Vous êtes sur la page 1sur 16

1

RENCANA PEMBELAJARAN

Mata Ajar : Praktik Klinik Profesi Ners Keperawatan Anak


Pokok Bahasan : Gangguan Pencernaan
Sub Pokok Bahasan : Diare
Waktu : 1 x 25 menit
Penyelenggara : Desi Wahyuni
Tempat : Ruang Anak RSUD Kec.Mandau

I. STANDAR KOMPETENSI
Setelah mempelajari konsep, orang tua mampu mengenali ciri anak yang terkena
Diare.
II. KOMPETENSI DASAR
Orang tua mampu mengenali ciri anak yang terkena Diare dan cepat tanggap
merujuk ke pelayanan kesehatan.
III. INDIKATOR (KRITERIA PENILAIAN)
1. Orang tua dapat menyebutkan pengertian Diare
2. Orang tua dapat menyebutkan penyebab Diare
3. Orang tua dapat menyebutkan tanda dan gejala Diare
4. Orang tua dapat menyebutkan cara pencegahan Diare
5. Orang tua dapat menyebutkan langkah-langkah pengobatan Diare
IV. GARIS BESAR MATERI
1. Pengertian Diare
2. Penyebab Diare
3. Tanda dan gejala Diare
4. Pencegahan Diare
5. Pengobatan Diare
V. METODE PEMBELAJARAN
1. Ceramah/Penyuluhan
2. Tanya jawab
VI. MEDIA
1. Leaflet
2

VII. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR


KEGIATAN
KEGIATAN PENGAJAR / ALOKASI
TAHAP ORANG TUA
PENYELENGGARA WAKTU
PASIEN
PENDAHULUAN - Mengucapkan salam - Menjawab salam 5 menit
- Menjelaskan pokok - Mendengarkan
bahasan dan sub pokok dengan baik dan
bahasan menanyakan bila
ada yan tidak
dipahami
PENYAJIAN Membagikan Leflet dan - Memperhatikan 15 menit
mulai menjelaskan perihal ; dengan baik
- Pengertian Diare - Bertanya jika
- Penyebab mendapati hal
Bronkopneumonia yang tidak
- Tanda dan gejala Diare dimengerti
- Pencegahan Diare
- Pengobatan Diare
PENUTUP - Mengevaluasi - Menjawab 5 menit
kemampuan orang tua pertanyaan
pasien terhadap materi
yang diberikan
- Meminta orang tua - Orang tua pasien
pasien menyimpulkan menyimpulkan
secara keseluruhan materi yang
materi yang diajarkan disampaikan.
- Mengucapkan salam - Menjawab salam

VIII. EVALUASI
1. Orang tua pasien mampu menyebutkan pengertian Diare
2. Orang tua pasien mampu menyebutkan Penyebab Diare
3. Orang tua pasien mampu menyebutkan Tanda dan gejala Diare
4. Orang tua pasien mampu menyebutkan Pencegahan Diare
5. Orang tua pasien mampu menyebutkan Pengobatan Diare
IX. SUMBER BUKU
NursingBegin.com. (2009). Askep Diare Anak. Diperoleh pada tanggal 19 Maret
2017 dari http://nursingbegin.com/askep-diare-anak/
3

