Vous êtes sur la page 1sur 10

ISSN2354-7642

JOURNAL NERS
AND MIDWIFERY INDONESIA
Jurnal Ners dan Kebidanan Indonesia

Efektivitas Pelatihan Patient Safety; Komunikasi S-BAR


pada Perawat dalam Menurunkan Kesalahan Pemberian Obat Injeksi
di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II
Fatma Siti Fatimah1, Elsye Maria Rosa2

1, 2
Magister Manajemen Rumah Sakit, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Abstrak
Pelayanan kesehatan yang diberikan di Rumah Sakit beresiko menimbulkan insiden keselamatan pasien
yang merugikan pasien. Insiden yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah kesalahan pemberian obat.
Insiden dapat dicegah, salah satunya dengan memberikan pelatihan perawat tentang patient safety dengan
pendekatan komunikasi S-BAR.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelatihan patient safety; komunikasi S-BAR dalam
menurunkan kesalahan pemberian obat injeksi di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II.
Jenis penelitian ini pre-experiment dengan rancangan one group pretest-posttest design. Responden diambil
dengan teknik purposive sampling, yaitu sebanyak 32 orang perawat yang memenuhi kriteria inklusi. Instrumen
menggunakan lembar observasi prinsip 10 benar pemberian obat injeksi. Uji analisis menggunakan wilcoxon.
Setelah pelatihan patient safety : komunikasi S-BAR pada perawat diberikan ditemukan ada perbedaan
bermakna kesalahan pemberian obat injeksi berdasarkan prinsip benar pasien, rute, obat, waktu, pengkajian,
informasi dan evaluasi (p<0,05), namun tidak ada perbedaan bermakna pada prinsip benar dosis, kadaluarsa
dan dokumentasi (p>0,05). Kesimpulan dan saran: pelatihan patient safety; komunikasi S-BAR pada perawat
efektif menurunkan kesalahan pemberian obat injeksi di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II
berdasarkan prinsip benar pasien, rute, obat, waktu, pengkajian, informasi dan evaluasi. Disarankan Rumah
Sakit untuk memberikan pelatihan secara berkala kepada seluruh petugas kesehatan, mengingat terciptanya
budaya keselamatan pasien adalah tanggung jawab semua pihak di Rumah Sakit. sehingga produktifitas
petugas kesehatan meningkat serta terciptanya budaya patient safety.

Kata Kunci : patient safety,komunikasi S-BAR, kesalahan obat injeksi

Effectiveness Patient Safety Training; SBAR Communication


in Nursing to Reduce of Error Drug Injection Administration
at PKU Muhammadiyah Hospital Unit II Yogyakarta

Abstract
Health services provided in the hospital are likely to cause patient safety incidents which are adverse patient.
The most incidents occurred in Indonesia are errors drug administration. Incidents can be prevented, one of
them by training nurses on patient safety with S-BAR approach communications. The study aimed to determine
the effectiveness of patient safety training; S-BAR communication in reducing injection drug administration
errors in PKU Muhammadiyah Hospital in Yogyakarta Unit II. The type of research pre-experiment with the
design of one group pretest-posttest design. Respondents were taken by purposive sampling technique,
which total of 32 nurses who fulfilled the inclusion criteria. This study used the observation sheet instruments
of 10 true principle of injection drug delivery. Analyzed by Wilcoxon test. After the training of patient safety:
the SBAR communication given to nurses, there were significant differences in injection drug administration
errors based on the principle really patient, route, medicine, time, assessment, information and evaluation
(p <0.05), but no significant differences in principle correct dose, expired and documentation (p> 0.05).
Conclusions and suggestions: patient safety training; SBAR communication on nurses wasc reduced injection
drug administration errors effectively in PKU Muhammadiyah Hospital Unit II Yogyakarta based on the
principle of right of patients, service, medicine, time, assessment, information and evaluation. Suggested

32 Fatimah & Rosa, 2014. JNKI, Vol. 2, No. 1, Tahun 2014, 32-41
Hospital to provide periodic training to all health workers, considering the creation of a patient safety culture
is the responsibility of all parties in the Hospital. Thus increase the productivity of health workers as well as
the creation of a patient safety culture.

Keywords: patient safety, SBAR communication, injection drug administration error

Info Artikel:
Artikel dikirim pada 26 Desember 2013
Artikel diterima pada 02 Januari 2014

