Vous êtes sur la page 1sur 31

KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa


karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami
dapat menyelesaikan makalah tentang Pemanfaatan Plastik Sebagai
Barang Berguna ini dengan baik meskipun banyak kekurangan
didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak Ir.
Mahmud Takahashi selaku Dosen mata kuliah Teknik Lingkungan
Hidup IPB yang telah memberikan tugas ini kepada kami.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka


menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai dampak yang
ditimbulkan dari sampah, dan juga bagaimana membuat sampah
menjadi barang yang berguna. Kami juga menyadari sepenuhnya
bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari
kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran
dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa
yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna
tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun


yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat
berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya.

i
Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata
yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang
membangun demi perbaikan di masa depan.

Bandung, Juli 2015

Penyusun

ABSTRAK

Industri sepatu di Indonesia berperan penting pada perekonomian masyarakat.


Dalam proses produksinya, terdiri dari berbagai proses yang memiliki berbagai
hazard (bahaya) bagi manusia : kebisingan, debu, kecelakaan karena mesin, dan
pajanan bermacam-macam pelarut organik beracun, salah satunya menggunakan lem
yang mengandung pelarut organik berbahaya seperti benzena. Senyawa benzena ini
termasuk kedalam golongan VOC (Volatile Organic Compound) yang mudah untuk
menguap pada temperature kamar sehingga memungkinkan untuk terhisap oleh para
pekerja dan menimbulkan efek kesehatan.
Karena pajanan benzene tersebut, terdapat beberapa pekerja yang memiliki
resiko kesehatan karsnogenetik dan resiko kesehatan non karsinogenetik tergantung
pada durasi /lama pajanan. Pajanan akut (14 hari atau kurang), pajanan intermediet
(15 -364 hari), pajanan kronis (lebih dari 365 hari).
Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan meminimalisasi pajanan benzene
dengan beberapa cara, diantaranya adalah membuat agar uap benzena yang terdapat
dalam ruangan cepat terdistribusi dengan udara luar bengkel dengan membuat sistem
ventilasi yang baik agar sirkulasi udara dalam bengkel baik.

ii
Upaya pencegahan pajanan benzena dapat dilakukan dengan peran serta aktif
para pekerja bengkel dan pabrik sepatu yaitu meminimalkan kontak antara benzena
dan pekerja dengan cara melengkapi para pekerja dengan alat pelindung diri (APD)
karena pajanan benzena tidak hanya terjadi melalui inhalasi (pernafasan), tetapi juga
absorbsi melalui kulit karena penggunaan lem yang langsung dengan tangan, oleh
karena itu perlu dilakukan penyuluhan terhadap para pekerja tentang pentingnya
menggunakan alat pelindung diri bagi kesehatan mereka.

Kata kunci: lem sepatu, benzene, risiko kanker, risiko non kanker dan upaya
pencegahan.

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........ i


KATA PENGANTAR ......... ii
ABSTRAK ....... iii
DAFTAR ISI......... iv
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah........................................................................................... 2
1.3 Tujuan............................................................................................................. 3
1.4 Manfaat........................................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................. 4
BAB III PEMBAHASAN............................................................................................ 14
BAB IV PENUTUP..................................................................................................... 27
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................. 28

dan makmur berdasarkan Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Demokrasi di Indonesia harus berdasar Pancasila

iv
Bangsa Indonesia sejak Proklamasi Kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 telah
menetapkan Pancasila sebagai Dasar Negara RI dan Filsafah Bangsa. Dengan begitu
segala kehidupan yang bersangkutan dengan Negara RI harus dilandasi Pancasila,
termasuk pelaksanaan Demokrasi. Ini lebih diperkuat oleh kesadaran bangsa
Indonesia bahwa Pancasila adalah Jatidiri Bangsa.

Sebetulnya kata Demokrasi tidak ada dalam Pancasila. Akan tetapi pengertian yang
terkandung dalam kata Demokrasi ada dalam kehidupan bangsa Indonesia sejak
dahulu kala. Dalam Pancasila pengertian Demokrasi disebut Kerakyatan. Akan tetapi
sesuai dengan judul tulisan ini dan perkembangan yang telah dan sedang terjadi di
Indonesia maka selanjutnya digunakan kata Demokrasi yang sama dengan
Kerakyatan dalam Pancasila.

Karena pelaksanaan Demokrasi dalam kehidupan satu bangsa tidak dapat lepas dari
Jatidiri dan Budaya bangsa, maka Demorasi di Indonesia tidak dapat dilandasi
pandangan hidup yang bukan-Pancasila, seperti pandangan hidup dunia Barat yang
mengedepankan Individualisme dan Liberalisme. Sebab nilai-nilai yang dikandung
Pancasila sangat berbeda dengan pandangan hidup Barat itu. Maka kalau di
Indonesia sejak Reformasi 1998 berlaku Demokrasi Barat yang landasannya
individualisme-individualisme, maka ini merupakan sesuatu yang seharusnya tidak
terjadi di Indonesia.

Sejak bangsa Indonesia menyiapkan kemerdekaannya pada tahun 1945 selalu menjadi
pertanyaan bagaimana sistem pemerintahan yang tepat dan paling bermanfaat untuk
bangsa itu. Dengan kemudian ditetapkannya Pancasila sebagai Filsafah dan
Pandangan Hidup Bangsa serta Dasar Negara Republik Indonesia, mulai jelas apa
yang menjadi Tujuan Bangsa. Hal ini makin tegas setelah dirumuskan dan disetujui
Undang-Undang Dasar 1945 pada 18 Agustus 1945.

v
Secara universal dan umum dapat dikatakan bahwa Demokrasi adalah sistem
kenegaraan yang mengakui bahwa dalam negara itu Kedaulatan ada di tangan Rakyat.
Hal ini menghasilkan sistem kenegaraan yang memungkinkan semua warga bangsa
mempunyai kesempatan mewujudkan aspirasinya.

Dalam sejarah umat manusia tampak bahwa demokrasi berkembang sesuai dengan
kondisi bangsa yang bersangkutan, termasuk nilai budayanya, pandangan hidupnya
serta adat-istiadatnya. Dengan begitu tiap-tiap bangsa mempunyai caranya sendiri
mewujudkan demokrasi. Hal iu antara lain tampak di Eropa Barat ; sekalipun bangsa-
bangsa Eropa Barat mempunyai banyak kesamaan budaya, pandangan hidup dan
adat-istiadat, namun demokrasi yang diwujudkan di masing-masing bangsa Eropa
Barat tidak sama. Hal itu dapat dilihat pada perwujudan demokrasi di Perancis dan
Inggeris yang tidak sepenuhnya sama. Bahkan antara bangsa Amerika Serikat dan
Inggeris yang sama-sama digolongkan bangsa Anglo Saxon terdapat perbedaan besar
dalam pelaksanaan demokrasi.

Itu memberikan kesimpulan bahwa pengertian demokrasi bersifat universal, tetapi


perwujudannya dan pelaksanaannya di tiap-tiap negara dilakukan sesuai budaya,
pandangan hidup, jatidiri bangsa di negara itu. Tidak ada pelaksanaan atau
perwujudan demokrasi yang universal dan berlaku bagi semua bangsa. Maka tidaklah
benar anggapan sementara orang, termasuk di Indonesia, bahwa demokrasi Barat
adalah pelaksanaan demokrasi yang universal dan harus diterapkan pada semua
bangsa. Anggapan demikian sejak tahun 1945 ada pada sementara orang Indonesia,
terutama mereka yang menyangsikan terwujudnya kemerdekaan Indonesia. Akan
tetapi terutama kuatsekali setelah terjadi Reformasi pada tahun 1998.