DIARE

A. Latar Belakang

Diare atau dikenal dengan sebutan mencret memang merupakan penyakit yang
masih banyak terjadi pada masa kanak dan bahkan menjadi salah satu penyakit yang
banyak menjadi penyebab kematian anak yang berusia di bawah lima tahun (balita).
Karenanya, kekhawatiran orang tua terhadap penyakit diare adalah hal yang wajar dan
harus dimengerti. Justru yang menjadi masalah adalah apabila ada orang tua yang
bersikap tidak acuh atau kurang waspada terhadap anak yang mengalami diare.
Misalnya, pada sebagian kalangan masyarakat, diare dipercaya atau dianggap sebagai
pertanda bahwa anak akan bertumbuh atau berkembang. Kepercayaan seperti itu
secara tidak sadar dapat mengurangi kewaspadaan orang tua. sehingga mungkin saja
diare akan membahayakan anak. (anaksehat.blogdrive.com).
Menurut data United Nations Childrens Fund (UNICEF) dan World Health
Organization (WHO) pada 2009, diare merupakan penyebab kematian nomor 2 pada
balita di dunia, nomor 3 pada bayi, dan nomor 5 bagi segala umur. Data UNICEF
memberitakan bahwa 1,5 juta anak meninggal dunia setiap tahunnya karena diare
Angka tersebut bahkan masih lebih besar dari korban AIDS, malaria, dan cacar jika
digabung. Sayang, di beberapa negara berkembang, hanya 39 persen penderita
mendapatkan penanganan serius.
Diare disebabkan faktor cuaca, lingkungan, dan makanan. Perubahan iklim, kondisi
lingkungan kotor, dan kurang memerhatikan kebersihan makanan merupakan faktor
utamanya. Penularan diare umumnya melalui 4F, yaitu Food, Fly , Feces, dan Finger.
Oleh karena itu, upaya pencegahan diare yang praktis adalah dengan memutus rantai
penularan tersebut. Sesuai data UNICEF awal Juni 2010, ditemukan salah satu pemicu
diare baru, yaitu bakteri Clostridium difficile yang dapat menyebabkan infeksi
mematikan di saluran pencernaan. Bakteri ini hidup di udara dan dapat dibawa oleh
lalat yang hinggap di makanan. (lifestyle.okezone.com).
B. Pengertian Diare
Pengertian diare menurut Hendarwanto (1999) buang air besar defikasi dengan
tinja berbentuk cairan atau setengah cairan sehingga kandungan air pada tinja lebih
banyak dari keadaan normal, yaitu 100 200 ml sekali. Menurut Ngastiah (1999) diare
adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3
4

kali pada anak dengan konsistensi feces encer, dapat berwama hijau atau bercampur
lendir dan darah. Sedangkan menurut WHO (1980) diare adalah defikasi encer lebih
dari 3 kali sehari tanpa/ dengan daerah/ sendiri didalam tinja.
Jadi diare dapat diartikan suatu kondisi, buang air besar yang tidak normal yaitu
lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer dapat disertai atau tanpa
disertai darah atau lendir sebagai akibat dari terjadinya proses inflamasi pada lambung
atau usus
C. Penyebab Diare
Menurut Haroen N.S, Suraatmaja dan P.O Asnil (1998), ditinjau dari sudut
patofisiologi, penyebab diare akut dapat dibagi dalam dua golongan yaitu:
a. Diare sekresi (secretory diarrhoe), disebabkan oleh:
1. Infeksi virus, kuman-kuman patogen dan apatogen seperti shigella, salmonela,
E. Coli, golongan vibrio, B. Cereus, clostridium perfarings, stapylococus
aureus, comperastaltik usus halus yang disebabkan bahan-bahan kimia makanan
(misalnya keracunan makanan, makanan yang pedas, terlalau asam), gangguan
psikis (ketakutan, gugup), gangguan saraf, hawa dingin, alergi dan sebagainya.
2. Defisiensi imum terutama SIGA (secretory imonol bulin A) yang
mengakibatkan terjadinya berlipat gandanya bakteri/flata usus dan jamur
terutama canalida.
b. Diare osmotik (osmotik diarrhoea) disebabkan oleh:
1. Malabsorpsi makanan: karbohidrat, lemak (LCT), protein, vitamin dan mineral.
2. Kurang kalori protein.
3. Bayi berat badan lahir rendah dan bayi baru lahir.
Sedangkan menurut Ngastiyah (1997), penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa
faktor yaitu:
a. Faktor infeksi
1. Infeksi enteral
Merupakan penyebab utama diare pada anak, yang meliputi: infeksi bakteri,
infeksi virus (enteovirus, polimyelitis, virus echo coxsackie). Adeno virus, rota
virus, astrovirus, dll) dan infeksi parasit : cacing (ascaris, trichuris, oxyuris,
strongxloides) protozoa (entamoeba histolytica, giardia lamblia, trichomonas
homunis) jamur (canida albicous).
5

