Vous êtes sur la page 1sur 9

Hubungan Antara Tingkat Stres dengan Frekuensi

Kekambuhan pada Wanita Penderita Asma Usia Dewasa


Awal yang Telah Menikah

Novita Fajar Lestari


Nurul Hartini, S. Psi., M. Kes
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya

Abstract.
The purpose of this study was to determine the relationship between the level of stress to
the frequency of recurrence in woman with asthma married early adulthood. Stress is a condition
when a person's mental and spiritual discomfort caused by feelings of distress.
The population in this study were adult asthmatic women who had married early,
amounting to 38 people. Collecting data using a questionnaire with Likert type scale. Data
analysis was performed with the Spearman rank correlation technique by first to test the validity
and reliability of measuring instruments and non-parametric test assumptions. All statistical
tests performed with SPSS version 16.0 for Windows.
Based on the results of the correlation between the two variables is 0.730 with = 0.000.
This suggests that the hypothesis is accepted, which means there is a significant relationship
between the level of stress to the frequency of recurrence in woman with asthma married early
adulthood.

Keywords: Stress, recurrent of asthma, woman with asthma married early adulthood.

Abstrak.
..........Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan
frekuensi kekambuhan pada wanita penderita asma usia dewasa awal yang telah menikah. Stres
yang dimaksud adalah kondisi ketika seseorang merasakan ketidaknyamanan mental dan
batin yang diakibatkan oleh perasaan tertekan.
..........Penelitian dilakukan pada wanita penderita asma dengan rentang usia 20 hingga 40
tahun yang telah menikah dengan jumlah subjek sebanyak 38 orang. Pengumpulan data
menggunakan kuesioner dengan skala jenis likert. Analisis data dilakukan dengan teknik
korelasi Spearman rank yang terlebih dahulu dilakukan uji validitas dan reliabilitas alat ukur
serta uji asumsi non-parametrik. Seluruh uji statistik dilakukan dengan bantuan program SPSS
versi 16.0 for windows.
..........Berdasarkan hasil analisis data penelitian diperoleh nilai korelasi antara stingkat stres
dengan kekambuhan asma sebesar 0,730 dengan sebesar 0,000. Hal ini menunjukkan
bahwa hipotesis diterima, yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara
tingkat stres dengan frekuensi kekambuhan pada wanita penderita asma usia dewasa awal
yang telah menikah.

Kata Kunci : Stres, Kekambuhan Asma, Wanita Usia Dewasa Awal yang Telah Menikah

Korespondensi: Novita Fajar Lestari, Departemen Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental Fakultas Psikologi Universitas
Airlangga, Jl. Dharmawangsa Dalam Selatan Surabaya 60286, e-mail: novitaflestari@gmail.com
JURNAL Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental 7
Volume 2, No. 1, April 2014
Novita Fajar Lestari

