Vous êtes sur la page 1sur 20

ILMU BEDAH UMUM

Vulnera, Benang, Jarum, Teknik sayatan

Disusun oleh :
Harles Sitompul (1102008284)
Putri Humairoh (1102008197)

Pembimbing :
Dr. Tresnawati, SpB

SMF ILMU BEDAH


RSUD GUNUNG JATI
CIREBON 2013

0
VULNERA (LUKA)

Pengertian
Luka atau vulnera adalah hilangnya kontinuitas dari jaringan tubuh baik pada kulit,
membran mukosa, otot dan saraf. Keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau
tumpul, perubahan suhu, zat kimia, sengatan listrik, atau gigitan hewan (Mansjoer, 2005).
Penyembuhan luka yang normal memerlukan suatu rangkaian peristiwa yang kompleks
yang terjadi secara simultan pada jaringan epidermis, dermis dan subkutis, itu suatu yang
mudah membedakan penyembuhan pada epidermis dengan penyembuhan pada dermis dan
perlu diingat bahwa peristiwa itu terjadi pada saat yang bersamaan. Proses yang kemudian
terjadi pada jaringan yang rusak ini ialah penyembuhan luka yang dibagi dalam tiga fase
yaitu fase inflamasi, fase proliferasi dan fase remodelling jaringan yang bertujuan untuk
menggabungkan bagian luka dan mengembalikan fungsinya.
Ketika luka timbul, beberapa efek akan muncul :
a. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ
b. Respon stres simpatis
c. Perdarahan dan pembekuan darah
d. Kontaminasi bakteri
e. Kematian sel

Klasifikasi Luka
Jenis-jenis luka dapat dibagi atas dua bagian, yaitu luka terbuka dan luka tertutup
(Mansjoer, 2005)
Luka terbuka ; terbagi pada luka tajam dan luka tumpul
1. Luka tajam
a. Vulnus scissum adalah luka sayat atau luka iris yang ditandai dengan tepi luka
berupa garis lurus dan beraturan.
b. Vulnus ictum atau luka tusuk adalah luka akibat tusukan benda runcing yang
biasanya kedalaman luka lebih daripada lebarnya.

2. Luka tumpul
a. Luka tusuk tumpul
b. Vulnus sclopetorum atau luka karena peluru (tembakan).
c. Vulnus laceratum atau luka robek adalah luka dengan tepi yang tidak beraturan,
biasanya oleh karena tarikan atau goresan benda tumpul.
d. Vulnus penetratum

1
e. Vulnus avulsi
f. Fraktur terbuka
g. Vulnus caninum adalah luka karena gigitan binatang.

Luka Tertutup
1. Ekskoriasi atau luka lecet atau gores adalah cedera pada permukaan epidermis akibat
bersentuhan dengan benda berpermukaan kasar atau runcing.
2. Vulnus contussum ( luka memar ); di sini kulit tidak apa-apa, pembuluh darah
subkutan dapat rusak, sehingga terjadi hematom. Bila hematom kecil, maka ia akan
diserap oleh jaringan sekitarnya. Bila hematom besar, maka penyembuhan berjalan
lambat.
3. Bulla akibat luka bakar
4. Hematoma
5. Sprain ; kerusakan (laesi) pd ligamen- ligamen / kapsul sendi
6. Dislokasi ; terjadi pada sendi- sendi, hubungan tulang - tulang di sendi lepas /
menjadi tdk normal sebagian
7. Fraktur tertutup
8. Laserasi organ interna/ Vulnus traumaticum; terjadi di dalam tubuh, tetapi tidak
tampak dari luar. Dapat memberikan tanda-tanda dari hematom hingga gangguan
sistem tubuh. Bila melibatkan organ vital, maka penderita dapat meninggal
mendadak (Mansjoer, 2005).

