Vous êtes sur la page 1sur 34

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anak

2.1.1 Definisi Anak

Menurut Alimul (2005), Anak adalah seseorang yang belum berusia 18

tahun. Department of Child and Adolescent Health and Development

mendefinisikan anak sebagai orang yang berusia dibawah 20 tahun. Berdasarkan

Pasal 1 ayat (2) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan

Anak mengungkapkan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun

termasuk anak yang ada dalam kandungan.

2.1.2 Kelompok Anak Berdasarkan Fase Perkembangan

Menurut Hockenberry dan Wilson (2009) anak dapat dikelompokkan

menurut fase perkembangannya. Fase perkembangan anak menurut Hockenbery

dan Wilson (2009) terdiri dari fase prenatal, fase neonatal, fase infant, fase

toddler, fase prasekolah, fase sekolah dan fase remaja. Fase prenatal mencakup

masa kehamilan sampai anak dilahirkan. Fase neonatal merupakan masa saat bayi

lahir sampai usia 28 hari. Fase infant adalah fase saat bayi berusia 1 bulan sampai

12 bulan. Fase toddler merupakan saat anak berusia 1-3 tahun. Setelah fase ini

akan memasuki fase pra sekolah yaitu saat anak memesuki usia 3-6 tahun. Fase

sekolah merupakan fase anak berusia 6-12 tahun, dan terakhir fase remaja yaitu

saat anak memasuki usia 13-18 tahun.

10
11

2.1.3 Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Sekolah

Masa kanak-kanak pertengahan yaitu usia 6 sampai 12 tahun sering

disebut sebagai usia sekolah. Pada tahap perkembangan ini, anak mulai

mempelajari ketrampilan fisik serta ketrampilan dasar, penyesuaian diri terhadap

teman sebaya, masa luasnya minat dan kegiatan bermain serta membangun image

yang positif terhadap diri sendiri dalam masa pertumbuhannya. Anak mulai

menyadari jenis kelamin atau peran sosialnya, mengembangkan pengertian-

pengertian, integritas moral dan nilai-nilai dalam kehidupannya sehari-hari. Anak

mengembangkan ketrampilan sosialisasi dikelompoknya dengan cara belajar

bekerja sama, belajar bersaing, belajar menerima dan melaksanakan tanggung

jawab, belajar bersikap sportif, turut berbagi rasa, belajar bermain dan berolah

raga. Belajar menyesuaikan diri dengan standar kelompok dan belajar perilaku

sosial yang baik serta mencapai kebebasan pribadi untuk berkreasi. Keberhasilan

anak menyelesaikan tugas dan tanggungjawabnya meningkatkan kepuasan dari

rasa percaya diri (Hurlock, 1980)

Anak lebih senang dan mendapat kepuasan bila bermain bersama dengan

teman-teman kelompoknya daripada bermain dengan anggota keluarga di rumah.

Anak berusaha mengendalikan ungkapan emosi ketika berada di luar rumah

bersama kelompoknya, namun akan mengungkapkan emosi dengan lebih leluasa

di rumah untuk melepaskan dorongan-dorongan yang belum terlampiaskan. Emosi

kekecewaan diungkapkan dengan menangis, mengamuk, cemberut, merajuk, dan

menggerutu. Pada periode ini emosi anak dapat meninggi karena keadaan fisik

atau perubahan lingkungan. Jika mengalami sakit atau lelah, anak menjadi mudah
12

marah, rewel, dan sulit untuk ditenangkan. Kondisi kesehatan yang buruk

menghalangi anak beraktivitas dengan kelompok sehingga menimbulkan rasa

rendah diri dan terbelakang. Anak lebih senang mengungkapkan perasaan tidak

senang yang dialaminya kepada teman akrabnya (Hurlock, 1980).

Pada usia 7 sampai 11 tahun, anak memasuki tahap berpikir konkret. Anak

mampu mengklasifikasi, menghubungkan berbagai hal-hal konkret dan membuat

kesimpulan logis serta masuk akal. Anak mampu mengurutkan, menyusun,

mengelompokkan dan menghubungkan secara sistematis fakta-fakta yang mereka

rasakan untuk mencari suatu jawaban. Anak dapat menghadapi sejumlah situasi

secara bersamaan dalam beberapa aspek yang berbeda. Anak belum memiliki

kemampuan menghadapi sesuatu yang abstrak. Cara berpikir induktif, tidak

berpusat pada diri sendiri dan dapat menerima perbedaan antara sudut pandang

orang lain dengan sudut pandang diri sendiri. Cara berpikir menjadi semakin

tersosialisasi. Anak memiliki kekhawatiran yang besar terhadap keutuhan secara

fisik. Tubuh merupakan hal yang penting dan bernilai khusus bagi anak. Anak

menjadi sangat sensitif terhadap segala sesuatu yang mengancam atau indikasi

lain yang menyebabkan cedera secara fisik (Piaget dalam Wong, et al.2009).

Pada tahapan operasional konkret dalam perkembangan kognitif,

perkembangan moral anak terfokus pada kepatuhan dan loyalitas. Anak

menghargai apa yang dilakukan orang tua terhadapnya, mengerti harapan orang

tua tanpa memikirkan konsekuensi yang harus dijalani untuk memenuhi harapan

orang tua. Melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkan orang tua

dianggap sebagai perilaku yang baik oleh anak sehingga hal tersebut mendorong
13

anak untuk menjadikan orang tua atau orang terdekat sebagai acuan untuk

memutuskan segala sesuatunya (Wong, et al. 2009).

Perkembangan spiritual anak usia sekolah berada pada tahap mythical-

literal. Perkembangan spiritual pada tahapan ini dibentuk bersamaan dengan

perkembangan kognitif, berkaitan erat dengan interaksi sosial dan pengalaman

belajar anak. Anak merasa sangat tertarik untuk mempelajari tentang agama dan

Tuhan. Anak mempercayai kekuasaan Tuhan dalam kehidupan mereka, oleh

karena itu anak mulai memanjatkan doa kepada Tuhan saat mereka menginginkan

sesuatu dalam kehidupannya dan sangat memiliki keyakinan yang kuat bahwa doa

mereka akan dikabulkan Tuhan. Anak membedakan perilaku baik dan buruk.

Perilaku baik layak mendapat penghargaan atau hadiah dan perilaku buruk perlu

mendapat hukuman (Wong, et al. 2009).

Perkembangan psikososial menurut Erikson, pada usia 6 sampai 12 tahun

anak berada pada tahap industri vs inferioritas. Anak mampu menyelesaikan suatu

aktivitas sampai selesai. Anak menginginkan pencapaian yang nyata, mau dan

mampu bekerja sama dengan orang lain, serta mempelajari aturan-aturan yang

ditetapkan (Wong, et al. 2009).

