Vous êtes sur la page 1sur 23

JURUSAN EKONOMI SYARIAH

FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
1437 H/2016 M
KATA PENGANTAR
Puji syukur selalu terucap atas segala nikmat yang Allah SWT berikan, sehingga penulis

dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Akad-Akad Lainnya. Shalawat serta salam juga

selalu tercurahkan kepada nabi akhir zaman, yakni Nabi Muhammad SAW.

Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada Ibu Desi Susanti selaku dosen pengampu yang

telah memberikan masukan dan dorongan serta ilmu yang bermanfaat bagi kami.

Penulis berusaha agar makalah ini dapat terselesaikan dengan baik dan benar. Namun, tidak

ada yang sempurna karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Untuk itu penulis memohon

maaf yang sebesar-besarnya apabila terdapat banyak kecacatan dalam penulisan dan penyajian

makalah ini. Tentu saja kritik dan saran kami harapkan, agar kami dapat memperbaiki kesalahan-

kesahalan dimasa yang akan datang.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis serta seluruh pembaca.

Pekanbaru, Mei 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................... i


DAFTAR ISI ................................................................................................................. ii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ....................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................ 1
C. Tujuan Penulisan .................................................................................................. 1

BAB II: PEMBAHASAN


A. Akad Sharf .......................................................................................................... 2
B. Akad Wadiah ..................................................................................................... 5
C. Akad Wakalah ..................................................................................................... 9
D. Akad Kafalah .................................................................................................... 13
E. Qardul Hasan ..................................................................................................... 16

BAB III: PENUTUP


A. Kesimpulan ........................................................................................................ 21

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 22


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Transaksi dalam bentuk jasa merupakan akad pelengkap di lembaga keuangan syariah.
Akad-akad berbasis jasa biasanya digunakan untuk memfasilitasi kebutuhan nasabah atau
konsumen akan jasa keuangan yang tidak bisa dilakukan sendiri oleh nasabah atau konsumen itu.
Jasa-jasa pelengkap tersebut antara lain; transfer pembayaran listrik, telpon, air, jasa penukaran
mata uang, jasa gadai, jasa titipan barang, atau uang dan jasa-jasa lainnya. Jasa-jasa tersebut
merupakan sumber pendapatan lembaga keuangan selain kegiatan operasi utama.
Bank syariah adalah lembaga keuangan yang sangat membantu masyarakat. Karena salah
satu produk Bank Syariah bersifat sosial, yaitu al-qardh. Al-Qardh sangat bermanfaat bagi bank
dan terutama bagi nasabah yang tidak mempunyai dana dana dan sangat membutuhkan dana.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka penulis merumuskan masalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana konsep dari akad Sharf, akad Wadiah, akad Wakalah, akad Kafalah dan Qardh
2. Bagaimana perlakuan akuntansi dari akad Sharf, akad Wadiah, akad Wakalah, akad Kafalah dan
Qardh

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalh tersebut, maka tujuan penulisan dari makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Untuk mengetahui dan memahami konsep dari akad Sharf, akad Wadiah, akad Wakalah, akad
Kafalah dan Qardh
2. Untuk mengetahui dan memahami perlakuan akuntansi akad Sharf, akad Wadiah, akad Wakalah,
akad Kafalah dan Qardh
BAB II
PEMBAHASAN
A. Akad Sharf
A.1. Pengertian Akad Sharf
Sharf menurut bahasa adalah penambahan, penukaran ,penghindaran atau transaksi jual beli.
Secara istilah sharf adalah perjanjian jual beli suatu valuta dengan valuta lainnya. Transaksi jual
beli mata uang asing (valuta asing), dapat dilakukan baik dengan sesama mata uang yang sejenis
(misalnya rupiah dengan rupiah) maupun yang tidak sejenis (misalnya rupiah dengan dolar atau
sebaliknya).[1] Pendapat lain mengatakan bahwa Sharf adalah transaksi pertukaran antara emas
dengan perak atau pertukaran valuta asing, dimana mata uang asing dipertukarkan dengan mata
uang domestik atau dengan mata uang asing lainnya.
A.2. Sumber Hukum
1. Al- Quran
Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 275 yang berbunyi:

Artinya: Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (QS. Al
Baqarah:275)
2. Al Hadist
Artinya: jualah emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, syair dengan
syair, kurma dengan kurma , dan garam dengan garam ( dengan syarat harus) sama dan sejenis
serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda ,jualah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.(HR.
Muslim).[2]
Menurut ajaran Islam uang hanya berfungsi sebagai alat tukar menukar dan bukan
merupakan komoditas. Tanpa didayagunakan atau diinvestasikan dengan sumber daya lainnya,
uang tidak dapat menghasilkan pendapatan atau keuntungan dengan dirinya sendiri. Apabila uang
dapat bertambah tanpa didayagunakan , maka tambahan itu adalah riba.
Dengan demikian secara syariah transaksi valuta asing dibolehkan sepanjang dilakukan
secara tunai dan tidak digunakan dengan tujuan spekulasi. Bila penjualannya tunai tapi jika
tujuannya untuk berspekulasi, tetap tidak dibolehkan karena seperti sudah dijelaskan bahwa uang
bukanlah komoditas.
Jika tujuannya untuk tabungan atau keperluan transaksi misalnya ingin pergi haji atau
mempunyai anak yang kuliah di luar negri, boleh saja menyimpan dalam bentuk valas. Sedangkan
transaksi pertukaran valas tidak tunai tidak diperbolehkan dengan alasan apa pun.[3]