Pendahuluan Faktor penyebab IKP menurut Cahyono


adalah kegagalan komunikasi, komunikasi tidak
Menurut DepKes setiap tenaga kesehatan di
efektif akan berdampak 80% menyebabkan kejadian
Rumah Sakit termasuk didalamnya perawat wajib
malpraktek, meningkatkan biaya operasional, biaya
menerapkan keselamatan pasien (Patient safety)
perawatan penyembuhan dan menghambat proses
untuk mencegah insiden keselamatan pasien1. Joint
pemberian asuhan keperawatan3. Hasil penelitian
Commission International (JCI) & Wolrd Health
menyebutkan 50% kejadian medical errors dan
Organitation (WHO)2 melaporkan beberapa negara
sampai 20% kejadian kesalahan pemberian obat
terdapat 70% kejadian kesalahan pengobatan. JCI
disebabkan karena komunikasi tidak efektif 4,5 .
& WHO melaporkan kasus sebanyak 25.000-30.000
Penerapan komunikasi efektif antar perawat dan antar
kecacatan yang permanen pada pasien di Australia
petugas kesehatan menjadi salah satu cara yang
11% disebabkan karena kegagalan komunikasi2.
terbukti efektif meningkatkan keselamatan pasien di
WHO menyebutkan pemberian injeksi yang tidak
Rumah Sakit didukung Peraturan Menteri Kesehatan
aman yaitu pemberian injeksi tanpa alat yang steril,
(Permenkes)6,3.
berkontribusi 40% di seluruh dunia, diprediksikan
Tujuan dilakukan komunikasi efektif dibutuhkan
1,5 juta kematian di USA setiap tahun disebabkan
oleh tenaga kesehatan serta pasien pada umumnya
pemberian injeksi yang tidak aman atau insiden
sehingga, perawatan yang paripurna pada pasien
keselamatan pasien (IKP). DepKes1 melaporkan
dapat tercapai kemudian akan meningkatkan
insiden keselamatan pasien paling banyak terjadi di
keselamatan pasien3. Didukung penelitian Dewi yang
indonesia adalah kesalahan pemberian obat2.
menyebutkan kegiatan timbang terima perawat dengan
Kesalahan pemberian obat di Indonesia tidak
menerapkan komunikasi efektif yaitu S-BAR (Situation,
jarang menjadi tuntutan hukum1. Data di Rumah Sakit
Background, Assessment and Recommendation)
PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II dimana IKP
saja, akan meningkatkan identifikasi kebutuhan
paling banyak adalah kesalahan pemberian obat.
pasien serta meningkatkan keamanan pasien salah
Survei tanggal 1 Juli 2013 didapat data IKP paling
satunya peningkatan keamanan pemberian obat
banyak dilaporkan adalah kesalahan pemberian obat
sehingga akan menurunkan kesalahan pemberian
dibanding dengan IKP lain, tahun 2012 ada 2 insiden
obat.
kesalahan pemberian obat oleh perawat di ruang
Kesalahan pemberian obat dapat terjadi
rawat inap, 1 insiden di laboratorium salah pemberian
jika petugas kesehatan termasuk perawat tidak
label. Data tahun 2013 bulan Januari sampai Juni
menerapkan prinsip benar dalam pemberian obat.
juga didapatkan laporan terbanyak IKP yaitu 2
Menurut Tambayong8; Berman et al8; Potter & Perry9
insiden kesalahan pemberian obat di ruang rawat
pemberian obat ada prinsip 10 benar yaitu obat,
inap, masing-masing 1 kasus insiden pasien jatuh,
dosis, pasien, rute, waktu, informasi, kadaluarsa,
kejadian nyaris cidera (KNC) salah transfusi darah
pengkajian, evaluasi dan dokumentasi. Banyak
pada pasien dan salah aff infus. Hal ini menunjukkan
faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang dalam
masih tingginya IKP terutama kesalahan pemberian
menerapkan prinsip benar ini untuk meningkatkan
obat injeksi, dimana seharusnya kesalahan pemberian
keselamatan pasien.
obat tidak boleh terjadi.
Upaya untuk menurunkan IKP kesalahan
Sistem pelaporan di Rumah Sakit PKU
pemberian obat injeksi dapat dilakukan dengan
Muhammadiyah Yogyakarta Unit II sudah baik namun,
pelatihan patient safety; komunikasi efektif S-BAR
berdasarkan informasi dari manajer keperawatan di
pada perawat mengingat, berdasarkan survei
Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit
pendahuluan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah
II belum pernah memberikan pelatihan terkait patient
Yogyakarta Unit II belum pernah diberikan pelatihan
safety ataupun sejenis latihan lain pada perawat untuk
ini. Melatih seseorang sehingga diharapkan akan
meningkatkan keselamatan pasien.

Efektivitas Pelatihan Patient Safety; Komunikasi S-BAR Pada Perawat dalam Menurunkan Kesalahan Pemberian Obat Injeksi 33
meningkatkan seseorang dalam melaksanakan Yogyakarta Unit II, pendidikan DIII Keperawatan
tindakan sesuai dengan standar prosedur operasional dan S1 Keperawatan serta bersedia berpartisipasi
(SPO), sehingga memperlancar asuhan keperawatan dalam penelitian ini. Kriteria ekslusi yaitu perawat
dan meningkatkan patient safety. pelaksana yang sedang cuti, perawat yang mengikuti
Sejalan dengan penelitian Dewi yang pendidikan lanjutan yang meninggalkan tugasnya
menunjukkan hasil signifikan dengan pelatihan timbang dirumah sakit.
terima dan komunikasi S-BAR maka berpengaruh Variable independent: Pelatihan Patient
juga terhadap penerapan keselamatan pasien safety : komunikasi S-BAR dan variable dependent:
termasuk pemberian obat7. DepKes1 menekankan Kesalahan pemberian obat injeksi. Pelatihan safety :
komunikasi efektif merupakan kunci bagi setiap staf komunikasi S-BAR adalah suatu proses sistematika
menuju keselamatan pasien di Rumah Sakit. pemberian materi pada perawat ruang rawat inap
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan tentang keselamatan pasien dengan pendekatan
di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian komunikasi efektif S-BAR di Rumah Sakit PKU
dengan judul penelitian efektivitas pelatihan patient Muhammadiyah Yogyakarta Unit II, materi diberikan
safety : komunikasi S-BAR pada perawat dalam selama 120 menit . Dilanjutkan role play selama 120
menurunkan kesalahan pemberian obat injeksi di menit. Kesalahan pemberian obat injeksi adalah
Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit Kegiatan perawat dalam melaksanakan tugas
II. memastikan pemberian obat injeksi pada pasien
Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk yang tidak menerapkan prinsip 10 benar yaitu
mengetahui efektivitas pelatihan patient safety : benar pasien, rute atau jalur, obat, dosis, waktu,
komunikasi S-BAR pada perawat dalam menurunkan pengkajian, informasi, kadaluarsa, efek samping dan
kesalahan pemberian obat injeksi di Rumah Sakit dokumentasi, cara pengukuran dengan menggunakan
PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II. Sedangkan lembar observasi yang berisi 24 pernyataan dengan
tujuan khususnya yaitu: jawaban ya dan tidak, skala data yang digunakan
1. Mengetahui jumlah kesalahan pemberian obat adalah nominal.
injeksi di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Instrumen karakteristik perawat, meliputi
Yogyakarta Unit II sebelum dilakukan pelatihan antara lain: Nama, Jenis kelamin, usia, pendidikan
patient safety: komunikasi S-BAR. dan lama bekerja perawat. Instrumen penelitian
2. Mengetahui jumlah kesalahan pemberian obat tentang kesalahan pemberian obat injeksi diukur
injeksi di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah menggunakan lembar observasi berdasarkan
Yogyakarta Unit II setelah dilakukan pelatihan kriteria standar pelaksanaan pemberian obat yang
patient safety: komunikasi S-BAR. dikembangkan dari prinsip 10 benar pemberian
3. Mengetahui efektifitas pelatihan patient safety: obat menurut Tambayong8; Berman et ali9; Potter
komunikasi S-BAR dalam menurunkan kesalahan & Perry10 tentang indikator kesalahan pemberian
pemberian obat injeksi di Rumah Sakit PKU obat dan penelitian Yani13 antara lain; benar pasien,
Muhammadiyah Yogyakarta Unit II. benar rute atau jalur, benar obat, benar dosis, Benar
waktu, Benar pengkajian, benar informasi, Benar
Bahan dan metode Kadaluarsa, benar evaluasi dan Benar dokumentasi
yang terdiri dari 24 pernyataan antara lain;
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, a) Benar pasien: perawat menanyakan identitas
N o t o a t m o d j o 11 m e n y e b u t k a n p e n e l i t i a n i n i pasien sebelum pemberian obat, memastikan
menggunakan preexperimental designs, dengan pemberian obat dengan melihat geang identifikasi
desain penelitian one group pre test-post test. dan menyimpan obat pasien di kotak penyimpanan
Desain preexperimental ini hanya dilakukan pada obat dan diberi nama pasien.
satu kelompok yaitu kelompok eksperimen. Sampel b) Benar rute atau jalur: perawat memberikan obat
penelitian ini adalah perawat pelaksana di ruang sesuai dengan instruksi dokter dan memastikan
rawat inap Rumah Sakit PKU Muhammadiyah rute obat pada label obat.
Yogyakarta Unit II serta memenuhi kriteria inklusi dan c) Benar obat: perawat memastikan nama obat pada
ekslusi ang berjumlah 32 perawat, karena menurut label, memastikan nama obat sesuai dengan buku
Dempsey & Dempsey12 sampel berjumlah 30 orang injeksi atau rekam medis pasien dan memberikan
dianggap mewakili keakuratan populasi untuk riset obat dengan menggunakan label obat.
eksperimental7. Kriteria inklusi dan eksklusi penelitian d) Benar dosis: perawat menyiapkan dosis obat
ini adalah kriteria inklusi : perawat pelaksana di sesuai dengan rekam medis dan memberikan
ruang rawat inap Rumah Sakit PKU Muhammadiyah obat sesuai dengan dosis