Anak usia sekolah merupakan masa belajar atau disebut periode

memanjang. Pada masa ini dibutuhkan asupan nutrisi yang adekuat untuk

menghindari masalah-masalah yang dapat mengganggu pertumbuhan dan

perkembangan mereka sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik dan

perkembangan otak yang menjadi optimal (Wong, 2009).


14

2.2 Kanker

2.2.1 Pengertian Kanker

Kanker adalah penyakit proliferasi sel-sel tumor yang mempengaruhi

pertumbuhan sel normal, dimana terdapat gen pengativasi tumor yang mampu

menyebabkan proliferasi sel yang tidak terkendali jika ditransmisikan ke sel

normal. Kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama pada anak.

(Muscari, 2005)

2.2.2 Penyebab Kanker

Penyebab kanker sampai saat ini belum diketahui secara pasti termasuk

kanker pada anak. Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko anak

mengalami kanker, diantaranya adalah faktor genetik, paparan prenatal (seperti

ibu hamil yang menjalani pemeriksaan diagnostik dengan radiasi dapat

meningkatkan resiko leukemia pada bayi yang dilahirkan), paparan postnatal

seperti radiasi dan kemoterapi juga dapat meningkatkan risiko kanker. Selain itu,

beberapa faktor risiko juga diindikasikan menyebabkan kanker seperti

penggunaan obat dan alkohol, paparan terhadap zat-zat kimia dan polutan (Kathy

dalam Baggott, et al.2002)

2.2.3 Jenis dan Manifestasi Klinis Kanker Pada Anak

Menurut Childrens Oncology Group (COG) research tahun 2005, tipe

kanker pada anak adalah sebagai berikut:


15

a. Leukemia

Leukemia adalah proliferasi sel darah putih yang abnormal. Leukemia dapat

didiagnosa pada semua tingkat usia, tetapi memiliki puncak awitan antara usia

3 dan 5 tahun (Muscari, 2005). Anak yang menderita leukemia akan

memperlihatkan gejala disfungsi sumsum tulang diantaranya anemia, infeksi

dan perdarahan. Organ tubuh juga dapat terganggu akibat leukemia. Organ

yang terganggu diantaranya limfa, hati dan kelenjar getah bening

(Hockenberry & Wilson, 2007).

b. Kanker pada sistem saraf pusat seperti tumor otak dan neuroblastoma.

Tumor otak merupakan jenis tumor padat yang paling banyak terjadi pada

anak-anak dan merupakan peringkat kanker nomor dua yang paling terjadi

pada anak-anak. Tumor otak sering terjadi pada bagian otak kecil, otak tengah

dan batang otak (Muscari, 2005). Tumor Otak dimanifestasikan dengan

perubahan perilaku dan sistem saraf seperti sakit kepala, mual, muntah,

pusing, perubahan fungsi penglihatan dan pendengaran, kelemahan dan gejala

yang tidak spesifik lainnya (Ball & Blinder, 2003).

Neuroblastoma adalah tumor yang muncul dari sel sistem saraf simpatis dan

merupakan sel yang tidak berdeferensiasi dan sangat invasive (Muscari, 2005).

Lokasi tumor menentukan gejala dari neuroblastoma yang dapat

mempengaruhi fungsi sistem perkemihan, sistem pernafasan dan sistem

muskuloskeletal.
16

c. Sarkoma

Sarkoma meliputi sarkoma osteogenik, ewings sarcoma dan sarkoma pada

jaringan lunak (rabdomiosarkoma). Sarkoma osteogenik merupakan jenis

tumor pada tulang panjang yang mempengaruhi pertumbuhan jaringan tulang

(sel dan jaringan mesenkim) dengan cepat. Ewings sarcoma merupakan jenis

tumor ganas (maligna) yang terjadi pada sumsum tulang di daerah diafisis

(bagian tengah tulang panjang) (Muscari, 2005). Keluhan anak yang

mengalami tumor tulang akan mengeluhkan nyeri tulang terutama pada waktu

melakukan aktivitas (Hockenberry & Wilson, 2007). Rabdomiosarkoma

merupakan tumor pada otot yang berasal dari jaringan mesenkim embrionik

yang membentuk otot, jaringan penyambung dan vaskuler. Manifestasi klinis

pada rabdomiosarkoma tergantung pada organ atau jaringan yang mengalami

tumor (Ball & Bindler, 2003).

d. Lymphoma

Lymphoma terdiri dari Hodgkins dan Non Hodgkins lymphoma. Penyakit

Hodgkins merupakan salah satu penyakit yang menyerang kelenjar limfe

yang berada dekat dengan area permukaan tubuh seperti leher, ketiak dan

lipatan paha. Limfoma Hodgkin dikarakteristikan dengan pembesaran nodus

limfe tanpa nyeri. Biasanya ditemukan adalah pembesaran, tegas, tidak lunak,

nodus yang bergerak pada area supraklavikula. Manifestasi sistemik yang

terjadi antara lain demam, anoreksia, mual, penurunan berat badan,

berkeringat pada malam hari dan pruritus (Muscari, 2005). Non Hodgkins
17

lymphoma adalah penyakit yang menyerang kelenjar limfe di bagian terdalam

tubuh (COG, 2005).

e. Kanker pada hati atau hepatoblastoma

Kanker hati atau hepatoblastoma adalah tumor yang paling ganas yang

mengenai hati pada anak. Manifestasi dan pemeriksaan yang penting untuk

menegakkan diagnosa kanker hati adalah dengan terlihat adanya masa pada

abdomen. Beberapa anak dapat melaporkan anoreksia, penurunan berat badan,

muntah dan nyeri pada abdomen namun hal ini tergantung pada tipe penyakit

dan karsinoma pada sel hati (ONeill dalam Baggott, et al. 2001).

f. Kanker pada ginjal atau Tumor Wilms atau Nefroblastoma

Tumor wilms atau nefroblastoma adalah neoplasma ganas pada ginjal. Tumor

wilms merupakan tumor intraabdomen yang paling sering terjadi pada anak-

anak dan merupakan tumor padat yang paling bisa disembuhkan pada anak-

anak (Muscari, 2005). Tumor wilms merupakan tumor tunggal yang terjadi

pada parenkim ginjal. Manifestasi klinis tumor wilms yaitu adanya masa di

pinggang, nyeri, hematuria, demam, malaise dan penurunan berat badan serta

anoreksia (Betz, 2009).

g. Kanker jenis lain seperti retinoblastoma dan germ cell tumors

Retinoblastoma merupakan tumor maligna pada retina yang terjadi pada awal

kehidupan. Gejala yang khas pada retinoblastoma adalah mata anak terlihat

seperti mata kucing (cats eye) dan terlihat adanya leukokoria (Hockenberry &

Wilson, 2007).
18

Germ cell tumors sering terjadi pada testis, ovarium, bagian bawah tulang

belakang (sacrococygeal), bagian tengah otak, dada dan abdomen (COG,

2005).