Padahal demokrasi bangsa Indonesia tidak sama dan tidak harus sama dengan yang
dilakukan bangsa lain, termasuk bangsa Barat yang pandangan hidupnya berbeda dari
Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia.

vi
Ada perbedaan prinsipiil atau mendasar dalam pandangan hidup Barat dan Pancasila,
seperti tempat Individu dalam pergaulan hidup. Dalam pandangan Barat individu
adalah mahluk otonom yang bebas sepenuhnya untuk mengejar semua kehendaknya.
Dalam pandangan itu individu membentuk kehidupan bersama dengan individu lain
adalah karena dorongan rasionya untuk menjamin keamanan dan kesejahteraannya,
bukan karena secara alamiah individu ditakdirkan hidup bersama individu lain.

Sebaliknya dalam pandangan Pancasila individu secara alamiah merupakan bagian


dari kesatuan lebih besar, yaitu keluarga. Individu tidak bisa lepas dari Keluarga.
Dalam keluarga tidak ada anggotanya yang sama benar, selalu ada perbedaan antara
mereka. Akan tetapi sekalipun berbeda satu sama lain mereka merupakan anggota
satu keluarga. Maka terjadi Perbedaan dalam Kesatuan, Kesatuan dalam Perbedaan.
Oleh sebab itu pandangan Pancasila dan bangsa Indonesia adalah bahwa hidup
merupakan Kebersamaan atau Kekeluargaan. Kehidupan dalam pandangan Pancasila
dilakukan dalam Harmoni antara individu sebagai anggota keluaarga maupun sebagai
anggota masyarakat. Individu diakui eksistensinya dan dibenarkan untuk mengejar
yang terbaik baginya, tetapi itu tidak pernah lepas dari kepentingan Kebersamaan /
Kekeluargaan. Ini berbeda mendasar dari individualisme dan liberalisme Barat.
Perbedaan mendasar itu berpengaruh sekali terhadap pelaksanaan demokrasi.

Selain itu dalam pandangan Barat dalam negara harus berlaku sekularitas, yaitu
terpisahnya Negara dan Agama. Maka demokrasi Barat bersifat sekuler, dalam arti
bahwa tidak ada faktor Ketuhanan atau religie yang mempengaruhinya. Sebaliknya
demokrasi Indonesia tidak dapat lepas dari faktor Ketuhanan Yang Maha Esa yang
merupakan sila pertama Pancasila. Memang NKRI bukan negara berdasarkan agama
atau negara agama, namun ia bukan pula negara sekuler yang menolak faktor agama
dalam kehidupan bernegara. Ada yang mengritik sikap bukan ini bukan itu sebagai
sikap yang a-moral dan ambivalent, tetapi dalam perkembangan cara berpikir dalam
melihat Alam Semesta, khususnya yang dibuktikan oleh Quantum Physics, hal ini

vii
fenomena normal dalam Alam ini. Maka karena sikap itu demokrasi Indonesia tidak
pernah boleh lepas dari faktor moralitas.

Dengan landasan individualisme-liberalisme di Barat individu selalu mencari


keunggulan bagi dirinya. Sebab itu Demokrasi Barat cenderung diekspresikan
mengejar kemenangan dan kekuasaan. Dalam demokrasi Barat adalah normal kalau
partai politik mengejar kekuasaan agar dengan kekuasaan itu dapat mewujudkan
kepentingannya dengan seluas-luasnya (The Winner takes all). Ia hanya
mengakomodasi kepentingan pihak lain karena dan kalau itu sesuai dengan
kepentingannya. Jadi kalau ada sikap Win-Win Solution dilakukan di Barat, hal itu
bukan karena prinsip Kebersamaan, melainkan karena faktor Manfaat semata-mata.

Indonesia berdasarkan Pancasila demokrasi dilaksanakan melalui Musyawarah untuk


Mufakat. Jadi dianggap tidak benar bahwa pihak yang sedikit jumlahnya atau
minoritas dapat dibulldozer oleh pihak mayoritas yang besar jumlahnya. Itu berarti
bahwa demokrasi Indonesia pada prinsipnya mengusahakan Win-Win Solution dan
bukan karena faktor manfaat semata-mata. Namun demikian, kalau musyawarah
tidak kunjung mencapai mufakat sedangkan keadaan memerlukan keputusan saat itu,
tidak tertutup kemungkinan penyelesaian didasarkan jumlah suara. Maka voting
dilakukan karena faktor Manfaat. Jadi terbalik dari pandangan demokrasi Barat.

Dalam demokrasi Indonesia tidak hanya faktor Politik yang perlu ditegakkan, tetapi
juga faktor kesejahteraan bagi orang banyak sebagaimana dikehendaki sila kelima
Pancasila, yaitu Keadilan bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Jadi demokrasi Indonesia
bukan hanya demokrasi politik, tetapi juga demokrasi ekonomi dan demokrasi sosial.
Bahkan sesuai dengan Tujuan Bangsa dapat dikatakan bahwa demokrasi Indonesia
adalah demokrasi kesejahteraan dan kebahagiaan dan bukan demokrasi kekuasaan
seperti di Barat. Hal itu kemudian berakibat bahwa pembentukan partai-partai politik
yang juga dilakukan dalam demokrasi Indonesia, mengarah pada perwujudan
kehidupan sejahtera bangsa Karena demokrasi Indonesia adalah demokrasi

viii
kesejahteraan, maka wahana pelaksanaan demokrasi Indonesia tidak hanya partai
politik. Banyak anggota masyarakat mengutamakan perannya dalam masyarakat
sebagai karyawan atau menjalankan fungsi masyarakat tertentu untuk membangun
kesejahteraan, bukan sebagai politikus. Mereka tidak berminat turut serta dalam
partai politik. Karena kepentingan bangsa juga meliputi mereka, maka selayaknya
mereka ikut pula dalam proses demokrasi, termasuk demokrasi politik. Oleh sebab itu
di samping peran partai politik ada peran Golongan Fungsional atau Golongan Karya
(Golkar).

Demikian pula Indonesia adalah satu negara yang luas wilayahnya dan terbagi dalam
banyak Daerah dan banyak Etnik yang semuanya termasuk dalam Keluarga Bangsa
Indonesia. Oleh sebab itu di samping peran partai politik dan golkar, harus
diperhatikan faktor Keterwakilan setiap Daerah dan Etnik dalam mengatur dan
mengurus bangsa Indonesia sebagai satu Keluarga. Maka ada Utusan Daerah yang
mewakili daerahnya dan etniknya masing-masing dalam menentukan jalannya
Bahtera Indonesia. Dengan begitu jelas sekali bahwa Sistem Politik atau Demokrasi
Pancasila mengutamakan keterwakilan, sebagaimana tertera dalam Sila 4 Pancasila,
yaitu Kerakyatan dalam hikmah kebijaksanaan Permusyawaratan-Perwakilan.
Sedangkan demokrasi Barat hanya mementingkan keterpilihan warga negara untuk
berpartisipasi dalam demokrasi. Sebagaimana prinsip Perbedaan dalam Kesatuan,
Kesatuan dalam Perbedaan menjamin setiap bagian untuk mengejar yang terbaik,
maka Daerah yang banyak jumlahnya dan aneka ragam sifatnya perlu memperoleh
kesempatan mengurus dirinya sesuai pandangannya, tetapi tanpa mengabaikan
kepentingan seluruh bangsa dan NKRI.

Otonomi Daerah harus menjadi bagian penting dari demokrasi Indonesia dan
mempunyai peran luas bagi pencapaian Tujuan Bangsa. Akan tetapi di samping ada
perbedaan antara Demokrasi berdasarkan Pancasila dan Demokrasi Barat ada pula
persamaannya. Oleh karena Demokrasi di dunia adalah perkembangan politik modern
yang dimulai di dunia Barat, maka umumnya lembaga-lembaga demokrasi yang telah

ix
dikembangkan Barat digunakan dan dikembangkan bagian dunia lainnya. Istilah-
istilah Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif digunakan secara umum dengan
diterjemahkan ke bahasa bangsa yang menggunakannya.