A.3. Rukun dan Syarat Akad Sharf


Rukun transaksi sharf terdiri atas:[4]
1) Pelaku, terdiri atas pembeli dan penjual
2) Objek akad berupa mata uang
3) Ijab kabul/ serah terima.
Syarat- syarat akad Sharf adalah sebagai berikut:
a. Pelaku, harus cakap hukum dan baligh
b. Objek akad
1. Nilai tukar atau kurs mata uang telah diketahui oleh kedua belah pihak
2. Valuta yang diperjualbelikan telah dikuasai, baik oleh pembeli maupun oleh penjual, sebelum
keduanya terpisah. Penguasaan bisa berbentuk material maupun hukum.
3. Apabila mata uang atau valuta yang diperjualbelikan itu dari jenis yang sama, maka jual beli mata
uang itu harus dilakukan dengan kuantitas yang sama, sekalipun model dari mata uang itu berbeda.
4. Dalam akad sharf tidak boleh ada hak khiyar syarat bagi pembeli. Hak yang dimaksud khiyar
syarat adalah hak pilih bagi pembeli untuk dapat melanjutkan atau tidak melanjutkan jual beli mata
uang tersebut setelah akadnya selesai dan syarat tersebut di perjanjikan ketika transaksi jual beli
berlangsung. Alasan tidak di perbolehkannya khiyar syarat adalah untuk menghindari adanya
ketidakpastian/ gharar.
5. Dalam akad sharf tidak boleh terdapat tenggang waktu antara penyerahan mata uang yang saling
dipertukarkan, karena sharf dikatakan sah apabila penguasaan objek akad dilakukan secara tunai
atau dalam kurun waktu 2 x 24 jam (harus dilakukan seketika itu juga dan tidak boleh di utang)
dan perbuatan saling menyerahkan itu harus telah berlangsung sebelum kedua belah pihak yang
melakukan jual beli valuta itu berpisah.
c. Ijab kabul: pernyataan dan ekspresi saling ridha di antar pihak-pihak pelaku akad yang dilakukan
secara verbal, tertulis, melalui korespondensi atau menggunakan cara-cara komunikasi modern.

A.4. Cakupan Standar Akuntansi Akad Sharf


Dalam PSAK paragraf 145 tentang pendapatan sharf disebutkan bahwa selisih antar kurs
yang diperjanjikan dalam kontrak dan kurs tunai ( mark to market) pada tanggal penyerahan valuta
di akui sebagai keuntungan/ kerugian pada saat penyerahan/penerimaan dana. Pada paragraf 146
disebutkan bahwa selisih penjabaran aktiva dan kewajiban valuta asing dalam rupiah (revaluasi)
diakui sebagai pendapatan atau beban.[5]
A.5. Perlakuan Akuntansi Akad Sharf
1. Saat membeli valuta asing
Jurnal:
Dr. Kas (Dolar) xxx
Kr. Kas (Rp) xxx
2. Saat di jual
Jurnal:
Dr. Kas (Rp) xxx
Dr. Kerugian* xxx
Kr. Keuntungan** xxx
Kr. Kas (Dolar) xxx
*jika harga beli valas lebih besar dari pada harga jual
**jika harga beli valas lebih kecil dari pada harga jual

Untuk tujuan laporan keuangan di akhir periode, aset moneter (piutang dan utang) dalam
satuan valuta asing akan dijabarkan dalam satuan rupiah dengan menggunakan nilai kurs tengah
Bank Indonesia pada tanggal laporan keuangan. Jurnal penyesuainnya adalah sebagai berikut:
Jika nilai kurs tengah BI lebih kecil dari nilai kurs tanggal transaksi, jurnal pecatatannya:
Dr. Kerugian xxx
Kr. Piutang (valas) xxx
Dr. Utang (valas) xxx
Kr. Keuntungan xxx

Jika nilai kurs tengah BI lebih besar dari nilai kurs tanggal transaksi, jurnal pencatatannya:
Dr. Piutang (valas) xxx
Kr. Keuntungan xxx
Dr. Kerugian xxx
Kr. Utang (valas) xxx

