Vous êtes sur la page 1sur 55

anyleite

I WRITE because I don't know what I THINK until I


READ what I SAY
Navigation
Skip to content
Category Archives: Laporan Praktikum Biokimia

Semester 3
Enzim
Posted on February 9, 2013

Tujuan Praktikum : a. Mempelajari proses hidrolisa oleh enzim


b. Mempelajari faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim

c. Menentukan nilai Km dan Vmax suatu enzim

DASAR TEORI

Enzim adalah molekul biopolimer yang tersusun dari serangkaian asam amino dalam
komposisi dan susunan rantai yang teratur dan tetap. Enzim memegang peranan penting
dalam berbagai reaksi di dalam sel. Sebagai protein, enzim diproduksi dan digunakan oleh sel
hidup untuk mengkatalisis reaksi, antara lain konversi energi dan metabolisme pertahanan
sel. Amilase mempunyai kemampuan untuk memecah molekul-molekul pati dan glikogen
Molekul pati yang merupakan polimer dari alfa-D-glikopiranosa akan dipecah oleh enzim
pada ikatan alfa-1,4- dan alfa-l,6-glikosida. Enzim digolongkan menurut reaksi yang
diikutinya, sedangkan masing-masing enzim diberi nama menurut nama substratnya,
misalnya urease, arginase dan lain-lain. Di samping itu ada pula beberapa enzim yang dikenal
dengan nama lama misalnya pepsin, tripsin dan lain-lain (Aldi, 2010).

Enzim dibagi dalam enam golongan besar oleh Commision on Enzymes of the International
Union of Biochemistry. Penggolongan ini didasarkan atas reaksi kimia di mana enzim
memegang peranan Dalam mempelajari mengenai enzim, dikenal beberapa istilah
diantaranya holoenzim, apoenzim, kofaktor, gugus prostetik, koenzim, dan substrat.
Apoenzim adalah suatu enzim yang seluruhnya terdiri dari protein, sedangkan holoenzim
adalah enzim yang mengandung gugus protein dan gugus non protein. Gugus yang bukan
protein tadi dikenal dengan istilah kofaktor. Pada kofaktor ada yang terikat kuat pada protein
dan sukar terurai dalam larutan yang disebut gugus prostetik dan adapula yang tidak terikat
kuat pada protein sehingga mudah terurai yang disebut koenzim. Baik gugus prostetik
maupun koenzim, keduanya merupakan bagian yang memungkinkan enzim bekerja pada
substrat. Substrat merupakan zat-zat yang diubah atau direaksikan oleh enzim (Poedjiadi,
2006).

Klasifikasi enzim menurut International Enzyme Commission :

a. Oksireduktase : beredar antara bentuk-bentuk oksidasi dan reduksinya jika molekul molekul
substrat secara berturut turut dioksidasi. Dehidrogenasa adalah enzim redoks yang tidak
mengguankan oksigen sebagai suatu akseptor electron. Oksidasa adalah enzim redoks yang
beroksigen )2 berlaku sebagai aksptor electron. Oksigenasa : menyatukan diri dengan oksigen
secara langsung ke dalam molekul substrat. Peroksida : menggunakan H2O2 sebagai suatu
akseptor electron.

H2O2 + H2O2 katalase O2 + 2H2O


Substrat akseptor substrat akseptor

Electron teroksidasi electron tereduksi

b. Transferasa : enzim transaminasa(aminotransferasa) mengkatalisasi pemindahan reversible


dari suatu asam amino ke suatu asam keto.Transaminasa tertentu juga berguna dalam
diagnose penyakit penyakit istimewa. Misalnya jaringan jantung kaya akan transminasa
oksato asam glutamate(GOT) yang mengkatalisa reaksi. Jaringan hati kaya akan suatu
transaminasa yang sama. Tetapi asam piruvat tersangkut dan bukannya asam oksaloasetat.
Dalam penyakit tertentu, seperti hepatitis berinfeksi, jaringan mengalami degenerasi akibat
infeksi. Kimia enzim menjadi alat penting yang meningkat dalam diagnose medic. Kinasa
merupakan enzim transferasa yang memainkan peran penting dalam pemindahan energy dari
satu system ke system lain dalam bentuk ikatan fosfat berenergi tinggi.

c. Hidrolisa : biasanya digolongkan atas dasar ikatan yang dihidrolisa.Beberapa peptidase


seperti tripsin dan kimotripsin, hubungannya dengan penentuan struktur protein primer.

d. Liasa (Adisi dari gugus pada suatu ikatan rangkap atau kebalikan dari reaksi tersebut)
contohnya : hidrasi dari ikatan asam fumarat oleh enzim furmarasa

e. Isomerasa (keseimbangan antara dua isomer) contohnya : reaksi yang dikatalisasikan oleh
alanin rasemasa, enzim yang ditemukan dalam bakteri

f. Ligasa (pembentukan dari ikatan dengan pembelahan ATP) : enzim ini mengkatalisakan
reaksi yang membentuk iktan kimia, yang sering disebut enzim sintetasa(Page,1989)

Enzim dikatakan sebagai suatu kelompok protein yang berperan dalam aktivitas biologis.
Enzim ini berfungsi sebagai katalisator dalam sel dan sifatnya sangat khas. Dalam jumlah
yang sangat kecil, enzim dapat mengatur reaksi tertentu sehingga dalam keadaan normal
tidak terjadi penyimpangan hasil reaksinya. Enzim akan kehilangan aktivitasnya karena
panas, asam dan basa kuat, pelarut organik atau apa saja yang bisa menyebabkan denaturasi
protein. Enzim dinyatakan mempunyai sifat yang sangat khas karena hanya bekerja pada
substrat tertentu (Girinda, 1986).

Enzim merupakan unit fungsional dari metabolisme zat, bekerja dengan urutan yang teratur.
Enzim mengkatalis ratusan reaksi tahap yang menguraikan molekul nukleat. Reaksi yang
menyimpan dan mengubah energi kimia dan membuat makromolekul sel dan prekusor
sederhana. Diantara sekelompok yang berpartisipasi dalam metabolisme terdapat sekelompok
khusus yang dikenal sebagai enzim pengatur yang dapat mengenali berbagai isyarat
metabolik dan mengubah kecepatan kataliknya sesuai dengan isyarat yang diterima. Melalui
aktivitasnya, sistem enzim terkoordinasi dengan baik menghasilkan suatu hubungan yang
harmonis antara sejumlah aktivitas metabolik yang berbeda yang diperlukan untuk
menunjang kehidupan (Lehnninger, 1995).

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kerja enzim diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Suhu
Enzim tidak dapat bekerja secara optimal apabila suhu lingkungan terlalu rendah atau
terlalu tinggi. Jika suhu lingkungan mencapai 0 C atau lebih rendah lagi, enzim tidak aktif.
Jika suhu lingkungan mencapai 40 C atau lebih, enzim akan mengalami denaturasi (rusak).
Suhu optimal enzim bagi masing-masing organisme berbeda-beda. Untuk hewan berdarah
dingin, suhu optimal enzim adalah 25 C, sementara suhu optimal hewan berdarah panas,
termasuk manusia, adalah 37 C.

2. pH (Tingkat Keasaman)

Setiap enzim mempunyai pH optimal masing-masing, sesuai dengan tempat kerja-nya.


Misalnya enzim pepsin, karena bekerja di lambung yang bersuasana asam, memiliki pH
optimal 2. Contoh lain, enzim ptialin, karena bekerja di mulut yang bersuasana basa,
memiliki pH optimal 7,5-8.

3. Aktivator dan Inhibitor

Aktivator adalah zat yang dapat mengaktifkan dan menggiatkan kerja enzim. Contohnya
ion klorida, yang dapat mengaktifkan enzim amilase. Inhibitor adalah zat yang dapat
menghambat kerja enzim. Berdasarkan cara kerjanya, inhibitor terbagi dua, inhibitor
kompetitif dan inhibitor nonkompetitif. Inhibitor kompetitif adalah inhibitor yang bersaing
aktif dengan substrat untuk mendapatkan situs aktif enzim, contohnya sianida bersaing
dengan oksigen dalam pengikatan Hb. Sementara itu, inhibitor nonkompetitif adalah inhibitor
yang melekat pada sisi lain selain situs aktif pada enzim, yang lama kelamaan dapat
mengubah sisi aktif enzim.

4. Konsentrasi enzim dan substrat

Semakin tinggi konsentrasi enzim akan semakin mempercepat terjadinya reaksi. Dan
konsentrasi enzim berbanding lurus dengan kecepatan reaksi.

Jika sudah mencapai titik jenuhnya, maka konsentrasi substrat berbanding terbalik dengan
kecepatan reaksi (Mulia, 2007).

Sebagai katalis dalam reaksi-reaksi di dalam tubuh organisme, enzim memiliki beberapa
sifat, yaitu:

1. Enzim adalah protein, karenanya enzim bersifat thermolabil, membutuhkan pH dan suhu yang
tepat.

2. Enzim bekerja secara spesifik, dimana satu enzim hanya bekerja pada satu substrat.

3. Enzim berfungsi sebagai katalis, yaitu mempercepat terjadinya reaksi kimia tanpa mengubah
kesetimbangan reaksi.

4. Enzim hanya diperlukan dalam jumlah sedikit.

5. Enzim dapat bekerja secara bolak-balik.


6. Kerja enzim dipengaruhi oleh lingkungan, seperti oleh suhu, pH, konsentrasi, dan lain-lain
(Mulia, 2007).

Fungsi penting dari enzim adalah sebagai biokatalisator, reaksi kimia secara kolektif
membentuk metabolisme perantara sel, suatu bagian yang sangat kecil dari suatu molekul
besar protein enzim sangat berperan untuk katalis reaksi. Bagian yang kecil ini dinamakan
bagian aktif enzim. Aktivitas katalik enzim dapat ditentukan juga melalui struktur tiga
dimensi molekul enzim tersebut. Enzim disini mempunyai peranan katalis dalam menurunkan
aktivitas dari reaksi energi. Aktivasi dapat diartikan sebagai sejumlah energi atau kalori yang
diturunkan oleh suatu mol zat pada temperatur tertentu untuk membawa molekul kedalam
aktifnya atau keadaan aktifnya, menurunkan energi aktivasi, mempercepat reaksi pada suhu
dan tekanan tetap tanpa mengubah besarnya tetapan seimbangnya, dan mengendalikan reaksi
(Aldi, 2010). Enzim terdiri atas dua bagian, yaitu koenzim dan apoenzim. Koenzim dan
apoenzim membentuk haloenzim yang merupakan enzim aktif. Tanpa adanya koenzim,
enzim menjadi tidak aktif (Aldi, 2010).

Berdasarkan jenis reaksi yang dikatalisis, enzim dapat dibagi menjadi enam golongan
uatama, yaitu:

1. Oksidoreduktase: kelompok enzim yang mengerjakan reaksi oksidasi dan reduksi


2. Transferase: kelompok enzim yang berperan dalam reaksi pemindahan suatu gugus
dari suatu senyawa kepada senyawa lain.
3. Hidrolase: Kelompok emzim yang berperan dalam reaksi hidrolisis
4. Liase: Kelompok enzim yang mengkatalisis reaksi adisi atau pemecahan ikatan
rangkap
5. Isomerase: kelompok enzim yang mengkatalisis perubahan konformasi molekul
(isomerisasi)
6. Ligase(Sintetase): kelompok enzim yang mengkatalisis pembentukkan ikatan kovalen
(Salila, 2010).

Enzim memegang peranan penting dalam berbagai reaksi dalam sel. Sebagai protein, enzim
diproduksi dan digunakan oleh sel hidup untuk mengkatalisis reaksi seperti konversi energi
dan metabolisme pertahanan sel. Enzim amilase memiliki kemampuan untuk memecah
molekul-molekul pati dan glikogen. Molekul pati yang merupakan polimer dari alfa-D-
glikopiranosa akan dipecah oleh enzim pada ikatan alfa-1,4- dan alfa-1,6-glikosida (Aldi,
2010).

Enzim amilase dapat diperoleh dari sekresi air liur atau saliva. Saliva adalah suatu cairan oral
yang kompleks dan tidak berwarna yang terdiri atas campuran sekresi dari kelenjar ludah
besar dan kecil yang ada pada mukosa oral. Saliva dapat disebut juga kelenjar ludah atau
kelenjar air liur. Semua kelenjar ludah mempunyai fungsi untuk membantu mencerna
makanan dengan mengeluarkan suatu sekret yang disebut saliva (ludah atau air liur).
Pembentukan kelenjar ludah dimulai pada awal kehidupan fetus (4 12 minggu) sebagai
invaginasi epitel mulut yang akan berdiferensiasi ke dalam duktus dan jaringan asinar (Aldi,
2010).

Saliva merupakan cairan mulut yang kompleks terdiri dari campuran sekresi kelenjar saliva
mayor dan minor yang ada dalam rongga mulut. Saliva sebagian besar yaitu sekitar 90
persennya dihasilkan saat makan yang merupakan reaksi atas rangsangan yang berupa
pengecapan dan pengunyahan makanan (Kidd, 1992).
Saliva terdapat sebagai lapisan setebal 0,1-0,01 mm yang melapisi seluruh jaringan rongga
mulut. Pengeluaran air ludah pada orang dewasa berkisar antara 0,3-0,4 ml/menit sedangkan
apabila distimulasi, banyaknya air ludah normal adalah 1-2 ml/menit. Menurunnya pH air
ludah (kapasitas dapar / asam) dan jumlah air ludah yang kurang menunjukkan adanya resiko
terjadinya karies yang tinggi. Meningkatnya pH air ludah (basa) akan mengakibatkan
pembentukan karang gigi (Aldi, 2010).

Saliva memiliki beberapa fungsi, yaitu melicinkan dan membasahi rongga mulut sehingga
membantu proses mengunyah dan menelan makanan, membasahi dan melembutkan makanan
menjadi bahan setengah cair ataupun cair sehingga mudah ditelan dan dirasakan,
membersihkan rongga mulut dari sisa-sisa makanan dan kuman, mempunyai aktivitas
antibacterial dan sistem buffer, membantu proses pencernaan makanan melalui aktivitas
enzim ptyalin (amilase ludah) dan lipase ludah, perpartisipasi dalam proses pembekuan dan
penyembuhan luka karena terdapat faktor pembekuan darah dan epidermal growth factor
pada saliva, jumlah sekresi air ludah dapat dipakai sebagai ukuran tentang keseimbangan air
dalam tubuh dan membantu dalam berbicara (pelumasan pada pipi dan lidah) (Aldi, 2010).

Tumbuhan kepel (Stelechocarpus burahol) adalah pohon penghasil buahhidangan meja yang
menjadi flora identitasDaerah Istimewa Yogyakarta. Buah kepel digemari puteri kraton-kraton di Jawa karena
dipercaya menyebabkan keringat beraroma wangi dan membuat air seni tidak berbau tajam. Pohon tegak, tidak
merontokkan daun secara serentak, tingginya mencapai 25 m. Tajuknya teratur berbentuk kubah meruncing ke
atas (seperti cemara) dengan percabangan mendatar atau agak mendatar. Diameter batang utamanya mencapai
40cm, berwarna coklat-kelabu tua sampai hitam, yang secara khas tertutup oleh banyak benjolan yang besar-
besar. Daunnya berbentuk lonjong-jorong sampai bundar-telur/bentuk lanset, berukuran (12-27)cm (5-9)cm,
berwarna hijau gelap, tidak berbulu, merontal tipis; tangkai daunnya mencapai 1,5 cm panjangnya. Daunnya
muncul secara serentak berubah dari merah muda pucat menjadi merah keunguan sebelum berubah lagi menjadi
hijau cemerlang (Anonim, 2009).

METODE

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1. Alat :

a. tabung reaksi

b. gelas beker

c. rak tabung reaksi

d. penjepit

e. pipet tetes

f. pipet ukur

g. pro pipet

h. spektrofotometer
i. waterbath

j. plat tetes

k. kuvet

l. tissue

m. bunsen

n. gelas pengaduk

o. timbangan

p. tabung film

q. pisau

r. cawan porselin

s. aluminium foil

3.1.2. Bahan :

a. Larutan iod

b. larutan NaNO3 0,1 M

c. larutan NaNO3 0,5 M

d. larutan NaNO3 1 M

e. larutan NaNO3 3 M

f. larutan NaNO3 5 M

g. larutan NaNO2 5 M

h. larutan amilum 1 %

i. daun kepel

j. larutan SA 1 %

k. larutan NAD 0,2%

l. Larutan buffer pH 5
m. Larutan buffer pH 6

n. Larutan buffer pH 7

o. Larutan buffer pH 8

p. Larutan buffer pH 9

q. Aquadest

r. saliva

3.2.Cara Kerja

3.2.1. Hidrolisa amilum

a. Tabung reaksi disediakan 4 buah, masing-masing diisi dengan 10 ml amilum dan 3 ml saliva.

b. Tabung reaksi 1 dan 3 diinkubasi pada suhu ruang, tabung reaksi 2 dan 4 dimasukkan ke
dalam waterbath

c. setiap 1 menit, 1 tetes saliva diambil dan diuji dengan iod 0,01 N sampai berwarna kuning (-)

d. saliva diuji benedict ( 2ml benedict ditambahkan 5 tetes saliva) dan dipanasi menggunakan
bunsen.

e. perubahan yang terjadi diamati dan di catat.

3.2.2. Reduksi Nitrat

a. Tabung reaksi disediakan sebanyak 4 buah dan diisi dengan 300 mg daun kepel, 0,1 ml
NaNO3 5 M.

b. tabung reaksi 1 dan 2 ditambah dengan buffer posfat pH 6 sebanyak 5 ml, tabung reaksi 3
dan 4 ditambah aquadest sebanyak 5ml.

c. tabung reaksi 1 dan 3 diinkubasi di waterbath, tabung reaksi 2 dan 4 diinkubasi disuhu ruang

d. setiap 3 menit, 3 tetes saliva diambil dan ditambahkan dengan 1 tetes SA dan 1 tetes NAD
samapi warnanya berubah menjadi pink.

e. waktu yang dibutuhkan untuk berubah menjadi pink dicatat.

3.2.3. Pengaruh pH

a. Tabung film disediakan sebanyak 5 buah, masing-masing diisi dengan 300 mg daun kepel
dan 5 ml buffer posfat pH 5, 6, 7, 8 dan 9.

b. Larutan diinkubasi selama 15 menit kemudian buffer posfatnya diganti sesuai dengan
masing-masing pH-nya
c. Masing-masing tabung ditambahkan 0,1 ml NaNO3 5M dan digojok lalu didiamkan selama
30 menit.

d. setiap filtratnya diambil 0,4 ml dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi lalu ditambahkan
0,3 ml SA, 0,3 ml NED dan aquadest sehingga terbentuk warna merah.

e. Absorbansinya (OD) diukur dengan panjang gelombang 540 nm

f. grafiknya dibuat.

3.2.4. Pengaruh substrat

a. Tabung film disediakan sebanyak 15 buah dan diisi dengan 300 mg daun kepel dan 5 ml
buffer posfat pH 7 kemudian diinkubasi pada suhu ruang selama 15 menit.

b. Tabung diberi nama I1, I2, I3, I4, I5, A1, A2, A3, A4, A5, T1, T2, T3, T4, dan T5.

c. Tabung I1, I2, I3, I4, I5 di ganti buffer posfatnya dan ditambahkan 0,1 ml HgCl2 0,01%,
tabung A1, A2, A3, A4, A5 diganti buffer posfatnya dan tabung T1, T2, T3, T4,T5 dibiarkan
saja.

d. Tabung yang memiliki angka 1 ditambah dengan 0,1 ml NaNO3 0,1 M. Tabung yang
memiliki angka 2 ditambah dengan 0,1 ml NaNO3 0,5 M Tabung yang memiliki angka 3
ditambah dengan 0,1 ml NaNO3 1 M Tabung yang memiliki angka 4 ditambah dengan 0,1 ml
NaNO3 3 M Tabung yang memiliki angka 5 ditambah dengan 0,1 ml NaNO3 5 M

e. Tabung digojok dan didiamkan selama 30 menit.

f. setiap filtratnya diambil 0,4 ml dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi lalu ditambahkan
0,3 ml SA, 0,3 ml NED dan aquadest sehingga terbentuk warna merah.

g. Absorbansinya (OD) diukur dengan panjang gelombang 540 nm

h. grafiknya dibuat.

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil

Tabel 1. Hidrolisa Amilum

Tabung Perlakuan Waktu Warna akhir


1 Suhu ruang 3 menit Kuning
2 Waterbath 1 menit Kuning
3 Suhu ruang 1 menit Kuning
4 Waterbath 3 menit Kuning kecoklatan

Tabel 2.Hasil Uji Benedict


Tabung Perlakuan Warna akhir
1 Suhu ruang Biru
2 Waterbath Biru
3 Suhu ruang Biru
4 Waterbath Biru

Tabel 3. Hasil Reduksi Nitrat oleh Nitrat Reduktase

Tabung Perlakuan Waktu Warna akhir


1 Waterbath Menit ke-2 (6) Pink pekat
2 Suhu ruang Menit ke-2 (6) Pink pekat
3 Waterbath Menit ke-4 (12) Pink
4 Suhu ruang Menit ke-2 (6) Pink

Tabel 4. Hasil Uji Pengaruh pH

Tabung Od(optical density) pH


1 0,098 A 5
2 0,098 A 6
3 0,062 A 7
4 0,088 A 8
5 0,091 A 9

Tabel 5. Hasil Uji Pengaruh Substrat

Tabung Od
I1 0,017 A
I2 0,019 A
I3 0,017 A
I4 0,020 A
I5 0,010 A
A1 0,080 A
A2 0,063 A
A3 0,047 A
A4 0,067 A
A5 0,049 A
T1 0,112 A
T2 0,101 A
T3 0,097 A
T4 0,115 A
T5 0,051 A

4.2 Pembahasan
Enzim adalah substansi kimia organik yang dapat mempercepat reaksi kimia tanpa ikut serta
dalam proses atau menjadi bagian dari produk yang terbentuk. Enzim merupakan
biokatalisator. Apabila tanpa enzim, reaksi akan berlangsung lambat. Enzim bersifat spesifik
yaitu enzim tertentu hanya dapat mengkatalisis reaksi tertentu.

