Vous êtes sur la page 1sur 19

1

LAPORAN PENDAHULUAN

SCHIZOFRENIA

OLEH
Nama : Ida Ayu Made Ari Santi Tisnasari
Tingkat : IIIA
NIM : 12C10741

PRODI ILMU KEPERAWATAN


STIKES BALI
2014
2

A. LAPORAN PENDAHULUAN SCHIZOFRENIA


Konsep Dasar Skizofrenia
1. Pengertian
Skizofrenia adalah suatu diskripsi sindrom dengan variasi penyebab
(banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis
atau deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada
pertimbangan pengaruh genetik, fisik dan sosial budaya (Rusdi Maslim,
1997; 46).

2. Penyebab
a. Keturunan
Telah dibuktikan dengan penelitian bahwa angka kesakitan bagi saudara tiri
0,9-1,8 %, bagi saudara kandung 7-15 %, bagi anak dengan salah satu
orang tua yang menderita Skizofrenia 40-68 %, kembar 2 telur 2-15 % dan
kembar satu telur 61-86 % (Maramis, 1998; 215 ).

b. Endokrin
Teori ini dikemukakan berhubung dengan sering timbulnya Skizofrenia
pada waktu pubertas, waktu kehamilan atau puerperium dan waktu
klimakterium., tetapi teori ini tidak dapat dibuktikan.

c. Metabolisme
Teori ini didasarkan karena penderita Skizofrenia tampak pucat, tidak sehat,
ujung extremitas agak sianosis, nafsu makan berkurang dan berat badan
menurun serta pada penderita dengan stupor katatonik konsumsi zat asam
menurun. Hipotesa ini masih dalam pembuktian dengan pemberian obat
halusinogenik.

d. Susunan saraf pusat


Penyebab Skizofrenia diarahkan pada kelainan SSP yaitu pada diensefalon
atau kortek otak, tetapi kelainan patologis yang ditemukan mungkin
3

disebabkan oleh perubahan postmortem atau merupakan artefakt pada


waktu membuat sediaan.

e. Teori Adolf Meyer :


Skizofrenia tidak disebabkan oleh penyakit badaniah sebab hingga sekarang
tidak dapat ditemukan kelainan patologis anatomis atau fisiologis yang khas
pada SSP tetapi Meyer mengakui bahwa suatu suatu konstitusi yang inferior
atau penyakit badaniah dapat mempengaruhi timbulnya Skizofrenia.
Menurut Meyer Skizofrenia merupakan suatu reaksi yang salah, suatu
maladaptasi, sehingga timbul disorganisasi kepribadian dan lama kelamaan
orang tersebut menjauhkan diri dari kenyataan (otisme).

f. Teori Sigmund Freud


Skizofrenia terdapat (1) kelemahan ego, yang dapat timbul karena penyebab
psikogenik ataupun somatik (2) superego dikesampingkan sehingga tidak
bertenaga lagi dan Id yamg berkuasa serta terjadi suatu regresi ke fase
narsisisme dan (3) kehilangaan kapasitas untuk pemindahan (transference)
sehingga terapi psikoanalitik tidak mungkin.

g. Eugen Bleuler
Penggunaan istilah Skizofrenia menonjolkan gejala utama penyakit ini yaitu
jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses
berfikir, perasaan dan perbuatan. Bleuler membagi gejala Skizofrenia
menjadi 2 kelompok yaitu gejala primer (gaangguan proses pikiran,
gangguan emosi, gangguan kemauan dan otisme) gejala sekunder (waham,
halusinasi dan gejala katatonik atau gangguan psikomotorik yang lain).

h. Teori lain
Skizofrenia sebagai suatu sindroma yang dapat disebabkan oleh bermacam-
macaam sebab antara lain keturunan, pendidikan yang salah, maladaptasi,
tekanan jiwa, penyakit badaniah seperti lues otak, arterosklerosis otak dan
4

penyakit lain yang belum diketahui.

