Vous êtes sur la page 1sur 7

ANTI JAMUR

Jamur merupakan organisme uniseluler maupun multiseluler (umumnya berbentuk


benang disebut hifa, hifa bercabang-cabang membentuk bangunan seperti anyaman
disebut miselium, dinding sel mengandung kitin, eukariotik, tidak berklorofil. Jamur
hidup secara heterotrof dengan jalan saprofit (menguraikan sampah organik), parasit
(merugikan organisme lain), dan simbiosis. Berdasarkan kingdongnya, fungi (jamur)
dibedakan menjadi lima divisi yaitu, Zigomycotina (kelas Zygomycetes),
Ascomycotina, Basidiomycotina, dan Deuteromycotina.Sedangkan Obat antijamur
adalah senyawa yang digunakan untuk pengobatan penyakit yang disebabkan oleh
jamur (Anonim, 2007).

Penyakit yang disebabkan oleh jamur biasanya akan tumbuh pada daerah-daerah
lembab pada bagian tubuh kita, diantaranya seperti pada bagian ketiak, lipatan daun
telinga, jari tangan dan kaki dan juga bagian lainnya. Penyakit kulit karena jamur
bisa menular karena kontak kulit secara langsung dengan penderitanya. Gejala dari
penyakit ini adalah warna kulit yang kemerahan, bersisik dan adanya penebalan
kulit. Dan yang jelas akan disertai dengan rasa gatal pada kulit yang sudah terifeksi
jamur tersebut.

1. Infeksi Jamur Sistemik

Infeksi jamur sistemik berdasarkan penyebabnya serta obatnya antara lain (Rosfanti,
2009) :

1.1. Arpergilosis

Aspergilosis paru sering terjadi pada penderita penyakit imunosepresi yang berat
dan tidak memberi respon memuaskan terhadap pengobatan dengan obat jamur.
Obat pilihan untuk penyakit ini adalah Amfoterisin B secara intravena dengan dosis
0,5-1,0 mg/kg BB setiap hari.

1.2. Blastomikosis

Obat jamur terpilih untuk Blastomikosis adalah Ketokonazol per oral 400 mg sehari
selama 6-12 bulan. Itrakonazol dengan dosis 200-400 mg sehari juga efektif pada
beberapa kasus. Amfoterisin B sebagai cadangan untuk penderita yang tidak dapat
menerima Ketokonazol.

1.3. Kandidiasis

Pengobatan menggunakan Amfoterisin B. Flusitosin diberikan bersama Amfoterisin


B untuk meningitis, endoftalmitis, arthritis, dan kandidia. Disamping penyebarannya
yang lebih baik ke jaringan sakit, Flusitosin diduga bekerja aditif dengan Amfoterisin
B sehingga dosis Amfoterisin B dapat dikurangi.

1.4. Koksidioidomikosis

Adanya kavitis (ruang berongga) tunggal di paru atau adanya infiltrasi fibrokavvitis
yang tidak responsif terhadap kemoterapi merupakan cirri khas penyakit kronis
Koksidioidomikosis. Penyakit ini dapat diobati dengan Amfoterisin B secara
intravena, Ketokonazol, dan Itrakonazol.

1.5. Kriptokokosis

Obat terpilih untuk penyakit ini adalah Amfoterisin B dengan dosis 0,4-0,5 mg/kg BB
perhari secara intravena. Penambahan Flusitosin dapat mengurangi pemakaian
Amfoterisin B (0,3 mg/kg BB). Flukonazol bermanfaat untuk terapi supresi pada
penderita AIDS.

1.6. Histoplasmosis

Penderita histoplasmosis paru kronis sebagian besar dapat diobati dengan


Ketokonazol 400 mg/hari selamaa 6-12 bulan. Itrakonazol 200-400 mg sekali sehari
juga cukup efektif. Amfoterisin B secara intravena juga dapat diberikan selama 10
minggu.

1.7. Mukomikosis

Amfoterisin B merupakan obat pilihan untuk mukornikosis paru kronis.

1.8. Parakoksidioimikosis

Ketokonazol 400 mg/hari merupakan obat pilihan yang diberikan selama 6-12 bulan.
Pada keadaan yang berat diberikan terapi awal Amfoterisin B.