B. Akad Wadiah
B. 1. Pengertian Akad Wadiah
Wadiah merupakan akad penitipan barang atau uang antara pihak yang mempunyai barang
atau uang dan pihak yang diberi kepercayaan dengan tujuan untuk menjaga keselamatan,
keamanan, serta keutuhan barang atau uang. [6]
Menurut Imam Syafii (1999), wadiah merupakan titipan murni dari satu pihak ke
pihak lain, baik individu maupun Badan Hukum yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja
si- penitip menghendaki.
Menurut Bank Indonesia (1999), wadiah adalah akad penitipan barang/uang antara pihak
yang mempunyai barang/uang dengan pihak yang diberi kepercayaan dengan tujuan untuk
menjaga keselamatan, keamanan, serta keutuhan barang/uang.
B.2. Jenis-Jenis Akad Wadiah
a. Wadiah yad Amanah
Merupakan transaksi penitipan barang/uang ketika pihak penerima titipan tidak diperkenankan
menggunakan barang/uang yang dititipkan dan tidak bertanggungjawab atas kerusakan atau
kehilangan barang titipan yang bukan diakibatkan perbuatan atau kelalaian penerima titipan.[7]
b. Wadiah yad Dhamanah
Transaksi penitipan barang/uang ketika pihak penerima titipan dengan atau tanpa seizin
pemilik barang/uang dapat memanfaatkan barang/uang titipan., dan harus bertanggungjawab
terhadap kehilangan atau kerusakan barang/uang titipan. Semua manfaat dan keuntungan yang
diperoleh dalam penggunaan barang/uang tersebut menjadi hak penerima titipan. Produk yang
digunakan dalam akad ini adalah giro Wadiah dan tabungan Wadiah.

B.3. Sumber Hukum Akad Wadiah


1. Al-quran surat An-Nisa 4:58

Artinya:Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak


menerimanya.........
2. As-Sunnah
Artinya:Tunaikanlah amanat itu kepada orang yang memberi amanat kepadamu dan jangan
kamu menghianati orang yang menghianatimu. (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).[8]

B.4. Rukun dan Ketentuan Syariah


Rukun wadiah ada empat, yaitu sebagai berikut:
1. Pelaku yang terdiri atas pemilik barang/pihak yang menitip (muwaddi) dan pihak yang
menyimpan (mustawda).
2. Objek wadiah berupa barang yang dititipkan (wadiah)
3. Ijab kabul/serah terima.
Ketentuan syariah, yaitu sebagai berikut:
1. Pelaku harus cakap hukum, baligh serta mampu menjaga serta memelihara barang titipan.
2. Objek wadiah, benda yang dititipkan tersebut jelas dan diakui spesifikasinya oleh pemilik dan
penyimpan.
3. Ijab kabul/ serah terima, adalah pernyataan dan ekspresi saling ridha/rela diantara pihak-pihak
pelaku akad yang dilakukan secara verbal, tertulis, melalui korespondensi atau menggunakan cara-
cara komunikasi modern.
B.5. Cakupan Standar Akuntansi Akad Wadiah
Dalam PSAK paragraf 137 tentang pengakuan dan pengukuran dana wadiah disebutkan
bahwa dana wadiah diakui sebesar jumlah dan yang dititipkan pada saat terjadinya transaksi.
Penerimaan yang diperoleh atas pengelolaan dana titipan diakui sebagai pendapatan bank dan
bukan merupakan unsur keuntunganyang harus dibagikan. Pada paragraf 138 disebutkan bahwa
pengakuan bonus dalam transaksi wadiah adalah sebagai berikut:[9]
Pemberian bonus kepada nasabah diakui sebagai beban pada saat terjadinya;
Penerimaan bonus dari penempatan dana pada bank syariah lain diakui sebagai pendapatan pada
saat kas diterima; dan
Penerimaan bonus dari penempatan dana syariah pada bank sentral diakui sebagai pendapatan pada
saat kas diterima; dan
Penerimaan bonus dari penempatan dana pada bank non-syariah diakui sebagai pendapatan dana
qardhul hasan pada saat kas diterima.
B.6. Perlakuan Akuntansi Wadiah
Pencatatan akuntansi wadiah bagi pihak pemilik barang dan bagi pihak penyimpan barang
adalah sebagai berikut.[10]
Bagi pihak pemilik barang
1. Pada saat menyerahkan barang (menerima tanda terima penitipan barang) dan membayar biaya
penitipan (menerima tanda terima pembayaran).
Jurnal:
Dr. Beban Wadiah xxx
Cr. Kas xxx
Jika biaya penitipan belum dibayar
Jurnal:
Dr. Beban Wadiah xxx
Cr. Utang xxx

2. Pada saat mengambil barang dan membayar kekurangan biaya penitipan


Jurnal:
Dr. Utang xxx
Cr. Kas xxx

Bagi pihak penyimpan barang


1. Pada saat menerima barang (mengeluarkan tanda terima barang) dan penerimaan pendapatan
penitipan (membuat tanda terima pembayaran)
Jurnal:
Dr. Kas xxx
Cr. Pendapatan Wadiah xxx
2. Jika biaya penitipan belum dibayar
Jurnal:
Dr. Piutang xxx
Cr. Piutang xxx

