Vous êtes sur la page 1sur 3

Assalamu alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh,

Kaum muslimin yang berbahagia,

Kembali kami ingatkan, agar kita selalu bersyukur kepada Allah dengan nikmat ini.
Nikmat bisa merasakan ibadah di bulan ramadhan. Bulan yang menjadi musim
ketaatan. Sudah selayaknya kita selalu mengiringinya dengan doa, memohon
kepada Allah, agar Dia selalu memberi kemudahan bagi kita untuk beribadah sebaik
mungkin selama bulan ini.

Salah satu doa yang layak untuk kita rutinkan adalah doa yang diajarkan
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kepada sahabat Muadz Radhiyallahu anhu,
sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Abu Daud,

Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir pada-Mu, bersyukur pada-Mu, dan


memperbagus ibadah pada-Mu.

Kita tentu sangat berharap agar ibadah yang kita kerjakan selama bulan ini,
diterima oleh Allah dan mendapatkan balasan yang terbaik dari-Nya.

Hadhirin yang dirahmati Allah,

Sebagian orang mempertanyakan, bagaimanakah hakekat tarawih yang benar?

Jika kita perhatikan, istilah tarawih berasal dari kata: [


], yang artinya
istirahat. Orang mengartikannya dengan santai. Sehingga shalat tarawih adalah
shalat yang santai. Santai dalam arti shalatnya tidak ngebut. Bacaannya panjang,
rukuknya panjang, itidalnya panjag, sujudnya panjang, dst. itulah tarawih yang
santai.

Ketika anda melakukan perjalanan sejauh 30 km. Secara normal ditempuh dalam
waktu 20 menit. Karena santai, anda bisa menempuhnya selama setengah jam atau
40 menit. Jika anda bisa menempuhnya kurang dari 20 menit, berarti itu ngebut.

Normalnya, shalat 11 rakaat bisa kita selesaikan dalam waktu 30 menit. Tapi karena
santai, bisa lebih lama. Sekitar 40 menit atau 50 menit. Terlebih ketika anda tarawih
21 rakaat, anda tentu butuh waktu 2 kali lipatnya. Bisa satu setengah jam. Itulah
makna shalat tarawih yang santai.

Barangkali perlu kita coba sesekali, shalat tarawih dengan santai. Biasanya selesai
shalat 30 menit, kita bisa buat, selesai dalam 1 jam. Bagaimana, jamaah setuju??
Baik, saya catat.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah,

Jika kita melihat sejarah, tarawih di zaman Nabi Shallallahu alaihi wa


sallam dilakukan berjamaah dengan beliau sebagai imam, hanya terjadi sebanyak 3
kali dalam 3 malam. Dan itu beliau lakukan berseling. Di malam 23, malam 25, dan
malam 27. Kita bisa simak penuturan sahabat an-Numan bin Basyir radhiyallahu
anhu berikut,

- -












Kami shalat tarawih bulan Ramadhan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa


sallam pada malam ke-23 hingga sepertiga malam pertama, kemudian kami shalat
lagi pada malam ke-25, hingga pertengahan malam, kemudian beliau mengimami
kami pada malam ke-27 hingga akhir malam, sampai kami khawatir tidak bisa
ngejar sahur. (HR. Ahmad 18899 dan sanadnya dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Kita bisa bandingkan dengan keadaan tarawih di tempat kita. Kita shalat tarawih
hanya selama jam. Itupun sudah dianggap sangat lama. Kira-kira kebayang tidak
andai kita ikut shalat tarawih bersama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ketika itu.
Mungkin banyak diantara kita yang mutung.

Kata sahabat Numan, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengimami tarawih di hari
pertama, malam ke-23 sampai sepertiga malam pertama. Kalau kita ukur di zaman
sekarang berarti kira-kira selesai jam 10. Di malam kedua, malam ke-25, beliau
shalat tarawih sampai tengah malam. Kalo di tempat kita berarti kira-kira jam 1 dini
hari. masyaaAllah. dan itu sahabat gak kapok.

Bahkan disebutkan dalam riwayat lain, ketika Nabi Shallallahu alaihi wa


sallam mengimami tarawih sampai tengah malam, ada sahabat yang ketagihan. Jadi
bukannya mutung, tapi minta tambah. Diantarannya sahabat Abu Dzar mengusulkan
kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam,




Ya Rasulullah, mengapa tidak anda tambahkan shalat sunahnya sampai akhir malam
sekalian?

Subhanallah

Seperti inilah hadhirin jamaah yang ideal. Seharusnya keinginan untuk


memperpanjang shalat tarawih, itu bukan atas inisiatif imam. Tapi atas permintaan
jamaah.

Karena itu, kalo ada imam yang tarawihnya kepanjangan, sebenarnya ini wajar.
Karena seharusnya itu yang sesuai selera jamaah. Tapi saya yakin, nampaknya
mustahil jika ini terjadi di sini.

Karena semangat semacam ini, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menanangkan


para sahabatnya. Di situlah beliau memberikan janji dalam hadis yang sangat
terkenal,

Barangsiapa yang shalat tarawih berjamaah bersama imam hingga selesai, maka
dia mendapat pahala shalat tahajud semalam suntuk. (HR. Nasai 1605, Ibn Majah
1327 dan dishahihkan Al-Albani)

Karena hadis ini, mayoritas ulama menganjurkan agar shalat tarawih dikerjakan
secara berjamaah. Dan makmum diminta untuk ikut sampai selesai. Meskipun kita
hanya bermodal shalat setengah jam, tapi dapat pahala shalat semalam.

Dari sini pula, kita perlu menyadari, betapa amal kita itu tidak ada apa-apanya
dibandingkan amal para sahabat. Meskipun kita terkadang menganggap shalat
tarawih yang kita lakukan seperti amal yang luar biasa.

Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk terus meningkatkan kualitas amal ibadah
kita.

Amin..

Wa shallallahu ala nabiyyina Muhammad wa ala aalihi wa shahbihii ajmain

Walhamdulillahi rabbil aalamiin

Read more https://konsultasisyariah.com/25075-kultum-ramadhan-tarawih-yang-


ideal.html