanya meskipun tidak sama yang dimiliki orang lain
d. Menyadari bahwa kalau diri kita dibenci orang lain juga tidak merasa senang

Ghibah (Bergunjing/mengumpat)
1. Pergertian Ghibah
Ghibah ialah membicarakan aib orang lain. Sedang manusia tidak suka, apabila bentuknya,
perangainya, keturunannya dan ciri-cirinya dihina dan nama baiknya dinodai.

Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad Saw yang artinya :


Tahukah kamu, apakah mengumpat itu ? Sahabat berkata : Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.
Lalu Nabi bersabda : Yaitu kamu menceritakan tentang saudaramu mengenai hal-hal yang
dibencinya. Maka ditanya pula : Bagaimana, jika yang saya katakan itu sebetulnya terdapat pada
saudara tersebut ? Nabi menjawab : Jika yang kamu katakan itu ada padanya, berarti kamu telah
mengumpatnya, dan jika tidak seperti apa yang kamu katakan itu, sungguh kamu telah berbuat dusta
tentang dirinya (kamu telah menuduh dia). (H.R. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dan Nasai)
Dalam Al Quran Allah berfirman Q.S. Al Hujurat [49] : 12:
Arinya :
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian
dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah
menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging
saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al Hujurat [49] : 12)

Di dalam ayat tersebut diibaratkan, bahwa orang yang mengumpat itu seperti makan daging bangkai
saudara sendiri.

Hadis Nabi :

:

:




(
)
Artinya :
Dari Jabir dan Abu Sa'id mereka berkata, Rasulullah SAW pernah bersabda: Jauhilah olehmu sifat
ghibah karena ghibah itu lebih besar dosanya dari pada zina. Ditanyakan kepada Rasul "bagaimana
bisa?" Rasulullah menjawab: seorang laki-laki berzina kemudian bertaubat Allah akan mengampuni
kepadanya dan orang yang mempunyai sifat ghibah Allah tidak akan mengampuninya sehingga
temannya mau mengampuninya.
Jadi dosa ghibah tidak akan diampuni oleh Allah sebelum orang lain (kena ghibah) mau
mengampuninya. Dosa kepada Allah mudah untuk minta ampun. Sedangkan dosa terhadap orang lain
Allah belum mau mengampuni jika belum meminta maaf kepada orang yang bersangkutan.

2. Bahaya sifat Ghibah


a. Nama baik seseorang bisa hancur
b. Menimbulkan rasa permusuhan dengan orang lain
c. Memutuskan persaudaraan dikalangan manusia
d. Menimbulkan perbuatan fitnah
3. Contoh Perilaku Ghibah
a. Seorang istri menceritakan kebiasaan jelek suaminya kepada tetangganya
b. Toni menceritakan kepada Aris, kalau Dani itu sukanya menyontek ketika ulangan, sering mengantuk
di kelas dan suka meminta makanan kepada teman-temannya.
4. Cara Menghindari Perilaku Ghibah
a. Menyadari tentang bahayanya sifat ghibah
b. Menyadari bahwa ghibah adalah perbuatan dosa
c. Menyadari bahwa kita akan mendapat azab yang pedih di dunia dan akhirat apabila kita menceritakan
aib orang lain
d. Menyadari bahwa diri kita juga tidak suka apabila aib kita diketahui orang lain.

Namimah (adu domba)


1. Pengertian Namimah
Namimah artinya adu domba yaitu usaha untuk membuat orang lain saling bermusuhan.
Umpanya pembicaraan si A disampaikan kepada si B yang pernah diperkatakan si A dengan tujuan
untuk menimbulkan permusuhan antara si A dan si B dan mengotori kejernihan pergaulan atau
menambah keruhnya pergaulan. Sikap namimah sangat dibenci Islam, karena dapat membuat persatuan
umat menjadi pecah sehingga dapat melumpuhkan (melemahkan) kekuatan umat Islam.
Firman Allah :

)11-10 : (
,
Artinya :
Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang
kian ke mari menghambur fitnah. (Q.S. Al Qalam [68] : 10-11)

Orang yang mempunyai sifat namimah tidak akan masuk surga seperti dadijelaskan dalam hadis Nabi
SAW :

(

:

)
Artinya :
Diriwayatkan dari Hudzaifah dia berkata: Rasulullah SAW pernah bersabda: "tidak akan masuk surga
orang yang suka adu domba". (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dalam sabda lainnya, Rasulullah telah bersabda, yang artinya :
Yang amat dicintai Allah Swt. ialah yang terbaik akhlaknya, yang dermawan lagi gemar menjamu
orang, yang dapat menyesuaikan diri lagi dapat diikuti penyesuaian dirinya itu, sedang yang amat
dibenci di sisi Allah ialah orang-orang yang suka berjalan dengan berbuat adu domba, yang memecah
belah antara saudara-saudara, lagi pula mencari-cari alasan untuk melepaskan diri dari kesalahan-
kesalahan. (H.R. Ahmad)

2. Akibat Negatif Perilaku Namimah

a. Namimah merupakan sebuah dosa besar dan amat dibenci oleh Allah
b. Orang yang berbuat namimah tidak akan dimasukkan ke dalam surga tetapi justru akan dimasukkan ke
dalam neraka
c. Namimah dikelompokkan ke dalam perbuatan fitnah, dan fitnah itu bahayanya lebih kejam dari
pembunuhan
d. Orang namimah termasuk kelompok orang munafik, karena memiliki muka dua
e. Akibat namimah dapat memutuskan tali silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah dua orang atau lebih
f. Orang berbuat namimah hidupnya tidak akan tenang karena kebohongan yang diperbuatnya.

3. Contoh Perilaku Namimah

Didit menyampaikan kepada Ali, bahwa Tompi mengatakan kalau Ali itu orang yang suka hutang dan
sulit membayar hutang. Sedangkan kepad Tompi Didit menyampaikan bahwa Ali suka menceritakan
kejelekan Tompi di depan teman-temannya.

4. Cara Menghindari Perilaku Namimah


a. Menyadari tentang bahayanya sifat namimah
b. Menyadari bahwa namimah adalah perbuatan dosa
c. Selalu meneliti kebenaran informasi yang didengarnya
d. Menyadari bahwa diri kita juga tidak suka apabila diadu domba dengan orang lain

Dalam kehidupan terdapat orang yang memiliki sifat namimah maka akan mudah terjadi
pertengkaran dan ketenteraman dalam kehidupan masyarakat tidak akan bisa tercapai. Maka dari itu
sifat namimah harus selalu dijauhi oleh semua orang supaya ketenteraman dalam kehidupan dapat
dirasakannya.