Vous êtes sur la page 1sur 44

LAPORAN

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

DI SUSUN OLEH :

YOLANDA EKA PUTRI, S., Kep

NPM. 1614901110210

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN PROFESI NERS
2016-2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan manusia yang sangat penting, karena dengan
memiliki hidup yang sehat seseorang dapat berkarya dan menikmati kehidupan di dunia
ini secara lebih wajar. Indonesia sebagai salah satu Negara yang saat ini sedang
berkembang, telah berupaya merencanakan program pemerintah Indonesia sehat 2015,
dengan salah satu kebijakan adalah menekankan kesehatan sebagai titik sentral
pembangunan Nasional (Erwin Ramadhani Pratama Putra, 2013).
Tujuan dari pembangunan kesehatan tersebut adalah untuk meningkatkan kesadaran,
kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan
masyarakat yang optimal (Wahit Iqbal Mubaraq, 2006). Sesuai dengan tujuan dari
pembangunan kesehatan, keluarga merupakan bagian yang tidak dapat terlepaskan,
karena keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari dua atau lebih
individu, yang hidup bersama dan berinteraksi serta mempunyai peran masing-masing
dengan tujuan mempertahankan budaya, meningkatkan perkembangan fisik, psikologis
dan sosial anggota keluarga (Depkes, 2000).
Keluarga mempunyai peran dan fungsi yang begitu penting dalam membentuk anggota
keluarga sebagai manusia yang sehat bio-psiko-sosial dan spiritual, maka keluarga dapat
dijadikan titik sentral dari pelayanan keperawatan karena diyakini keluarga yang sehat
akan mempunyai anggota keluarga yang sehat dan mewujudkan masyarakat yang sehat.
Keluarga memiliki tahap perkembangan sama seperti manusia memiliki siklus kehidupan
yang dimulai dari lahir sampai dengan meninggal dan tahap keluarga juga demikian,
dimulai dari keluarga yang baru menikah dan diakhiri dengan tahap perkembangan
keluarga usia lanjut. Pada tahap perkembangan keluarga usia lanjut, keluarga mempunyai
tugas untuk mempertahankan suasana kehidupan rumah tangga yang saling
menyenangkan pasangan, mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan dan
adaptasi dengan perubahan-perubahan yang akan terjadi seperti kehilangan pasangan dan
penurunan fungsi tubuh (Sulistyo, A, 2012).
Keluarga menempati posisi diantara individu dan masyarakat, sehingga dengan
memberikan pelayanan kesehatan kepada keluarga, perawat mendapat dua keuntungan
sekaligus. Keuntungan pertama adalah memenuhi kebutuhan individu, dan keuntungan
kedua adalah memenuhi kebutuhan masyarakat. Dalam pemberian pelayanan kesehatan,
perawat harus memperhatikan nilai nilai dan budaya keluarga, sehingga keluarga dapat
menerima.
Pelayanan keperawatan di rumah merupakan pelayanan keperawatan yang diberikan di
tempat tinggal klien dan keluarga sehingga klien tetap memiliki otonomi untuk
memutuskan hal hal yang terkait dengan masalah kesehatannya. Perawat yang
melakukan keperawatan di rumah bertanggung jawab untuk meningkatkan kemampuan
keluarga untuk mencegah penyakit dan pemeliharaan kesehatan. Namun, di Indonesia
belum ada lembaga ataupun organisasi perawat yang mengatur pelayanan keperawatan di
rumah secara administratif. Perawatan yang diberikan di rumah rumah khususnya oleh
perawat komunitas masih bersifat sukarela, belum ada pengaturan terhadap imbalan atas
jasa yang diberikan.
Pengalaman belajar klinik memberikan kemampuan kepada mahasiswa untuk
memperoleh pengalaman nyata asuhan keperawatan keluarga pada keluarga yang
mengalami masalah kesehatan dengan penerapan berbagai konsep dan teori keperawatan
keluarga serta proses keperawatan sebagai pendekatan.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk mendapatkan pengetahuan dan gambaran secara nyata dalam
melaksanakan asuhan keperawatan keluarga secara langsung dan komperhensif
meliputi aspek bio-psiko-sosial-spiritual dengan pendekatan proses keperawatan
Keluarga.
1.2.2 Tujuan Khusus
1.2.2.1 Dapat melakukan pengkajian keperawatan pada Keluarga
1.2.2.2 Mampu menentukan diagnosa keperawatan pada Keluarga
1.2.2.3 Dapat menentukan rencana keperawatan pada Keluarga
1.2.2.4 Dapat melaksanakan tindakan keperawatan yang sesuai dengan
perencanaan pada Keluarga.
1.2.2.5 Dapat melaksanakan evaluasi hasil asuhan keperawatan yang telah
dilaksanakan pada Keluarga
1.2.2.6 Dapat mendokumentasikan asuhan keperawatan Keluarga yang telah
dilaksanakan pada Keluarga
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. KONSEP KELUARGA


2.1.1. Pengartian Keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan
beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap
dalam keadaan saling ketergantungan.
Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan
darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu
rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam peranannya masing-masing
dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan. (Salvicion G Bailon
dan Aracelis Maglaya 1989).

2.1.2. Tipe Keluarga


2.1.2.1 Keluarga inti (Nuclear family) yaitu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu,
dan anak-anak.
2.1.2.2 Keluarga besar (Exstended family) yaitu keluarga inti ditambah dengan
sanak saudara, misalnya nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman,
bibi dan sebagainya.
2.1.2.3 Keluarga berantai (serial family) yaitu keluarga yang terdiri dari wanita
dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga
inti
2.1.2.4 Keluarga duda/janda (single family) yaitu keluarga yang terjadi karena
perceraian atau kematian.
2.1.2.5 Keluarga berkomposisi (Composite) yaitu keluarga yang perkawinannya
berpoligami dan hidup secara bersama
2.1.2.6 Keluarga kabitas (Cahabitation) yaitu dua orang menjadi satu tanpa
pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.

2.1.3. Peranan Keluarga


Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku antar pribadi, sifat,
kegiatan yang berhubungan dengan pribadi dalam posisi dan situasi tertentu.
Peranan pribadi dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari
keluarga, kelompok dan masyarakat.
Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut:
2.1.3.1 Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperan sebagai pencari
nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala
keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota
dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat lingkungannya.
2.1.3.2 Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk
mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya,
pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta
sebagai masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat
berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.
2.1.3.3 Anak-anak melaksanakan peranan psikososial sesuai dengan tingkat
perkembangannya baik fisik, mental, sosial dan spiritual.

2.1.4. Tugas Keluarga


Dasarnya tugas keluarga ada delapan tugas pokok sebagai berikut:
2.1.4.1 Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya.
2.1.4.2 Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga.
2.1.4.3 Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan
kedudukannya masing-masing.
2.1.4.4 Sosialisasi antar anggota keluarga.
2.1.4.5 Pengaturan jumlah anggota keluarga.
2.1.4.6 Pemeliharaan ketertiban anggota keluarganya,
2.1.4.7 Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih luas.
2.1.4.8 Membangkitkan dorongan dan semangat para anggotanya.

2.1.5. Fungsi Keluarga


Fungsi yang dijalankan keluarga adalah :
2.1.5.1 Fungsi afektif. Mengkaji gambaran diri anggota keluarga, perasaan
memiliki dan dimiliki keluarga, dukungan keluarga terhadap anggota
keluarga lainnya, kehangatan pada keluarga dan keluarga
mengembangkan sikap saling menghargai.
2.1.5.2 Fungsi sosialisasi. Bagaimanaa interaksi atau hubungan dalam keluarga
dan sejauhmana anggota keluarga belajar disiplin, norma atau budaya dan
perilaku.
2.1.5.3 Fungsi perawatan kesehatan. Sejauhmana keluarga menyediakan makanan,
pakaian dan perlindungan terhadap anggota yang sakit. Pengetahuan
keluarga mengenai sehat-sakit, kesanggupan keluarga melakukan
pemenuhan tugas perawatan keluarga yaitu :
a. Mengenal masalah kesehatan: sejauhmana keluarga mengenal fakta-
fakta dari masalah kesehatan meliputi pengertian, tanda dan gejala,
penyebab dan yang mempengaruhi serta persepsi keluarga terhadap
masalah.
b. Mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan yang tepat :
sejauhmana keluarga mengerti mengenai sifat dan luasnya masalah,
apakah masalah dirasakan, menyerah terhadap masalah yang dialami,
takut akan akibat dari tindakan penyakit, mempunyai sikap negative
terhadap masalah kesehatan, dapat menjangkau fasilitas kesehatan yang
ada, kurang percaya terhadap tenaga kesehatan dan mendapat informasi
yang salah terhadap tindakan dalam mengatasi masalah.
c. Merawat anggota keluarga yang sakit : sejauhmana keluarga
mengetahui keadaan penyakitnya, mengetahui tentang sifat dan
perkembangan perawatan yang dibutuhkan, mengetahui sumber-
sumber yang ada dalam keluarga (anggota keluarga yang bertanggung
jawab, keuangan, fasilitas fisik, psikososial), mengetahui keberadaan
fasilitas yang diperlukan untuk perawatan dan sikap keluarga terhadap
yang sakit.
d. Memelihara lingkungan rumah yang sehat : sejauhmana mengetahui
sumber-sumber keluarga yang dimiliki, keuntungan/manfaat
pemeliharaan lingkungan, mengetahui pentingnya hygiene sanitasi dan
kekompakan antar anggota keluarga.
e. Menggunakan fasilitas atau pelayanan kesehatan di masyarakat :
apakah keluarga mengetahui keberadaan fasilitas kesehatan, memahami
keuntungan yang diperoleh dari fasilitas kesehatan, tingkat
kepercayaan keluarga terhadap petugas kesehatan dan fasilitas
kesehatan tersebut terjangkau oleh keluarga
2.1.5.4 Fungsi reproduksi. Mengkaji berapa jumlah anak, merencanakan jumlah
anggota keluarga, metode apa yang digunakan keluarga dalam
mengendalikan jumlah anggota keluarga.
2.1.5.5 Fungsi ekonomi. Mengkaji sejauhmana keluarga memenuhi kebutuhan
sandang, pangan dan papan, dan memanfaatkan sumber yang ada di
masyarakat dalam upaya meningkatkan status kesehatan keluarga.

2.1.6. Bentuk Keluarga


Ada dua macam bentuk keluarga dilihat dari bagaimana keputusan diambil, yaitu
berdasarkan lokasi dan berdasarkan pola otoritas.
1. Berdasarkan lokasi
a. Adat utrokal, yaitu adat yang memberi kebebasan kepada sepasang suami
istri untuk memilih tempat tinggal, baik itu di sekitar kediaman kaum
kerabat suami ataupun di sekitar kediaman kaum kerabat istri.
b. Adat verilokal, yaitu adat yang menentukan bahwa sepasang suami istri
diharuskan menetap di sekitar pusat kediaman kaum kerabat suami.
c. Adat uxurilokal, yaitu adat yang menentukan bahwa sepasang suami istri
harus tinggal di sekitar kediaman kaum kerabat istri.
d. Adat bilokal, yaitu adat yang menentukan bahwa sepasang suami istri
dapat tinggal di sekitar pusat kediaman kerabat suami pada masa tertentu,
dan di sekitar pusat kediaman kaum kerabat istri pada masa tertentu pula
(bergantian).
e. Adat nonlocal, yaitu adat yang menentukan bahwa sepasang suami istri
dapat menempati tempat yang baru, dalam arti kata tidak berkelompok
bersama kaum kerabat suami maupun istri.
f. Adat avunkulokal, yaitu adat yang mengharuskan sepasang suami istri
untuk menetap di sekitar tempat kediaman saudara laki-laki ibu
(avunculus) dari pihak suami.
g. Adat natalokal, yaitu adat yang menentukan bahwa suami dan istri
masing-masing hidup terpisah dan masing-masing dari mereka juga
tinggal di sekitar pusat kaum kerabatnya sendiri.
2. Berdasarkan pola otoritas
a. Patriarkal, yaitu otoritas di dalam keluarga dimiliki oleh laki-laki (laki-
laki tertua, umumnya ayah).
b. Matriarkal, yakni otoritas di dalam keluarga dimiliki oleh perempuan
(perempuan tertua, umumnya ibu).
c. Equalitarium, yakni suami dan istri berbagi otoritas secara seimbang.