2. Infeksi parenteral ialah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti otitis
media akut (OMA) tonsilitis/tonsilofaringits, bronkopeneumonia, ensefalitis
dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur
dibawah dua (2) tahun.
b. Faktor malaborsi; Malaborsi karbohidrat, lemak dan protein.
c. Faktor makanan
d. Faktor psikologis
D. Manifistasi Klinis
Mula-mula anak cengeng, gelisah, suhu tubuh naik, nafsu makan berkurang
kemudian timbul diare. Tinja mungkin disertai lendir dan darah. Warna tinja makin
lama berubah kehijauan karena bercampur dengan empedu, daerah anus dan
sekitarnya timbul luka lecet karena sering defikasi dan tinja yang asam akibat laktosa
yang tidak diabsorbsi usus selama diare. Gejala muntah dapat timbul sebelum atau
selama diare dan dapat disebabkan karena lambung turut meradang atau akibat
gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. Bila kehilangan cairan terus
berlangsung tanpa pergantian yang memadai gejala dehidrasi mulai tampak yaitu : BB
turun, turgor kulit berkurang, mata dan ubun-ubun cekung (bayi), selaput lendir bibir
dan mulut, serta kulit kering.
Bila berdasarkan terus berlanjut, akan terjadi renjatan hypovolemik dengan gejala
takikardi, denyut jantung menjadi cepat, nadi lemah dan tidak teraba, tekanan daran
turun, pasien tampak lemah dan kesadaran menurun, karena kurang cairan, deuresis
berkurang (oliguria-anuria). Bila terjadi asidosis metabolik pasien akan tampak pucat,
nafas cepat dan dalam (pemafasan kusmaul).
E. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan tinja.
b. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah astrup, bila
memungkinkan dengan menentukan PH keseimbangan analisa gas darah atau
astrup, bila memungkinkan.
c. Pemeriksaan kadar ureum dan creatinin untuk mengetahui fungsi ginjal.
d. Pemeriksaan elektrolit intubasi duodenum untuk mengetahui jasad renik atau
parasit secara kuantitatif, terutama dilakukan pada klien diare kronik.
6

F. Penatalaksanaan
Penanggulangan kekurangan cairan merupakan tindakan pertama dalam mengatasi
pasien diare. Hal sederhana seperti meminumkan banyak air putih atau oral rehidration
solution (ORS) seperti oralit harus cepat dilakukan. Pemberian ini segera apabila
gejala diare sudah mulai timbul dan kita dapat melakukannya sendiri di rumah.
Kesalahan yang sering terjadi adalah pemberian ORS baru dilakukan setelah gejala
dehidrasi nampak.
Pada penderita diare yang disertai muntah, pemberian larutan elektrolit secara
intravena merupakan pilihan utama untuk mengganti cairan tubuh, atau dengan kata
lain perlu diinfus. Masalah dapat timbul karena ada sebagian masyarakat yang enggan
untuk merawat-inapkan penderita, dengan berbagai alasan, mulai dari biaya, kesulitam
dalam menjaga, takut bertambah parah setelah masuk rumah sakit, dan lain-lain.
Pertimbangan yang banyak ini menyebabkan respon time untuk mengatasi masalah
diare semakin lama, dan semakin cepat penurunan kondisi pasien kearah yang fatal.
Diare karena virus biasanya tidak memerlukan pengobatan lain selain ORS.
Apabila kondisi stabil, maka pasien dapat sembuh sebab infeksi virus penyebab diare
dapat diatasi sendiri oleh tubuh (self-limited disease).
Diare karena infeksi bakteri dan parasit seperti Salmonella sp, Giardia lamblia,
Entamoeba coli perlu mendapatkan terapi antibiotik yang rasional, artinya antibiotik
yang diberikan dapat membasmi kuman.
Oleh karena penyebab diare terbanyak adalah virus yang tidak memerlukan
antibiotik, maka pengenalan gejala dan pemeriksaan laboratorius perlu dilakukan
untuk menentukan penyebab pasti. Pada kasus diare akut dan parah, pengobatan
suportif didahulukan dan terkadang tidak membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut kalau
kondisi sudah membaik.
G. Komplikasi
Menurut Broyles (1997) komplikasi diare ialah: dehidrasi, hipokalemia,
hipokalsemia, disritmia jantung (yang disebabkan oleh hipokalemia dan
hipokalsemia), hiponatremia, dan shock hipovolemik.
7