3. Pada saat menyerahkan barang dan menerima pembayaran kekurangan pendapatan penitipan
(mengeluarkan tanda penyerahan barang)
Jurnal:
Dr. Kas xxx
Cr. Piutang xxx

C. Akad Wakalah
C.1. Pengertian Akad Wakalah
Al Wakalah atau Al Wikalah atau At Tahwidh artinya penyerahan, pendelegasian atau
pemberian mandat.[11] Wakalah adalah pemberian kuasa dari pemberi kuasa (muwakkil) kepada
penerima kuasa (wakil) untuk melaksanakan suatu tugas (taukil) atas nama pemberi kuasa. Dalam
praktik perbankan terjadi apabila nasabah memberikan kuasa kepada bank untuk mewakili dirinya
melakukan pekerjaan jasa tertentu. Akad wakalah adalah pelimpahan kekuasaan oleh satu pihak
(muwakkil) kepada pihak lain (wakil) dalam hal-hal yang boleh di wakilkan.[12]
Dalam fiqih berdasarkan ruang lingkupnya wakalah dibedakan menjadi tiga macam
yaitu:[13]
1. Wakalah al mutlaqah, yaitu mewakilkan secara mutlak, tanpa batasan waktu dan untuk segala
urusan.
2. Wakalah al muqayyadah, yaitu penunjukan wakil untuk bertindak atas namanya dalam urusan-
urusan tertentu.
3. Wakalah al ammah yaitu perwakilan yang lebih luas dari al muqayyadah tetapi lebih sederhana
dari al mutlaqah.

C.2. Sumber Hukum Wakalah


a. Landasan Syariah
1. Al-Quran
Allah berfirman dalam surat Al-Kahfi (18) : 19:

Artinya : Dan demikianlah Kami bangkitkan mereka agar saling bertanya di antara mereka
sendiri. Berkata salah seorang di antra mereka: sudah berapa lamakah kamu berada (disini)?
Mereka menjawab: kita sudah berada (disini) satu atau setengah hari. Berkata (yang lain lagi):
Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lama kami berada disini. Maka suruhlah salah seorang
kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah ia lihat manakah makanan
yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu dan hendaklah ia berlaku
lemah lembut, dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun.
2. As Sunnah

























Artinya: Rasulullah SAW mewakilkan kepada Abu Rafi dan seorang Anshar untuk mengawinkan
(qabul perkawinan Nabi dengan) Maimunah r.a (HR. Malik dalam al-Muwaththa)
3.Ijma
Wakalah dibolehkan bahkan sunnah, karena wakalah termasuk jenis taawun (tolong
menolong) atas dasar kebaikan dan taqwa, beradasarkan Al-Quran dan Hadis.

b. Landasan Hukum Positif


Wakalah sebagai salah satu produk perbankan syariah di bidang jasa telah mendapatkan
dasar hukum dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang
No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan. Dengan di undangkannya Undang-Undang NO. 21 Tahun
2008 tentang Perbankan Syariah, wakalah mendapatkan dasar hukum yang lebih kokoh. Dalam
pasal 19 Undang-Undang Perbankan Syariah disebutkan bahwa kegiatan usaha Bank Umum
Syariah antara lain melakuka fungsi sebagai Wali Amanat berdasarkan Akad Wakalah.

C.3. Rukun dan Syarat Akad Wakalah


Rukun wakalah ada tiga, yaitu:[14]
a. Pelaku, terdiri dari pihak pemberi kuasa( muwakkil) dan pihak yang diberi kuasa ( wakil)
b. Objek akad berupa barang atau jasa
c. Ijab kabul/ serah terima

Syarat bagi pemberi kuasa, yaitu:


1. Pemilik sah yang dapat bertindak terhadap sesuatu yang dapat diwakilkan
2. Orang mukallaf atau anak mumayyiz dalam batas-batas tertentu,yakni dalam hal-hal yang
bermanfaat baginya, seperti mewakilkan untuk menerima hibah, menerima sedekah dan lain
sebagainya.
Syarat bagi pihak yang diberi kuasa, yaitu:
1. Harus cakap hukum
1. Dapat mengerjakan tugas yang diwakilkan kepadanya.
Syarat bagi objek yang dikuasakan (taukil), yaitu:
1. Diketahui dengan jelas oleh orang yang mewakili
2. Tidak bertentangan dengan syariah islam
3. Dapat diwakilkan menurut syariah islam
4. Manfaat barang atau jasa harus bisa dinilai
5. Kontrak dapat dilaksanakan

C.4. Berakhirnya Akad Wakalah


1. Salah seorang pelaku meninggal dunia atau hilang akala, karena jika ini terjadi salah satu syarat
wakalah tidak terpenuhi
2. Pekerjaan yang diwakilkan sudah selesai
3. Pemutusan oleh orang yang mewakilkan
4. Wakil mengundurkan diri
5. Orang yang mewakilkan sudah tidak memiliki status kepemilikan atas suatu yang diwakilkan.

