Vous êtes sur la page 1sur 38

LAPORAN KASUS GINEKOLOGI

MIOMA UTERI

NINI AZNIATI
H1A 013 048

PEMBIMBING :
dr. Ratih Barirah, Sp.OG

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


DI SMF KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
RSUP NUSA TENGGARA BARAT
2017

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan kasus ini tepat pada
waktunya.
Laporan kasus yang berjudul Mioma Uteri ini disusun dalam rangka
mengikuti Kepaniteraan Klinik Madya di Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi
Rumah Sakit Umum Provinsi NTB.
Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah banyak memberikan bimbingan
kepada penulis:
1. dr. Edi Prasetyo Wibowo, Sp.OG, selaku Kepala Bagian/SMF Kebidanan
dan Kandungan RSUP NTB
2. dr. H. Doddy Ario Kumboyo, Sp.OG (K), selaku supervisor.
3. dr. A. Rusdhy Hariawan Hamid, Sp.OG (K), selaku supervisor.
4. dr. Gede Made Punarbawa, Sp.OG (K), selaku supervisor.
5. dr. I Made Widyalaksana Mahayasa, Sp.OG (K), selaku supervisor.
6. dr. Ario Danianto, Sp.OG, selaku supervisor.
7. dr. I Made Putra Juliawan, Sp.OG, selaku supervisor
8. dr Windiana Rambu, Sp.OG, selaku supervisor
9. dr. Ratih Barirah, Sp.OG, selaku pembimbing refleksi kasus ini
10. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah
memberikan bantuan kepada penulis.
Akhirnya penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan kasus ini masih
banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun
sangat penulis harapkan demi kesempurnaan laporan kasus ini.
Semoga laporan kasus ini dapat memberikan manfaat dan tambahan
pengetahuan khususnya kepada penulis dan kepada pembaca dalam menjalankan
praktek sehari-hari sebagai dokter. Terima Kasih
Mataram, Agustus 2017
Penulis

2
DAFTAR ISI

Halaman
Halaman Judul i
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iii
BAB I PENDAHULUAN 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2
2.1 Definisi 2
2.2 Epidemiologi 11
2.3 Etiologi 13
2.4 Patofisiologi 14
2.5 Klasifikasi Mioma Uteri 15
2.6 Gejala Klinis 16
2.7 Penegakkan Diagnosis 22
2.8 Diagnosis Banding 23
2.9 Penatalaksanaan 24
2.10 Komplikasi 26
BAB III LAPORAN KASUS GINEKOLOGI 28
3.1 Identitas 28
3.2 Anamnesis 28
3.3 Status Generalis 29
3.4. Status Ginekologi 30
3.5 Diagnosis Kerja 31
3.6 Diagnosis Banding 31
3.7 Pemeriksaan Penunjang 32
3.8 Diagnosis Pre Operasi 33
3.9 Rencana Tindakan 33
3.10 Histerektomi 34
3.11 Follow Up Pasien 34

3
BAB IV PEMBAHASAN 36
BAB V PENUTUP 40
DAFTAR PUSTAKA 41

4
BAB I
PENDAHULUAN

Mioma uteri merupakan suatu tumor pelvis yang paling sering dijumpai
pada perempuan, bersifat jinak dan solid.1 Struktur utamanya merupakan otot
polos rahim. Gejala klinik hanya terjadi pada 35-50% penderita mioma. Hampir
sebagian besar penderita tidak mengetahui bahwa terdapat kelainan di dalam
uterusya, terutama pada pasien dengan obesitas. Keluhan penderita juga sangat
bergantung pada lokasi atau jenis mioma yang diderita. Beberapa gejala yang
seringkali dikeluhkan yaitu perdarahan abnormal uterus, nyeri, dan gangguan
berkemih maupun buang air besar.2
Mioma uteri terjadi pada 20% wanita dan 40% wanita usia > 40 tahun.
Mioma uteri belum pernah dilaporkan terjadi pada perempuan yang belum
memasuki usia pubertas. Tetapi, kejadian mioma pernah dijumpai pada usia
remaja. Sebagian besar pasien dengan mioma simptomatik dijumpai pada usia
dekade ketiga maupun keempat.3
Penyebab mioma belum diketahui secara pasti. Kejadian mioma sangat
dipengaruhi oleh hormon reproduksi dan hanya bermanifestasi selama usia
reproduktif. Konsentrasi reseptor estrogen dalam jaringan mioma memang lebih
tinggi dibandingkan dengan miometrium sekitarnya tetapi lebih rendah
dibandingkan dengan di endometrium.2
Jenis mioma yang paling sering ditemui adalah jenis intramural dan
subserosal. Sedangkan, mioma submukosal atau subendometrial merupakan jenis
mioma yang paling jarang dijumpai. Sebagian besar mioma terdapat di bagian
fundus dan corpus uteri, sisanya 3% dijumpai pada daerah serviks.3
Penatalaksanaan mioma uteri dapat dilakukan dengan pemberian obat-
obatan (medisinalis) maupun secara operatif. Pemberian GnRH analog merupakan
terapi medisinalis yang bertujuan untuk mengurangi gejala perdarahan yang
terjadi dan mengurangi ukuran mioma. Penatalaksanaan operatif terhadap gejala-

5
gejala yang timbul atau adanya pembesaran massa mioma adalah miomektomi
atau histerektomi.1

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
B. Epidemiologi
Mioma merupakan neoplasma jinak yang paling sering terjadi pada
organ reproduksi wanita di usia reproduktif. Selama masa reproduktif,
kejadian mioma meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Mioma tidak
terjadi sebelum masa pubertas, dan mengalami penurunan kejadian setelah
menopause. Mioma uteri terdiagnosa pada 20% - 25% wanita usia reproduktif
dan 30% - 40% pada wanita usia lebih dari 40 tahun.
Mioma lebih sering terjadi pada ras kulit hitam dibandingkan dengan
ras asia. Penyebab dibalik mengapa mioma lebih sering ditemukan pada kulit
hitam masih belum jelas. Penyebab yang mungkin bisa diberikan adalah
perbedaan biosintesis dan atau metabolisme estrogen. Perbedaan ekspresi dan
atau fungsi reseptor hormon steroid dapat menjadi penjelasan perbedaan
insiden mioma pada setiap ras.
Mioma uteri dan paritas memiliki hubungan. Paritas berarti
mengurangi terjadinya siklus menstruasi, dan kehamilan menyebabkan
perubahan hormon ovari, faktor pertumbuhan, reseptor estrogen dan
perubahan pada jaringan uterus. Menarke yang terjadi pada usia dini menjadi
salah satu faktor resiko meningkatnya angka kejadian mioma uteri.
C. Etiologi
Penyebab mioma uteri belum diketahui secara pasti. Mioma jarang sekali
ditemukan sebelum usia pubertas. Sangat dipengaruhi oleh hormon
reproduksi, dan hanya bermanifestasi selama usia reproduktif.2
Awal mulanya pembentukan tumor adalah terjadinya mutasi somatik
dari sel-sel miometrium. Mutasi ini mencakup rentetan perubahan kromosom
baik secara parsial maupun keseluruhan. Hal yang mendasari tentang
penyebab mioma uteri belum diketahui secara pasti, diduga merupakan
penyakit multifaktorial. Dipercayai bahwa mioma merupakan sebuah tumor