H. Pathways Diare

Mekanisme dasar yang menyebabkan timbul diare :


a. Gangguan osmotik
Adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan
osmotik dalam lumen usus naik sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit
8

kedalam lumen usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus
untuk mengeluarkannya sehingga timbulah diare.
b. Gangguan sekresi
Akibat-rangsangan-tertentu-(toksin)..pada dinding usus akan terjadi peningkatan
sekresi air dan elektrolit kedalam lumen usus dan selanjutnya timbul diare karena
kenaikan isi lumen usus.
c. Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk
menyerap makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus
menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya dapat
timbul diare pula.
Sebagai akibat diare akan terjadi:
a. Kehilangan air dan elektrolit (terjadi dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan
keseimbangan asam basa (asidosis metabolik, hipokalemia)
b. Gangguan gizi
Selama sakit sering terjadi gangguan gizi dengan akibat penurunan berat badan
dalam waktu yang singkat oleh karena:
1. Makanan sering dihentikan oleh orangtua karena takut diare/muntah
bertambah hebat
2. Orang tua hanya memberikan air teh saja
3. Walaupun susu diteruskan sering diencerkan dalam waktu yang lama
4. Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorpsi dengan
baik karena adanya hiperperistaltik
c. Hipoglikemia
1. 2-3 % dari anak-anak diare
2. Jarang terjadi pada anak dengan gizi baik namun sering terjadi pada anak
dengan KKP (Kurang Kalori Protein)
3. Hipoglikemi terjadi karena penyimpanan / persediaan glikogen dalam hati
terganggu dan kadang disebabkan adanya gangguan absorpsi glukosa
4. Gangguan sirkulasi darah
Akibat diare dengan/tanpa muntah-muntah dapat terjadi gangguan
sirkulasi darah berupa syok hipovolemik. Hal ini menyebabkan perfusi
jaringan berkurang dan dapat menyebabkan hipoksi.
9

I. Komplikasi
a. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik/ hipertonik)
b. Renjatan hipovolemik
c. Hipokalemia/ dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah,
takikardia,perubahan EKG
d. Hipoglikemia
e. Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim
laktosa
f. Kejang, pada dehidrasi hipertonik
g. Malnutrisi energi protein (muntah dan mual bila lama/ kronik)
J. Pengkajian (Anak Usia 3 Tahun)
Keluhan Utama : Buang air berkali-kali dengan konsistensi encer
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada umumnya anak masuk Rumah Sakit dengan keluhan buang air cair berkali-
kali baik disertai atau tanpa dengan muntah, tinja dpat bercampur lendir dan atau
darah, keluhan lain yang mungkin didapatkan adalah napsu makan menurun, suhu
badan meningkat, volume diuresis menurun dan gejala penurunan kesadaran
b. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Meliputi pengkajian riwayat :
K. Askep pada Anak Diare
a. Prenatal
Kehamilan yang keberapa, tanggal lahir, gestasi (fulterm, prematur, post matur),
abortus atau lahir hidup, kesehatan selama sebelumnya/kehamilan, dan obat-obat
yang dimakan serta imunisasi.
b. Natal
Lamanya proses persalinan, tempat melahirkan, obat-obatan, orang yang
menolong persalinan, penyulit persalinan.
c. Post natal
Berat badan nomal 2,5 Kg 4 Kg, Panjang Badan normal 49 -52 cm, kondisi
kesehatan baik, apgar score , ada atau tidak ada kelainan kongenital
d. Feeding
Air susu ibu atau formula, umur disapih (2 tahun), jadwal makan/jumlahnya,
pengenalan makanan lunak pada usia 4-6 bulan, peubahan berat-badan, masalah-
10