Dewasa awal merupakan masa transisi dari kondisi stres sehingga dapat meningkatkan
masa remaja menuju masa dewasa, baik transisi frekuensi kekambuhan asma yang dideritanya.
secara fisik, transisi secara intelektual serta transisi Pada lingkungan kerja memungkin timbulnya
peran sosial (Santrock, 2002). Pada masa ini, stres akibat hubungan yang tidak harmonis
penentuan relasi sangat memegang peranan dengan teman, atasan, beban kerja yang terlalu
penting. Tugas perkembangan pada tahap ini berat dan sebagainya (Santrock, 2002).
adalah memilih seorang teman hidup, belajar Kondisi stres merupakan keadaan yang
hidup dengan suami atau istri, membentuk sebuah sudah tidak asing bagi masyarakat di seluruh
keluarga, membesarkan anak-anak, mengelola dunia. Setiap orang kemungkinan pernah
sebuah rumah tangga, dan membesarkan anak- mengalami stres dalam berbagai bentuk dan
anak. Tugas-tugas perkembangan tersebut banyak tingkatan. Pada saat seseorang mengalami stres,
difokuskan pada bagaimana individu membangun dapat ditemui gejala-gejala seperti sulit tidur,
rumah tangga, sehingga dapat disimpulkan disini timbul rasa kuatir yang berlebih, sulit konsentrasi,
bahwa yang menjadi salah satu fokus tugas dan masih banyak gejala yang lainnya
perkembangan pada masa dewasa awal adalah (Kisker,1997). Prevalensi stres semakin meningkat
pernikahan (Hurlock, 1994). baik dalam kalangan masyarakat yang tinggal di
Dalam pernikahan, akan saling menerima perkotaan, maupun yang tinggal di pedesaan.
dan memahami pasangan masing-masing, saling Bahkan di zaman global ini stres cenderung lebih
menerima kekurangan dan saling bantu banyak menyerang masyarakat dengan tingkat
membantu membangun rumah tangga. Tak hanya perekonomian tinggi daripada masyarakat dengan
itu, dalam sebuah pernikahan juga terdapat tingkat perekonomian rendah, meskipun
beberapa permasalahan.Pada wanita yang telah demikian terdapat perbedaan daripada tingkatan-
menikah akan memiliki peran ganda. Ia tak hanya tingkatan stres yang dialami oleh masing-masing
sebagai seorang istri, akan tetapi juga sebagai ibu golongan masyarakat tersebut (Kisker, 1997).
rumah tangga, pendididik, menjalankan tugas Stres merupakan suatu kondisi yang
reproduksi, anggota masyarakat dan bahkan juga muncul akibat terjadinya kesenjangan antara
sebagai pencari nafkah (Santrock, 2002). Dalam tuntutan yang dihasilkan oleh transaksi antara
menjalankan peran tersebut adakalanya individu dan lingkungan dengan sumber daya
dihinggapi berbagai masalah. Masalah-masalah biologis dan psikologis yang dimiliki individu
yang muncul dalam pernikahan kadangkala tidak tersebut (Sarafino, 2008). Apabila seseorang
dapat diprediksi sebelumnya dan hal ini dapat mengalami stres, hormon stres seperti kortisol
muncul kapan saja dan dimana saja. Masalah yang akan diproduksi secara berlebihan oleh tubuh
timbul bisa dari masalah kecil yang dapat sehingga dapat mengakibatkan perubahan imun
diselesaikan dengan segera hingga masalah yang dan menjadi mudah terkena penyakit (Davison,
sangat kompleks sehingga membutuhkan energi 2010). Apabila kekebalan tubuh atau imun
untuk berfikir dan menyelesaikannya. Beberapa menurun, berbagai penyakit dan infeksi akan
masalah yang sering timbul pada pernikahan mudah masuk ke dalam tubuh manusia. Sistem
adalah masalah komunikasi, pembagian peran, kekebalan merupakan pertahanan tubuh melawan
pengasuhan anak, pengaruh keluarga asal, penyakit. Kondisi stres akan meningkatkan resiko
masalah keuangan, masalah seksual dam masalah terkena berbagai jenis penyakit fisik, mulai dari
pengambilan keputusan (Olson dan DeFrain, gangguan pencernaan, kardiovaskuler sampai
1999). penyakit jantung. Gangguan kardiovaskuler
Pada wanita yang telah menikah dan tersebut salah satunya adalah asma bronkial
memilih untuk bekerja, lebih dapat meningkatkan (Kardjito, 1994).