2.2.4 Manajemen Penanganan Kanker Pada Anak

Pada anak, kanker diobati dengan satu atau kombinasi dari terapi seperti

pembedahan, kemoterapi, radiasi, bioterapi dan transplantasi sumsum tulang (Ball

& Bindler, 2003; Cameron & Allen, 2009).

a. Operasi

Operasi merupakan salah satu tindakan penting dalam diagnosis dan

penatalaksanaan kanker pada anak. Ada beberapa kasus tumor padat yang

dapat diobati tanpa operasi. Untuk mendapatkan efek yang terapeutik,

biasanya operasi dikombinasikan dengan kemoterapi dan radiasi.

b. Kemoterapi

Kemoterapi adalah pemberian agen kimia atau obat antineoplastik yang

bertujuan untuk mengobati penyakit melalui penekanan pertumbuhan organ

penyebab dan tidak membahayakan bagi pasien. Kemoterapi adalah fokus

dalam manajemen penyakit kanker. Pada saat ini banyak penyakit yang diobati

dengan kemoterapi, namun dalam pemberian obat kemoterapi harus dipahami

mengenai prinsip pemberian kemoterapi tersebut seperti jenis obat, dosis, rute

pemberian, jadwal pemberian dan pengetahuan tentang toksisitas obat baik

akut maupun kronik (Guy & Ingram dalam McCorkle et al, 1996).

Agen antineoplastik akan lebih efektif jika diberikan secara kombinasi yang

aktif melawan tumor dan dapat saling bersinergi dalam regimen terapi. Agen
19

antineoplastik pada kanker dapat diklasifikasikan menjadi lima kategori yaitu

Alkylating agents (seperti: siklofosfamid, ifosfamid, busulfin, dacarbazine,

carbolpastin, cisplatin dan lain-lain), plants alkaloids (seperti: vinkristin,

vinblastin, etoposide, dan paclitaxel), antitumor antibiotics (seperti:

daunorubicin, dactinomicin, dan bleomicin), antimetabolic (seperti:

methotrexate, 5-fluorouracil, dan fazarabine), dan miscellaneous

antineoplastic (seperti: asparaginase dan hydroyurea) (Guy & Ingram dalam

McCorkle et al, 1996).

Selama pemberian kemoterapi, perawat memberikan obat-obat lain seperti

obat antiemetik untuk mengontrol mual, supplement vitamin dan antibiotik.

Semua obat harus diberikan secara aman (patient safety) dan harus dimonitor

terhadap efek samping dari kemoterapi. Banyaknya obat yang diberikan dapat

menimbulkan berbagai efek samping pada tubuh yang mempengaruhi

kemampuan tubuh untuk metabolisme dan mengekskresikan obat ( Ball &

Bindler, 2003).

c. Radioterapi

Terapi radiasi adalah terapi yang menggunakan sinar atau partikel dengan ion

berenergi tinggi untuk mengobati kanker. 60% dari pasien kanker menjalani

terapi radiasi sebagai bagian dalam pengobatan penyakit. Radiasi ion energi

tinggi (high-energy ionizing radiation), merusak kemampuan sel kanker untuk

tumbuh dan berkembang. Beberapa sel tumor dapat ditekan secara langsung

oleh partikel-partikel atau ion radiasi. Dalam pemberian terapi radiasi yang
20

bertujuan untuk membunuh sel-sel kanker, maka perlu diperhatikan tindakan

dalam meminimalkan kerusakan pada sel normal (Iwamoto dalam Otto, 2001).

Terapi radiasi dapat diberikan melalui beberapa cara diantaranya adalah diluar

tubuh (external beam radiation), menanamkan sebuah radioaktif pada area

tumor atau kanker (brachytherapy) yang memberikan efek lokal dalam

pengobatan kanker serta pemberian secara oral atau intravena untuk efek

sistemik (Iwamoto dalam Otto, 2001).

2.2.5 Dampak Penyakit dan Pengobatan Kanker Pada Anak

Anak dapat mengalami berbagai macam masalah terkait dengan penyakit

dan pengobatan. Pengobatan kanker terutama kemoterapi dapat memberikan efek

pada fisik, psikologis anak dan dapat mempengaruhi pertumbuhan dan

perkembangan serta kualitas hidup anak (Hockenberry & Wilson, 2007)

a. Dampak Fisik

Pada umumnya efek samping agen kemoterapi antara lain infeksi,

perdarahan, anemia, mual dan muntah, gangguan nutrisi, ulserasi mukosa serta

alopesia. Efek samping lain misalnya diare, konstipasi, nyeri, kerusakan integritas

kulit, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, toksik ginjal, neurotoksik,

kelemahan kardiotoksik dan ototoksik terutama pada karboplastin dan cisplatin

(Muscari, 2005).

Efek samping dari Cisplatin terdiri atas mual dan muntah, penurunan nafsu

makan dan kebotakan. Selain itu cisplatin juga dapat menyebabkan

ketidakseimbangan elektrolit pada anak yang terdiri atas hipomagnesemia,

hipokalemi dan hiperkalsemi. Efek samping serius dari cisplatin adalah


21

nefrotoksik, neuropati perifer, penekanan sumsum tulang dan ototoksik (Cameron

& Allen, 2009).

Kemoterapi yang signifikan dapat diprediksi menyebabkan terjadinya

toksisitas, dimana hal ini menjadi lebih serius apabila gejala toksisitas

berkembang pada waktu pasien berada dirumah diantara siklus pengobatan.

Kemoterapi dapat menyebabkan terjadinya sepsis neutropeni yang berakibat fatal

apabila pengobatannya terlambat dan tidak tepat (Lennan, et al. 2010).

Kejadian tumor lysis syndrome (TLS) juga berakibat fatal pada anak dan

dapat menimbulkan kematian. TLS merupakan kondisi kelainan metabolic sebagai

akibat nekrosis sel-sel tumor atau apoptosis fulminan, baik yang terjadi secara

spontan maupun setelah terapi. Kelainan yang terjadi diantaranya hiperkalemia,

hiperurisemia, hiperfosfatemia, dan hipokalsemia (Ball & Bindler, 2003).

b. Dampak Psikologis

Klien dengan kanker dapat mengalami kecemasan dan depresi akibat

penyakit yang diderita. Hal ini merupakan keadaan yang normal, namun sebagian

klien yang menderita kanker membutuhkan intervensi psikologis dalam menjalani

pengobatan kanker (Shell & Kirsch dalam Otto, 2001). Kecemasan dan depresi

merupakan respon yang paling umum terjadi pada anak dengan kanker dan

menjalani pengobatan.

Secara normal, kecemasan dapat terjadi sebagai bagian dari penyakit dan

pengobatan pada penderita kanker. Kecemasan dapat reaktif dan situasional

berhubungan dengan ketakutan setelah terdiagnosa penyakit dan selama menjalani

pengobatan. Tanda-tanda kecemasan seperti ketegangan, stress, gangguan


22

perasaan dan gangguan tidur. Nyeri, perasaan mual dan muntah yang tidak

terkendali, hipoksia, dan menolak pengobatan juga merupakan tanda-tanda

kecemasan (Shell & Kirsch dalam Otto, 2001).