masalah feeding (vomiting, colic, diare), dan penggunaan vitamin dan mineral
atau suplemen lain.
e. Penyakit sebelumnya
Penyebabnya, gejala-gejalanya, perjalanan penyakit, penyembuhan, kompliksi,
insiden penyakit dalam keluarga atau masyarakat, respon emosi terhadap rawat
inap sebelumnya.
f. Alergi
Apakah pernah menderita hay fever, asthma, eksim. Obat-obatan, binatang,
tumbuh-tumbuhan, debu rumah.
g. Obat-obat terakhir yang didapat
Nama, dosis, jadwal, lamanya, alasan pemberian.
h. Imunisasi
Polio, hepatitis, BCG, DPT, campak, sudah lengkap pada usia 3 tahun, reaksi
yang terjadi adalah biasanya demam, pemberian serum-serum lain, gamma
globulin/transfusi, pemberian tubrkulin test dan reaksinya.
i. Tumbuh Kembang
Berat waktu lahir 2, 5 Kg 4 Kg. Berat badan bertambah 150 200 gr/minggu,
TB bertambah 2,5 cm / bulan, kenaikan ini terjadi sampai 6 bulan. Gigi mulai
tumbuh pada usia 6-7 bulan, mulai duduk sendiri pada usia 8-9 bulan, dan bisa
berdiri dan berjalan pada usia 10-12 bulan.
L. Riwayat
a. Riwayat Psikososial
Anak sangat menyukai mainannya, anak sangat bergantung kepada kedua orang
tuanya dan sangat histeris jika dipisahkan dengan orang tuanya. Usia 3 tahun
(toddlers) sudah belajar bermain dengan teman sebaya.
b. Riwayat Spiritual
Anak sudah mengenal beberapa hal yang bersifat ritual misalnya berdoa.
M. Reaksi Hospitalisasi
a. Kecemasan akan perpisahan : kehilangan interaksi dari keluarga dan lingkungan
yang dikenal, perasaan tidak aman, cemas dan sedih
b. Perubahan pola kegiatan rutin
c. Terbatasnya kemampuan untuk berkomunikasi
d. Kehilangan otonomi
11

e. Takut keutuhan tubuh


f. Penurunan mobilitas seperti kesempatan untuk mempelajari dunianya dan
terbatasnya kesempatan untuk melaksanakan kesenangannya
N. Aktivitas Sehari-Hari
a. Kebutuhan cairan pada usia 3 tahun adalah 110-120 ml/kg/hari
b. Output cairan :
1) IWL (Insensible Water Loss)
a) Anak : 30 cc / Kg BB / 24 jam
b) Suhu tubuh meningkat : 10 cc / Kg BB + 200 cc (suhu tubuh 36,8 oC)
2) SWL (Sensible Water Loss) adalah hilangnya cairan yang dapat diamati,
misalnya berupa kencing dan faeces. Yaitu :
a) Urine : 1 2 cc / Kg BB / 24 jam
b) Faeces : 100 200 cc / 24 jam
c) Pada usia 3 tahun sudah diajarkan toilet training.
O. Pemeriksaan Fisik
a. Tanda-tanda vital
Suhu badan : mengalami peningkatan
Nadi : cepat dan lemah
Pernafasan : frekuensi nafas meningkat
Tekanan darah : menurun
b. Antropometri
Pemeriksaan antropometri meliputi berat badan, Tinggi badan, Lingkaran kepala,
lingkar lengan, dan lingkar perut. Pada anak dengan diare mengalami penurunan
berat badan.
c. Pernafasan
Biasanya pernapasan agak cepat, bentuk dada normal, dan tidak ditemukan bunyi
nafas tambahan.
d. Cardiovasculer
Biasanya tidak ditemukan adanya kelainan, denyut nadi cepat dan lemah.
e. Pencernaan
Ditemukan gejala mual dan muntah, mukosa bibir dan mulut kering, peristaltik usus
meningkat, anoreksia, BAB lebih 3 x dengan konsistensi encer
12