2.1.7. Subsistem sosial


Terdapat tiga jenis subsistem dalam keluarga, yakni subsistem suami-istri,
subsistem orang tua-anak, dan subsistem sibling (kakak-adik). Subsistem suami-
istri terdiri dari seorang laki-laki dan perempuan yang hidup bersama dengan
tujuan eksplisit membangun keluarga. Pasangan ini menyediakan dukungan mutual
satu dengan yang lain dan membangun sebuah ikatan yang melindungi subsistem
tersebut dari yang ditimbulkan oleh kepentingan maupun kebutuhan dari
subsistem-subsistem lain. Subsistem orang tua-anak terbentuk sejak kelahiran
seorang anak dalam keluarga, subsistem ini meliputi transfer nilai dan pengetahuan
dan pengenalan akan tanggung jawab terkait dengan relasi orang tua dan anak.
2.1.8. Tahap dan tugas perkembangan keluarga
2.1.8.1 Tahap perkembangan keluarga
a. Tahap I : Pasangan yang baru menikah
1. Mencipta atau membina hubungan yang harmonis saling
menguntungkan Family Planing
2. Setelah dua individu mengikat hubungan dengan satu perkawinan
mereka harus mempersiapkan untuk hidup bersama saling belajar
menyesuaikan diri dan memulai kegiatan rutin secara bersama.
3. Pasangan mulai merencanakan kapan mereka menginginkan anak.
b. Tahap II : Dimulai dengan kelahiran anak pertama sampai 30 bulan,
Adaptasi menjadi orang tua, memenuhi kebutuhan-kebutuhan bayi
atau anak.
1. Kelahiran anak membawa anggota baru
2. Mempelajari dan menerima pertumbuhan dan perkembangan anak
usia pra sekolah, persiapan kelahiran berikutnya.
c. Tahap III : Keluarga dimana anak pertama usia pra sekolah (30 bln-
6thn).
Mengasuh anak, menyesuaikan atau menyediakan anak usia Pra
sekolah, persiapan kelahiran anak berikutnya.
d. Tahap IV : Keluarga dengan anak pertama usia sekolah (6-13 tahun).
Salah satu tugas dari orang tua ada tahap ini sosialisai anak, mendorong
anak, mencapai prestasi sekolah, dan memelihara hubungan
perkawinan yang harmonis.
e. Tahap V : Keluarga dengan anak pertama usia remaja (13-20 tahun).
Menjaga keseimbangan tanggung jawab bagi remaja, pada tahap ini
sering terjadi konflik antara orang tua remaja.
f. Tahap VI: Keluarga dengan anak pertama usia dewasa muda (anak
pertama meningalkan rumah untuk membina keluarga baru sampai
anak terakhir).
Melepaskan anak untuk membina perkawinan, biasanya ibu lebih sulit
untuk menerimanya, sedangkan bapak kariernya sudah memuncak dan
lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja.
g. Tahap VII : Orang tua dengan anak usia pertengahan (mulai anak
terakhir meninggalkan rumah).
Menjalin kembali hubungan perkawinan, membina hubungan dengan
generasi baru.
h. Tahap VIII : Tahap akhir dari siklus keluarga, keluarga usia tua (salah
satu/ keduanya pensiun, salah satu meninggal dan pada akhirnya
keduanya meninggal dunia). Penyesuaian terhadap pensiun, pasangan
meninggal dunia. Duvall (1997, dalam Friedman, 2010).

2.1.9. Keluarga resiko tinggi


Keluarga beresiko tinggi adalah keluarga yang kemungkinan besar menimbulkan
stress yang berlebihan terhadap orang tua dan keluarga. Stresor-stresor yang
menimbulkan keluarga beresiko tinggi, berasal dari ibu (seperti dari ibu yang
masih remaja), anak (seperti seorang anak yang menderita sakit yang
membahayakan hidup), atau lingkungan keluarga (seperti bencana lokal)
(Friedman, 2010).
Dalam melaksanakan asuhan keperawatan kesehatan keluarga, yang menjadi
prioritas utama adalah keluarga-keluarga yang tergolong risiko tinggi dalam bidang
kesehatan, meliputi :
2.1.9.1. Keluarga dengan anggota keluarga dalam masa usia subur dengan masalah
sebagai berikut :
a. Tingkat sosial ekonomi keluarga rendah.
b. Keluarga kurang atau tidak mampu mengatasi masalah kesehatan
sendiri.
c. Keluarga dengan keturunan yang kurang baik/ keluarga dengan
penyakit keturunan.
2.1.9.2. Keluarga dengan ibu risiko tinggi kebidanan, waktu hamil :
a. Umur ibu (16 tahun atau lebih dari 35 tahun).
b. Menderita kekurangan gizi/ anemia.
c. Menderita hipertensi.
d. Primipara atau multipara.
e. Riwayat persalinan dan komplikasi.
2.1.9.3 Keluarga dimana anak menjadi risiko tinggi, karena :
a. Lahir premature/ BBLR.
b. Berat badan sukar naik.
c. Lahir dengan cacat bawaan.
d. ASI ibu kurang, sehingga tidak mencukupi kebutuhan bayi.
e. Ibu menderita penyakit menular yang dapat mengancam bayi/anaknya.
2.1.9.4 Keluarga mempunyai masalah dalam hubungan antara anggota keluarga
a. Anak yang tidak dikehendaki dan pernah dicoba untuk digugurkan.
b. Tidak ada kesesuaian pendapat antara anggota keluarga dan sering
timbul cekcok dan ketegangan.
c. Ada anggota keluarga yang sering sakit.
d. Salah satu orang tua (suami/istri meninggal, cerai atau lari
meninggalkan keluarga). (Effendy, 2004).
Proses keperawatan adalah tingkat perawatan kesehatan masyarakat yang
diajukan atau dipusatkan pada keluarga sebagai unit atau kesatuan yang
dirawat dengan sehat sebagai tujuan melalui perawatan sebagai
sarana/penyalur. (effendy1998:38)

2.1.10. Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga


Asuhan keparawatan pada keluarga merupakan bagian penting dalam upaya
menyelesaikan masalah yang dihadapi sasaran, baik sebagai sasaran keluarga
sendiri, sasaran individu maupun sasaran kelompok bahkan sasaran yang lebih
luas yaitu masyarakat.
Tahap-tahap dalam proses keperawatan saling bergantungan satu sama lainnya
dan bersifat dinamis, dan disusun secara sistematis untuk menggambarkan
perkembangan dari tahap, dengan tahap-tahap sebagai berikut :
2.1.10.1 Pengkajian
Adalah sekumpulan tindakan yang digunakan oleh perawat untuk
mengukur keadaan klien dan keluarga dengan memakai norma-norma
kesehatan keluarga maupun sosial, yang merupakan sistem yang
berintegrasi dan kesanggupan untuk mengatasinya.
Untuk mendapatkan data keluarga yang akurat perlu sumber informasi
dari anggota keluarga yang paling mengetahui keadaan keluarga dan
biasanya adalah ibu. Sedangkan informasi tentang potensi keluarga
dapat diperoleh dari pengambilan keputusan dalam keluarga, biasanya
adalah kepala keluarga, atau kadang-kadang orangtua. Pengumpulan
data dapat dilakukan melalui cara :
a. Wawancara
Yang berkaitan dengan hal-hal yang perlu diketahui, baik aspek
fisik, mental, sosial budaya, ekonomi, kebiasaan, lingkungan, dan
sebagainya.
b. Observasi
Pengamatan terhadap hal-hal yang tidak perlu ditanyakan, karena
sudah dianggap cukup melalui pengamatan saja, diantaranya yang
berkaitan dengan lingkungan fisik, misalnya ventilasi, penerangan,
keberhasilan dan sebagainya.
c. Studi Dokumentasi
Studi berkaitan dengan perkembangan kasus anak dan dewasa,
diantaranya melalui kartu menuju sehat, kartu keluarga dan catatan-
catatan kesehatan lain.
d. Pemeriksaan Fisik
Dilakukan terhadap anggota keluarga yang mempunyai masalah
kesehatan dan keperawatan, berkaitan dengan keadaan fisik
misalnya kehamilan dan tanda-tanda penyakit. Data-data yang
dikumpulkan meliputi hal-hal sebagai berikut :
1. Data Umum
a) Kepala keluarga dan komposisi keluarga
b) Tipe keluarga
c) Suku bangsa dan agama
d) Status sosial ekonomi keluarga
e) Aktivitas rekreasi keluarga
2. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga.
a) Tahap perkembangan keluarga
b) Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
c) Riwayat kesehatan keluarga inti
3. Data Lingkungan
a) Karakteristik rumah
b) Karakteristik tetangga dan komunitasnya
c) Mobilitas geografis keluarga
d) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
4. Sistem pendukung keluarga
a) Struktur keluarga
b) Struktur peran
c) Nilai dan norma keluarga
d) Pola komunikasi keluarga
e) Struktur kekuatan keluarga
5. Fungsi keluarga
a) Fungsi ekonomi
b) Fungsi mendapatkan status social
c) Fungsi pendidikan
d) Fungsi sosialisasi
e) Fungsi keperawatan. Tujuan dari fungsi keperawatan :
1) Mengetahui kemampuan keluarga untuk mengenal
masalah kesehatan
2) Mengetahui kemampuan keluarga dalam mengambil
keputusan mengenal tindakan kesehatan yang tepat
3) Mengetahui sejauh mana kemampuan keluarga
merawat anggota keluarga yang sakit
4) Mengetahui kemampuan keluarga
memelihara/memodifikasi lingkungan rumah yang
sehat
5) Mengetahui kemampuan keluarga menggunakan
fasilitas pelayanan kesehatan dimasyarakat
f) Fungsi religious
g) Fungsi rekreasi
h) Fungsi reproduksi
i) Fungsi afeksi
6. Stress dan koping keluarga
a) Stresor jangka pendek dan jangka panjang
b) Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor
c) Strategi koping yang digunakan
d) Disfungsi strategi adaptasi
7. Pemeriksaan keluarga
Pemeriksaan kesehatan pada individu anggota keluarga meliputi
pemeriksaan kebutuhan dasar individu, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang yang perlu.
8. Harapan keluarga
Perlu dikaji harapan keluarga terhadap perawat (petugas
kesehatan) untuk membantu menyelesaikan masalah kesehatan
yang terjadi.
2.1.10.2. Perumusan Masalah
Perumusan masalah kesehatan keluarga dapat menggambarkan keadaan
kesehatan dan status kesehatan keluarga, karena merupakan hasil dari
pemikiran dan pertimbangan yang mendalam tentang situasi kesehatan,
lingkungan, nilai, norma, kultur yang dianut oleh keluarga mengacu
pada tipologi masalah kesehatan dan keperawatan serta berbagai alasan
dari ketidakmampuan keluarga dalam melaksanakan tugas-tugas
keluarga dalam bidang kesehatan.
Tipologi diagnosis keperawatan keluarga dibedakan menjadi tiga
kelompok, yaitu:
a. Diagnosis aktual adalah masalah keperawatan yang sedang dialami
oleh keluarga dan memerlukan bantuan dari perawat dengan cepat.
Yang termasuk didalamnya adalah :
1. Keadaan sakit, apakah sesudah atau sebelum diagnose
2. Kegagalan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak
yang tidak sesuai dengan pertumbuhan normal.
b. Diagnosis resiko tinggi (ancaman kesehatan) adalah masa
keperawatan yang belum terjadi tetapi tanda untuk menjadi masalah
keperawatan aktual dapat terjadi dengan cepat apabila tidak segera
mendapat bantuan perawat.
c. Diagnosa potensial adalah suatu keadaan sejahtera dan keluarga
ketika keluarga telah mampu memenuhi kemampuan kesehatannya
dan mempunyai sumber penunjang kesehatan yang memungkinkan
dapat ditingkatkan.
2.1.10.3. Prioritas Masalah
Dalam menyusun prioritas masalah kesehatan dan keperawatan
keluarga harus didasarkan pada beberapa kriteria sebagai berikut :
a. Sifat masalah dikelompokkan menjadi :
1. Keadaan tidak atau kurang sehat
2. Ancaman kesehatan
3. Keadaan sejahtera
b. Kemungkinan masalah dapat diubah adalah kemungkinan
keberhasilan untuk mengurangi masalah atau mencegah masalah
bila dilakukan intervensi keperawatan dan kesehatan. Hal-hal yang
perlu diperhatikan :
1. Pengetahuan yang ada sekarang, teknologi, dan tindakan untuk
menangani masalah
2. Sumber daya keluarga : fisik, keuangan, tenaga
3. Sumber daya perawat : pengetahuan, keterampilan, waktu
4. Sumber daya lingkungan : fasilitas, organisasi dan dukungan
c. Potensi masalah untuk dicegah adalah sifat dan beratnya masalah
yang akan timbul dan dapat dikurangi atau dicegah melalui tindakan
keperawatan dan kesehatan. Yang perlu diperhatikan :
1. Lamanya masalah yang berhubungan dengan jangka waktu
2. Tindakan yang sedang dijalankan atau yang tepat untuk
memperbaiki masalah
3. Adanya kelompok yang beresiko untuk dicegah agar tidak aktual
dan menjadi parah
d. Masalah yang menonjol adalah cara keluarga melihat dan menilai
masalah dalam hal beratnya dan diatasi melalui intervensi
keperawatan, perawat perlu menilai persepsi atau bagaimana
keluarga menilai masalah keluarga tersebut. Dalam menentukan
prioritas kesehatan dan keperawatan keluarga perlu disusun skala
prioritas sebagai berikut :