Kecemasan kronik yang timbul sebelum diagnosis kanker dapat

berkembang menjadi gangguan kecemasan, fobia dan gangguan panik. Hal ini

dapat menimbulkan resiko bagi individu, karena klien merasa sudah sembuh dari

kanker dan tidak memerlukan pengobatan, klien merasa kelelahan, kurang

istirahat, tidak bisa berkonsentrasi, iritabel, tegang, denyut jantung cepat, hilang

kontrol dan klien mengalami gangguan jiwa. Peranan perawat yang terpenting

terhadap pasien adalah berespon terhadap gejala psikologis pada pasien dengan

rasa empati, peduli dan tidak menyalahkan serta mendukung kekuatan keluarga

dalam menghadapi krisis (Shell & Kirsch dalam Otto, 2001).

Depresi (depression) merupakan respon psikologis pada anak kanker.

Walaupun perasaan kesedihan dan perasaan yang hampa merupakan reaksi yang

normal pada pasien kanker, namun hal ini dapat berkembang menjadi depresi.

Depresi biasanya terjadi pada pasien selama proses penyakit dan pengobatan.

Penyebab timbulnya depresi sulit untuk ditentukan. Umumnya depresi terjadi

karena stres terhadap penyakit, perubahan biologis, dan karena pengobatan.

Kejadian depresi meningkat pada pasien yang mendapatkan pengobatan kanker

dan yang mengalami efek samping dari pengobatan (Shell & Kirsch dalam Otto,

2001).

Kegagalan anak dalam beradaptasi dengan kondisi fisik dan pengobatan

dapat mempengaruhi fungsi psikososial anak. Penelitian yang dilakukan oleh


23

Enskar dan Von Essen (2008) menunjukkan bahwa pada umumnya anak yang

sedang menjalani kemoterapi menunjukkan distress psikososial yang

mempengaruhi kepuasan anak dalam berpartisipasi terhadap kehidupan sosialnya.

Selain masalah psikososial, anak yang lebih besar akan memperlihatkan

gejala depresi dan berbagai perubahan perilaku akibat dari penyakit dan regimen

terapi. Fatique, mual dan muntah serta gangguan tidur yang apabila terjadi

bersama-sama berupa suatu kumpulan gejala yang dapat menimbulkan gejala

depresi dan perubahan perilaku pada remaja, namun pada anak gejala fatigue saja

dapat mengakibatkan timbulnya gejala depresi dan perubahan perilaku. Kluster

gejala ini secara signifikan mempengaruhi kualitas hidup anak dengan kanker

(Hockenbery et al.2010).

2.3 Kecemasan atau Ansietas

2.3.1 Pengertian Kecemasan

Kecemasan atau ansietas merupakan respon individu terhadap suatu

keadaan yang tidak menyenangkan dan dialami oleh semua makhluk hidup dalam

kehidupan sehari-hari. Kecemasan atau ansietas berkaitan dengan perasaan tidak

pasti dan tidak berdaya. Kecemasan adalah pengalaman subjektif dari individu

dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal. Keadaan emosi ini tidak

memiliki objek yang spesifik. Kecemasan berbeda dengan rasa takut, karakteristik

rasa takut adalah adanya objek/sumber yang spesifik dan dapat diidentifikasi serta

dijelaskan oleh individu. Rasa takut terbentuk dari proses kognitif yang

melibatkan penilaian intelektual terhadap stimulus yang mengancam. Ketakutan


24

disebabkan oleh hal-hal yang bersifat fisik dan psikologis ketika individu dapat

mengidentifikasi dan menggambarkannya (Suliswati, dkk.2005)

2.3.2 Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kecemasan

Faktor presipitasi munculnya kecemasan menurut Stuart dan Laraia (2005)

adalah ancaman terhadap integritas fisik dan ancaman terhadap sistem diri.

Ancaman terhadap integritas fisik berhubungan dengan ketidakmampuan

fisiologik atau ketidakmampuan pemenuhan aktivitas sehari-hari dan merasa

kehilangan kontrol. Sedangkan ancaman terhadap sistem diri berhubungan dengan

ancaman identitas, harga diri dan integrasi fungsi sosial.

2.3.3 Klasifikasi Kecemasan

Menurut Stuart dan Sundeen (2007), manifestasi cemas dapat meliputi

aspek fisik, emosi, kognitif, dan tingkah laku. Respon terhadap ancaman dapat

berkisar dari kecemasan ringan, sedang, berat dan panik.

a. Kecemasan Ringan

Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan akan kehidupan

sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan

lahan persepsinya. Gejala adanya kecemasan ringan dapat berupa rasa tegang di

otot dan kelelahan, terutama di otot-otot dada, leher dan punggung. Dalam

persiapannya untuk berjuang, menyebabkan otot akan menjadi lebih kaku dan

akibatnya akan menimbulkan nyeri dan spasme di otot dada, leher dan punggung.

Ketegangan dari kelompok agonis dan antagonis akan menimbulkan tremor dan

gemetar yang dengan mudah dapat dilihat pada jari-jari tangan (Tucker, 2007).
25

b. Kecemasan Sedang

Kecemasan sedang merupakan tahap persepsi pada lingkungan yang

semakin menurun. Individu lebih memfokuskan pada hal-hal yang lebih penting

pada saat ini dan mengesampingkan hal yang lain. Gejala yang terjadi pada

tingkat ini yaitu kelelahan meningkat, kecepatan denyut jantung dan pernapasan

meningkat, ketegangan otot meningkat, bicara cepat dengan volume tinggi, lahan

persepsi menyempit, mampu untuk belajar namun tidak optimal, kemampuan

konsentrasi menurun, perhatian selektif dan terfokus pada rangsangan yang tidak

menambah ansietas, mudah tersinggung, tidak sabar,mudah lupa, marah dan

menangis (Stuart & Sundeen, 2007).

c. Kecemasan Berat

Kecemasan berat merupakan tahap persepsi pada lingkungan menjadi

sangat menurun. Individu cenderung memikirkan hal yang kecil saja dan

mengabaikan hal-hal yang lain. Individu tidak mampu berfikir berat lagi dan

membutuhkan banyak pengarahan. Gejala yang muncul pada kecemasan berat

diantaranya yaitu mengeluh pusing, sakit kepala, nausea, tidak dapat tidur atau

insomnia, sering buang air kecil, diare, palpitasi, lahan persepsi menyempit, tidak

mau belajar secara efektif, berfokus pada dirinya sendiri dan keinginan untuk

menghilangkan kecemasan tinggi, perasaan tidak berdaya, bingung dan

disorientasi.

d. Kecemasan Sangat Berat atau Panik

Kecemasan sangat berat atau panik ditandai dengan persepsi individu yang

sudah sangat sempit sehingga tidak dapat mengendalikan diri lagi dan tidak dapat
26

melakukan apa-apa walaupun sudah diberi pangarahan dan tuntunan. Keadaan ini

terjadi karena peningkatan aktifitas motorik tidak sejalan dengan kehidupan dan

jika berlangsung terus dalam waktu lama dapat terjadi kelelahan yang sangat berat

bahkan kematian. Tanda dan gejala yang terjadi pada keadaan ini adalah susah

bernapas, dilatasi pupil, palpitasi, pucat, diaphoresis, pembicaraan yang tidak

sesuai, tidak dapat berespon terhadap perintah yang sederhana, berteriak, menjerit,

mengalami halusinasi dan delusi (Stuart, 2002).