f. Perkemihan
Volume diuresis menurun.
g. Muskuloskeletal
Kelemahan fisik akibat output yang berlebihan.
h. Integumen
lecet pada sekitar anus, kulit teraba hangat, turgor kulit jelek
i. Endokrin
Tidak ditemukan adanya kelaianan.
j. Penginderaan
Mata cekung, Hidung, telinga tidak ada kelainan
k. Reproduksi
Tidak mengalami kelainan.
l. Neorologis
Dapat terjadi penurunan kesadaran.
P. Pemeriksaan Tingkat Perkembangan
a. Motorik Kasar
Sudah bisa naik/turun tangga tanpa dibantu, mamakai baju dengan bantuan, mulai
bisa bersepeda roda tiga.
b. Motorik Halus
Menggambat lingkaran, mencuci tangan sendiri dan menggosok gigi
c. Personal Sosial
Sudah belajar bermain dengan teman sebayanya.
Q. Diagnosa Keperawatan
a. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah
serta intake terbatas (mual).
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d gangguan absorbsi nutrien dan
peningkatan peristaltik usus.
c. Nyeri (akut) b.d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.
d. Kecemasan keluarga b.d perubahan status kesehatan anaknya
e. Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b.d
pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan
kognitif.
f. Kecemasan anak b.d perpisahan dengan orang tua, lingkungan yang baru
13

R. Rencana Keperawatan
Dx.1 Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah
serta intake terbatas (mual)
Tujuan : Kebutuhan cairan akan terpenuhi dengan kriteria tidak ada tanda-tanda
dehidrasi
Intervensi Rasional
Berikan cairan oral dan Sebagai upaya rehidrasi untuk
parenteral sesuai dengan mengganti cairan yang keluar bersama
program rehidrasiPantau intake feses.Memberikan informasi status
dan output. keseimbangan cairan untuk menetapkan
kebutuhan cairan pengganti.
Kaji tanda vital, tanda/gejala Menilai status hidrasi, elektrolit dan
dehidrasi dan hasil pemeriksaan keseimbangan asam basa
laboratorium
Kolaborasi pelaksanaan terapi Pemberian obat-obatan secara kausal
definitif penting setelah penyebab diare
diketahui

Dx.2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrien
dan peningkatan peristaltik usus.

Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan kriteria terjadi peningkatan bera badan
Intervensi Rasional
Pertahankan tirah baring dan Menurunkan kebutuhan metabolik
pembatasan aktivitas selama
fase akut.
Pembatasan diet per oral mungkin
Pertahankan status puasa selama
ditetapkan selama fase akut untuk
fase akut (sesuai program
menurunkan peristaltik sehingga terjadi
terapi) dan segera mulai
kekurangan nutrisi. Pemberian
pemberian makanan per oral
makanan sesegera mungkin penting
setelah kondisi klien
setelah keadaan klinis klien
mengizinkan
memungkinkan.
Bantu pelaksanaan pemberian Memenuhi kebutuhan nutrisi klien
makanan sesuai dengan program
diet
Kolaborasi pemberian nutrisi Mengistirahatkan kerja gastrointestinal
parenteral sesuai indikasi dan mengatasi/mencegah kekurangan
nutrisi lebih lanjut

Dx.3 : Nyeri (akut) b/d hiperperistaltik, iritasi fisura perirektal.