Lembaga Perwakilan Rakyat diadakan pula dalam Demokrasi berdasarkan Pancasila


dengan istilah Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan Dewan Perwakilan
Rakyat (DPR) . Untuk Eksekutif digunakan kata Presiden sebagai Kepala Negara,
karena bangsa Indonesia tidak membangun kerajaan atau kekaisaran , melainkan
negara berbentuk Republik. Demikian pula Menteri sebagai pembantu Presiden. Juga
dibentuk Partai-Partai Politik sebagai organisasi warga negara berkumpul untuk
mengedepankan aspirasinya. Diadakan Pemilihan Umum di mana Rakyat memilih
wakil-wakilnya untuk duduk dalam Lembaga Perwakilan Rakyat. Dengan begitu
terjadi perbedaan antara demokrasi berdasarkan Pancasila dan demokrasi Barat
karena ada perbedaan prinsipiil dalam pandangan hidup dan budaya bangsa. Akan
tetapi ada persamaan yang bersangkutan dengan bangunan kelembagaan.

Berdasarkan prinsip-prinsip yang berlaku bagi pelaksanaan demokrasi yang dilandasi


Pancasila, maka telah disusun Undang-Undang Dasar bagi Negara Republik
Indonesia. Hal itulah yang dilakukan para Pendiri Negara pada 18 Agustus 1945.
Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) merupakan dasar untuk mengatur sistem
pemerintahan dalam rangka demokrasi Indonesia. Yang dimaksud adalah UUD 1945
yang asli dan belum dirobah dengan 4 Amandemen tahun 2002. Sebab setelah ada 4
Amandemen itu hakikatnya UUD 1945 telah berubah jiwanya dari Pancasila ke
individualis-liberalis. Jadi tidak cocok dengan keperluan kita. Sebab itu harus kita
kembalikan Undang-Undang Dasar 1945 kepada kondisinya yang asli agar kehidupan
bangsa Indonesia berjalan sesuai dengan Pancasila Dasar Negara RI.

Untuk mengembalikan UUD 1945 ke aslinya ada 2 alternatif jalan. Yang pertama
adalah mengembalikan UUD 1945 yang asli sebagai UUD yang sah. Ini dapat
dilakukan melalui berbagai kemungkinan, seperti didekritkan oleh Presiden RI,

x
melalui keputusan DPR minta MPR bersidang atau melalui Referendum. Yang kedua
adalah melalui proses pengkajian kembali UUD 1945 yang telah di-amandemen.
Pengkajian ini dilakukan tim yang diprakarsai dan dipimpin pimpinan MPR. Karena
posisi dan fungsi MPR telah sangat dirugikan oleh UUD 1945 yang di-amandemen
maka ada kemungkinan besar pimpinan MPR bersedia melakukannya. Pegkajian itu
harus menghasilkan UUD yang sesuai dengan UUD 1945 asli, meskipun tidak
mustahil dengan tambahan untuk penyempurnaannya.

Jalan pertama, terutama melalui satu dekrit Presiden RI, adalah cara paling cepat.
Akan tetapi secara politik dipertanyakan apakah Presiden RI bersedia melakukannya,
apalagi sekarang. Jalan DPR akan amat sukar berhasil karena akan ditentang banyak
anggota DPR yang diuntungkan oleh keadaan UUD 1945 setelah di-amandemen.
Sedangkan melalui referendum juga memerlukan persetujuan DPR yang amat besar
kemungkinan menolak.
Jadi harus ditempuh jalan kedua, yaitu melalui pengkajian yang dilakukan oleh satu
tim yang diprakarsai pimpinan MPR sekarang. Ini satu proses lama tapi dapat
mencapai tujuan yang diinginkan. Sebab melalui pengkajian kembali dapat
dihilangkan semua akibat buruk dari amandemen, yaitu yang membuat Batang Tubuh
UUD bertentangan dengan Pembukaannya sendiri. Selain itu dapat dilakukan
penyempurnaan UUD 1945, kalau dianggap perlu, dengan mengadakan penambahan.
Akan tetapi tidak dalam bentuk amandemen melainkan sebagai addendum UUD
1945. Juga Penjelasan UUD harus dikembalikan, karena UUD tanpa Penjelasan
kurang menjamin adanya pemahaman yang benar dari isi UUD itu.

Dengan semangat yang kuat untuk mempunyai kembali UUD 1945 sesuai dengan
Pancasila kita harapkan pengkajian ini dapat dilakukan secepat dan setepat mungkin.
Dalam pengkajian itu penting sekali ditegakkan kembali fungsi dan peran Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagai pelaksana Kedaulatan Rakyat. Fungsi dan
peran MPR ini telah ditiadakan oleh amandemen 2002 dan MPR sekarang hanya
merupakan lembaga yang menghimpun keberadaan Dewan Perwakilan Rakyat

xi
(DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Yang akhir ini adalah satu lembaga
yang tidak terdapat dalam UUD 1945 yang asli. Mungkin badan itu dibentuk karena
para pemrakarsa amandemen diilhami badan perwakilan di AS yang namanya Senate
yang bersama-sama House of Representatives membentuk Congress. Akan tetapi
MPR di sistem politik Indonesia jauh berbeda fungsi dan perannya dari Congress di
AS. Sebagai Penjelmaan Rakyat, MPR memegang kekuasaan tertinggi di NKRI.
Anggota MPR terdiri atas warga negara yang dipilih dalam Pemilihan Umum, wakil
Golongan yang ditentukan oleh Organisasi Golongan Karya dan utusan Daerah yang
ditetapkan oleh Gubernur Provinsi bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Tingkat I. MPR menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang harus
menjadi pedoman segala kegiatan Negara dan Bangsa untuk masa mendatang. Ia
mengangkat Presiden RI untuk memegang kekuasaan pemerintahan dan
melaksanakan GBHN. Serta menetapkan Wakil Presiden RI untuk membantu
Presiden RI.

Pemilihan Presiden RI dan Wakil Presiden RI langsung oleh Rakyat sebagaimana


sekarang terjadi menambah legitimacy Presiden dan Wakil Presiden. Akan tetapi
tidak sesuai dengan ketentuan bahwa MPR memegang kekuasaan tertinggi di NKRI.
Di samping Presiden RI ada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang sama tinggi
kedudukannya dengan Presiden. Presiden sebagai pemegang kekuasaan membentuk
undang-undang selalu memerlukan persetujuan DPR, termasuk undang-undang
tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dengan jalan itu DPR
menjalankan kontrol atau pengawasan terhadap pelaksanaan fungsi Presiden. Karena
pengawasan ini erat hubungannya dengan pelaksanaan GBHN yang berasal dari
MPR, maka DPR melakukan pengawasan atas nama MPR. Sebab itu anggota DPR
berasal dari MPR yang menetapkan separuh dari jumlah anggotanya menjadi anggota
DPR. Dengan begitu dalam DPR perlu ada anggota yang berasal dari Parpol, wakil
Golongan maupun Utusan Daerah karena semua mereka sebagai bagian dari
Penjelmaan Rakyat berkepentingan atas pelaksanaan pemerintahan yang baik.
Presiden RI didampingi Dewan Pertimbangan Agung (DPA) yang pimpinan dan

xii
anggotanya ditetapkan melalui undang-undang. DPA memberikan advis kepada
Presiden, diminta atau tidak diminta. Selain itu Presiden RI didampingi Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK) yang juga dibentuk berdasarkan undang-undang. BPK
berfungsi untuk memeriksa tanggungjawab keuangan negara dan menyampaikan
hasil pemeriksaannya kepada DPR.