2.3.4 Respon terhadap Kecemasan

Kecemasan dapat mempengaruhi kondisi tubuh seseorang, respon

kecemasan menurut Suliswati (2005) antara lain:

a. Respon Fisiologis terhadap kecemasan

Secara fisiologis respon tubuh terhadap kecemasan adalah dengan

mengaktifkan sistem saraf otonom (simpatis maupun parasimpatis). Serabut saraf

simpatis mengaktifkan tanda-tanda vital pada setiap tanda bahaya untuk

mempersiapkan pertahanan tubuh (Muscari, 2005). Anak yang mengalami

gangguan kecemasan akibat perpisahan akan menunjukkan sakit perut, sakit

kepala, mual, muntah, demam ringan, gelisah, kelelahan, sulit berkonsentrasi, dan

mudah marah (Pott & Modleco, 2007).

b. Respon Psikologis terhadap kecemasan

Respon perilaku akibat kecemasan adalah tampak gelisah, terdapat

ketegangan fisik, tremor, reaksi terkejut, bicara cepat, kurang koordinasi, menarik

diri dari hubungan interpersonal, melarikan diri dari masalah, menghindar, dan

sangat waspada (Stuart, 2002).


27

c. Respon Kognitif

Kecemasan dapat mempengaruhi kemampuan berpikir baik proses pikir

maupun isi pikir, diantaranya adalah tidak mampu memperhatikan, konsentrasi

menurun, mudah lupa, menurunnya lapang persepsi, bingung, sangat waspada,

kehilangan objektivitas, takut kehilangan kendali, takut pada gambaran visual,

takut pada cedera atau kematian dan mimpi buruk (Stuart, 2007).

d. Respon Afektif

Secara afektif klien akan mengekspresikan dalam bentuk kebingungan,

gelisah, tegang, gugup, ketakutan, waspada, khawatir, mati rasa, rasa bersalah atau

malu, dan curiga berlebihan sebagai reaksi emosi terhadap kecemasan (Stuart ,

2002).

2.3.5 Kecemasan pada anak yang menjalani kemoterapi

Kecemasan merupakan respon yang paling umum terjadi pada anak dengan

kanker. Secara normal, kecemasan dapat terjadi sebagai bagian dari penyakit dan

pengobatan pada penderita kanker. Salah satu pengobatan kanker adalah

kemoterapi. Selama pemberian kemoterapi dapat berakibat pada fisik pasien,

psikologis, sosial dan spiritual (Ferrer, 2007). Salah satu dampak psikologis

pasien adalah kecemasan. Kecemasan dapat reaktif dan situasional berhubungan

dengan ketakutan setelah terdiagnosa penyakit dan selama menjalani pengobatan.

Kecemasan pada anak akan timbul karena dampak yang terjadi dari

pengobatan dan selama prosedur pengobatan maupun diagnosis seperti anemia,

stomatitis, malaise, mual, muntah, lesu, lemas, tidak dapat beraktivitas, berat

badan menurun, perubahan warna kulit, nyeri, takut untuk dilakukan pemasangan
28

kateter intravena, prosedur pengambilan darah, kerontokan rambut, perubahan

citra tubuh pasien, bahkan cemas akan kematian (Shell & Kirsch dalam Otto,

2001).

Tanda-tanda kecemasan seperti ketegangan, stress, gangguan perasaan dan

gangguan tidur. Nyeri, perasaan mual dan muntah yang tidak terkendali, hipoksia,

dan menolak pengobatan juga merupakan tanda-tanda kecemasan (Shell & Kirsch

dalam Otto, 2001).

2.3.6 Alat ukur kecemasan

Untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan seseorang secara umum

dapat menggunakan alat ukur (instrument) berbentuk kuisioner yang dikenal

dengan nama Hamilton Rating Scale For Anxiety (HRS-A). Alat ukur ini terdiri

dari 14 kelompok gejala yang masing-masing kelompok gejala diberi penilaian

angka (score) antara 0-4 yang artinya adalah:

0: tidak ada (tidak ada gejala sama sekali)

1: ringan (satu gejala dari pilihan yang ada)

2: sedang (separuh dari gejala yang ada)

3: berat (lebih dari separuh dari gejala yang ada)

4: berat sekali (semua gejala ada)

Alat ukur ini menggunakan teknik wawancara secara langsung. Masing-

masing angka dari ke 14 gejala kelompok tersebut dijumlahkan dan dari hasil

penjumlahan tersebut dapat diketahui derajat kecemasan seseorang yaitu:

Skor <14 (tidak ada kecemasan)

14-20 (kecemasan ringan)


29

21-27 (kecemasan sedang)

28-41 (kecemasan berat)

42-56 (kecemasan berat sekali)

Alat yang digunakan untuk mengukur kecemasan pada anak adalah

Revised Childrens Manifest Anxiety Scale (RCMAS). RCMAS merupakan alat

yang digunakan untuk menilai derajat dan kualitas kecemasan yang dialami oleh

anak-anak dan remaja. RCMAS ini didasarkan pada Children Manifest Anxiety

Scale (CMAS) yang dirancang oleh Casteneda, McCandless dan Palemo (1956)

kemudian dikembangkan oleh Reynold dan Richmond (1978). RCMAS ini cocok

digunakan untuk menilai derajat dan kualitas kecemasan pada anak usia 6-19

tahun. Kuisioner ini terdiri dari tiga faktor kecemasan yang dinilai yaitu

kecemasan fisiologis (10 item), khawatir/oversensitivity (11 item), konsentrasi dan

kepedulian sosial (7 item) dengan jawaban ya (skor 1) dan tidak (skor 0). Jumlah

skor butir pernyataan pada kuisioner RCMAS yang diperoleh adalah 0-28 (Asian

nursing research, 2009)

Dalam penelitian ini alat ukur yang digunakan adalah RCMAS. Hal ini

dikarenakan RCMAS sudah sesuai untuk anak usia 6-19 tahun. Selain itu,

keuntungan memakai RCMAS adalah tidak perlu memerlukan waktu pemeriksaan

yang lama dan hanya memerlukan waktu selama 10-15 menit.