34 Fatimah & Rosa, 2014. JNKI, Vol. 2, No. 1, Tahun 2014, 32-41
e) Benar waktu: perawat memberikan obat pada b. Uji Validitas dan Reabilitas
pasien tepat waktu sesuai order dokter dan Instrumen penelitian ini disusun dari Tambayong8;
memberikan obat sesuai jadwal atau paling tidak Berman et al 9; The Joint Commission, Potter &
30 menit sebelum dan 30 menit sesudah jadwal Perry10; serta penelitian Yani13 sehingga peneliti tidak
ditetapkan. melakukan uji validitas dan reabilitas. Peneliti tidak
f) Benar pengkajian: perawat melakukan pengkajian melakukan uji normalitas karena skala data penelitian
terkait diagnosis klien. ini adalah nominal serta hanya menggunakan satu
g) Benar informasi: perawat memberikan informasi kelompok yaitu kelompok intervensi.
terkait nama obat, menjelaskan cara pemberian
obat dan menjelaskan fungsi atau kerja obat. c. Analisis Univariat
h) Benar kadaluarsa: perawat memastikan tanggal Tabel 1. Gambaran distribusi frekuensi karakteristik
kadaluarsa obat dan memberikan obat pada responden
pasien yang belum kadaluarsa.
Karakteristik responden n %
i) Benar efek samping atau evaluasi: perawat
1. Usia
melakukan evaluasi pasien setelah selesai <25 tahun 14 43,8
pemberian obat dan memantau reaksi pasien 25-35 tahun 18 56,2
terhadap pemberian obat. 2. Jenis kelamin
j) Benar dokumentasi: perawat mencatat pemberian Laki-laki 3 9,3
obat dalam rekam medis sesudah obat diberikan, Perempuan 29 90,7
mencatat waktu pemberian obat, mencatat rute 3. Lama bekerja
< 1 tahun 22 68,8
pemberian obat dan memberikan paraf atau nama
1-5 tahun 10 31,2
terang setelah pemberian obat. 4. Pendidikan
D3 27 84,4
Analisa data yang digunakan yaitu wilcoxon Ners 5 15,6
untuk mengetahui perbedaan kesalahan pemberian Total 32 100
obat injeksi sebelum dan sesudah pelatihan patient Sumber : Data Primer
safety : komunikasi S-BAR. Hasil dinyatakan bermakna
jika P<0,05 dan tidak bermakna jika P>0,05. Etika Gambar 1 menunjukkan nilai sebelum intervensi
penelitian yang dilakukan peneliti antara lain: Meminta paling banyak perawat melakukan kesalahan
surat izin penelitian ke Program Studi Magister pemberian obat berdasarkan prinsip benar yang
Manajemen Rumah Sakit Program Pascasarjana, termasuk dalam kategori buruk dimana kesalahan
kemudian ke pejabat tempat penelitian. Informed yang dilakukan >50% yaitu dokumentasi 100%,
consent, Confidentiality, Anonimity dan Justice. evaluasi 87,5%, pengkajian 71,9%, pasien 59,4% dan
informasi 53,1%. Setelah pelatihan diberikan yang
Hasil dan Pembahasan melakukan kesalahan dalam kategori buruk yaitu
dokumentasi 100% dan evaluasi 53,1%.
Hasil Penelitian
a. Pelatihan Patient Safety dan komunikasi S-BAR
Pelatihan dilakukan di Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Yogyakarta Unit II, pada 13 September
2013 sampai 14 September 2013 pukul 08.30 WIB
sampai 15.00. Peserta pelatihan adalah perawat
dan bidan di ruang rawat inap Rumah Sakit PKU
Muhammadiyah Yogyakarta Unit II sebanyak 65
perawat dan bidan. Meskipun demikian responden
penelitian penelitian ini hanya 32 responden perawat.
pelatihan terdiri dari 2 kegiatan yaitu penyampaian Keterangan:
materi dan role play. Materi pelatihan terdiri dari patient 1. Pasien 6. Pengkajian
2. Rute 7. Informasi
safety kemudian, komunikasi S-BAR pukul 08.30 WIB
3. Obat 8. Kadaluarsa
sampai 11.30 WIB. Selanjutnya role play waktunya 4. Dosis 9. Evaluasi
pukul 13.00 WIB 15.00 WIB, saat role play Peserta 5. Waktu 10. Dokumentasi
dibagi 3 kelompok kemudian, secara berkelompok
mempraktekkan komunikasi S-BAR antara dokter dan Gambar1. Kesalahan pemberian obat sebelum dan
pada saat operan jaga atau hand over. sesudah pelatihan (n:32)