Presiden RI juga didampingi Mahkamah Agung (MA) yang dibentuk menurut


undang-undang. MA memimpin seluruh badan kehakiman NKRI yang dibentuk
menurut undang-undang. Untuk menjalankan pemerintahan Presiden RI mengangkat
Menteri-Menteri yang memimpin departemen pemerintahan atau memimpin badan
non-departemen. Presiden RI, Wakil Presiden RI beserta semua Menteri merupakan
Pemerintah RI.Di dalam menjalankan fungsi pemerintahan Presiden
bertanggungjawab kepada MPR, sedangkan para Menteri bertanggungjawab kepada
Presiden RI. Indonesia terdiri dari Daerah-Daerah Tingkat Satu atau Provinsi yang
ditetapkan dengan undang-undang. Demikian pula Daerah Tingkat Satu terdiri dari
Daerah Tingkat II atau Kabupaten dan Kota yang juga dibentuk dengan undang-
undang. Untuk memberikan otonomi yang luas kepada Daerah maka semua Daerah
Tingkat Dua adalah daerah otonom. Sedangkan Daerah Tingkat Satu memegang
kekuasaan pemerintahan yang mewakili Pusat dalam memimpin Daerah Tingkat Dua
sebagai bagian integral NKRI.

Atas dasar itu Kepala Daerah Tingkat Dua, yaitu Bupati dan Wali Kota, dipilih
langsung oleh Rakyat, kecuali pimpinan Kota yang berada di Daerah Tingkat Satu
Jakarta Raya. Setiap Daerah Tingkat Dua mempunyai Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah Tk Dua yang anggotanya dipilih oleh Rakyat untuk mereka yang berasal dari
partai politik; selain itu ada anggota yang ditetapkan oleh Sekber Golkar. DPRD II
membantu Bupati / Wali Kota dalam menjalankan pemerintahan di daerahnya.
Dalam menjalankan pekerjaannya Bupati / Wali Kota bertanggungjawab kepada
Gubernur / Kepala Daerah Tingkat Satu.

xiii
Kepala Daerah Tingkat Satu, yaitu Gubernur, ditetapkan oleh Presiden RI
berdasarkan usul yang diajukan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat Satu .
Gubernur merupakan perpanjangan Pemerintah Pusat untuk mengatur jalannya
pemerintahan di Daerah Tk I sesuai dengan ketentuan otonomi daerah. Dalam
pekerjaannya Gubernur bertanggungjawab kepada Presiden RI. Gubernur dibantu
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat Satu yang anggotanya dipilih oleh Rakyat
dan ditetapkan oleh Sekber Golkar. Gubernur bersama DPRD I menetapkan Utusan
Daerah untuk duduk dalam MPR. Masyarakat membentuk Partai-partai politik
(Parpol) untuk memperjuangkan aspirasinya. Anggota Parpol dalam Pemilihan
Umum dipilih oleh Rakyat untuk menjadi wakil rakyat dalam MPR dan juga untuk
menjadi wakil rakyat dalam DPRD Tingkat I dan Tingkat II.
Selain itu dibentuk Organisasi Golongan Karya yang menghimpun para warga negara
yang memperjuangkan aspirasinya melalui pekerjaan fungsional dalam masyarakat.
Organisasi ini menetapkan wakil golongan untuk duduk dalam MPR, DPRD Tingkat
I dan Tingkat II.

UUD 1945 di samping mengatur Demokrasi Politik juga mengatur Demokrasi


Ekonomi dan Demokrasi Sosial. Dengan begitu terwujud kehidupan bangsa yang
tenteram-damai-produktif dan tidak terganggu oleh konflik antara golongan kaya dan
miskin, antara Pusat dan Daerah, antara etnik yang berbeda, atau antara umat agama
yang beda. Demokrasi baru dapat dikatakan berjalan baik di Indonesia, kalau baik
Demokrasi Politik maupun Demokrasi Ekonomi dan Demokrasi Sosial menjadi
kenyataan.
Memperhatikan hal-hal yang diuraikan di atas tentang Demokrasi berdasarkan
Pancasila atau Demokrasi Indonesia, maka demokrasi yang sekarang berlaku dan
berjalan di Indonesia amat besar kekurangannya, bahkan banyak aspeknya yang
secara mendasar bertentangan dengan Pancasila. Juga perilaku para pelaku dalam
bidang Eksekutif, Legislatif dan Yudakatif, serta warga masyarakat banyak sekali
yang tidak sesuai dengan Demokrasi berdasarkan Pancasila.

xiv
Faktor Manusia dalam Demokrasi Indonesia

Demokrasi Indonesia tidak akan berfungsi dengan baik kalau hanya didasarkan pada
Sistemnya yang benar. Yang tidak kurang penting, bahkan lebih penting, adalah
Manusia yang menjalankan Sistem itu. Ada orang yang mengatakan bahwa yang
utama adalah terbentuknya Sistem yang baik dan tepat, Sebab Sistem yang baik
dalam prosesnya akan membentuk Manusia yang baik dan tepat.

Akan tetapi pendapat demikian tidak memperhatikan kenyataan bahwa Sistem yang
baik dan tepat adalah hasil Manusia, bukan turun begitu saja dari langit. Agama pun
diturunkan ke Bumi oleh Tuhan melalui peran Nabi dan Rasul. Kemudian sebelum
Sistem itu menghasilkan Manusia yang tepat harus ada proses dalam berfungsinya
Sistem tersebut. Proses ini pula harus dilakukan Manusia. Jadi jelas sekali bahwa
demokrasi Indonesia yang baik tidak cukup dibangun dengan Sistem yang baik dan
tepat, tetapi harus disertai keberadaan Manusia Indonesia yang baik dan tepat.

Di sinilah bangsa Indonesia menghadapi pekerjaan rumah yang berat dan luas. Sebab
dalam kenyataan faktor Manusia telah mengalami perkembangan yang demikian luas
sehingga kondisinya sekarang sangat kurang sesuai dengan keperluan untuk
menjalankan demokrasi Indonesia dengan baik. Pertama, adalah pengaruh dari
pandangan hidup dan cara berpikir yang berbeda, bertentangan dan berlainan dengan
Pancasila. Karena bangsa Indonesia dan pimpinannya sejak 1945 telah mengabaikan
pentingnya Pembangunan Bangsa (nation and character building) untuk dilakukan
secara nyata dan tidak hanya dibicarakan saja, maka Pancasila yang sejak semula
telah ditetapkan sebagai Dasar dan Filsafah Negara tidak pernah secara konsisten
dijadikan kenyataan di Bumi Indonesia.
Malahan sebaliknya aspek-aspek penting yang tadinya masih ada dalam masyarakat,
seperti sikap hidup Gotong Royong, makin hilang. Sebab telah berkembang dinamika
dunia Barat yang amat agressif untuk menguasai dunia. Kalau hal itu sebelumnya
dilakukan melalui kekuasaan imperialisme dan kolonialisme, sejak abad ke 20 juga

xv
dan terutama dilakukan dengan meluaskan sikap hidup dan cara berpikir Barat ke
seluruh umat manusia.

Dengan berbagai jalan individualisme-liberalisme disebarkan, khususnya melalui


pendidikan, sehingga makin banyak manusia Indonesia terpengaruh untuk menerima
pandangan hidup itu dan menganggapnya paling baik. Hal ini diperkuat oleh sifat
Manusia Indonesia yang senang menganggap segala sesuatu dari luar negeri, apalagi
dari Barat yang secara materiil telah maju, lebih baik dari apa yang ada di Indonesia.

Ketika pimpinan dan masyarakat di Indonesia melihat dampak usaha Barat itu maka
sikapnya terutama reaktif belaka tanpa ada usaha untuk menjalankan dan memperkuat
usaha menjadikan Pancasila kenyataan di Indonesia. Pancasila tinggal sebagai
semboyan belaka, bahkan banyak pemimpin Indonesia bersikap dan bertindak
bertentangan dengan Pancasila.

Akibatnya dapat dilihat dengan jelas ketika terjadi Reformasi pada tahun 1998.
Memang Indonesia memerlukan satu reformasi, mungkin lebih tepat istilah restorasi,
yaitu usaha untuk memperbaiki keadaan untuk menjadikan Pancasila kenyataan yang
mantap di Indonesia. Akan tetapi yang terjadi adalah justru sebaliknya, Reformasi
menjadi jalan untuk mengembangkan individualisme-liberalisme menggantikan peran
Pancasila sebagai Dasar Negara. Hal itu nyata sekali dalam berhasilnya UUD 1945
di-amandemen pada tahun 2002.