7
monoklonal yang dihasilkan dari mutasi somatik dari sebuah sel neoplastik
tunggal yang berada di antara otot polos miometrium. Sel-sel mioma
mempunyai abnormalitas kromosom. Faktor-faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan mioma, disamping faktor predisposisi genetik, adalah beberapa
hormon seperti estrogen, progesteron, dan human growth hormon.4
Dengan adanya stimulasi estrogen, menyebabkan terjadinya proliferasi
di uterus, sehingga menyebabkan perkembangan yang berlebihan dari garis
endometrium, sehingga terjadilah pertumbuhan mioma. Analisis sitogenetik
dari hasil pembelahan mioma uteri telah menghasilkan penemuan yang baru.
Diperkirakan 40% mioma uteri memiliki abnormalitas kromosom non
random. Abnormalitas yang paling sering dijumpai adalah translokasi antara
kromosom 12 dan 14, delesi kromosom 7, dan trisomi kromosom 12.4
Beberapa hal yang dapat menjadi faktor resiko munculnya mioma uteri
adalah:4
1. Usia: sebagian besar perempuan terdiagnosa mioma uteri pada usia dekade
keempat. Mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun,
ditemukan sekitar 10% pada wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini
paling sering memberikan gejala klinis antara 35-45 tahun.
2. Paritas : lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanita yang relatif
infertil, tetapi sampai saat ini belum diketahui apakah infertil
menyebabkan mioma uteri atau sebaliknya mioma uteri yang
menyebabkan infertil, atau apakah kedua keadaan ini saling
mempengaruhi.
3. Faktor hormon endogen: menarke pada usia dini (<10 tahun) dapat
meningkatkan resiko mioma uteri. Sedangkan, kejadian mioma uteri
cenderung lebih rendah pada perempuan yang mengalami menarke pada
usia >16 tahun.
4. Riwayat keluarga: aktifitas ekspresi hormon VEGF- (a myoma-related
growth factor) dijumpai dua kali lebih kuat pada pasien mioma uteri yang
yang memiliki riwayat keluarga dengan mioma

8
5. Etnik: kejadian mioma uteri pada ras Afrika-Amerika 2.9 kali lebih banyak
dibandingkan ras Asia. Kejadian mioma uteri pada ras Afrika-Amerika
umumnya dijumpai pada usia yang lebih muda dengan karaktristik tumor
yang lebih banyak, lebih besar, dan umumnya bersifat simptomatik.
6. Berat Badan: angka kejadian mioma uteri akan meningkat hingga 21%
setiap kenaikan 10 kg dari berat badan ideal. Obesitas meningkatkan
konversi hormon androgen menjadi estrone. Sehingga terjadi peningkatan
jumlah estrogen tubuh, dimana hal ini dapat menerangkan hubungannya
dengan peningkatan prevalensi dan pertumbuhan mioma uteri.
7. Diet: konsumsi daging merah dapat meningkatkan pertumbuhan mioma
uteri. Sedangkan, sayuran hijau terbukti mampu menurunkan resiko
mioma uteri.

D. Patofisiologi
Mioma merupakan monoclonal dengan tiap tumor merupakan hasil dari
penggandaan satu sel otot. Etiologi yang diajukan termasuk di dalamnya
perkembangan dari sel otot uterus atau arteri pada uterus, dari transformasi
metaplastik sel jaringan ikat, dan dari sel-sel embrionik sisa yang persisten.
Penelitian terbaru telah mengidentifikasi sejumlah kecil gen yang mengalami
mutasi pada jaringan ikat tapi tidak pada sel miometrial normal. Penelitian
menunjukkan bahwa pada 40% penderita ditemukan aberasi kromosom yaitu
t(12;14)(q15;q24).
Penyebab mioma uteri menurut teori onkogenik dibagi menjadi 2 faktor,
yaitu inisiator dan promotor. Faktor-faktor yang menginisiasi pertumbuhan
mioma uteri masih belum diketahui dengan pasti. Dari penelitian yang
menggunakan glucose-6-phosphatase dihydrogenase diketahui bahwa mioma
berasal dari jaringan yang uniseluler. Transformasi neoplastik dari
miometrium menjadi mioma melibatkan mutasi somatik dari miometrium
normal dan interaksi kompleks dari hormon steroid seks dan growth factor
lokal. Mutasi somatik ini merupakan peristiwa awal dalam proses
pertumbuhan tumor.4

9
Tidak didapatkan bukti bahwa hormon estrogen berperan sebagai
penyebab mioma, namun diketahui estrogen berpengaruh dalam pertumbuhan
mioma. Mioma terdiri dari reseptor estrogen dengan konsistensi yang lebih
tinggi dibandingkan dengan miometrium sekitarnya, namun konsentrasinya
lebih rendah jika dibandingkan dengan endometrium. Hormon progesteron
meningkatkan aktivitas mitotik dari mioma pada wanita muda, namun
mekanisme dan faktor pertumbuhan yang terlibat tidak diketahui secara pasti.
Progesteron memungkinkan pembesaran tumor dengan cara down-regulation
apoptosis dari tumor. Estrogen berperan dalam pembesaran tumor dengan
meningkatkan produksi matriks ekstraseluler.2,4
Namun, tidak ada bukti yang kuat untuk mengatakan bahwa estrogen
menjadi penyebab mioma. Telah diketahui bahwa hormon memang menjadi
prekursor pertumbuhan miomatosa. Mioma tumbuh cepat saat penderita hamil
atau terpapar estrogen dan mengecil atau menghilang setelah menopause.2