Tabel Skala Prioritas Dalam Menyusun Masalah Kesehatan


Keluarga
No. Kriteria Nilai Bobot
Sifat masalah
Skala : Ancaman kesehatan 3 1
1 Tidak atau kurang sehat 2
Krisis 1
Kemungkinan masalah yang dapat
diubah 2
2 Skala : dengan mudah 2
Hanya sebagian 1
Tidak dapat 0
Potensi masalah dapat dicegah tinggi
Skala : tinggi 1
3 Cukup 3
Rendah 2
1
Menonjolnya masalah
Skala : masalah berat harus ditangani 2 1
4 Masalah tidak perlu ditangani
Masalah tidak dirasakan 1
0

Skoring :

1. Tentukan skor untuk setiap kriteria


2. Skor dibagi dengan angka dan dikalikan dengan bobot
3. Jumlah skor untuk semua kriteria
4. Skor tertinggi adalah 5 dan sama untuk seluruh bobot

e. Penyusunan Prioritas Diagnosa Keperawatan


1. Ketidaksanggupan mengenal masalah kesehatan keluarga
disebabkan karena :
a) Kurang pengetahuan/ketidaktauan fakta
b) Rasa takut akibat masalah yang diketahui
c) Sifat dan falsafah hidup
2. Ketidaksanggupan keluarga mengambil keputusan dalam
melakukan tindakan yang tepat, disebabkan karena :
a) Tidak memahami mengenai sifat, berat dan luasnya masalah
b) Masalah kesehatan tidak begitu menonjol
3. Keluarga tidak sanggup memecahkan masalah karena kurang
pengetahuan dan kurangnya sumber daya manusia.
a) Ketidakcocokan pendapat dari anggota keluarga
b) Tidak sanggup memilih tindakan diantara beberapa pilihan
c) Tidak tahu tentang fasilitas kesehatan yang ada
d) Takut dari akibat tindakan
e) Sikap negative terhadap masalah kesehatan
f) Fasilitas kesehatan tidak terjangkau
g) Kurang percaya terhadap petugas dan lembaga kesehatan
4. Ketidakmampuan merawat anggota keluarga yang sakit
disebabkan karena :
a) Tidak mengetahui keadaan penyakit
b) Tidak mengetahui tentang perawatan yang dibutuhkan
c) Kurang/tidak ada fasilitas yang diperlukan untuk perawatan
d) Tidak seimbang sumber daya yang ada dalam keluarga.
e) Konflik
f) Sikap dan pandangan hidup
5. Ketidaksanggupan memelihara lingkungan rumah yang dapat
mempengaruhi kesehatan dan perkembangan pribadi anggota
keluarga, disebabkan karena :
a) Sumber keluarga tidak cukup
b) Kurang dapat melihat keuntungan dan manfaat memelihara
kebersihan rumah
c) Ketidaktauan pentingnya fasilitas lingkungan
d) Sikap dan pandangan hidup
e) Ketidak kompakan keluarga karena sifat mementingkan diri
sendiri, tidak ada kesepakatan, acuh terhadap yang
mempunyai masalah
6. Ketidakmampuan menggunakan sumber dimasyarakat guna
memelihara kesehatan, disebabkan karena :
a) Tidak tahu bahwa fasilitas kesehatan itu ada
b) Tidak memahami keuntungan yang diperoleh
c) Kurang percaya pada petugas kesehatan dan lembaga
kesehatan
d) Pengalaman yang kurang baik dari petugas kesehatan
e) Rasa takut pada akibat dari tindakan
2.1.10.4. Perencanaan Keperawatan Keluarga
Rencana keperawatan keluarga adalah sekumpulan tindakan yang
ditentukan oleh perawat untuk dilaksanakan dalam pemecahan masalah
kesehatan / keperawatan yang telah diidentifikasikan (Effendy, 1995).

2.2 KONSEP PENYAKIT KATARAK


2.2.1 Definisi/deskripsi penyakit
Katarak adalah nama yang diberikan untuk kekeruhan lensa yang dapat terjadi akibat
hidrasi (penambahan cairan lensa), denaturasi protein lensa atau dapat juga akibat dari
kedua-duanya yang biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progesif. (Mansjoer,
2000).
Katarak adalah setiap kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi
(penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau akibat kedua-duanya yang
disebabkan oleh berbagai keadaan. (Sidarta Ilyas, dkk, 2008).
Katarak adalah opasitas lensa kristalina atau lensa yang berkabut (opak) yang
normalnya jernih. Biasanya terjadi akibat proses penuaan, tapi dapat timbul pada saat
kelahiran (katarak congenital). (Brunner & Suddarth: 2002).
Katarak merupakan kekeruhan yang terjadi pada lensa mata, sehingga menyebabkan
penurunan/gangguan penglihatan (Admin,2009).
Katarak merupakan keadaan patologik lensa dimana lensa menjadi keruh akibat
hidrasi cairan lensa atau denaturasi protein lensa, sehingga pandangan seperti tertutup
air terjun atau kabut merupakan penurunan progresif kejernihan lensa, sehingga
ketajaman penglihatan berkurang (Corwin, 2000).
Katarak adalah suatu keadaan patologik lensa di mana lensa rnenjadi keruh akibat
hidrasi cairan lensa, atau denaturasi protein lensa. Kekeruhan ini terjadi akibat
gangguan metabolisme normal lensa yang dapat timbul pada berbagai usia tertentu
(Iwan,2009).

2.2.2 Etiologi
Berbagai macam hal yang dapat mencetuskan katarak antara lain (Corwin,2000):
2.2.2.1 Usia lanjut dan proses penuaan.
2.2.2.2 Congenital atau bisa diturunkan.
2.2.2.3 Pembentukan katarak dipercepat oleh faktor lingkungan, seperti merokok atau
bahan beracun lainnya.
2.2.2.4 Katarak bisa disebabkan oleh cedera mata, penyakit metabolik (misalnya
diabetes) dan obat-obat tertentu (misalnya kortikosteroid).
Katarak juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor risiko lain, seperti:
2.2.2.5 Katarak traumatik yang disebabkan oleh riwayat trauma/cedera pada mata.
2.2.2.6 Katarak sekunder yang disebabkan oleh penyakit lain, seperti:
penyakit/gangguan metabolisme, proses peradangan pada mata, atau diabetes
melitus.
2.2.2.7 Katarak yang disebabkan oleh paparan sinar radiasi.
2.2.2.8 Katarak yang disebabkan oleh penggunaan obat-obatan jangka panjang, seperti
kortikosteroid dan obat penurun kolesterol.
2.2.2.9 Katarak kongenital yang dipengaruhi oleh faktor genetik (Admin,2009).

2.2.3 Tanda gejala


Gejala subjektif dari pasien dengan katarak antara lain:
2.2.3.1 Biasanya klien melaporkan penurunan ketajaman penglihatan dan silau serta
gangguan fungsional yang diakibatkan oleh kehilangan penglihatan tadi.
2.2.3.2 Menyilaukan dengan distorsi bayangan dan susah melihat di malam hari
Gejala objektif biasanya meliputi:
2.2.3.3 Pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan
tampak dengan oftalmoskop. Ketika lensa sudah menjadi opak, cahaya akan
dipendarkan dan bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan
terfokus pada retina. Hasilnya adalah pandangan menjadi kabur atau redup.
2.2.3.4 Pupil yang normalnya hitam akan tampak abu-abu atau putih. Pengelihatan
seakan-akan melihat asap dan pupil mata seakan akan bertambah putih.
2.2.3.5 Pada akhirnya apabila katarak telah matang pupil akan tampak benar-benar
putih ,sehingga refleks cahaya pada mata menjadi negatif.
Gejala umum gangguan katarak meliputi:
2.2.3.6 Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek.
2.2.3.7 Gangguan penglihatan bisa berupa:
a. Peka terhadap sinar atau cahaya.
b. Dapat melihat dobel pada satu mata (diplobia).
c. Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca.
d. Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.
Gejala lainya adalah :
2.2.3.8 Sering berganti kaca mata
2.2.3.9 Penglihatan sering pada salah satu mata.

2.2.4 Patofisiologi
Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih, transparan, berbentuk
seperti kancing baju, mempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa mengandung
tiga komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nukleus, di perifer ada korteks,
dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsula anterior dan posterior. Dengan
bertambahnya usia, nukleus mengalami perubahan warna menjadi coklat
kekuningan. Di sekitar opasitas terdapat densitas seperti duri di anterior dan poterior
nukleus. Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling
bermakna seperti kristal salju.
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya
transparansi. Perubahan dalam serabut halus multipel (zonula) yang memanjang dari
badan silier ke sekitar daerah di luar lensa. Perubahan kimia dalam protein lensa
dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan
menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya
protein lensa normal disertai influks air ke dalam lensa. Proses ini mematahkan
serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan
bahwa suatu enzim mempunyai peran dalam melindungi lensa dari
degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada
pada kebanyakan pasien yang menderita katarak.
Katarak bisa terjaadi bilateral, dapat disebabkan oleh kejadian trauma atau sistemis
(diabetes) tetapi paling sering karena adanya proses penuaan yang normal. Faktor
yang paling sering berperan dalam terjadinya katarak meliputi radiasi sinar UV, obat-
obatan, alkohol, merokok, dan asupan vitamin antioksidan yang kurang dalam jangka
waktu yang lama.