Pada percobaan hidrolisis amilum diberikan 2 perlakuan pada saliva (kelenjar ludah), yaitu
pada suhu ruang dan waterbath. Di dalam saliva terdapat amilum yang dapat dipecah oleh
enzim amilase. Uji iod yang dilakukan untuk mengetahui bahwa amilum telah terhidrolisis
seluruhnya, yaitu dengan menunjukkan hasil negatif yaitu berwarna kuning. Inkubasi dalam
waterbath akan membuat hidrolisis amilum akan berlangsung lebih cepat, karena semakin
tinggi suhu, aktivitas enzim pada suatu reaksi akan berlangsung lebih cepat. Namunpada
saliva yang diinkubasi dengan suhu ruang dan yang diinkubasi pada waterbath mempunyai
kisaran waktu yang sama yaitu 1 3 menit, seharusnya berdasarkan teori di atas, saliva yang
diinkubasi pada waterbath memiliki waktu yang lebih cepat untuk beraksi. Hal ini mungkin
terjadi kesalahan praktikan pada saat menghitung waktu. Reaksi yang terjadi pada saat uji iod
dan amilum adalah terbentuknya warna biru. Untuk mengetahui apakah amilum telah
terhidrolisa menjadi bentuk yang lebih sederhana, monosakarida atau oligosakarida, maka uji
dilakukan hingga negatif.

Pada uji benedict hasil positif adalah terbentuknya warna hijau, kuning, jingga, dan merah.
Uji benedict dilakukan untuk mengetahui adanya gula reduksi. Saliva pada tabung 1, 2,
3, dan 4 warnanya tetap biru yang berarti keempat tabung saliva
tersebuttidak mengandung gula reduksi.

Pada percobaan reduksi nitrat dilihat berapa lama waktu yang diperlukan oleh enzim nitrat
reduktase untuk mereduksi nitrat. Tabung 1 dan 3 diberi perlakuan pada waterbath dan pada
tabung 2 dan 4 pada suhu ruang. Waktu yang dibutuhkan tabung1,2, dan 4 adalah 6 menit,
sedangkan tabung 3 adalah 12 menit. Seharusnya pada waterbath lebih cepat dari pada suhu
ruang. Hal ini dapat disebabkan karena pengaruh suhu udara yang semakin meningkat. Buffer
fosfat pada uji ini digunakan untuk memaksimalkan kerja enzim. NaNO3 sebagai substrat
dalam uji ini. SA dan NED digunakan untuk mengetahui terjadinya proses reduksi nitrat dan
membentuk warna pink.

Pada uji pengaruh pH terhadap aktivitas enzim digunakan sampel daun kepel yang
dimasukkan ke dalam tabung film dengan penambahan buffer posfat dengan pH yang
berbeda. Tabung film 1 buffer fosfatnya pH 5, tabung 2 pHnya 6, tabung 3 pHnya 7, tabung 4
pHnya 8 dan tabung 5 pHnya 9. Kemudian sampel diinkubasi, kemudian diambil flitratnya
dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Kemudian filtrat ditambah 0,3 ml SA dan 0,3 ml
NED kemudian ditambah 6 ml aquadest dan kemudian warna merah akan terbentuk. OD
diukur dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 540nm. Hasil pengukuran
absorbansi pada pH 5 sebesar 0,098 A dan ANRnya 2299,977. Pada pH 6 OD= 0,098 dan
ANRnya 2299,977. Pada pH 7 OD = 0,062 dan ANRnya 1473,31. Pada pH 8 OD = 0,088 dan
ANRnya 2089,97. Pada pH 9 OD = 0,091 dan ANRnya 2163,31. Penambahan SA dan NED
untuk memberikan warna pink. NaNO3 digunakan sebagai substrat. Untuk mengukur
absorbansi digunakan instrumen spektrofotometer. Berdasarkan grafik, pH optimumnya
adalah

Pada uji pengaruh substrat menggunakan 15 tabung film yang masing masing diisi daun
kepel dan ditambah buffer fosfat kemudian diinkubasi pada suhu ruang. Kemudian tabung
I1, A1 dan T1 ditambah 0,1ml NaNO3 0,1M, tabung film I2, A2 dan T2 ditambah
NaNO3 0,5M sebanyak 0,1ml. Tabung I3, A3 dan T3 ditambah NaNO31M sebanyak 0,1 ml.
Tabung I4, A4 dan T4 ditambah NaNO3 1M sebanyak 0,1ml. Tabung I5, A5 dan T5 ditambah
NaNO3 5M sebanyak 0,1ml. Pada tabung I1 I5 diberi perlakuan buffer fosfatnya diganti dan
ditambah HgCl2 0,01 % sebanyak 0,1 ml. Pada tabung A1 A5 diberi perlakuan diganti
buffer fosfatnya saja. Pada tabung T1 T5 dibiarkan saja. Kemudian dilakukan seperti pada
uji pengaruh pH. Pada uji ini dilakukan pengukuran absorbansi dengan spektrofotometer.
Hasil pembacaan spektro pada tabung film I1 sampai I5 berturut turut OD dan ANRnya
berturut turut adalah 0,017 A; 0,019 A; 0,017 A; 0,020 A; 0,010 A.
ANRnya 403,32 ; 449,99 ; 403,32 ;473,32 ; 236,66. Pada tabung A1 sampai A5 ODnya
berturut turut 0,080 A; 0,063 A; 0,047 A; 0,067 A; 0,049 A dan ANRnya berturut
turut 1899,98 ; 1496,65 ; 1116,65 ;1589,98 ; 1163,32. Pada tabung T1 sampai T5 ODnya
berturut turut 0,112 A; 0,102A; 0,097 A; 0,115 A; 0,051 A dan ANRnyaberturut turut
adalah 2659,97; 2399,97;2303,31; 2733,30; 1209,98. Tujuan penggunaan tabung film ini agar
tidak ada pengaruh cahaya dalam kerja enzim mengkatalisis substratnya. NaNO3 digunakan
sebagai sustrat. Hasil perhitungan Vmax untuk I, A, T berturut-
turut 61,72; 18,45 dan11,35.Kmnya berturut turut adalah 0,0079; 0,0474 dan 0,029.

KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :

1. Enzim adalah substansi kimia organik yang dapat mempercepat reaksi kimia tanpa ikut serta
dalam proses atau menjadi bagian dari produk yang terbentuk.

2. Tes hidrolisis amilum ada 2 uji, uji iod yang dilakukan untuk mengetahui bahwa amilum
telah terhidrolisis seluruhnya, menunjukkan hasil negatif yaitu berwarna kuning dan uji
benedict menunjukkan hasil positif berwarna hijau, kuning, merah.

3. Faktor yang mempengaruhi kerja enzim adalah suhu, pH, inhibitor dan konsentrasi substrat
enzim.

4. Nilai Vmax untuk I, A, T yang diperoleh berturut-turut adalah 61,72; 18,45dan 11,35.

5. Nilai Kmuntuk I, A, T yang diperoleh berturut turut adalah 0,0079;0,0474 dan 0,029.

6. Enzim nitrat reduktase mereduksi nitrat menjadi nitrit hingga menjadi amonia.

7. Pengaruh pH terhadap enzim mempengaruhi kecepatan reaksi katalitik dan pH optimal yang
dimiliki enzim nitrat reduktase.

8. Pengaruh substrat terhadap enzim adalah mempengaruhi kecepatan enzim, semakin banyak
substrat, enzim bekerja dengan optimal sampai pada titik jenuh.

DAFTAR PUSTAKA
Aldi, 2010. Enzim II. http://agitoaldi.blogspot.com. 11 November 2010.

Anonim. 2009. Kepel. http://id.wikipedia.org. 11 November 2010.

Girindra. A. 1986. Enzim dalam Biokimia 1. Jakarta: Gramedia.


Kidd, B. 1992. Dasar-dasar karies penyakit dan Penanggulangannya. Jakarta: EGC.

Lehninger. 1990. Dasar dasar biokimia, jilid 1. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Mulia, I. 2007. Enzim. http://metabolismelink.freehostia.com. 11 November 2010.

Page,D.S. 1989. Prinsip prinsip biokimia. Edisi ke 2. Erlangga. Jakarta.

Poedjiadi, A. 2006. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: UI Press.

Salila, M. 2010. Laporan Biokimia Enzim. http://sukseskimia-sukseskimia.blogspot.com.


11 November 2010.

Posted in Laporan Praktikum Biokimia 1 Comment

Vitamin C
Posted on February 9, 2013

Tujuan Praktikum : a. Mengukur kadar suatu vitamin


b. Mempelajari pengaruh faktor lingkungan terhadap kadar vitamin C

DASAR TEORI

Vitamin merupakan suatu molekul organik yang sangat diperlukan tubuh untuk proses metabolisme dan
pertumbuhan yang normal. Vitamin bukan karbohidrat, protein maupun lipid. Tubuh tidak dapat mensintesis
vitamin-vitamin. Vitamin berdasarkan kelarutannya di dalam air, ada dua yaitu vitamin yang larut di dalam air
(vitamin B dan vitamin C) dan vitamin yang tidak larut di dalam air (vitamin A, D, E, dan K). Karena larut
dalam air, vitamin C mudah diserap dalam usus halus, dari mana ia langsung masuk ke dalam darah vena porta
ke hati dan dari sana ke seluruh tubuh. Vitamin ini disimpan dalam banyak jaringan, tetapi terutama banyak
sekali dalam organ yang berhubungan dengan aktivitas metabolisme (Tarrant, 1989).

Struktur kimia vitamin C terdiri dari rantai 6 atom C dan kedudukannya tidak stabil (C6H8O6), karena mudah
bereaksi dengan O2 di udara menjadi asam dehidroaskorbat.

(Lehninger, 1982)

Asam askorbat atau lebih dikenal dengan nama vitamin C adalah vitamin untuk jenis primat tetapi tidak
merupakan vitamin bagi hewan-hewan lain. Asam askorbat adalah suatu reduktor kuat. Bentuk teroksidasinya,
asam dehidroaskorbat, mudah direduksi lagi dengan berbagai reduktor seperti glutation (GSH). Peranan asam
askorbat sebagai koenzim belum dapat dipastikan karena asam ini tidak dapat berikatan dengan protein yang
manapun (Sulaiman, 1995).

Sumber vitamin C secara umum terdapat dalam buah jeruk, sayur-sayur hijau dan buah tomat. Pada buah-
buahan ini merupakan sumber vitamin C yang baik. Tubuh makhluk hidup setiap harinya membutuhkan vitamin
C dari 25 sampai 30 mg per harinya. Vitamin C dapat juga beracun jika diambil atau dikonsumsi dalam dosis
yang besar atau berlebihan, seperti vitamin C, pricipat hasil akhir dari katabolisme yang disebut sebagai asam
oxalit (Lal, 2000).

Contoh buah yang banyak mengandung vitamin C adalah nanas dan jambu biji. Buah nanas (Ananas comosus)
mengandung vitamin (A dan C), kalsium, fosfor, magnesium, besi, natrium, kalium, dekstrosa, sukrosa (gula
tebu), dan enzim bromelain. Bromelain berkhasiat antiradang, membantu melunakkan makanan di lambung,
mengganggu pertumbuhan set kanker, menghambat agregasi platelet, dan mempunyai aktivitas fibrinolitik.
Kandungan seratnya dapat mempermudah buang air besar pada penderita sembelit (konstipasi). Daun
mengandung calsium oksalat dan pectic substances. Hampir sama dengan pisang, nanas juga mengandung serat
yang berguna untuk membantu proses pencernaan, menurunkan kolesterol dalam darah dan mengurangi resiko
diabetes dan penyakit jantung. Serat dari 150 gram nanas setara dengan separuh dari jeruk. Selain itu kandungan
vitamin dan mineral menjadikan nanas sumber yang bagus untuk vitamin C dan berbagai macam vitamin
lainnya (Muhammad, 2008).

Buah jambu biji (Psidium guajava) sangat kaya vitamin C dan beberapa jenis mineral yang mampu menangkis
berbagai jenis penyakit dan menjaga kebugaran tubuh. Daun dan kulit batangnya mengandung zat anti bakteri
yang dapat menyembuhkan beberapa jenis penyakit . Selain vitamin C, jambu biji juga mengandung potasium
dan besi. Sebagian besar vitamin C jambu biji terkonsentrasi pada bagian kulit serta daging bagian luarnya yang
lunak dan tebal. Sehinga, jambu biji lebih baik dikonsumsi beserta kulitnya. Kandungan vitamin C buah jambu
biji sekitar 87 mg, dua kali lipat dari jeruk manis (49 mg/100 g), lima kali lipat dari orange, serta delapan kali
lipat dari lemon (10,5 mg/100 g). Dibandingkan jambu air dan jambu bol, kadar vitamin C pada jambu biji jauh
lebih besar, yaitu 17 kali lipat dari jambu air (5 mg/100 g) dan empat kali lipat dari jambu bol (22 mg/100 g).
Jambu biji dapat dijadikan sebagai sumber utama bagi kebutuhan vitamin C tubuh. Konsumsi jambu biji seberat
90 gram setiap hari sudah mampu memenuhi kebutuhan vitamin harian orang dewasa, sehingga mampu menjaga
kesehatan dan kebugaran tubuh (Plantus, 2008).

Salah satu fungsi utama dari vitamin C adalah mencegah sariawan dan gusi berdarah, dengan cara pembentukan
kolagen. Kolagen adalah protein yang fungsinya seperti lem, merekatkan sel-sel kulit tulang dan otot, sehingga
luka dan patah tulang atau memar biru cepat sembuh. Pada pria dampak lanjut kekurangan vitamin c adalah
menurunnya kesuburan dan meningkatnya resiko kerusakan gen pada sperma yang dapat menyebabkan cacat
pada bayi. Fungsi utama dari vitamin C sebagai antioksidan yaitu menetralkan racun dan radikal bebas dalam
darah maupun cairan sel tubuh. Dengan cara ini peran vitamin C mencegah terjadinya oksidasi kolesterol LDL
dan mencegah tersumbatnya pembuluh darah sehingga tidak menyebabkan hypertensi dan penyakit jantung,
juga menjaga kesehatan paru-paru karena menetralkan radikal bebas yang masuk melalui pernafasan.

Vitamin C juga meningkatkan sel-sel darah putih yang dapat melawan infeksi sehingga flu sembuh lebih
cepat,membantu mengaktifkan asam folat,meningkatkan penyerapan zat besi sehingga mencegah
anemia,meregenerasi vitamin E sehingga bisa dipakai lagi sebagai anti-oksidan.Vitamin c ada yang alami juga
ada yang sintetik.asal keduanya berbentuk L-ascorbic acid dan tidak memiliki perbedaan kinerja pada keduanya
(Siregar, 2009).

Vitamin C sangat mudah dirusak oleh pemanasan, karena ia mudah dioksidasi. Dapat juga hilang dalam jumlah
yang banyak pada waktu mencincang sayur-sayuran seperti kol atau pada menumbuk kentang (Harper, 1979).

Vitamin C dapat hilang karena hal-hal seperti:

1. Pemanasan, yang menyebabkan rusak/berbahayanya struktur

2. Pencucian sayuran setelah dipotong-potong terlebih dahulu

3. Adanya alkali atau suasana basa selama pengolahan

4. Membuka tempat berisi vitamin C, sebab oleh udara akan terjadi oksidasi yang tidak reversible. Penambahan
tomat atau jeruk nipis dapat mengurangi kadar vitamin C (Poedjiadi, 1994).

Di samping sangat larut dalam air, vitamin C mudah teroksidasi dan proses tersebut dipercepat oleh panas, sinar
atau enzim oksidasi, serta oleh katalis lembaga dan besi. Oksidasi akan terhambat bila vitamin C dibiarkan
dalam keadaan asam atau suhu rendah. Buah yang masih muda (mentah) lebih banyak mengadung vitamin C.
Semakin tua buah, semakin berkurang vitamin C-nya (Prawirokusumo, 1994).

Pada proses penyimpanan yang lama, penambahan, peradangan dan pengerutan akan menurunkan kandungan
vitamin C pada bahan makanan, terutama sayuran dan buah-buahan. Kebutuhan vitamin C pada tubuh setiap
hari kurang lebih 60 mg. Sumber vitamin C terdapat pada jeruk, tomat, nanas, papaya, bunga kol, bayam, daun
papaya dan daun singkong (Auliana, 1994).

Iodin dan iodium pada vitamin C digunakan sebagai indicator vitamin C, berperan penting dalam hidroksilisin
prolin dan lisin menjadi hidroksiprolin dan hidroksilisin yang merupakan bahan pembentuk kolagen. Vitamin C
merupakan reduktor kuat dan penentuannya dapat ditentukan dengan menggunakan titrasi yang digunakan
adalah iodine berdasarkan sifat yang menentukannya. Indikator yang digunakan adalah amilum dengan
standarisasi iodine yaitu 1 ml 0.01 N dan iodine ekivalen 0.8 asam askorbat (Poedjiadi, 1994).

Angka kecukupan gizi vitamin C berkisar 60-90 mg/hari. AKG ini tergantung kebutuhan tubuh seseorang juga
dipengaruhi jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, aktivitas fisik dan stres, tetapi tidak terlalu jauh dari 100
mg/hari untuk vitamin C. Kekurangan vitamin C akan menyebabkan penyakit sariawan atau skorbut. Penyakit
skorbut biasanya jarang terjadi pada bayi; bila terjadi pada anak-anak, biasanya pada usia setelah 6 bulan dan
dibawah 12 bulan. Gejala-gejala penyakit skorbut ialah terjadinya pelembekan tenunan kolagen, infeksi, dan
demam. Juga timbul sakit, pelunakan, dan pembengkakan kaki bagian paha. Pada anak yang giginya telah
keluar, gusi membengkak, empuk, dan terjadi pendarahan. Pada orang dewasa skorbut terjadi setelah beberapa
bulan menderita kekurangan vitamin C dalam makanannya. Gejala-gejalanya ialah pembengkakan dan
pendarahan pada gusi, gingivalis, kaki menjadi empuk, anemia, dan deformasi tulang. Penyakit sariawan yang
akut dapat disembuhkan dalam beberapa waktu dengan pemberian 100 sampai 200 mg vitamin C per hari. Bila
penyakit sudah kronik perlu diperlukan waktu lebih lama untuk penyembuhannya dan suplai vitamin C yang
lebih ditingkatkan.

Penetuan kadar vitamin C dapat ditentukan melalui titrasi. Jenis titrasi yang digunakan adalah titrasi iodimetri
yang termasuk dalam titrasi redoks yang menggunakan amilum sebagai indikator. Sebenarnya titrasi ini dapat
dilakukan tanpa indikator karena warna iodin yang di titrasi akan lenyap bila titik akhir tercapai. Warna yang
terjadi ialah coklat tua menjadi lebih muda, lalu kuning, kuning muda, sampai warna benar-benar lenyap.
Namun untuk lebih mudahnya ditambahkan amilum sebagai indikator. Amilum dapat membentuk kompleks
berwarna biru bila bereaksi dengan iodin (Harjadi, 1986).

Memasak menggunakan microwave merupakan cara paling efektif untuk mempertahankan vitamin larut air
seperti vitamin C karena paparan panas berkurang dan sedikit air digunakan. Tapi hal ini dapat merusak
antioksidan larut lemak. Vitamin B dan C akan berkurang jika makanan dibiarkan hangat terlalu lama atau
terlalu panas, selalu menggunakan pisau tajam, menggunakan pisau tumpul saat memotong sayuran segar dapat
menyebabkan kerusakan sel yang akhirnya menimbulkan kehilangan vitamin C (Dechacare, 2009).

Penyimpan buah, sayuran, dan salad dalam kondisi dingin dan gelap seperti dalam lemari es atau pantry sangat
disarankan, cahaya dan panas akan merusak vitamin B dan C, menyimpan buah dalam mangkuk besar di atas
meja sangat tidak disarankan. buah dan sayuran beku kerap mengandung lebih banyak zat gizi dari pada yang
segar. Hal ini karena pangan tersebut dibekukan segera setelah dipanen. Penyimpanan di lemari es sebaiknya :

1. Lemari pendingin dipasang pada suhu 4C atau kurang. Suhu ini cukup membantu memperlambat

proses enzimatik dan pertumbuhan bakteri, tetapi tidak terlalu dingin untuk mempengaruhi kualitas makanan
dengan adanya kristal es yang terbentuk. Ada baiknya memasang termometer kulkas guna memastikan suhu
yang cukup rendah bagi keamanan pangan.

1. Selalu tutup makanan dalam lemari es. Udara di dalam kulkas sangat kering, sehingga makanan akan
mudah kering, kehilangan kualitas, dan menjadi tidak menarik dalam waktu singkat.
2. Suhu dingin kulkas memperlambat proses enzim dalam makanan dan juga reproduksi bakteri. Hal ini
memperpanjang kualitas, rasa, dan tekstur makanan, serta menjaga makanan aman lebih lama. Patut
diperhatikan bahwa kulkas tidak membunuh bakteri dan tak dapat memperbaiki kualitas makanan.
3. Jangan mengisi kulkas terlalu penuh. Pastikan selalu ada ruang yang cukup antara makanan yang bisa
membuat udara bebas bersirkulasi di antaranya. Dengan begitu, suhu akan lebih merata.
1. Gunakan termometer kulkas untuk mengecek suhu kesegaran dan rak-rak. Bagian paling dingin

dalam kulkas bukan tempat untuk menyimpan makanan yang rentan seperti daun selada dan buah lembut
misalnya pepaya.

1. Makanan yang perlu didinginkan sebaiknya dimasukkan ke kulkas setidaknya dalam waktu 2 jam
setelah dimakan untuk mencegah pertumbuhan bakteri.
2. Bersihkan kulkas setiap tiga minggu sekali. Buang sayur, buah, dan makanan yang sudah tidak dapat
dikonsumsi (Dechacare, 2009).
Walaupun disimpan dalam freezer, buha yang diberi perlakuan penyimpanan ini masih terdapat kemungkinan
berkurangnya kadar vitamin C akibat vitamin C di dalamnya rusak. Hal ini disebabkan karena sifat dari vitamin
C yang mudah teroksidasi baik oleh perlakuan panas maupun perlakuan lainnya. Kerusakan vitamin C dalam
kasus ini dapat terjadi karena vitamin C ini teroksidasi oleh cahaya atau sesaat sebelum pulp ini dimasukkan ke
dalam freezer, pulp tersebut sempat disimpan pada suhu kamar atu bahkan suhu tunggi. Vitamin C teroksidasi
dalam larutan oleh oksigen, dengan memberikan 2 elektron pada senyawa oksidator. Vitamin C sangat sensitif
terhadap pemanasan, bahkan pemanasan yang tergolong ringan (sedikit diatas suhu kamar). Vitamin C mudah
teroksidasi, lebih-lebih apabila terdapt katalisator Fe, Cu, enzim askorbat oksidase, sinar, temperatur yang
tinggi. Fe ini bisa masuk ke dalam pulp jambu pada saat proses pembuatan pulp dengan menggunakan mesin
yang sudah lama atau tidak steril (Akbay, 2009).