i. Ringkasan
Sampai sekarang belum diketahui dasar penyebab Skizofrenia. Dapat
dikatakan bahwa faktor keturunan mempunyai pengaruh. Faktor yang
mempercepat, yang menjadikan manifest atau faktor pencetus (presipitating
factors) seperti penyakit badaniah atau stress psikologis, biasanya tidak
menyebabkan Skizofrenia, walaupun pengaruhnyaa terhadap suatu penyakit
Skizofrenia yang sudah ada tidak dapat disangkal.( Maramis, 1998;218 ).

3. Pembagian Skizofrenia
Kraepelin membagi Skizofrenia dalam beberapa jenis berdasarkan gejala
utama antara lain :
a. Skizofrenia Simplek
Sering timbul pertama kali pada usia pubertas, gejala utama berupa
kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berfikir
sukar ditemukan, waham dan halusinasi jarang didapat, jenis ini timbulnya
perlahan-lahan.

b. Skizofrenia Hebefrenia
Permulaannya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa
remaja atau antara 15-25 tahun. Gejala yang menyolok ialah gangguan
proses berfikir, gangguan kemauaan dan adaanya depersenalisasi atau
double personality. Gangguan psikomotor seperti mannerism, neologisme
atau perilaku kekanak-kanakan sering terdapat, waham dan halusinaasi
banyak sekali.

c. Skizofrenia Katatonia
Timbulnya pertama kali umur 15-30 tahun dan biasanya akut serta sering
didahului oleh stress emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik
atau stupor katatonik.
5

d. Skizofrenia Paranoid
Gejala yang menyolok ialah waham primer, disertai dengan waham-waham
sekunder dan halusinasi. Dengan pemeriksaan yang teliti ternyata adanya
gangguan proses berfikir, gangguan afek emosi dan kemauan.

e. Episode Skizofrenia akut


Gejala Skizofrenia timbul mendadak sekali dan pasien seperti dalam
keadaan mimpi. Kesadarannya mungkin berkabut. Dalam keadaan ini
timbul perasaan seakan-akan dunia luar maupun dirinya sendiri berubah,
semuanya seakan-akan mempunyai suatu arti yang khusus baginya.

f. Skizofrenia Residual
Keadaan Skizofrenia dengan gejala primernya Bleuler, tetapi tidak jelas
adanya gejala-gejala sekunder. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali
serangan Skizofrenia.

g. Skizofrenia Skizo Afektif


Disamping gejala Skizofrenia terdapat menonjol secara bersamaaan juga
gejala-gejal depresi (skizo depresif) atau gejala mania (psiko-manik). Jenis
ini cenderung untuk menjadi sembuh tanpa defek, tetapi mungkin juga
timbul serangan lagi.

Konsep Dasar Skizofrenia Hebefrenik


1. Batasan : Salah satu tipe skizofrenia yang mempunyai ciri ;
1. Inkoherensi yang jelas dan bentuk pikiran yang kacau
(disorganized).
2. Tidak terdapat wamam yang sistemik
3. Efek yang datar dan tak serasi / ketolol tololan.
6

2. Gejala Klinik
Gambaran utama skizofrenia tipe hebefrenik berupa :
- Inkoherensi yang jelas
- Afek datar tak serasi atau ketolol tololan.
- Sering disertai tertawa kecil (gigling) atau senyum tak wajar.
- Waham / halusinasi yang terpecah pecah isi temanya tidak
terorganisasi sebagai suatu kesadaran, tidak ada waham sistemik yang
jelas gambaran penyerta yang sering di jumpai.
- Menyertai pelangaran (mennerism) berkelakar.
- Kecenderungan untuk menarik diri secara ekstrem dari hubungan
sosial.
- Berbagai perilaku tanpa tujuan.