C.5. Cakupan Standar Akuntansi Akad Wakalah


Dalam PSAK paragraf 150 tentang imbalan dari kegiatan Bank Syariah berbasis imbalan
disebutkan bahwa pendapatan dan beban yang berkaitan dengan jangka waktu diakui selama
jangka waktu tersebut. Pendapatan dan beban yang tidak berkaitan dengan jangka waktu diakui
pada saat terjadinya transaksi dalam periode yang bersangkutan.[15]

C.6. Perlakuan Akuntansi Al Wakalah


Bagi pihak yang mewakilkan/wakil/ penerima kuasa
1. Pada saat menerima imbalan tunai (tidak berkaitan dengan jangka waktu).
Jurnal:
Dr. Kas xxx
Kr. Pendapatan wakalah xxx
2. Pada saat membayar beban
Jurnal:
Dr. Beban Wakalah xxx
Kr. Kas xxx
3. Pada saat diterima pendapatan untuk jangka waktu dua tahun di muka
Jurnal:
Dr. Pendapatan wakalah diterima dimuka xxx
Kr. Pendapatan Wakalah xxx
Bagi pihak yang meminta diwakilkan
1. Pada saat membayar ujr / komisi
Jurnal:
Dr. Beban Wakalah xxx
Kr. Kas xxx

D. Akad Kafalah
D.1. Pengertian Akad Kafalah
Kafalah adalah transaksi pemberian jaminan (makful alaih) yang diberikan satu pihak
kepada pihak lain ketika pemberi jaminan (kafiil) bertanggungjawab atas pembayaran kembali
suatu utang yang menjadi hak penerima jaminan (makful).[16] Akad kafalah yaitu perjanjian
pemberian jaminan yang diberika oleh penanggung (kafiil) kepada pihak ketiga (makful lahu)
untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau pihak yang ditanggung (makful anhu/ ashil). Secara
teknis akad kafalah merupakan perjanjian antara seseorang yang memberikan penjaminan
(penjamin) kepada seorang kreditur yang memberikan utang kepada seorang debitur, dimana utang
debitur akan dilunasi oleh penjamin apabila debitur tidak membayar utangnya.[17]
Kafalah bisa atas sesuatu yang bersifat segera, misalnya hutang yang harus segera di lunasi
atau sesuatu di masa depan. Kafalah dapat juga bersyarat, misalnya kalau kamu pinjamkan uang
pada adikku maka akan jamin utangnya.
Kafalah merupakan salah satu jenis akad tabarru yang bertujuan untuk saling tolong
menolong.[18] Namun, penjamin dapat menerima imbalan sepanjang tidak memberatkan. Apabila
ada imbalan maka akad kafalah bersifat mengikat dan tidak dapat dibatalkan secara sepihak.
D.2. Sumber Hukum
1. Al Quran
Allah berfirman dalam surat
Artinya: Dan Dia (Allah) menjadikan Zakaria sebagai penjaminnya (Maryam) (QS [3] :
37)
Allah berfirman dalam surat ayat 72:

Artinya: Dan bagi siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan
(seberat) beban unta dan aku menjamin terhadapnya (QS [12]:72)
2. As Sunnah

Artinya: telah dihadapkan kepada Rasulullah SAW jenazah seorang laki-laki untuk disolatkan
Rasulullah SAW bertanya, Apakah ia mempunyai hutang? Sahabat emnjawab, tidak . maka
beliau mensalatkannya. Kemudian dihadapkan lagi jenazah lain, Rasulullah pun bertanya,
apakah ia mempunyai hutang? sahabat menjawab, Ya Rasulullah berkata, salatkanlah
temanmu itu (beliau sendiri tidak mau mensalatkannya). Lalu Abu Qatadah berkata, Saya
menjamin hutangnya, ya Rasulullah. Maka Rasulullah pun menshalatkan jenazah tersebut. (HR.
Bukhari dari Salamah bin Akwa)

D.3. Rukun dan Ketentuan Syariah


Rukun kafalah ada tiga, yaitu sebagai berikut:
1. Pelaku, yang terdiri atas pihak penjamin, pihak yang berhutang, dan pihak yang berpiutang.
2. Objek akad berupa tanggungan pihak yang berutang berupa barang, jasa, maupun pekerjaan.
3. Ijab kabul atau serah terima.