E. Klasifikasi Mioma Uteri


Klasifikasi mioma dapat berdasarkan lokasi dan lapisan uterus yang
terkena.(3)
1. Lokasi
Cerivical (2,6%), umumnya tumbuh ke arah vagina menyebabkan infeksi.
Isthmica (7,2%), lebih sering menyebabkan nyeri dan gangguan traktus
urinarius.
Corporal (91%), merupakan lokasi paling lazim, dan seringkali tanpa gejala.
Sebagian besar mioma terdapat di bagian fundus dan corpus uteri, sisanya
3% dijumpai pada daerah serviks.1 Menurut tempatnya di uterus dan menurut arah
pertumbuhannya, maka mioma uteri dibagi 4 jenis antara lain mioma submukosa,
mioma intramural, mioma subserosa, dan mioma intraligamenter. Jenis mioma
uteri yang paling sering adalah jenis intramural (54%), subserosa (48,2%),
submukosa (6,1%) dan jenis intraligamenter (4,4%).1,6,7
1. Mioma submukosa

10
Mioma submukosa dapat tumbuh bertangkai menjadi polip,
kemudian dilahirkan melalui saluran serviks disebut mioma geburt. Hal ini
dapaat menyebabkan dismenore, namun ketika telah dikeluarkan dari
serviks dan menjadi nekrotik, akan memberikan gejala pelepasan darah
yang tidak regular dan dapat disalahartikan dengan kanker serviks.
Mioma ini berada dibawah endometrium dan menonjol ke dalam
rongga uterus. Jenis ini di jumpai 6,1% dari seluruh kasus mioma. Jenis ini
sering memberikan keluhan gangguan perdarahan. Mioma uteri jenis lain
meskipun besar mungkin belum memberikan keluhan perdarahan, tetapi
mioma submukosa, walaupun kecil sering memberikan keluhan gangguan
perdarahan. Mioma submukosa umumnya dapat diketahui dari tindakan
kuretase, dengan adanya benjolan waktu kuret, dikenal sebagai Currete
bump. Tumor jenis ini sering mengalami infeksi, terutama pada mioma
submukosa pedinkulata. Mioma submukosa pedinkulata adalah jenis
mioma submukosa yang mempunyai tangkai. Tumor ini dapat keluar dari
rongga rahim ke vagina, dikenal dengan nama mioma geburt atau mioma
yang di lahirkan, yang mudah mengalami infeksi, ulserasi, dan infark.
Pada beberapa kasus, penderita akan mengalami anemia dan sepsis karena
proses di atas.
2. Mioma intramural
Disebut juga sebagai mioma intraepitelial. Biasanya multipel
apabila masih kecil tidak merubah bentuk uterus, tetapi bila besar akan
menyebabkan uterus berbenjol-benjol, uterus bertambah besar dan berubah
bentuknya. Mioma sering tidak memberikan gejala klinis yang berarti
kecuali rasa tidak enak karena adanya massa tumor di daerah perut sebelah
bawah.
Mioma intramural terdapat di dinding uterus diantara serabut
miometrium. Karena pertumbuhan tumor, jaringan otot sekitarnya akan
terdesak dan terbentuklah semacam simpai yang mengelilingi tumor. Bila
didalam dinding rahim dijumpai banyak mioma, maka uterus akan
mempunyai bentuk yang berdungkul dengan konsistensi yang padat.

11
Mioma yang terletak pada dinding depan uterus, dalam pertumbuhannya
akan menekan dan mendorong kandung kemih keatas, sehingga dapat
menimbulkan keluhan miksi.
Secara makroskopis terlihat uterus berbenjol-benjol dengan
permukaan halus. Pada potongan, tampak tumor berwarna putih dengan
struktur mirip potongan daging ikan. Tumor berbatas tegas dan berbeda
dengan miometrium yang sehat, sehingga tumor mudah dilepaskan.
Konsistensi kenyal, bila terjadi degenerasi kistik maka konsistensi menjadi
lunak. Bila terjadi kalsifikasi maka konsistensi menjadi keras. Secara
histologik tumor ditandai oleh gambaran kelompok otot polos yang
membentuk pusaran, meniru gambaran kelompok sel otot polos
miometrium. Fokus fibrosis, kalsifikasi, nekrosis iskemik dari sel yang
mati.
3. Mioma subserosa
Lokasi tumor di subserosa korpus uteri dapat hanya sebagai tonjolan saja,
dapat pula sebagai satu massa yang dihubungkan dengan uterus melalui
tangkai. Apabila tumbuh keluar dinding uterus sehingga menonjol pada
permukaan uterus diliputi oleh serosa. Mioma subserosa dapat tumbuh
diantara kedua lapisan ligamentum latum menjadi mioma intraligamenter.
4. Mioma intraligamenter
Mioma subserosa yang tumbuh menempel pada jaringan lain, misalnya ke
ligamentum atau omentum dan kemudian membebaskan diri dari uterus.
Jarang sekali ditemukan satu macam mioma saja dalam satu uterus.
Mioma pada serviks dapat menonjol ke dalam satu saluran serviks
sehingga ostium uteri eksternum berbentuk bulan sabit. Apabila mioma
dibelah maka tampak bahwa mioma terdiri dari berkas otot polos dan
jaringan ikat yang tersusun seperti kumparan (whorle like pattern) dengan
pseudokapsul yang terdiri dari jaringan ikat longgar yang terdesak karena
pertumbuhan sarang mioma ini.

12
Gambar 1. Klasifikasi mioma uteri

F. Gejala Klinis
Hampir separuh kasus mioma uteri ditemukan secara kebetulan pada
pemeriksaan ginekologik karena tumor ini tidak mengganggu. Gejala klinis
hanya ditemukan pada 35-50% penderita mioma. Hampir sebagian besar
pederita tidak mengetahui bahwa terdapat kelainan di dalam uterusnya,
terutama pada penderita dengan obesitas. Keluhan penderita juga sangat
bergantung dengan lokasi atau jenis mioma yang diderita. Keluhan tersebut
dapat berupa:2
1. Perdarahan abnormal uterus7
Perdarahan abnormal uterus yang biasa dikeluhkan sebagai
menoragia merupakan gejala yang paling sering dikeluhkan pasien dengan

13
mioma uteri. Hal tersebut kemungkinan berkaitan dengan dilatasi vena.
Perdarahan pada mioma submukosa seringkali diakibatkan oleh hambatan
pasokan darah endometrium, tekanan, dan bendungan pembuluh darah di
area tumor (terutama vena) atau ulserasi endometrium di atas tumor.
Mioma intramural dan subserosa juga dapat memiliki kecenderungan
dalam menyebabkan menoragia seperti pada mioma submukosa.

14
Gambar 2. (Kiri) Vaskularisasi uterus normal. (Kanan) Mioma
submukosa, subserosa, dan intramural menekan pembuluh darah vena
uterina sehingga menyebabkan dilatasi vena endometrium distal.