Kadar dari vitamin C, dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :

1. Keadaan buah : semakin layu/kusut atau tidak segarnya vitamin menyebabkan kadar vitamin C yang
terkandung dalam buah tersebut berkurang.
2. Waktu pengekstraksian : semakin lama waktu mengekstrasi kandungan vitamin C akan semakin
berkurang.
3. Masa penyimpanan : semakin lama suatu bahan disimpan, kadarnya akan semakin rendah.
4. Suhu : semakin tinggi suhu, kadarnya akan semakin rendah (Imma, 2009).

METODE

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1. Alat :

1. pipet tetes
2. pipet ukur
3. pro pipet
4. gelas beker
5. corong
6. erlenmeyer
7. statif
8. buret
9. gelas ukur
10. termometer
11. botol plastik
12. kulkas
13. oven

3.1.2. Bahan :

1. sari buah jambu biji


2. sari buah nanas
3. larutan iod 0,01 N
4. larutan amilum 1%

3.2.Cara Kerja

3.2.1. Pembuatan Sari Buah

1. Sampel berupa buah jambu biji dan buah nanas dipotong dan dihancurkan dengan menggunakan juicer.
2. Sari buah jambu biji dan nanas ditimbang sebanyak 400 gram.
3. Sari buah jambu biji dan nanas diencerkan dengan aquadest sampai 1000 ml.

3.2.2. Pengaruh Faktor Temperatur


1. Sampel berupa sari buah jambu biji dan sari buah nanas dimasukkan ke dalam botol sebanyak 200 ml
dengan menggunakan gelas ukur.
2. Setiap sampel diberi perlakuan pada suhu kamar terbuka, suhu kamar tertutup, lemari es dengan suhu
4C dan pada inkubator dengan suhu 50C.
3. Kadar dan suhu vitamin C dari setiap sampel dihitung selama 6 hari (hari ke-0, ke-1, ke-2, ke-3, ke-4,
dan ke-5.
4. Grafik kadar vitamin C dibuat.

3.2.3. Pengukuran Kadar Vitamin C

1. Sampel berupa sari buah jambu biji dan sari buah nanas diambil sebanyak 10 ml dan dimasukkan ke
dalam erlenmeyer.
2. Sari buah ditambahkan dengan 2 ml amilum 1%.
3. Larutan dititrasi dengan menggunakan iodium 0,01 N sampai berwarna biru.
4. Volume titran dicatat dan kadar vitamin C dihitung dengan menggunakan rumus volume titran x N
titran x 88 (mg asam askorbat).

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Tabel 1. Hasil pengamatan kadar vitamin C pada sari buah Nanas

Sari buah Nanas


Hari ke-
Perlakuan Pengamatan 0 1 2 3 4 5
Suhu (C) 25 10 8 10 15,5 7
V.Iod (ml) 0,2 0,3 0,5 0,3 0,3 0,5
Lemari es 4C Kadar vit C (mg) 0,176 0,264 0,44 0,264 0,264 0,44
Suhu (C) 25 34 32 35 24 28
V.Iod (ml) 0,2 0,4 0,5 0,2 0,5 0,5
Inkubator 50C Kadar vit C (mg) 0,176 0,352 0,44 0,176 0,44 0,44
Suhu (C) 25 29 26 24 25 24
Suhu kamar V.Iod (ml) 0,2 1 0,5 0,3 0,5 0,5
terbuka Kadar vit C (mg) 0,176 0,88 0,44 0,264 0,44 0,44
Suhu (C) 25 29 26 26 23 24
Suhu kamar V.Iod (ml) 0,2 1,5 0,3 0,3 0,4 0,5
tertutup Kadar vit C (mg) 0,176 1,32 1,32 0,264 0,352 0,44

Tabel 2. Hasil pengamatan kadar vitamin C pada sari buah jambu biji

Sari buah Jambu Biji


Hari ke-
Perlakuan Pengamatan 0 1 2 3 4 5
Suhu (C) 2,4 1,4 10 10 35 10
V.Iod (ml) 1,6 1 1 0,5 1 0,4
Lemari es 4C Kadar vit C (mg) 1,408 0,88 0,88 0,44 0,88 0,352
Suhu (C) 2,4 34 34 31 8 31
V.Iod (ml) 1,6 1 1 0,7 0,8 0,9
Inkubator 50C Kadar vit C (mg) 1,408 0,88 0,88 0,616 0,704 0,792
Suhu (C) 2,4 29 26 26 26 25
Suhu kamar V.Iod (ml) 1,6 0,8 1 0,9 0,6 0,8
terbuka Kadar vit C (mg) 1,408 0,704 0,88 0,792 0,528 0,704
Suhu (C) 2,4 29 26 26 26 26
Suhu kamar V.Iod (ml) 1,6 1 0,5 0,4 0,8 0,9
tertutup Kadar vit C (mg) 1,408 0,88 0,44 0,352 0,704 0,742
4.2. Pembahasan

Vitamin adalah senyawa organik kompleks esensial untuk pertumbuhan dan fungsi biologis yang lain bagi
mahluk hidup. Salah satunya adalah vitamin C. Asam askorbat (Vitamin C) adalah suatu heksosa dan
diklasifikasikan sebagai karbohidrat yang erat kaitannya dengan monosakarida.Vitamin C mudah diabsorbsi
secara aktif dan mungkin pula secara difusi pada bagian atas usus halus lalu masuk keperedaran darah melalui
vena porta. Rata-rata absorpsi adalah 90% untuk konsumsi diantara 20 dan 120 mg sehari. Tubuh dapat
menyimpan hingga 1500 mg vitamin C, bila konsumsi mencapai 100 mg sehari. Cara menganalisa vitamin C
dapat dilakukan secara kimiawi, biologis maupun mikrobiologi. Kandungan vitamin C sangat beragam
antarvarietas, tetapi berkisar antara 27-49 mg/100 g daging buah. Sari buah jeruk mengandung 40-70 mg
vitamin C per 100 ml. Vitamin C memiliki rumus molekul C6H8O6 dengan berat molekul 176,13, memiliki
struktur sebagai berikut

Vitamin C berperan serta di dalam banyak proses metabolisme yang berlangsung di dalam jaringan tubuh.fungsi
fisiologis yang telah diketahui memerlukan Vitamin ialah:

a. Kesehatan substansi matrik jaringan ikat.

b. Integritas epitel melalui kesehatan zat perekat antar sel.

c. Mekanisme immuitas dalam rangka daya tahan tubuh terhadap berbagai serangan penyakit dan toksin.

d. Kesehatan epitel pembluh darah.

e. Penurunan kadar kolesterol.

f. Diperlukan untuk pertumbuhan tulang dan gigi-geligi.

Vitamin C sangat mudah larut dalam air (1 gram dapat larut sempurna dalam 3 ml air), sedikit larut dalam
alkohol (1 gram larut dalam 50 ml alkohol absolute atau 100 ml gliserin) dan tidak larut dalam benzene, eter,
chloroform, minyak dan sejenisnya. Sifat yang paling utama dari Vitamin C adalah kemampuan mereduksinya
yang kuat dan mudah teroksidasi yang dikatalis oleh beberapa logam, terutam Cu dan Ag.

Sumber Vitamin C di dalam bahan makanan terutama buah-buahan segar dan dengan kadar yang lebih rendah
juga di dalam sayuran segar. Di dalam buah, Vitamin C terdapat dengan konsentrasi tinggi di bagian kulit buah,
agak lebih rendah terdapat di dalam daging buah dan lebih rendah lagi di dalam bijinya.

Penentuan kadar vitamin C dapat dikerjakan dengan titrasi iodometri. Indikator yang dipakai adalah amilum.
Akhir titrasi ditandai dengan terjadinya warna biru dari iod-amilum. Reaksinya : C6H8O6 + I2 2HI + C6H8O6

Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui kadar vitamin C pada buah nanas dan jambu biji. Selain itu juga
untuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan terhadap kadar vitamin C. Sehingga percobaan dilakukan selama
6 hari dan dengan 4 perlakuan (lemari es 4C, inkubator 50C, suhu kamar terbuka dan suhu kamar tertutup).

Kadar vitamin C pada sari buah nanas adalah 0,176. Pada perlakuan lemari es 4 oC hari ke-1, 3, dan 4 kadar
vitaminnya 0,264, sedangkan pada hari ke-2 dan 5 kadar vitaminnya 0,44. Pada perlakuan inkubator 50 oC, kadar
vitamin C pada hari ke-1 sebesar 0,352, pada hari ke-3 yaitu 0,176 sedangkan pada hari ke-2, 4, dan 5 kadarnya
sama yaitu 0,44. Pada perlakuan suhu kamar terbuka, kadar vitamin C hari ke-1 sebesar 0,88, pada hari ke-2, 4,
dan 5 kadarnya sebesar 0,44, sedangkan pada hari ke-3 sebesar 0,264. Pada perlakuan suhu kamar tertutup,
kadar vitamin C hari ke-1 sebesar 1,32, pada hari ke-2 dan 3 sebesar 0,264, pada hari ke-4 sebesar 0,352,
sedangkan pada hari ke-5 sebesar 0,44.

Kadar vitamin C pada sari buah jambu biji adalah 1,408. Pada perlakuan lemari es hari ke-1, 2, dan 4 kadar
vitaminnya sebesar 0,88, pada hari ke-3 sebesar 0,44, sedangkan pada hari ke-5 sebesar 0,352. Pada perlakuan
inkubator 50 oC, kadar vitamin c hari ke-1 dan 2 sebesar 0,88, pada hari ke-3 sebesar 0,616, pada hari ke-4
sebesar 0,704, sedangkan pada hari ke-5 sebesar 0,792. Pada perlakuan suhu kamar terbuka, kadar vitamin hari
ke-1 dan 5 sebesar 0,704, pada hari ke-2 sebesar 0,88, pada hari ke-3 sebesar 0,792, sedangkan pada hari ke-4
sebesar 0,528. Pada perlakuan suhu kamar tertutup, kadar vitamin hari ke-1 sebesar 0,88, hari ke-2 sebesar 0,44,
hari ke-3 sebesar 0,352, hari ke-4 sebesar 0,704, sedangkan pada hari ke-5 sebesar 0,742.

Dari hasil percobaan dapat dilihat perubahan kadar vitamin C sangat beragam. Secara umum, kadar vitamin C
jambu biji lebih tinggi dari pada nanas. Setelah penyimpanan selama 6 hari, kadar vitamin C dari setiap
perlakuan secara umum menurun. Beberapa terjadi penaikan dan penurunan, hali ini dapat disebabkan karena
kesalahan praktikan saat titrasi, mungkin kebanyakan memberi larutan iodin atau tidak teliti dalam membaca
volume iod yang digunakan.

Selain itu juga, adanya perubahan yang tidak stabil ini dapat disebabkan karena perubahan suhu yang tidak tetap
sehingga mempengaruhi kadar vitaminnya. Semakin rendah suhu maka kadar vitamin C semakin rendah. Begitu
juga lama waktu penyimpanan, semakin lama waktu yang dipakai, kadar vitaminnya semakin rendah pula.

Jika dibuat dalam bentuk grafik, dapat dilihat bahwa penurunan kadar vitamin C (nanas dan jambu biji) yang
paling drastis adalah pada perlakuan inkubator 50oC, kemudian suhu kamar tertutup, suhu kamar terbuka, dan
lemari es 4C. Perubahan yang tidak terlalu menonjol terlihat pada vitamin C yang disimpan pada lemari es
dengan suhu 4C. Jika disimpan pada inkubator 50C, kadar vitamin C akan mengalami penurunan yang drastis,
tapi stabil. Kadar vitamin C pada suhu kamar terbuka lebih rendah dari pada kadar vitamin C pada suhu kamar
tertutup dan tentu saja lebih rendah dari pada vitamin C yang disimpan pada lemari es dengan suhu 4C. Tapi
diantara kedua perlakuan ini tidak jauh berbeda. Ketika dilakukan percobaan pun, sari buah mengalami
pemisahan atau terbentuk 2 lapisan, sedangkan sari buah yang disimpan dalam lemari es tidak terpisah menjadi
2 lapisan. Sehingga dapat diketahui, tempat penyimpanan buah yang paling efektif adalah lemari es atau pada
suhu yang rendah. Secara lebih jelas dapat dilihat pada grafik yang telah dibuat.

KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :

1. Kadar vitamin C dalam sari buah nanas dengan metode titrasi iodium adalah 0,176.
2. Kadar vitamin C dalam sari buah jambu biji dengan metode titrasi iodium adalah 1,408.
3. Kadar vitamin C jambu biji lebih tinggi dari pada nanas.
4. Kadar vitamin C akan menurun bila disimpan berhari-hari dan dalam perlakuan yang tidak benar.
5. Penyimpanan buah yang paling cocok adalah dalam lemari es 4 C.
6. Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar vitamin C adalah keadaan buah, waktu pengekstraksian, masa
penyimpanan, dan suhu.

DAFTAR PUSTAKA

Akbay. 2009. Analisa Pulp Jambu Biji. http://vedbay.blog.com. 3 November 2010.

Auliana, R. 1994. Gizi dan Pengolahan Lahan. Adicita Karya Nusa, Yogyakarta.

Dechacare. 2009. Agar Bahan Makanan Tidak Kehilangan Gizi. http://jawaban.com. 3 November 2010.

Harjadi, W. 1986. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta. PT Gramedia.

Harper, H.A. 1979. Biokimia. Diterjemahkan oleh Martin M. EGC, Jakarta.

Imma, N. 2009. Penentuan Kadar Vitamin C. http://nomist07.blogspot.com. 3 November 2010.

Lal, H. 2000. Biochemistry for Dental Students. CBS Publishers and Distributor, New Delhi.

Lehninger. 1982. Dasar Dasar Biokimia. Jakarta. Erlangga.

Muhammad. 2008. Buah Nanas. http://artiirhamna.multiply.com. 3 November 2010.


Plantus, 2008. Vitamin C Terbaik dari Jambu Biji. http://anekaplanta.wordpress.com. 3 November 2010.

Prawirokusumo, S. 1994. Ilmu Gizi Komparatif. BPFE, Yogyakarta.

Poedjiadi, A. 1994. Dasar-dasar Biokimia. UI-Press, Jakarta.

Siregar, H.A. 2009. Vitamin C. http://cookfamily-warfusion11.blogspot.com. 3 November 2010.

Sulaiman, A.H. 1995. Biokimia untuk Pertanian. USU-Press, Medan.

Tarrant, 1989. Basic Collage Chemistry. Harper and Row Publisher, London.

Posted in Laporan Praktikum Biokimia Leave a comment

Urine
Posted on February 9, 2013

DASAR TEORI

Sistem urinaria terdiri atas ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. `Sistem ini membantu mempertahankan
homeostasis dengan menghasilkan urin yang merupakan hasil sisa metabolisme. Urin atau air seni atau air
kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh
melalui proses urinasi. Pengeluaran urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang
disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh (Candra, 2009).

Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi
organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah
sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam
tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai
senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam
urin dapat diketahui melalui urinalisis. Urea yang dikandung oleh urin dapat menjadi sumber nitrogen yang baik
untuk tumbuhan dan dapat digunakan untuk mempercepat pembentukan kompos. Diabetes adalah suatu
penyakit yang dapat dideteksi melalui urin. Urin seorang penderita diabetes akan mengandung gula yang tidak
akan ditemukan dalam urin orang yang sehat (Popy, 2008).

Sifat-sifat urine normal:

1. Volume: 800-2500 ml/hari


2. Berat jenis: 1.003-1.030
3. Ph: asam dengan Ph rata-rata 6 (4,7-8)

Urine dibiarkan dalam ruangan maka akan menjadi basis karena perubahan urea menjadi ammonia

1. Warna: kuning pucat s/d kuning. Zat warna yang terkandung di dalamnya adalah urokrom, urobilin,
dan hematoporfirin (Trisnaningsih, 2009).

Zat normal yang terkandung dalam urine, yaitu:

1. Urea: hasil akhir utama dari katabolisme protein. Sehari diekskresikan 25 gr, tergantung intake
proteinnya. Ekskresi naik pada saat demam, penyakit kencing manis, aktivitas hormon adrenokortikoid
yang berlebihan. Di hepar, urea dibentuk dari siklus urea (ornitin dari CO2 dan NH3. Pembentukan
urea menurun pada penyakit hepar dan asidosis.
2. Ammonia: dikeluarkan dari sel tubulus ginjal, pada asidosis pembentukan amonia akan naik.
3. Kreatinin: hasil katabolisme kreatin. Koefisien kreatinin adalah jumlah mg kreatinin yang
diekskresikan dalam 24 jam/kg BB. Nilai normal pada laki-laki adalah 20-26 mg/kg BB. Sedang pada
wanita adalah 14-22 mg/kg BB. Ekskresi kreatinin meningkat pada penyakit otot.
4. Asam urat: hasil oksidasi purin di dalam tubuh. Kelarutannya dalam air kecil tetapi larut dalam garam
alkali. Ekskresinya meningkat pada leukimia, penyakit hepar dan gout. Dengan arsenofosfotungstat dan
natrium sianida, memberi warna biru. Ini merupakan dasar penetapan asam urat secara kolometri oleh
Folin. Dengan enzim urikase akan menjadi allantoin.
5. Asam amino: pada dewasa kira-kira diekskresikan 150-200 mg N per hari
6. Allantoin: hasil oksidasi asam urat
7. Klorida : dikeluarkan dlm bentuk NaCl, tergantung intakenya. Ekskresi 9-16 g/hari
8. Sulfat: hasil metabolisme protein yang mengandung AA dg atom S, contohnya: sistein, sistin, metionin.
Sulfat da 3 bentuk: seulfat anorganik, sulfat ester (konjugasi) dan sulfat netral
9. Fosfat: di urin berikatan dg Na, K, Mg, Ca. Garam Mg dan Ca fosfat mengendap pada urin alkalis.
Ekskresinya dipengaruhi pemasukan protein, kerusakan sel, kerusakan tulang pada osteomalasia dan
hiperparatiroidisme ekskresinya naik dan menurun pada penyakit infeksi dan hipoparatiroidisme.
10. Oksalat: pada metab herediter, ekskresinya naik.
11. Mineral: Kationnya (Na, K, Ca, Mg). Ekskresi K naik pada kerusakan sel, pemasukan yang berlebih
dan alkalosis. Ekskresi ion K dan Na dikontrol korteks adrenal.
12. Vitamin, hormon dan enzim: pada pankreatitis amilase dan disakaridase meningkat. Hormon
Choriogonadotropin (HCG) terdapat pada urine wanita hamil (Trisnaningsih, 2009).

Zat abnormal yang ada dalam urin:

1. Protein: tidak boleh lebih dari 200 mg/hari. Ekskresinya naik berarti terjadi proteinuria misal terjadi
glomeluronefritis sehingga ginjalnya bocor.
2. Glukosa: bila dengan Benedict positif berarti glikosuria, indikasi DM
3. Lain-lain: fruktosuria, galaktosuria, laktosuria, pentosuria.
4. Benda-benda keton (as. Asetoasetat, -hodroksi butirat, aseton): normal ekskresinya hanya 3-15
mg/hari. Ekskresi naik pada kelaparan, gangguan metabolisme karbohidrat (DM), kehamilan,
pemberian anestesi dengan eter, asidosis.
5. Bilirubin dan garam-garam kolat: ada di dalam urine berarti terjadi sumbatan pada saluran empedu,
empedu banyak masuk ke darah diekskresi di urin warna urin seperti air teh. Jika tertimbun di
jaringan subkutan menyebabkan ikterus.
6. Darah: di dalam urine hematuria, misal pada penyakit radang ginjal atau saluran kencing di
bawahnya. Eritrosit pecah, Hb keluar dan da di urin hemoglobinuria. Pigmen darah (Hb) dapat
dibuktikan dengan percobaan benzidin
7. Porfirin; Koproporfitin diekskresi 60-200 g/hari. Ekskresi naik porfiria.
8. Indikan adalah k-indoksil sulfat, di urin orang obstipasi/abses sehingga triptofan indol indikan
(Trisnaningsih, 2009).

Interpretasi warna urin dapat menggambarkan kondisi kesehatan organ dalam seseorang.

1. Keruh.Kekeruhan pada urin disebabkan adanya partikel padat pada urin seperti bakteri, sel epithel,
lemak, atau Kristal-kristal mineral.
2. Pink, merah muda dan merah. Warna urin seperti ini biasanya disebabkan oleh efek samping obat-
obatan dan makanan tertentu seperti bluberi dan gula-gula, warna ini juga bisa digunakan sebagai tanda
adanya perdarahan di system urinaria, seperti kanker ginjal, batu ginjal, infeksi ginjal, atau
pembengkakkan kelenjar prostat.
3. Coklat muda seperti warna air teh, warna ini merupakan indikator adanya kerusakan atau gangguan hati
seperti hepatitis atau serosis.
4. Kuning gelap, Warna ini disebabkan banyak mengkonsumsi vitamin B kompleks yang banyak terdapat
dalam minuman berenergi (Candra, 2009).

Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-obatan dari dalam tubuh. Anggapan
umum menganggap urin sebagai zat yang kotor. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urin tersebut berasal
dari ginjal atau saluran kencing yang terinfeksi, sehingga urinnyapun akan mengandung bakteri. Namun jika
urin berasal dari ginjal dan saluran kencing yang sehat, secara medis urin sebenarnya cukup steril dan hampir
tidak berbau ketika keluar dari tubuh. Hanya saja, beberapa saat setelah meninggalkan tubuh, bakteri akan
mengkontaminasi urin dan mengubah zat-zat di dalam urin dan menghasilkan bau yang khas, terutama bau
amonia yang dihasilkan dari urea (Ali, 2008).
Tahun 200 SM pertama kali ada nama Diabetes yang berarti mengalir terus dan Mellitus yang berarti
Manis. Disebut Diabetes karena selalu minum dalam jumlah banyak (Polidipsia) yang kemudian mengalir
terus berupa urine.di sebut Mellitus karena urine pada penderita itu mengandung glukosa (glukosa/gula).
Diabetes Mellitus disebabkan oleh hormon insulin penderita yang tidak mencukupi atau tidak efektif sehingga
tidak dapat bekerja secara normal. Padahal, insulin mempunyai peran utama mengatur kadar glukosa dalam
darah, yaitu sekitar 6- = 120 mg/dl waktu puasa, dan di bawah 140 mg/dl pada dua jam sesudah makan. Pada
pankreas terjadi kerusakan atau kerja dari pankreas tidak sempurna, sehingga pankreas tidak menghasilkan
hormon insulin yang cukup untuk menetralisir gula darah (Syukhri, 2005).