8 JURNAL Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental


Volume 2, No. 1, April 2014
Hubungan Antara Tingkat Stres dengan Frekuensi Kekambuhan pada Wanita Penderita Asma
Usia Dewasa Awal yang Telah Menikah

Asma bronkial merupakan masalah Indonesia untuk daerah pedesaan 4,3% dan
kesehatan di seluruh dunia, baik di negara perkotaan 6,5%. Berdasarkan penelitian yang
maju maupun di negara-negara sedang dilakukan oleh Rahajoe, dkk., (2004), dapat
berkembang. Asma bronkial bronkial menurut diketahui bahwa sebanyak tujuh persen dari
Kardjito (1994) adalah penyakit paru berupa jumlah penduduk di Jawa Timur menderita
proses keradangan di saluran napas yang asma bronkial. Penyebaran kasus asma
mengakibatkan hiperrespon saluran napas bronkial tidak hanya terjadi pada negara maju,
terhadap berbagai macam rangsangan yang tapi juga pada negara berkembang. Penyakit
dapat menyebabkan penyempitan saluran kronis tersebut hingga kini masih tergolong
napas yang menyeluruh sehingga dapat timbul penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan
sesak napas yang reversibel baik secara spontan menjadi masalah kesehatan masyarakat di
maupun dengan terapi. Penelitian yang dunia maupun di Indonesia. Asma bronkial
dilakukan oleh Sakellariou dan Papolopuolos dapat terjadi pada siapa saja, baik pada anak-
(2008) membuktikan bahwa asma bronkial anak, remaja maupun dewasa.
dapat bersifat ringan, tetapi bersifat menetap Berdasarkan survey dari National
dan juga dapat mengganggu aktivitas bahkan Center for Health Statistics atau NCHS pada
kegiatan harian sehingga dapat menurunkan tahun 2003, prevalensi serangan asma yang
kualitas hidup. terjadi pada anak usia 0-17 tahun sebanyak
Pemberitaan mengenai asma bronkial di 5,7% dari jumlah total anak sekitar 4,2 juta jiwa
berbagai media, baik media cetak maupun dan pada orang dewasa diatas 18 tahun
media elektronik masih menjadikan ketakutan diperkirakan sekitar 3,8% dari jumlah orang
tersendiri bagi masyarakat. Jumlah penderita dewasa sekitar 7,8 juta jiwa. Pada masa anak-
asma bronkial di dunia diperkirakan dari tahun anak, penyakit asma bronkial lebih banyak
ke tahun mengalami peningkatan. World diderita oleh anak laki-laki, namun seiring
Health Organization (2013) menyebutkah perkembangan usia penyakit asma lebih
bahwa telah tercatat sebanyak 300 juta orang banyak diderita anak wanita. Seiring
dari segala usia dan latar belakang etnis di berkembangnya usia, asma yang diderita oleh
seluruh dunia menderita asma bronkial. pria juga akan menghilang karena semakin
Jumlah penderita asma bronkial dewasa seorang pria, saluran pernapasannya
dikhawatirkan akan terus meningkat hingga juga akan semakin melebar. Sedangkan wanita,
400 juta orang pada tahun 2025 dan ketika memasuki usia 17 tahun pertumbuhan
diperkirakan sebanyak 250.000 orang volume saluran pernapasannya hanya
meninggal setiap tahun disebabkan oleh asma berkembang lebih sedikit. Dengan demikian
bronkial. pada saat dewasa, jumlah penderita asma pada
Beberapa media menyebutkan wanita lebih banyak daripada pria (Budhi,
prevalensi kasus asma bronkial yang terjadi di 2012).
Indonesia terus mengalami peningkatan dari Berdasarkan penelitian yang telah
tahun ke tahun. Asma bronkial masuk dalam dilakukan oleh Lieshout dan McQueen (2008),
sepuluh besar penyebab kesakitan dan dapat diketahui bahwa kondisi psikologis yang
kematian di Indonesia pada tahun 2002 dengan tidak stabil dapat menyebabkan kekambuhan
jumlah penderita sebanyak 12.500.000. Survei asma bronkial. Faktor ini sering diabaikan oleh
Kesehatan Rumah Tangga tahun 2005 penderita asma bronkial sehingga frekuensi
mencatat 225.000 orang meninggal karena kekambuhan menjadi lebih sering dan
asma bronkial. Prevalensi asma bronkial di penderita mengalami keadaan yang lebih