Efektivitas Pelatihan Patient Safety; Komunikasi S-BAR Pada Perawat dalam Menurunkan Kesalahan Pemberian Obat Injeksi 35
d. Analisa bivariat Menurut potter and Perry10 salah satu langkah
dalam memberikan obat adalah dengan cara
Tabel 2. perbedaan angka kesalahan pemberian obat memastikan identitas pasien dengan memeriksa
injeksi berdasarkan prinsip 10 benar (gelang identitas, papan identitas di tempat tidur)8.
No. Pre test-Post test n Z Sig. Teori yang mendukung hasil ini adalah teori kongnitif
1 Benar pasien 32 -2,714 0,007 yang di kembangkan Reason, Ramsmussen dan
2 Benar rute 32 -2,000 0,046 jense 3 dan model perubahan yang didasari oleh
3 Benar obat 32 -2,828 0,005 konsep kognitif. Model perubahan ini menyebutkan
4 Benar dosis 32 -1,414 0,157 proses terjadinya pengambilan keputusan terjadi
5 Benar waktu 32 -2,499 0,014 dalam 3 dasar yaitu skill based level (didasari
6 Benar pengkajian 32 -4,000 0,000 ketrampilan) terjadi secara spontan tanpa proses
7 Benar informasi 32 -2,121 0,034 berfikir, rule based level (didasari peraturan) yang
8 Benar kadaluarsa 32 -1,000 0,317 terjadi secara rutinitas yang tersimpan sebagai memori
9 Benar evaluasi 32 -3,317 0,001
dan konwladge based level (didasari pengetahuan)
10 Benar dokumentasi 32 0,000 1,000
terjadi pengambilan keputusan berdasarkan informasi
Sumber: Data primer dan pengetahuan.
Penelitian sebelumnya Yulia menyebutkan
Tabel 2. Setelah uji wilcoxon menunjukkan pelatihan keselamatan pasien pada perawat
terdapat perbedaan bermakna sebelum dan sesudah dapat meningkatkan pemahaman dan penerapan
pelatihan patient safety: komunikasi S-BAR pada keselamatan pasien, dimana hasilnya perbedaan
perawat dalam menerapkan prinsip benar pasien, bermakna pada kelompok intervensi sebelum dan
benar rute, benar obaat, benar waktu, benar sesudah pelatihan P=0,000 (P<0,05) 14.
pengkajian, benar informasi, benar evaluasi dengan
nilai signifikansi P<0,05. Tidak ada perbedaan yang 2. Benar rute atau jalur
bermakna sebelum dan sesudah intervensi pelatihan Hasil observasi menunjukkan sebelum pelatihan
patient safety: komunikasi S-BAR pada perawat sebanyak 18,8% perawat ruang rawat inap di PKU
dalam menerapkan prinsip benar dosis, benar Muhammadiyah Yogyakarta Unit II melakukan
kadaluarsa dan benar dokumentasi dengan nilai kesalahan benar rute kemudian menjadi 6,2%
signifikansi P>0,05. perawat yang salah. Hasil analisis menunjukkan ada
perbedaan bermakna sebelum dan sesudah pelatihan
Pembahasan dengan nilai signifikansi 0,046 (P<0,05).
Perawat telah menerapkan prinsip benar rute ini
1. Benar pasien
dengan baik karena kesalahan <50% baik sebelum
Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta
dan sesudah pelatihan. Perawat memastikan rute
Unit II merupakan rumah sakit yang menerapkan
pemberian obat dengan melihat label yang ada
prinsip 5 benar dalam pemberian obat antara lain:
dalam label obat serta memastikan instruksi dokter
benar obat, benar dosis, benar pasien, benar
di rekam medis.
waktu dan benar cara. Sedangkan dalam penelitian
Penting diperhatikan benar jalur dengan cara,
ini peneliti menggunakan prinsip 10 benar. Hasil
melakukan persiapan yang benar terlebih dahulu,
analisis menunjukkan ada perbedaan bermakna
karena dampak akibat yang mungkin ditimbulkan
antara sebelum dan sesudah pelatihan dengan nilai
akibat keselahan jalur tejadi efek secara sistemik.
signifikansi 0,007 (P<0,05).
Perawat dalam menerapkan prinsip benar rute
Persentase penerapan prinsip benar pasien di
diharapkan selalu berkonsultasi pada pemberi resep
ruang rawat inap Rumah Sakit PKU Muhammadiyah
jika tidak ada petunjuk rute pemberian obat. Pada
Yogyakarta Unit II sebelum pelatihan adalah
pemberian injeksi perawat harus yakin pemberian
dalam kategori buruk, kesalahan perawat >50%,
obat dilakukan dengan cara injeksi (Institude for
setelah pelatihan menjadi kategori baik yaitu <50%.
Safety Medication Practise (ISMP)10.
Dalam pelaksanaan masih ada perawat yang tidak
penelitian sebelumya Fitria yang menunjukkan
mencocokkan nama pasien dengan gelang identitas
dengan pelatihan komunikasi S-BAR maka motivasi
klien. Hanya saja perawat telah melakukan klarifikasi
dan psikomotor perawat meningkat15. Dewi (2012)
nama pasien dengan menanyakan pada pasien atau
menyebutkan setelah dilakukan pelatihan tentang
anggota keluarga dicocokkan dengan nama dilabel
operan jaga dan komunikasi S-BAR maka penerapan
obat serta perawat sudah menyimpan obat pasien
patient safety semakin baik. Sehingga secara tidak
sesuai nama identitas pasien atau nomor kamar
langsung pelatihan yang diberikan pada perawat
pasien.