Jenis-Jenis Penyembuhan Luka


Penyembuhan luka dapat terjadi secara :
a. Per Primam

Yaitu penyembuhan yang terjadi setelah segera diusahakan bertautnya tepi luka
biasanya dengan jahitan. Luka-luka yang bersih sembuh dengan cara ini, misalnya
luka operasi dan luka kecil yang bersih. Penyembuhannya tanpa komplikasi,
penyembuhan dengan cara ini berjalan cepat dan hasilnya secara kosmetis baik.

Fase-fase penyembuhan luka :


o Fase perlekatan luka, terjadi karena adanya fibrinogen dan limfosit, dan terjadi
dalam 24 jam pertama.
o Fase aseptik peradangan, terjadi kalor, dolor, rubor, tumor dan functio laesa,
pembuluh darah melebar dan leukosit serum melebar, sehingga terjadi edema.
Terjadi setelah 24 jam.

2
o Fase pembersihan ( initial phase ), karena edema, leukosit banyak keluar untuk
memfagositosis jaringan yang telah mati.
o Fase proliferasi, pada hari ketiga, fibroblas dan kapiler menutup luka bersama
jaringan kolagen dan makrofag. Semua ini membentuk jaringan granulasi. Terjadi
penutupan luka, kemudian terjadi epitelisasi. Pada hari ketujuh penyembuhan
luka telah bagus. Berdasarkan hal ini pada luka bersih, (kecuali pada daerah yang
banyak bergerak) jahitan dibuka minimal pada hari ke-7 (Mansjoer, 2005).

Fase remodelling
a. Kolagen
Fase terakhir dan terlama dalam penyembuhan luka yaitu remodeling.
Dapat berlangsung berbulan-bulan dan berakhir bila tanda radang sudah hilang.
Proses utama yang terjadi yaitu remodelling kolagen yang dinamis dan pematangan
jaringan parut. Penyimpanan kolagen pada hampir semua jaringan, termasuk luka
merupakan keseimbangan antara aktivitas dan sintesis kolagen, dimana produksi
dan degradasi ini berjalan terus menerus.
Remodelling kolagen selama fase ini bergantung pada berlangsungnya
sintesis kolagen, dan adanya destruksi kolagen. Kolagenase dan matriks
metalloproteinase (MMPs) terdapat pada luka untuk membantu pembuangan
kolagen berlebihan pada sintesis kolagen baru yang berlangsung lama. Penghambat
jaringan metalloproteinase membatasi enzim kolagenase ini sehingga terdapat
keseimbangan antara pembentukan kolagen baru dan pembuangan kolagen lama.
Selama remodelling, fibronektin secara bertahap dan asam hyaluronat dan
glikosaminoglikan akan digantikan proteoglikan. Kolagen tipe III digantikan oleh
kolagen tipe I. Cairan diabsorbsi dari jaringan parut.
Fase remodelling atau fase resorbsi dapat berlangsung berbulan-bulan.
Dikatakan berakhir bila tanda-tanda radang sudah menghilang. Parut dan
sekitarnya berwarna pucat, tipis, lemas dan tidak ada rasa sakit maupun gatal. Di
sini proses kontraksi parut kelihatan dominan.
Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri dari penyerapan
kembali jaringan yang lebih, pengerutan sesuai dengan gaya gravitasi dan akhirnya
perupaan kembali jaringan yang baru terbentuk. Tubuh berusaha menormalkan
kembali semua yang menjadi abnormal karena proses penyembuhan. Udem dan
sel-sel radang diserap, sel muda menjadi matang, kapiler baru menutup dan diserap