JURNAL Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental 9


Volume 2, No. 1, April 2014
Novita Fajar Lestari

buruk. Berdasarkan penelitian Sandberg, dkk., satu pria. Sehingga bisa didefinisikan sebagai
(2000), dapat diketahui bahwa kondisi psikologis suatu kesatuan hubungan suami istri dengan
merupakan suatu rantai yang sulit ditentukan harapan bahwa mereka akan menerima tanggung
mana yang menjadi penyebab dan mana yang jawab dan memainkan peran sebagai pasangan
merupakan akibat. yang telah menikah, dimana didalamnya terdapat
Kekambuhan asma dapat dipengaruhi hubungan seksual, keinginan mempunyai anak
oleh beberapa faktor, misalnya asap rokok, dan menetapkan pembagian tugas antara suami
binatang peliharaan, jenis makanan, perabot istri.
rumah tangga yang berdebu, perubahan cuaca,
dan juga kondisi stres (Kardjito, 1994). Frekuensi Asma
kekambuhan asma bronkial ini dapat terus Asma bronkial bronkial menurut Kardjito
meningkat secara berkala (Davison, 2010). (1994) adalah penyakit paru berupa proses
Kekambuhan asma bronkial masih sering terjadi keradangan di saluran napas yang mengakibatkan
meskipun telah dikelola secara efektif oleh hiperrespon saluran napas terhadap berbagai
kebanyakan penderita asma bronkial. Tujuan macam rangsangan yang dapat menyebabkan
p e n ge l o l a a n ko n d i s i i n i a d a l a h u n t u k penyempitan saluran napas terhadap berbagai
mengembalikan fungsi paru-paru agar bekerja macam rangsangan yang dapat menyebabkan
optimal kembali dan untuk meminimalkan penyempitan saluran napas yang menyeluruh
mordibitas secara sementara dengan sehingga dapat timbul sesak napas yang reversibel
menggunakan obat yang dianjurkan. Morbiditas baik secara spontan maupun dengan terapi.
suatu penyakit dapat dihubungkan dengan
kemiskinan dan deprivasi sosial, serta status sosial Kekambuhan Asma
ekonomi yang buruk dapat berkontribusi untuk Menurut Boyd dan Nihart (1998),
etiologi dan pengelolaan penyakit asma bronkial kekambuhan asma bronkial yaitu kembalinya
tersebut (Davison, 2010). gejala-gejala asma bronkial sehingga cukup parah
dan mengganggu aktivitas sehari-hari dan
LANDASAN TEORI memerlukan rawat inap dan rawat jalan yang tidak
Dewasa Awal terjadwal.
Menurut Santrock (2002), masa dewasa
awal adalah periode perkembangan yang bermula Stres
pada akhir usia belasan tahun atau awal usia dua Sarafino (2008), stres adalah suatu
puluhan dan berakhir pada usia tiga puluhan. Pada kondisi yang muncul akibat terjadinya
masa dewasa awal ini merupakan masa kesenjangan antara tuntutan yang dihasilkan oleh
pembentukan kemandirian pribadi dan ekonomi, transaksi antara individu dan lingkungan dengan
masa perkembangan karir, masa pemilihan sumber daya biologis dan psikologis atau
pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara psikososial yang dimiliki individu.
akrab, memulai keluarga dan mengasuh anak-
anak (Santrock, 2002). METODE PENELITIAN
Tipe Penelitian
Wanita Yang Menikah Penelitian ini merupakan penelitian
Duvall dan Miller (1985), mengatakan kuantitatif penjelasan atau explanatory research
bahwa pernikahan adalah hubungan yang yaitu penelitian yang menyoroti hubungan antara
diketahui secara sosial dan monogamous, yaitu variabel-variabel penelitian dan menguji hipotesa

I
hubungan berpasangan antara satu wanita dan yang telah dirumuskan (Neuman, 2000).