30

2.4 Konsep Terapi Bermain

2.4.1 Pengertian Terapi Bermain

Bermain adalah salah satu aspek penting dari kehidupan anak dan salah

satu alat penting untuk penatalaksanaan stress. Hospitalisasi dapat menimbulkan

krisis dalam kehidupan anak dan situasi tersebut sering disertai stress berlebihan,

maka anak-anak perlu bermain untuk mengeluarkan rasa takut dan cemas yang

mereka alami sebagai alat koping dalam menghadapi stress. Bermain sangat

penting bagi mental, emosional dan kesejahteraan anak seperti kebutuhan

perkembangan dan kebutuhan bermain tidak juga terhenti pada saat anak sakit

atau anak di rumah sakit (Wong, 2009).

Bermain sama dengan bekerja pada orang dewasa, dan merupakan aspek

terpenting dalam kehidupan anak serta merupakan satu cara yang paling efektif

menurunkan stress pada anak dan penting untuk mensejahterakan mental dan

emosional anak (Champbel & Glaser, 1995 dikutip oleh Supartini, 2004). Bermain

dapat dijadikan sebagai suatu terapi karena terfokus pada kebutuhan anak untuk

mengekspresikan diri mereka melalui penggunaan mainan dalam aktivitas

bermain dan dapat juga digunakan untuk membantu anak mengerti tentang

penyakitnya (Mc. Guiness, 2001)

Bermain adalah kegiatan yang dilakukan secara sukarela untuk

memperoleh kesenangan atau kepuasan (Supartini,2004). Bermain merupakan

bentuk infantile dari kemampuan orang dewasa untuk menghadapi berbagai

macam pengalaman dengan cara menciptakan model situasi tertentu dan berusaha

untuk menguasainya melalui eksperimen dan perencanaan (Nursalam, 2005).


31

2.4.2 Tujuan Bermain

Anak bermain pada dasarnya agar memperoleh kesenangan, sehingga ia

tidak akan merasa jenuh. Bermain tidak sekedar mengisi waktu, tetapi merupakan

kebutuhan anak seperti halnya makan, perawatan dan cinta kasih. Bermain adalah

unsur yang penting untuk perkembangan fisik, emosi, mental, intelektual,

kreativitas dan sosial (Soetjiningsih, 1995).

Dalam melakukan permainan anak dapat mengungkapkan konflik yang

dialaminya, bermain cara yang baik untuk mengatasi kemarahan, kekuatiran dan

kedukaan. Selain itu, dengan bermain anak dapat menyalurkan tenaga yang

berlebihan dan ini merupakan kesempatan yang baik untuk bergaul dengan anak

lainnya (Soetjiningsih, 1995).

2.4.3 Fungsi Bermain

Dunia anak tidak dapat dipisahkan dari kegiatan bermain. Diharapkan

dengan bermain, anak akan mendapatkan stimulus yang mencukupi agar dapat

berkembang secara optimal. Menurut Supartini (2004), fungsi bermain pada anak

yaitu:

a. Perkembangan sensoris-motorik: aktivitas sensoris-motorik merupakan

komponen terbesar yang digunakan anak dan bermain aktif sangat penting untuk

perkembanga fungsi otot.

b. Perkembangan intelektual: anak melakukan eksplorasi dan manipulasi

terhadap segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya, terutama mengenal

warna, bentuk, ukuran, tekstur, dan membedakan objek. Misalnya, anak bermain
32

mobil-mobilan, kemudian bannya terlepas dan anak dapat memperbaikinya maka

anak telah belajar memecahkan masalahnya melalui eksplorasi alat mainannya

dan untuk mencapai kemampuan ini, anak menggunakan daya pikir dan

imajinasinya semaksimal mungkin. Semakin sering anak melakukan eksplorasi,

akan melatih kemampuan intelektualnya.

c. Perkembangan sosial: perkembangan sosial ditandai dengan kemampuan

berinteraksi dengan lingkungannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar

memberi dan menerima. Bermain dengan orang lain akan membantu anak untuk

mengembangkan hubungan sosial dan belajar memecahkan dari hubungan

tersebut. Saat melakukan aktivitas bermain, anak belajar berinteraksi dengan

teman, memahami lawan bicara, dan belajar tentang nilai sosial yang ada pada

kelompoknya. Hal ini terjadi terutama pada anak usia sekolah dan remaja

d. Perkembangan kreativitas: berkreasi adalah kemampuan untuk

menciptakan sesuatu dan mewujudkannya ke dalam bentuk objek dan atau

kegiatan yang dilakukannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar dan

mencoba untuk merealisasikan ide-idenya.

e. Perkembangan kesadaran diri: melalui bermain, anak akan

mengembangkan kemampuannya dalam mengatur tingkah laku. Anak juga akan

belajar mengenal kemampuannya dan membandingkannya dengan orang lain dan

menguji kemampuannya dengan mencoba peran-peran baru dan mengetahui

dampak tingkah lakunya terhadap orang lain. Dalam hal ini, peran orang tua

sangat penting untuk menanamkan nilai moral dan etika, terutama dalam

kaitannya dengan kemampuan untuk memahami dampak positif dan negatif dari
33

perilakunya terhadap orang lain. Nilai-nilai moral: anak mempelajari nilai benar

dan salah dari lingkungannya, terutama dari orang tua dan guru. Dengan

melakukan aktivitas bermain, anak akan mendapat kesempatan untuk menerapkan

nilai-nilai tersebut sehingga dapat diterima di lingkungannya dan dapat

menyesuaikan diri dengan aturan-aturan kelompok yang ada dalam

lingkungannya.

f. Bermain Sebagai Terapi

Pada saat anak dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami berbagai

perasaan yang sangat tidak menyenangkan seperti: marah, takut, cemas, sedih dan

nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami anak

karena menghadapi beberapa stressor yang ada di lingkungan rumah sakit. Untuk

itu, dengan melakukan permainan anak akan terlepas dari ketegangan dan stress

yang dialaminya karena dengan melakukan permainan, anak akan dapat

mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya (distraksi).

2.4.4 Kategori Bermain

a. Bermain Aktif

Dalam bermain aktif, kesenangan timbul dari apa yang dilakukan anak,

apakah dalam bentuk kesenangan bermain alat misalnya mewarnai gambar,

melipat kertas origami, puzzle dan menempel gambar. Bermain aktif juga dapat

dilakukan dengan bermain peran misalnya bermain dokter-dokteran dan bermain

dengan menebak kata (Hurlock, 1998).


34

b. Bermain Pasif

Dalam bermain pasif, hiburan atau kesenangan diperoleh dari kegiatan

orang lain.Pemain menghabiskan sedikit energi, anak hanya menikmati temannya

bermain atau menonton televisi dan membaca buku. Bermain tanpa mengeluarkan

banyak tenaga, tetapi kesenangannya hampir sama dengan bermain aktif (Hurlock,

1998).