2. Nyeri panggul dan dismenorea2,7


Mioma tidak menyebabkan nyeri dalam pada uterus, kecuali
apabila kemudian terjadi gangguan vaskuler. Nyeri lebih banyak terkait
dengan proses degenerasi akibat oklusi pembuluh darah, infeksi, torsi
tangkai mioma, atau kontraksi uterus sebagai upaya untuk mengeluarkan
mioma subserosa dari kavum uteri. Gejala akut abdomen dapat terjadi
bila torsi berlanjut dengan terjadinya infark atau degenerasi merah yang
mengiritasi selaput peritoneum, seperti pada peritonitis. Mioma yang
besar dapat menekan rektum sehingga menimbulkan sensasi untuk
mengedan. Nyeri pinggang dapat terjadi pada penderita mioma akibat
penekanan pada persyarafan yang berjalan di atas permukaan tulang
pelvis.
Rasa nyeri bukanlah gejala yang khas tetapi dapat timbul karena
gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma, yang disertai nekrosis
setempat dan peradangan. Pada pengeluaran mioma submukosum yang
akan dilahirkan, pertumbuhannya yang mempersempit kanalis servikalis
juga dapat menyebabkan dismenorrhea.
Pembesaran mioma uteri ke arah lateral dapat menyebabkan
penekanan pada ureter dan memicu terjadinya obstruksi maupun
hidronefrosis. Dismenorea memang cukup sering dilaporkan pada pasien
mioma uteri. Tetapi, perempuan dengan mioma lebih cenderung identik
dengan keluhan dispareunia atau nyeri pelvis non-siklik daripada
dismenorea.

3. Gejala dan Tanda Penekanan2,7


Mioma intramural sering dikaitkan dengan penekanan terhadap
organ sekitar. Parasitik mioma dapat menyebabkan obstruksi saluran
cerna dan perlekatannya dengan omentum dapat menyebabkan

15
strangulasi usus. Bila ukuran tumor lebih besar lagi, akan terjadi
penekanan ureter, kandung kemih, dan rektum.
Gangguan ini tergantung dari besar dan tempat mioma uteri.
Penekanan pada kandung kemih akan menyebabkan poliuri, pada uretra
dapat menyebabkan retensio urine, pada ureter dapat menyebabkan
hidroureter dan hidronefrosis, pada rektum dapat menyebabkan obstipasi
dan tenesmia, pada pembuluh darah dan pembuluh limfe di panggul
dapat menyebabkan edema tungkai dan nyeri panggul.

4. Disfungsi Reproduksi2,7,8
Abortus spontan dapat terjadi akibat efek penekanan langsung
mioma terhadap kavum uteri. Hubungan antara mioma uteri dengan
infertilitas masih belum jelas. Dilaporkan sebesar 27-40% wanita dengan
mioma uteri mengalami infertilitas. Mioma yang terletak di daerah kornu
dapat menyebabkan sumbatan dan gangguan transportasi gamet dan
embrio akibat terjadinya oklusi tuba bilateral. Mioma uteri juga dapat
menyebabkan gangguan kontraksi ritmik uterus yang sebenarnya
diperlukan untuk motilitas sperma di dalam uterus.
Infertilitas dapat terjadi apabila sarang mioma menutup atau
menekan pars intertisialis tuba, sedangkan mioma submukosum juga
memudahkan terjadinya abortus oleh karena distorsi rongga uterus.
Perubahan bentuk kavum uteri karena adanya mioma dapat
menyebabkan disfungsi reproduksi. Gangguan implantasi embrio dapat
terjadi pada keberadaan mioma akibat perubahan histologi endometrium
dimana terjadi atrofi karena kompresi massa tumor.

G. Penegakkan Diagnosis

1. Anamnesis
Wanita dengan mioma seringkali tidak mengalami gejala. Namun,
pada anamnesis pasien umumnya mengeluhkan timbul benjolan di perut
bagian bawah dalam waktu yang relatif lama. Kadang-kadang disertai

16
gangguan haid, buang air kecil atau buang air besar. Dalam anamnesis
dicari keluhan utama serta gejala klinis mioma lainnya, faktor resiko
serta kemungkinan komplikasi yang terjadi.6,8

2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan status lokalis dengan palpasi abdomen. Mioma uteri
dapat diduga dengan pemeriksaan luar sebagai tumor yang keras,
gerakan bebas, permukaan tumor umumnya rata dan tidak nyeri.
Pemeriksaan ginekologik dengan pemeriksaan bimanual didapatkan
tumor tersebut menyatu dengan rahim atau mengisi kavum Douglasi.6,8

3. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaaan laboratorium yang perlu dilakukan adalah Darah
Lengkap (DL) terutama untuk mencari kadar Hb. Pemeriksaaan
laboratorium lainnya disesuaikan dengan keluhan pasien. Anemia
merupakan akibat paling sering dari mioma. Hal ini disebabkan
perdarahan uterus yang berlebihan dan habisnya cadangan zat besi.
Kadang-kadang mioma menghasilkan eritropoeitin yang pada beberapa
kasus menyebabkan polisitemia. Adanya hubungan antara polisitemia
dengan penyakit ginjal diduga akibat penekanan mioma terhadap ureter
yang menyebabkan peningkatan tekanan balik ureter dan kemudian
menginduksi pembentukan eritropoetin ginjal.1,2

4. Pemeriksaan Imaging1,8
USG dapat dilakukan untuk menentukan jenis tumor, lokasi
mioma, ketebalan endometrium dan keadaan adnexa dalam rongga
pelvis. Mioma juga dapat dideteksi dengan CT scan ataupun MRI, tetapi
kedua pemeriksaan itu lebih mahal dan tidak memvisualisasi uterus
sebaik USG. Untungnya, leiomiosarkoma sangat jarang karena USG
tidak dapat membedakannya dengan mioma dan konfirmasinya
membutuhkan diagnosa jaringan.
Foto BNO/IVP penting untuk menilai massa di rongga pelvis serta
menilai fungsi ginjal dan perjalanan ureter. Histerografi dan histeroskopi

17
untuk menilai pasien mioma submukosa disertai dengan infertilitas.
Laparaskopi untuk mengevaluasi massa pada pelvis.

H. Diagnosis Banding6,7
Pada mioma subserosa, diagnosa bandingnya adalah tumor ovarium
yang solid, atau kehamilan uterus gravidus. Sedangkan pada mioma
submucosum yang dilahirkan diagnosa bandingnya adalah inversio uteri.
Kemudian, pada mioma intramural, diagnosa bandingnya adalah adenomiosis,
khoriokarsinoma, karsinoma korporis uteri atau sarcoma uteri.