1.9. Sporotrikosis

Obat terpilih untuk keadaan ini adalah pemberian oral larutan jenuh Kalium Iodida (1
g/ml) dengan dosis 3 sampai 40 tetes sehari yang dicapuur dengan sedikit air. Obat
Sporotrikosis yang menyerang paru, tulang.

2. Obat Antijamur

Obat-obat antijamur juga disebut obat-obat antimikotik, dipakai untuk mengobati dua
jenis infeksi jamur, yaitu infeksi jamur superficial pada kulit atau selaput lender dan
infeksi jamur sistemik pada paru-paru atau system saraf pusat. Infeksi jamur dapat
ringan, seperti pada tinea pedis (athletes foot), atau berat, seperti pada paru-paru
atau meningitis. Jamur, seperti Candidia spp. (ragi), merupakan bagian dari flora
normal pada mulut, kulit, usus halus, dan vagina (Kee and Hayes,1993).

Menurut indikasi klinik obat-obat anti jamur dibagi atas dua golongan, yaitu (Munaf,
2004) :

2.1 Antijamur Untuk Infeksi Sistemik

Antijamur untuk infeksi sistemik dibedakan menjadi beberapa golongan, antara lain
amfoterisin B, flusitosin, golongan imidazol, dan kalium iodida.

2.1.1. Golongan Imidazol

Imidiazol merupakan obat antijamur spectrum luas dan resistensinya jarang


timbul. Imidiazol tidak diabsorpsi dengan baik secara oral, kecuali
ketokonazol (Neal, 2005). Yang termasuk dalam golongan ini adalah
mikonazol, klotrimazol, ketokonazol, flukonazol, itrakonazol, triazol,
ekonazol, isokonazol, tiokonazol, dan bifonazol. Sifat dan penggunaan
golongan ini praktis tidak berbeda (Munaf, 2004).

Mekanisme kerja obat dalam golongan ini belum semuanya diketahui. Obat
jenis ini bekerja dengan memblok biosintetis lipid yang dibutuhkan oleh
jamur, khususnya ergosterol dalam membrane sel jamur, dan mungkin juga
dengan mekanisme tambahan lain (mengganggu sistesis asam nukleat atau
penimbunan peroksida dalam sel jamur yang menimbulkan kerusakan)
(Munaf, 2004).

a. Ketokonazol

Ketokonazol merupakan suatu antijamur sintetik yang memiliki rumus


bangun mirip dengan mikonazol dan kotrimazol. Mekanisme kerja obat ini
adalah dengan masuk ke dalam sel jamur dan menimbulkan kerusakan
pada dinding sel. Mungkin juga terjadi gangguan sintetis asam nukleat atau
penimbunan peroksida dalam sel yang merusak jamur (Munaf, 2004).

Farmakokinatik

Ketokonazol merupakan antijamur pertama yang diberikan peroral.


Ketokonazol diabsorpsi dengan baik melalui oral yang menghasilkan kadar
yang cukup untuk menekan pertumbuhan berbagai jamur. Absorpsi obat ini
akan menurun pada pH cairan lambung yang tinggi. Setelah pemberian oral,
obat ini akan ditemukan dalam urine, kelenjar lemak, air ludah, kulit yang
mengalami infeksi, tendon, dan cairan synovial (Munaf, 2004).

Farakodinamik

Ketokonazol aktif sebagai antijamur baik sistemik maupun nonsistemik yang


efektif terhadap Candidia, Coccsidioides immitis, Cryptococcus neoformans,
H. capsulatum, B. dermatitidis, Aspergillus, dan Sporotrix spp.

b. Flukonazol

Flukonazol merupakan derivate triazol, antijamur yang poten, yang bekerja


spesifik menghambat pembentukan sterol pada membrane sel jamur.
Flukonazol bekerja dengan spesifitas yang tinggi pada enzim-enzim
cytochrome P-450 dependent (Munaf, 2004).

