Vous êtes sur la page 1sur 3

ASPEK HUKUM PENANAMAN MODAL ASING DAN MEKANISME PERIJINAN

A. PENANAMAN MODAL ASING


Secara historis keberadaan penanaman modal asing di Indonesia sebenarnya bukan
merupakan fenomena yang baru, mengingat modal asing sudah hadir di Indonesia sejak
zaman kolonial dahulu. Namun tentunya kehadiran penanaman modal asing pada masa
kolonial berbeda dengan masa setelah kemerdekaaan, karena tujuan dari penanaman modal
asing dimasa kolonial tentu didedikasikan untuk kepentingan pihak penjajah dan bukan untuk
kesejahteraan bangsa Indonesia. Sejarah penanaman modal asing di Indonesia tidak terlepas
dari awal dilakukannya perdagangan internasional di Indonesia pada sekitar tahun 1511,
dimana padaa saat itu para pedgang eropa mulai khususnya Portugis mulai menguasai Malaka
dalam perdagangan komudis rempah-rempah yang mempunyai nilai sangat strategis pada
masa itu. Kegiatan perdagangan internasonal tersebut berkembang terus menjadi kegiatan
yang bersifat kolonialisme di wilayah Indonesia, bukan saja oleh bangsa Portugis, tetapi juga
oleh bangsa-bangsa lainnya, yaitu Belanda (tahun 1596-1795 selanjutnya tahun 1816-19420),
perancis (tahun 1795-1811), inggris (tahun 1811-1816) dan Jepang (tahun 1942-1945). Pada
masa awal penjajahan Belanda kehadiran Multilational Company seperti Verenigde Oost
Indisce Compagne (VOC) dalam kegiatan perdagangan rempah-rempah di Indonesia juga
memiliki peranan yang sangat penting, khususnya dalam merepresentasikan kepentingan
pemerintah kerjaan Belanda. Selanjutnya, kegiatan penanaman modal asing di zaman
kolonialisme juga semakin berkembang agresif sejak diundangkannya Agrarische Wet pada
tahun 1870 oleh pemerintahan kolonial Hindia Belanda, yang ditandai dengan
berkembangnya usaha-usaha perkebunan besar diwilayah Indonesia.
Setelah kemerdekaan Nasional keberadaan penanamanan Modal Asing di Indonesia
juga tetap berlangsung dengan berbagai dinamikanya, sejak awal kemerdekaan (1945-1949),
masa Orde Lama (1949-1967), masa Orde Baru (1967-1998), dan masa Orde Reformasi sampai
dengan sekarang (sejak 1998). Penanaman modal asing di Indonesia menjadi sesuatu yang
sifatnya tidak dapat dihindarkan (inevitable), bahkan mempunyai peranan yang sanagt
penting dan strategis dalam menunjang pelaksanaan pembangunan nasional. Hal ini
disebabkan pembangunan Nasional Indonesia memerlukan pendanaan yang sangat besar
untuk dapat menunjang tingkat pertumbuhan ekonomi yang diharapkan. Kebutuhan
pendanaan tersebut tidak hanya dapat diperoleh dari sumber-sumber pendanaan dalam
negeri, tetapi juga dari luar negeri.
Hal itu yang menyebabkan penanaman modal asing menjadi salah satu sumber pendanaan
luar negeri yang strategis dalam menunjang pembangunan nasional, khususnya dalam
pengembangan sektor rill yang pada gilirannya diharapkan akan berdampak pada pembukaan
lapangan kerja secara luas.
Pentingnya peranan penanaman modal asing dalam pembangunan ekonomi
Indonesia juga terfleksi dalam tujuan yang tertera dalam Undang-Undang No.25 tahun 2007
tentang penanaman modal (UU penanaman modal) sebgai landasan hukum positif bagi
kegiatan penanaman modal di Indonesia. Dalam UU penanaman modal tujuan
penyelenggaraan penanaman modal disebutkan antar lain;
1. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.
2. Menciptakan lapangan pekerjaan.
3. Meningkatkan pembangunan ekonomi berkelanjutan.

David Kairupan.,Pengaturan Penanam Modal Asing Di Indonesia., hlm. 2. (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group)
4. Menigkatkan kemampuan daya saing dunia usaha nasional.
5. Meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi nasional.
6. Mendorong pengembangan ekonomi kerakyatan.
7. Mengolah ekonomi potensial menjadi kekuatan ekonomi riil dengan menggunakan dana
yang berasal, bak dari dalam negeri maupun dari luar negeri.
8. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Peningkatan penanaman modal asing di Indonsia tidak datang dengan sendirinya. Hal
itu, memerlukan kerja keras untuk dapat menciptakan iklim investasi yang kondusif. Salah
satu isu klasik yang sangat signifikan dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif di
Indonesia adalah masalah penegakan hukum (law enforcement), di samping masalah-
masalah lainnya, seperti keterbatasan infrastruktur, keamanan dan stabilitas sosial politik.
Dalam melakukan penegakkan hukum (law enfoercement) terdapat tiga unsur yang harus
diperhatikan yaitu: kepastian hukum (zweckmassigkeit atau benefit) dan keadilan
(gerechtigkeit atau justice) yang harus berjalan secara harmonis. Apabila penegakkan
hukum hanya mmerhatiak kepastian hukum semata, maka pelaksanaanya dapat
mengabaikan keadilan serta kemanfaatannya dimasyarakat, begitu pula sebaliknya apabila
salah satu unsur tersebut terlalu diutamakan, maka pelaksanannya dapat megabaikan
unsur-unsur lainnya.

B. PERANAN HUKUM DALAM MENCIPTAKAN IKLIM PENANAMAN MODAL ASING YANG


KONDUSIF
Penanaman modal asing mempunyai korelasi yang erat dengan masalah law
enforcement, dimana hal tersbut direalisasikan dalam bentuk kepastian hukum atas
ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku, bukan saja atas ketentuan-ketentuan yang
berlaku, bukan saja atas peraturan yang mengatur masalah penanaman modal secara
khusus, tetapi juga peraturan-peraturan lainnya baik yang sifatnya sektoral maupun lintas
sektoral. Oleh karenanya asas-asas penanaman modal sebagaimana diatur dalam UU
Penanaman Modal sarat dengan muatan law enforcemet, yaitu:
1. Kepastian hukum: asas dalam negara hukum yang meletakkan hukum dan
ketentuan peraturan perundang-undangan sebagai dasar dalam setiap
kebijakan dan tindakan dalam bidang penanaman modal.
2. Keterbukaan: asas yang terbuka terhadap hak masyarakat untuk memperoleh
informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentng kegiatan penanaman
modal.
3. Akuntabilitas: asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari
penyelenggaraan penanaman modal harus dipertanggungjawabkan kepada
masyaarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
4. Perlakuan yang sama tidak membedakan asal negara: asas perlakuan pelayanan
nondiskriminasi berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan, baik
antara penanam modal dalam negeri dan penanaman modal asing maupun
antara penanam odal dari saatu negara asing dan penanam modal dari negara
asing lainnya.
5. Kebersamaa: asas yang mendorong peran seluruk penanaman modal secara
bersama-sama dalam kegiatan usahannya untuk mewujudkan kesejahteraan
rakyat.
Soedikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, (Yogyakarta: Liberty,2005), hlm. 160-162