I. Penatalaksanaan
Penanganan konservatif dapat dilakukan bila mioma berukuran kecil
pada pra dan post menopause tanpa gejala. Cara penanganan konservatif
adalah observasi dengan pemeriksaan pelvis secara periodik setiap 3-6 bulan
untuk memantau ukuran uterus dan perkembangan tumor. Bila anemia (Hb < 8
g/dl), dianjurkan untuk dilakukan transfusi.1
1. Terapi Medisinalis (Hormonal)9.10
Saat ini pemakaian Gonadotropin-Releasing Hormone (GnRH)
agonist memberikan hasil untuk memperbaiki gejala-gejala klinis yang
ditimbulkan oleh mioma uteri. Pemberian GnRH agonist bertujuan untuk
mengurangi ukuran mioma dengan jalan mengurangi produksi estrogen
dari ovarium. Obat ini mengakibatkan pengerutan tumor dan
menghilangkan gejala. Obat ini menekan sekresi gonadotropin dan
menciptakan keadaan hipoestrogenik yang serupa yang ditemukan pada
periode postmenopause. Efek maksimum dalam mengurangi ukuran
tumor diobservasi dalam 12 minggu.
Pemberian GnRH agonist sebelum dilakukan tindakan pembedahan
akan mengurangi vaskularisasi pada tumor sehingga akan memberikan
beberapa keuntungan, yaitu mengurangi hilangnya darah selama
pembedahan, dapat mengurangi kebutuhan akan transfusi darah, dan
akan memudahkan tindakan pembedahan.

18
Terapi hormonal lainnya seperti kontrasepsi oral dan preparat
progesteron akan mengurangi gejala perdarahan uterus yang abnormal,
namun tidak dapat mengurangi ukuran mioma. Baru-baru ini, progestin
dan antiprogestin dilaporkan mempunyai efek terapeutik. Kehadiran
tumor dapat ditekan atau diperlambat dengan pemberian progestin dan
levonorgestrol intrauterin.

2. Terapi Pembedahan9,10
Terapi pembedahan pada mioma uteri dilakukan terhadap mioma
yang menimbulkan gejala. Pengobatan operatif meliputi miomektomi
dan histerektomi. Menurut American College of Obstetricians and
Gynecologists (ACOG) dan American Society for Reproductive Medicine
(ASRM) indikasi pembedahan pada pasien dengan mioma uteri adalah:
a. Ukuran tumor lebih besar dari ukuran uterus 12-14 minggu
b. Perdarahan uterus yang tidak berespon terhadap terapi konservatif
c. Dugaan adanya keganasan
d. Pertumbuhan mioma pada masa menopause
e. Infertilitas karena gangguan pada cavum uteri maupun karena oklusi
tuba
f. Nyeri dan penekanan yang sangat mengganggu
g. Gangguan berkemih maupun obstruksi traktus urinarius
h. Anemia akibat perdarahan
Tindakan operatif yang dapat dilakukan berupa miomektomi atau
histerektomi. Miomektomi dilakukan pada penderita yang masih
menginginkan anak atau mempertahankan uterus demi kelangsungan
fertilitas. Sejauh ini tampaknya aman, efektif, dan masih menjadi pilihan
terbaik. Enukleasi sebaiknya tidak dilakukan bila ada kemungkinan
terjadinya karsinoma endometrium atau sarkoma uterus, juga dihindari
pada masa kehamilan. Miomektomi dapat dilakukan dengan laparoskopi,
histeroskopi, atau insisi dnegan laparatomi.

19
Sedangkan, histerektomi dilakukan bila pasien tidak menginginkan
anak lagi, dan pada penderita yang memiliki leiomioma yang
simptomatik atau yang sudah bergejala. Histerektomi dengan indikasi
mioma uteri merupakan tindakan operatif yang kedua paling banyak
dijumpai pada perempuan di US (33.5%). Histerektomi dapat dilakukan
melalui vaginal, abdominal, atau laparoskopi. Histerektomi pada mioma
uteri memberikan keuntungan lebih dari 90%. Histerektomi dapat
mengatasi berbagai keluhan pada mioma uteri seperti nyeri panggul,
gangguan berkemih, lemas, gejala psikologik, dan gangguan seksual.

J. Komplikasi
Komplikasi yang terjadi pada mioma uteri:
1. Degenerasi Ganas
Mioma uteri yang menjadi leiomiosarkoma ditemukan hanya 0,32-
0,6% dari seluruh mioma, serta merupakan 50-75% dari semua sarkoma
uterus. Keganasan umumnya baru ditemukan pada pemeriksaan histologi
uterus yang telah diangkat. Kecurigaan akan keganasan uterus apabila
mioma uteri cepat membesar dan apabila terjadi pembesaran sarang
mioma dalam menopause.

2. Torsi (Putaran Tangkai)


Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul
gangguan sirkulasi akut sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian
terjadilah sindrom abdomen akut. Jika torsi terjadi perlahan-lahan,
gangguan akut tidak terjadi.

3. Nekrosis dan Infeksi


Sarang mioma dapat mengalami nekrosis dan infeksi yang
diperkirakan karena gangguan sirkulasi darah padanya.
Perubahan sekunder pada mioma uteri yang terjadi sebagian besar bersifat
degenerasi. Hal ini oleh karena berkurangnya pemberian darah pada sarang
mioma. Perubahan sekunder tersebut antara lain : (6)

20
1. Atrofi
Sesudah menopause ataupun sesudah kehamilan mioma uteri menjadi
kecil.
2. Degenerasi hialin
Perubahan ini sering terjadi pada penderita berusia lanjut. Tumor
kehilangan struktur aslinya menjadi homogen. Dapat meliputi sebagian
besar atau hanya sebagian kecil dari padanya seolah-olah memisahkan
satu kelompok serabut otot dari kelompok lainnya.
3. Degenerasi kistik
Meliputi daerah kecil maupun luas, dimana sebagian dari mioma menjadi
cair, sehingga terbentuk ruangan-ruangan yang tidak teratur berisi agar-
agar, dapat juga terjadi pembengkakan yang luas dan bendungan limfe
sehingga menyerupai limfangioma. Dengan konsistensi yang lunak ini
tumor sukar dibedakan dari kista ovarium atau suatu kehamilan.
4. Degenerasi membatu (calcereus degeneration)
Terjadi pada wanita berusia lanjut oleh karena adanya gangguan dalam
sirkulasi. Dengan adanya pengendapan garam kapur pada sarang mioma
maka mioma menjadi keras dan memberikan bayangan pada foto
rontgen.
5. Degenerasi merah (carneus degeneration)
Perubahan ini terjadi pada kehamilan dan nifas. Patogenesis :
diperkirakan karena suatu nekrosis subakut sebagai gangguan
vaskularisasi. Pada pembelahan dapat dilihat sarang mioma seperti
daging mentah berwarna merah disebabkan pigmen hemosiderin dan
hemofusin. Degenerasi merah tampak khas apabila terjadi pada
kehamilan muda disertai emesis, haus, sedikit demam, kesakitan, tumor
pada uterus membesar dan nyeri pada perabaan. Penampilan klinik ini
seperti pada putaran tangkai tumor ovarium atau mioma bertangkai.
6. Degenerasi lemak
Jarang terjadi, merupakan kelanjutan degenerasi hialin.