3
kembali, kolagen yang berlebihan diserap dan sisanya mengerut sesuai dengan
regangan kira-kira 80% kemampuan kulit normal Hal ini kira-kira terjadi 3 - 6
bulan setelah penyembuhan.
b. Sitokin
Sitokin memungkinkan berjalannya seluruh komunikasi untuk interaksi
antar sel. Mereka mungkin juga berperan penting dalam jalur farmakologis klinis
diberbagai tempat penatalaksanaan penyembuhan luka. Misalnya, sitokin
tampaknya mengatur peranan dan pengaturan fibrosis, penyembuhan luka kronik,
cangkokan kulit, vaskularisasi, peningkatan kekuatan tendon dan barangkali juga
mengendalikan proses keganasan. Sitokin merupakan protein non antibodi yang
dilepaskan dari beberapa sel dan berfungsi sebagai mediator intraseluler. Sitokin
terdiri dari limfokin dan interleukin.
FGF dasar (faktor pertumbuhan fibroblast) merupakan sitokin lain yang
terikat pada heparin dan glikosaminoglikan yang mirip heparin. Sitokin ini
merupakan suatu factor angiogenik yang kuat, menyebabkan migrasi sel epitel
yang makin banyak, dan mempercepat kontraksi luka.
EGF (faktor pertumbuhan epidermis) adalah sitokin yang merangsang
migrasi dan mitosis epitel. Sitokin ini dilaporkan dapat mempercepat reepitelisasi
lokasi donor luka bakar.
b. Per Secundam
Proses penyembuhan ini terjadi lebih kompleks dan lebih lama. Luka jenis ini
biasanya tetap terbuka. Dapat dijumpai pada luka-luka dengan kehilangan jaringan,
terkontaminasi/terinfeksi. Penyembuhan dimulai dari lapisan dalam dengan
pembentukan jaringan granulasi. Tujuan ini diperoleh dengan pembentukan jaringan
granulasi dan kontraksi luka.

c. Per tertiam atau per primam tertunda


Disebut pula delayed primary closure. Terjadi pada luka yang dibiarkan
terbuka karena adanya kontaminasi, kemudian setelah tidak ada tanda-tanda infeksi
dan granulasi telah baik, baru dilakukan jahitan sekunder (secondary suture), setelah
tindakan debridemen, dan diyakini bersih, tepi luka dipertautkan (4 - 7 hari)
(Mansjoer, 2005).

4
Penyembuhan Luka Abnormal
Keloid dan jaringan parut hipertropi.
Keloid adalah pertumbuhan yang berlebihan dari jaringan fibrosa padat yang
biasanya terbentuk setelah penyembuhan luka pada kulit. Jaringan ini meluas melewati
batas luka sebelumnya dan tidak mengalami regresi spontan dan cenderung tumbuh
kembali setelah dilakukan eksisi. Keloid sulit dibedakan dengan scar hipertrofi, tetapi
pada scar hipertrofik jaringan parut tidak meluas melampaui batas luka sebelumnya dan
mengalami regresi spontan.
Beberapa faktor yang berpengaruh pada timbulnya keloid sebagai berikut:
1. Herediter dan ras: pada bangsa negro lebih sering terjadi dibanding bangsa berkulit
putih
2. Umur dan faktor endokrin : keloid sering timbul pada usia muda, perempuan dan
kehamilan.
3. Jenis luka : keloid sering terjadi setelah adanya luka trauma karena bahan kimia,
misalnya luka bakar, juga oleh proses peradangan yang lama sembuh.
4. Lokasi trauma : luka dan peradangan yang terjadi di daerah presterna, kepala, leher,
bahu dan tungkai bawah lebih mudah terjadi keloid (Mansjoer, 2005).