2.2.5 Pemeriksaan penunjang


2.2.5.1 Scan ultrasound (echography) dan hitung sel endotel sangat berguna sebagai
alat diagnostik, khususnya bila dipertimbangkan akan dilakukan pembedahan.
Dengan hitung sel endotel 2000 sel/mm3, pasien ini merupakan kandidat yang
baik untuk dilakukan fakoemulsifikasi dan implantasi iol (smeltzer, 2001)
2.2.5.2 Kartu mata snellen chart (tes ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan)
2.2.5.3 Lapang penglihatan: penurunan mungkin di sebabkan oleh glukoma
2.2.5.4 Pengukuran tonograpi (mengkaji tio,n 12-25 mmhg)
2.2.5.5 Pengukuran gonoskopi : membantu membedakan sudut terbuka dari sudut
tertutup glukoma
1.5.6 Pemeriksaanoftalmologis : mengkaji struktur internal okuler,pupil
oedema,perdarahan retina, dilatasi & pemeriksaan belahan lampu memastikan
dx katarak
2.2.6 Komplikasi
2.2.6.1 Glaucoma
2.2.6.2 Uveitis
2.2.6.3 Kerusakan endotel kornea
2.2.6.4 Sumbatan pupil
2.2.6.5. Edema macula sistosoid
2.2.6.6. Endoftalmitis
2.2.6.7. Fistula luka operasi
2.2.6.8. Pelepasan koroid
2.2.6.9. Bleeding

2.2.7 Penatalaksanaan
2.2.7.1 Pencegahan
Disarankan agar banyak mengkonsumsi buah-buahan yang banyak
mengandung vit. C ,vit. B2, vit. A dan vit. E. Selain itu, untuk mengurangi
pajanan sinar matahari (sinar UV) secara berlebih, lebih baik menggunakan
kacamata hitam dan topi saat keluar pada siang hari.
2.2.7.2 Penatalaksanaan medis
Ada dua macam teknik yang tersedia untuk pengangkatan katarak :
a. Ekstraksi katarak ekstrakapsuler
Merupakan tehnik yang lebih disukai dan mencapai sampai 98%
pembedahan katarak. Mikroskop digunakan untuk melihat struktur mata
selama pembedahan. Prosedur ini meliputi pengambilan kapsul anterior,
menekan keluar nucleus lentis, dan mengisap sisa fragmen kortikal lunak
menggunakan irigasi dan alat hisap dengan meninggalkan kapsula
posterior dan zonula lentis tetap utuh. Selain itu ada penemuan terbaru
pada ekstrasi ekstrakapsuler, yaitu fakoemulsifikasi. Cara ini
memungkinkan pengambilan lensa melalui insisi yang lebih kecil dengan
menggunakan alat ultrason frekwensi tinggi untuk memecah nucleus dan
korteks lensa menjadi partikel yang kecil yang kemudian di aspirasi
melalui alat yang sama yang juga memberikan irigasi kontinus.
b. Ekstraksi katarak intrakapsuler
Pengangkatan seluruh lensa sebagai satu kesatuan. Setelah zonula
dipisahkan lensa diangkat dengan cryoprobe, yang diletakkan secara
langsung pada kapsula lentis. Ketika cryoprobe diletakkan secara
langsung pada kapsula lentis, kapsul akan melekat pada probe. Lensa
kemudian diangkat secara lembut. Namun, saat ini pembedahan
intrakapsuler sudah jarang dilakukan.
Pengangkatan lensa memerlukan koreksi optikal karena lensa kristalina
bertanggung jawab terhadap sepertiga kekuatan fokus mata.
Koreksi optikal yang dapat dilakukan diantaranya:
a Kaca Mata Apikal
Kaca mata ini mampu memberikan pandangan sentral yang baik,
namun pembesaran 25 % - 30 % menyebabkan penurunan dan distorsi
pandangan perifer yang menyebabkan kesulitan dalam memahami
relasi spasial, membuat benda-benda nampak jauh lebih dekat dan
mengubah garis lurus menjadi lengkung. memerlukan waktu
penyesuaian yang lama sampai pasien dapat mengkoordinasikan
gerakan, memperkirakan jarak, dan berfungsi aman dengan medan
pandang yang terbatas.
b Lensa Kontak
Lensa kontak jauh lebih nyaman dari pada kaca mata apakia. Lensa ini
memberikan rehabilitasi visual yang hampir sempurna bagi mereka
yang mampu menguasai cara memasang, melepaskan, dan merawat
lensa kontak. Namun bagi lansia, perawatan lensa kontak menjadi sulit,
karena kebanyakan lansia mengalami kemunduran ketrampilan,
sehingga pasien memerlukan kunjungan berkala untuk pelepasan dan
pembersihan lensa.
c Implan Lensa Intraokuler ( IOL )
IOL adalah lensa permanen plastic yang secara bedah diimplantasi ke
dalam mata. Mampu menghasilkan bayangan dengan bentuk dan
ukuran normal, karena IOL mampu menghilangkan efek optikal lensa
apakia. Sekitar 95 % IOL di pasang di kamera posterior, sisanya di
kamera anterior. Lensa kamera anterior di pasang pada pasien yang
menjalani ekstrasi intrakapsuler atau yang kapsul posteriornya rupture
tanpa sengaja selama prosedur ekstrakapsuler.

2.2.8 Pathway
Terlampir pada Lampiran 1.
2.3 Rencana Asuhan Klien dengan gangguan Katarak
2.3.1 Pengkajian
2.3.1.1 Riwayat keperawatan
Dalam melakukan asuhan keperawatan, pengkajian merupakan dasar utama
dan hal yang penting di lakukan baik saat pasien pertama kali masuk rumah
sakit maupun selama pasien dirawat di rumah sakit.
a. Biodata
Identitas klien : nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama,
suku/ bangsa, pendidikan, pekerjaan, alamat dan nomor register.
b. Riwayat kesehatan
1) Keluhan utama
Penurunan ketajaman penglihatan dan silau.
2) Riwayat kesehatan dahulu
Riwayat kesehatan pendahuluan pasien diambil untuk menemukan
masalah primer pasien, seperti: kesulitan membaca, pandangan kabur,
pandangan ganda, atau hilangnya daerah penglihatan soliter. Perawat
harus menemukan apakah masalahnya hanya mengenai satu mata atau
dua mata dan berapa lama pasien sudah menderita kelainan ini.Riwayat
mata yang jelas sangat penting. Apakah pasien pernah mengalami
cedera mata atau infeksi mata, penyakit apa yang terakhir diderita
pasien.
3) Riwayat kesehatan sekarang
Eksplorasi keadaan atau status okuler umum pasien. Apakah ia
mengenakan kacamata atau lensa kontak?, apakah pasien mengalami
kesulitan melihat (fokus) pada jarak dekat atau jauh?, apakah ada
keluhan dalam membaca atau menonton televisi?, bagaimana dengan
masalah membedakan warna atau masalah dengan penglihatan
lateral atau perifer?
4) Riwayat kesehatan keluarga
Adakah riwayat kelainan mata pada keluarga derajat pertama atau
kakek-nenek.
2.3.1.2 Pemeriksaan fisik : data fokus
Pada inspeksi mata akan tampak pengembunan seperti mutiara keabuan pada
pupil sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop (Smeltzer, 2002).
Katarak terlihat tampak hitam terhadap refleks fundus ketika mata diperiksa
dengan oftalmoskop direk. Pemeriksaan slit lamp memungkinkan pemeriksaan
katarak secara rinci dan identifikasi lokasi opasitas dengan tepat. Katarak
terkait usia biasanya terletak didaerah nukleus, korteks, atau subkapsular.
Katarak terinduksi steroid umumnya terletak di subkapsular posterior.
Tampilan lain yang menandakan penyebab okular katarak dapat ditemukan,
antara lain deposisi pigmen pada lensa menunjukkan inflamasi sebelumnya
atau kerusakan iris menandakan trauma mata sebelumnya (James, 2005).
2.3.1.3 Pemeriksaan penunjang
a. Scan ultrasound (echography) dan hitung sel endotel sangat berguna
sebagai alat diagnostik, khususnya bila dipertimbangkan akan dilakukan
pembedahan. Dengan hitung sel endotel 2000 sel/mm3, pasien ini
merupakan kandidat yang baik untuk dilakukan fakoemulsifikasi dan
implantasi iol (smeltzer, 2001)
b. Kartu mata snellen chart (tes ketajaman penglihatan dan sentral
penglihatan)
c. Lapang penglihatan: penurunan mungkin di sebabkan oleh glukoma
d. Pengukuran tonograpi (mengkaji tio,n 12-25 mmhg)
e. Pengukuran gonoskopi : membantu membedakan sudut terbuka dari sudut
tertutup glukoma
f. Pemeriksaan oftalmologis : mengkaji struktur internal okuler,pupil
oedema,perdarahan retina, dilatasi &pemeriksaan.belahan lampu
memastikan dx katarak

2.3.2 Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul


Diagnosa 1: Gangguan persepsi sensori penglihatan berhubungan dengan perubahan
resepsi (Wilkinson, ett. Buku Saku Diagnosis Keperwatan. 2012. Hal: 687-695)
2.3.2.1 Definisi
Perubahan pada jumlah atau pola stimulus yang diterima, yang disertai respons
terhadap stimulusyang diterima, yang disertai respons terhadap stimulus
tersebut yang dihilangkan, dilebihkan, disimpangkan atau dirusakkan.
2.3.2.2 Batasan karakteristik
a. SubjektifDistorsi sensori
b. Objektif
1) Perubahan pola perilaku
2) Perubahan kemampuan menyelesaikan masalah
3) Perubahan ketajaman sensori
4) Perubahan respons yang biasanya terhadap stimulus
5) Disorientasi
6) Halusinasi
7) Hambatan komunikasi
8) Iritabilitas
9) Konsentrasi buruk
10) Gelisah
2.3.2.3 Faktor yang berhubungan
a. Perubahan resepsi, transmisi, dan atau integrasi sensori
b. Ketidakseimbangan biokimia
c. Ketidakseimbangan elektrolit
d. Stimulus lingkungan yang berlebihan
e. Ketidakseimbangan stimulus lingkungan
f. Stress psikologis

Diagnosa 2: Risiko cedera berhubungan dengan penurunan penglihatan (Wilkinson,


ett. Buku Saku Diagnosis Keperwatan. 2012. Hal: 428-435)
2.3.2.4 Definisi
Berisiko mengalami cedera sebagai akibat dari kondisi lingkungan yang
berinteraksi dengan sumber-sumber adaftif dan pertahan individu.
2.3.2.5 Batasan karakteristik
Setiap orang berisiko mengalami kecelakaan dan cedera, tetapi diagnosis ini
harus digunakan hanya untuk orang yang memerlukan intervensi keperawatan
guna mencegah cedera.
2.3.2.6 Faktor yang berhubungan
Internal
a. Profil darah yang tidak normal
b. Gangguan faktor pembekuan
c. Disfungsi biokimiawi
d. Penurunan kadar hemoglobin
e. Disfungsi efektor
f. Penyakit imun atau atoimun
g. Disfungsi integrative
h. Malnutrisi
i. Fisik seperti kulit rusak, hambatan
j. Psikologis (orientai afektif)
k. Sel sabit
l. Talasemia
m. Hipoksia jaringan
Eksternal
a. Biologis; tingkat imunisasi komunitas, mikroorganisme
b. Kimia; obat-obatan, zat gizi, racun, polutan
c. Fisik; jenis kenderaan atau transportasi, rancangan atau struktur dan
penataan komunitas, bangunan atau peralatan