21
22
BAB III
LAPORAN KASUS GINEKOLOGI

I. IDENTITAS
Nama : Ny. BM
Usia : 43 tahun
Pekerjaan : IRT
Agama : Islam
Suku : Sasak
Alamat : Selong, Lombok Timur
RM : 140810
MRS : Rabu, 20 September 2017

II. ANAMNESIS

Keluhan Utama : Keluar darah dari jalan lahir

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang ke Poliklinik Ginekologi RSUP NTB dengan keluhan keluar
darah dari jalan lahir. Keluhan tersebut dirasakan selama 5 bulan dengan
hentinya keluar darah hanya 2 3 hari. Keluhan tersebut disertai dengan nyeri
perut bagian bawah yang hilang timbul.
Pada tanggal 13 Juni 2017 pasien pernah memeriksakan diri ke dokter
kandungan. Pada pemeriksaan USG didapatkan tampak uterus membesar
dengan ukuran 10,35 x 4,8 cm, massa hipoecoic ukuran 4,6 x 5,5 cm. Pasien
didiagnosis mioma uteri+kista ovarium dan disarankan untuk operasi.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Riwayat Penyakit Keluarga :

Riwayat Alergi :
Pasien tidak memiliki riwayat alergi terhadap obat-obatan maupun
makanan.

23
Riwayat Sosial :
Riwayat haid pertama kali usia 15 tahun: siklus 28 hari, teratur, lama haid
7-9 hari.
Pernikahan ke-1 : lama menikah 14 tahun, menikah usia 24 tahun. Pasien tidak
pernah menggunakan alat kontrasepsi selama permikahan.

Riwayat Obstetri :
Pasien memiliki riwayat kehamilan sebagai berikut :
1. Aterm/laki-laki/di RS/bidan/12 tahun/hidup
2. Aterm/laki-laki/di RS/bidan/9 tahun/hidup
3. Aterm/perempuan/di RS/bidan/5 tahun/hidup

III. STATUS GENERALIS


Keadaan umum : baik
Kesadaran : compos mentis

Tanda Vital : - Tekanan darah : 130/80 mmHg


- Frekuensi nadi : 80x/menit
- Frekuensi napas : 20x/menit
- Suhu axilla : 36,6oC

Pemeriksaan Fisik Umum


- Kepala - Leher : mata : anemis (-), ikterus (-)
- Thorak :
o Jantung : S1S2 tunggal reguler, murmur (-), gallop (-)
o Paru : Vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)
- Abdomen : BU
- Ekstremitas : edema - - akral teraba hangat + +
- - + +

IV. STATUS GINEKOLOGI

Abdomen:
Inspeksi

24
Abdomen tidak tampak mengalami pembesaran, tidak ada tanda-tanda
peradangan, scar (-).
Palpasi
Uterus teraba setinggi simfisis pubis. Nyeri tekan (+). Teraba massa di
bagian perut kiri bawah, tunggal, ukuran 10 x 4 cm, teraba keras,
permukaan licin.
Pemeriksaan Bimanual:
Dinding vagina teraba licin, massa (-)
Porsio, (-), nyeri goyang porsio (-), pada saat menggerakkan porsio
massa di abdomen bawah ikut bergerak
Adneksa parametrium dextra et sinistra dalam batas normal
Korpus uteri antefleksi
Cavum douglas dalam batas normal
Lendir (+), darah (-)

V. DIAGNOSIS KERJA
Mioma uteri
VI. DIAGNOSIS BANDING
Tumor padat ovari

VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Ultrasonografi (USG) Abdomen (22/08/2017):


Tampak uterus membesar dengan ukuran 11,84 x 8,50 x 5,20 cm
Tekstur homogen
Massa kistik ukuran 5,7 x 3,2 x 3,62 cm
Kesan: mioma uteri+kista ovarium

Pemeriksaan Darah Lengkap (07/06/2017) :


HB : 12,1 g/dL
RBC : 4.52 M/l
WBC : 10.1 K/l

25
PLT : 345 K/l
HCT : 41.2 %
HbSAg : (-)
GDS : 94 mg/dl
SGOT : 16.8 U/L
SGPT : 17.0 U/L
Ureum : 25.9 mg/dl
Creatinin : 0.511 mg/dl
BT : 130
CT : 430
VIII. DIAGNOSIS PRE OPERASI
Mioma Uteri
IX. RENCANA TINDAKAN
Planning diagnostik: Pemeriksaan patologi anatomi
Planning terapi: Histerektomi
Planning evaluasi: Keadaan umum, keluhan, dan tanda vital pasien.
KIE: Hasil pemeriksaan, rencana terapi (tujuan, prosedur dan resiko
histerektomi), dan komplikasi.
X. HISTEREKTOMI ( 22 September 2017)

Tindakan Operasi : Histerektomi Total- Salpingo Oovorektomi Sinistra

Penemuan Intra Operasi :


Uterus ukuran 10x5x3 cm, terdapat mioma submukosa
Terdapat mioma subserosa pedunculated ukuran 8x4x3 cm
Perdarahan 200 cc

26
Instruksi Post Operasi :
Pemeriksaan laboratorium post-operatif
Bila Hb < 8 g/dl, transfusi darah (PRC) hingga Hb 9-10 g/dl
Infus RL 20 tpm
Injeksi cefotaxim 1 gram per 8 jam
Observasi tanda vital dan keluhan pasien
XI. FOLLOW UP PASIEN
A. 2 JAM POST OPERATIF

27
Keluhan : pusing (-), mual (-), muntah (-), perdarahan aktif (-), nyeri
bekas luka operasi (+), mobilisasi (-)
KU : baik
TD : 100/70 mmHg
Nadi : 86 x/menit
Kes : CM
RR : 19 x/menit
Suhu : 36,2oC

