Vous êtes sur la page 1sur 4

Nomor : 096/A/VII/SOP/III/2017

Revisi Ke :
Berlaku Tgl : 27 Maret 2017

(SOP)
STANDART OPERATIONAL PROCEDURE
PENILAIAN STATUS GIZI BALITA

Disahkan Oleh

JAYOSNO, S.Kep.MM
NIP.19701002 199002 1 001

DINAS KESEHATAN KABUPATEN TABALONG


PUSKESMAS PUGAAN
Alamat : Jl. Jend A. Yani Km. 6 Desa Halangan Rt.. 01 Kec Pugaan Kab. Tabalong Kode Pos 71554
E-mail : puskesmas_pugaan@gmail.com
PENILAIAN STATUS GIZI BALITA

No. Dokumen : 096/A/VII/SOP/III/2017


No. Revisi :
SOP
Tgl. Terbit : 27 Maret 2017
Halaman : 1/4

Puskesmas JAYOSNO, S.Kep.MM


NIP.19701002 199002 1 001
Pugaan

1. Pengertian Status gizi adalah keadaan keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat gizi

Penilaian zat gizi adalah metode penentuan status gizi yang dapat dilakukan
dengan 2 cara :

a. Penilaian status gizi secara langsung (antropometri, klinis, biokimia, biofisik).

b. Penilaian status gizi secara tidak langsung (survey konsumsi makanan, statistik
vital, faktor ekologi)

Penilaian status gizi dengan metode antropometri yaitu menentukan status gizi
dengan menggunakan ukuran tubuh
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk menilai status gizi balita
3. Kebijakan Keputusan Kepala UPTD Kesehatan Puskesmas Pugaan tentang Pengelolaan dan
Pelaksanaan Program
4. Referensi 1. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 001 Tahun 2012 tentang Sistem Rujukan
Pelayanan Kesehatan Perorangan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012
Nomor 122);
2. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 Tahun 2013 tentang Pelayanan Kesehatan
Pada Jaminan Kesehatan Nasional;
3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2015 tentang
Pusat Kesehatan Masyarakat;
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 46 tahun 2015 tentang
Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama;
5. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor:
828/MENKES/SK/IX/2008 tentang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal
Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota;
6. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 296/Menkes/SK/III/2008
tentang Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas;
7. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor:
HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di
Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama;
8. Modul Pelatihan Pertumbuhan Anak Direktorat Bina Gizi Kementerian Kesehatan RI
Tahun 2011;
9. Buku Praktis Ahli Gizi Tahun 2003.
5. Alat dan Bahan 1. Alat :
a. ATK
2. Bahan :
6. Prosedur/Langkah- Penilaian status gizi yang biasa dilakukan di Puskesmas Kandangan adalah penilaian
langkah status gizi secara antropometri dan klinis
1. Penilaian status gizi secara antropometri
a. Parameter yang digunakan :
- Umur (dalam bulan)
- Panjang badan (PB) atau tinggi badan (TB)
- Berat badan (BB)
b. Petugas mengkombinasikan beberapa parameter di atas sehingga memperoleh
indeks antropometri :
- Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur
(TB/U)
- Berat Badan menurut Umur (BB/U)
- Berat Badan menurut Panjang Badan (BB/PB) atau Berat Badan menurut
Tinggi Badan (BB/TB)
c. Petugas menilai status gizi dengan melihat tabel penentuan status gizi menurut
WHO 2005 berdasarkan Z-score
- Indikator PB/U atau TB/U
Normal : Z score -2 SD
Pendek (Stunted) : -3 SD Z score < - 2 SD
Sangat Pendek : Z score < - 3 SD
- Indikator BB/U
BB Lebih : Z score > 1 SD
BB Normal : -2 SD Z score 1 SD
BB Kurang (Underweight) : -2 SD > Z score -3 SD
BB Sangat Kurang : Z score < -3 SD
- Indikator BB/PB atau BB/TB
Sangat gemuk (Obesitas) : Z score > 3 SD
Gemuk (Overweight) : 2 SD < Z score < 3 SD
Resiko Gemuk : 1 SD < Z score < 2 SD
Normal : - 2 SD < Z score < 1 SD
Kurus (Wasted) : - 3 SD < Z score < -2 SD
Sangat Kurus : Z score < -3 SD
2. Penilaian status gizi secara klinis
Petugas menilai status gizi balita kurang gizi/Kurang Energi Protein (KEP)
berdasarkan tanda klinis :
a. Marasmus
- Anak tampak sangat kurus
- Wajah seperti orang tua
- Cengeng, rewel
- Kulit keriput, jaringan lemak sub kutis sangat sedikit/tidak ada
- Sering disertai diare kronis atau konstipasi
- Detak jantung, tekanan darah dan pernapasan berkurang
b. Kwashiorkor
- Oedema umumnya di seluruh tubuh dan terutama pada punggung kaki
- Wajah bulat dan sembab
- Otot mengecil
- Cengeng, rewel, apatis
- Anoreksia
- Pembesaran hati
- Sering disertai infeksi, anemia dan diare
- Rambut kusam dan mudah dicabut
- Gangguan kulit berupa bercak merah
- Pandangan mata sayu
c. Marasmic Kwashiorkor
Tanda-tanda marasmis kwashiorkor merupakan gabungan dari marasmus dan
kwashiorkor
7. Unit Terkait 1. Unit Poli Umum

2. Unit KIA

3. Unit Gizi

4. UKM KIA

5. UKM Promkes
8. Dokumen terkait 1. Kohort Bayi

2. Kohort Balita

3. Buku KIA

4. Arsip