2.4.5 Klasifikasi Permainan

Menurut Wong (1999), bahwa permainan dapat diklasifikasikan:

a. Berdasarkan isinya

1) Bermain afektif sosial (social affective play)

Permainan ini adalah adanya hubungan interpersonal yang menyenangkan

antara anak dan orang lain. Misalnya, bayi akan mendapat kesenangan dan

kepuasan dari hubungan yang menyenangkan dengan orangtua dan orang lain.

Permainan yang biasa dilakukan adalah cilukba, berbicara sambil

tersenyum/tertawa atau sekedar memberikan tangan pada bayi untuk

menggenggamnya tetapi dengan diiringi berbicara sambil tersenyum dan

tertawa.

2) Bermain untuk senang-senang (sense of pleasure play)

Permainan ini menggunakan alat yang bisa menimbulkan rasa senang

pada anak dan biasanya mengasyikkan. Misalnya dengan menggunakan pasir,

anak akan membuat gunung-gunung atau benda-benda apa saja yang dapat

dibentuk dengan pasir. Bisa juga dengan menggunakan air anak akan
35

melakukan bermacam-macam permainan seperti memindahkan air ke botol,

bak atau tempat lain.

3) Permainan Ketrampilan (skill play)

Permainan ini akan menimbulkan keterampilan anak, khususnya

motorik kasar dan halus. Misalnya, bayi akan terampil akan memegang benda-

benda kecil, memindahkan benda dari satu tempat ke tempat lain dan anak

akan terampil naik sepeda. Jadi keterampilan tersebut diperoleh melalui

pengulangan kegiatan permainan yang dilakukan.

4) Permainan simbolik atau pura-pura (dramatic play role)

Permainan anak ini yang memainkan peran orang lain melalui

permainannya. Anak berceloteh sambil berpakaian meniru orang dewasa.

Misalnya ibu guru, ibunya, ayahnya, kakaknya sebagai yang ingin ia tiru.

Apabila anak bermain dengan temannya, akan terjadi percakapan di antara

mereka tentang peran orang yang mereka tiru. Permainan ini penting untuk

memproses/mengindentifikasi anak terhadap peran tertentu.

b. Berdasarkan jenis permainan (Supartini, 2004):

1) Permainan (Games)

Permainan adalah jenis permainan dengan alat tertentu yang

menggunakan perhitungan atau skor. Permainan ini bisa dilakukan oleh anak

sendiri atau dengan temannya. Banyak sekali jenis permainan ini yang

dimulai dari sifat tradisional maupun modern seperti ular tangga, congklak,

puzzle dan lain-lain.

2) Permainan yang hanya memperhatikan saja (unoccupied behaviour)


36

Pada saat tertentu anak sering terlihat mondar-mandir, tersenyum,

tertawa, jinjit-jinjit, bungkuk-bungkuk, memainkan kursi, meja, atau apa saja

yang ada di sekelilingnya. Anak melamun, sibuk dengan bajunya atau benda

lain. Jadi sebenernya anak tidak memainkan alat permainan tertenty dan

situasi atau objek yang ada di sekelilingnya yang digunakan sebagai alat

permainan. Anak memusatkan perhatian pada segala sesuatu yang menarik

perhatiannya. Peran ini berbeda dengan onlooker, dimana anak aktif

mengamati aktivitas anak lain.

c. Berdasarkan karakteristik sosial

1) Solitary play. Dimulai dari bayi (toddler) dan merupakan jenis permainan

sendiri atau independen walaupun ada orang lain disekitarnya. Hal ini karena

keterbatasan sosial, ketrampilan fisik dan kognitif.

2) Paralel play. Dilakukan oleh suatu kelompok anak balita atau prasekolah

yang masing-masing mempunyai permainan yang sama tetapi satu sama

lainnya tidak ada interaksi dan tidak saling tergantung. Dan karakteristik

khusus pada usia toddler.

3) Associative play. Permainan kelompok dengan tanpa tujuan kelompok.

Yang mulai dari usia toddler dan dilanjutkan sampai usia prasekolah dan

merupakan permainan dimana anak dalam kelompok dengan aktivitas yang

sama tetapi belum teroganisir secara formal.

4) Cooperative play. Suatu permainan yang teroganisir dalam kelompok, ada

tujuan kelompok dan ada memimpin yang di mulai dari usia pra sekolah.

Permainan ini dilakukan pada usia sekolah dan remaja.


37

5) Onlooker play. Anak melihat atau mengobservasi permainan orang lain

tetapi tidak ikut bermain, walaupun anak dapat menanyakan permainan itu dan

biasanya dimulai pada usia toddler.

6) Therapeutic play. Merupakan pedoman bagi tenaga tim kesehatan,

khususnya untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis anak selama

hospitalisasi. Dapat membantu mengurangi stress, memberikan instruksi dan

perbaikan kemampuan fisiologis (Vessey & Mohan, 1990 dikutip oleh

Supartini, 2004). Permainan dengan menggunakan alat-alat medik dapat

menurunkan kecemasan dan untuk pengajaran perawatan diri. Pengajaran

dengan melalui permainan dan harus diawasi seperti: menggunakan boneka

sebagai alat peraga untuk melakukan kegiatan bermain seperti memperagakan

dan melakukan gambar-gambar seperti pasang gips, injeksi, memasang infus

dan sebagainya

2.4.6 Prinsip dalam Aktivitas Bermain

Menurut Soetjiningsih (1995), agar anak-anak dapat bermain dengan

maksimal, maka diperlukan hal-hal seperti:

a. Ekstra energy, untuk bermain diperlukan energi ekstra. Anak-anak yang

sakit kecil kemungkinan untuk melakukan permainan.

b. Waktu, anak harus mempunyai waktu yang cukup untuk bermain sehingga

stimulus yang diberikan dapat optimal

c. Alat permainan, untuk bermain alat permainan harus disesuaikan dengan

usia dan tahap perkembangan anak serta memiliki unsure edukatif bagi anak.
38

d. Ruang untuk bermain, bermain dapat dilakukan dimana saja, diruang

tamu, halaman, bahkan di tempat tidur.

e. Pengetahuan cara bermain, dengan mengetahui cara bermain maka anak

akan lebih terarah dan pengetahuan anak akan lebih berkembang dalam

menggunakan alat permainan tersebut.

f. Teman bermain, teman bermain diperlukan untuk mengembangkan

sosialisasi anak dan membantu anak dalam menghadapi perbedaan. Bila

permainan dilakukan bersama dengan orang tua, maka hubungan orang tua dan

anak menjadi lebih akrab.