Gambaran klinik ini di mulai dalam usia muda (15-25 th) berlangsung
pelan pelan menahan tanpa remisi yang berarti peterroasi kepribadian
dan sosial terjadi paling hebat di banding tipe yang lain.
7

Konsep Dasar Halusinasi


1. Pengertian
Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan
rangsangan internal pikiran dan rangsang eksternal (dunia luar) klien
memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa ada obyek atau
rangsangan yang nyata, misalnya : klien menyatakan mendengar suara.
Padahal tidak ada orang yang bicara.

2. Proses terjadinya halusinasi


Fase pertama
Klien mengalami stress, cemas, perasaan perpisahan, kesepian yang
memuncak dan tidak dapat di selesaikan, klien mulai melamun dan
memikirkan hal hal yang menyenangkan cara ini hanya menolong
sementara.

Fase kedua
Kecemasan meningkatkan, menurun dan berpikir sendiri jadi
dominan. Mulai dirasakan ada bisikan yang tidak jelas, klien tidak ingin
orang lain tahu ia tetap dapat mengontrol.

Fase ketiga.
Bisikan, suara, isi halusinasi semakin menonjol, menguasai dan
mengotrol klien, Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap
halusinasinya.

Fase keempat
Halusinasi berubah menjadi mengancam memerintah dan memarahi
klien, klien menjadi takut, tidak berdaya hilang kontrol dan tidak berdaya,
hilang dan tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang lain di
lingkungan

3. Tanda tanda halusinasi


Menurut diri, tersenyum sendiri duduk terpaku, bicara sendiri memandang
satu arah, menyerang tiba tiba, arah gelisah.
8

4. Jenis halusinasi
a. Halusinasi dengar
Dengar suatu membicarakan, mengejek, menertawakan, mengancam
tetapi tidak ada sumbernya disekitarnya.

b. Halusinasi terlihat
Melihat pemandangan, orang, binatang atau sesuatu yang tidak ada tetapi
klien yakin ada.

c. Halusinasi penciuman
Menyatakan mencium bau bunga kemenyan yang tidak dirasa orang lain
dan ada sumber.

d. Halusinasi kecap
Merasa mengecap sesuatu rasa di mulut tetapi tidak ada.

e. Halusinasi raba
Merasa ada binatang merayap pada kulit tetapi tidak ada.
9

B. ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS SCHIZOFRENIA


1. PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan awal dan dasar utama dari proses keperawatan
tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau
masalah klien. Data yang dikupulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial
dan spiritual. Pengelompokan data pada pengakajian kesehatan jiwa dapat pula
berupa faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber
koping dan kemampuan koping yang dimiliki klien (stuart dan Sunden, 1998).
Cara pengkajian lain berfokus pada 5 (lima) dimensi : fisik, emosional,
intelektual, sosial dan spiritual. Isi pengkajian meliputi :
1. Identitas klien
2. Keluhan utama/alasan masuk
3. Faktor predisposisi
4. Dimensi fisik / biologis
5. Dimensi psikososial
6. Status mental
7. Kebutuhan persiapan pulang
8. Mekanisme koping
9. Masalah psikososial dan lingkungan
10. Aspek medik
Data yang didapat melalui observasi atau pemeriksaan langsung di sebut
data obyektif, sedangkan data yang disampaikan secara lisan oleh klien dan
keluarga melalui wawancara perawatan disebut data subyektif.
Dari data yang dikumpulkan, perawatan langsung merumuskan masalah
keperawatan pada setiap kelompok data yang terkumpul. Umumnya sejumlah
masalah klien saling berhubungan dan dapat digambarkan sebagai pohon masalah
(Fasio, 1983 dan INJF, 1996). Agar penentuan pohon masalah dapat di pahami
dengan jelas, penting untuk diperhatikan yang terdapat pada pohon masalah :
Penyebab (kausa), masalah utama (core problem) dan effect (akibat). Masalah
utama adalah prioritas masalah klien dari beberapa masalah yang dimiliki oleh
klien. Umumnya masalah utama berkaitan erat dengan alasan masuk atau keluhan
utama. Penyebab adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang
menyebabkan masalah utama. Akibat adalah salah satu dari beberapa masalah
klien yang merupakan efek / akibat dari masalah utama. Pohon masalah ini
diharapkan dapat memudahkan perawat dalam menyusun diagnosa keperawatan.
10