10 JURNAL Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental


Volume 2, No. 1, April 2014
Hubungan Antara Tingkat Stres dengan Frekuensi Kekambuhan pada Wanita Penderita Asma
Usia Dewasa Awal yang Telah Menikah

Subjek Penelitian membuktikan bahwa terdapat hubungan yang


Subjek dalam penelitian ini adalah wanita signifikan antara stres dengan frekuensi
penderita asma dengan rentang usia 20 hingga 40 kekambuhan asma bronkial pada wanita penderita
tahun yang telah menikah dengan jumlah subjek asma bronkial usia dewasa awal yang telah
sebanyak 38 orang. menikah. Nilai koefisien korelasi menunjukkan
skor 0,730 dan bernilai positif. Hal ini berarti
Teknik Pengumpulan Data semakin tinggi stres akan semakin tinggi pula
Teknik pengumpulan data dalam penelitian frekuensinya kekambuhan asma bronkial. Dengan
ini menggunakan kuesioner tingkat stres dan demikian, hipotesis yang telah dibangun oleh
frekuensi kekambuhan asma yang dibuat oleh penulis berdasarkan kajian pustaka sebelumnya
penulis berdasarkan variabel stres yang telah terpenuhi.
dikemukakan oleh Saraf ino (2008) dan Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini
kekambuhan asma Boyd dan Nihart (1998). menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang
signifikan antara stres dengan frekuensi
Analisis Data kekambuhan pada wanita penderita asma bronkial
Data hasil penelitian ini dianalisis dengan bronkial dengan usia dewasa awal. Hal tersebut
menggunakan uji hubungan atau uji korelasi sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan
Spearman Rho dengan bantuan program SPSS 16.0 oleh Lieshout & McQueen (2008) yang
for Windows. Probabilitas atau taraf signifikansi menyatakan bahwa salah satu faktor pencetus
sebagai berikut (Siregar, 2010): serangan asma bronkial adalah kondisi psikologis
a. Jika nilai P (probabilitas) > 0.05, maka Ho yang tidak stabil. Kondisi psikologis tersebut
diterima yaitu tidak terdapat hubungan misalnya stres yang memiliki peranan penting
diantara kedua variabel. dalam kekambuhan asma bronkial. Berdasarkan
b. Jika nilai P (probabilitas) < 0.05, maka Ho hasil penelitian terdapat 19 subjek yang
ditolak yaitu terdapat hubungan diantara mengatakan bahwa asma yang dideritanya
kedua variabel. kambuh ketika sedang stres.

Hasil Penelitian Hasil penelitian yang diperoleh peneliti


Berdasarkan uji korelasi yang dilakukan terkait awal mula menderita asma bronkial
oleh peneliti, diketahui bahwa taraf signifikasi dari diketahui bahwa terdapat 24 subjek yang
uji hubungan ini adalah sebesar 0,000 dan menderita asma bronkial sejak kecil, terdapat 6
koefisien korelasi sebesar 0,730. Kekuatan subjek menderita asma sejak duduk di bangku
korelasi ini jika berdasarkan nilai korelasi yang sekolah, terdapat 2 orang menderita asma sejak
dikemukakan oleh Sugiyono (2011) adalah remaja, dan 6 orang lainnya menderita asma sejak
memiliki hubungan yang kuat. Korelasi ini juga beberapa tahun yang lalu. Informasi lain terkait
menghasilkan nilai positif yang menunjukkan penyebab kekambuhan asma bronkial dapat
bahwa ada hubungan yang searah antara variabel diperoleh berbagai macam jawaban dari subjek.
stres dengan kekambuhan asma. Maka dapat Misalnya terdapat 6 orang subjek yang asmanya
diinterpretasikan bahwa semakin tinggi stres, kambuh karena kecapekan, 9 orang subjek karena
maka semakin sering asma yang dideritanya suhu udara yang dingin, 19 orang subjek karena
kambuh. stres, 1 orang subjek karena alergi makanan, 5
orang subjek debu, 2 orang subjek karena kondisi
PEMBAHASAN yang panik, 1 orang subjek karena cemas, 1 orang
subjek karena cemas dan sebagainya.
Hasil dari analisis data penelitian ini
11
JURNAL Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental
Volume 2, No. 1, April 2014
Novita Fajar Lestari