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka


a. Faktor lokal:
1. Besar/lebar luka
Luka lebar atau besar biasanya sembuh lebih lambat dari luka kecil
2. Lokalisasi luka
Luka-luka yang terdapat di daerah dengan vaskularisasi baik (kepala dan wajah)
sembuh lebih cepat daripada luka yang berada di daerah dengan vaskularisasi
sedikit/buruk. Luka-luka di daerah banyak pergerakan (sendi sendi) sembuh lebih
lambat daripada di daerah yang sedikit/tidak bergerak
3. Kebersihan luka
Luka bersih sembuh lebih cepat dari luka kotor
4. Bentuk luka
Luka dengan bentuk sederhana sembuh lebih cepat. Misalnya vulnus ekskorisio atau
vulnus scissum sembuh lebih cepat dari vulnus laceratum.
5. Infeksi
Luka terinfeksi sembuh lebih sulit dan lama.
5
6. Sirkulasi (hipovolemia) dan Oksigenasi
Sejumlah kondisi fisik dapat mempengaruhi penyembuhan luka. Adanya
sejumlah besar lemak subkutan dan jaringan lemak (yang memiliki sedikit pembuluh
darah). Pada orang-orang yang gemuk penyembuhan luka lambat karena jaringan lemak
lebih sulit menyatu, lebih mudah infeksi, dan lama untuk sembuh.
Aliran darah dapat terganggu pada orang dewasa dan pada orang yang
menderita gangguan pembuluh darah perifer, hipertensi atau diabetes millitus.
Oksigenasi jaringan menurun pada orang yang menderita anemia atau gangguan
pernapasan kronik pada perokok. Kurangnya volume darah akan mengakibatkan
vasokonstriksi dan menurunnya ketersediaan oksigen dan nutrisi untuk penyembuhan
luka.
7. Hematoma
Hematoma merupakan bekuan darah. Seringkali darah pada luka secara
bertahap diabsorbsi oleh tubuh masuk kedalam sirkulasi. Tetapi jika terdapat bekuan
yang besar hal tersebut memerlukan waktu untuk dapat diabsorbsi tubuh, sehingga
menghambat proses penyembuhan luka.
8. Benda asing
Benda asing seperti pasir atau mikroorganisme akan menyebabkan terbentuknya
suatu abses sebelum benda tersebut diangkat. Abses ini timbul dari serum, fibrin,
jaringan sel mati dan lekosit (sel darah merah), yang membentuk suatu cairan yang
kental yang disebut dengan nanah (Pus).
9. Iskemia
Iskemia merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan suplai darah pada
bagian tubuh akibat dari obstruksi dari aliran darah. Hal ini dapat terjadi akibat dari
balutan pada luka terlalu ketat. Dapat juga terjadi akibat faktor internal yaitu adanya
obstruksi pada pembuluh darah itu sendiri.

10. Obat
Obat anti inflamasi (seperti steroid dan aspirin), heparin dan anti neoplasmik
mempengaruhi penyembuhan luka. Penggunaan antibiotik yang lama dapat membuat
seseorang rentan terhadap infeksi luka.
a) Steroid : akan menurunkan mekanisme peradangan normal tubuh terhadap cedera.
b) Antikoagulan : mengakibatkan perdarahan.

6
c) Antibiotik : efektif diberikan segera sebelum pembedahan untuk bakteri penyebab
kontaminasi yang spesifik.
d) Jika diberikan setelah luka pembedahan tertutup, tidak akan efektif akibat koagulasi
intravaskular (Mansjoer, 2005).

b. Faktor umum:
1. Usia pasien
Pada anak-anak dan orang muda luka sembuh lebih cepat dibandingkan pada
orangtua.
2. Keadaan gizi
Pada penderita dengan gangguan gizi misalnya malnutrisi, defisiensi dan
avitaminosis vitamin tertentu, anemia, kaheksia, dan sebagainya, luka sembuh lebih
lambat.
3. Penyakit penderita
Pada penderita dengan penyakit tertentu misalnya diabetes militus, terutama yang
tak terkendali, luka sukar dan lambat sembuhnya (Mansjoer, 2005).

Intervensi Untuk Meningkatkan Penyembuhan :


Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin C
Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid
Pencegahan infeksi
Tanda dari penyembuhan luka bedah insisi :
1. Tidak ada perdarahan dan munculnya tepi bekuan di tepi luka.
2. Tepi luka akan didekatkan dan dijepit oleh fibrin dalam bekuan selama satu atau
beberapa jam setelah pembedahan ditutup.
3. Inflamasi (kemerahan dan bengkak) pada tepi luka selama 1 3 hari.
4. Penurunan inflamasi ketika bekuan mengecil.
5. Jaringan granulasi mulai mempertemukan daerah luka. Luka bertemu dan menutup
selama 7 10 hari. Peningkatan inflamasi digabungkan dengan panas dan drainase
mengindikasikan infeksi luka. Tepi luka tampak meradang dan bengkak.
6. Pembentukan bekas luka.
7. Pembentukan kollagen mulai 4 hari setelah perlukan dan berlanjut sampai 6 bulan
atau lebih.
8. Pengecilan ukuran bekas luka lebih satu periode atau setahun. Peningkatan ukuran
bekas luka menunjukkan pembentukan kelloid (Harnawati,2008).