ANALISA DATA
POHON MASALAH

Resiko tinggi
mencederai diri
& Orang lain

Perubahan
perilaku
Kerusakan Komunikasi Verbal kekerasan

Gangguan pola tidur

Perubahan persepsi sensori : Perubahan


Halusinasi pendengaran proses fikir

Sidroma defisit
Isolasi sosial : menarik diri
perawatan diri

Koping keluarga Harga diri rendah Koping individu


tak efektif tak efektif

Stressor
11

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI KEPERAWATAN


DIAGNOSA RENCANA TINDAKAN
NO
KEPERAWATAN KEPERAWATAN
1 Resiko mencederai diri Tujuan Umum :
sendiri dan atau orang Klien tidak mencederi diri sendiri dan atau orang
lain/lingkungan lain / lingkungan.
berhubungan dengan Tujuan khusus :
perubahan persepsi 1. Klien dapat hubungan saling percaya :
sensori/halusinasi a. Bina hubungan saling percaya
- Salam terapeutik
- Perkenalan diri
- Jelaskan tujuan interaksi
- Ciptakan lingkungan yang tenang
- Buat kontrak yang jelas pada setiap
pertemuan (topik, waktu dan tempat
berbicara).
b. Beri kesempatan klien untuk
mengungkapkan perasaannya.
c. Dengarkan ungkapan klien dengan empati.

2. Klien dapat mengenal halusinasinya


a. Lakukan kontak sering dan singkat
rasional : untuk mengurangi kontak klien
dengan halusinasinya.

b. Obeservasi tingkah laku klien terkait dengan


halusinasinya; bicara dan tertawa tanpa
stimulus, memandang kesekitarnya seolah
olah ada teman bicara.

c. Bantu klien untuk mengenal halusinasinya;


- Bila klien menjawab ada, lanjutkan; apa
yang dikatakan ?
- Katakan bahwa perawat percaya klien
mendengarnya.
12

- Katakan bahwa klien lain juga ada yang


seperti klien.
- Katakan bahwa perawatan akan
membantu klien.

d. Diskusikan dengan klien tentang ;


- Situasi yang dapat menimbulkan / tidak
menimbulkan halusinasi.
- Waktu dan frekuensi terjadinya
halusinasi (pagi, siang sore, malam atau
bila sendiri atau bila jengkel / sedih).

e. Diskusikan dengan klien tentang apa yang


dirasakan bila terjadi halusinasi (marah /
takut / sedih / senang) dan berkesempatan
mengungkapkan perasaan.
3. Klien dapat mengontrol halusinasinya
a. Identifikasi bersama klien cara / tindakan
yang dilakukan bila terjadi halusinasi
(tidur/marah/menyibukkan diri)
b. Diskusikan manfaat cara yang digunakan
klien, bila bermanfaat beri pujian.
c. Diskusi cara baru untuk memutus /
mengontrol timbulnya halusinasi :
- Katakan saya tidak mau dengan kamu
(pada halusinasi).
- Menemui orang lain (perawat / teman /
anggota keluarga untuk bercakap
cakap . mengatakan halusinaasinya.
- Membuat jadwal kegiatan sehari hari
agar halusinasi tidak sempat muncul.
- Meminta orang lain (perawat / teman
anggota keluarga) menyapa bila tampak
bicara sendiri.
d. Bantu klien memilih dan melatih cara
13

memutus / mengontrol halusinasi secara


bertahap.
e. Berikan kesempatan untuk melakukan cara
yang telah dilatih, evaluasi hasilnya dan
pujian bila berhasil.
f. Anjurkan klien untuk mengikuti terapi
aktivitas kelompok (orientasi realisasi dan
stimulasi persepsi).