36 Fatimah & Rosa, 2014. JNKI, Vol. 2, No. 1, Tahun 2014, 32-41
hasilnya akan meningkatkan keselamatan pasien di informasi yang diberikan pada saat pelatihan
Rumah Sakit. dilakukan. Informasi yang diterima akan direkam
perawat sehingga, sehingga motivasi perawat akan
3. Benar obat meningkat seiring bertambahnya informasi atau
Hasil penelitian menunjukkan 31,2% perawat pengetahuan dan akan memdorong perawat untuk
salah melaksanakaan benar obat sebelum pelatihan melakukan kegiatan berdasarkan informasi yang
dan sesudah pelatihan menjadi 6,2%. Berarti diperoleh. Didukung Iqbal & Simanjuntak yang
pelaksanaan pemberian obat injeksi yang dilakukan menyebutkan manfaat pelatihan sebagai investasi
perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit PKU jangka panjang bagi perusahaan termasuk Rumah
Muhammadiyah Yogyakarta Unit II sudah baik. Hasil Sakit dapat diukur dari perubahan kemampuan dan
analisis ada perbedaan bermakna antara sebelum perilaku karyawan selain itu dapat mempengaruhi
dan sesudah pelatihan dengan nilai signifikansi 0,005 kinerja perusahaan ke arah yang lebih baik17.
(P<0,05).
Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta 4. Benar dosis
Unit II juga menggunakan prinsip benar obat ini, Hasil observasi menunjukkan 6,2% perawat
dapat dilihat dari perawat telah menerapkan prinsip salah menerapkan benar rute sebelum dilakukan
benar obat ini dengan baik karena, kesalahan <50% pelatihan, kemudian berubah 0% perawat yang salah
baik sebelum dan sesudah pelatihan. Pelaksanaan atau 100%. Hasil analisis menunjukkan tidak ada
pemberian obat berdasarkan benar obat di ruang perbedaan bermakna sebelum dan sesudah pelatihan
rawat inap telah memastikan nama obat dengan label dengan nilai signifikansi 0,157 (P>0,05).
obat, memastikan nama obat sesuai dengan rekam Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta
medis atau buku injeksi dan telah mengunakan label Unit II menggunakan prinsip benar dosis ini,
obat pada spuit yang akan digunakan untuk injeksi. dapat dilihat dari perawat telah menerapkan
Hanya saja, antara perawat yang menyiapkan obat prinsip benar obat ini dengan baik sebelum dan
dan yang akan memberikan terkadang berbeda sesudah pelatihan. Pelaksanaan pemberian obat
sehingga beresiko jika terjadi kesalahan. Namun hal berdasarkan benar dosis di ruang rawat inap
tersebut dapat diatasi dengn cara setiap perawat akan perawat telah menyiapkan obat sesuai dosis di
memberikan obat terlebih dahulu memastikan nama rekam medis atau order dari dokter dan perawat
obat sesuai dengan order dokter. memberikan obat sudah sesuai dengan dosis yang
Prinsip benar obat sangat penting dilakukan seharusnya pasien dapatkan.
The Joint Commission (TJC) 10 menyebutkan hal Hasil observasi menunjukkan kesalahan yang
yang diperhatikan dari prinsip benar obat antara dilakukan perawat pada saat memberikan obat
lain: meyakinkan informasi pengobatan kapanpun injeksi bukan disengaja karena perawat melakukan
terhadap obat baru atau obat yang diresepkan, kesalahan. Hanya saja saat obat diberikan infus pasien
maksudnya ketika perawat tidak yakin nama obat macet sehingga, setelah obat diberikan perawat harus
pasien maka perawat harus mengklarifikasi pada membongkar infus untuk membersihkan sumbatan
dokter pemberi resep. jika memberikan obat kepada infus. Prinsip benar dosis ini penting mengingat
pasien perawat harus periksa kembali label pada saat efek obat yang akan didapat pasien tergantng benar
memberikan obat dan memastikan seluruh obat yang atau sesuai dosis yang dibutuhkan, karena setiap
diberikan pada pasien sesuai dengan catatan rekam pasien berbeda beda. Sebelum memberikan obat
medis pasien atau buku injeksi. perawat harus memastikan dosisnya, jika ada yang
didukung penelitian dewi7 dan Fitria15 setelah meragukan perawat harus berkonsultasi dengan
pelatihan pada perawat maka motivasi, psikomotor dokter pemberi resep atau dengan apoteker8. Peneliti
dan keselamatan pasien meningkat. Hal ini juga dapat menarik kesimpulan bahwa di Rumah Sakit
didukung oleh proses dari pelatihan itu sendiri. PKU Muhammadiyah Yogyakarta secara statistik
merupakan bagian proses pendidikan yang bertujuan tidak signifikan. Namun, perawat telah melakukan
meningkatkan kemampuan dan ketrampilan dengan sangat baik.
khusus. Pelatihan menekankan pada kemampuan 5. Benar waktu
melaksanakan tugas yang seharusnya dikerjakan (job Hasil penelitian menunjukkan pelaksanaan
orientation), pada umumnya pelatihan menekankan pemberian obat injeksi yang dilakukan perawat di
pada kemampuan psikomotor, meskipun demikian ruang rawat inap Rumah Sakit PKU Muhammadiyah
tetap didasari pengetahuan dan sikap16. Yogyakarta Unit II sudah baik dimana 96,9% sudah
Peneliti berpendapat bahwa perubahan yang melaksanakan benar waktu setelah pelatihan
terjadi pada perawat karena ada proses transfer dilakukan. Hasil analisis menunjukkan ada perbedaan