7
BENANG-BENANG OPERASI

Seide (Silk/Sutera)
Terbuat dari serabut-serabut sutera, terdiri dari 70% serabut protein dan 30% bahan
tambahan berupa perekat. Warnanya hitam dan putih. Bersifat tidak licin seperti sutera biasa
karena sudah dikombinasi dengan perekat. Tidak diserap tubuh. Pada penggunaan di
sebelah luar maka benang harus dibuka kembali.
Tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari nomor 00000 (5 nol merupakan ukuran
paling kecil) hingga nomor 3 (yang merupakan ukuran paling besar). Yang paling sering
dipakai adalah nomor 00 (2 nol) dan 0 (1 nol) dan nomor 1.

8
Semakin besar banyak nol nya semakin kecil benangnya Kegunaannya adalah untuk
menjahit kulit, mengikat pembuluh arteri (terutama arteri besar), sebagai teugel (kendali).
Benang harus steril, sebab bila tidak akan menjadi sarang kuman (fokus infeksi), sebab
kuman terlindung di dalam jahitan benang, sedang benangnya sendiri tidak dapat diserap
tubuh.

Plain catgut
Asal katanya adalah cat (kucing) dan gut (usus). Dahulu benang ini dibuat dari usus
kucing, tapi saat ini dibuat dari usus domba atau usus sapi. Bersifat dapat diserap oleh tubuh,
penyerapan berlangsung dalam waktu 7-10 hari, dan warnanya putih dan kekuningan.
Tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari 00000 (5 nol yang merupakan ukuran
paling kecil) hingga nomor 3 (merupakn ukuran yang terbesar). Sering digunakan nomor 000
(3 nol), 00 (2 nol), 0 (1 nol), nomor 1 dan nomor 2.
Kegunaannya adalah untuk mengikat sumber perdarahan kecil, menjahit subkutis dan
dapat pula dipergunakan untuk menjahit kulit terutama untuk daerah longgar (perut,wajah)
yang tak banyak bergerak dan luas lukanya kecil.
Plain catgut harus disimpul paling sedikit 3 kali, karena dalam tubuh akan
mengembang, bila disimpulkan 2 kali akan terbuka kembali. Plain catgut tidak boleh
terendam dalam lisol karena akan mengembang dan menjadi lunak, sehingga tidak dapat
digunakan.

Chromic catgut
Berbeda dengan plain catgut, sebelum benang dipintal ditambahkan krom. Dengan
adanya krom ini, maka benang akn menjadi lebih keras dan kuat, serta penyerapannnya lebih
lama, yaitu 20-40 hari. Warnanya coklat dan kebiruan. Benang ini tersedia dalam ukuran 000
(3 nol merupakan ukuran yang paling kecil) hingga nomor 3.
Penggunaannya pada penjahitan luka yang dianggap belum merapat dalam waktu
sepuluh hari, untuk menjahit tendo pada penderita yang tidak kooperatif dan bila mobilisasi
harus segera dilakukan.

Nilon. (Dafilon,monosof,dermalonEthilon)

9
Merupakan benang sintetis dalam kemasan atraumatis (benang langsung bersatu
dengan jarum jahit) dan terbuat dari nilon, lebih kuat dari seide atau catgut. Tidak diserap
tubuh, dan tidak menimbulkan iritasi pada kulit atau jaringan tubuh lainnya.
Warnanya biru hitam. Tersedia dalam ukuran 10 nol hingga 1 nol. Penggunanan pada
bedah plastik, ukuran yang lebih besar sering digunakan kulit, nomor yang kecil dipakai pada
bedah mata.