Berdasarkan informasi yang diberikan oleh tahun ( = 0,048). Usia pernikahan subjek dengan
subjek dapat diketahui bahwa kekambuhan asma rentang sepuluh hingga tiga puluh tahun memiliki
bronkial tidak hanya disebabkan oleh alergi atau tingkat stres dan kekambuhan asma yang lebih
terkena debu seperti yang dipersepsikan oleh tinggi dibandingkan dengan subjek yang usia
masyarakat selama ini. Dari penelitian diperoleh pernikahannya kurang dari sepuluh tahun.
hasil bahwa faktor psikologis yaitu stres juga dapat Menurut Ruben (dalam Soekarno, 2005), usia
mempengaruhi kekambuhan asma bronkial. Hal pernikahan dengan rentang sepuluh hingga tiga
tersebut sesuai dengan paparan Kardjito (1994, puluh tahun memiliki tingkat stres yang lebih
dalam Mukty) disebutkan bahwa salah satu faktor tinggi. Hal ini disebabkan karena pada usia
pencetus kekambuhan asma bronkial adalah pernikahan dengan rentang sepuluh hingga tiga
kondisi psikologis seseorang. Hasil penelitian puluh tahun subjek mengkonsentrasikan pada
menunjukkan bahwa terdapat 19 subjek yang pengembangan, pemeliharaan keluarga, juga
asmany kambuh ketika sedang stres dan terdapat 2 harus mampu menyelesaikan konflik-konflik
orang subjek yang asmanya kambuh ketika sedang yang timbul dalam perkawinan mereka. Konflik-
dalam kondisi cemas. konflik tersebut dapat mengakibatkan seseorang
Analisis deskripsi hasil penelitian diuji mengalami stres apabila mereka tidak mampu
menggunakan teknik Independent Sample T test untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.
dan Oneway Anova pada karakteristik tingkat Hasil wawancara yang tidak terstruktur yang
pendidikan, usia pernikahan, jumlah anak, dan dilakukan oleh peneliti kepada beberapa subjek
pekerjaan subjek. Hasil penelitian dikatakan diperoleh beberapa informasi yang salah satunya
signifikan apabila < 0,05. Berdasarkan hasil menyebutkan bahwa apabila subjek terlalu banyak
penelitian tingkat skor tingkat pendidikan dan beban pikiran atau sedang dalam kondisi stres dan
jumlah anak yang dimiliki oleh subjek variabel tidak diungkapkan kepada siapapun, beliau
stres tidak terdapat perbedaan dimana masing- merasakan gejala asma bronkial yang deritanya
masing karakteristik tersebut memiliki nilai mulai muncul dan tidak lama kemudian asma
signifikansi > 0,05, untuk tingkat pendidikan ( = bronkial tersebut kambuh. Pada saat asma
0,589) dan jumlah anak ( = 0,486). Sedangkan bronkial kambuh tersebut subjek baru merasakan
untuk variabel kekambuhan asma, skor tingkat bahwa terlalu berlebihan dalam memikirkan
pendidikan dan jumlah anak yang dimiliki oleh sesuatu sehingga dapat menyebabkan asma
subjek tidak terdapat perbedaan yang signifikan. bronkial yang dideritanya kambuh. Kondisi stres
Dimana masing-masing karakteristik tersebut selain menjadi pencetus asma bronkial bronkial,
memiliki nilai signifikansi > 0,05, untuk tingkat juga dapat memperberat serangan asma bronkial
pendidikan ( = 0,702) dan untuk jumlah anak ( = bronkial yang sudah ada. Dalam hal ini sangat
0,135). diperlukan pengertian seluruh keluarga untuk
Ditinjau dari usia pernikahan, kelompok menolong penderita asma tersebut (Richardson,
usia pernikahan dengan rentang sepuluh hingga dkk., 2006).
tiga puluh tahun memiliki tingkat stres yang lebih Ditinjau dari segi pekerjaan, subjek yang
tinggi daripada kelompok usia pernikahan bekerja memiliki tingkat stres yang lebih tinggi
dengan rentang nol hingga sepuluh tahun ( = dibanding dengan subjek yang tidak bekerja ( =
0,025). Ditinjau dari usia pernikahan, kelompok 0,000). Hal tersebut sesuai dengan yang
usia pernikahan dengan rentang sepuluh hingga dipaparkan oleh Triaryati (2003) bahwa wanita
tiga puluh tahun memiliki tingkat kekambuhan yang memiliki peran ganda sebagai pekerja
asma yang lebih tinggi daripada kelompok usia maupun ibu rumah tangga memiliki tuntutan
pernikahan dengan rentang nol hingga sepuluh yang lebih besar. Penyeimbangan tanggung jawab