Farmakokinetik

Flukonazol diserap baik melalui saluran cerna, dan kadarnya dalam plasma,
setelah pemberian IV, diperoleh dari 90% kadar plasma. Absorpsi per oral
tidak dipengaruhi oleh adanya makanan. Kadar puncak dalam plasma
diperoleh jam sampai 1 jam setelah pemberian dengan waktu paruh 30
jam. Kadar menetap dalam plasma dengan dosis harian diperoleh pada hari
ke-4 sampai ke-5 yang kira-kira 80% dari kadar plasma (Munaf, 2004).

Farmakodinamik

Obat ini menghambat sintesis ergosterol dengan bekerja pada


lanosteroldemetilase dan gangguan terhadap transport zat-zat karena
kumulasi pada membra sitoplasma. Flukonazol aktif terhadap mikosis yang
umumm disebabkan oleh Cryptococcus neoformans, infeksi jamur
intracranial, mikrosporum, dan trikhofiton (Schmitz dkk, 2009).

2.1.2 Amfoterisin B

Amfoterisin B dihasilkan oleh Sterptomyces nodosus. Untuk infeksi jamur


sistemik, amfoterisin B diberikan melalui infuse secara perlahan-lahan.
Amfoterisin B berikatan dengan Beta-lipoprotein plasma dan disimpan dalam
jaringan depot, serta sukar berpenetrasi ke dalam SSP. Untuk meningitis
jamur diperlukan pemberian secara intratekal. Pengembalian obat dari depot
ke sirkulasi berlangsung lambat. Sebagian kecil diekskresi melalui urine atau
empedu dalam waktu >1 minggu. Obat ini umumnya didegradasikan secara
lokal di jaringan depot (Munaf, 2004).

Obat ini bekerja dengan berikatan dengan membran sel jamur atau ragi
yang sensitive. Integrasi dengan sterol-sterol membran sel jamur lebih
permiabel terhadap molekul-molekul yang kecil. Amfoterisin B mempunyai
aktivitas fungisid dan fungistatik terhadap sel-sel jamur yang sedang tumbuh
dan yang tidak (Munaf, 2004).

Amfoterisin B diberikan secara infus intravena secara perlahan selama 4-6


jam. Pada meningitis jamur, obat ini diberikan secara suntikan intratekal 0,5
mg 3x seminggu untuk 10 minggu atau lebih. Obat ini juga sering
dikombinasikan dengan flusitosin untuk penghambatan meningitis oleh
kandida, kriptokokus, dan kandidiasis sistemik. Pemberian kombinasi ini
akan memperlambat timbulnya resistensi dan memungkinkan penggunaan
dosis amfoterisin B yang lebih kecil (Munaf, 2004).

2.1.3 Flusitosin

Flusitosin adalah 5-Fluorositosin yang merupaka antijamur sistemik yang


dapat diberikan per oral. Flusitosin menghambat pertumbuhan galur, seperti
kandida, kriptokokus, torulopsis, dan beberapa galur aspergilosis, serta
jamur lain (Munaf, 2004).

Obat ini bekerja karena adanya sel-sel jamur yang sensitif sehingga
mengubah flusitosin menjadi fluorourasil yang dapat menghambat timidilat
dan sintesis DNA. Mutan-mutan yang resisten akan berkembang secara
teratur dengan cepat dan obat-obat antijamur akan menyeleksi strai-strain
yang resisten ini. Hal inilah yang membatasi manfaat penggunaan obat ini.
Oleh karena itu, pemberian flusitosin dikombinasikan dengan amfoterisin B
untuk menghasilkan efek terapi yang lebih baik (Munaf, 2004).

Ekskresi obat ini sebagian besar melalui ginjal, dan kadar dalam urine
mencapai 10x kadar dalam serum. Bila terdapat kelemahan ginjal, flusitosin
dapat di akumulasi dalam serum sampai mencapai kadar toksik, tetapi bila
terdapat kelemahan hati tidak memberikan efek tersebut. Flusitosin dapat
dikeluarkan dengan hemodialisis (Munaf, 2004).