Ethibond
Merupakan benang sintetis (terbuat dari polytetra methylene adipate). Tersedia dalam
kemasan atraumatis. Bersifat lembut, kuat, reaksi terhadap tubuh minimum, tidak diserap,
dan warnanya hijau dan putih. Ukurannya dari 7 nol sampai nomor 2. Penggunaannya pada
bedah kardiovaskular dan urologi.

Vitalene/Prolene/surgilen
Merupakan benang sintetis (terbuat dari polimer profilen). Sangat kuat dan lembut,
tidak diserap, warna biru. Tersedia dalam kemasan atraumatis. Ukuran dari 10 nol hingga
nomor 1. Digunakan pada bedah mikro, terutama untuk pembuluh darah dan jantung, bedah
mata, bedah plastik, cocok pula untuk menjahit kulit.

Poli Glicolic Acid Seperti Polisorb,Dexon,Vicryl


Merupakan benang sintetis dalam kemasan atraumatis. Diserap oleh tubuh, dan tidak
menimbulkan reaksi pada jaringan tubuh. Dalam subkutis bertahan selam tiga minggu, dalam
otot bertahan selam 3 bulan. Benang ini sangat lembut dan warnanya ungu.
Ukuran dari 10 nol hingga nomor 1. Penggunaan pada bedah mata, orthopedi, urologi
dan bedah plastik.

Supramid
Merupakan benang sintetis, dalam kemasan atraumatis. Berdsifat kuat, lembut
fleksibel, reaksi tubuh minimum dan tidak diserap. Warnanya hitam putih. Digunakan untuk
menjahit kutis dan subkutis.

Linen (catoon)
Dibuat dengan serat kapas alam dengan jalan pemintalan. Bersifat lembut, cukup kuat
dan mudah disimpul, tidak diserap, reaksi tubuh minimum, berwarna putih.
10
Tersedia dalam ukuran 4 nol hingga 1 nol. Digunakan untuk menjahit usus dan kulit, terutama
kulit wajah.

Steel wire
Merupakan benang logam yang terbuat dari polifilamen baja tahan karat. Sangat kuat,
tidak korosif, dan reaksi terhadap tubuh minimum. Mudah disimpul. Warna putih metalik.
Terdapat dalam kemasan atraumatis dan kemasan biasa. Ukurannya dari 6 nol hingga nomor
2. Untuk menjahit tendon.

NALD HEACTING

Banyak sekali jenisnya. Untuk menjahit kulit digunakan yang berpenampak segitiga agar
mudah mengiris kulit (scherpe nald). Sedang untuk menjahit otot dipakai yang berpenampang
bulat (round nald). Ada yang berbentuk setengah lingkaran dan ada pula yang berbentuk
seperempat lingkaran.
Penggunaannya adalah untuk menjahit luka dan menjahit oragn rusak lainnya. Penyediaan
disesuaikan kebutuhan.

11
12
TEKNIK PEMBEDAHAN

A. Pemilihan sayatan bedah


Sayatan bedah dibuat sedapat mungkin sesuai dengan arah lipatan kulit agar
luka sembuh dengan baik tanpa meninggalkan bekas yang mencolok atau
menimbulkan keloid.

Orientasi lapisan kulit


Lipatan kulit pada setiap orang sama polanya maka terdapat kaidah dan aturan
dalam membuat sayatan bedah pada bagian tubuh tertentu sesuai dengan kebutuhan
pembedahannya. Arah dan cara melakukan sayatan ini tidak bertentangan dengan arah
garis lipatan kulit tadi.
Sayatan bedah dibuat dengan mempertimbangkan letak saraf. Serabut saraf
sensorik dapat terpotong oleh sayatan bedah sehingga terjadi anastesi atau parastesi di
daerah distal sayatan tersebut.

a. Gambar 1, Lipatan kulit wajah,


Arah sayatan pada pembedahan didaerah kepala; sayatan di daerah berambut dibuat lebih bebas,
tergantung kebutuhan.

