Vous êtes sur la page 1sur 4

LAPORAN PENDAHULUAN

PROGRAM PROFESI NERS PSIK FK UNSRI


Keperawatan Medikal Bedah

A. Definisi
Ulkus kornea adalah hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea.
Ulkus kornea dapat didefinisikan sebagai diskontinuitas jaringan kornea akibat terjadinya defek
epitel (Tanto, dkk., 2014). Ulkus kornea adalah keadaan patologik kornea yang ditandai oleh
adanya infiltrat supuratif disertai defek kornea bergaung, diskontinuitas jaringan kornea dapat
terjadi dari epitel sampai stroma (Fandri, 2013). Ulkus kornea dapat terjadi akibat adanya trauma
oleh benda asing dan dengan air mata atau penyakit yang menyebabkan masuknya bakteri atau
jamur ke dalam kornea sehingga menimbulkan infeksi atau peradangan. Terbentuknya ulkus
kornea diakibatkan oleh adanya kolagenase yang dibentuk oleh sel epitel baru dan sel radang
(Yusi, 2015). Penyebab lain dari ulkus kornea adalah bakteri seperti Pseudomonas dan
Acanthamoeba (biasa berasal dari cairan pencuci lensa kontak), virus seperti varisela zoster dan
herpes simpleks, jamur, hipersensitivitas, devisiensi vit A, obat penurun mekanisme imun
(golongan kortikosteroid), kelainan bulu mata (entropion, trichiasis).

B. Patofisiologi
Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui cahaya, dalam perjalanan
pembentukan bayangan di retina, karena jernih, sebab susunan sel dan seratnya tertentu dan tidak
ada pembuluh darah. Biasan cahaya terutama terjadi di permukaan anterior dari kornea.
Perubahan dalam bentuk dan kejernihan kornea, segera mengganggu pembentukan bayangan
yang baik di retina. Oleh karenanya kelainan sekecil apapun di kornea, dapat menimbulkan
gangguan penglihatan yang hebat terutama bila letaknya di daerah pupil. Karena kornea
avaskuler, maka pertahanan pada waktu peradangan tidak segera datang, seperti pada jaringan
lain yang mengandung banyak vaskularisasi. Maka badan kornea, wandering cell dan sel-sel lain
yang terdapat dalam stroma kornea, segera bekerja sebagai makrofag, baru kemudian disusul
dengan dilatasi pembuluh darah yang terdapat dilimbus dan tampak sebagai infeksi perikornea.
Sesudahnya baru terjadi infiltrasi dari sel-sel mononuclear, sel plasma, polimorfonuklear (PMN),
yang mengakibatkan timbulnya infiltrat, yang tampak sebagai bercak berwarna kelabu, keruh
dengan batas-batas tak jelas dan permukaan tidak licin, kemudian dapat terjadi kerusakan epitel
dan timbullah ulkus kornea. Kornea mempunyai banyak serabut saraf maka kebanyakan lesi pada
kornea baik superfisial maupun profunda dapat menimbulkan rasa sakit dan fotofobia. Rasa sakit
juga diperberat dengan adanaya gesekan palpebra (terutama palbebra superior) pada kornea dan
menetap sampai sembuh. Kontraksi bersifat progresif, regresi iris, yang meradang dapat
menimbulkan fotofobia, sedangkan iritasi yang terjadi pada ujung saraf kornea merupakan
fenomena reflek yang berhubungan dengan timbulnya dilatasi pada pembuluh iris. Penyakit ini
bersifat progresif, regresif atau membentuk jaringan parut. Infiltrat sel leukosit dan limfosit dapat
dilihat pada proses progresif. Ulkus ini menyebar kedua arah yaitu melebar dan mendalam. Jika
ulkus yang timbul kecil dan superficial maka akan lebih cepat sembuh dan daerah infiltrasi ini
menjadi bersih kembali, tetapi jika lesi sampai ke membran Bowman dan sebagian stroma maka
akan terbentuk jaringan ikat baru yang akan menyebabkan terjadinya sikatrik.