DMG yaitu diabetes melitus yang terjadi pada masa kehamilan. DM ini muncul karena peningkatan kebutuhan
energi, kadar estrogen, dan hormone pertumbuhan yang terus menerus tinggi selama masa kehamilan. Hormon
estrogen dan pertumbuhan merangsang pengeluaran insulin dan dapat menyebabkan gambaran sekresi insulin
yang berlebihan (Unik, 2007). Ibu hamil rawan mengalami perubahan kenaikan kadar gula darah yang tidak
pernah dialami saat sebelum hamil. Pada ibu hamil terjadi perubahan metabolisme penghancuran karbohidrat.
Bertambah tingginya kadar hormon progesteron dan hormon estrogen dibanding saat tidak hamil berpengaruh
pada menurunnya kemampuan daya tangkap insulin (Anonim, 2009).

Uji benedict merupakan metode yang efektif untuk memastikan kehadiran atau jumlah glukosa dalam air seni.
Uji benedict merupakan uji umum untuk karbohidrat (gula) pereduksi (yang memiliki gugus aldehid atau keton
bebas), seperti yang terdapat pada glukosa dan maltosa. Urine yang mengandung glukosa dapat menjadi tanda
adanya penyakit diabetes. Sekali urine diketahui mengandung gula pereduksi, test lebih jauh mesti dilakukan
untuk memastikan jenis gula pereduksi apa yang terdapat dalam urine. Hanya glukosa yang mengindikasikan
penyakit diabetes. Uji positif ditandai dengan perubahan warna dalam urin: biru-gula absen; hijau 0,5% gula;
kuning-1% gula; oranye-1.5% gula; bata merah-2% atau lebih gula (Riyadi, 2009).

Semua karbohidrat yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas akan membentuk osazon bila dipanaskan
bersama fenilhidrazina berlebih. Osazon yang terjadi mempunyai bentuk kristal dan titik lebur yang khas bagi
masing-masing karbohidrat. Hal ini sangat penting karena dapat digunakan untuk mengidentifikasi karbohidrat
dan merupakan salah satu cara untuk membedakan beberapa monosakarida, misalnya antara glukosa dan
galaktosa yang terdapat dalam urine wanita dalam masa menyusui (Yuki, 2009).

Kreatin disintesis di dalam hati dari metionin, glisin, dan arginin. Dalam otot rangka kreatinin difosforilasi
untuk membentuk fosforilkreatin yang merupakan simpanan tenaga penting bagi sintesis ATP. ATP yang
terbentuk oleh glikolisis dan fosforilasi oksidatif bereaksi dengan kreatin untuk membentuk ADP dan banyak
fosforilkreatin. Reaksi ini berdasarkan pembentukan tautometer kreatinin pikrat yang berwarna merah bila
kreatinin direaksikan dengan larutan pikrat alkalis. Warna ini akan berubah menjadi kuning apabila larutan
diasamkan. berwarna merah bila kreatinin direaksikan dengan larutan pikrat alkalis. Kreatinin meninggi pada
insufisiensi ginjal yang akut atau kronis, obstruksi traktus urinarius dan gangguan faal ginjal yang ditimbulkan
oleh beberapa jenis obat. Bahan-bahan yang bukan kreatinin dapat bereaksi sehingga memberi hasil positif
dengan metode alkalis pikrat. Bahan-bahan tersebut adalah asetoasetat, aseton, -Hidroksibutirat, -ketoglutarat,
piruvat, glukosa bilirubin, hemoglobin, urea dan asam urat (Filzahazny, 2009).

Para penderita diabetes melitus memiliki terlalu banyak glukosa dalam darah dan di urinenya, tetapi tidak cukup
banyak di dalam sel selnya. Penderita diabetes memiliki banyak insulin, tetapi insulin itu terhalang dan tidak
dapat melakukan fungsinya. Insulin merupakan sejenis hormon yang dihasilkan oleh pankreas, yang bertindak
sebagai juru kabar kimiawi yang memungkinkan glukosa yang terdapat dalam darah dapat masuk ke dalam sel.

Pada orang hamil test urine menjadi sangat penting. Urine pada pagi hari berwarna pekat karena urine pekat
banyak mengandung lebih banyak Co persatuan volume. Slama kehamilan fleksibilitas produksi aldosteron
menurun. Ekskresi natrium dalam urine meningkat bila kadar natrium tinggi, tetapi juga terjadi pengurangan
kadar natrium serum, di dapat ekskresi natrium yang tidak seimbang. Sebelum ada penyeuaian kembali retensi
natrium. Peningkatan aktivitas aldosteron tidak menyebabkan pengurangan kadar kalium.

Uji asam pikrat merupakan uji untuk mengetahui zat kreatin pada urine. Tes ini akan memberikan nilai positif
jika larutan berubah menjadi warna kuning. Uji benedict merupakan metode yang efektif untuk memastikan
kehadiran atau jumlah glukosa dalam air seni. Uji benedict merupakan uji umum untuk karbohidrat (gula)
pereduksi (yang memiliki gugus aldehid atau keton bebas), seperti yang terdapat pada glukosa dan maltosa. Uji
positif ditandai dengan perubahan warna dalam urin: biru-gula absen; hijau 0,5% gula; kuning-1% gula; oranye-
1.5% gula; bata merah-2% atau lebih gula.
Uji ozazon merupakan uji untuk mengetahui gula berupa glukosa, galaktosa, atau laktosa didalam urine. Tes ini
akan memberikan nilai posiif jika terbentuk lapisan tengah yang memisahkan dua lapisan. Uji ini biasanya
dilakukan dengan mengamati di bawah mikroskop.

Uji koagulasi merupakan uji untuk mengetahui adanya kandungan protein di dalam urine. Uji ini biasanya
dilakukan pada orang hamil. Tes positif dari uji ini adalah jika terbentuk endapan pada larutan. Koagulasi adalah
denaturasi protein akibat panas dan alkohol.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Tabel 1 Hail uji asam pikrat

Sampel Warna akhir Endapan Hasil


Urine normal Oranye (pekat) (+)
Urine DM Oranye (lebih pekat (+)
Urine ibu hamil Oranye (pekat) Ada endapan + koagulasi (+)
Aquadest Kuning (tetap) (-)

Tabel 2 Hasil uji benedict

Sampel Warna akhir Endapan Hasil


Urine normal Biru (-)
Urine DM Biru kehijauan (+)
Urine ibu hamil Biru + (-)

Tabel 3 Hasil uji koagulasi

Sampel Warna akir Endapan Hasil


Urine normal Kuning bening (-)
Urine DM Kuning bening (-)
Urine ibu hamil Kuning + (+)

Tabel 4 Hasil uji ozazon

Sampel Warna akhir Endapan Hasil


Urine normal 2 lapisanAtas : kuningBawah : merah + (+)
2 lapisanAtas : KuningBawah : terbentuk
Urine DM endapan + (+)
Urine ibu hamil 2 endapanAtas : KuningBawah : merah + (-)

4.2 Pembahasan

Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan
dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-
molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Namun, ada
juga beberapa spesies yang menggunakan urin sebagai sarana komunikasi olfaktori. Urin disaring di dalam
ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra.

Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme (seperti urea), garam terlarut, dan materi
organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah
sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam
tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai
senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam
urin dapat diketahui melalui urinalisis. Urea yang dikandung oleh urin dapat menjadi sumber nitrogen yang baik
untuk tumbuhan dan dapat digunakan untuk mempercepat pembentukan kompos. Diabetes adalah suatu
penyakit yang dapat dideteksi melalui urin. Urin seorang penderita diabetes akan mengandung gula yang tidak
akan ditemukan dalam urin orang yang sehat.

Urine adalah produk limbah cair dari tubuh yang dikeluarkan oleh ginjal melalui proses filtrasi dari darah yang
disebut buang air kecil dan dikeluarkan melalui uretra. Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa
seperti racun atau obat-obatan dari dalam tubuh. Urine yang normal tidak terdapat albumin, darah, urea yang
berlebih dan glukosa darah.

Pada percobaan yang dilakukan, dilakukan 4 uji, yaitu :

1. Uji Asam Pikrat : uji ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kandungan keratin dalam urine.
Asam pikrat adalah sebuah reagen yang akan bereaksi dengan kreatin pada urin sedangkan NaOH
berfungsi sebagai medium alkali sehingga kreatin dapat bereaksi membentuk warna merah.

Hasil positif ditandai dengan perubahan warna menjadi orange. Dari 4 sampel yang digunakan, sampel urine
normal, urine penderita diabetes melitus dan urine ibu hamil menghasilkan warna orange saat urine ditambahkan
asam pikrat dan NaOH. Sedangkan pada aquadest warna akhirnya adalah tetap yaitu kuning. Sehingga dapat
diketahui pada sampel urine mengandung keratin.

Reaksi yang terjadi :

Kreatin (zat normal pada urine) + Asam pikrat warna merah + endapan

2. Uji Benedict : uji ini bertujuan untuk mengidentifikasi ada tidaknya gula dalam urine.

Reagen benedict berisi campuran dari natrium sitrat, natrium karbonat, tembaga, sulfat dan air. Dimana yang
bersifat oksidator adalah cupri yang akan membentuk Cu(OH) 2 dalam suasana alkalis. Endapan dan perubahan
warna dikarenakan adanya kandungan gula reduksi yang bereaksi sehingga terjadi reaksi reduksi-oksidasi oleh
reagen benedict yang terdiri oleh kompleks Cu 2+akan membentuk ikatan dengan gugus karbonil bebas yang ada
dan dihasilkan endapan dari kupri oksida (CuO2).

Hasil positif ditandai dengan perubahan warna dalam urin menjadi biru kehijauan jika terdapat 0,5% gula,
kuning bila terdapat 1% gula, oranye bila terdapat 1,5% gula dan merah bata bila terdapat 2% atau lebih gula.
Dari 3 sampel yang digunakan, urine normal dan urine ibu hamil tidak terjadi perubahan warna, tetap biru,
hanya saja pada urine ibu hamil, terdapat endapan. Urine penderita diabetes melitus menghasilkan warna biru
kehijauan. Hal ini menunjukkan pada urine normal dan urine ibu hamil sebenarnya tidak terdapat gula.
Sedangkan pada urine penderita diabetes melitus dapat dikatakan tidak normal.

Reaksi yang terjadi :

atau:

O O

RCH + Cu2+ 2OH RCOH + Cu2O

Gula Pereduksi Endapan Merah Bata

3. Uji Koagulasi : uji koagulasi bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kandungan protein dalam urine.
Fungsi larutan CH3COOH 3 M adalah sebagai reagen untuk mendapatkan protein dalam larutan
sehingga terjadi perubahan dari bening dan kemudian muncul endapan. Selain itu CH 3COOH berfungsi
untuk mengubah bentuk 3 dimensi dari protein sehinga terjadi koagulasi. Proses pemanasan dalam
waterbath berfungsi untuk mempercepat reaksi dan membantu proses pembentukan gumpalan pada
urine yang mengandung protein. Hasil positif ditandai dengan adanya endapan dalam urine. Dari 3
sampel yang digunakan, ketiganya memiliki warna akhir kuning bening dan pada sampel urine normal
dan urine penderita diabetes melitus tidak terdapat endapan, sedangkan pada urine ibu hamil terdapat
endapan pada dasar tabung. Dapat diketahui, urine ibu hamil mengandung protein dan merupakan urine
yang tidak normal.

Reaksi yang terjadi pada urine yang mengandung protein :

4. Uji Ozazon : uji ini bertujuan untuk melihat kandungan kristal dalam urine dan mengetahui bentuk
keristal tersebut. Dari 3 sampel yang digunakan, terjadi 2 lapisan pada urine. Pada urine normal dan ibu
hamil, warna lapisan atas adalah kuning dan lapisan bawah berwarna merah serta keduanya ada
endapan. Pada urine penderita diabetes melitus, warna lapisan atas kuning dan lapisan bawah orange
serta ada endapan juga. Pada ketiga sampel tersebut, urine normal dan erine ibu hamil menunjukkan
hasil negatif karena tidak terdapat kristal, sedangkan pada urine diabetes melitus menujukkan reaksi
positif karena ketika dilihat pada mikroskop terdapat kristal.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, I. 2008. Urinalisis (Analisis Kemih). http://iqbalali.com. 30 Oktober 2010.

Anonim. 2009. Masalah Saat Hamil. http://enformasi.com. 30 Oktober 2010.

Candra, W. 2009. Uji Urin. http://bagiilmunohara.blogspot.com. 30 Oktober 2010.

Filzahazny. 2009. Urin. http://filzahazny.wordpress.com. 30 Oktober 2010.

Popy, A. 2008. Sekilas Tentang Urin. http://aseppopy.net. 30 Oktober 2010.

Riyadi, W. 2009. Uji Kualitatif Karbohidrat. http://wahyuriyadi.blogspot.com. 30 Oktober 2010.

Syukhri. 2005. Diabetes, Apa itu?. http://annisaalaboratories.com. 30 Oktober 2010.

Trisnaningsih. 2009. Biokimia Urine. http://treesnasmart.blogspot.com. 30 Oktober 2010.

Yuki. 2009. Laporan Biokimia. http://yukiicettea.blogspot.com. 30 Oktober 2010.

Posted in Laporan Praktikum Biokimia Leave a comment

Protein
Posted on February 9, 2013

DASAR TEORI

Protein berasal dari bahasa Yunani, yaitu proteios yang berarti pertama. Protein adalah makromolekul yang
paling banyak dalam sel hidup dan ditemukan dalam semua bagian sel. Fungsinya adalah sebagai enzim untuk
katalisator reaksi kimia, pembentuk struktur dinding sel, contohnya pada pembungkus virus (kapsid), hormon
seperti insulin, pembawa O2 (hemoglobin), protein yang terikat gen, antibodi dan lain-lain. Ciri utama molekul
protein :

Berat molekulnya besar


Umumnya terdiri dari 20 asam amino yang berbeda, yang membentuk rantai polipeptida dan ikatan
peptida
Terdapatnya ikatan kimia lain seperti ikatan hidrogen, ikatan hidrofob, ikatan ion dan van der walls
yang membentuk struktur 3D
Strukturnya tidak stabil terhadap pH, radiasi, suhu, medium pelarut organik dan detergen yang
mengakibatkan denaturasi protein
Reaktif dan sangat spesifik (Wirahadikusumah, 1989).
Asam amino merupakan bagian struktur protein yang menentukan banyak sifat yang

penting. Ada 20 macam asam amino, yang masing-masing ditentukan oleh jenis gugus R atau rantai samping
dari asam amino. Jika gugus R berbeda maka jenis asam amino berbeda. Gugus R dari asam amino bervariasi
dalam hal ukuran, bentuk, muatan, kapasitas pengikatan hidrogen serta reaktivitas kimia. Keduapuluh macam
asam amino ini tidak pernah berubah. Asam amino yang paling sederhana adalah glisin dengan atom H sebagai
rantai samping. Glisin merupakan asam amino pertama yang diisolasi dari hidrolisat protein (Riawan, 1990).

Asam Amino memiliki sekitar 20 jenis yang terklasifikasi pada jenis asam amino esensial, asam amino, non
esensial.

1. Asam Amino Esensial

Asam amino esensial adalah asam amino yang harus di datangkan dari luar tubuh manusia karena sel-sel tubuh
tidak dapat mensintesisnya. Asam-asam amino tersebut sebagian besar hanya dapat disintesis di dalam sel-sel
tumbuhan, sebab untuk sintesisnya diperlukan senyawa nitrat organik. Kekurangan satu saja asam amino akan
mengganggu sintesis protein. Asam amino esensial terdiri atas isoleusin, leusin, lisin, metionin, fenilalanin,
treonin, valin, triptofan. Arginin dan histidin esensial pada anak-anak.

2. Asam Amino Non esensial

Asam amino non esensial adalah asam amino yang dapat disintesis di dalam tubuh manusia dengan bahan baku
lainnya. Asam amino non esensial terdiri atas alanin, asparagin, asam aspartat, asam glutamat, glutamin, prolin.
Namun, selain itu, beberapa ahli juga membagi asam aminoini menjadi 3 golongan yaitu ditambah dengan asam
amino semi esensial dengan pengertian asam amino yang dapat menghemat pemakaian beberapa asam amino
esensial. Beberapa diantaranya yaitu sistin, glisin, serin, tirosin (Putri, 2009).

Menurut Lehninger (1990), klasifikasi asam amino berdasarkan sifat polaritas gugus R :

Gugus R non polar (hidrofobik) : alanin, leusin, tryptofan


Gugus R polar tak bermuatan : asparagin, sistein, glisin
Gugus R bermuatan negatif : asam aspartat, glutamat
Gugus R bermuatan positif : arginin, histidin, lisin

Menurut Poedjiadi (1994), klasifikasi protein berdasarkan strukturnya :

Struktur primer : ditentukan oleh ikatan kovalen antara residu asam amino yang berurutan
membentuk ikatan peptida
Struktur sekunder : terjadi karena ikatan hidrogen antara atom O dari gugus karbonil (C=O)
dengan atom H dari gugus amino (N-H) dalam 1 rantai polipeptida, memungkinkan terbentuknya
konformasi spiral yang disebut struktur helix
Struktur tersier : terbentuk karena terjadinya pelipatan rantai helix, konformasi $ maupun
gulungan polipeptida membentuk protein globular yang struktur 3Dnya lebih rumit, terdapat ikatan
kovalen seperti ikatan peptida dan disulfida, juga ikatan non kovalen yang menyebabkan terjadinya
pelipatan.
Struktur Kuartener : sebagian besar berbentuk globular Yang mempunyai berat molekul lebih dari
50.000, merupakan oligomer yang terjadi dari beberapa rantai polipeptida yang terpisah.

Albumin berasal dari bahasa Latin, yaitu albus yang berarti umum pada protein dengan daya larut air dan dapat
larut dalam garam dan denaturasi protein. Albumin merupakan sumber makanan yang kaya protein dan baik
untuk diet dialisis, dapat larut dalam air serta dapat terkoagulasi oleh panas. Albumin terdapat dalam serum
darah dan putih telur. Pospat yang terkandung di dalamnya kira-kira 5mg per albumin. Albumin merupakan
protein plasma yang paling banyak dalam tubuh manusia, terdiri dari rantai polipeptida tunggal dengan berat
molekul 66,4 kDa dan terdiri dari 585 asam amino, 17 ikatan disulfida yang menghubungkan asam amino yang
mengandung sulfur. Fungsi albumin, untuk mempertahankan tekanan osmotik plasma agar tidak terjadi asites,
membantu metabolisme, transportasi obat-obatan, anti inflamasi dan antioksidan. Albumin adalah protein yang
dapat larut dalam air serta dapat terkoagulasi oleh panas. Albumin terdapat dalam serum darah dan putih telur
(Poedjiadi, 1994)

Triptofan merupakan salah satu asam amino penyusun protein. Triptofan adalah prekursor melatonin, serotonin
dan niasin. Nama sistematiknya adalah Asam S-2-amino-3-(IH-indol-3-il)-propanat (Anonima, 2009).

Analisis protein dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu secara kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif
seperti tes ninhidrin, uji biuret, tes xantoprotein, pengendapan garam logam, koagulasi, denaturasi dan
pengendapan protein dengan alkohol. Secara kuantitatif seperti pada metode Lowry, metode spektrofotometri
visible dan metode spektrofotometri UV.

Ninhidrin adalah suatu reagen yang berguna untuk mendeteksi asam amino dan menetapkan konsentrasinya
dalam larutan. Senyawa ini merupakan hidrat dari triketon siklik, dan bila bereaksi dengan asam amino
menghasilkan zat berwarna ungu (Hart, 2003).

Buiret adalah senyawa dengan dua ikatan peptida yang terbentuk pada pemanasan dua mulekul urea. Ion
Cu2+ dari preaksi Biuret dalam suasana basa akan berekasi dengan polipeptida atau ikatan-ikatan peptida yang
menyusun protein membentuk senyawa kompleks berwarna ungu atau violet. Reaksi ini positif terhadap dua
buah ikatan peptida atau lebih, tetapi negatif untuk asam amino bebas atau dipeptida. Biuret merupakan pereaksi
kimia yang terbuat dari natrium hidroksida dan tembaga sulfat. The blue reagent turns violet in the presence of
proteins, and changes to pink when combined with short-chain polypeptides. Reagen ini berwarna biru dan akan
berubah menjadi ungu dalam kehadiran protein, dan perubahan menjadi merah muda ketika dikombinasikan
dengan rantai polipeptida pendek (Anonimb, 2009).

Reaksi xantoprotein adalah reaksi kimia untuk mendeteksi protein. Reaktionen viser sig ved, at proteiner ved
opvarmning med koncentreret salpetersyre danner gule forbindelser, der ved oplsning i baser giver en
orangerd farve. Reaksi positif yang ditunjukkan oleh protein dengan pemanasan dan konsentrasi asam
nitrat dalam bentuk senyawa kuning dalam basa memberikan warna orange (Anonimc, 2009).

Protein dengan pH diatas 7 biasanya memiliki muatan negatif, dengan penambahan ion logam akan bermuatan
positif yang akan menyebabkan larutan saling menetralkan sehingga protein tidak larut atau mengendap. Pada
logam berlebih akan menyebabkan protein bermuatan positif.

Adanya gugus amino dan karboksil bebas pada ujung-ujung rantai molekul protein, menyebabkan protein
mempunyai banyak muatan (polielektrolit) dan bersifat amfoter (dapat bereaksi dengan asam maupun basa).
Daya reaksi berbagai jenis protein terhadap asam dan basa tidak sama, tergantung dari jumlah dan letak gugus
amino dan karboksil dalam molekul. Dalam larutan asam (pH rendah), gugus amino bereaksi dengan H+,
sehingga protein bermuatan positif. Sebaliknya, dalam larutan basa (pH tinggi) molekul protein akan bereaksi
sebagai asam atau bermuatan negatif. Pada pH isolistrik muatan gugus amino dan karboksil bebas akan saling
menetralkan sehingga molekul bermuatan nol (Winarno, 2002).