2.4.7 Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Bermain

Menurut Supartini (2004), ada beberapa faktor yang mempengaruhi anak

dalam bermain yaitu:

a. Tahap perkembangan anak, aktivitas bermain yang tepat dilakukan anak

yaitu harus sesuai dengan tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak, karena

pada dasarnya permainan adalah alat stimulasi pertumbuhan dan perkembangan

anak.

b. Status kesehatan anak, untuk melakukan aktivitas bermain diperlukan

energi bukan berarti anak tidak perlu bermain pada saat anak sedang sakit.

c. Jenis kelamin anak, semua alat permainan dapat digunakan oleh anak laki-

laki atau anak perempuan untuk mengembangkan daya pikir, imajinasi, kreativitas

dan kemampuan sosial anak. Akan tetapi, permainan adalah salah satu alat untuk

membantu anak mengenal identitas diri


39

d. Lingkungan yang mendukung, dapat menstimulasi imajinasi anak dan

kreativitas anak dalam bermain

e. Alat dan jenis permainan yang cocok, harus sesuai dengan tahap tumbuh

kembang anak.

2.4.8 Jenis Permainan Anak Usia Sekolah

a. Ciri-ciri alat permainan untuk anak usia 6-12 tahun

Menurut Adriana (2011) ciri-ciri alat permainan untuk anak usia 6-12

tahun yaitu:

1) Mengembangkan kemampuan menyamakan dan membedakan

2) Mengembangkan kemampuan berbahasa

3) Mengembangkan pengertian tentang berhitung, yaitu menambah dan

mengurangi

4) Merangsang daya imajinasi

5) Menumbuhkan sportivitas

6) Mengembangkan kepercayaan diri

7) Mengembangkan kreativitas

8) Mengembangkan kemampuan mengontrol emosi, motorik halus dan kasar

9) Mengembangkan sosialisasi atau bergaul dengan anak dan orang lain.

b. Jenis Alat Permainan yang dianjurkan untuk anak usia 6-12 tahun

Menurut Adriana (2011) jenis alat permainan yang dianjurkan untuk anak

usia 6-12 tahun yaitu:

1) Kertas lipat (origami)


40

2) Menggambar dan mewarnai

3) Puzzle

4) Teka-teki/tebak-tebakan

5) Alat permainan musik

6) Buku cerita, majalah

7) Game

2.5 Konsep Menggambar dan Mewarnai

2.5.1 Pengertian Menggambar dan Mewarnai

Menggambar adalah membuat gambar. Gambar adalah tiruan barang

(orang, binatang, tumbuhan dan sebagainya) yang dibuat dengan coretan pensil

dan kertas. Menggambar dapat diartikan sebagai kegiatan membuat gambar atau

melukis. Mewarnai adalah kegiatan memberikan warna pada gambar atau tiruan

barang yang dibuat dengan coretan pensil atau pewarna pada kertas (Sudaryat,

2011).

2.5.2 Manfaat Menggambar dan Mewarnai

Menurut Sudaryat (2011), warna adalah kesan yang diperoleh dari cahaya

berupa pantulan dari benda-benda yang dikenalnya. Kegunaannya sebagai daya

tarik, pembentuk sifat dan karakter, pembuat suasana dan pembangkit emosi.

Hasil penelitian para ahli menyatakan bahwa warna yang digunakan anak-

anak adalah warna-warna primer, dengan kata lain anak masih suka pada warna-

warna murni seperti merah, kuning, hijau, dan biru. Adapun anak yang mewarnai
41

gambarnya sesuai dengan warna alam benda , hanyalah terbatas pada warna-

warna tertentu, misalnya: hijau untuk daun, coklat untuk tanah dan biru untuk

langit atau laut. Sebagian besar anak memilih warna apa saja yang mereka

inginkan disamping mereka sendiri sudah memiliki warna kesukaan. Kedua hal ini

terjadi disebabkan oleh pengaruh warna secara kejiwaan terhadap seseorang.

Pengaruh warna secara kejiwaan ini berbeda dengan pengaruh warna

secara inderawi karena hal itu merupakan cita rasa masing-masing individu.

Pengaruh warna secara inderawi relatif sama untuk setiap individu, misalnya:

warna orange dan kuning yang dapat menyilaukan atau warna hijau yang

menyejukkan. Terapi warna dinyatakan bisa membantu menyeimbangkan

gangguan fisik, emosional dan spiritual. Setiap warna bergema ke frekuensi

berbeda, dan membawa sifat penyembuhan yang spesifik. Warna digunakan untuk

menenangkan pikiran dan jiwa adalah hijau dan biru. Warna biru melambangkan

ketenangan dan kesedihan. Selain itu, warna biru juga membantu mengatasi

peradangan, menghentikan perdarahan, meredakan demam, meredakan stress, rasa

nyeri serta menenangkan agresi dan histeria. Warna hijau dapat dikatakan

penyembuh yang luar biasa. Hijau digunakan untuk menyeimbangkan dan

menstabilisasi energi tubuh. Warna kuning dapat menstimulasi konsentrasi.

Warna kuning dapat digunakan untuk mengurangi keluhan penyakit yang

berhubungan dengan stress. Warna merah untuk memulihkan pasien dengan

amarah (Turana, 2010).

Menggambar dan mewarnai sebagai salah satu permainan yang

memberikan kesempatan anak untuk bebas berekspresi dan sangat terapeutik.


42

Anak dapat mengekspresikan perasaanya dengan cara menggambar. Menggambar

bagi anak merupakan suatu cara untuk berkomunikasi tanpa menggunakan kata-

kata, dengan menggambar atau mewarnai gambar juga dapat memberikan rasa

senang karena pada dasarnya anak usia sekolah sudah sangat aktif dan imajinatif.

Selain itu anak masih tetap dapat melanjutkan perkembangan kemampuan motorik

halus meskipun masih menjalani perawatan di rumah sakit (Suparto, 2003).

2.6 Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Kecemasan Anak yang

Menjalani Kemoterapi

Anak yang menderita kanker dapat mengalami berbagai macam masalah

terkait dengan penyakit dan pengobatan. Pengobatan kanker terutama kemoterapi

dapat memberikan efek pada fisik, psikologis yang dapat mempengaruhi

pertumbuhan dan perkembangan serta kualitas hidup anak (Hockenberry &

Wilson, 2007).

Anak yang menjalani kemoterapi dapat mengalami kecemasan dan depresi.

Kecemasan yang dialami dapat reaktif dan situasional berhubungan dengan

ketakutan setelah terdiagnosa penyakit dan selama menjalani pengobatan. Selain

itu, anak juga akan mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak

menyenangkan seperti: marah,takut, cemas dan nyeri (Shell & Kirsch dalam Otto,

2001).

Untuk itu, anak memerlukan media yang dapat mengekspresikan

perasaanya. Media yang paling efektif adalah melalui kegiatan permainan.

Permainan merupakan kegiatan yang sehat dan diperlukan untuk tumbuh


43

kembang. Dalam melakukan permainan anak akan terlepas dari ketegangan dan

stress yang dialaminya karena dengan melakukan permainan, anak akan dapat

mengalihkan rasa sakit pada permainannya (distraksi) dan dapat mengungkapkan

perasaannya (Supartini, 2004).