Efektivitas Pelatihan Patient Safety; Komunikasi S-BAR Pada Perawat dalam Menurunkan Kesalahan Pemberian Obat Injeksi 37
bermakna kesalahan pemberian obat berdasarkan 7. Benar informasi
prinsip benar waktu antara sebelum dan sesudah Hasil observasi menunjukkan, sebelum
pelatihan dengan nilai signifikansi 0,014 (P<0,05). pelatihan 53,1% perawat salah menerapkan benar
Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta informasi kemudian, menjadi 34,4% setelah pelatihan.
Unit II juga menggunakan prinsip benar waktu, dapat Hasil analisis menunjukkan ada perbedaan bermakna
dilihat dari perawat telah menerapkan prinsip benar sebelum dan sesudah pelatihan dengan nilai
waktu ini dengan baik karena, kesalahan <50%. signifikansi 0,034 (P<0,05).
Pelaksanaan pemberian obat berdasarkan benar waktu Pelaksanaan pemberian obat berdasarkan
antara lain: ada perawat yang memberikan obat tidak benar informasi sebelum pelatihan antara lain:
tepat waktu lebih 30 menit atau 1 jam sebelum waktunya banyak perawat yang memberikan obat tidak
diberikan namun, untuk sihf pagi waktu pemberian obat menyebutkan nama obat dan fungsi dari obat. Untuk
tepat sesuai jadwal pemberian obat. cara memberikan perawat selalu memberitahu
Perawat harus mengetahui jadwal pemberian pasien yaitu paling sering dengan mengatakan
obat dalam setiap hari. Sebagai contoh, perawat disuntik.
dapat memberikan antibiotik sesuai jadwal yang benar Setelah pelatihan diberikan pelaksanaan
untuk mempertahankan efek teraupetik dalam darah, pemberian obat injeksi berdasarkan benar informasi
rentang waktu pemberian obat dilakukan dalam 60 berubah menjadi kategori baik dimana kesalahan
menit sesuai jadwal atau 30 menit sebelum atau 30 yang dilakukan responden penelitian yaitu perawat
menit setelah jadwal pemberian obat (Institude for <50%. Pelaksanaan prinsip benar informasi setelah
Safety Medication Practise (ISMP)10. dilakukan pelatihan antara lain perawat banyak
Umar18 menyebutkan pentingnya dilakukan yang sudah menyebutkan nama obat, fungsi dari
pelatihan pada karyawan adalah untuk menjamin obat dan cara rute obat perawat selalu memberitahu
stabilitas karyawan sehingga karyawan lebih pasien. Meskipun belum dilakukan 100% karena
meningkatkan produktivitas kerjanya. dari hasil observasi masih ada perawat yang tidak
menyebutkan nama obat.
6. Benar pengkajian Pada saat pelatihan dilakukan, perawat terlihat
Hasil analisis menunjukkan ada perbedaan antusias berpartisipasi dimana perawat ada yang
bermakna antara sebelum dan sesudah pelatihan memberikan pernyataan terkait kejadian yang
dengan nilai signifikansi 0,000 (P<0,05). Berdasarkan menyangkut patient safety dan pertanyaan tentang
benar pengkajian di ruang rawat inap Rumah Sakit penerapan komunikasi kepada pasien atau keluarga
PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II sebelum pasien.
pelatihan adalah dalam kategori buruk >50% perawat Menurut Hariandjo & Ladiwati 19 prinsip
melakukan kesalahan. Setelah pelatihan menjadi belajar dalam pelatihan yang dianggap penting
<50%. Meskipun demikian namun dalam menerapkan dan efektif menggunakan prinsip sebagai berikut:
prinsip benar pengkajian, masih ada perawat yang Participation, Relevance, Transference dan
langsung memberikan obat tanpa melakukan Feedback. Dalam pelatihan keterlibatan peserta
pengkajian terlebih dahulu, terkait dengan keluhan dalam kegiatan pelatihan secara aktif dan langsung
yang dirasakan pasien. sangat mempengarui keberhasilan pelatihan, sama
Berdasarkan observasi pengkajian lengkap halnya dalam penelitian ini, partisipasi responden
dilakukan pada saat pasien baru masuk ke ruang rawat penelitian, dapat meningkatkan pemahaman yang
inap atau pada pasien baru. Menurut Tambayong8 lebih baik dan sulit dilupakan. Peneliti menggambil
perawat harus melakukan pengkajian secara kesimpulan dengan pelatihan patient safety dan
menyeluruh (head to toe), kemudian menentukan komunikasi S-BAR yang diberikan pada perawat
diagnosa keperawatan yang terkait dengan masalah dapat menurunkan kesalahan pemberian obat injeksi
kesehatan, kemudian menentukan terapi yang dalam menerapkan prinsip benar informasi.
akan diberikan. Keberhasilan terapi tergantung 8. Benar kadaluarsa
dari kebenaran masalah yang diperoleh dari data Hasil menunjukkan 12,5% perawat salah
pengkajian. menerapkan benar kadaluarsa sebelum pelatihan,
Didukung penelitian sebelumnya yang dilakukan kemudian menjadi 9,4% setelah pelatihan. Hasil
Dewi dan Fitria15 dengan pelatihan maka penerapan
7
analisis menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna
patient safety akan meningkat sehingga, secara tidak sebelum dan sesudah pelatihan dengan nilai
langsung pemberian obat akan semakin baik karena signifikansi 0,317 (P>0,05).
termasuk dalam sasaran keselamatan pasien di Berdasarkan hasil persentase penerapan
rumah sakit yakni keamanan pemberian obat. prinsip benar kadaluarsa di ruang rawat inap Rumah