12 JURNAL Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental


Volume 2, No. 1, April 2014
Hubungan Antara Tingkat Stres dengan Frekuensi Kekambuhan pada Wanita Penderita Asma
Usia Dewasa Awal yang Telah Menikah

antara pekerjaan dan mengurus rumah tangga dapat menjadi sumber stres yang potensial
cenderung lebih memberikan tekanan hidup bagi sehingga dibutuhkan ketrampilan khusus untuk
wanita bekerja karena selain menghabiskan menjaga kedua tanggung jawab ini dapat berjalan
banyak waktu dan energi, tanggung jawab ini bersama-sama secara seimbang dan serasi agar
memiliki tingkat kesulitan pengelolaan yang frekuensi kekambuhan asma yang dideritanya
tinggi. Konsekuensinya, jika wanita kehabisan tidak semakin meningkat.
energi maka keseimbangan mentalnya terganggu
sehingga dapat menimbukan stres. Dengan
demikian dibutuhkan keterampilan khusus untuk
menjaga kedua tanggung jawab tersebut sehingga
bisa berjalan bersama-sama secara seimbang dan
serasi.
Ditinjau dari segi pekerjaan, subjek yang
bekerja memiliki tingkat kekambuhan asma yang
lebih tinggi dibanding dengan subjek yang tidak
bekerja ( = 0,000). Hal tersebut sesuai yang
dipaparkan oleh Sundaru (2008) mengatakan
bahwa lingkungan kerja dapat mencetuskan
serangan asma. Penderita asma sangat peka
terhadap udara yang berdebu, asap pabrik atau
kendaraan, asap rokok, asap yang mengandung
hasil pembakaran dan oksida fotokemikal, serta
bau yang tajam. Apabila penderita terpapar faktor
pencetus asma secara terus menerus dapat
mengakibatkan kekambuhan asma yang
dimilikinya.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tingkat stres
dengan frekuensi kekambuhan asma, maka
peneliti dapat menyimpulkan adanya hubungan
yang signifikan antara tingkat stres dengan
frekuensi kekambuhan asma bronkial pada wanita
penderita asma bronkial usia dewasa awal yang
telah menikah. Arah korelasi kedua variabel ini
adalah positif, ini berarti bahwa semakin tinggi
stres akan memungkinkan semakin tingginya
frekuensi kekambuhan asma bronkial.
Berdasarkan hasil penelitan, subjek yang telah
berumah tangga dan juga bekerja akan memiliki
tingkat stres yang jauh lebih tinggi karena besar
kemungkinan bahwa tanggung jawab di
tempatnya bekerja akan berbenturan dengan
tanggung jawabnya di rumah. Peran ganda ini

JURNAL Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental 13


Volume 2, No. 1, April 2014
Novita Fajar Lestari

PUSTAKA ACUAN

Boyd, M., & Nihart, M. (1998). Psychiatric Nursing Contemporary Practice. Philadelphia: Lippincott.