Ketentuan syariah yaitu sebgai berikut:


1. Pelaku
a. Phak penjamin (kafiil)
1) Baligh (dewasa ) dan berakal sehat
2) Berhak penuh untuk melakukan tindakan hukum dalam urusan hartanya dan rela (ridha) dengan
tanggungan kafalah tersebut.
b. Pihak orang berhutang (ashiil, maful anhu)
1) Sanggup mnyerahkan tanggungannya (hutang) kepada penjamin
2) Dikenal oleh penjamin
c. Pihak orang yang berpiutang (maful lahu)
1) Diketahui identitasnya
2) Dapat hadir pada waktu akad atau memberikan kuasa
3) Berakal sehat
2. Objek penjaminan (maful bihi)
a. Merupakan tanggungan pihak atau orang yang berhutang, baik berupa uang, benda maupun
pekerjaan.
b. Bisa dilaksanakan penjamin
c. Harus merupakan hutang pengikat yang tidak mungkin terhapus kecuali setelah di bayar atau di
bebaskan
d. Harus jelas nilai
e. Tidak bertentangan dengan syariah
3. Ijab kabul, adalah pernyataan dan ekspresi saling ridha atau rela diantara pihak pelaku akad yang
dilakukan secara verbal, tertulis, melalui korepondensi atau menggunakan cara-cara komunikasi
modern.
D.4. Berakhirnya Akad Kafalah
1. Ketika hutang telah diselesaikan, baik oleh orang berhutang atau oleh penjamin atau jika kreditur
menghadiahkan atau membebaskan hutangya kepada orang yang berhutang.
2. Kreditur melepaskan hutangnya kepada orang yang berhutang, tidak ada penjamin. Maka penjamin
juga bebas untuk tidak menjamin hutang tersebut. Namun, jika kreditur melepaskan jaminan dari
penjamin, bukan berarti orang yang berhutang telah terlepas dari hutang tersebut.
3. Ketika hutang tersebut telah dialihkan. Dalam kasus ini baik orang yang terhutang ataupun
penjamin terlepas dari tuntutan hutang tersebut.
4. Ketika penjamin menyelesaikan ke pihak lain melalui proses arbitrase dengan kreditur.
5. Kreditur dapat mengakhiri kontrak kafalah walaupun penjamin tidak menyetujuinya.
D.5. Cakupan Standar Akuntansi Akad Kafalah
Dalam PSAK paragraf 150 tentang imbalan dari kegiatan Bank Syariah berbasis imbalan
disebutkan bahwa pendapatan dan beban yang berkaitan dengan jangka waktu diakui selama
jangka waktu tersebut. Pendapatan dan beban yang tidak berkaitan dengan jangka waktu diakui
pada saat terjadinya transaksi dalam periode yang bersangkutan.[19]
D.6. Perlakuan Akuntansi Al-Kafalah
Bagi Pihak Penjamin
1. Pada saat menerima imbalan (tidak berkaitan dengan jangka waktu)
Jurnal:
Dr. Kas xxx
Kr. Pendapatan Kafalah xxx
2. Pada saat membayar beban
Dr. Beban Kafalah xxx
Kr. Kas xxx
Bagi pihak yang meminta jaminan
1. Pada saat membayar beban
Jurnal:
Dr. Beban Kafalah xxx
Kr. Kas xxx

E. Qhardhul Hasan
E.1. Pengertian Qhardhul Hasan
( potongan). Harta yang dibayarkan kepada muqtarib
Secara etimologi qardh berarti
(yang diajak akad qardh), dinamakan qardh sebab merupakan potongan dari harta muqrid ( orang
yang membayar).[20]
Qhardhul hasan adalah pinjaman tanpa dikenakan biaya ( hanya wajib membayar sebesar
pokok utangnya ), pinjaman uang seperti inilah yang sesuai dengan ketentuan syariah ( tidak ada
riba ), karena kalau meminjamkan uang maka ia tidak boleh meminta pengembalian yang lebih
besar dari pinjaman yang diberikan. Namun si peminjam boleh saja atas kehendaknya sendiri
memberikan kelebihan atas pokok pinjamannya[21].
Pinjaman qardh bertujuan untuk diberikan kepada orang yang membutuhkan atau tidak
memiliki kemampuan finansial, untuk tujuan sosial atau untuk kemanusiaan. Cara pelunasan dan
waktu pelunasan pinjaman ditetapkan bersama antara pemberi dan penerima pinjaman.
Qhard adalah transaksi pinjaman dari bank (Muqridh) kepada pihak tertentu (Muqtaridh)
yang wajib dikembalikan dengan jumlah lama sesuai pinjaman. (Muqridh) dapat meminta jaminan
atas pinjaman kepada (Muqtaridh). Pengembalian pinjaman dapat dilakukan secara angsur atau
sekaligus. [22] Biaya administrasi, dalam jumlah yang terbatas, diperkenankan untuk dibebankan
kepada peminjaman. Jika peminjam mengalami kerugian bukan kelalaiannya maka kerugian
tersebut dapat mengurangi jumlah pinjaman.
Sumber dana pinjaman qhardhul hasan dapat berasal dari internal dan eksternal bank.
Sumber pinjaman qardh eksternal meliputi dana qardh yang diterima dari dan infak, sedekah, dan
sumber non-halal. Sedangkan pinjaman qardh yang berasal dari internal bank adalah ekuitas bank
syariah. Pinjaman qardh sumber dana internal biasanya digunakan untuk bantuan sosial terhadap
pihak yang memiliki hubungan bisnis dengan bank syariah, antara lain pegawai bank syariah
sendiri, nasabah deposito yang butuh uang tetapi tidak dapat mencairkannya, dan nasabah yang
megonversi pinjaman dari konvensional ke syariah. Adapun pinjaman qardh dengan sumber dana
eksternal biasanya digunakan untuk bantuan sosial kepada masyaraakat yang memiliki
keterbatasan ekonomi.[23]

E.2. Sumber Hukum


a) Al-Quran













... ...