28
B. 1 HARI POST OPERATIF

Keluhan : pusing (-), mual (-), muntah (-), perdarahan aktif (-), nyeri
bekas luka operasi (+), mobilisasi (+), perdarahan aktif (-), BAK (+),
BAB (-)
KU : baik
Kes : CM
TD : 110/90 mmHg
Nadi : 80 x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu : 36,4oC
C. 2 HARI POST OPERATIF

Keluhan : pusing (-), mual (-), muntah (-), perdarahan aktif (-), nyeri
bekas luka operasi (+), mobilisasi (+), perdarahan aktif (-),BAK (+),
BAB (+)
KU : baik
Kes : CM
TD : 110/80 mmHg
Nadi : 82 x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu : 36,2oC

D. 3 HARI POST OPERATIF

Keluhan : pusing (-), mual (-), muntah (-), perdarahan aktif (-), nyeri
bekas luka operasi (+), mobilisasi (+), perdarahan aktif (-), BAK (+),
BAB (+)
KU : baik
Kes : CM
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 80 x/menit
RR : 18 x/menit

34
Suhu : 36,3oC
Planning : memulangkan pasien, KIE pasien untuk kontrol ke poli
kandungan 1 minggu lagi atau bila ada keluhan.

35
BAB IV
PEMBAHASAN

Mioma uteri adalah tumor jinak miometrium uterus dengan konsistensi


padat kenyal, batas jelas, mempunyai pseudokapsul, nyeri perut, bisa soliter atau
multipel. Pada laporan kasus berikut diajukan suatu kasus seorang wanita berusia
38 tahun dengan diagnosis mioma uteri2. Sampai saat ini belum diketahui
penyebab pasti mioma uteri dan diduga merupakan penyakit multifaktorial. Faktor
predisposisi pada pasien tersebut adalah usia. Mioma paling sering dijumpai pada
perempuan usia dekade keempat dan tumor ini paling sering memberikan gejala
klinis antara 35-45 tahun5. Diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen
dengan pertumbuhan mioma, dimana mioma uteri muncul pada wanita usia
reproduktif, muncul setelah menarche, berkembang setelah kehamilan dan
mengalami regresi setelah menopause4.
Diagnosis mioma uteri ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang yang ada10. Mioma uteri dapat disertai gejala
maupun tanpa gejala. Gejala yang timbul sangat tergantung pada tempat sarang
mioma ini berada (intramural, submukosa, subserosa), besarnya tumor, serta
perubahan dan komplikasi yang terjadi5. Pada kasus ini, pasien mengeluhkan
muncul nyeri di daerah perut kanan bawah sejak 1 tahun gangguan ini tergantung
dari besar dan tempat mioma uteri sehingga menimbulkan gejala dan tanda
penekanan8. Pada anamnesis tidak didapatkan adanya keluhan nyeri panggul.
Menstruasi, BAK maupun BAB dikatakan normal.
Pemeriksaan fisik pada pasien ini didapatkan status vital baik, yang berarti
hemodinamik pasien masih stabil. Pada palpasi abdomen didapatkan uterus teraba
setinggi simfisis pubis. Nyeri tekan (+). Teraba massa di bagian perut kanan
bawah, tunggal, ukuran 10x4 cm, teraba keras, permukaan licin, nyeri tekan (+).
Pada pemeriksaan bimanual didapatkan massa di abdomen bawah ikut bergerak
saat porsio digerakkan. Pemeriksaan penunjang dengan USG pada pasien ini
didapatkan gambaran uterus yang membesar dengan ukuran 10,35 x 4,8 cm,
massa hipoecoic ukuran 4,6 x 5,5 cm. Pemeriksaan dengan CT scan maupun USG

36
juga dapat dilakukan, namun lebih mahal dan menghabiskan waktu lebih lama
tetapi tidak memberikan informasi yang lebih daripada USG.
Dapat ditarik kesimpulan diagnosis pasien tersebut adalah mioma uteri dan
kista ovarium melalui hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang yang dilakukan. Pada anamnesis yang menunjang diagnosis mioma
uteri adalah didapatkan keluhan nyeri perut bagian bawah sejak 1 tahun.
Kemudian dari pemeriksaan fisik abdomen regio bawah kiri ditemukan Teraba
massa di bagian perut kiri bawah, tunggal, ukuran 10 x 4 cm, teraba keras,
permukaan licin. Pencitraan dengan USG semakin memperkuat diagnosis mioma
uteri dimana terdapat uterus yang membesar dengan ukuran 10,35x4,8 cm.

Pasien ini direncanakan histerektomi elektif karena selain untuk


mengendalikan nyeri perut yang hebat, pasien juga sudah setuju untuk tidak
mempunyai anak lagi sehingga tidak perlu lagi mempertahankan fungsi dari
rahim. Selain itu umumnya dilakukan dengan alasan mencegah kearah karsinoma
servisis uteri. Sebelum dilakukan tindakan pembedahan perlu dilakukan adanya
evaluasi keadaan pasien pre-operatif oleh pihak anestesi dan penyakit dalam. Pada
kasus ini dilakukan Histerektomi Totalis - Salpingo Oovorektomi Sinistra.

Kunjungan Rumah

Kunjungan rumah dilakukan pada hari Selasa, 18 Juli 2017. Saat

kunjungan, pasien telah diperbolehkan pulang 4 hari sebelumnya setelah

dirawat di bangsal Segara Anak RSUP NTB sejak tanggal 13 Juli 2017

akibat penyakit yang di deritanya yaitu mioma uteri dan sempat dirawat

kembali karena luka operasi yang infeksi.

Kondisi Ibu saat kunjungan lapangan baik, dengan tekanan darah 120/80

mmHg, nadi 90 x/menit, respirasi 18 x/menit, suhu aksila 36,3oC. Ibu tidak

mengeluhkan nyeri ataupun rasa tidak nyaman pada luka bekas operasi

dan keluhan lainnya.

37
Berdasarkan anamnesis yang dilakukan untuk menggali faktor risiko yang

menyebabkan terjadinya mioma uteri pada pasien adalah adanya riwayat

penyakit mioma uteri dari kelurga yaitu bibi pasien. Wanita dengan garis

keturunan tingkat pertama dengan penderita mioma uteri mempunyai

peningkatan 2,5 kali kemungkinan risiko untuk menderita mioma uteri

dibanding dengan wanita tanpa garis keturunan penderita mioma uteri.