Diagnosa 3: Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kondisi, prognosis, dan


kebutuhan pengobatan (Judith M. Wilkinson, Nancy R. Ahren. Buku Saku Diagnosis
Keperawatan: Diagnosis NANDA, intervensi NIC, kriteria hasil NOC. Edisi 9.
Jakarta: EGC, 2011. Hal: 440-448).
2.3.2.7 Definisi
Tidak ada atau kurang infomasi kogntif tentang topik tertentu.
2.3.2.8 Batasan karakteristik
a. Subjektif
Mengungkapkan masalah secara verbal
b. Objektif
1) Tidak mengikuti instruksi yang diberikan secara akurat
2) Peforma uji tidak adekurat
3) Perilaku yang tidak sesuai atau terlalu berlebihan
2.3.2.9 Faktor yang berhubungan
a. Keterbatasan kognitif
b. Kesalahan dalam memahami informasi yang ada
c. Kurang pengalaman
d. Kurang perhatian dalam belajar
e. Kurang kemampuan mengingat kembali
f. Kurang familier dengan sumber-sumber informasi

Diagnosa 4: Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera fisik (Wilkinson, ett. Buku
Saku Diagnosis Keperwatan. 2012. Hal: 530-537)
2.3.2.10 Definisi
Pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan akibat adanya
kerusakan jaringan yang actual atau potensial atau digambarkan dengan
istilah seperti, awitan yang tiba-tiba atau perlahan dengan intensitas ringan
sampai beratdengan akhir yang dapat diantisipai atau dapat diramalkan dan
durasinya kurang dari 6 bulan.
2.3.2.11 Batasan karakteristik
Subjektif
Mengungkapkan secara verbal atau melaporkan nyeri dengan isyarat
Objektif
a. Posisi untuk menghindari neyri
b. Perubahan tonus otot
c. Respons autonomic
d. Perubahan selera makan
e. Perilaku distraksi
f. Perilaku ekspresif
g. Wajah topeng
h. Perilaku menjaga atau melindungi
i. Fokus menyempit
j. Bukti nyeri yang dapat diamati
k. Befokus pada diri sendiri
l. Gangguan tidur
2.3.2.12 Faktor yang berhubungan
Agens-agens penyebab cidera (misalnya, biologis, kimia, fisik dan
psikologis).

Diagnosa 5: Ketakutan berhubungan dengan kehilangan pandangan komplit,jadwal


pembedahan atau ketidakmampuan mendapatkan pandangan (Wilkinson, ett. Buku
Saku Diagnosis Keperwatan. 2012. Hal: 301)
2.3.2.13 Definisi
Respons terhadap persepsi ancaman yang secara sadar dikenali sebagai
bahaya
2.3.2.14 Batasan karakteristik
Subyektif : cemas, ketakutan, menurunnya keyakinan diri, gelisah, dan
meningkatnya tekanan
Kognitif : penurunan produktivitas, kemampuan belajar, kemampuan
menyelesaikan masalah
Perilaku : perilaku menghindar atau menyerang, perilaku impulsif.
Psikologis : peningkatan denyut nadi, peningkatan tekanan darah sistolik,
kekakuan otot, dilatasi pupil.
2.3.2.15 Faktor yang berhubungan
a. Kerusakan sensorik
b. Stimulus fobia
c. Kendala bahasa

Diagnosa 6: Resiko infeksi berhubungan dengan tak adekuatnya pertahanan primer;


kerusakan kulit, trauma jaringan, terpajan pada lingkungan; Prosedur invasif,
traksi tulang (T. Heather Hermand, Shigemi Kamitsuru. Diagnosis Keperawatan,
Definisi dan Klasifikasi 2015 2017. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2015. Hal: 405).
2.3.2.16 Definisi
Rentan mengalami invasi dan multiplikasi organism patogenik yang dapat
mengganggu kesehatan
2.3.2.17 Faktor yang berhubungan
a. Kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan pathogen
b. Malnutrisi
c. Obesitas
d. Penyakit kronis
e. Prosedur invasif

2.3.3 Perencanaan
Diagnosa 1: Gangguan persepsi sensori penglihatan berhubungan dengan perubahan
resepsi
2.3.3.1 Tujuan dan Kriteria hasil (outcomes criteria): berdasarkan NOC (lihat daftar
rujukan)
Pasien menunjukkan status neurologis : fungsi motorik/sensorik yang
dibuktikan oleh tidak ada gangguan penglihatan.
2.3.3.2 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC (lihat daftar rujukan)
Peningkatan komunikasi, antaralain:
a. Pantau dan dokumentasikan perubahan status neurologis pasien
b. Kaji lingkungan terhadap kemungkinan bahaya terhadap keamanan
c. Tingkatkan penglihatan pasien yang masih tersisa
d. Jangan memindahkan barang-barang pasien di dalam kamar pasien tanpa
memberitahu pasien
e. Pastikan akses terhadap dan penggunaan alat bantu sensori

Diagnosa 2: Risiko cedera berhubungan dengan peningkatan tekanan intraokuler


(TIO)
2.3.3.3 Tujuan dan Kriteria hasil (outcomes criteria): berdasarkan NOC (lihat daftar
rujukan)
Risiko cedera akan menurun dibuktikan dengan:
a. Keamanan personal
b. Pengendalian risiko
2.3.3.4 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC (lihat daftar rujukan)
Manajemen lingkungan (keamanan), antaralain:
a. Identifikasi factor yang mempengaruhi kebutuhan keamanan
b. Identifikasi factor lingkungan yang memungkinkan risiko terjatuh
c. Berikan edukasi yang berhubungan dengan strategi dan tindakan untuk
mencegah cedera
d. Bantu ambulasi pasien
e. Orientasikan kembali pasien terhadap realitas dan lingkungan saat ini bila
dibutuhkan

Diagnosa 3: Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kondisi, prognosis, dan


kebutuhan pengobatan.
2.3.3.5 Tujuan dan Kriteria hasil (outcomes criteria): berdasarkan NOC (lihat daftar
rujukan)
Tujuan : Klien memahami tentang manfaat perawatan
dan pengobatannya.
Kriteria hasil : Menyatakan pemahaman proses penyakit pengobatan dan
potensial komplikasi, berpartisipasi dalam program pengobatan.
2.3.3.6 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC (lihat daftar rujukan)
Mandiri
1) Kaji ulang patologi, prognosis dan harapan yang akan datang. Rasional :
Memberikan dasar pengetahuan di mana pasien dapat membuat pilihan
informasi.
2) Beri penguatan metode mobilitas dan ambulasi sesuai instruksi dengan
terapis fisik bila diindikasikan. Rasional : Banyak fraktur memerlukan
gips, bebat atau penjepit selama proses penyembuhan.
3) Anjurkan penggunaan Backpack. Rasional : Memberikan tempat untuk
membawa artikel tertentu dan membiarkan tangan bebas untuk
memanipulasi kruk atau dapat mencegah kelelahan otot yang tak perlu
bila satu tangan di gips.
4) Buat daftar aktivitas di mana pasien dapat melakukan secara mandiri dan
yang memerlukan bantuan. Rasional : Penyusunan aktivitas sekitar
kebutuhan dan yang memerlukan bantuan.
5) Identifikasi tersedianya sumber pelayanan dimasyarakat, contoh tim
rehabilitasi, pelayanan perawatan di rumah. Rasional : Memberikan
bantuan untuk memudahkan perawatan diri dan mendukung kemandirian.
6) Dorong pasien untuk melanjutkan latihan aktif untuk sendi di atas dan di
bawah fraktur. Rasional : Mencegah kekakuan sendi. Kontraktur, dan
kelelahan otot, meningkatkan kembalinya aktivitas sehari-hari secara
dini.
7) Diskusikan pentingnya perjanjian evaluasi klinis. Rasional :
Penyembuhan fraktur memerlukan waktu tahunan untuk sembuh lengkap,
dan kerjasama pasien dalam program pengobatan membantu untuk
penyatuan yang tepat dari tulang.
8) Kaji ulang perawatan pen/luka yang tepat. Rasional : Menurunkan resiko
trauma tulang atau jaringan dan infeksi yang dapat berlanjut menjadi
osteomielitis.
9) Identifikasi tanda-tanda dan gejala-gejala yang memerlukan evaluasi
medik. Rasional : Intervensi cepat dapat menurunkan beratnya
komplikasi seperti infeksi/gangguan sirkulasi.
10) Diskusikan perawatan gips yang hijau atau basah. Rasional :
Meningkatkan pengobatan tepat untuk mencegah deformitas gips dan
iritasi kulit/kesalahan postur.
11) Anjurkan penggunaan pengering rambut untuk mengeringkan area gips
yang lembap. Rasional : Penggunaan yang hati-hati dapat mempercepat
pengeringan.
12) Demonstrasikan penggunaan kantong plastik untuk menutup plester gips
selama cuaca lembap atau saat mandi. Gips bersih dengan pakaian agak
lembap dan bedak penggosok. Rasional : Melindungi dari kelembapan,
yang melunakan plester gips.
13) Anjurkan penggunaan pakaian yang adaptif. Rasional : Membantu
aktivitas berpakaian atau kerapihan.
14) Anjurkan cara-cara menutupi ibu jari kaki, bila tepat, contoh sarung
tangan atau kaus kaki halus. Rasional : Membantu mempertahankan
kehangatan atau bmelindungi dari cedera.
15) Diskusikan intruksi pasca pengangkatan gips.
a. Instruksikan pasien untuk melanjutkan latihan sesuai izin. Rasional :
Menurunkan kekakuan dan memperbaiki kekuatan serta fungsi
ekstermitas yang sakit.
b. Informasikan pasien bahwa kulit di bawah gips secara umum lembap
dan tertutup dengan kalus atau serpihan kulit yang mati. Rasional : Ini
akan memerlukan waktu berminggu-minggu sebelum kembali
kepenampilan normal.
c. Cuci kulit dengan perlahan dengan sabun, povidon iodine (betadin)
atau pHisoHex dan air. Rasional : Kulit yang baru secara ekstrem
nyeri tekan karena telah dilindungi oleh gips.
d. Informasikan pasien bahwa otot dapat tampak lembek dan atrofi
(massa otot kurang). Rasional : Kekuatan otot akan menurun dan rasa
sakit yang baru dan nyeri sementara sekunder terhadap kehilangan
dukungan.
e. Tinggikan ekstermitas sesuai kebutuhan. Rasional : Pembengkakan
dan edema cenderung terjadi setelah pengangkatan gips.
Diagnosa 4: Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera fisik
2.3.3.7 Tujuan dan Kriteria hasil (outcomes criteria): berdasarkan NOC (lihat daftar
rujukan)
Pasien akan memperlihatkan pengendalian nyeri yang dibuktikan oleh :
a. Pasien mengenali awitan nyeri
b. Menggunakan tindakan pencegahan
c. Melaporkan nyeri dapat dikendalikan.
2.3.3.8 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC (lihat daftar rujukan)
Manajemen nyeri, antaralain:
a. Lakukan pengkajian nyeri yang komprehesif meliputi lokasi, karakteristik,
awitan dan durasi, frekuensi , kualitas, intensitas, keparahan nyeri dan
factor presipitasinya
b. Ajarkan teknik penggunaan non farmkologis seperti umpan-balik,
distraksi, relaksasi, imajinasi terbimbing.
c. Berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama akan
berlangsung dan antisipasi ketidaknyamanan akibat prosedur.
d. Kendalikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien
terhadap ketidaknyamanan.
e. Pastikan pemberian analgesi terapi