Denaturasi protein adalah suatu keadaan telah terjadinya perubahan struktur protein yang mencakup perubahan
bentuk dan lipatan molekul, tanpa menyebabkan pemutusan atau kerusakan lipatan antar asam amino dan
struktur primer protein. Karena itu, denaturasi dapat diartikan suatu proses terpecahnya ikatan hidrogen,
interaksi hidrofobik, ikatan garam dan terbukanya lipatan atau wiru molekul protein Koagulasi adalah denaturasi
protein akibat panas dan alkohol (Winarno, 1992). Protein akan mengalami koagulasi apabila dipanaskan pada
suhu 50oC atau lebih. Koagulasi ini hanya terjadi bila larutan protein berada titik isoelektrisnya (Poedjiadi,
1994).

Panas dapat digunakan untuk mengacaukan ikatan hidrogen dan interaksi hidrofobik non polar. Hal ini terjadi
karena suhu tinggi dapat meningkatkan energi kinetik dan menyebabkan molekul penyusun protein bergerak
atau bergetar sangat cepat sehingga mengacaukan ikatan molekul tersebut. Protein telur mengalami denaturasi
dan terkoagulasi selama pemasakan. Beberapa makanan dimasak untuk mendenaturasi protein yang dikandung
supaya memudahkan enzim pencernaan dalam mencerna protein tersebut (Ophart, 2003).

Pemanasan akan membuat protein bahan terdenaturasi sehingga kemampuan mengikat airnya menurun. Hal ini
terjadi karena energi panas akan mengakibatkan terputusnya interaksi non-kovalen yang ada pada struktur alami
protein tapi tidak memutuskan ikatan kovalennya yang berupa ikatan peptida. Proses ini biasanya berlangsung
pada kisaran suhu yang sempit (Ophart, 2003).

Protein dapat diendapkan dengan penambahan alkohol. Pelarut organik akan mengubah (mengurangi) konstanta
dielektrika dari air, sehingga kelarutan protein berkurang, dan juga karena alkohol akan berkompetisi dengan
protein terhadap air (Simanjuntak, 2009).

Analisa Lowry merupakan pengembangan dari metode Biuret. Dalam metode ini terlibat 2 reaksi. Awalnya,
kompleks Cu(II)-protein akan terbentuk sebagaimana metode biuret, yang dalam suasana alkalis Cu(II) akan
tereduksi menjadi Cu(I). Keuntungan analisa Lowry adalah lebih sensitif (100 kali) daripada metode Biuret
sehingga memerlukan sampel protein yang lebih sedikit. Batas deteksinya berkisar pada konsentrasi 0.01
mg/mL. Namun metode Lowry lebih banyak interferensinya akibat kesensitifannya (Arie, 2008).

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Tabel 1 Hasil Uji Protein

No Tes Sampel Warna akhir Endapan Kogulasi Hasil akhir


Albumin Ungu +
1 Ninhidrin Triptophan Biru tua +
Albumin Biru ungu +
2 Biuret Triptophan Biru bening
Albumin Kuning muda + + (asam)
3 Xanthoprotein Triptophan Jingga + (basa)
Pengendapan Albumin Putih keruh + + +
4 olehgaram logam Triptophan Bening
Albumin Putih keruh + + +
5 Koagulasi Triptophan Bening
Denaturasi + Albumin I Bening + + +
koagulasi Albumin II Putih keruh + + +
Albumin III Putih susu + + +
I: buffer asetat Triptophan I Bening
Triptophan II Bening
II: HCl 0,1 M

6 III: NaOH 0,1 M Triptophan III Bening


Pengendapan protein Albumin I Bening + +
oleh alkohol Albumin II Bening + +
Albumin III Putih keruh + +
I: NaOH 0,1 M Triptophan I Bening + +
Triptophan II Bening
II: HCl 0,1 M

7 III: buffer asetat Triptophan III Bening + +

Tabel 2 Kurva Standar Analisa Lowry

Konsentrasi (x) Absorbansi (y) x2 y2 xy


0,02 0,088 0,0004 0,007744 0,00176
0,04 0,095 0,0016 0,009025 0,0038
0,06 0,213 0,0036 0,045369 0,01278
0,08 0,315 0,0064 0,099225 0,0252
0,1 0,380 0,01 0,1444 0,038
x = 0,3 y = 1,091 x2 = 0,022 y2 = 0,305763 xy = 0,08154
Tabel 3 Hasil Analisa Lowry

Sampel OD X hitung X grafik


Albumin 0,096 0,0296

4.2 Pembahasan

Protein adalah makromolekul yang paling banyak dalam sel hidup dan ditemukan dalam semua bagian sel.
Fungsinya adalah sebagai enzim untuk katalisator reaksi kimia, pembentuk struktur dinding sel, contohnya pada
pembungkus virus (kapsid), hormon seperti insulin, pembawa O 2 (hemoglobin), protein yang terikat gen,
antibodi dan lain-lain. Asam amino merupakan bagian struktur protein yang menentukan banyak sifat yang
penting.

Pada percobaan ini digunakan sampel berupa albumin dan triptofan. Kemudian dilakukan berbagai macam uji
pada sampel ini. Ada uji kualitatif dan kuantitatif. Uji kualitatif tersebut meliputi :

1. Tes ninhidrin

Tes ninhidrin adalah tes yang dilakukan untuk mendeteksi asam amino yang mempunyai gugus amino bebas
dalam larutan. Bila senyawa ini bereaksi dengan asam amino menghasilkan zat berwarna ungu. Pada kedua
sampel yang diuji diperoleh albumin menghasilkan larutan berwarna ungu dan triptofan menghasilkan warna
biru tua setelah dipanaskan dan tidak terbentuk endapan, sehingga reaksi ini dikatakan positif. Warna ungu yang
dihasilkan adalah asam amino yang menyumbangkan atom nitrogennya. Pemanasan dilakukan untuk
mempercepat terjadinya reaksi. Fungsi larutan ninhidrin adalah berperan sebagai pengoksidasi yang kuat dan
dapat bereaksi dengan asam amino pada pH 4 8.

Reaksi yang terjadi :

1. Tes biuret

Tes biuret berfungsi untuk mengetahui ada tidaknya gugus amida pada suatu senyawa. Tes ini juga akan
memberikan hasil positif pada biuret atau senyawa malonamida, dengan warna merah ungu atau biru ungu.
Biuret bereaksi dengan membentuk senyawa kompleks Cu dengan gugus -CO dan -NH pada asam amino dalam
protein. Fenol tidak bereaksi dengan biuret karena tidak mempunyai gugus -CO dan -NH pada molekulnya.
Pada percobaan ini sampel yang digunakan adalah albumin dan triptophan. Penambahan larutan NaOH 0,1 N
berfungsi untuk mendenaturasi protein sehingga terjadi perubahan struktur tanpa memutus ikatan amidanya.
Sedangkan penambahan reagen biuret (CuSO4) berfungsi untuk menghidrolisis ikatan peptida pada protein
dengan asam/basa kuat sehingga menghasilkan komponen asam amino dalam bentuk bebas dan membentuk
komplek berwarna violet.

Hasil yang diperoleh adalah pada albumin menunjukkan reaksi positif karena terbentuk warna ungu, sedangkan
pada triptofan terjadi reaksi positif karena terbentuk warna biru. Pada kedua sampel tidak terbentuk endapan
dan tidak terjadi koagulasi. Ini berarti albumin mengandung gugus amida asam, hal ini dikarenakan albumin
merupakan protein yang tersusun dari banyak asam amino yang saling dihubungkan oleh ikatan peptida.

Reaksi yang terjadi adalah:

Larutan protein + NaOH + CuSO4 ungu muda

1. Uji xantoprotein

Uji xantoprotein berfungsi untuk mengetahui ada tidaknya gugus benzen. Reaksi dikatakan positif bila larutan
membentuk turunan nitro yang berwarna kuning pada pemanasan. Pemanasan dilakukan untuk mengikat gugus
H+ dari HNO3pekat dengan air dari protein yang dipanaskan sehingga menghasilkan endapan kuning. Fungsi
HNO3 pekat untuk menitrasi cincin benzena sehingga terbentuk warna kuning setelah dipanaskan. Setelah itu
larutan dipanaskan secara hatu-hati untuk mempercepat reaksi. Setelah itu, sampel ditambahi larutan NaOH
pekat setetes demi setetes. Pada kedua sampel yang diuji diperoleh albumin menghasilkan larutan berwarna
kuning muda dan ada endapan, pada triptofan menghasilkan warna jingga tidak terbentuk endapan, sehingga
reaksi ini dikatakan positif.

Reaksi kimia yang terjadi :

1. Pengendapan garam logam

Reaksi ini digunakan untuk mengetahui proses koagulasi garam atau penggumpalan protein. Pengendapan
garam logam ini dilakukan dengan penambahan merkuri klorida dan pemanasan. Penambahan larutan HgCl2 0,2
M berfungsi untuk mengendapkan garam anorganik dalam garam protein karena berbentuk koloid. Sedangkan
pemanasan berfungsi untuk mempercepat reaksi.

Pada kedua sampel yang diuji diperoleh albumin menghasilkan larutan berwarna putih keruh dan ada endapan
beserta koagulasi, pada triptofan tidak mengubah warna dan tidak terbentuk endapan, sehingga reaksi ini
dikatakan positif pada albumin sedangkan pada triptofan, reaksi dikatakan negatif.

Reaksi yang terjadi :

1. Koagulasi

Protein dapat mengalami koagulasi apabila dipanaskan pada suhu 50 oC atau lebih atau ditambahkan etanol
absolut. Koagulasi ini hanya terjadi bila larutan protein berada titik isoelektrisnya. Pemanasan bertujuan untuk
membuktikan sampel bisa mengalami koagulasi atau tidak. Tes ini berfungsi untuk mengidentifikasi terjadinya
koagulasi pada suatu sampel protein. Penambahan larutan CH3COOH adalah untuk membantu sampel mencapai
titik isoelektriknya dan mengubah struktur protein agar dapat terkoagulasi.

Pada kedua sampel yang diuji diperoleh warna albumin menghasilkan larutan berwarna putih keruh dan ada
endapan beserta koagulasi, pada triptofan tidak mengubah warna dan tidak terbentuk endapan, sehingga reaksi
ini dikatakan positif pada albumin sedangkan pada triptofan, reaksi dikatakan negatif karena triptofan adalah
asam amino.

Reaksi yang terjadi :

1. Denaturasi dan koagulasi

Tes ini bertujuan untuk mengubah struktur protein tanpa merusak ikatan peptidanya dan melihat kelarutan
protein. Reaksi positifnya adalah dengan terjadinya koagulasi. Koagulasi protein akan terjadi apabila telah
mencapai titik isoelektriknya dan akan mengalami denaturasi bila terjadi peubahan bentuk konformasinya tetapi
tidak disertai dengan pemutusan ikatan peptidanya. Protein yang terdenaturasi akan kehilangan fungsi
biologisnya dan menjadi tidak larut. Denaturasi tidak selalu diikuti oleh koagulasi, denaturasi dapat disebabkan
oleh panas, pelarut organik, enzim, sinar UV, pengadukan, perubahan pH yang drastis dan penambahan asam. .
Buffer asetat berfungsi untuk mempertahankan pH pada suasana asam, lalu larutan HCl 0,1 M berfungsi untuk
memberikan suasana asam, dan larutan NaOH 0,1 M berfungsi untuk memberikan suasana basa. Sedangkan
pemanasan berfungsi untuk mempercepat reaksi.

Denaturasi protein adalah suatu keadaan telah terjadinya perubahan struktur protein yang mencakup perubahan
bentuk dan lipatan molekul, tanpa menyebabkan pemutusan atau kerusakan lipatan antar asam amino dan
struktur primer protein. Koagulasi merupakan denaturasi protein yang terjadi akibat pemanasan dan alkohol.
Pada kedua sampel yang diuji diperoleh warna albumin menghasilkan larutan berwarna bening pada
penambahan buffer asetat, putih keruh pada penambahan HCl 0,1 M dan berwarna putih susu pada penambahan
NaOH, ketiganya ada endapan beserta koagulasi. Pada triptofan, penambahan buffer asetat, HCl 0,1 M dan
NaOH 0,1 M menghasilkan warna bening keruh, tidak ada endapan dan tidak terbentuk koagulasi. Pada
albumin, reaksi dikatakan positif karena terbentuk koagulasi, sedangkan pada triptofan reaksi dikatakan negatif
karena tidak menghasilkan endapan dan koagulasi.

1. Pengendapan protein oleh alkohol


Tes ini bertujuan untuk mengendapkan protein dengan alkohol. Reaksi positifnya ditunjukkan dengan
terbentuknya endapan pada larutan. Selain dapat mengendap pada titik isoelektriknya, protein juga dapat
mengendap dengan larutan asam. Dalam kegiatan ini yang berperan sebagai asam adalah alkohol pekat yang
berfungsi untuk mengendapkan protein. Larutan NaOH berfungsi untuk memberikan ion negatif, lalu larutan
HCl berfungsi memberikan ion positif, sedangkan buffer asetat berfungsi untuk mempertahankan pH pada
suasana asam.

Protein dapat diendapkan dengan penambahan alkohol dalam keadaan asam. Pelarut organik akan mengubah
(mengurangi) konstanta dielektrika dari air, sehingga kelarutan protein berkurang, dan juga karena alkohol akan
berkompetisi dengan protein terhadap air. Pada kedua sampel yang diuji diperoleh warna albumin menghasilkan
larutan berwarna bening pada penambahan NaOH dan HCl 0,1 M dan berwarna putih keruh pada penambahan
buffer asetat, dan ketiganya tidak menghasilkan endapan, hanya terbentuk koagulasi. Pada triptofan, tidak
menghasilkan perubahan warna, tetap bening. Pada penambahan NaOH buffer asetat tidak menghasilkan
endapan, hanya terjadi koagulsai, sedangkan pada penambahan HCl tidak terjadi endapan maupun koagulasi.
Reaksi pada triptofan dikatakan negatif, begitu juga pada albumin dengan penambahan NaOH karena NaOH
bersifat basa sehingga tidak menghasilkan endapan, selain itu triptofan adalah asam amino bukanlah protein.

Analisa Lowry merupakan analisa kuantitatif yang bertujuan untuk menentukan kadar protein pada suatu
sampel. Uji ini dilakukan dengan menghitung kadar protein yang terkandung dalam sampel dengan mencari
nilai absorbansi (y)/nilai OD (optical density) dengan metode spektrofotometri dan kurva standart. Panjang
gelombang maksimal yang digunakan adalah 600 nm.

Pada kegiatan ini sampel yang digunakan adalah albumin dan aquadest sebagai larutan blanko. Kedua sampel
akan direaksikan dengan reagen D dan reagen E kemudian dipanaskan. Reagen D terdiri atas larutan Nelson A
dan Nelson B ( 25 : 1 ) yang mengandung Na-karbonat 2%, NaOH 0,1 N, cupri sulfat dan Na-K tartrat 2%.
Reagen D berfungsi untuk menghilangkan senyawasenyawa lain yang terukur. Reagen E ( Folinciocalteu 1:10
aquadest ) berfungsi untuk menangkap protein yang ada dalam larutan sampel dan sebagai pemberi komplek
warna. Kemudian pemanasan berfungsi untuk mempercepat reaksi. Pada saat pemanasan di waterbath tabung
reaksi ditutup dengan kertas aluminium foil agar tidak terjadi penguapan. Warna akhir larutan adalah kuning
kebiruan dan ada endapan coklat. Warna ini ketika dibandingkan secara visual didapatkan warna larutan
diantara larutan standar dengan konsentrasi 0,2-0,4 mg/ml.

Pada percobaan yang dilakukan, setiap larutan yang konsentrasinya berbeda menghasilkan absorbansi yang
berbeda. Larutan dengan konsentrasi 0,02 mg/m menghasilkan absorbansi 0,088 A. Larutan dengan konsentrasi
0,04 mg/m menghasilkan absorbansi 0,095 A. Larutan dengan konsentrasi 0,06 mg/m menghasilkan absorbansi
0,213 A. Larutan dengan konsentrasi 0,08 mg/m menghasilkan absorbansi 0,315 A. Larutan dengan konsentrasi
0,1 mg/m menghasilkan absorbansi 0,380 A. Kemudian dapat dicari a, b dan y. Persamaan y = a +bx agar dapat
diketahui kadar proteinnya. Sehingga diperoleh x = 0,0296. Berdasarkan kurva standar, x diperoleh 0,, mungkin
saja terjadi kesalahan perhitungan atau ktidakakuratan alat.

DAFTAR PUSTAKA

Anonima. 2009. Triptofan. http://id.wikipedia.org. 23 Oktober 2010.

Anonimb. 2009. Protein. http://arifqbio.multiply.multiplycontent.com. 23 Oktober 2010.

Anonimc. 2009. Xantoprotein Reaction. http://da.wikipedia.org. 23 Oktober 2010.

Arie, S. 2008. Penetapan Kadar Protein dengan Metode Lowry. http://ariebs.staff.ugm.ac.id.

23 Oktober 2010.

Hart, H. 2003. Kimia Organik : Suatu Kuliah Singkat. Edisi Kesebelas. Erlangga. Jakarta.

Ophart, C. E. 2003. Virtual Chembook. Elmhurst College.

Poedjiadi, A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. UI Press. Jakarta.


Lehninger. 1990. Dasar-Dasar Biokimia. Jilid 1. Erlangga, Jakarta.

Putri, N. W. 2009. Protein. http://noviawirnaputri.blogspot.com. 23 Oktober 2010.

Riawan, S. 1990. Kimia Organik. Penerbit Binarupa Aksara. Jakarta.

Simanjuntak, M. T. 2009. Penuntun Praktikum Biokimia. Fakultas MIPA. USU. Medan.

Winarno, F. G. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia. Jakarta.

Wirahadikusumah, M. 1989. Biokimia Protein, Enzim dan Asam Nukleat. ITB. Bandung.

Posted in Laporan Praktikum Biokimia Leave a comment

Lemak
Posted on February 9, 2013

DASAR TEORI

Lipid (dari kata yunani Lipos. Lemak) merupakan penyusun tumbuhan atau hewan yang dicerikan oleh sifat
kelarutannya. Terutama lipid tidak bisa larut dalam air, tetapi larut dalam larutan non polar seperti eter. Lemak
atau minyak ialah triester dari gliserol dan disebut trigliserida. Bila minyak atau lemak dididihkan dengan alkali,
kemudian mengasamkan larutan yang dihasilakan, maka akan didapatkan gliserol dan campuran asam lemak.
Reaksi ini disebut penyabunan (Hart, 2003).

Lemak/minyak merupakan asam karboksilat/asam alkanoat jenuh alifatis (tidak terdapat ikatan rangkap C=C
dalam rantai alkilnya, rantai lurus, panjang tak bercabang) dengan gugus utama COOH dalam bentuk
ester/gliserida yaitu sesuatu jenis asam lemak atau beberapa jenis asam lemak dengan gliserol suku tinggi. Asam
lemak ialah asam yang diperoleh dari proses penyabunan lemak/ minyak (Hart, 2003).

Minyak / lemak merupakan lipida yang banyak terdapat di alam. Minyak merupakan senyawa turunan ester dari
gliserol dan asam lemak. Struktur umumnya adalah :

CH2-O-C-R1

CH-OCR2

CH2OCR3

R1,R2, R3 adalah gugus alkil mungkin saja sama atau juga beda. Gugus alkil tersebut dibedakan sebagai gugus
alkil jenuh (tidak terdapat ikanatanrangkap) dan tidak jenuh (terdapat ikan rangkap) (Hart, 2003).

Lemak dan minyak merupakan senyawaan trigliserida dari gliserol. Dalam pembentukannya, trigliserida
merupakan hasil proses kondensasi satu molekul gliserol dan tiga molekul asam lemak (umumnya ketiga asam
lemak tersebut berbeda beda), yang membentuk satu molekul trigliserida dan satu molekul air.

Asam lemak adalah asam organik berantai panjang dengan atom karbon 4 sampai 24, memiliki gugus karboksil
tunggal (hidrofilik) dan ekor hidrokarbon non polar yang panjang (hidrofobik). Asam lemak tidak terdapat
secara bebas dalam sel atau jaringan tapi dalam bentuk terikat secara kovalen. Asam lemak dapat bebas dari
ikatan ini oleh hidrolisis kimia atau enzimatik (Lehninger, 1990).

Asam lemak tidak lain adalah asam alkanoat atau asam karboksilat berderajat tinggi (rantai C lebih dari 6).
Karena berguna dalam mengenal ciri-cirinya, asam lemak dibedakan menjadi asam lemak jenuh dan asam lemak
tak jenuh. Asam lemak jenuh hanya memiliki ikatan tunggal di antara atom-atom karbon penyusunnya,
sementara asam lemak tak jenuh memiliki paling sedikit satu ikatan ganda di antara atom-atom karbon
penyusunnya (Nurul, 2009).
Asam lemak, bersama-sama dengan gliserol, merupakan penyusun utama minyak nabati atau lemak dan
merupakan bahan baku untuk semua lipida pada makhluk hidup. Asam ini mudah dijumpai dalam minyak
masak (goreng), margarin, atau lemak hewan dan menentukan nilai gizinya. Secara alami, asam lemak bisa
berbentuk bebas (karena lemak yang terhidrolisis) maupun terikat sebagai gliserida (Nurul, 2009).

Berdasarkan ada tidaknya ikatan rangkap pada rantai karbon asam lemaknya,lemak dapat dibedakan menjadi
lemak jenuh dan lemak tak jenuh. Lemak jenuh tidak memiliki ikatan rangkap pada rantai karbon asam
lemaknya, sedangkan lemak tak jenuh memiliki ikatan rangkap pada rantai karbon asam lemaknya.

Lemak jenuh terdapat di hewan dan produk-produk makanan olahan, seperti daging, produk susu, kripik, dan
yang merusak. Struktur kimia dari lemak jenuh adalah sepenuhnya dengan atom hidrogen, dan tidak
mengandung dua rantai ikatanantara atom-atom karbon. Lemak jenuh tidak menyehatkan jantung, karena
mereka adalah yang paling dikenal untuk meningkatkan kolesterol LDL anda (kolesterol yang buruk).

Lemak tak jenuh ditemukan pada makanan seperti kacang, avocado, dan zaitun(olive). Lemak tak jenuh cair
pada suhu kamar dan berbeda lemak jenuh dalam struktur kimia yang berisi dua rantai ikatan. Selain itu, peneliti
telah menunjukkan bahwa lemak tak jenuh juga menyehatkan jantung-mereka mempunyai kemampuan untuk
menurunkan kolesterol LDL dan meningkatkan HDL kolesterol(kolesterol baik).