Artinya: Dan jika ia (orang yang berhutang itu) dalam kesulitan, berilah tangguh sampai ia
berkelapangan..... (QS. Al-Baqarah [2]: 280
b) As Sunnah





















(






)

Artinya: Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya di dunia, Allah akan
melepaskan kesulitannya di hari kiamat; dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia
(suka) menolong saudaranya (HR. Muslim)

E.3. Rukun dan Ketentuan Syariah


Rukun qhardhul hasan ada 3, yaitu :
Pelaku yang terdiri dari pembeli dan penerima pinjaman
Objek akad, berupa uang yang dipinjamkan
Ijab qabul/ serah terima
Ketentuan syariah, yaitu :
Pelaku, harus cakap hukum dan baliqh
Objek akad
Jelas nilai pinjamannya dan waktu pelunasannya
Peminjam diwajibkan membayar pokok pinjaman pada waktu yang telah disepakati, tidak boleh
diperjanjikan akan ada penambahan atas pokok pinjamannya. Namun peminjam dibolehkan
memberikan sumbangan secara suka rela.
Apabila memang peminjam mengalami kesulitan keuangan maka waktu peminjaman dapat
diperpanjang atau menghapuskan sebagian atau seluruh kewajibannya. Namun jika peminjam lalai
maka dapat dikenakan denda.
Ijab qabul adalah pernyataan dan ekspresi saling ridha/rela diantara pihak-pihak pelaku akad yang
dilakukan secara verbal, tertulis melalui korespondensi atau menggunakan cara-cara komunikasi
modern.
E.4. Cakupan Standar Akuntansi Pinjaman Qardh
Dalam PSAK 59 paragraf 142 dan PAPSI bagian III tentang pinjaman qardh disebutkan
bahwa pinjaman qardh diakui sebesar jumlah yang di pinjamkan pada saat terjadiny. Pengenaan
biaya administrasi di akui sebaga pendapatan operasi lainnya. Sekiranya bank syariah menerima
imbalan yang tidak di persyaratkan sebelumnya, maka imbalan tersebut diakui sebagai pendapatan
operasi lainnya sebesar jumlah yang diterima.[24]

E.5. Perlakuan Akuntansi Qhardhul Hasan


Pelaporan qhardhul hasan disajikan tersendiri dalam laporan sumber dan penggunaan dana
qhardhul hasan karena dana tersebut bukan aset perubahan. Oleh sebab itu, seluruhnya dicatat
dengan akun dana kebajikan dan dibuat buku besar pembantu atas dana kebajikan berdasarkan
jenis dana kebajikan yang diterima atau yang dikeluarkan.
Bagi Pemberi Pinjaman
1. Saat menerima dana sumbangan dari pihak eksternal, jurnal :
Dr. Dana Kebajikan-Kas xxx
Kr. Dana Kebajikan-Infak/sedekah/hasil wakaf xxx

2. Untuk penerimaan dana yang berasal dari denda dan pendapatan nonhalal, yaitu :
Dr. Dana Kebajikan-Kas xxx
Kr. Dana Kebajikan-Denda/pendapatan Non-halal xxx

3. Untuk pengeluaran dalam rangka pengalokasian dana qhardhul hasan, jurnal :


Dr. Dana Kebajikan-Dana Kebajikan Produktif xxx
Kr. Dana Kebajikan-Kas xxx

4. Untuk penerimaan saat pengembalian dari pinjaman untuk qardh hasan, jurnal :
Dr. Dana Kebajikan-Kas xxx
Kr. Dana Kebajikan-Dana Kebajikan Produktif xxx

Bagi Pihak yang Meminjam


1. Saat menerima uang pinjaman, jurnal :
Dr. Kas xxx
Kr. Utang xxx
2. Saat pelunasan, jurnal :
Dr. Utang xxx
Kr. Kas xxx
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Sharf merupakan akad perjanjian jual beli antara satu valuta dengan valuta lainnya. Wadiah
merupakan akad penitipan barang atau uang antara pihak yang mempunyai barang atau uang dan
pihak yang diberi kepercayaan dengan tujuan untuk menjaga keselamatan, keamanan, serta
keutuhan barang atau uang. Akad wakalah adalah pelimpahan kekuasaan oleh satu pihak kepada
pihak lain dalam hal-hal yang boleh di wakilkan. Al kafalah merupakan perjanjian pemberian
jaminan yang diberika oleh penanggung kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak
kedua atau pihak yang ditanggung. Qhard adalah transaksi pinjaman dari bank kepada pihak
tertentu yang wajib dikembalikan dengan jumlah lama sesuai pinjaman dapat meminta jaminan
atas pinjaman kepada.
2. Perlakuan akuntansi akad sharf terdapat pada PSAK 59 paragraf 145 dan 146, perlakuan akad
wadiah terdapata pada PSAK 59 paragraf 137 dan 138, perlakuan akuntandi akad wakalah dan
akad kafalah terdapat pada PSAK 59 paragraf 150 dan perlakuan akuntansi terdapat pada PSAK
59 paragraf 142 dan PAPSI bagian III.
DAFTAR PUSTAKA
Anshori, Abdul Ghofur, Perbankan Syariah di Indonesia, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press,
2009)