Diagnosa 5 :Ketakutan berhubungan dengaan kehilangan pandangan komplit, jadwal


pembedahan atau ketidakmampuan mendapatkan pandangan
2.3.3.9 Tujuan dan kriteria hasil (outcomes criteria) : berdasarkan NOC
a. Tingkat ketakutan: keparahan manifestasi rasa takut,ketegangan,atau
kegelisahan berasal dari sumber yang di ketahui
b. Pengendalian diri terhadap ketakutan : tindakan individu untuk
mengurangi atau menurunkan tidak mampu akibat rasa takut.ketegangan
atau kegelisahan berasal dari sumber yang di kenali
c. Mencari informasi untuk menurunkan ketakutan
d. Menghindari sumber ketakutan bila mungkin
e. Menggunakan teknik relaksasi untuk menurunkan ketakutan
2.3.3.10 Intervensi keperawatan dan rasional : berdasarkan NIC
a. Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan
R :agar dapat membuat pasien tenang
b. Berusaha untuk memahami perspektif pasien dari situasi stress
R :sebagai profilaksi untuk dapat membuat pasien mengetahui
dampak stress
c. Memberikan informasi yang actual tentang diagnosis,pengobatan,dan
prognosa
R :agar pasien mengetahui tentang penyakit,serta komplikasi yang
akan terjadi,jadwal pengobatan dan keberhasian pengobatan
d. Tetap dengan pasien untuk meningkatkan keselamatan dan mengurangi
rasa takut
R :agar pasien terhindar dari cedera dan membantu dalam mengatasi
cemas akibat penyakit ataupun pengobatan yang akan di lakukan
e. Dorong keluarga untuk tinggal dengan klien
R :membantu dalam mengurangi cedera
f. Menyediakan benda yang melambangkan keselamatan/keamanan
R :penurunan terhadap kecemasan saat pasien membutuhkan bantuan
tenaga kesehatan
g. Mendengarkan dengan perhatian
R :mengurangi kecemasan

Diagnosa 6: Resiko infeksi berhubungan dengan tak adekuatnya pertahanan primer;


kerusakan kulit, trauma jaringan, terpajan pada lingkungan; Prosedur invasif,
traksi tulang (T. Heather Hermand, Shigemi Kamitsuru. Diagnosis Keperawatan,
Definisi dan Klasifikasi 2015 2017. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2015. Hal: 405).
2.3.3.11 Tujuan dan Kriteria hasil (outcomes criteria): berdasarkan NOC (lihat daftar
rujukan)
Tujuan : Meningkatkan penyembuhan luka dengan benar.
Kriteria hasil : Bebas tanda infeksi/inflamasi, mencapai penyembuhan
luka sesuai waktu, bebas drainase purulen atau eritema, demam.
2.3.3.12 Intervensi keperawatan dan rasional: berdasarkan NIC (lihat daftar rujukan)
Mandiri
a. Inspeksi kulit untuk adanya iritasi atau robekan kontinuitas. Rasional :
Pen atau kawat tidak harus dimasukan melalui kulit yang terinfeksi.
b. Kaji sisi pen atau kulit perhatikan keluhan peningkatan nyeri/rasa
terbakar atau adanya edema. Rasional : Dapat mengindikasikan
timbulnya infeksi lokal/nekrosis jaringan, yang dapat menimbulkan
osteomilitis.
c. Berikan perawatan pen/kawat steril sesuai protokol dan latihan mencuci
tangan. Rasional : Dapat mencegah kontaminasi silang
dan kemungkinan infeksi.
d. Instruksikan pasien untuk tidak menyebutkan sisi insersi. Rasional :
Meminimalkan kesempatan untuk kontaminasi.
e. Tutupi pada akhir gips peritoneal dengan plastik. Rasional : Gips yang
lembap, padat meningkatkan pertumbuhan bakteri.
f. Observasi luka untuk pembentukan bulla, krepitasi, perubahan warna
kulit kecoklatan, bau drainase yang tak enak/asam. Rasional : Tanda
infeksi gas gangren.
g. Kaji tonus otot, reflek tendon dalam dan kemampuan untuk berbicara.
Rasional : Kekakuan otot, spasme tonik otot rahang dan disfagia
menunjukan terjadinya tetanus.
h. Selidiki tiba-tiba/keterbatasan gerakan dengan edema lokal/eritema
ekstermitas cedera. Rasional : Dapat mengindikasikan terjadinya
osteomielitis.
i. Lakukan prosedur isolasi. Rasional : Adanya drainase purulen akan
memerlukan kewaspadaan luka/linen untuk mencegah kontaminasi
silang.
Kolaborasi
1) Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh:
a. Hitung darah lengkap. Rasional : Anemia dapat terjadi pada
osteomielitis, leukositosis, biasanya ada dengan proses infeksi.
b. LED. Rasional:peningkatan pada osteomielitis.
c. Kultur dan sensitivitas luka atau serum/tulang.
Rasional :Mengidentifikasi organisme infeksi.
d. Skan radioisotop. Rasional :Titik puas menunjukan peningkatan area
vaskularitas.
2) Berikan obat sesuei indikasi, contoh :
a. Antibiotik. Rasional : Antibiotik spectrum luas dapat digunakan
secara profilaktik atau dapat ditujukan pada mikroorganisme khusus.
b. Tetanus toksoid. Rasional : Diberikan secara profilaktif karena
kemungkinan adanya tetanus pada luka terbuka.
c. Berikan irigasi luka/tulang dan berikan sabun basah/hangat sesuai
indikasi. Rasional : Debridemen lokal/pembersihan luka menurunkan
mikroorganisme dan insiden infeksi sistemik.
d. Bantu prosedur contoh insisi, drainase pemsangan drain, terapi O2
hiperbarik. Rasional : Banyak prosedur pada pengobatan infeksi
lokal, osteomielitis, gangren gas.
e. Siapkan pembedahan sesuei indikasi. Rasional : Sequestrektomi
(pengangkatan tulang nekrotik) perlu untuk membantu
penyembuhan dan mencegah perluasan proses infeksi.
BAB 3

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN TAHAP PROFESI NERS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN

Nama Mahasiswa : Yolanda Eka Putri, S. Kep


Tempat Peraktik : Desa Abumbun Jaya
Tanggal Praktik : 21 September 21 Oktober 2017
Tanggal Pengkajian : 27 September 2017

A. Pengkajian
I. Data Umum
Kepala Keluarga (KK) : Tn. M
Alamat : Jalur 7, Desa Abumbun Jaya
Pekerjaan (KK) : Petani
Pendidikan KK) : SD
Tipe Keluarga : Keluarga Besar (Extanded Family)
Suku Bangsa : Banjar
Agama : Islam
Komposisi Keluarga : Kakek, nenek, anak, anak (istri), suami dan anak (cucu)
Hub. dengan Status Imunisasi
No Nama JK Umur Ket
KK BCG Polio DPT Herp Campak
1 Tn.M L Suami 64
2 Ny.N P Istri 59
3 Tn.B L Anak 35
4 NyM P Anak 27
5 Tn.R L Suami 31
6 An.D L Anak 6

Genogram :

Ny. W
Tn. B 48 th
58 th
: Laki-laki : Hubungan Keluarga

: Perempuan : Tinggal Serumah

: Klien : Meninggal

Status Sosial Ekonomi Keluarga


Pendapatan keluarga perbulan rata-rata 1.500.000 3.000.000/ bulan. tetapi pengeluaran
keluarga hanya untuk makan sehari-hari dan keperluan lainnya dan masih seimbang dengan
pendapatan keluarga.

Aktivitas Rekreasi Keluarga


Tn. M mengatakan tidak ada aktivitas rekreasi keluarga di luar rumah, klien mengatakan
selalu menghabiskan waktu di rumah dengan bersenda gurau bersama keluarga dan cucu.

II. Riwayat dan Perkembangan Keluarga Saat Ini


1. Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Tipe keluarga Tn. M yaitu Nuclear Family. Klien memiliki 2 orang anak, anak pertama
belum menikah, anak kedua sudah menikah dan memiliki satu orang anak.
2. Riwayat kesehatan keluarga inti
Pada saat dilakukan pengkajian Tn. M mengatakan saat ini mengeluh pandangan sangat
kabur, mata kiri sudah tidak dapat melihat, mata kanan masih berfungsi namun
dirasakan sangat buram. Klien juga mengeluhkan sering sakit kepala dan susah tidur
malam, klien mengatakan setiap berperiksa tekanan darah selalu tinggi. Istri klien juga
mengalami katarak pada kedua belah matanya, mata kanan sudah ilakukan operasi
pengangkatan katarak 3 tahun yang lalu, namun pada mata kiri kataraknya belum
dilakukan operasi. Anak laki-laki klien tidak mengeluhkan sakit, anak perempuan klien
memiliki riwayat asma jika terhirup asap terlalu sering, sumi klien dana anaknya tidak
mengeluhkan sakit.
3. Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya
Klien mengatakan mengalami katarak sudah puluhan tahun, mata kiri sudah tidak dapat
berfungsi, mata kanan sudah dilakukan operasi pengangkatan katarak 5 tahun yang lalu
namun dirasa masih buram. Sedangkan istri klien jug amengalami katarak pada kedua
belah matanya sejak puluhan tahaun lalu, mata kanan sudah dilakukan operasi
pengangkatan katarak 3 tahun yang lalu, sedangkan mata kiri masih belum dilakukan
pengangkatan katarak hingga saat ini.
III. Data Lingkungan
1. Karakteristik Rumah
Rumah yang ditempati keluarga merupakan milik sendiri, tipe rumah semi permanen,
jenis lantai papan, sistem ventilasi ada berupa pintu dan jendela, sistem pencahayaan
terang, jarak rumah dengan tetangga dekat, halaman disekitar rumah ada, dimanfaatkaan
untuk hewan peliharaan yaitu ayam, jarang kandang dengan rumah <5 meter.
2. Denah
Dapur Kamar mandi / wc