Tujuan : Nyeri berkurang dengan kriteria tidak terdapat lecet pada perirektal
14

Intervensi Rasional
Atur posisi yang nyaman bagi Menurunkan tegangan permukaan
klien, misalnya dengan lutut abdomen dan mengurangi nyeri
fleksi.
Lakukan aktivitas pengalihan Meningkatkan relaksasi, mengalihkan
untuk memberikan rasa nyaman fokus perhatian kliendan meningkatkan
seperti masase punggung dan kemampuan koping
kompres hangat abdomen
Bersihkan area anorektal dengan Melindungi kulit dari keasaman feses,
sabun ringan dan airsetelah mencegah iritasi
defekasi dan berikan perawatan
kulit
Analgetik sebagai agen anti nyeri dan
Kolaborasi pemberian obat
antikolinergik untuk menurunkan
analgetika dan atau
spasme traktus GI dapat diberikan
antikolinergik sesuai indikasi
sesuai indikasi klinis
Kaji keluhan nyeri dengan Mengevaluasi perkembangan nyeri
Visual Analog Scale (skala 1-5), untuk menetapkan intervensi
perubahan karakteristik nyeri, selanjutnya
petunjuk verbal dan non verbal

Dx.4 : Kecemasan keluarga b/d perubahan status kesehatan anaknya.


Tujuan : Keluarga mengungkapkan kecemasan berkurang.
Intervensi Rasional
Dorong keluarga klien untuk Membantu mengidentifikasi penyebab
membicarakan kecemasan dan kecemasan dan alternatif pemecahan
berikan umpan balik tentang masalah
mekanisme koping yang tepat.
Tekankan bahwa kecemasan Membantu menurunkan stres dengan
adalah masalah yang umum mengetahui bahwa klien bukan satu-
terjadi pada orang tua klien satunya orang yang mengalami masalah
yang anaknya mengalami yang demikian
masalah yang sama
Ciptakan lingkungan yang Mengurangi rangsang eksternal yang
tenang, tunjukkan sikap ramah dapat memicu peningkatan kecemasan
tamah dan tulus dalam
membantu klien.

Dx.5 : Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi
b/d pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan
kognitif.
Tujuan : Keluarga akan mengerti tentang penyakit dan pengobatan anaknya, serta
mampu mendemonstrasikan perawatan anak di rumah.
15

Intervensi Rasional
Kaji kesiapan keluarga klien Efektivitas pembelajaran dipengaruhi
mengikuti pembelajaran, oleh kesiapan fisik dan mental serta
termasuk pengetahuan tentang latar belakang pengetahuan
penyakit dan perawatan sebelumnya.
anaknya.
Jelaskan tentang proses penyakit Pemahaman tentang masalah ini
anaknya, penyebab dan penting untuk meningkatkan partisipasi
akibatnya terhadap gangguan keluarga klien dan keluarga dalam
pemenuhan kebutuhan sehari- proses perawatan klien
hari aktivitas sehari-hari.
Jelaskan tentang tujuan Meningkatkan pemahaman dan
pemberian obat, dosis, frekuensi partisipasi keluarga klien dalam
dan cara pemberian serta efek pengobatan.
samping yang mungkin timbul
Jelaskan dan tunjukkan cara Meningkatkan kemandirian dan kontrol
perawatan perineal setelah keluarga klien terhadap kebutuhan
defekasi perawatan diri anaknya

Dx. 6 : Kecemasan anak b.d Perpisahan dengan orang tua, lingkugan yang baru
Tujuan : Kecemasan anak berkurang dengan kriteria memperlihatkan tanda-tanda
kenyamanan
Intervensi Rasional
Anjurkan pada keluarga untuk Mencegah stres yang berhubungan
selalu mengunjungi klien dan dengan perpisahan
berpartisipasi dalam perawatn
yang dilakukan
Berikan sentuhan dan berbicara Memberikan rasa nyaman dan
pada anak sesering mungkin mengurangi stress
Lakukan stimulasi sensory atau Meningkatkan pertumbuhan dan
terapi bermain sesuai dengan perkembangan secara optimun
ingkat perkembangan klien

S. Implementasi
Melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana tindakan yang telah
direncanakan sebelumnya
16

Terima Kasih