13
b. Gambar 2, Arah sayatan bedah pada tangan
Sayatan jangan pernah bersilang dengan lipatan kulit sendi secara tegak lurus sebab jaringan parut
di bekas luka operasi dapat mengakibatkan kontraktur kulit.

c. Gambar 3, Arah sayatan laparotomi


Median untuk operasi perut luas (1), paramedian (kanan) umpamanya untuk massa appendiks (2),
pararektal (3), Mc.Burney untuk apendektomi (4), Pfannenstiel untuk operasi kandung kemih atau
uterus (5), transfersal (6), subkostal kanan umpamanya untuk kolesistektomi (7).

Selain itu, sayatan bedah juga dibuat dengan mempertimbangkan segi


kosmetik. Panjang atau besarnya sayatan perlu diperhitungkan agar pasca bedah

14
tidak terlalu nyata kelihatan, terutama di daerah yang terbuka seperti leher, bahu,
lengan atas, betis, dan punggung. Segi kosmetik paling penting bila sayatan harus
dilakukan di daerah wajah.

B. Perlakuan terhadap jaringan


Untuk menjamin agar terjadi penyembuhan luka yang baik dan tidak terjadi
infeksi, sedapat mungkin harus digunakan teknik tanpa singgung dan disseksi tajam
maupun tumpul secara halus.
Teknik tanpa singgung dalam pembedahan berarti tidak boleh menyentuh
lapangan pembedahan dengan tangan atau jari, kecuali bila sangat diperlukan.
Disseksi tajam artinya melakukan sayatan dengan pisau atau gunting. Disseksi tajam
ini akan mengurangi kemungkinan terjadinya trauma jaringan yang akan menghambat
penyembuhan luka. Sayatan tajam akan membuat luka bedah yang rata permukaannya
sehingga akan terjadi penyembuhan luka secara primer. Disseksi tajam biasanya
terpaksa dilakukan pada perlekatan jaringan akibat operasi atau inflamasi.
Disseksi tumpul yang dibuat dengan alat tumpul di tempat pembedahan
seyogyanya dilakukan sesuai dengan garis anatomi organ yang bersangkutan. Cara
memegang alat bedah seperti gunting dan bermacam klem: ibu jari dan jari manis
masuk di mata alat. Jari tiga ikut gerakkan jari manis dan telunjuk diletakkan pada
sendi alat.

15
a. Gambar 4. Penggunaan pisau
A. Kedudukan pisau; pisau tajam tegak lurus diatas permukaan kulit menghasilkan luka
yang mudah sembuh
B. Pisau tidak tegak lurus menyebabkan luka dengan pinggir berbeda dan mengakibatkan
parut jelek
C. Cara memegang pisau yang memerlukan kekuatan (yang kurang sesuai dengan
pembedahan manusia)
D. Cara memegang pisau untuk insisi yang memerlukan ketepatan

b. Gambar 5. Disseksi tumpul dan cara memegang alat bedah


A. Digunakan klem terbungkus kasa,
B. Digunakan gunting halus berujung tumpul:
1. mendorong masuk, 2. buka sedikit tutup kembali dorong masukbuka
kembali dst.
Ibu jari dan jari keempat di mata gunting; jari telunjuk diatas mata sumbu
gunting dekat atau diatas sumbunya