Keberhasilan itu tentu akan diikuti langkah-langkah berikut agar akhirnya Pancasila
tidak ada lagi di Indonesia. Yang jelas nampak terjadi adalah perkembangan ekonomi
yang makin kuat mengikuti dasar individualisme-liberalisme. Proses ini dilakukan
dan dipimpin oleh manusia Indonesia sendiri, dengan bantuan pihak asing yang
berkepentingan. Itu berarti bahwa makin banyak manusia Indonesia yang setuju, atau
sekurangnya tidak keberatan, kehidupan di Indonesia dilandasi individualisme-
liberalisme.

xvi
Namun sebaliknya dan anehnya pula, mereka tidak berani atau sanggup menyatakan
pendapat mereka itu secara terbuka, apalagi terang-terangan memperjuangkan
pandangan mereka untuk mengganti Pancasila sebagai Dasar Negara RI. Hal ini lebih
banyak disebabkan oleh sikap munafik dari pada merupakan taktik perjuangan.
Keadaan yang sudah cukup mengacaukan demokrasi Indonesia itu ditambah oleh
sikap dan usaha agresif kalangan tertentu di Timur Tengah yang melawan dunia Barat
yang hendak mendominasi dunia. Usaha kalangan itu diberi landasan agama Islam
dan dilakukan secara fisik untuk melawan Amerika Serikat dan sekutunya di seluruh
dunia, termasuk di Indonesia.

Memang Indonesia sebagai bangsa dengan umat Islam terbesar di dunia merupakan
sasaran masuk akal bagi usaha kalangan Timur Tengah itu. Karena lemahnya
Pancasila, maka usaha itu makin berhasil meluaskan dukungannya di Indonesia.
Tujuan kalangan itu untuk mendirikan Negara Islam Indonesia jelas mengancam
Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pancasila. Caranya mencapai tujuan, antara
lain dengan terorisme, menimbulkan masalah yang tidak sederhana bagi bangsa
Indonesia dan berkembangnya demokrasi di Indonesia.Usaha dari luar ini juga
berusaha mendapat dukungan luas dari manusia Indonesia.

Kedua, kelemahan faktor Manusia ditimbulkan juga oleh sifat manja-mental. Manusia
Indonesia pada dasarnya mempunyai kecerdasan yang tinggi, hal mana dibuktikan
oleh banyak prestasi Manusia Indonesia kalau mengikuti pendidikan sekolah di dalam
dan luar negeri. Akan tetapi karena ada sifat manja-mental maka ada kecenderungan
kurangnya kemampuan atau kesediaan untuk mengaplikasikan pengetahuan yang
dimiliki.
Hal itu tampak jelas sekali dalam masyarakat, baik di lingkungan Eksekutif termasuk
Birokrasi, Legislatif maupun Yudikatif. Bahkan juga di lingkungan Swasta dan bisnis
yang seharusnya mengembangkan daya saing tinggi. Ada sikap Buat apa Capek, hal
mana didukung kecakapan manusia itu mencari alasan pembenaran sikapnya. Itu

xvii
sebabnya kita sering mendengar pemimpin atau calon pemimpin pemerintahan
memberikan janji, tetapi jarang sekali janji itu menjadi kenyataan.

Bahkan ada seorang mantan menteri yang secara terang-terangan mengatakan kepada
orang yang menagih janjinya : Kamu toh sudah saya beri janji, itu sudah banyak !
Dari yang paling atas di negara ini hingga ke paling bawah manusia suka sekali
berwacana tanpa diikuti realisasinya yang kongkrit.
Mana mungkin terwujud demokrasi ekonomi kalau para pemimpin pemerintahan
hanya mewacanakan kesejahteraan rakyat tanpa realisasinya. Masih ditambah lagi
oleh sikap dan cara bekerja manusia di Birokrasi.

Kalau pun Presiden dan menteri mau menetapkan usaha yang meningkatkan
kesejahteraan rakyat, tidak jarang usaha itu berhasil nihil atau minimal karena
manusia dalam Birokrasi tidak menjalankan kerjanya dengan semestinya. Bukannya
mereka itu tidak tahu apa yang harus mereka kerjakan ! Akan tetapi mereka berpikir,
untuk apa harus kerja keras.

Hal itu juga berpengaruh pada demokrasi politik, ketika para anggota DPR dan
DPRD tidak malu-malu absen tidak menghadiri sidang. Kalau menghadiri sidang pun
belum tentu mau bersikap giat mewujudkan apa yang mereka ketahui, bahkan apa
yang mereka yakini, yang harus mereka lakukan sebagai wakil kepentingan Rakyat.

Ketiga, kurang daya tahan masyarakat Indonesia menghadapi pengaruh Uang dan
Benda. Memang materialisme makin meluas dan menguat di dunia dan mau tidak
mau juga masuk Indonesia. Kalau masyarakat kurang mampu menghasilkan daya
tahan terhadap dampak negatif materialisme, maka terjadi perkembangan yang amat
merugikan. Sebab segala sesuatu hanya diukur dengan Uang dan Benda. Segala aspek
kehidupan masyarakat dikuasai Uang dan Benda serta mereka yang menguasai Uang
dan Benda.

xviii
Dan itulah yang terjadi di Indonesia dengan amat kuat. Dalam kehidupan politik
setiap pemilihan tidak pernah lepas dari jumlah uang yang dikumpulkan calon yang
ingin dipilih. Pemilihan Bupati dan bahkan anggota DPRD ditentukan oleh besarnya
jumlah uang yang dapat dikumpulkannya, lebih besar lagi jumlah itu untuk calon
Gubernur dan pasti makin besar untuk calon Presiden dan Wakil Presiden.

Hal inilah yang membuat Korupsi hal yang mudah terjadi di Indonesia. Etika dan
Moralitas makin sukar ditemukan dalam kehidupan, khususnya dalam dunia politik,
kecuali dalam bentuk wacana dan pidato.
Sebenarnya masyarakat dapat menimbulkan daya tahan untuk tidak dikuasai oleh
Uang dan Benda. Sebagai contoh di Jepang adalah faktor Budaya Malu dan kuatnya
Solidaritas Kelompok. Sehingga dengan begitu kuasa Uang dan Benda dapat
diminimalkan.

Indonesia yang selalu membanggakan perkembangan kuat dari Agama, baik Islam
maupun lainnya, sebenarnya juga dapat membangun Daya Tahan itu Sebab ajaran
Agama jelas sekali tidak membolehkan manusia dikuasai Uang dan Benda. Namun
nampaknya di Indonesia perkembangan Agama dilihat sebagai hal terpisah dari
keperluan Uang dan Benda. Sebab itu tidak mengherankan adanya pemimpin agama
dan orang-orang yang menunjukkan kehidupan yang kuat agama, ternyata korup atau
suka sekali uang.

Tiga hal itu, yaitu kekurangmampuan menghadapi perluasan pengaruh cara berpikir
asing, sikap manja-mental dan kurangkemampuan menghadapi materialisme ,
merupakan tantangan utama bagi terwujudnya demokrasi Indonesia yang kita
perlukan.

Kepemimpinan dan Pendidikan yang Tepat

xix
Usaha utama untuk mengatasi tantangan itu adalah Kepemimpinan dan Pendidikan.
Di samping itu sangat penting adanya manusia Indonesia yang tidak terlalu
terpengaruh tiga faktor penghambat tadi sehingga dapat dinilai sebagai orang yang
tidak lemah . Biasanya dalam segala hal, termasuk kecenderungan manusia yang
lemah di Indonesia, dapat terjadi Perkecualian. Pasti masih ada manusia Indonesia
yang cukup tegar menghadapi pengaruh usaha asing, tidak termasuk yang manja-
mental dan mampu menghadapi Uang dan Benda secara proporsional. Melalui
Manusia Indonesia yang merupakan Perkecualian itu kita harus menghasilkan
Kepemimpinan dan Pendidikan yang efektif bagi kepentingan Indonesia dan
Pancasila.