Flusitosin ternyata relatif tidak toksik untuk sel-sel mamalia. Namun, kadar
serum yang tinggi dalam jangka lama dapat menimbulkan depresi sum-sum
tulang belakang, rambut rontok, dan gangguan fungsi hepar. Pemberian
urasil dapat mengurangi toksisitas pada jaringan hemopoetik yang
bermanifestasi dengan depresi sum-sum tulang, tetapi tampaknya tidak
memberikan efek pada aktivitas antijamur ini (Munaf, 2004).

2.1.4 Kalium Iodida

Kalium iodida adalah bentuk umum dari garam. Dikenal juga sebagai
potassium iodide. Zat ini dapat melindungi kelenjar tiroid dari radiasi dan
kanker yang disebabkan oleh yodium radioaktif. Dikenal secara kimia
sebagai KI, ia memenuhi kelenjar itu dengan yodium non-radioaktif,
mengurangi penyerapan yodium radioaktif berbahaya (Jordan, 2011).

Kalium iodida adalah obat non-resep yang dapat digunakan untuk


melindungi kelenjar tiroid dari paparan radiasi. Hal ini dapat berbahaya bagi
orang-orang dengan alergi terhadap yodium atau kerang dan untuk mereka
yang masalah tiroid, penyakit ginjal dan kelainan kulit tertentu dan penyakit
kronis. Ini bisa dapat memiliki efek samping yang serius termasuk irama
jantung yang tidak normal, mual, muntah, kelainan elektrolit dan perdarahan
(Jordan, 2011).

Iodin, umumnya jumlah yang dianjurkan per hari 150 mcg (mikrogram=0,001
mg) berguna untuk membantu kesehatan metabolisme tubuh dan mencegah
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKI) serta meningkatkan warna
dan penyusunan rambut, meningkatkan metabolisme lemak, merangsang
reaksi metal (Jordan, 2011).

2.2. Antijamur Untuk Infeksi Dermatofit dan Mukokutan (Topikal)

2.2.1 Griseofulvin

Griseofulvin adalah antibiotika yang bersifat fungistatik. Secara in-vitro


griseofulvin dapat menghambat pertumbuhan berbagai spesies dari
Microsporum, Epidermophyton dan Trichophyton. Pada penggunaan per oral
griseofulvin diabsorpsi secara lambat, dengan memperkecil ukuran partikel,
absorpsi dapat ditingkatkan. Griseofulvin ditimbun di sel-sel terbawah dari
epidermis, sehingga keratin yang baru terbentuk akan tetap dilindungi
terhadap infeksi jamur (Santoso, 2009).

Farmakokinetik

Absorpsi griseofulvin sangat bergantung pada keadaan fisik obat ini dan
absorpsinya dibantu oleh makanan yang banyak mengandung lemak.
Senyawa dalam bentuk partikel yang lebih kecil diabsorpsi 2 kali lebih baik
daripada partikel yang lebih besar(Munaf, 2004).

Metabolismenya terjadi di hati. Metabolit utamanya adalah 6-


metilgriseofulvin dengan waktu paruh sekitar 24 jam. Jumlah yang
diekskresikan melalui urine adalah 50% dari dosis oral yang diberikan dalam
bentuk metabolit dan berlangsung selama 5 hari. Kulit yang sakit
mempunyai afinitas lebih besar terhadap obat ini, ditimbun dalam sel
pembentuk keratin, terikat kuat dengan keratin dan akan muncul bersama
sel yang baru berdiferensiasi sehingga sel baru ini akan resisten terhadap
serangan jamur. Keratin yang mengandung jamur akan terkelupas dan
digantikan oleh se baru yang normal. Griseofulvin ini dapat ditemukan dalam
sek tanduk 4-8 jam setelah pemberian oral (Munaf, 2004).

Farmakodinamik

Obat ini bekerja dengan menghambat skualenapoksidase dan obat ini


memberiakn efek fungistatik. Spectrum aktivitasnya hanya efektif terhadap
dermatofit, karena di sel-sel kandida tidak tercapai konsentrasi yang
cukup (Schmitz dkk, 2009).

2.2.2 Nistatin (Mikostatin)

Nistatin adalah antibiotika antifungal yang berasal dari streptomyces noursei.


Aktifitas antifungalnyadiperoleh dengan cara mengikatkan diri pada sterol
membrane sel jamur, sehingga permeabilitas membrane sel tersebut akan
terganggu dan komponen intraseluler dapat hilang (Anonim, 2012).