16
C. Cara menjahit kulit
Penjahitan luka bedah dimaksudkan untuk mempertemukan dan mempertahankan
posisi kedua permukaan luka tanpa mengganggu peredarah darah setempat supaya luka
dapat sembuh per primam intentionem.
Dikenal beberapa cara untuk menjahit kulit masing-masing dengan keuntungan dan
kerugiannya.
Cara jahit simpul tunggal dibuat dengan jarak kira-kira 1 cm antar jahitan.
Keuntungan: bila benang putus, hanya satu tempat yang terbuka, dan bila terjadi
infeksi luka, cukup dibuka jahitan di tempat yang terinfeksi.
Kelemahan: membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengerjakannya
Pada jahitan jelujur digunakan satu benang untuk seluruh panjang luka.
Keuntungan: pengerjaannya lebih cepat
Kelemahan: bila ada benang yang putus, seluruh panjang luka dapa terbuka, dan bila
terjadi infeksi, seluruh luka dapat terbuka.
Pada jahitan matras vertikal dilakukan dengan menjahit sedalam penampang vertikal
luka.
Keuntungan: luka tertutup rapat sampai ke dasar luka sehingga dapat dihindari terjadi
rongga dalam luka.
Pada jahitan subkutikuler, yaitu melakukan jahitan jelujur pada jaringan lemak tepat
dibawah dermis
Keuntungan: Jahitan hasilnya rapi dan sering tidak tampak
Penutupan luka bedah dengan menggunakan agrafe yang dipasang dengan pinset
michel. Agrafe dapat dipasang dengan alat khusus seperti stapler namun dengan cara
ini menjadi mahal
Keuntungan: murah dan baik secara kosmetik
Kelemahan: pasca bedah tampak jelek selama klips masih terpasang

17
Gambar 6. Berbagai cara penjahitan kulit legenda:
A. Simpul tunggal
B. Jahitan jelujur
C. Jahitan jelujur saling mengunci
D. Jahitan matras vertikal (Donati)
E. Jahitan matras horisontal
F. Intrakutan/Subkutikuler
G. Stapler
H. Agrafe; cara memasang dengan pinset (1), cara menghadap luka (2), agrafe in situ
menjaminkan eversi/ membalikkan keluar (3)

E. Perawatan luka bedah


Biasanya luka bedah yang selesai dijahit ditutup dengan alasan untuk melindunginya
dari infeksi, disamping agar cairan luka yang keluar terserap, luka tidak kekeringan dan
luka tidak tergaruk oleh penderita. Selain itu, perdarahan dihentikan dengan memberi
sedikit tekanan pada luka.
Jenis penutup luka dapat berupa kasa yang diolesi vaselin atau salep antibiotik, atau
kasa kering. Sebenarnya luka operasi yang kering yang ditutup primir lebih baik dibiarkan
terbuka, tetapi umumnya secara psikologis kurang berkenan bagi penderita maupun
keluarganya.
Penutup luka yang sudah basah oleh darah atau cairan luka harus diganti.
Penggantiannya harus dilakukan dengan teknik aseptik. Pada kesempatan mengganti
balutan ini, sekaligus dicari kemungkinan asal perdarahan atau kebocoran cairan luka
tersebut. Kemudian sumber kebocoran harus ditangani,misalnya dengan tindakan
hemostasis. Bila tidak dilakukan pemasangan penyalir pada luka bedah, penutup luka
dapat dibiarkan sampai 48 jam pasca bedah agar tujuan penutupan luka dapat tercapai.
Saat pengambilan benang tergantung pada kondisi luka waktu diperiksa. Salah satu faktor
penting dalam menentukan saat pencabutan jahitan adalah tegangan pada tepi luka bedah.
Tepi luka yang searah dengan dengan garis lipatan kulit tidak akan tegang, sementara luka
yang arahnya tegak lurus terhadap garis kulit atau yang dijahit setelah banyak bagian kulit
yang diambil, akan menyebabkan ketegangan tepi luka yang besar. Dalam hal ini
pengambilan jahitan harus ditunda lebih lama sampai dicapai kekuatan jaringan yang
cukup sehinggabekas jahitan tidak mudah terbuka lagi.

18
Daerah Jahitan Saat pengangkatan (hari ke-)
Wajah (kelopak mata dan lidah) 4
Scrotum 5
Kulit kepala 6-7
Tangan dan jari 7
Dinding perut
- sayatan lintang 7-9
- sayatan vertikal 9-11
Pinggang dan bahu 11-12

19