Perkembangan Indonesia di masa depan sangat ditentukan oleh terwujudnya


Kepemimpinan Nasional yang orang-orangnya termasuk perkecualian itu, orang-
orang yang tidak tergolong lemah. Terutama diperlukan orang-orang yang yakin
benar kepada Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pandangan Hidup Bangsa
Indonesia. Kepemimpinan Nasional yang bersikap demikian, dapat diambil langkah-
langkah untuk menjadikan Pancasila kenyataan di Indonesia. Itu dibarengi usaha
memperkuat Pancasila sebagai keyakinan di lingkungan luas bangsa, termasuk di
Daerah-Daerah, sehingga dapat menghadapi usaha agressif dari pihak penentang
Pancasila secara efektif.

Selain itu dapat diusahakan agar sifat manja-mental makin berkurang dan manusia
Indonesia tidak kalah giatnya dalam kerja dengan manusia Asia lainnya. Demikian
pula mampu melakukan usaha untuk makin mengurangi dampak negatif Benda dan
Uang serta makin habisnya Korupsi di Indonesia.

Usaha itu tidak lepas dari kemampuan Kepemimpinan Nasional untuk membangun
dukungan di semua Daerah di Indonesia dan di segala lapisan masyarakat. Usaha ini
sangat tergantung pada kemampuan untuk menemukan orang-orang yang termasuk

xx
Perkecualian di Pusat dan Daerah dan berbagai lingkungan Kerja, khususnya untuk
menjadi critical mass dalam banyak perubahan yang harus dilakukan .

Namun usaha fundamental yang harus kita lakukan adalah Pendidikan. Sebab hanya
melalui pendidikan yang tepat dapat kita bangun landasan untuk perkembangan
manusia Indonesia di masa depan. Kita harus membangun manusia yang lebih cerdas
dan pandai menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang makin maju. Akan tetapi
tidak kalah pentingnya, bahkan lebih penting, adalah pembentukan karakter yang kuat
pada manusia Indonesia. Dengan begitu pengetahuan dan kecakapan akan diterapkan
dan diaplikasikan untuk kemajuan bangsa. Juga karakter yang kuat itu penting untuk
membangun keyakinan pada Pancasila sebagai Dasar Negara. Akan dapat dibangun
pula pemahaman bahwa moralitas sangat penting dan perlu dipunyai untuk
menghadapi Materialisme yang makin agressif di mana-mana.

Nasionalisme yang tumbuh kuat memungkinkan terwujudnya sikap yang melihat


faktor luar negeri secara proporsional dan bermanfaat bagi perkembangan bangsa.
Tidak menolak faktor asing dan mengambil yang bermanfaat bagi bangsa Indonesia,
tetapi mampu menolak pengaruh dan kecenderungan luar negeri yang tidak sesuai
dengan keperluan bangsa Indonesia.

Pendidikan karakter yang baik membangun manusia Indonesia sejak remaja untuk
pandai hidup bersama secara harmonis, hidup berdisiplin, toleran terhadap orang lain
disertai sopan santun sesuai adat istiadat bangsa. Akan tetapi juga membangun
manusia Indonesia untuk selalu mengejar yang terbaik, berorientasi pada pencapaian
prestasi (achievement oriented) , yang membuat dirinya dan bangsanya mandiri serta
menjadikan segala keunggulan sumberdaya alam Indonesia memberikan manfaat bagi
bangsanya.

Ini semua memerlukan pelaksanaan pendidikan bermutu yang dilakukan melalui


pendidikan dalam Keluarga, pendidikan Sekolah dan pendidikan Masyarakat. Mereka

xxi
yang merupakan Kepemimpinan nasional harus mampu menjadi tauladan bagi
Keluarga-Keluarga Indonesia di mana-mana dan mengajak para pemimpin bangsa
lainnya hal itu dalam melakukan pendidikan di keluarga masing-masing.
Kepemimpinan nasional juga harus memilih orang-orang yang tepat untuk
memimpin dan menyelenggarakan pendidikan sekolah yang amat luas itu dan
menyediakan sumberdaya dan dana memadai untuk menjadikan pendidikan sekolah
sukses dan keberhasilan nasional.

Pendidikan Sekolah yang bermutu dilakukan di Pusat maupun Daerah dan harus
mencapai seluruh rakyat secara adil dan merata. Terbentang dari Taman Kanak-
Kanak hingga Pendidikan Tinggi serta berbagai kegiatan pendidikan yang
memperkuat pendidikan sekolah formal. Kepemimpinan nasional harus merangsang
terwujudnya pendidikan dalam masyarakat yang besar manfaatnya bagi masyarakat
dan bangsa.

Melalui pendidikan ini akan berkembang Bangsa dan Manusia Indonesia yang dapat
menjadikan Pancasila kenyataan dan kekuatan yang berguna tidak saja bagi
Indonesia, tetapi juga bagi Dunia dan Umat manusia. Termasuk di dalamnya adalah
terwujudnya Demokrasi Indonesia yang kita perlukan. Pendidikan harus menjadi
Strategi Utama bangsa Indonesia dalam mewujudkan Tujuan Nasional. Memang
pelaksanaannya sukar mencapai hasil dalam waktu singkat dan memerlukan satu
proses yang mungkin bertahun-tahun. Sebab itu diperlukan sikap bangsa yang
konsisten dan ulet mengejar tujuan, terutama para pemimpinnya di semua lapisan dan
aspek kehidupan, baik di Pusat maupun Daerah.

Dengan faktor Manusia yang makin kondusif maka akan terwujud kesesuaian antara
Sistem dan Manusia sehingga Demokrasi Indonesia atau Demokrasi berlandaskan
Pancasila akan berkembang dan makin kuat.

xxii
Penutup

Demikianlah Demokrasi yang cocok bagi Bangsa Kita sebagai bagian tak terpisahkan
dari perkembangan bangsa Indonesia seluruhnya. Mungkin sementara orang akan
menilai pandangan ini utopis dan menganggap pandangan saya tidak mungkin
terwujud, khususnya dengan melihat keadaan di Indonesia sekarang.

Akan tetapi kita harus sadar bahwa di dunia dan alam ini acap kali terjadi hal yang
unpredictable. Siapa di tahun-tahun 1960-an ketika China sedang dilanda Revolusi
Kebudayaan, berani mengatakan bahwa China akan menjadi kekuatan ekonomi besar
di dunia, bahkan akan melampaui AS ? Ketika itu masyarakat China kacau bukan
main. Anak sampai hati membunuh ayahnya sendiri dan bahkan membunuh secara
keji para pemimpinnya kalau dianggap pikirannya kurang sesuai dengan Mao
Zedong. Antara lain marskal Peng Teh-huai pahlawan China melawan AS di Perang
Korea, dibunuh secara kejam di penjara. Waktu itu mungkin di seluruh dunia tidak
ada yang berani mempredik bahwa Deng Xiaoping yang telah tiga kali dibuang Mao
Zedong, masih sanggup bangkit kembali setelah wafatnya Mao pada tahun 1976 dan
menyingkirkan Gang of Four yang memegang peran utama dalam Revolusi
Kebudayaan. Serta kemudian mulai tahun 1979 secara gemilang sanggup memimpin
bangkitnya China sebagai kekuatan utama dunia. Inilah bukti bahwa kalau Tuhan
menghendaki sesuatu tak ada yang dapat merintangi.