Budhi, S. M. (2012). Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta: EGC.

Davison, G.C., Neale, J.M., & Kring, A.M. (2010). Psikologi Abnormal, Edisi ke-9 (Terjemahan). Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada

Duvall, E & Miller, C. M. (1985). Marriage and Family Development 6th ed. New York: Harper & Row
Publisher.

Hurlock, E.B. (1994). Developmental Psycology A Life Span. Ed 5. Boston: McGraww Hill College. Terjemah
Istiwidianti dan Soedjarwo (1996). Psikologi perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang
Kehidupan. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Kardjito, T. (1994). Pedoman Diagnosis Therapi Lab/UPF Ilmu Penyakit Paru RSUD dr. Sutomo. Surabaya:
Airlangga University Press

Kisker, G. W. (1997). The Disorganized Personality. New York: Harper & Row Publisher.

Lieshout, R. J., & McQueen, G. (2008). Psychological Factors in Asthma. Alergy, Asthma, and Clinical
Immunology , 12-28.

Mukty, A. (1994). Pedoman Diagnosis dan Terapi : LAB/UPF Ilmu Penyakit Paru. Surabaya: Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.

Neuman, W.L. (2000). Social Research Method: Quantitative and Qualitative Measurement. New York:
Prentice Hall.

Olson, DeFrain & Olson. (1999). Building Relationship. Life Innofations. Minnesota.

Organization, W. H. (2013). World Health Statistics. Switzerland: WHO Press.

Rahajoe, N., Supriyatno, B., & Setyanto, D. B. (2004). Pedoman Nasional Asma bronkial Anak. Jakarta: UKK
Pulmonologi PP IDAI.

Richardson, L. P., Lozano, P., Russo, J., McCauley, E., & Bush, T. (2006). Asthma Symptom Burden :
Relationship to Asthma Severity and Anxiety and Depresion Symptoms. Psychiatry , 1042-1051.

Sakellariou, A. G., & Papolopuolos, N. G. (2008). Stres, Infections, and Asthma. Current Allergy & Clinical
Imunology , 70-74.

14 JURNAL Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental


Volume 2, No. 1, April 2014
Hubungan Antara Tingkat Stres dengan Frekuensi Kekambuhan pada Wanita Penderita Asma
Usia Dewasa Awal yang Telah Menikah
Sandberg, Paton, & Ahola. (2000). Impact of Stres ob Children's Asthma Attacks. The Role of Acute and
Chronic Stres Attacks in Children , 8-11.

Santrock, J. W. (2002). Life-Span Development : Perkembangan Masa Hidup, Edisi 5, Jilid II. Jakarta:
Erlangga.

Sarafino, E. P. (2008). Health Psychology : Biopsychosocial Interaction. United States of America: Acid
Free-paper.

Siregar, S. (2010). Statistika Deskriptif untuk Penelitian : Dilengkapi Perhitungan Manual dan Aplikasi SPSS
Versi 17. Jakarta : Rajawali Pers.

Soekarno, Inneke T. (2005). Studi Perbedaan Strong Marriage pada Pasangan yang Menikah Muda.
Skripsi. Surabaya. Universitas Airlangga.

Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta.

Sundaru, H. (2008). Apa yang Perlu Diketahui Tentang Asma. [on-line]. Diakses pada tanggal 16 Januari
2 0 1 4 d a r i
http://www.depkes.go.id/index.php?option=articles&task=viewarticle&artid=204&Itemid=3.

Triaryati, N. (2003). Pengaruh Adaptasi Kebijakan Mengenai Work Family Issue Terhadap Absen Dan
Turnover. Jurnal Manajemen & Kewirausahaan, Vol. 5, No. 1, 85 96

JURNAL Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental 15


Volume 2, No. 1, April 2014