Nistatin merupakan obat yang termasuk kelompok obat yang disebut


antijamur (antifungal). Bubuk kering, tablet hisap, dan bentuk cair dari obat
ini digunakan untuk mengobati infeksi jamur pada mulut (Ratnadita, 2011).

Farmakokinetik

Setelah pemberian oral, nistatin hanya sedikit diabsorpsi dari saluran cerna.
Pada dosis yang dianjurkan, tidak akan terdeteksi dalam darah. Hampir
seluruhnya diekskresi melalui feses dalam bentuk tidak diubah (Anonim,
2012).

Farmakodinamik

Nistatin tidak memberikan efek terhadap bakteri atau protozoa, tetapi secara
in vitro menghambat banyak jamur termasuk kandida, dermatofit, dan
organism yang dihasilkan oleh mikosis dalam badan manusia. Secara in
vivo, kerjanya terbatas pada permukaan dengann obat yang tidak diserap
dan dapat kontak langsung dengan ragi atau jamur. Secara in vivo, tidak
ditemukan resistensi terhadap nistatin, tetapi dapat ditemukan galur kandida
yang resisten terhadap nistatin (Munaf, 2004).

Mekanisme kerjanya ialah dengan jalan berikatan dengansterol membrane


sel jamur, terutama ergosterol. Oleh karena itu, terjadi gangguan pada
permeabilitas membrane se jamur dan mekanisme transpornya. Akibatnya,
sel jamur kehilangan banyak kation dan makromolekul. Resistensi dapat
timbul karena menurunnya jumlah sterol pada membrane sel jamaur atau
terjadi perubahan sifat struktur atau sifat ikatannya (Munaf, 2004).

2.2.3 Haloprogin

Haloprogin berkhasiat fungisid terhadap berbagai jenis Epidermofiton,


Pityrosporum, Trichophyton dan Candida. Kadang-kadang terjadi sensitasi
dengan timbulnya gatal-gatal, perasaan terbakar, dan iritasi kulit. Zat ini
digunakan sebagai krem atau larutan 1% terhadap panu dan kutu air (Tinea
pedis) dengan persentase penyembuhan lebih kurang 80%, sama dengan
tolnafat (Tjan dan Rahardja, 2007).
2.2.4 Kandisidin

Kandisidin merupakan suatu antibiotik polien yang diperoleh dari golongan


aktinomisetes. Kandisidin hanya digunakan untuk pemakain topical pada
kandidiasis vaginalis 0,06% yang dilengkapi dengan aplikatornya. Dosisnya
adalah 2x sehari 1 tablet atau 2x sehari dioleskan di vagina. Efek
sampingnya dapat berupa iritasi vulva atau vagina, dan jarang timbul efek
samping yang serius (Munaf, 2004).

2.2.5 Salep Whitfield

Salep Whitfield adalah campuran asam salisilat dengan asam benzoate


dengan perbandingan 1:2 (biasanya 6% dan 12%). Asam salisilat bersifat
keratolitik dan asam benzoate bersifat fungistatik. Karena asam benzoate
hanya bersifat fungistatik, penyembuhan dapat tercapai setelah lapisan kulit
terkelupas seluruhnya sehingga penggunaan obat ini memerlukan waktu
beberapa minggu sampai bulanan. Salep ini banyak digunakan untuk Tinea
pedis dan kadang-kadang juga untuk tinea kapitis. Efek sampingnya dapat
berupa iritasi ringa lokal pada tempat pemakaian (Munaf, 2004).

2.2.6 Natamisin

Natasimin merupakan antijamur antibiotic polien yang aktif terhadap banyak


jamur. Pemakaian pada mata jarang menimbulkan iritasi maka digunakan
untuk keratitis jamur. Natasimin merupakan obat terpilih untuk
infeksi Fusarium solani, tetapi daya oenetrasinya ke ornea kurang memadai.
Natasimin juga efektif untuk kandidiasis oral dan vagina. Sediaan tersedia
dalam suspensei 5% dan salep 1% untuk pemakaian pada mata (Munaf,
2004).