Memang dalam Alam ini tidak ada yang mustahil. Kalau ada orang-orang dengan
kemauan dan keyakinan yang kuat berusaha mencapai sesuatu dan usaha itu diridhoi
Tuhan Yang Maha Esa, maka hal yang dianggap mustahil bisa menjadi kenyataan .
Sebab itu kita pun yakin bahwa di Indonesia dapat terjadi perubahan yang mungkin
nampaknya sekarang mustahil, sehingga Pancasila menjadi Kenyataan dan kita
mempunyai Demokrasi yang sesuai dengan keperluan bangsa Indonesia.

xxiii
Kalau kemarin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan permulaan
Reformasi Tahap Kedua, maka hal inilah yang harus dilakukan. Hanya itulah jalan
menuju keberhasilan Reformasi.Semoga para pemimpin Indonesia menjadi sadar
akan masalah bangsanya yang mendasar dan memimpin perjuangan yang makin
nyata mendekatkan bangsa pada pencapaian Tujuan Nasional : masyarakat yang adil
dan sejahtera berdasarkan Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia

THURSDAY, JULY 25, 2013


Penjelasan Tentang Demokrasi

Secara etimologi pengertian demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yakni demos
yang artinya rakyat dan kratos/kratein artinya kekuasaan/ berkuasa. Jadi demokrasi
adalah kekuasaan ada ditangan rakyat.
Dalam hal ini demokrasi berasal dari pengertian bahwa kekuasaan ada di tangan
rakyat. Maksudnya kekuasaan yang baik adalah kekuasaan yang berasal dari rakyat,
oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Perilaku demokrasi dalam kehidupan sehari-hari, yaitu :


1) Menjunjung tinggi persamaan,

xxiv
2) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban,
3) Membudayakan sikap bijak dan adil,
4) Membiasakan musyawarah mufakat dalam mengambil keputusan, dan
5) Mengutamakan persatuan dan kesatuan nasional.

Macam macam demokrasi :


1. Demokrasi Liberal
adalah suatu demokrasi yang menempatkan kedudukan badan legislatif lebih tinggi
dari pada badan eksekutif. Kepala pemerintahan dipimpin oleh seorang Perdana
Menteri. Perdana menteri dan menteri-menteri dalam kabinet diangkat dan
diberhentikan oleh parlemen. Dalam demokrasi parlementer Presiden menjabat
sebagai kepala negara. Demokrasi Liberal sering disebut sebagai demokrasi
parlementer. Di indonesia demokrasi ini dilaksanakan setelah keluarnya Maklumat
Pemerintah NO.14 Nov. 1945. Menteri bertanggung jawab kepada parlemen.
Demokrasi liberal lebih menekankan pada pengakuan terhadap hak-hak warga
negara, baik sebagai individu ataupun masyarakat. Dan karenanya lebih bertujuan
menjaga tingkat represetansi warganegara dan melindunginya dari tindakan
kelompok atau negara lain.

Ciri-ciri demokrasi liberal :


1. Kontrol terhadap negara, alokasi sumber daya alam dan manusiadapat terkontrol
2. Kekuasaan eksekutif dibatasi secara konstitusional
3. Kekuasaan eksekutif dibatasi oleh peraturan perundangan
4. Kelompok minoritas (agama, etnis) boleh berjuang, untuk memperjuangkan
dirinya.

Masa Demokrasi Liberal ( 1950-1959 )


Pada tahun 1950, Negara Kesatuan Republik Indonesia mempergunakan Undang-
Undang Dasar Sementara (UUDS) atau juga disebut Undang-Undang Dasar 1950.
Berdasarkan UUD tersebut pemerintahan yang dilakukan oleh kabinet sifatnya

xxv
parlementer, artinya kabinet bertanggung jawab pada parlemen. Jatuh bangunnya
suatu kabinet bergantung pada dukungan anggota parlemen.
Ciri utama masa Demokrasi Liberal adalah sering bergantinya kabinet. Hal ini
disebabkan karena jumlah partai yang cukup banyak, tetapi tidak ada partai yang
memiliki mayoritas mutlak. Setiap kabinet terpaksa didukung oleh sejumlah partai
berdasarkan hasil usaha pembentukan partai (kabinet formatur). Bila dalam
perjalanannya kemudian salah satu partai pendukung mengundurkan diri dari kabinet,
maka kabinet akan mengalami krisis kabinet. Presiden hanya menunjuk seseorang
( umumnya ketua partai ) untuk membentuk kabinet, kemudian setelah berhasil
pembentukannya, maka kabinet dilantik oleh Presiden.
Suatu kabinet dapat berfungsi bila memperoleh kepercayaan dari parlemen, dengan
kata lain ia memperoleh mosi percaya. Sebaliknya, apabila ada sekelompok anggota
parlemen kurang setuju ia akan mengajukan mosi tidak percaya yang dapat berakibat
krisis kabinet. Selama sepuluh tahun (1950-1959) ada tujuh kabinet, sehingga rata-
rata satu kabinet hanya berumur satu setengah tahun. Kabinet-kabinet pada masa
Demokrasi Parlementer adalah :
a. Kabinet Natsir (7 September 1950-21 Maret 1951)
b. Kabinet Soekiman (27 April 1951-23 Februari 1952)
c. Kabinet Wilopo (3 April 1952-3 Juni 1953)
d. Kabinet Ali-Wongso ( 1 Agustus 1953-24 Juli 1955 )
e. Kabinet Burhanudin Harahap
f. Kabinet Ali II (24 Maret 1957)
g. Kabinet Djuanda ( 9 April 1957-10 Juli 1959 )

2. Demokrasi Terpimpin
Sistem Demokrasi Terpimpin mempunyai pengertian corak demokrasi yang mengenal
satu pemimpin menuju tujuan suatu masyarakat yang berkeadilan sosial. Demokrasi
Terpimpin merupakan pengganti Demokrasi Liberal yang gagal. Perubahan ini lebih
sesuai dengan tuntutan UUD 1945, karena hal berikut :

xxvi
a. Demokrasi Terpimpin mengandung arti demokrasi yang dipimpin oleh hikmah
kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/perwakilan, yang berarti demokrasi yang
dipimpin Pancasila alias Demokrasi Pancasila.
b. Kedudukan menteri tidak lagi bergantung pada parlemen, tetapi kepada Presiden
(Kabinet Presidensial). Demokrasi Terpimpin diawali sejak Dekrit Presiden Juli 1959
dengan bentuk kabinet Presidensial. Perubahan Sistem Demokrasi menjadi
Demokrasi Terpimpin yang terjadi Indonesia diharapkan dapat mewujudkan stabilitas
pemerintahan, tapi semua itu hanya angan angan saja. Hal ini disebabkan karena hal
berikut :
1. Demokrasi terpimpin prakteknya lebih ditekankan dengan terpimpinnya
demokrasi, sehingga mengarahkan pemerintahan diktator. Segala sesuatu dilakukan
secara revolusi dengan pemimpinnya, Ir. Soekarno
2. Kedudukan presiden secara tidak sadar lebih kuat dari sebelumnya, sehingga
Presiden secara tidak langsung berkuasa di semua bidang politik. Ciri ciri
Demokrasi Terpimpin di Indonesia :
Dominasi dari presiden
Bekonsepsi NASAKOM ( nasionalisme, agama, komunisme )
Konstitusi UUD 1945
Dampak Demokrasi Terpimpin
A. Positif
1. Kemiliteran lebih terkoordinir
2. Indonesia berhasil merebut Irian Barat dari Belanda
3. Perebutan Irian Barat oleh Indonesia mendapat dukunagn PKI
4. Indonesia menjadi pendiri Gerakan Non Blok
B. Negatif
1. Pemerintahan otoriter
2. Penumpukan kekuasaaan di tangan Presiden
3. Korupsi mewabah
4. Sektor Ekonomi melemah
5. Tidak terwujudnya stabilitas pemerintahan