Penderita mioma yang mempunyai riwayat keluarga penderita mioma uteri

mempunyai 2 kali lipat kekuatan ekspresi hormon VEGF- (a myoma-

related growth factor) dijumpai dua kali lebih kuat pada pasien mioma

uteri yang yang memiliki riwayat keluarga dengan mioma uteri. Risiko

lain dari pasien yaitu diet terutama diet daging. Ada studi yang mengaitkan

dengan peningkatan terjadinya mioma uteri dengan pemakanan seperti

daging sapi atau daging merah atau ham bisa meningkatkan insidensi

mioma uteri dan sayuran hijau bisa menurunkannya. Studi ini sangat sukar

untuk diintepretasikan kerana studi ini tidak menghitung nilai kalori dan

pengambilan lemak tetapi sekadar informasi sahaja dan juga tidak

diketahui dengan pasti apakah vitamin, serat atau phytoestrogen

berhubung dengan mioma uteri. Risiko lain dilihat dari segi kebersihan

diri dan lingkungan rumah pasien, dimana pasien dan suami tinggal

bersama dengan 1 orang mertua, 3 orang anak, dan 1 orang bibi. Rumah

sudah menggunakan lantai, memiliki 3 kamar tidur, masing-masing

ditempati 2 orang, dengan kebersihan yang kurang. Terdapat 1 kamar

mandi milik pribadi di pekarangan rumah dengan pembuangan limbah ke

38
saluran air (got), tidak berlantai, bak airnya adalah bekas drum minyak.

Sumber air untuk keperluan sehari-hari didapatkan dari air PDAM. Hal-hal

tersebut di atas dapat berkontribusi menyebabkan terjadinya infeksi,

hygiene juga menjadi faktor penting karena bila terjadi infeksi akan sangat

berpengaruh pada kesejahteraan ibu.

Infeksi luka operasi sendiri juga dipengaruhi oleh hygiene dari ibu itu

sendiri, apakah area luka bekas operasi dijaga kebersihannya. Mobilisasi

ibu yang kurang setelah operasi seksio sesarea juga turut berperan serta

karena sirkulasi darah menjadi statis sehingga aliran darah ke area luka

operasi juga berkurang menyebabkan lamanya penyembuhan luka. Ibu

mengaku teratur minum obat yang diberikan, tapi tidak kontrol ke rumah

sakit sesuai jadwal kontrol.

Kepada pasien ini, penulis menyarankan untuk tetap kontrol luka pasca rehecting,

menjaga kebersihan luka dan memperhatikan adanya tanda-tanda infeksi pada

luka. Ibu juga harus mengonsumsi makanan yang tinggi protein seperti telur dan

tinggi zat besi seperti daging dan sayur untuk mempercepat penyembuhan

lukanya.

39
BAB V
PENUTUP

Dalam laporan kasus ini dilaporkan seorang wanita berusia 38 tahun


dengan keluhan nyeri perut di kiri bawah yang semakin memberat sejak 1 tahun
SMRS. Pasien tidak memiliki keluhan gangguan perdarahan pada saat menstruasi,
nyeri panggul, dismenorea, gangguan BAK, dan gangguan BAB.
Pada pemeriksaan fisik teraba massa di bagian perut kiri bawah, tunggal,
ukuran 10x4 cm, teraba keras, permukaan licin, nyeri tekan (+). Sedangan, pada
pemeriksaan bimanual didapatkan massa di abdomen bawah ikut bergerak saat
porsio digerakkan. Pemeriksaan penunjang dengan USG pada pasien ini
didapatkan gambaran uterus yang membesar dengan ukuran 10,35 x 4,8 cm,
massa hipoecoic ukuran 4,6 x 5,5 cm. Kesan USG berupa mioma uteri+kista
ovarium.
Pasien telah menikah selama 14 tahun dan telah memiliki 3 orang anak.
Saat ini, pasien mengaku tidak menggunakan KB dan sudah tidak ingin hamil
lagi.
Berdasarkan analisis hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang didapatkan diagnosis yang paling mungkin pada kasus ini adalah
mioma uteri. Terapi yang disarankan pada pasien tersebut berupa histerektomi.
Tindakan operatif telah dilakukan pada tanggal 13 Juli 2017. Jenis
tindakan yang dilakukan pada pasien ini adalah Histerektomi Totalis dan Salpingo
Oovorektomi Sinistra. Pada saat operasi didapatkan uterus berukuran 10x5x3 cm
dan ditemukan mioma submukosa. Selain itu juga didapatkan adanya mioma
subserosa pedunculated ukuran 8x4x3 cm. Jumlah perdarahan selama operasi
200 cc.
Kondisi pasien setelah operasi stabil dan diperbolehkan untuk rawat jalan
setelah diobservasi selama 3 hari di ruang rawat ginekologi.

40
DAFTAR PUSTAKA

1. Duhan, N. Current and Emerging Treatments for Uterine Myoma-An


Update. IJWH. 2011; 3: pp. 231-41.
2. Adriaansz G. Tumor Jinak Organ Genitalia. Dalam: Anwar M, Baziad A,
Prabowo RP. Ilmu Kandungan. Edisi Ketiga. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirodihardjo; 2011. Hlm. 274-8.
3. Ibrar F, Riaz S, Dawood NS, et al. Frequency of Fibroid Uterus in
Multipara Women in A Tertiary Care Centre in Rawalpindi. J Ayub Med
Coll Abbottabad. 2010; 22 (3): pp. 155-7.
4. Parker, WH. Etiology, Symptomatology, and Diagnosis of Uterine
Myomas. J fertnstert: 2007; Vol. 87 No. 4.
5. Kurniasari, T. Karakteristik Mioma Uteri di RSUD Dr. Moewardi
Surakarta Periode Januari 2009-Januari 2010. FK UNS Surakarta. 2010.
6. Berek. 2007. Berek & Novaks Gynecology, 14th Edition. Lippincott
Williams & Wilkins William Gynecology.
7. Schorge, et al. 2008. Williams Gynaecology. The McGraw-Hill
Companies.
8. Wallach EE, Vlahos NF. Uterine Myomas: An Overview of Development,
Clinical Features, and Management. AOG. 2004; Vol. 104 No. 2 (8).
9. Lefebvre G, ilos G, Allaire C, et al. The Management of Uterine
Leimyomas. J Obstet Gynaecol Can. 2003; 25 (5): pp. 396-405.
10. AAGL Practice Report: Practice Guideline for the Diagnosis and
Management of Submucous Leimyomas. JMIG. 2012; Vol. 19 No. 2 (3).

41
Lampiran Kunjungan Rumah

42
43