38 Fatimah & Rosa, 2014. JNKI, Vol. 2, No. 1, Tahun 2014, 32-41
Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II Menurut peneliti masih ada kesalahan karena,
sebelum dan sesudah dilakukan pelatihan adalah faktor padatnya kegiatan perawat setelah jadwal
dalam kategori baik dimana kesalahan perawat <50%. pemberian obat seperti: mengantar pasien operasi,
Meskipun demikian, dalam pelaksanaan masih ada menjemput pasien operasi, menyiapkan kamar untuk
perawat yang tidak memeriksa tanggal kadaluarsa pasien baru atau menyiapkan persiapan pasien
obat walaupun persentasenya sedikit. pulang. Menyebabkan kegiatan evaluasi tidak dapat
Benar expired pada prinsipnya, perawat harus dilakukan langsung atau paling tidak 30 menit setelah
memperhatikan tanggal kadaluarsa obat kemudian, obat diberikan hanya saja, perawat tetap melakukan
perubahan warna, perubahan bentuk10. Meninggat, evaluasi meskipun waktunya disesuaikan dengan
Efek berbahaya dari obat kadaluwarsa salah satunya kegiatan yang ada di ruang perawatan.
efek terhadap tubuh manusia. Perubahan yang terjadi
ada hambatanya. Dimana, perawat merasa tugas 10. Benar dokumentasi
untuk mengecek tanggal kadaluarsa telah dilakukan Hasil menunjukkan 100% perawat salah
oleh apoteker. Namun, harus diingat skreaning obat melaksanakaan prinsip benar dokumentasi sebelum
harus tetap dilakukan sampai obat diterima pasien dan sesudah pelatihan. Hasil analisis tidak ada
termasuk pemeriksaan expired obat. perbedaan bermakna sebelum dan sesudah pelatihan
Peneliti menggambil kesimpulan, pelatihan dengan nilai signifikansi 1,000 (P>0,05).
patient safety dan komunikasi S-BAR tidak efektif Sistem dokumentasi yang dilakukan perawat
menurunkan kesalahan pemberian obat injeksi untuk pengobatan yang diperoleh pasien telah berjalan
dengan prinsip benar evaluasi. Namun, Rumah meskipun belum lengkap. Dalam dokumentasi setelah
Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II sudah perawat memberikan obat pasien perawat langsung
melaksanakan benar kadaluarsa obat dengan sangat memdokumentasikan dalam buku injeksi dan jarang
baik. yang langsung ke rekam medis pasien. Ada perawat
yang mendokumentasikan pemberian obat sebelum
9. Benar evaluasi obat diberikan pada pasien.
Hasil menunjukkan 87,5% perawat salah Rekam medis telah ada catatan waktu, rute,
melaksanakaan prinsip benar evaluasi sebelum dengan sangat jelas. Namun, dalam melakukan
pelatihan dan menjadi 53,1% sesudah pelatihan. dokumentasi terkadang bukan perawat yang
Hasil analisis menunjukkan ada perbedaan bermakna melakukan tindakan melainkan didokumentasikan oleh
antara sebelum dan sesudah pelatihan dengan nilai perawat lainnya. Lebih banyak lembar dokumentasi
signifikansi 0,001 (P<0,05). yang tidak diberi paraf meskipun ada paraf yang
Sebelum pelatihan pelaksanaan pemberian melakukan paraf terkadang bukan perawat yang
obat injeksi berdasarkan prinsip benar evaluasi di bersangkutan. Tambayang8 menjelaskan setelah obat
ruang rawat inap Rumah Sakit PKU Muhammadiyah diberikan kepada pasien perawat yang bersangkutan
Yogyakarta dikatakan buruk karena kesalahan segera menulis dosis, rute,waktu dan paraf atau
>50%. Hal ini memberitahukan bahwa perawat tidak nama terang.
melakukan evaluasi secara benar, perawat banyak Kegiatan perawat dalam dokumentasi seperti
yang tidak mengevaluasi pemberian obat efek diturunkan dari perawat lama ke perawat baru dalam
samping yang ditimbulkan dari obat yang diberikan. hal siklus cara pendokumentasian. Robbins dan
Setelah pelatihan maka diperoleh perbedaan Judge20 menyebutkan ada korelasi positif antara
dimana perawat telah melaksanakann benar evaluasi masa kerja dengan pegalaman kerja perawat, karena
meskipun memang masih dikategorikan buruk >50% responden dalam penelitian ini mayoritas adalah
perawat melakukan kesalahan. Perawat masih pegawai baru maka semua intervensi yang akan
banyak juga yang tidak mengevaluasi efek samping diberikan akan banyak belajar atau dipengaruhi oleh
pemberian obat setelah obat diberikan. rekan kerja yang lebih lama masa bekerjanya.
Evaluasi penting dilakukan oleh perawat Dokumentasi pemberian obat sesuai standar
setelah pemberian obat, evaluasi terhadap efek Medical administration record (MAR) yang harus
pemberian obat biasanya 30 menit setelah pemberian dilakukan: menulis nama lengkap pasien, waktu
obat perawat kembali lagi ke kamar pasien untuk pemberian, dosis obat yang dibutuhkan, cara pemberian
mengevaluasi efek pemberian obat. Perawat harus obat frekuensi, respon pasien setelah pemberian obat
mengetahui efek samping obat sehingga, perawat dan jika ada efek obat maka harus didokumentasikan
dapat menentukan asuhan keperawatan kepada waktu, tanggal dan nama petugas yang memberikan
pasien kemudian, jika efek samping obat muncul dan yang menulis resep dalam catatan rekam medik
dapat diminimalkan8,10,20. pasien8 dan Institude for Safety Medication Practise