DSAK IAI, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan : Akuntansi Perbankan Syariah, (Jakarta: IAI,
2002)
Nurhayati, Sri dan Wasilah, Akuntansi Syariah di Indonesia, Edisi 2 Revisi, (Jakarta: Salemba Empat.
2012)

Nurnasrina, Perbankan Syariah 1, (pekanbaru: Suska Press, 2012)

Sjahdeini, Sutan Reny, Perbankan Islam dan Kedudukannya dalam Tata Hukum Perbankan Indonesia,
(Jakarta:PT. Pustaka Utama Grafiti, 2005)
Syafei, Rachmat, Fiqh Muamalah, (Bandung: Pustaka Setia, 2001), hlm. 151

Yaya, Rizal, dkk, Akuntansi Perbankan Syariah: Teori dan Praktik Kontemporer, (Jakarta: Salemba
Empat, 2012)

[1] Sutan Reny Sjahdeini, Perbankan Islam dan Kedudukannya dalam Tata Hukum Perbankan
Indonesia, (Jakarta:PT. Pustaka Utama Grafiti, 2005), hlm. 87
[2] Sri Nurhayati dan Wasilah, Akuntansi Syariah di Indonesia, Edisi 2 Revisi, (Jakarta: Salemba
Empat. 2012), hlm.244
[3] Ibid, hlm. 246
[4] Ibid, hlm. 247
[5] DSAK IAI, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan : Akuntansi Perbankan Syariah,
(Jakarta: IAI, 2002),hlm. 21
[6] Nurnasrina, Perbangkan Syariah 1 (Pekanbaru: SUSKA PRESS, 2012), hlm. 83
[7] Ibid, hal 84
[8] Sri Nurhayati dan Wasilah, Akuntansi Syariah di Indonesia, Edisi 2 Revisi, (Jakarta: Salemba
Empat. 2012), hlm.249
[9] DSAK IAI, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan : Akuntansi Perbankan Syariah,
(Jakarta: IAI, 2002),hlm. 20
[10] Sri Nurhayati dan Wasilah, Akuntansi Syariah di Indonesia: Edisi 4 (Jakarta: Salemba
Empat, 2015), hlm. 256
[11] Sri Nurhayati dan Wasilah, Akuntansi Syariah di Indonesia, Edisi 2 Revisi, (Jakarta:
Salemba Empat. 2012), hlm.251
[12] Nurnasrina, Perbankan Syariah 1, ( Pekanbaru: SUSKA Press, 2012), hlm. 188
[13] Abdul Ghofur Anshori, Perbankan Syariah di Indonesia, (Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 2009), hlm. 163
[14] Sri Nurhayati dan Wasilah, Akuntansi Syariah di Indonesia, Edisi 2 Revisi, (Jakarta:
Salemba Empat. 2012), hlm.252

[15] DSAK IAI, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan : Akuntansi Perbankan Syariah,
(Jakarta: IAI, 2002),hlm. 22
[16] Nurnasrina, Perbankan Syariah 1, ( Pekanbaru: SUSKA Press, 2012), hlm. 197
[17] Sri Nurhayati dan Wasilah, Akuntansi Syariah di Indonesia, Edisi 2 Revisi, (Jakarta:
Salemba Empat. 2012), hlm.254
[18] Sri Nurhayati dan Wasilah, Akuntansi Syariah di Indonesia, Edisi 4 Revisi, (Jakarta:
Salemba Empat. 2012), hlm.260

[19] DSAK IAI, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan : Akuntansi Perbankan Syariah,
(Jakarta: IAI, 2002),hlm. 22
[20] Rachmat Syafei, Fiqh Muamalah, (Bandung: Pustaka Setia, 2001), hlm. 151
[21] Sri Nurhayati dan Wasilah, Akuntansi Syariah di Indonesia, ( Jakarta: Salemba Empat,. 2012
), hlm. 257
[22] Nurnasrina, Perbankan Syariah 1, (pekanbaru: Suska Press, 2012), hlm. 216
[23] Rizal Yaya, dkk, Akuntansi Perbankan Syariah: Teori dan Praktik Kontemporer, (Jakarta:
Salemba Empat, 2012),hlm. 327
[24] Rizal Yaya, dkk, Akuntansi Perbankan Syariah: Teori dan Praktik Kontemporer, (Jakarta:
Salemba Empat, 2012),hlm. 331