Berdasarkan sumbernya, lemak dapat dibedakan menjadi lemak nabati, yaitu lemak yang berasal dari tumbuh-
tumbuhan, dan lemak hewani, yaitu lemak yang berasal dari hewan. Lemak hewani merupakan lemak jenuh, dan
sedangkan lemak nabati adalah lemak tak jenuh.

Ciri makanan yang mengandung lemak adalah berminyak. Contoh hasil tanaman yang banyak mengandung
lemak antara lain kacang-kacangan ( kacang tanah ), kelapa, kemiri, dan wijen.Contoh bahan makanan yang
berasal dari hewan yang merupakan sumber lemak, antaralain mentega, susu,telur dan daging.

Secara umum dapat dikatakan bahwa lemak memenuhi fungsi dasar bagi manusia, yaitu:

1. Menjadi cadangan energi dalam bentuk sel lemak. 1 gram lemak menghasilkan 39.06 kjoule atau 9,3
kcal.
2. Lemak mempunyai fungsi selular dan komponen struktural pada membran sel yang berkaitan dengan
karbohidrat dan protein demi menjalankan aliran air, ion dan molekul lain, keluar dan masuk ke dalam
sel.
3. Menopang fungsi senyawa organik sebagai penghantar sinyal, seperti pada prostaglandin dan steroid
hormon dan kelenjar empedu.
4. Menjadi suspensi bagi vitamin A, D, E dan K yang berguna untuk proses biologis
5. Berfungsi sebagai penahan goncangan demi melindungi organ vital dan melindungi tubuh dari suhu
luar yang kurang bersahabat.
6. Sarana sirkulasi energi di dalam tubuh dan komponen utama yang membentuk membran semua jenis
sel. (Anonim, 2010)

Lipid memiliki reaksi kimia yang khas, antara lain:

a. Hidrolisis

Hidrolisis lipid seperti triasilgliserol dapat dilakukan secara enzimatik dengan bantuan lipase, menghasilkan
asam-asam lemak dan gliserol. Sifat lipase pancreas dapat dimanfaatkan yang lebih suka memecahkan ikatan
ester pada posisi 1 dan 3 daripada posisi 2 dari triasilgliserol (Harper, 1980).

b. Penyabunan

Hidrolisis lemak oleh alkali disebut penyabunan. yang dihasilkan adalah gliserol dan garam alkali asam lemak
yang disebut sabun (Harper, 1980).

c. Penguraian (kerusakan, ketengikan) lipid


Ketengikan adalah perubahan kimia yang menimbulkan bau dan rasa tidak enak pada lemak (Harper, 1980).

Ada beberapa uji lemak yang dilakukan, yaitu :

1. Sifat kelarutan lemak

Suatu zat dapat larut dalam pelarut jika mempunyai nilai polaritas yang sama, yaitu zat polar larut dalam pelarut
bersifat polar dan tidak larut dalam pelarut non polar. Minyak dan lemak tidak larut dalam air. Minyak dan
lemak hanya sedikit larut dalam alkohol, tetapi akan melarut sempurna dalam etil eter, karbon sulfide, dan
pelarut-pelarut halogen. Asam lemak rantai pendek dapat larut dalam air, semakin panjang rantai asam lemak
maka kelarutannya dalam air semakin berkurang. Asam lemak tidak jenuh sangat mudah melarut dalam pelarut
organic dibandingkan dengan asam lemak jenuh (Ketaren, 1986).

2. Uji akrolein

Uji akrolein untuk gliserol tergantung pada dehidrasi dan oksidasi gliserol menjadi akrolein. Apabila gliserol
dicampur dengan KHSO4 dan dipanaskan hati-hati,akan timbul bau yang tajam khas seperti bau lemak yang
terbakar yang disebabkan oleh terbentuknya akrilaldehida atau akrolein. Oleh karena timbulnya bau yang tajam
itu,akrolein mudah diketahui dan reaksi ini telah dijadikan reaksi untuk menentukan adanya gliserol atau
senyawa yang mengandung gliserol seperti lemak dan minyak.

Bila lemak dan minyak dicampur dengan KHSO4 dan dipanaskan hati-hati juga akan terjadi akrolein. Glierol
digunakan dalam industri kosmetika sebagai bahan dalam pembuatan preparat yang dihasilkan. Disamping itu
gliserol berguna bagi kita untuk sintesis lemak didalam tubuh.

3. Uji penyabunan

Angka penyabunan menunjukkan berat molekul lemak dan minyak secara kasar. Minyak yang disusun oleh
asam lemak berantai karbon yang pendek berarti mempunyai berat molekul yang relatif kecil, akan mempunyai
angka penyabunan yang besar dan sebaliknya bila minyak mempunyai berat molekul yang besar ,maka angka
penyabunan relatif kecil. Angka penyabunan ini dinyatakan sebagai banyaknya (mg) NaOH yang dibutuhkan
untuk menyabunkan satu gram lemak atau minyak (Shanti, 2009).

4. Uji Peroksida

Bilangan peroksida didefiniskan sebagai jumlah meq peroksida dalam setiap 1000 g (1 kg) minyak atau lemak.
Bilangan peroksida ini menunjukan tingkat kerusakan lemak atau minyak (Rohman, 2007).

Proses oksidasi yang distimulir oleh logam jika berlangsung dengan intensif akan mengakibatkan ketengikan
dan perubahan warna (menjadi semakin gelap). Keadaan ini jelas sangat merugikan sebab mutu minyak sawit
menjadi menurun. Bila suatu lemak dipanaskan, pada suhu tertentu timbul asap tipis kebiruan. Titik ini disebut
titik asap (smoke point). Bila pemanasan diteruskan akan tercapai flash point, yaitu minyak mulai terbakar
(terlihat nyala). Jika minyak sudah terbakar secara tetap disebut fire point. Suhu terjadinya smoke point ini
bervariasi dan dipengaruhi oleh jumlah asam lemak bebas. Jika asam lemak bebas banyak, ketiga suhu tersebut
akan turun. Demikian juga bila berat molekul rendah, ketiga suhu itu lebih rendah. Ketiga sifat ini penting
dalam penentuan mutu lemak yang digunakan sebagai minyak goreng (Winarno, 2002).

5. Penentuan angka iod

Untuk menentukan derajat ketidakjenuhan asam lemak yang terkandung didalamnya diukur dengan bilangan
iodium. Iodium dapat bereaksi dengan ikatan rangkap dalam asam lemak. Tiap molekul iodium mengadakan
reaksi adisi pada suatu ikatan rangkap. Oleh karenanya makin banyak ikatan rangkap,makin banyak pula iodium
yang dapat bereaksi. Bilangan lodium ialah banyaknya gram iodium yang dapat bereaksi dengan 100 gram
lemak. Jadi makin banyak ikatan rangkap makin besar bilangan iodium (Cahyono, 2010).

6. Penentuan asam lemak bebas (% FFA)


Penentuan asam lemak dapat dipergunakan untuk mengetahui kualitas dari minyak atau lemak, hal ini
dikarenakan bilangan asam dapat dipergunakan untuk mengukur dan mengetahui jumlah asam lemak bebas
dalam suatu bahan atau sample.

Semakin besar angka asam maka dapat diartikan kandungan asam lemak bebas dalam sample semakin tinggi,
besarnya asam lemak bebas yang terkandung dalam sampel dapat diakibatkan dari proses hidrolisis ataupun
karena proses pengolahan yang kurang baik.

Sample yang dipergunakan pada saat praktikum ditimbang dalam keadaan cair, sehingga sample terlebih dahulu
dicairkan, proses pencairan dilakukan untuk mempermudah proses titrasi selanjutnya, karena apabila sample
dalam keadaan padat akan menyulitkan proses titrasi selanjutnya. Dengan pengecilan ukuran, maka asam lemak
yang terkandung dalam bahan akan lebih banyak keluar daripada sample dalam keadaan padat (Djoelistee,
2010).

Minyak kayu putih merupakan salah satu produk kehutanan yang telah dikenal luas oleh masyarakat. Minyak
kayu putih (cajuput oil, oleum-melaleuca-cajeputi, atau oleum cajeputi) dihasilkan dari
hasil penyulingan daun dan ranting kayu putih (M. leucadendra), memiliki bau yang khas. Minyak atsiri ini
dipakai sebagai minyak pengobatan, dapat dikonsumsi per oral (diminum) atau, lebih umum, dibalurkan ke
bagian tubuh. Khasiatnya adalah sebagai penghangat tubuh, pelemas otot, dan mencegah perut kembung.
Minyak ini mengandung terutama eukaliptol (1,8-cineol) (komponen paling banyak, sekitar 60%), -
terpineol dan ester asetatnya, -pinen, dan limonen. Minyak kayu putih banyak menjadi komponen dalam
berbagai salep dan campuran minyak penghangat. Secara umum, kayu putih dikatakan bermutu apabila
mempunyai bau khas minyak kayu putih, memiliki berat jenis yang diukur pada suhu 15 oC sebesar 0,90 0,93,
memiliki indeks bias pada suhu 20oC berkisar antara 1,46 1,47 dan putaran optiknya pada suhu 27,5oC sebesar
(-4)o 0o (Anonim, 2009).

Minyak gandapura dihasilkan dari daun dan gagang tanaman gandapura (Gaultheria fragrantissima) melalui
proses penyulingan. Dalam dunia perdagangan dikenal dengan nama Wintergreen Oil. Indonesia hingga saat ini
masih mengimpor minyak gandapura maupun sintetisnya, sementara penyulingan minyak gandapura lokal
sudah dilakukan walaupun masih dengan skala kecil dan dengan alat penyulingan yang sederhana (Anonim,
2009).

Minyak kelapa adalah minyak yang diperoleh dari daging buah kelapa segar yang dibuat dengan proses basah
(wet process) karena menggunakan air untuk mengekstraksi minyak. Saat daging kelapa diparut, sel-selnya akan
rusak dan isi sel akan mudah keluar dengan wujud emulsi berwarna putih yang disebut santan. Santan
mengandung 50% minyak yang stabil di dalam air. Minyak kelapa banyak digunakan sebagai bahan baku
industri (Andry, 2009).

Minyak hewan adalah minyak jenuh yang memiliki ikatan tunggal. Minyak ini memiliki wujud yang padat jika
berada pada suhu ruang. Jika minyak jenuh dipanaskan sampai suhu 200-300C, maka minyak ini akan rusak
dan resiko kolesterol akan meningkat, vitamin yang terkandung di dalamnya pun akan ikut rusak.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Tabel 1 Hasil sifat kelarutan lemak

Pelarut
Sampel Air Eter Kloroform Na2CO3
2 lapisan Bening dan ada busa putih
Minyak kelapa minyak dan air Bening di lapisan atas Putih keruh

Tabel 2 Hasil Sifat ketidakjenuhan lemak

Minyak
Sampel Minyak kelapa Minyak telon gandapura Minyak ikan
10 ml kloroform + 10 tetes
iod 0,1 N + ++++ ++ +++

Ket : semakin banyak (+), warna sampel semakin pekat.

Tabel 3 Hasil Tes Akrolein

Tes Akrolein
Responden Gliserol Minyak kelapa
1 ++ +
2 ++ +
3 ++ +

Tabel 4 Hasil Tes noda lemak

Sampel Warna Awal


Minyak kelapa
Minyak telon ++
Minyak gandapura +++
Minyak ikan +

Ket : semakin banyak (+), kertas buram semakin transparan

Tabel 5 Hasil Angka penyabunan

Volume Titrasi
Berat minyak Minyak kelapa Blanko Angka penyabunan
3 gr 58 ml 90 ml 299,2

Tabel 6 Hasil Angka asam lemak bebas (% FFA)

Sampel Berat sampel Volume Na2S2O3 % FFA


Minyak kelapa + alkohol +
PP 28 gr 10 ml 1,007%

Tabel 7 Hasil penentuan angka peroksida

Sampel Berat sampel Volume Na2S2O3 Angka peroksida


0,5 (I)
Minyak goreng + as.asetat +
kloroform + indikator 2-3 tetes 5 gr 0,5 (II) 20

Tabel 8 Hasil Penentuan titik cair dan titik beku

Ulangan Titik beku Titik cair


1 4C 60C
2 3C 60C
3 3C 58C
Jumlah 10C 178C
Rata-rata 3,3C 59,3C

4.2 Pembahasan
Lemak atau minyak adalah senyawa makromolekul berupa trigliserida, yaitu sebuah ester yang tersusun dari
asam lemak dan gliserol. Jenis dan jumlah asam lemak penyusun suatu minyak atau lemak menentukan
karakteristik fisik dan kimiawi minyak atau lemak.

Disebut minyak apabila trigliserida tersebut berbentuk cair pada suhu kamar dan disebut lemak apabila
berbentuk padat pada suhu kamar. Asam lemak berdasarkan sifat ikatan kimianya dibedakan menjadi 2 yaitu :

1. asam lemak jenuh (tidak memiliki ikatan rangkap pada rantai karbon asam lemaknya)

2. asam lemak tidak jenuh (memiliki ikatan rangkap pada rantai karbon asam lemaknya)

Sebagai zat gizi, lemak atau minyak semakin baik kualitasnya jika banyak mengandung asam lemak tidak jenuh
dan sebaliknya. Minyak atau lemak bersifat non polar sehingga tidak larut dalam pelarut polar seperti air dan
larutan asam, tetapi larut dalam pelarut organik yang bersifat non polar seperti n-Hexane, Benzene,
Chloroform,dan senyawa hidrokarbon lainnya, karena lemak dan minyak mempunyai polaritas yang sama
dengan pelarut tersebut.

Beberapa fungsi lemak, diantaranya adalah :

1. Sebagai pembangun sel. Lemak adalah bagian penting dari membran yang membungkus setiap sel di
tubuh kita. Tanpa membran sel yang sehat, bagian lain dari sel tidak dapat berfungsi.
2. Sumber energi. Lemak adalah makanan sumber energi yang paling efisien. Setiap gram lemak
menyediakan 9 kalori energi, sedangkan karbohodrat dan protein memberi 4 kalori.
3. Melindungi organ. Banyak organ vital seperti ginjal, jantung, dan usus dilindungi oleh lemak dengan
memberinya bantalan agar terhindar dari luka dan menahan agar tetap pada tempatnya.
4. Pembangun hormon. Lemak adalah unsur pembangun sebagian senyawa terpenting bagi tubuh,
termasuk prostaglandin, senyawa semacam hormon yang mengatur banyak fungsi tubuh. Lemak
mengatur produksi hormon seks.
5. Pembangun otak. Lemak menyediakan komponen penyusun tidak hanya bagi membran sel otak, tapi
juga myelin, jaket lemak yang menyelimuti tiap serat syaraf, yang membuatnya mampu menghantar
pesan dengan lebih cepat.

Pada percobaan sifat kelarutan lemak dengan menggunakan sampel minyak kelapa, air dan Na 2CO3 tidak dapat
melarutkan minyak, sedangkan eter dan kloroform dapat melarutkan minyak. Minyak dapat larut dalam eter dan
kloroform karena minyak dapat larut dalam pelarut non polar seperti eter dan kloroform. Air dan
Na2CO3 memiliki sifat polar sehingga tidak dapat melarutkan minyak yang bersifat non polar. Ini sesuai dengan
prinsip like disolve like yang artinya senyawa polar akan larut dalam pelarut polar dan senyawa non polar
akan larut dalam pelarut non polar. Adanya perlakuan menggojong atau memvortex tiap larutan adalah agar
setiap larutan tersebut dapat tercampur rata dengan minyak kelapa. Tujuan dilakukan percobaan ini adalah untuk
mengetahui kelarutan lemak pada pelarut polar dan non polar.

Percobaan sifat ketidakjenuhan lemak, menggunakan sampel minyak kelapa, minyak gandapura, minyak telon
dan minyak hewan (ikan). Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah untuk mengetahui jenuh atau tidaknya
lemak. Jenuh atau tidaknya lemak dapat dilihat pada hasil yang diperoleh dari warna 10 ml kloroform + 10 tetes
iod 0,1 N + sampel. Semakin jernih warna larutan, maka sampel itu semakin jenuh. Jika diurutkan, sampel yang
paling jenuh adalah minyak kelapa, minyak gandapura, minyak ikan dan minyak telon. Kloroform digunakan
untuk melarutkan minyak agar tidak terjadi emulsi. Larutan iod berfungsi mengadisi ikatan rangkapnya.

Percobaan tes akrolein menggunakan sampel gliserol dan minyak kelapa yang direaksikan dengan kalium
bisulfat. Dari responden, diketahui bahwa gliserol lebih tengik dari pada minyak kelapa karena menurut
penciuman ketiga responden mengatakan gliserol lebih tengik dari pada minyak kelapa. Tujuan tes akrolein
adalah untuk mengetahui ada tidaknya gliserol. Hal ini dapat disebabkan karena penyimpanan minyak kelapa
yang lebih lama sehingga tingkat ketengikan minyak kelapa lebih tinggi dari gliserol.

Percobaan tes noda lemak menggunakan sampel minyak kelapa, minyak telon, minyak gandapura dan minyak
ikan. Tujuan percobaan ini adalah untuk melihat kadar lemak dari suatu minyak. Minyak direaksikan dengan
eter untuk melarutkan minyak karena eter nersifat non polar. Hasil yang diperoleh, setelah di olesi kertas buram,
secara berurut dari kertas yang paling transparan adalah minyak gandapura, minyak telon, minyak ikan dan
minyak kelapa. Semakin transparan kertas, maka semakin tinggi kadar lemaknya.

Percobaan angka penyabunan menggunakan sampel minyak kelapa dan aquades sebagai larutan blanko. Sampel
ditambahi KOH-alkohol untuk membentuk akrolein. Akrolein adalah sejenis aldehida yang dapat menimbulkan
rasa gatal pada tenggorokan. Kemudian sampel ditambahi indikator PP untuk mengetahui adanya sifat asam
atau basa pada larutan. Titrasi yang digunakan adalat titrasi asidimetri karena menggunakan asam yaitu HCl.
Setelah dititrasi, diperoleh volume titran minyak kelapa 58 ml, dan larutan blanko 90 ml, kemudian dimasukan
ke dalam rumus dan hasilya adalah 299,2. Angka penyabunan ini bertujuan untuk melihat berat molekul lemak.
Angka penyabunan yang diperoleh ini merupakan angka yang tinggi, karena menurut SNI, standar angka
penyabunan adalah 250-256. Angka penyabunan yang tinggi dipengaruhi oleh rantai karbon yang relatif pendek.

Percobaan asam lemak bebas (% FFA) menggunakan sampel minyak kelapa yang ditambahi alkohol dan
indikator PP. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui kualitas lemak atau minyak berdasarkan angka asam
lemak bebas yang dimiliki lemak tersebut. Alkohol berfungsi sebagai pelarut asam lemak. Larutan dititrasi
dengan NaOHdan diperoleh hasil titran 10 ml. Dengan menggunakan rumus diperoleh %FFA adalah 1,007%.
Berdasarkan SNI, %FFA adalah 5%. Hal ini menunjukkan %FFA minyak kelapa rendah.

Percobaan angka peroksida menggunakan sampel minyak goreng yang ditambahan asam asetat, kloroform dan
iod. Titrasi dilakukan 2 kali, sebelum titrasi kedua ditambahkan amilum. Tes angka peroksida bertujuan untuk
mengetahui tingkat ketengikan lemak. Asam asetat kloroform bertujuan sebagai pelarut. Indikator yang
digunakan adalah iod 2N untuk memutuskan ikatan rangkap dan amilum untuk mempercepat terjadinya reaksi.
Titran yang digunakan adalah Na2S2O3, volume titran yang digunakan adalah 1 ml dan setelah dimasukkan
rumus diperoleh angka peroksida 20. Menurut SNI, angka peroksida standar adalah 5 yang menunjukkan tingkat
ketengikan minyak goreng tinggi.

Percobaan penentuan titik cair dan titik beku minyak menggunakan sampel mentega untuk penentuan titik cair
lemak dan minyak kelapa untuk penentuan titik beku lemak dan dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali. Dari
hasil ulangan 1 diperoleh titik beku minyak kelapa 4C dan titik cair mentega 60C. Dari hasil ulangan 2
diperoleh titik beku minyak kelapa 3C dan titik cair mentega 60C. Dari hasil ulangan 3 diperoleh titik beku
minyak kelapa 3C dan titik cair mentega 58C. Sehingga diperoleh rata-rata titik beku minyak kelapa adalah
3,3C dan titik cair mentega adalah 59,3C. Kebanyakan lemak mencair pada suhu antara 30C 40C, hal ini
dapat disebabkan oleh suhu lingkungan sekitar. Lemak yang memiliki rantai karbon yang panjang dan jenuh
umumnya memiliki titik cair yang tinggi dibandingkan lemak tidak jenuh. Semakin tinggi titik cair lemak,
semakin tinggi pula kualitas lemak tersebut karena lemak tidak akan terurai pada suhu yang rendah. Pada titik
beku, semakin rendah titik beku lemak, maka kualitas minyak akan semakin baik. Titik beku lemak tidak
mencapai 0C karena bukan air. Titik beku 10C adalah titik beku yang baik untuk lemak.

DAFTAR PUSTAKA

Andry. 2009. Teknologi Lemak dan Minyak. http://scribd.com. 7 Oktober 2010.

Anonim. 2009. Minyak Kayu Putih. http://id.wikipedia.org. 7 Oktober 2010.

Anonim. 2010. Lemak. http://id.wikipedia.org. 7 Oktober 2010.

Cahyono, E. 2010. Laporan Lipid. http://www.dokterkimia.com. 7 Oktober 2010.

Djoelistee, B. 2010. Penentuan Angka Penyabunan & Asam Lemak Bebas


(FFA). http://btagallery.blogspot.com. 7 Oktober 2010.

Harper, et al. 1980. Biokimia (Review of Physiological Chemistry) Edisi 17. EGC: Jakarta.

Ketaren, S. 1986. Minyak dan Lemak Pangan. Penerbit UI Press, Jakarta.

Lehninger. 1990. Dasar-Dasar Biokimia. Jilid 1. Erlangga, Jakarta.


Mujahid. 2009. Laporan Praktikum. http://mujahidpalestina.blogspot.com. 7 Oktober 2010.