Efektivitas Pelatihan Patient Safety; Komunikasi S-BAR Pada Perawat dalam Menurunkan Kesalahan Pemberian Obat Injeksi 39
(ISMP)10,20. Peneliti mengambil kesimpulan pelatihan hand-overs. Diakses pada tanggal 22 Mei 2013.
patient safety dan komunikasi S-BAR tidak efektif Dari: http://www.who.int/patientsafety/solutions/
menurunkan kesalahan pemberian obat injeksi patientsafety/PS-Solution3.pdf.
berdasarkan prinsip benar dokumentasi. 3. Cahyono. 2008. Membangun budaya keselamatan
pasien dalam praktek kedokteran. Yogyakarta:
Simpulan dan Saran Kanisius.
4. Carolyn, M. & Clancy, M.D. 2006. Medication
Simpulan reconciliation: progress realized, challenges
1. J u m l a h p e r s e n t a s e k e j a d i a n k e s a l a h a n ahead. Diakses pada tanggal 22 Mei 2013. Dari:
pemberian obat injeksi sebelum pelatihan patient www.psqh.com/julaug06/ahrq.html.
safety: komunikasi S-BAR di Rumah Sakit PKU 5. Muhajirin, Fuad, A & Hasanbasri, M 2007.
Muhammadiyah Yogyakarta Unit II, berdasarkan Komunikasi anatar shif di instalasi rawat ianap
kesalahan penerapan prinsip 10 benar yaitu RSUD dr. H. M. Rabain Kabupaten Muara Enim
pasien 59,4%, rute 18,8%, obat 6,2%, dosis Provinsi Sumatera Selatan. direkomendasi oleh
6,2%, waktu 21,9%, pengkajian 71,9%, informasi Distant Learning Resauce Center Magister KMPK
53,1%, kadaluarsa 12,5%, evaluasi 87,5% dan UGM. Diakses pada tanggal 8 Februari 2013.
dokumentasi 100%. Dari: http://lrc-kmpk.ugm.ac.id.
2. Jumlah persentase kejadian kesalahan pemberian 6. Peraturan Mentri Kesehatan Republik Indonesia
obat injeksi setelah pelatihan patient safety (Permenkes) . (2011). Keselamatan Pasien
: komunikasi S-BAR di Rumah Sakit PKU Rumah Sakit. Diakses pada tanggal 5 Mei 2013.
Muhammadiyah Yogyakarta Unit II, berdasarkan dari: http://www.hukor.depkes.go.id/up_prod_
kesalahan penerapan prinsip 10 benar yaitu permenkes/PMK%20No.%201691%20ttg%20
pasien 31,2%, rute 6,2%, obat 6,2%, waktu 3,1%, Keselamatan%20Pasien%20Rumah%20Sakit.
pengkajian 21,9%, informasi 34,4%, kadaluarsa pdf.
9,4%, evaluasi 53,1% dan dokumentasi 100%. 7. Dewi, M. 2012. Pengaruh pelatihan timbang
3. Adanya efektifitas pelatihan patient safety : terima pasien terhadap penerapan keselamatan
komunikasi S-BAR pada perawat di Rumah Sakit pasien oleh perawat pelaksana di RSUD Raden
PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II dalam Mattaher Jambi. Jurnal Health & Sport, Vol. 5,
menurunkan kesalahan pemberian obat injeksi No. 3.
berdasarkan prinsip benar pasien, rute, obat, 8. Tambayong, J. 2005. Farmakologi untuk
waktu, pengkajian, informasi dan evaluasi. keperawatan.Ed: Ester, M. Jakarta: Widya
Medika.
9. Berman, A., Snyder, S., Kozier, B. & Erb, G. 2009.
Saran
Buku ajar praktik keperawatan klinis. ed: 5. Penj:
1. Perawat diharapkan menerapkan komunikasi Meiliya, E., Wahyuningsih, E. & Yulianti, D. Ed:
S-BAR dalam melaksanakan proses asuhan Ariani, F. Jakarta: EGC.
keperawatan. 10. Potter, P.A. & Perry, A.G. 2009. Fundamental of
2. Rumah Sakit diharapkan mempertimbangkan nursing fundamental keperawatan.trans: Nggie,
untuk menggunakan prinsip 10 benar dalam A.F. & Albar, M. Ed: Hartanti. ed: 7. Jakarta:
pmberian obat. Salemba Medika.
3. Rumah Sakit diharapkan memberikan pelatihan 11. Dempsey,P.A.,& Dempsey,A.D. 2002. Riset
pada seluruh petugas kesehatan. keperawatan buku ajar & latihan. ed: 4. Jakarta:
4. Peneliti selanjutnya, diharapkan peneliti tidak EGC.
ikut dalam kegiatan observasi langsung saat 12. Dempsey,P.A.,& Dempsey,A.D. 2002. Riset
pengambilan data sehingga, akan mengurangi keperawatan buku ajar & latihan. ed: 4. Jakarta:
bias penelitian. EGC.
13. Yani, S. 2012. Evaluasi penerapan pemberian
Daftar Pustaka obat secara parenteral dalam menyelenggarakan
patient safety di instalaasi rawat inap Rumah
1. DepKes, RI. 2008. Panduan nasional keselamatan Sakit PKU Muhammadiyah Bantul. Yogyakarta:
pasien rumah sakit (patient safety). ed: 2. Program Pascasarjana Magister Manajemen
Jakarta. Rumah Sakit.
2. World Health Organization & Joint Comission 14. Yulia, S. 2010. Pengaruh pelatihan keselamatan
International. 2007. Communication during patient pasien terhadap pemahaman perawat pelaksana

40 Fatimah & Rosa, 2014. JNKI, Vol. 2, No. 1, Tahun 2014, 32-41
mengenai penerapan keselamatan pasien di RS menjalankan usaha. Jakarta: PT Elex Media
Tugu Ibu Depok. Universitas Indonesia. Komputindo.
15. Fitria, C. 2011. Efektivitas pelatihan komunikasi 18. Umar, H. 2002. Evaluasi kinerja perusahaan.
SBAR dalam meningkatkan motivasi dan Jakarta: Gramedia Pustaka.
psikomotor perawat ruang medikal bedah 19. Hariandjo, M.T.C. & Ladiwati, Y. 2002. Manajemen
Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta. sumber daya manusia. Ed: Hardiwati, Y. Jakarta:
Yogyakarta: Program Magister Manajemen PT. Grasindo.
Rumah Sakit. 20. Institute of medicine (IOM). 2012. Health IT
16. Notoatmodjo, S. 2009. Metodologi Pendidikan and patient safety building safer sysyems for
Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. better care. Wangsington DC: The National
17. Iqbal, M. & Simanjuntak, K.M.M. 2004. Solusi jitu Academies.
bagi pengusaha kecil dan menengah pedoman 21. Robbins, P.S., & Judge, T.A. (2008). Perilaku
organisasi. ed:12. Jakarta: Salemba Medika.

Efektivitas Pelatihan Patient Safety; Komunikasi S-BAR Pada Perawat dalam Menurunkan Kesalahan Pemberian Obat Injeksi 41