C. Data Fokus Pengkajian


a. Wawancara
1. Identitas: tanyakan nama, umur, tanggal lahir, jenis kelamin,
alamat, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan
2. Riwayat penyakit terdahulu: riwayat trauma, riwayat enyakit mata, riwayat alergi,
riwayat DM, hipertensi, cacar, herpes
3. Riwayat penyakit sekarang: KU biasanya mata merah, keloak mata membengkak,
nyeri pada mata, terdapat secret, sakit saat melihat
cahaya
4. Riwayat penyakit keluarga: tanyakan apakah ada yang menderita enyakit mata,
glaucoma
5. Aktivitas dan istirahat: perubahan aktifitas sehubungan dengan gangguan
penglihatan dan gangguan istirahat karena nyeri dan
ketidaknyamanan.
6. Nyeri: timbul gejala ketidak nyamanan ringan, mata berair dan
merak, myeri berat disertai tekanan pada sekitar bola
mata dan menyebabkan sakit kepala
7. Penglihatan/ neurosensory: gejala timbul berupa gangguan penglihatan, sinar terang
menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap tentang
penglihatan perifer dan lakrimasi. Ditandai dengan
kornea keruh, iris, dan pupil tidak kelihatan serta
peningkatan air mata.
8. Keamanan: terjadi trauma karena penurunan penglihatan
9. Penyuluhan/ pembelajaran: Riwayat keluarga glukoma, DM, gangguan sustem
vaskuler, riwayat stress, alergi, ketidak seimbangan
endokrin, terpajan pada radiasi,polusi, steroid.
10. Rencana pemulangan: Memerlukan bantuan tranportasi, penyediaan makanan,
perawatan diri, pemeliharaan rumah.
b. Pemeriksaan Fisik
1. Infeksi
- Kelopak mata
Apakah ada bengkak, benjolan, ekimosis, ekstropion, entropion, pseudoptosis dan
kelainan kelopak mata lainnya.
- Konjungtiva
Apakah warnanya lebih pucat dari warna normalnya merah muda pucat mengkilat.
Apakah ada kerehanan / pus mungkin karena alergi / konjungtivitis
- Sklera.
Apakah ikterik atau unikterik, adanya bekas trauma.
- Iris
Apakah ada ke abnormalan seperti iridis, atropi (pada DM, glaucoma, ishkemi,lansia)
dll
- Kornea
Apakah ada arkus senilis (cincin abu abu dipinggir luar kornea),edema/ keruh
/menebalnya kornea atau adanya ulkus kornea.
- Pupil
Apakah besarnya normal (3-5 mm/ isokor), atau amat kecil (pin point), miosis (< 2
mm), midriasis (>5mm)
- Lensa
Apakah warnanya jernih (normal), atau keruh (katarak)
2. Palpasi
Lakukan palpasi pada mata dan struktur yang berhubungan. Digunakan untuk menentukan
adanya tumor. Nyeri tekan dan keadaan tekanan intraokular (TIO). Mulai dengan palpasi
ringan pada kelopak mata terhadap adanya pembengkakan dan kelemahan. Untuk
memeriksa TIO dengan palpasi, setelah klien duduk dengan enak, klien diminta melihat
ke bawah tanpa menutup matanya. Secara hati-hati pemeriksa menekankan kedua jari
telunjuk dari kedua tangan secara bergantian pada kelopak atas. Cara ini diulangi pada
mata yang sehat dan hasilnya dibandingkan. Kemudian palpasi sakus lakrimalis dengan
menekankan jari telunjuk pada kantus medial. Sambil menekan, observasi pungtum
terhadap adanya regurgitasi material purulen yang abnormal atau airmata berlebihan yang
merupakan indikasi hambatan duktus nasolakrimalis
c. Pemeriksaan Diagnostik
- Kartu mata/ snellen chart (tes ketajaman penglihatan dan sentral penglihatan)
- Pengukuran tonografi non-kontak: mengkaji TIO, normal 15 - 20 mmHg
- Pemeriksaan oftalmoskopi untuk menilai posterior mata
- Pemeriksaan slit-lamp untuk melihat adanya hioion, infiltrate dan segmen anterior
- Pemeriksaan sensibilitas kornea, fluoresens dan tes fistula
- Pemeriksaan Gram, mikroskopis langsung dengan bantuan KOH 10% dan biakan
spesimen kerokan
- Pemeriksaan Darah lengkap, LED
- Pemeriksaan EKG
- Tes toleransi glukosa

D. Analisis

E. Diagnosa Keperawatan

F. Intervensi

G. Daftar Pustaka