Kamar

Ruang Tamu
Kamar

Teras

3. Karakteristik Tetangga dan Komunitas


Jarak rumah klien berdekatan dengan tetangga disekitar, setiap harinya hanya bertegur
sapa saja dengna tetangga jikaa kebetulan berpapasan, tidaak ada kegiataan ngumpul-
ngumpul antar tetangga. Karakteristik komunitas masih menganut sistem kekeluargaan.
4. Mobilitas Geografi Keluarga
Tn. M mengatakan merupakan suku asli banjar yang memutuskan bertempat tinggal di
Abumbun Jaya sejak tahaun 1993 karena mencari nafkah dari hasil bertani di Desa
Abumbun Jaya.
5. Perkumpulan Keluarga dan Interaksi Masyarakat
Tn. M mengataakan tidak mengikuti kegiataan apapun di desa karena sudah sulit untuk
melihat, namun istri klien yaitu Ny. N setiap minggunya mengikuti kegiatan
perkumpulan berupa kegiatan arisan dan pengajian.
6. Sistem Pendukung Keluarga
a. Informal:
Tn. M mengatakan jika keluarganya memiliki masalah maka anggota keluarganya
yang lain akan ikut membantu dalam menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.
Jika sakit, klien dan keluarga biasanya berobat ke Pustu.
b. Formal:
Tn. M mengatakan keluarganya tidak memiliki jaminan kesehatan dalam bentuk
apapun.
IV. Struktur Keluarga
1. Struktur Peran
a. Tn. M
Tn. M merupakan seorang suami dari Ny. N dan ayah dari 2 orang anak yang sudah
dewasa, yang berperan sebagai kepala keluarga namun sudah tidak dapat mencari
nafkah karena fungsi penglihatan sudah menurun, memberikan pendidikan kepada
anak-anaknya, menantu dan cucunya dengan memberikan nasihat-nasiha.
b. Ny. N
Ny. N merupakan seorang istri dari Tn. M dan ibu dari 2 orang anak yang sudah
dewasa dan berperan sebagai pengurus rumah tangga dengan melakukan pekerjaan
rumah. Ny. N juga kadang-kadang bekerja menjadi petani untuk membantu Tn. M
merawat sawah milik mereka, namun untuk pekerjaan sawah yang lebih berat, Ny.
M selalu memperkerjakan orang lain untuk panen.
c. Tn. B
Tn. B merupakan anak pertama dari Tn. M dan Ny. N, klien belum menikah, klien
bekerja sebagai karyawan BUMD. Klien juga membantu mencukupi kebutuhan
ekonomi keluarga dengan penghasilan rata-rata 1.500.000/ bulan.
d. Ny. M
Ny. M merupakan anak kedua dari Tn. M dan Ny. N, klien sudah menikah dan
memiliki satu orang anak, klien berperaan sebagai ibu rumah tangga dengan
membantu Ny. N melakukan pekerjaan rumah tangga, membantu mengurus rumah,
mendidik anak, dan mengasuh anak seperti mengantar jemput anak sekolah.
e. Tn. R
Tn. R merupakan suami dari Ny. M, klien bekerja sebagai karyawan swasta, klien
bertindak sebagai kepala keluarga untuk istri dan anaknya, klien juga membantu
memenuhi kebutuhaan ekonomi keluarga dengna rata-rata penghasilan 1.500.000/
bulannya.
f. An. D
An. D merupakan anak dari Ny. M dan Tn. R, klien berusia 6 tahun, masih sekolah
ditingkat SD.
2. Nilai atau Norma Keluarga
Nilai atau norma yang dianut keluarga berdasarkan humum Islam. Keluarga percaya
bahwa hidup ini sudah ada yang mengatur yaitu Allah SWT. Demikian pula dengan
sehat dan sakit. Keluarga juga percaya bahwa tiap sakit merupakan ujiaan dan ujian
pasti ada obatnya, bila ada keluarga yang sakit, dibawa ke Pustu atau petugas kesehatan.
3. Pola Komunikasi Keluarga
Tn. M mengatakan anggota keluarga berkomunikasi langsung dengan bahasa banjar,
dan mendapat informasi kesehatan dari petugas kesehatan di Pustu dan informasi
lainnya didapat dari radio.
4. Stuktur Kekuatan Keluarga
Keluarga Tn. B dalam pengambilan keputusan setiap ada permasalahan dalam keluarga
pemecahannya selalu secara musyawarah.

V. Fungsi Keluarga
1. Fungsi Efektif
Tn. M mengatakan yang berperan aktif dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga
sekarang adalah anak laki-lakinya dan suami anak perempuannya. Keluarga tampak
harmonis, saling memperhatikan satu dengan yang lain serta saling menghargai satu
dengan yang lain, selalu mengajarkan dan mencontohkan cara bersopan santun pada
anak-anaknya, apabila ada anggota keluarga lain yang membutuhkan maka anggota
keluarga akan membantu sesuai dengan kemampuan. Apabila ada anggota keluarga
yang sakit langsung dibawa ke Pustu atau petugas kesehatan terdekat.
2. Fungsi Sosialisasi
Interaksi keluarga tampak terjalin baik, masing-masing anggota keluarga masih saling
memperhatikan dan menerapkan etika atau sopan santun dalam berperilaku. Di dalam
keluarga ini tampak kepedulian anggota keluarga dengan saling tolong menolong dalam
melakukan tugas. Keluarga ini juga membina hubungan yang baik dengan tetangga
disekitar rumah, terbukti dengan selalu bertegur sapa dengan tetangga walau tidak dapat
berkumpul karena kesibukan masing-masing.
3. Fungsi Reproduksi
Jumlah anak Tn. M dan Ny. N sebanyak 2 orang, anak pertama berjenis kelamin laki-
laki dan anak kedua berjenis kelamin perempuan. Anak perempuan klien sudah menikah
dna memiliki satu orang anak. Jadi, yang bertempat tinggal dalam rumah Tn. M
berjumlah 6 orang.
4. Fungsi Ekonomi
Keluarga dapat memenuhi kebutuhan makan 3 kali sehari, pakaian untuk anak dan biaya
untuk berobat dari penghasilan bertani yang sekaraang lebih sering dijalankan oleh Ny.
N, anak pertama yang bekerja sebagai karyawaan BUMD dan suami anak perempuan
klien yng bekerj sebagai karyawana swasta.
5. Perawatan Kesehatan
a. Penyediaan makanan selalu dimasak sendiri, komposisi nasi, lauk pauk, dan sayur
dengan frekuensi 3 kali sehari. Dan bila ada anggota kelaurga yang sakit, keluarga
merawat dan memeriksakannya ke Pustu atau petugas kesehatan terdekat.
b. Kemampuan mengenal masalah kesehatan
Tn. M mengatakan sering mengeluh sulit melihat, nyeri kepala daan sulit tidur.
c. Mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan
Tn. M mengatakan apabila sakit biasanya diperiksakaan ke Pustu atau petugas
kesehatan terdekat.
d. Merawat anggota keluarga yang sakit
Dalam merawat Tn. M dan Ny. N, Ny. M mengatakan masih memberikan makanan
yang sama dengan anggota keluarga yang lainnya, pola tidur juga masih belum
sesuai, Tn. M mengeluh bahwa sulit tidur malam dan sering nyeri kepala, namun
selalu melakukan kontrol secara teratur ke Pustu, untuk keluhan Tn. M dan Ny. N
yang mengalami katarak, keluarga mengatakan tidak ada dilakukan perawatan di
rumah, keluarga hanya menunggu operasi katarak gratis yang tidak tahu kapan akan
diselenggarakan lagi di Puskesmas.
e. Kemampuan keluarga memelihara lingkungan yang sehat
Keluarga membersihkan rumahnya setiap hari, mengepel 1 minggu sekali dan lantai
kamar mandinya tidak licin, bersih dan terawat.
f. Kemampuan keluarga menggunakan fasilitas atau pelayanan kesehatan di
masyarakat
Keluarga mengatakan memeriksakan diri ke Pustu atau petugas kesehatan terdekat
bila sakit. Jika tidak ada keluhan sakit yang dirasa, klien tidak melakukan
pemeriksakan diri ke Pelayanan Kesehatan.

VI. Stres dan Koping Keluarga


1. Stres jangka pendek dan Panjang
a. Stressor jangka pendek
Tn. M mengatakan sulit melihat sehingga mengganggu untuk berkegiatan sehari-
harinya, nyeri kepala dan sulit tidur malam.
b. Stressor jangka panjang
Tn. M khawatir kalua-kalau mata kanannya juga akan tidak berfungsi lagi sehingga
membuatnya tidak dapat melihat sama sekali.
2. Kemampuan keluarga berespon terhadap stresor
Keluarga selalu memeriksakan anggota keluarga yang sakit ke Pustu atau petugas
kesehatan terdekat jika mengalami keluhan sakit.
3. Strategi koping yang digunakan
Anggota keluarga selalu bermusyawarah untuk menyelesaikan masalah yang ada,
keluarga percaya bahwa hidup ini sudah ada yang mengatur yaitu Allah SWT. Demikian
pula dengan sehat dan sakit yang merupakan cobaan. Apabila ada anggota keluarga
yang mengalami sakit, akan dibawa ke Pustu atau petugas kesehatan terdekat.
4. Strategi adaptasi disfungsional
Tn. M dan Ny. N mengatakan tidak ada strategi apapun untuk masalah katarak yang
dialaminya, namun Tn. M mengatakan jika mulai merasa nyeri kepala biasanya klien
akan bersitirahat dan berbaring di tempat tidur.
5. Harapan Keluarga
Keluarga berharap seluruh anggota keluarganya sehat, agar segera ada operasi gratis
pengangkatan katarak agar katarak yang dialami Tn. M dan Ny. N dapat sembuh serta
dimudahkan dalam mencari rejeki.

VII. Pemeriksaan Kesehatan Tiap Individu


N Jenis
o pemeriksaan
Tn. M Ny. N Tn. B Ny. M Tn. R An. D
1 Keadaan Baik Baik Baik Baik Baik Baik
umum
2 Kesadaran Komposmenti Komposmen Komposm Komposmen Komposmen Komposmen
s tis entis tis tis tis
3 TTV TD : 180/120 TD : 140/90 TD TD :110/70 TD :120/80 N :89 x/m
N : 80 x/m N : 86 x/m :120/80 N :94 x/m N :98 x/m R :20 x/m
R : 18 x/m R : 19 x/m N :88 R :20 x/m R :20 x/m
x/m
R : 20
x/m
4 Kepala Kulit kepala Kulit kepala Kulit Kulit kepala Kulit kepala Kulit kepala
tidak ada lesi tidak ada lesi kepala tidak ada lesi tidak ada lesi tidak ada lesi
dan tidak ada dan tidak tidak ada dan tidak dan tidak dan tidak
benjolan. Mata ada lesi dan ada ada ada
kiri sudah benjolan. tidak ada benjolan. benjolan. benjolan.
tidak Pada mata benjolan. Mata tidak Mata tidak Mata tidak
berfungsi lagi, kanan Mata tidak anemis, teli anemis, teli anemis, teli
Tn. M nampak terlihat anemis, tel nga tidak nga tidak nga tidak
tidak dapat lapisan tipis inga tidak ada serumen, ada serumen, ada serumen,
melihat idcard putih ada fungsi fungsi fungsi
nama perawat menutupi serumen, pendengaran pendengaran pendengaran
dengan jarak 1 kornea mata fungsi terganggu, baik, hidung baik, hidung
meter pada (katarak), pendengara hidung tidak tidak ada tidak ada
mata kanan Ny. N n baik, ada sekret, sekret, sekret,
terlihat lpisan nampak hidung fungsi fungsi fungsi
tipis putih tidak dapat tidak ada penciuman penciuman penciuman
menutupi melihat sekret, baik, gigi baik, gigi baik, gigi
kornea mata idcard nama fungsi tampak tidak tampak tampak
(katarak), teli perawat penciuman lengkap, mukosa bibir mukosa bibir
nga tidak ada dengan jarak baik, gigi mukosa bibir lembab. lembab.
serumen, 2 meter, tampak lembab.
fungsi telinga tidak mukosa
pendengaran ada serumen, bibir
baik, hidung fungsi lembab.
tidak ada pendengaran
sekret, fungsi baik, hidung
penciuman tidak ada
baik, mukosa sekret,
bibir lembab. fungsi
penciuman
baik, gigi
tampak
mukosa bibir
lembab.
5 Leher Tampak tidak Tampak Tampak Tampak Tampak Tampak
ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada
pembesaran pembesaran pembesara pembesaran pembesaran pembesaran
kelenjar tiroid kelenjar n kelenjar kelenjar kelenjar kelenjar
maupun tiroid tiroid tiroid tiroid tiroid
pembesaran maupun maupun maupun maupun maupun
vena jugularis, pembesaran pembesara pembesaran pembesaran pembesaran
pergerakan vena n vena vena vena vena
leher jugularis, jugularis, jugularis, jugularis, jugularis,
normal/tidak pergerakan pergerakan pergerakan pergerakan pergerakan
terbatas leher leher leher leher leher
normal/tidak normal/tid normal/tidak normal/tidak normal/tidak
terbatas ak terbatas terbatas terbatas terbatas
6 Dada/thorax Dada simetris, Dada Dada Dada Dada Dada
frekuensi simetris, simetris, simetris, simetris, simetris,
napas frekuensi frekuensi frekuensi frekuensi frekuensi
18x/menit, napas 19 napas 20 napas napas napas
suara nafas x/menit, x/menit, 20x/menit, 20x/menit, 20x/menit,
vesikuler. suara nafas suara nafas suara nafas suara nafas suara nafas
vesikuler. vesikuler. vesikuler. vesikuler vesikuler
7 Abdomen Bentuk Bentuk Bentuk Bentuk Bentuk Bentuk
simetris, tidak simetris, simetris, simetris, simetris, simetris,
terdapat acites, tidak tidak tidak tidak tidak
tidak tedapat terdapat terdapat terdapat terdapat terdapat
nyeri di acites, tidak acites, acites, tidak acites, tidak acites, tidak
abdomen. tedapat nyeri tidak terdapat terdapat terdapat
di abdomen. tedapat nyeri di nyeri di nyeri di
nyeri di abdomen abdomen abdomen
abdomen
8 Ekstremitas Ekstremitas Ekstremitas Ekstremita Ekstremitas Ekstremitas Ekstremitas
atas dan atas dan s atas dan atas dan atas dan atas dan
bawah tampak bawah bawah bawah bawah bawah
normal, tidak tampak tampak tampak tampak tampak
ada edema, normal, normal, normal normal, normal,
fungsi tidak ada tidak ada dalam tidak ada tidak ada
pergerakan edema, edema, melakukan edema, edema,
baik fungsi fungsi gerakan, fungsi fungsi
pergerakan pergerakan tidak ada pergerakan pergerakan
baik baik edema baik baik