xxvii
6. Presiden melakukan banyak penyimpangan
Demokrasi terpimpin di Indonesia dimulai sejaK dikeluarkannya Surat Perintah
Sebelas Maret pada tanggal 11 maret 1966. Demokrasi terpimpin di Indonesia
dimaksudkan oleh Sukarno sebagai demokrasi yang sesuai dengan kepribadian
bangsa, yang berbeda dengan system demokrasi liberal yang merupakan produk dari
barat, tetapi pada pelaksanaannya, Demokrasi Terpimpin mengalami bentuk macam
penyimpangan. Penyimpangan-penyimpangan tersebut diakibatkan oleh terpusatnya
kekuatan politik pada Presiden Soekarmo. Era tahun 1959 sampai dengan 1966
merupakan era Soekarno, yaitu ketika keijakan-kebijakan Presiden Soekarno sangat
mempengaruhi kondisi politik Indonesia. Kebijakan Pemerintah Setelah Dekrit
Presiden 5 Juli 1959 :
a. Pembentukan MPRS
Sesuai dengan diktum dekrit, maka Presiden Soekarno membentuk Majelis
Permusyawaratan Rakyat Sementara berdasarkan Penpres no.2 tahun 1959. Seluruh
anggota MPRS tidak diangkat melalui pemilihan umum, tetapi diangkat dan
diberhentikan oleh Presiden dengan 3 syarat, yaitu :
1. Setuju kembali kepada UUD 1945
2. Setia kepada perjuangan RI
3. Setuju kepada manifesto politik
Dalam siding-sidangnya, MPRS telah mengeluarkan beberapa kebijakan penting
seperti :
1. Penetapan manifesto politik RI sebagai bagian dari GBHN
2. Penetapan Garis-garis Besar Pembangunan Nasional Berencana tahap 1 (1961-
1969)
3. Menetapkan Presidan Soekarno sebagai Presiden seumur hidup
b. Pembentukan DPAS
DPAS dibentuk oleh Presiden Soekarno, dan diketuai langsung oleh Presiden sendiri,
dan yang menjadi wakil ketua adalah Ruslan Abdul Gani.
c. Pembentukan Kabinet Kerja

xxviii
Kabinet kerja dipimpin oleh Presiden Soekarno sebagai Perdana Menteri dan Ir.
Juanda sebagai menteri pertama
d. Pembentukan Front Nasional
Front Nasional merupakan lembaga ekstra parlementer yang dibentuk dengan tujuan
1. Menyelesaikan revolusi nasional Indonesia
2. Melaksanakan pembangunan semesta nasional
3. Mengembalikan Irian Jaya ke wilayah RI
e. Penataan Organisasi Pertahanan dan Keamanan
Penataan ini meliputi digabungkannya TNI dan Polri kedalam satu wadah yaitu
ABRI, sehingga dengan demikian ABRI terdiri dari Angkatan Darat, Angkatan Laut,
Angkatan Udara, dan Angkatan Kepolisian
f. Penyederhanaan Partai-partai Politik
Penyederhanaan yang dimaksud adalah pembubaran partai-partai politik yang tidak
sesuai dengan Penpres no.7 tahun 1959
g. Penyederhanaan Ekonomi
1. Pembentukan Depernas
2. Melakukan Devaluasi mata uang rupiah
3. Mengeluarkan peraturan dibidang ekspor-impor (peraturan 26 mei)
4. Mengeluarkan Deklarasi Ekonomi (Dekon)
5. Membentuk Badan Musyawarah Pengusaha Swasta Nasional (Bamunas)

3. DEMOKRASI SOSIALIS
Demokrasi Sosialis adalah demokrasi yang sangat membatasi agama pada rakyatnya,
dengan prinsip agama dianggap candu yang membuat orang berangan-angan yang
membatasi rakyatnya dari pemikiran yang rasional dan nyata.
Demokrasi Sosialis muncul karena adanya Komunisme. Awalnya Komunisme lahir
sebagai reaksi terhadap kapitalisme di abad ke-19, yang mana mereka itu
mementingkan individu pemilik dan mengesampingkan buruh. Sosialisme adalah
ideologi yang digunakan partai Sosialis di seluruh dunia. Sosialisme sebagai anti
kapitalisme menggunakan sistem sosialisme sebagai alat kekuasaan, dimana

xxix
kepemilikan modal atas individu sangat dibatasi. Prinsip semua adalah milik rakyat
dan dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat secara merata. Sosialisme sangat
membatasi demokrasi pada rakyatnya, dan karenanya Sosialisme juga disebut anti
liberalisme. Dalam Sosialisme perubahan sosial harus dimulai dari peran Partai
Komunis. Masyarakat Komunis-Sosialis mendefinisikan rakyat sebagai lapisan rakyat
yang menurut mereka, adalah rakyat miskin dan tertindas di segala bidang kehidupan.
Rakyat miskin (kaum proletar dan buruh) akan memimpin revolusi sosialis melalui
wakil-wakil mereka dalam partai Sosialis. Kepentingan yang harus diperjuangkan
bukanlah kemerdekaan pribadi. Bahkan, kemerdekaan pribadi menurut masyarakat
sosialis-Sosialis harus ditiadakan karena satu-satunya kepentingan hanyalah
kepentingan rakyat secara kolektif, yang dalam hal ini diwakili oleh partai Sosialis.
Dengan demikian masyarakat Komunis-Sosialis, juga mengakui kedaulatan rakyat.
Mereka pun menjunjung tinggi demokrasi, yang dikenal sebagai demokrasi Sosialis.

4. DEMOKRASI PANCASILA
Demokrasi Pancasila adalah paham demokrasi yang bersumber kepada kepribadian
dan filsafat bangsa Indonesia yang perwujudannya seperti tertuang dalam Pembukaan
UUD 1945.
Di Indonesia, Demokrasi Pancasila berlaku semenjak Orde Baru. Demokrasi
pancasila dijiwai, disemangati dan didasari nilai-nilai pancasila.
DASAR Demokrasi Pancasila :
Kedaulatan Rakyat (Pembukaan UUD 45) Negara yang berkedaulatan - Pasal 1 ayat
(2) UUD 1945.
MAKNA Demokrasi Pancasila :
Keikutsertaan rakyat kehidupan bermasyarakat dan kehidupan bernegara ditentukan
peraturan.
Periode 1966-1998, masa demokrasi Pancasila era orde baru yang merupakan
demokrasi konstitusional yang menonjolkan sistem presidensial. Landasan formal
periode ini adalah Pancasila,UUD 1945 dan Ketetapan MPRS/MPR dalam rangka

xxx
untuk meluruskan kembali penyelewengan terhadap UUD 1945 yang terjadi di masa
Demokrasi terpimpin.
Dalam demokrasi Pancasila Rakyat adalah Subjek demokrasi, yaitu rakyat sebagai
keseluruhan berhak ikut serta aktif menentukan keinginan-keinginan dan juga
sebagai pelaksana dari keinginan-keinginan itu. Keinginan rakyat tersebut disalurkan
melalui lembaga-lembaga perwakilan yang ada yang dibentuk melalui Pemilihan
Umum.
Prinsip pokok Demokrasi Pancasila adalah sebagai berikut:
1. Pemerintahan berdasarkan hukum.
Dalam penjelasan UUD 1945 dikatakan: Indonesia ialah negara berdasarkan hukum
(rechtstaat) dan tidak berdasarkan kekuasaan belaka (machtstaat), Pemerintah
berdasar atas sistem konstitusi (hukum dasar) tidak bersifat absolutisme (kekuasaan
tidak terbatas), Kekuasaan yang tertinggi berada di tangan MPR. Perlindungan
terhadap hak asasi manusia, Pengambilan keputusan atas dasar musyawarah.
2. Peradilan yang merdeka, berarti badan peradilan (kehakiman) merupakan badan
yang merdeka, artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah dan kekuasaan
lain contoh Presiden, BPK, DPR, DPA atau lainnya.
3. Adanya partai politik dan organisasi sosial politik, karena berfungsi Untuk
menyalurkan aspirasi rakyat
4. Pelaksanaan Pemilihan Umum
Kedaulatan adalah ditangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh MPR (pasal 1 ayat
2 UUD 1945), Keseimbangan antara hak dan kewajiban.
5. Pelaksanaan kebebasan yang bertanggung jawab secara moral kepada Tuhan
YME, diri sendiri, masyarakat, dan negara ataupun orang lain.
6. Menjunjung tinggi tujuan dan cita-cita Nasional

xxxi