Nurul, A. 2009. Lap. Biokim Uji Lemak/Minya. http://agusnurul.blogspot.com. 7 Oktober 2010.

Rohman, A. dan Soemantri, 2007. Analisis Makanan. UGM Press, Yogyakarta.

Shanti. 2009. Angka Penyabunan. http://mtworldshanti.blogspot.com, 7 Oktober 2010.

Winarno, F. G. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Posted in Laporan Praktikum Biokimia Tagged asam karboksilat, asam lemak, hidrokarbon, lemak dan minyak Leave a
comment

Karbohidrat
Posted on February 9, 2013

DASAR TEORI

Karbohidrat adalah senyawa organik terdiri dari unsur karbon, hidrogen, dan oksigen. contoh; glukosa C 6H12O6,
sukrosa C12H22O11, sellulosa (C6H10O5)n. Rumus umum karbohidrat Cn(H2O)n. Karena komposisi yang demikian,
senyawa ini pernah disangka sebagai hidrat karbon, tetapi sejak 1880, senyawa tersebut bukan hidrat dari
karbon. Nama lain dari karbohidrat adalah sakarida, berasal dari bahasa Arab sakkar artinya gula. Karbohidrat
sederhana mempunyai rasa manis sehingga dikaitkan dengan gula. Melihat struktur molekulnya, karbohidrat
lebih tepat didefinisikan sebagai suatu polihidroksialdehid atau polihidroksiketon. Contoh glukosa; adalah suatu
polihidroksi aldehid karena mempunyai satu gugus aldehid dan 5 gugus hidroksil (OH). ( Anonim, 2008)

Karbohidrat terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu :

1. Monosakarida

Terdiri atas 3-6 atom C dan zat ini tidak dapat lagi dihidrolisis oleh larutan asam dalam air menjadi karbohidrat
yg lebih sederhana.

1. Disakarida

Senyawanya terbentuk dari 2 molekul monosakarida yg sejenis atau tidak Disakarida dpt dihidrolisis oleh
larutan asam dalam air sehingga terurai menjadi 2 molekul monosakarida.

1. Polisakarida

Senyawa yang terdiri dari gabungan molekul-molekul monosakarida yg banyak jumlahnya, senyawa ini bisa
dihidrolisis menjadi banyak molekul monosakarida. (Anonim, 2008)

Fungsi karbohidrat bagi tumbuhan yaitu amilum sebagai cadangan makanan dan sellulosa sebagai pembentuk
kerangka bagi tumbuhan. Tumbuhan mendapat amilum dan selulosa dari glukosa. Glukosa dihasilkan pada
fotosintesis. Sedangkan pada manusia, karbohidrat memiliki beberapa fungsi yaitu sebagai sumber energi,
pemberi rasa manis pada makanan, penghemat protein, pengatur metabolisme lemak, dan membantu
pengeluaran feses. (Hidayat, 2010)

Jenis karbohidrat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain adalah glukosa, maltosa dan sukrosa. Glukosa
merupakan jenis monosakarida yang tidak dapat dihidrolisis. Sedangkan maltosa dan sukrosa merupakan
disakarida, dimana maltosa merupakan hasil hidrolisis dari hasil hidrolisis pati, yang apabila 1 mol maltosa
dihidrolisis lebih lanjut akan dihasilkan 1 mol -D-glukosa dan 1 mol -D-glukosa sedangkan sukrosa apabila
dihidrolisis akan menghasilkan 50% -D-glukosa dan 50% -D-fruktosa. (Isnain, 2008)
Untuk mengetahui suatu larutan mengandung karbohidrat, dapat dilakukan uji kuaitatif seperti uji molisch, uji
bial, uji iodin, uji seliwanoff, uji benedict, uji hidrolisa amilum dan uji kuantitatif seperti uji nelson somogy.

1. Uji molisch : Prinsip reaksi ini adalah dehidrasi senyawa karbohidrat

oleh asam sulfat pekat. Dehidrasi heksosa menghasilkan senyawa

hidroksi metil furfural, sedangkan dehidrasi pentosa menghasilkan senyawa fulfural (Riaydi, 2009).

1. Uji Benedict : Uji benedict merupakan uji umum untuk karbohidrat

(gula) pereduksi (yang memiliki gugus aldehid atau keton bebas), seperti yang terdapat pada glukosa dan
maltosa. Uji benedict berdasarkan reduksi Cu2+ menjadi Cu+ oleh gugus aldehid atau keton bebas dalam
suasana alkalis, biasanya ditambahkan zat pengompleks seperti sitrat atau tatrat untuk mencegah terjadinya
pengendapan CuCO3. Uji positif ditandai dengan terbentuknya endapan merah bata, kadang disertai dengan
larutan yang berwarna hijau, merah, atau orange (Riyadi, 2009).

1. Uji Seliwanoff : Uji seliwanoff bertujuan untuk mengeahui adanya

ketosa (karbohidrat yang mengandung gugus keton). Pada pereaksi seliwanoff, terjadi perubahan oleh HCl
panas menjadi asam levulinat dan hidroksilmetil furfural. Jika dipanaskan karbohidrat yang mengandung gugus
keton akan menghasikan warna merah pada larutannya (Riyadi, 2009).

1. Uji Iodin : Pada uji iodin, amilum dengan iodin dapat membentuk

kompleks biru, sedangkan dengan glikogen akan membentuk warna merah. Oleh karena itu uji iod ini juga dapat
membedakan amilum dan glikogen (Anonim, 2009).

1. Uji Bial :Pada uji bial, dasar dari percobaannya adalah dehidrasi

pentosa oleh HCl pekat menghasilkan furfural dengan penambahan orsinol (3.5-dihidroksi toluena) akan
berkondesasi membentuk senyawa kompleks berwarna biru (Anonim, 2009).

1. Uji Hidroisis Amilum : Pada uji hidrolisis amilum, hidrolisis sempurna

apabila menjadi senyawa yang lebih sederhana yang terdeteksi pada perubahan warna. Hal ini terlihat padas
perubahan warna setiap tiga menit disertai perbedaan hasil hidrolisis pula. Larutan hasil hidrolisis sebelum
dilakukan uji Benedict untuk menentukan hasil akhir harus dinetralkan terlebih dahulu, karena semula masih
dalam suasana asam (Anonim, 2009).

1. Uji Nelson Somogy : Metode Nelson Somogy digunakan untuk

mengetahui kadar karbohidrat yang terkandung dalam sampel. Penentuan kadarnya denagn menggunakan
metode spektrofotometri dengan menggunakan panjang gelombang tertentu yang dapat mengabsorbansi larutan
tersebut dan dibuat kurva standarnya (Apriantono, 2003).

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Tabel 1 Hasil Uji Molisch

Sampel Warna Awal Warna Akhir Keterangan


Sukrosa Bening Bening +
Glukosa Bening Kuning keruh, bening +
Maltosa Bening Kuning, bening +
Tabel 2 Hasil Uji Bial

Sampel Warna Awal Warna Akhir Keterangan


Sukrosa Kuning Merah bata
Glukosa Kuning Kuning kecoklatan
Maltosa Kuning Kuning kecoklatan

Tabel 3 Hasil Uji Iodin

Sampel Warna Awal Warna Akhir Keterangan


Sukrosa Kuning Kuning
Glukosa Orange Orange
Maltosa Orange Orange

Tabel 4 Hasil Uji Seliwanoff

Sampel Warna Awal Warna Akhir Keterangan


Sukrosa Kekuningan Kuning
Glukosa Kekuningan Kekuningan
Maltosa Kekuningan Bening

Tabel 5 Hasil Uji Benedict

Sampel Warna Awal Warna Akhir Keterangan


Sukrosa Bening agak keruh Biru
Glukosa Bening agak keruh Orange +
Maltosa Bening agak keruh Orange +

Tabel 6 Hasil Uji Hidrolisa Amilum

Sebelum uji benedict Setelah uji benedict Keterangan


Ada serabut putih Endapan merah bata +

Tabel 7 Hasil Uji Nelson Somogy

Konsentrasi (x) Absorbansi (y) X2 xy


0,1 mg/ml 0,397 0,01 0,0397
0,08 mg/ml 0,306 0,0064 0,02448
0,06 mg/ml 0,299 0,0036 0,01794
0,04 mg/ml 0,285 0,0016 0,0114
0,02 mg/ml 0,148 0,0004 0,00296
= 0,3 mg/ml = 1,435 X2 = 0,022 = 0,09648

4.2 Pembahasan

Karbohidrat berasal dari kata karbon dan hidrat sehingga disebut hidrat dari karbon. Karbohidrat memiliki
rumus umum Cn(H2O)m yang pada umumnya harga n = harga m. Karbohidrat merupakan kelompok besar
senyawa polihidroksialde-hida dan polihidroksiketon atau senyawa-senyawa yang dapat dihidrolisis menjadi
polihidroksialdehida atau polihidroksiketon.

Berdasarkan unit gulanya, karbohidrat dibedakan menjadi :

a. Monosakarida (karbohidrat tunggal)


Kelompok monosakarida dibedakan menjadi dua (2) macam, yaitu pentosa yang tersusun dari lima (5) atom
karbon (arabinosa, ribose, xylosa) dan heksosa yang tersusun dari enam (6) atom karbon (fruktosa/levulosa,
glukosa, dan galaktosa).

Struktur glukosa dan fruktosa digunakan sebagai dasar untuk membedakan antara gula reduksi dan gula non-
reduksi. Penamaan gula reduksi ialah didasarkan pada adanya gugus aldehid (CHO pada glukosa dan
galaktosa) yang dapat mereduksi larutan Cu2SO4 membentuk endapan merah bata. Adapun gula non-reduksi
ialah gula yang tidak dapat mereduksi akibat tidak adanya gugus aldehid seperti pada fruktosa dan
sukrosa/dektrosa yang memiliki gugus keton (C=O).

b. Oligosakarida (tersusun dari beberapa monosakarida)

Kelompok ini terdiri dari banyak jenis, seperti disakarida, trisakarida, tetrasakarida, dll. Namun paling banyak
dipelajari ialah kelompok disakarida yang terdiri dari maltosa, laktosa dan sukrosa (dekstrosa). Dua dari jenis
disakarida ini termasuk gula reduksi (laktosa dan maltosa) sedangkan sukrosa tidak termasuk gula reduksi
(nonreducing).

c. Polisakarida (tersusun lebih dari 10 monosakarida)

Karbohidrat yang tersusun lebih dari sepuluh satuan monosakarida dan dapat berantai lurus atau bercabang.
Polisakarida dapat dihidrolisis oleh asam atau enzim tertentu yang kerjanya spesifik. Hidrolisis sebagian
polisakarida menghasilkan oligosakarida dan dapat digunakan untuk menentukan struktur molekul polisakarida.
Contoh:delstrin, dan selulosa.

Ada banyak fungsi dari karbohidrat dalam penerapannya di industri pangan, farmasi maupun dalam kehidupan
manusia sehari-hari. Diantara fungsi dan kegunaan itu ialah :

1. Sebagai sumber kalori atau energi


2. Sebagai bahan pemanis dan pengawet
3. Sebagai bahan pengisi dan pembentuk
4. Sebagai bahan penstabil
5. Sebagai sumber flavor (karamel)
6. Sebagai sumber serat

Pada karbohidrat dilakukan berbagai macam uji. Ada uji kualitatif dan kuantitatif. Uji

kualitatif tersebut meliputi :

1. Uji Molisch

Uji Molisch adalah uji umum untuk karbohidrat. Pada uji molisch, warna violet (ungu) kemerah-merahan pada
batas kedua cairan menunjukkan reaksi positif, sedangkan warna hijau menunjukan reaksi negatif. Fungsi dari
larutan H2SO4adalah menghidrolisis ikatan glikosidik pada oligosakarida. H2SO4 diteteskan melalui dinding
karena H2SO4 merupakan senyawa yang keras bila diteteskan langsung maka larutan akan rusak dan tidak
terbentuk cincin ungu. Cincin ini terbentuk juga dengan bantuan reagen molisch yang terdiri dari larutan
naptol dalam alkohol sehingga larutan terkondensasi. Hasil uji molisch menunjukkan bahwa semua bahan yang
diuji adalah karbohidrat, karena semuanya memiliki cincin ungu pada batas dua cairan. Hal ini menunjukkan
bahwa uji molish dapat membuktikan adanya golongan monosakarida, disakarida dan polisakarida pada larutan
karbohidrat.

Reaksinya :

2. Uji Bial

Uji bial digunakan untuk mengetahui adanya pentosa. Uji ini dikatakan positif (+) jika menimbulkan warna biru
hijau. Pada percobaan ini, warna akhir glukosa dan maltosa sama yaitu kuning kecoklatan, sedangkan sukrosa
merah bata. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga sampel tersebut tidak mengandung pentosa.
Reaksinya :

3. Uji Seliwanoff

Uji seliwanoff digunakan untuk mengetahui adanya keton dalam karbohidrat. Reaksinya dikatakan positif bila
larutan berwarna merah. Fungsi larutan yang digunakan dalam uji selliwanoff adalah untuk menunjukkan
adanya kandungan keton dalam karbohidrat. Pemanasan berfungsi untuk menghidrolisis larutan dan
mempercepat reaksi Pada percobaan, sukrosa berubah warna dari kekuningan menjadi kuning yang
menunjukkan sukrosa tidak memiliki gugus keton. Seharusnya sukrosa menunjukkan hasil positif karena
mengandung keton. Hal ini disebabkan oleh ketidakakuratannya lagi larutan sampel yang dipakai. Sedangkan
maltosa dan glukosa tidak terjadi perubahan warna yang spesifik karena keduanya tidak memiliki gugus keton.

Reaksinya :

4. Uji Iodin

Uji Iodin merupakan uji polisakarida untuk mengetahui adanya gula reduksi. Uji ini dikatakan positif bila
menghasilkan warna biru (amilum) dan merah (gikogen). Pada percobaan, tidak terjadi perubahan warna pada
sampel, karena sampel adalah monosakarida dan disakarida, sedangkan uji iodin digunakan untuk uji
polisakarida.

Reaksinya :

5. Uji Benedict

Uji benedict digunakan untuk menguji karbohidrat yang memiliki gugus karbonil bebas. Reaksinya dikatakan
positif bila terbentuk endapan hijau atau orange atau kuning. Fungsi larutan yang digunakan adalah untuk
melihat adanya gula pereduksi dan untuk reaksi reaksi monosakarida, sedangkan fungsi dari pemanasan adalah
untuk mempercepat reaksi. Pada percobaan, glukosa dan maltosa menghasilkan warna akhir orange, sedangkan
pada sukrosa warna biru. Sehingga dapat diketahui bahwa glukosa dan maltosa memiliki gula reduksi.

Reaksinya :

6. Hidrolisa Amilum

Hidrolisa amilum merupakan uji yang digunakan untuk mengetahui apakah larutan mengandung polisakarida
atau tidak. Uji dikatakan postif apabila terdapat endapan merah bata. Pada percobaan yang dilakukan, amilum
menghasikan endapan merah bata, karena sampel yang digunakan adalah amilum dan amilum merupakan
polisakarida.

Uji kuantitatif yang digunakan dalam percobaan ini adalah Nelson Somogy, yang dibantu dengan pembuatan
glukosa standar. Metode Nelson Somogy digunakan untuk mengetahui kadar karbohidrat yang terkandung
dalam sampel. Adapun cara yang dipakai yaitu dengan menggunakan prinsip reaksi reduksi CuSO4 oleh gugus
karbonil pada gula reduksi yang setelah dipanaskan terbentuk endapan kupru oksida (Cu2O) kemudian
ditambahkan Na-sitrat dan Na-tatrat serta asam fosfomolibdat sehingga terbentuk suatu komplek senyawa
berwarna biru yang dapat diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 540 nm.

Penentuan kadarnya dengan menggunakan metode spektrofotometri dengan menggunakan panjang gelombang
tertentu yang dapat mengabsorbansi larutan tersebut dan dibuat kurva standarnya. Penambahan reagen C untuk
mereduksi gula yang teroksidasi oleh reagen D. Pada percobaan yang dilakukan, setiap larutan yang
konsentrasinya berbeda menghasilkan absorbansi yang berbeda. Larutan dengan konsentrasi 0,02 mg/m
menghasilkan absorbansi 0,148 . Larutan dengan konsentrasi 0,04 mg/m menghasilkan absorbansi 0,285 .
Larutan dengan konsentrasi 0,06 mg/m menghasilkan absorbansi 0,299 . Larutan dengan konsentrasi 0,08
mg/m menghasilkan absorbansi 0,306 . Larutan dengan konsentrasi 0,1 mg/m menghasilkan absorbansi 0,397
. Kemudian dapat dicari a, b dan y. Persamaan y = a +bx agar dapat diketahui kadar gulanya. Sehingga
diperoleh x = 0,02 mg/L. Berdasarkan kurva standar, x diperoleh 0,042, mungkin saja terjadi kesalahan
perhitungan atau ketidakakuratan alat.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2008. Karbohidrat. http://sweetir1s.multiply.com, 27 September 2010.

Anonim. 2009. Uji Kualitatif untuk Identifikasi Karbohidrat I dan


II. http://images.arifqbio.multiply.multiplycontent.com, 27 September 2010.

Anonim, 2010. Karbohidrat. http://qforq.multiply.com, 27 September 2010.

Anonim, 2010. Struktur, Fungsi, dan Bentuk Karbohidrat. http://makalahbiologiku.blogspot.com, 27 September


2010.

Apriantono. 2003. Kadar Glukosa Ekstrak Vanili Metode Nelson-Somogy. http://www.damandiri.or.id, 27


September 2010.

Hidayat, 2009. Fungsi Karbohidrat. http://hidayat07.wordpress.com, 26 September 2010.

Isnain, Kharis, 2008. Laporan Kimia. http://aatunhalu.wordpress.com, 27 September 2010.

Nursiam, Intan, 2010. Laporan IPN 6 tan ( Uji Karbohidrat ). http://intannursiam.wordpress.com, 27 September
2010.

Riyadi, W. 2009. Uji Kualitatif Karbohidrat. http://wahyuriyadi.blogspot, 27 September 2010.

Posted in Laporan Praktikum Biokimia Leave a comment

Air dan Buffer


Posted on February 9, 2013

DASAR TEORI

Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O. Satu molekul air tersusun atas dua atom hidrogen yang
terkait secara kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada
kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 KPa (1 bar) dan temperatur 273,15 K (0C). Zat kimia ini merupakan
suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti
garam-garam, gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak macam molekul organik (Anonim, 2009).

Keadaan air yang berbentuk cair merupakan suatu keadaan yang tidak umum dalam kondisi normal, terlebih lagi
dengan memperhatikan hubungan antara hidrida-hidrida lain yang mirip dalam kolom oksigen pada tabel
periodik, yang mengisyaratkan bahwa air seharusnya berbentuk gas, sebagaimana hidrogen sulfida. Dengan
memperhatikan tabel periodik, terlihat bahwa unsur-unsur yang mengelilingi oksigen adalah nitrogen, flor, dan
fosfor, sulfur dan klor. Semua elemen-elemen ini apabila berikatan dengan hidrogen akan menghasilkan gas
pada temperatur dan tekanan normal. Alasan mengapa hidrogen berikatan dengan oksigen membentuk fasa
berkeadaan cair, adalah karena oksigen lebih bersifat elektronegatif ketimbang elemen-elemen lain tersebut
(kecuali flor). Tarikan atom oksigen pada elektron-elektron ikatan jauh lebih kuat dari pada yang dilakukan oleh
atom hidrogen, meninggalkan jumlah muatan positif pada kedua atom hidrogen, dan jumlah muatan negatif
pada atom oksigen. Adanya muatan pada tiap-tiap atom tersebut membuat molekul air memiliki sejumlah
momen dipol. Gaya tarik-menarik listrik antar molekul-molekul air akibat adanya dipol ini membuat masing-
masing molekul saling berdekatan, membuatnya sulit untuk dipisahkan dan yang pada akhirnya menaikkan titik
didih air. Gaya tarik-menarik ini disebut sebagai ikatan hidrogen (Anonim, 2009).

Air sering disebut sebagai pelarut universal karena air melarutkan banyak zat kimia. Air berada dalam
kesetimbangan dinamis antara fase cair dan padat di bawah tekanan dan temperatur standar. Dalam bentuk ion,
air dapat dideskripsikan sebagai sebuah ion hidrogen ( H+) yang berasosiasi (berikatan) dengan sebuah ion
hidroksida (OH).
Kebutuhan tanaman akan air berbeda-beda tergantung jenis/varietasnya. Banyak tanaman yang akarnya tidak
dapat menembus tanah yang mempunyai kadar air di bawah titik layu, tetapi ada juga yang dapat menembus
tanah yang mempunyai kadar air di bawah titik layu. Akar tanaman yang terletak di dekat permukaan tanah
biasanya berada dalam keadaan tanah yang lebih kering. Sedangkan yang letaknya lebih dalam tanahnya lebih
lembab (Anonim, 2009)

Kandungan air dalam suatu bahan perlu diketahui untuk menentukan zat-zat gizi yang terkandung dalam bahan
pangan tersebut. Kadar air dalam pangan dapat diketahui dengan melakukan pemanasan terhadap bahan pangan
yang ingin diketahui kandungan airnya. Penetapan kandungan air dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pada
percobaan penetapan kadar air dengan menggunakan metode oven biasa, pertama-tama bahan pangan
dipanaskan pada suhu 100oC (Ilham, 2010).

Analisis kadar air menggunakan pengering oven merupakan cara analisis yang paling banyak digunakan karena
relatif sederhana. Namun demikian, sering ada kesalahan yang diabaikan peneliti yaitu:

1. Jika suhu oven yang digunakan lebih kecil dari yang seharusnya (105 o C) dapat mengakibatkan tidak
semua air dalam contoh teruapkan sehingga dapat menyebabkan kadar air yang diperoleh lebih kecil
dari yang seharusnya.
2. Jika suhu oven lebih besar dari yang seharusnya dapat menyebakan kadar air lebih tinggi karena tidak
hanya air yang teruapkan akan tetapi minyak atsiri yang mudah menguappun ikut teruapkan
3. Neraca analtik tidak terkalibrasi juga suhu oven (Nurhidayat, 2010).