4. Klien dapat dukungan keluarga dalam


mengotrol halusinasinya :
a. Anjurkan klien memberitahu keluarga bila
mengalami halusinasi.
b. Diskusikan dengan keluarga (pada saat
berkunjung / pada saat kunjungan rumah)
- Gejala halusinasinya yang dialami klien
- Cara yang dapat dilakukan klien dan ke-
luarga untuk memutus halusinasi
- Cara merawat anggota keluarga yang
halusinasi di rumah : Beri kegiatan,
jangan biarkan sendiri, makan bersama,
berpergian bersama
- Berikan informasi waktu follow up atau
kapan perlu mandapat bantuan;
halusinasi tak terkontrol dan resiko
mencederai orang lain.

5. Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik :


a. Diskusi dengan klien dan keluarga tentang
2 dosis, frekuensi dan manfaat obat.
Kerusakan komunikasi b. Anjurkan klien meminta sendiri obat pada
verbal berhubungan perawat merasakan manfaatnya.
dengan perubahan c. Anjurkan klien bicara dengan dokter /
proses pikir (waham). perawat tentang efek dan efek samping obat
yang dirasakan.
14

d. Diskusikan akibat berhenti obat tanpa kon-


sultasi.
e. Bantu klien menggunakan obat, dengan
prinsip 5 (lima) benar (benar dosis, benar
cara, benar waktu)

Tujuan Umum :
Klien dapat melakukan komunikasi verbal
Tujuan Khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
a. Bina hubungan saling percaya dengan klien.

b. Jangan membantah dan mendukung waham


klien.
- Katakan perawat menerima : saya
menerima keyakinan anda, disertai
ekspresi menerima.
- Katakan perawat tidak mendukung :
sadar bagi saya untuk mempercayainya
disertai ekspresi ragu dan empati.
- Tidak membicarakan isi waham klien.

c. Yakinkan klien berada dalam keadaan aman


dan terlindung.
- Gunakan keterbukaan dan kejujuran
- Jangan tinggalkan klien sendirian
- Klien diyakinkan berada di tempat
aman, tidak sendirian.

2. Klien dapat mengindentifikasi kemampuan yang


dimilki
a. Beri pujian pada penampilan dan
kemampuan klien yang realitas.
b. Diskusikan dengan klien kemampuan yang
dimiliki pada waktu lalu dan saat ini yang
15

realistis.
c. Tanyakan apa yang bisa dilakukan
(aktiviotas sehari hari)
d. Jika klien selalu bicara tentang wahamnya,
dengarkan sampai waham tidak ada.

3. Klien dapat mengindentifikasi kebutuhan yang


tidak terpenuhi :
a. Observasi kebutuhan klien sehari hari.
b. Diskusi kebutuhan klien yang tidak
terpenuhi baik selama di rumah / di RS.
c. Hubungan kebutuhan yang tidak terpenuhi
dan timbulnya waham.
d. Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi
kebutuhan klien (buat jadwal aktivitas
klien).

4. Klien dapat berhubungan dengan realitas :


a. Berbicara dengan klien dalam kontek realita
(diri orang lain, tempat, waktu)
3 b. Sertakan klien dalam terapi aktivitas
Difisit perawatan diri kelompok: orientasi realitas
berhubungan dengan c. Berikan pujian pada tiap kegiatan positif
koping individu tidak yang dilakukan klien.
efektif
5. Klien dapat dukungan keluarga :
a. Gejala waham.
b. Cara merawatnya.
c. Lingkungan keluarga.