B. Diagnosa Keperawatan
1. Analisa Data

Masalah Kemungkinan Tipologi


No Data Masalah
Keperawatan Penyebab
1 Data Subjektif Kurang Kurangnya Aktual
Tn. M mengatakan sudah puluhan pengetahuan informasi
tahun menderita penyakit katarak tentang akibat
Ny. N juga mengatakan sudah lanjut dari
bertahun-taahun menderitaa katarak,
penyaakit kataraak perawatan
Tn. M mengatakan mata kirinya penyakit ini di
sudah tidak dapat melihat atau rumah dan
berfungsi lagi lingkungan
Tn. M mengatakan mata kanan yang baik
masih berfungsi namun juga untuk
mengalami kekaburan penderita
Ny. N mengatakan mata kanan katarak
sudah dilakukan operasi
pengangkatan katarak setahun yang
lalu, namun mata kiri belum karena
masih menunggu operasi katarak
gratis
Tn. M dan Ny. N mengtaakan
tidaak mengetahui akibat lanjut
dari katarak, perawatan penyakit
ini di rumah dan lingkungan yang
baik untuk penderita

Data Objektif
Ny. N tampak bertanya tentang
akibat jika katarak tidak dioperasi
Tn. M tampak bertanya tentaang
bagaimana perawatan dan
lingkungan yang baik untuk
penderita katarak
Mata kiri Tn. M nampak sudah
tidak dapat berfungsi lagi
Ny. N mengatakan tidak
melakukaan pengobatan maupun
operasi pengangkataan katarak
pada mata kanannya karena
menunggu operasi gratis
2 Data Subjektif Resiko cidera Penurunan Resiko
Tn. M mengatakan mata kirinya penglihatan
sudah tidak berfungsi lagi dan mata
kanannya mengalami kekaburan
Ny. N mengatakan katarak pada
mata kirinya belum dilakukan
pengobatan atau operasi

Data Objektif
Tn. M nampak tidak dapat melihat
idcard nama perawat dengan jarak
1 meter
Ny. N nampak tidak dapat melihat
idcard nama perawat dengan jarak
2 meter

2. Perumusan Diagnosa Keperawatan


a. Kurang pengetahuan berhubungan dengan Kurangnya informasi tentang akibat lanjut
dari katarak, perawatan penyakit ini di rumah dan lingkungan yang baik untuk
penderita katarak
b. Resiko cidera berhubungan dengan penurunan penglihatan

3. Skoring Prioritas Masalah


a. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang akibat lanjut
dari katarak, perawatan penyakit ini di rumah dan lingkungan yang baik untuk penderita
katarak.
No Kriteria Skala Bobot Skoring Pembenaran
1. Sifat masalah: 3 1 3/3 x 1 = 1 Ketidaktahuan keluarga tentang
akibat lanjut dari katarak,
Tidak/kurang
perawatan penyakit ini di rumah
sehat (3) dan lingkungan yang baik untuk
penderita katarak

2. Kemungkinan 1 2 1/2 x 2 = 1 Kondisi klien pada usia lanjut


masalah dapat usia
diubah : Lama penyakit kurang lebih 5
Sebagian (1) tahun
Berdasarkan prognosa
masalah katarak dapat
disembuhkan dengan
melakukan opersi
pengangkatan katarak
sebelum penyakit masuk
tahap lebih lanjut atau parah
3. Kemungkinan 2 1 3/3 x 1 = 1 Kurang pengetahuan dapat
masalah dapat dicegah dengan memberikan
dicegah: informasi kepada keluarga
Tinggi (3) Keluarga mau diajak
kerjasama (kooperatif).

4. Menonjolnya 2 1 2/2 x 1 = 1 Bila tidak segera ditangani maka


masalah : akan terjadi komplikasi lebih
Masalah lanjut, seperti kebutaan
berat harus
segera
ditangani (2)
Total 4

b. Resiko cidera berhubungan dengan penurunan penglihatan

No Kriteria Score Bobot Skoring Pembenaran


1. Sifat masalah: 3 1 3/3 x 1 = 1 Masalah sudah ada dan sudah
Tidak/kurang terjadi selama kurang lebih 5
sehat (3) tahun

2. Kemungkinan 1 2 1/2 x 2 = 1 Kondisi klien pada usia lanjut


masalah dapat usia
diubah Lama penyakit kurang lebih 5
Sebagian (1) tahun
Berdasarkan prognosa
masalah katarak dapat
disembuhkan dengan
melakukan opersi
pengangkatan katarak
sebelum penyakit masuk
tahap lebih lanjut atau parah
3. Kemungkinan 2 1 2/3 x 1 = Penurunan penglihatan yang
masalah dapat 2/3 terjadi pada Tn.M dan Ny.N
dicegah: tidak dapat dirubaah kecuali
jika dilakukan operasi
Cukup(2) pengangkatan katarak namun
cider dapat diminimalisir jika
keluarga mengetahui cara
memberi keamanan padaa
Tn.M dn Ny.N
4. Menonjolnya 2 1 2/2 x 1 = 1 Bila tidak segera ditangani maka
masalah : akan terjadi cidera pada klien
Masalah akibat penglihatannya yang
berat harus menurun
segera
ditangani (2)
Total 3 2/3

4. Prioritas Diagnosa Keperawatan


No Diagnosa Keperawatan Skor
1. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang 4
akibat lanjut dari katarak, perawatan penyakit ini di rumah dan
lingkungan yang baik untuk penderita katarak
2. Resiko cidera berhubungan dengan penurunan penglihatan 3 2/3
C. Rencana Asuhan Keperawatan

Tujuan Kriteria evaluasi


N Diagnosa
Rencana intervensi
o Keperawatan Jangka Panjang Jangka Pendek Kriteria Standar

1 Kurang pengetahuan Keluarga dapat Setelah dilakukan Respon Keluarga dapat 1. Kaji pengetahuan
berhubungan dengan mengetahui 10 kali verbal menjelaskan kembali keluarga tentang
kurangnya informasi tentang penyakit kunjungan, keluarga tentang pengertian, tanda, gejala,
tentang akibat lanjut katarak dan dapat diharapkan tanda gejala, akibat penyebab, akibat
dari katarak, terhindar dari keluarga tentang lanjut dari katarak, lanjut dari katarak,
perawatan penyakit ini penyakit ini akibat lanjut dari perawatan penyakit perawatan
di rumah dan kembali serta katarak, ini di rumah dan penyakit ini di
lingkungan yang baik komplikasi dari perawatan lingkungan yang rumah dan
untuk penderita katarak penyakit ini di baik untuk penderita lingkungan yang
katarak rumah dan katarak baik untuk
lingkungan yang penderita katarak
baik untuk 2. Jelaskan kepada
penderita katarak keluarga tentang
pengertian katarak
3. Jelaskan kepada
keluarga tentang
tanda gejala
katarak
4. Jelaskan kepada
keluarga tentang
akibat lanjut dari
katarak
5. Jelaskan kepada
keluarga tentang
perawatan
penyakit katarak di
rumah
6. Jelaskan kepada
keluarga
lingkungan yang
baik untuk
penderita katarak
7. Berikan pujian

2 Resiko cidera Keluarga dan Setelah dilakukan Respon Kelurga dapat 1. Kaji pengetahuan
berhubungan dengan klien dapat 10 kali verbal menjelaskan kembali keluarga tentang
penurunan penglihatan merwat klien agar kunjungan, keluarga dan memodifiksi modifiksi
terhindar dari keluarga dan klien lingkungan yang lingkungn ynag
cidera dapat baik bagi klien agar baik untuk
memengetahui terhindar dari cidera penderita katarak
dan memodifikasi 2. Jelaskan kepada
lingkungan agar keluarga
terhindar darai bagaimana
cidera lingkungan ynag
baik untuk
penderita katarak
3. Bantu keluarga
memodifikasi
lingkungan agar
penderita katarak
terhindar dari
cidera
4. Berikan pujian
D. Implementasi
Implementasi Hari ke 1
Tanggal/Waktu Diagnosa Keperawatan Implementasi
Kamis, Risiko tinggi peningkatan 1. Mengkaji pengetahuan keluarga
28 September 2017 kadar gula darah b/d tentang penyebab, tanda gejala
Jam 16.30 wita Kurang pengetahun tentang dari penyakit diabetes melitus
penyebab, tanda dan gejala 2. menjelaskan kepada keluarga
diabetel melitus tentang cara penanganan dari
penyakit diabetes melitus
3. Menjelaskan kepada keluarga
tentang akibat lanjut dari
penyakit diabetes melitus
4. Memberikan pujian kepada
keluarga
Kamis, Ketidakmampuan keluarga 1. Menjelaskan bagaimana cara
28 September 2017 Ny. W memodifikasi pencegahan peningkatan kadar
Jam 16.40 wita lingkungan b/d kurang gula darah
pengetahuan tentang 2. Memberi informasi tentang cara
makanan yang dapat memilih makanan untuk
meningkatkan kadar gula mencegah terjadinya peningkatan
darah kadar gula darah

E. Evaluasi
No.
Tanggal Jam Evaluasi Paraf
Diagnosa
1 28/09/2017 17.00 S: Klien mengatakan masih kurang tahu Eka
mengenai penyakit kencing manis secara
Wita
lebih lengkap
O:
- Klien masih nampak bingung saat ditanya
mengenai penyakitnya
A: Masalah belum teratasi
P: Intervensi dilanjutkan
1. Kaji pengetahuan keluarga tentang
penyebab, tanda gejala dari penyakit
diabetes melitus
2. Jelaskan kepada keluarga tentang cara
penanganan dari penyakit diabetes melitus
3. Jelaskan kepada keluarga tentang akibat
lanjut dari penyakit diabetes melitus
2 28/09/2017 17.10 S : Klien mengatakan tidak boleh makan yang Eka
Wita manis-manis
O : Klien tampak bingung
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
1. Jelaskan bagaimana cara pencegahan
peningkatan kadar gula darah
2. Beri informasi tentang cara memilih
makanan yang dapat mencegah terjadinya
peningkatan kadar gula darah