Larutan penyangga atau dikenal juga dengan nama larutan buffer adalah larutan yang dapat mempertahankan
nilai pH apabila larutan tersebut ditambahkan sejumlah asam atau basa maupun diencerkan dengan menambah
sejumlah volume air. Larutan buffer dapat bersifat :

1. Larutan penyangga yang bersifat asam

Larutan ini memiliki pH kurang dari 7 dan biasanya terbuat dari asam lemah dan garammya acapkali garam
natrium. Contohnya adalah campuran asam etanoat dan natrium etanoat dalam larutan. pH larutan penyangga
dapat diubah dengan cara mengubah rasio asam terhadap garam, atau dengan memilih asam yang berbeda dan
salah satu garamnya.

2. Larutan penyangga yang bersifat basa

Larutan ini memiliki pH diatas 7 dan biasanya terbuat dari basa lemah dan garamnya. Contohnya adalah
campuran larutan amonia dan larutan amonium klorida.

Larutan buffer merupakan campuran dari asam lemah dengan garamnya yang berasal dari basa kuat atau basa
lemah dengan garamnya yang berasal dari asam kuat. Seperti pada larutan Natrium Asetat yang merupakan
larutan yang dapat berdisosiasi secara sempurna. Namun, pada larutan asam asetat tidak terdisosiasi secara
sempurna.

CH3COOH CH3COO- + H+

Karena adanya ion ion asetat dalam jumlah banyak (yang berasal dari disosiasi natrium asetat), akan
menggerser kesetimbangan kea rah pembentukan asam asetat yang tidak terdisosiasi (yaitu, kea rah ruas kiri
persamaan di atas). Larutan ini akan memiliki pH yang tertentu dan pH ini akan bertahan baik sekali, bahkan
jika ditambahkan asam atau basa. Jika ion hidrogen (yaitu, suatu asam kuat) ditambahkan, ini akan bergabung
dengan ion asetat dalam larutan untuk membentuk asam asetat yang tidak terdisosiasi :

CH3COO- + H+ CH3COOH

Karena konsentrasi ion hidrogen tidak berubah, apa yang terjadi hanyalah bahwa jumlah ion asetat berkurang,
sementara jumlah asam asetat yang tidak terdisosiasi bertambah (Firdaus, 2010).
Sistem penyangga fosfat berperan penting sebagai penyangga sistem kemih dan juga menjaga CIS. Sistem
buffer ini terdiri dari garam fosfat asam (NaH2PO4) yang dapat memberikan sebuah H+ bebas jika [H+] turun
(suasana basa) dan sebuah garam fosfat basa (Na2HPO4) yang dapat menerima sebuah H+ bebas bila [H+]
meningkat (suasana asam). Pada dasarnya, pasangan penyangga ini dapat secara berganti-ganti menukar sebuah
ion hidrogen untuk sebuah Na+ sesuai tuntutan [H+]. Pasangan fosfat ini konsentrasinya relatif kecil pada CES
sehingga kurang penting sebagai penyangga CES. Manusia mengkonsumsi lebih banyak fosfat daripada yang
dibutuhkan, kelebihan fosfat yang difiltrasi ginjal tidak direabsorpsi kembali. Fosfat dieksresikan untuk
menyangga urin yang sedang dibentuk dnegan manarik H+ yang disekresikan ke dalam cairan tubulus dari
larutan (Hanifah, 2010).

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Tabel 1.1. Sifat Air

Bahan pH Suhu
Aquadest 7,8 90C
Air Ledeng 6,6 95C

Tabel 1.2. Kadar Air

Bahan Berat Basah Berat Kering Kadar Air (%)


Daun Bayam 5 gr 2,86 gr 42,8
Batang Bayam 5 gr 3,26 gr 34,8

Tabel 1.3. Buffer Asam

Larutan pH awal pH akhir


CH3COOH 0,1 M 2,8 4,5

Tabel 1.4. Buffer Basa

Larutan pH awal pH akhir


NH3 0,01 M 10,7 9,3

Tabel 1.5. Buffer Posfat

Larutan pH awal pH akhir


Na2HPO4 0,01 M 7,7 4,0

Tabel 1.6. Uji Sifat Buffer

pH
Larutan (+) CH3COOH (+) NH3
Buffer Asam 4,6 4,6
Buffer Basa 9,1 9,3
Buffer Posfat 6,6 7,8
Aquadest 4,3 9,5

4.2 Pembahasan

Air merupakan sebuah zat cair istimewa untuk kehidupan yang menutupi hampir 71% permukaan bumi. Air
(H2O) berbentuk cairan dalam suhu kamar karena molekul-molekulnya terikat oleh gaya antarmolekul yang
disebut ikatan hidrogen. Ikatan hidrogen pada air memiliki cukup energi untuk mempertahankan molekul air
untuk tidak terpisah satu sama lain, tapi tidak untuk mengalir, yang menjadikannya berwujud cairan dalam suhu
antara 0 C sampai 100 C pada permukaan laut. Menurunkan suhu atau energi lebih lanjut mengizinkan
organisasi bentuk yang lebih erat, menghasilkan suatu zat padat, dan melepaskan energi. Peningkatan energi
akan mencairkan es walaupun suhu tidak akan berubah sampai semua es cair. Peningkatan suhu air pada
gilirannya akan menyebabkannya mendidih untuk mengatasi gaya tarik antarmolekul dan selanjutnya
memungkinkan molekul untuk bergerak menjauhi satu sama lain. Kadar air merupakan banyaknya air yang
terkandung dalam bahan yang dinyatakan dalam persen.

Pada percobaan penentuan sifat air, aquadest memiliki pH 7,8 dan titik didih 90 C, sedangkan air ledeng
memiliki pH 6,6 dan titik didih 95 C. Hal ini dikarenakan, air ledeng tidak mengalami destilisasi seperti pada
aquadest. Selain itu, pada air ledeng masih terdapat mineral-mineral terlarut. Seharusnya aquadest memiliki pH
7 dan titik didih 100 C karena telah mengalami proses destilasi, tapi hal ini mungkin saja terjadi karena alat
destilasi atau wadah aquadest tidak dicuci dengan bersih, selain itu juga dapat dikarenakan oleh pHmeter yang
digunakan . Titik didih yang tidak mencapai 100 C dapat dikarenakan oleh suhu ruangan pada saat itu panas.

Pada percobaan penghitungan kadar air dalam organ tumbuhan (bayam), daun bayam memiliki kadar 42,8%
yang lebih tinggi dari pada batang bayam 34,8%. Hal tersebut disebabkan karena berat kering daun bayam lebih
besar dari berat kering batang bayam. Berdasarkan teori, kadar air pada daun seharusnya lebih rendah daripada
batangnya karena letak batang berdekatan dengan akar yang banyak menyerap air. Selain itu juga, hasil
penentuan kadar air dapat disebabkan oleh suhu oven. Jika suhu oven yang digunakan lebih kecil dari yang
seharusnya (105 oC) dapat mengakibatkan tidak semua air dalam contoh teruapkan sehingga dapat menyebabkan
kadar air yang diperoleh lebih kecil dari yang seharusnya. Jika suhu oven lebih besar dari yang seharusnya dapat
menyebabkan kadar air lebih tinggi karena tidak hanya air yang teruapkan akan tetapi minyak atsiri yang mudah
menguap pun ikut teruapkan.

Larutan penyangga atau larutan buffer atau dapar merupakan suatu larutan yang dapat mempertahankan nilai pH
tertentu. Adapun sifat yang paling menonjol dari larutan penyangga ini seperti pH larutan penyangga hanya
berubah sedikit pada penambahan sedikit asam atau basa.

Pada percobaan penentuan buffer asam, pH awal 10ml CH3COOH 0,1 M adalah 2,8 dan setelah penambahan
5ml CH3COONa 0,2 M, pH berubah menjadi 4,5. Pada percobaan penentuan buffer basa, pH awal 10ml
NH3 0,1 M adalah 10,7 dan setelah penambahan 5ml NH4Cl 0,2 M berubah menjadi 9,3. Pada perhitungan buffer
asam, seharusnya pH CH3COOH 0,1 M adalah 2,88 dan setelah penambahan CH3COONa pH larutan menjadi
4,76. Pada perhitungan buffer basa, seharusnya pH NH3 adalah 11,12 dan setelah penambahan NH4Cl, pH lautan
menjadi 9,26. Hal ini dapat dikarenakan ketidakakuratan pHmeter atau larutan yang tidak murni lagi karena
telah digunakan untuk berbagai percobaan atau pencucian pipet ukur dan gelas beker yang tidak bersih.

Pada percobaan pembuatan buffer fosfat dalam berbagai pH, pH awal 10ml Na 2HPO4 0,01 M adalah 7,7 dan
untuk mengubah pHnya menjadi 7, ditambahkan larutan NaH2PO4 0,01 M sedikit demi sedikit sebanyak 4,0ml.
Pada perhitungan, seharusnya pH Na2HPO4 adalah 9,43 dan dibutuhkan 7,26ml NaH2PO4 0,01 M untuk
mengubah pHnya menjadi 7. Hal ini dapat disebabkan karena pencucian alat yang tidak bersih atau tidak
akuratnya pHmeter yang digunakan.

Pada percobaan uji kemampuan buffer dalam menjaga pH, penambahan 3 tetes CH 3COOH pada buffer asam
menghasilkan pH 4,6, pada buffer basa menghasilkan pH 9,1, pada buffer fosfat menghasilkan pH 6,6 dan jika
ditambahkan pada aquadest, menghasilkan pH 4,3. Penambahan 3 tetes NH3 pada buffer asam menghasilkan pH
4,6, pada buffer basa menghasilkan pH 9,3, pada buffer fosfat menghasilkan pH 7,8, dan jika ditambahkan pada
aquadest akan menghasilkan pH 9,5. Hal ini membuktikan bahwa buffer asam, buffer basa maupun buffer fosfat
dapat mempertahankan harga pH nya dengan penambahan sedikit asam atau sedikit basa. Dapat dilihat dari
harga pH yang dihasilkan, jika ada perubahan tidaklah banyak. Berbeda dengan aquadest yang menunjukkan
perubahan pH yang drastis, karena aquadest tidak memiliki kapasitas buffer sehingga tidak dapat
mempertahankan harga pHnya dengan penambahan sedikit asam atau sedikit basa.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Air dalam Tanaman. http://hal1801.htm. 18 September 2010.

Anonim. 2009. Sifat Fisik dan Kimia Air. http://acehpedia.org/. 19 September 2010.
Firdaus, M. A. 2010, Laporan Larutan Buffer. http://akbar300994.wordpress.com . 18 September 2010.

Hanifah, R. 2010. Keseimbangan Asam Basa. http://dokterrizy.blogspot.com/ . 18 September 2010.

Ilham, H. 2010. Penetapan Kadar Air. http://hardiyantiilham.blogspot.com/. 18 September 2010.

Nurhidayat. 2010. Kesalahan-kesalahan dalam Analisis Kadar Air. http://nurhidayat.lecture.ub.ac.id . 18


September 2010.

Posted in Laporan Praktikum Biokimia Leave a comment


Post navigation

Search
RECENT POSTS
Rules for Life?

Hujan di Akhir Maret

10 Lagu Recommended ONE OK ROCK

LAKU ANGA PART 3 (Sumba, Surganya Air Terjun)

LAKU ANGA PART 2

ARCHIVES
April 2017

March 2017

March 2016

October 2015

August 2015

April 2015

February 2015

December 2014

November 2014

October 2014

September 2014

February 2013

CATEGORIES
Another Story

Foot to the Ball

Green Warrior

Laporan Praktikum Bio Assay

Laporan Praktikum Biokimia


Laporan Praktikum Ekologi

Laporan Praktikum Fisiologi Hewan

Laporan Praktikum Kimia Analisis Instrumentasi

Laporan Praktikum Kimia Dasar

Laporan Praktikum Mikrobiologi

Laporan Praktikum Mikrobiologi Lingkungan

My Laku Anga

The Words Unspoken

DREAM HARD, WORK HARDER, TRAVEL HARDEST!


SOCIAL MEDIA
View Anytha Leites profile on Facebook

View @anykaka22s profile on Twitter

View @anykaka22s profile on Instagram

View Any Leites profile on YouTube

Create a free website or blog at WordPress.com.


Follow

TUGAS KULIAH
SABTU, 25 JULI 2015

Laporan Praktikum Biologi mengenai "BIOKIMIA PENCERNAAN"

A. PENDAHULUAN

Dalam melakukan aktifitas sehari-hari manusia membutuhkan banyak energi agar dapat
melakukan aktifitas tersebut dengan makasimal. Untuk mendapatkan energi tersebut diperlukan
sumber utama energi dari makanan yang dimakan sehari-hari. Selain itu juga manusia bisa
mendapatkan energi dari buah juga karena ada berbagai macam kandungan vitamin didalam buah.
Dari makanan tersebut akan diserap gizi-gizinya seperti protein dan mineral didalam organ tubuh
manusia. Setelah itu sisa yang tidak diperlukan dibuang melalui organ pencernaan dimana proses ini
disebut proses pencernaan. Proses pencernaan adalah sebuah proses yang dimulai dari makanan
yang dimakan sampai makanan tersebut dibuang melalui organ pencernaan.

Menurut H. Moch. Agus Krisno dkk (2008: 30-31), proses pencenaan terdiri atas dua jenis
yaitu proses mekanis dan proses kimiawi. Proses mekanis adalah proses pencernaan secara
mekanis yang dilakukan melalui gerakan-gerakan seperti mengunyah, menelan, memompa,
menghancurkan, dan meremas makanan. Fungsi pencernaan mekanis adalah mengubah ukuran
makanan menjadi lebih kecil sehingga mudah dicerna. Fungsi proses mekanis lainnya
seperti memompa dan mendorong makanan adalah untuk memindahkan makanan dari saluran
cerna satu ke saluran cerna berikutnya. Proses kimiawi adalah proses dimana makanan diproses
secara kimiawi di dalam sistem pencernaan menggunakan bahan kimia yang dihasilkan oleh
saluran cerna yang disebutenzim. Enzim adalah suatu protein yang mempunyai kerja mempercepat
terjadinya reaksi kimia. Dengan bantuan enzim, bahan makanan dicerna menjadi bahan lain yang
lebihsederhana dan mudah diserap oleh tubuh untuk selanjutnya menjadi sari makanan yang akan
diedarkan oleh darah ke seluruh tubuh.

B. METODE DAN BAHAN

Alat dan Bahan

Disiapkan di laboratorium

Tabung reaksi

Rak/tempat tabung

Penjepit tabung

Batang pengaduk (batang kaca)

Gelas beker 50 cc

Gelas ukur 10 cc

Pipet tetes

Bunsen

Larutan lugol

Larutan benedict

Dibawa sendiri oleh mahasiswa


Minyak kelapa

Empedu

Kanji

Gula

Sabun/detergen

Ludah

Cara Pengerjaan:

1. Kegiatan I

a. Mengeluarkan ludah dan ditampung dalam gelas beker 10 cc sekitar 5 cc!

b. Menandai 5 tabung reaksi dengan label masing-masing dengan huruf A, B, C, D, dan E!

No. Kode Tabung Perlakuan

1 A 2.5 cc larutan amilum +2 tetes larutan lugol

2 B 2.5 cc larutan gula + 2 tetes larutan lugol

3 C 2.5 cc larutan amilum + 2.5 cc larutan benedict

4 D 2.5 cc larutan gula + 2.5 cc larutan benedict

5 E 2.5 cc larutan amilum + 2 cc air ludah, kocok 5


menit + 2.5 cc larutan benedict

c. Memanaskan tabung C, D, dan E di atas bunsen!

d. Mengamati perubahan yang terjadi dan bandingkan hasil antara ke-5 tabung percobaan

e. Menuliskan kesimpulan yang didapatkan!

2. Kegiatan II

a. Memberikan perlakuan tambahan pada tabung A, B, dan C yang sudah diberi perlakuan seperti
kegiatan I
No Kode Tabung Perlakuan

1 A + 2.5 cc minyak kelapa + 5 cc air diaduk 2 menit

2 B + 2.5 cc minyak kelapa + 2.5 cc larutan detergen, diaduk 2


menit + 5 cc air, aduk lagi selama 2 menit

3 C + 2.5 cc minyak kelapa + 2.5 cc empedu, diaduk 2 menit +


5 cc empedu, aduk 2 menit, + 5 cc air, diaduk 2 menit

b. Mengamati dan membandingkan hasil akhir dari ketiga tabung tersebut

C. PEMBAHASAN

Kegiatan 1 Kegiatan 2
Kode
Warna awal Setelah direbus Setelah diberi Perlakuan

A Ungu kehitaman - Ungu tua

B Kuning - Putih

C Biru Muda Biru Muda Hijau tua

D Biru Merah Bata -

E Biru Biru Keunguan -

Dari pengamatan kali ini saya dan teman-teman satu kelompok mendapatkan hasil dengan
data diatas. Pada pengamatan ini kami menggunakan empedu ayam untuk percobaan. Empedu
disimpan dalam kantung empedu sampai dibutuhkan kemudian disemprotkan ke bagian pertama
usus kecil pada sistem pencernaan manusia. Empedu memiliki dua fungsi penting yaitu membantu
pencernaan dan penyerapan lemak, lalu yang kedua adalah berperan dalam pembuangan limbah
tertentu dari tubuh, terutama hemoglobin yang berasal dari penghancuran sel darah merah dan
kelebihan kolesterol. Kami melakukan pengamatannya dengan cara sebagai berikut:

Tabung A dicampurkan 2.5 cc larutan amilum dan 2 tetes larutan lugol lalu diperoleh sebuah
campuran berwarna ungu kehitaman. Lalu kami melakukan perlakuan tambahan dengan
menambahkan 2.5 cc minyak kelapa, 5 cc air dan diaduk selama 2 menit dan kami mendapatkan
campuran berwarna ungu tua. Dengan perubahan warna menjadi ungu tua dapat disimpulkan
bahwa terlihatnya peranan enzim ptialin karena sebagian dari amilumnya sudah didegradasikan
menjadi gula.
Tabung B dicampurkan 2.5 cc larutan gula dan 2 tetes larutan lugol lalu kami memperoleh campuran
berwarna kuning. Setelah mlakukan perlakuan tambahan dengan menambahkan 2.5 cc minyak
kelapa dan 2.5 cc larutan detergen, lalu diadukselama 2 menit dan menambahkan 5 cc air, dan
kami mengaduknya lagi selama 2 menit dan hasilnya kami mendapat campuran berwarna putih. Dari
penelitian di tabung B ini tidak terlihat peranan enzim ptialinnya karena masih banyak mengandung
amilum, dikarenakan campuran tersebut warna campurannya berubah menjadi berwarna putih.

Tabung C dicampurkan 2.5 cc larutan amilum dan 2.5 cc larutan benedict lalu kami mendapatkan
campuran dengan warna awal biru muda, setelah itu kami merebusnya dan kami memperoleh
campuran berwarna tetap yaitu biru muda. Setelah itu kami melakukan perlakuan tambahan dengan
menambahkan 2.5 cc minyak kelapa dan 2.5 cc empedu, mengaduknya selama 2 menit dan
menambahkan 5 cc empedu, lalumengaduknya selama 2 menit, dan menambahkan 5 cc air, lalu
mengaduknya lagi selama 2 menit, setelah itu kami mendapatkan campuran berwarna hijau
tua. Dengan pengamatan di tabung C ini terlihat peranan enzim ptialin karena sebagian dari
amilumnya sudah didegradasikan menjadi gula sehingga merubah warna campuran itu menjadi
berwarna hijau tua.

Tabung D dicampurkan 2.5 cc larutan gula dan 2.5 cc larutan benedict dan mendapatkan campuran
dengan warna awal biru, setelah itu kami merebusnya dan mendapatkan campuran
berwarna merah bata. Dengan pengamatan ini dapat terlihat peranan enzim ptialinnya karena
karena sebagian dari amilumnya sudah didegradasikan menjadi gula sehingga merubah warna
campuran tersebut menjadi berwarna merah bata.

Tabung E dicampurkan 2.5 cc larutan amilum dan 2 cc air ludah, lalu mengkocoknya selama 5
menit dan menambahkan 2.5 cc larutan benedict lalu hasil yang kami dapat adalah campuran
berwarna biru. Setelah itu kami merebusnya dan mendapatkan campuran berwarna biru
keunguan. Dari pengamatan pada tabung E tidak terlihat peranan enzim ptialin karena masih banyak
mengandung amilum, dikarenakan campuran tersebut berubah menjadi berwarna biru keunguan.

D. KESIMPULAN

Dari praktek biologi dalam bab Biokomia Pencernaan ini kami jadi mengetahui peranan
empedu dan enzim ptialin dalam proses pencernaan. Setelah itu kami juga dapat membedakan
reaksi biokimia yang ditunjukan oleh empedu dan enzim ptialin.

E. SUMBER PUSTAKA

Krisno, H. Moch. Agus dkk.2008.Ilmu Pengetahuan Alam Untuk SMP/MTs Kelas VIII.Jakarta: PT
Mentari Pustaka
Diposting oleh Marco D Jack di 05.56

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke


Pinterest

Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda


Langganan: Posting Komentar (Atom)
WELCOM
Selamat datang di blog saya, semoga bermanfaat

TERJEMAHKAN

Diberdayakan oleh Terjemahan

ABOUT ME

Marco D Jack
Lihat profil lengkapku

Ada kesalahan di dalam gadget ini

BOCAH

ARCHIVE

2015 (15)
o Juli (15)
Contoh Soal Untuk Evaluasi
Pembelajaran SD Materi ...
Review Jurnal Marco dengan judul
"Penerapan Model ...
WAWANCARA PADA LEMBAGA
PEMERINTAHAN KECAMATAN
GOD...
TEKNIK BERTANYA
Tugas Agama merangkum Buku
"Pluralisme Agama"
Tugas Agama mereview dan
menanggapi kasus "Pembant...
Laporan Praktikum Biologi mengenai
"BAHAN MAKANAN ...
Laporan Praktikum Biologi mengenai
"PERNAPASAN"
Laporan Praktikum Biologi mengenai
"BIOKIMIA PENCE...
Laporan Praktikum Biologi mengenai
"KEANEKARAGAMAN...
CONTOH TEKS PIDATO MARCO
WAKTU DAN KECEPATAN
MENYIMAK
KETERAMPILAN BAHASA INDONESIA
SD
Blueprint Soal Cambridge SCIENCE
STAGE 5 Marco
2014 (10)
POPULAR POSTS

Laporan Praktikum Biologi


mengenai "KEANEKARAGAMAN
HEWAN"
WAWANCARA PADA
LEMBAGA PEMERINTAHAN
KECAMATAN GODEAN
CONTOH TEKS PIDATO
MARCO
Tema Jendela Gambar. Diberdayakan oleh Blogger.