6. Klien dapat menggunakan obat dengan benar


- Diskusikan dengan klien dan keluarga
tentang obat, dosis, frekuensi, efek samping
obat, akibat penghentian.
- Diskusikan perasaan klien setelah
16

minum obat
- Berikan obat dengan prinsip 5 tepat

Tujuan Umum :
Klien mampuan merawat diri sehingga penampilan
diri menjadi adekuat
Tujuan Khusus :
1. klien dapat mengindentifikasi kebersihan diri
a. Dorong klien mengungkakan perasaan
tentang keadaan dan kebersihan dirinya.
b. Dengan ungkapan klien dengan penuh
perhatian dan empati.
c. Beri pujian atas kemapuan klien
mengungkapkan perasaan tentang
kebersihan dirinya.
d. Diskusi dengn klien tentang arti kebersihan
4 diri
e. Diskusikan dengan klien tujuan kebersihan
Isolasi sosial : menarik diri.
diri berhubungan dengan
harga diri rendah. 2. Klien mendapat dukungan keluarga dalam
meningkatkan kebersihan dirinya.
a. Kaji tentang tingkat pengetahuan keluarga
tentang kebutuhan perawatan diri klien
b. Diskusikan dengan keluarga
c. Motivasi keluarga dalam berperan aktif
memenuhi kebutuhan perawatan diri klien.
d. Beri pujian atas tindakan positif yang telah
dilakukan keluaga
17

Tujuan Umum :
Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara
bertahap
Tujuan Khusus :
1.1. Klien dapat membina hubungan saling
percaya dengan perawat
a. Bina hubungan saling percaya
- Salam terapeutik
- Perkenalan diri
- Jelaskan tujuan interaksi
- Ciptakan lingkungan yang tenang
- Bina kontrak yang jelas (topik, waktu,
tempak).
b. Beri kesempatan untuk mengungkapkan
perasaannya tentang penyakit yang diderita
c. Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
d. Katakan pada klien bahwa ia adalah
seseorang yang berharga dan bertanggung
jawab Serta mampu menolong dirinya
sendiri.

1.1. Klien dapat mengindetifikasi kemampuan


dan aspek positf yang memiliki

a. Diskusikan kemampuan dan aspek yang di


miliki klien. Dapat dimulai dari bagian tubuh
yang masih berfungsi dengan baik,
kemampuan lain yang dimiliki oleh klien,
aspek positif (keluarga, lingkungan) yang
dimiliki klien. Bila klien tidak mampu
mengindetifikasi maka dimulai oleh perawat
memberi pujian terhadap aspek positif klien.

b. Setiap bertemu klien hindarkan memberi


18

penilaian negatif. Utamakan memberikan


pujian yang realistis.

1.1. Klien dapat menilai kemampuan yang


dapat digunakan
a. Diskusikan selama sakit
Misal : penampilan klien dalam self care,
latihan fisik dan ambulasi serta aspek
asuhan terkait dengan gangguan fisik yang
dialami klien.
b. Diskusikan pula kemampuan yang dapat
dilanjutkan penggunaanya setelah plan
sesuai dengan kondisi sakit klien.

1.1. Klien dapat menetapkan / merencakan


kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki :
a. Rencanakan bersama klien aktivitas bersama
klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap
hari sesuai kemampuan : kegiatan mandiri,
kegiatan dengan bantuan sebagian, kegiatan
yang membutuhkan bantuan total.
b. Tingkatkan kegiatan sesuai degan tolerasi
kondisi klien
c. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang
boleh klien lakukan (kadang klien takut me
laksanakannya).

1.1. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai


kondisi sakit dan kemampuan.
a. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba
kegiatan yang telah direncanakan
b. Beri pujian atas keberhasilan klien
c. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di
rumah.
19

1.1. Klien dapat menfaatkan sistem pendukung


yang ada
a. Berikan pendidikan kesehatan pada keluarga
tentang cara merawat klien harga diri rendah
b. Bantu keluarga memberi dukungan selama
klien dirawat
c. Bantuan keluarga menyiapkan lingkungan di
rumah