Vous êtes sur la page 1sur 9

LAPORAN PENDAHULUAN

WAHAM

A. Pengertian dan Jenis


1. Definisi
Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian
realitas yang salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat
intelektual dan latar belakang budaya klien. Waham dipengaruhi oleh
faktor pertumbuhan dan perkembangan seperti adanya penolakan,
kekerasan, tidak ada kasih sayang, pertengkaran orang tua dan aniaya
(1).
Waham dikatakan sebagai kenyakinan tentang suatu isi pikiran yang
tidak sesuai dengan kenyataan atau tidak cocok dengan intelegensi dan
latar belakang budaya, biarpun dibuktikan kemustahilanya (2).
2. Jenis-jenis waham
Waham dapat diklasifikasikan menjadi 8 macam (3):
a. Waham agama yaitu keyakinan klien
terhadap suatu agama secara berlebihan
b. Waham kebesaran yaitu keyakinan klien
yang berlebihan tentang kebesaran dirinya atau kekuasaannya
c. Waham somatik adalah keyakinan klien
yang berlebihan tentang ada bagian tubuhnya terganggu, terserang
penyakit atau didalam tubuhnya terdapat binatang
d. Waham curiga adalah keyakinan klien
yang berlebihan bahwa ada orang atau kelompok orang yang sedang
mengancam dirinya
e. Waham nihilistic adalah keyakinan klien
yang berlebihan bahwa dirinya sudah tidak ada lagi di dunia atau
sudah meninggal dunia
f. Waham sisip pikir adalah keyakinan klien
yang berlebihan bahwa ada pikiran orang lain yang
disisipkan/dimasukkan kedalam pikirannya
g. Waham siar pikir adalah keyakinan klien
yang berlebihan bahwa orang lain mengetahui isi pikirannya, padahal
dia tidak pernah menyatakan pikirannya kepada orang tersebut
h. Waham kontrol pikir adalah keyakinan
klien secara berlebihan bahwa pikirannya dikontrol oleh kekuatan
dari luar

B. Penyebab/Etiologi
1. Faktor predisposisi
Salah satu penyebab dari perubahan proses pikir : waham yaitu
Gangguan konsep diri : harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian
individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh
perilaku sesuai dengan ideal diri. Harga diri rendah merupakan perasaan
negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, dan merasa gagal
mencapai keinginan.
Tanda dan Gejala harga diri rendah yaitu :
Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan
terhadap penyakit (rambut botak karena terapi)
Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri
sendiri)
Gangguan hubungan sosial (menarik diri)
Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan)
Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan
yang suram, mungkin klien akan mengakiri kehidupannya (1).

2. Faktor presipitasi
Klien dengan waham dapat berakibat terjadinya resiko tinggi
mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Resiko tinggi mencederai
diri, orang lain dan lingkungan merupakan suatu tindakan yang
kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri, orang lain dan
lingkungan.
Klien dengan waham dapat berakibat terjadinya kerusakan
komunikasi verbal yang ditandai dengan pikiran tidak realistik,
kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak
mata yang kurang.
Tanda dan Gejala mencederai diri, orang lain dan lingkungan yaitu :
Memperlihatkan permusuhan
Mendekati orang lain dengan ancaman
Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai
Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan
Mempunyai rencana untuk melukai

C. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinik waham yaitu berupa (6):
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama,
kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya berulang kali secara berlebihan
tetapi tidak sesuai kenyataan
Klien tampak tidak mempunyai orang lain
Curiga
Bermusuhan
Merusak (diri, orang lain, lingkungan)
Takut, sangat waspada
Tidak tepat menilai lingkungan/ realitas
Ekspresi wajah tegang
Mudah tersinggung
D. Pathways

Resiko mencederai diri, orang


Kerusakan komunikasi verbal lain dan lingkungan

Perubahan proses
pikir: waham Core problem

Gangguan konsep diri : harga diri rendah

Masalah keperawatan :
a. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan
b. Kerusakan komunikasi : verbal
c. Perubahan isi pikir : waham
d. Gangguan konsep diri : harga diri rendah

E. Pengkajian Fokus
1. Data yang dikaji
a. Resiko menciderai diri, orang lain, dan lingkungan
1) Data subyektif
Klien mengatakan marah dan jengkel kepada orang lain, ingin
membunuh, ingin membakar atau mengacak-acak
lingkungannya.
2) Data obyektif
Klien mengamuk, merusak dan melempar barang-barang,
melakukan tindakan kekerasan pada orang-orang disekitarnya.
b. Kerusakan komunikasi : verbal
1)Data subjektif
Klien mengungkapkan sesuatu yang tidak realistik
2)Data objektif
Flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang
didengar dan kontak mata kurang
c. Perubahan proses pikir : waham
1)Data subjektif
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama,
kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara
berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan.
2)Data objektif
Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan,
merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik,
sangat waspada, tidak tepat menilai lingkungan/realitas, ekspresi
wajah klien tegang, mudah tersinggung.
d. Gangguan konsep diri : harga diri rendah.
1)Data subjektif
Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-
apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan
malu terhadap diri sendiri
2)Data objektif
Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih
alternative tindakan, ingin mencedaerai diri/ ingin mengakhiri
hidup

F. Diagnosa Keperawatan
Perubahan proses pikir : waham

G. Intervensi Keperawatan
Diagnosa : Perubahan proses pikir : waham
a. Tujuan umum :
Klien dapat mengontrol wahamnya.
b. Tujuan khusus :
Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan
perawat
Klien dapat mengidentifikasi perasaan yang muncul secara
berulang dalam pikiran klien
Klien dapat mengidentifikasi stressor/ pencetus waham
Klien dapat mengidentifikasi waham
Klien dapat mengidentifikasi konsekuensi dari waham
Klien dapat melakukan teknik distraksi sebagai cara
menghentikan pikiran yang terpusat pada wahamnya
Klien dapat dukungan keluarga
Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik
c. Intervensi :
1. Bina hubungan saling percaya :
Salam terapeutik
Perkenalkan diri
Jelaskan tujuan interaksi
Yakinkan klien dalam keadaan aman dan perawat siap
menolong dan mendampingi
Yakinkan bahwa kerahasiaan klien akan terjaga
Tunjukkan sikap terbuka
Beri bantuan memenuhi ADL
2. Bantu klien untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya
Diskusikan dengan klien pengalaman yang di alami ini
termasuk hubungan dengan orang yang berarti, lingkungan
kerja, sekolah
Dengarkan pernyataan klien dengan empati tanpa
mendukung/menentang pernyataan wahamnya.
Katakan perawat dapat memahami apa yang diceritakan klien
3. Bantu klien untuk mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi
dan kejadian yang menjadi stressor wahamnya
Diskusikan dengan klien kejadian yang traumatuk yang
membuat takut, perasaan tidak dihargai
Diskusikan dengan klien harapan yang belum terpenuhi
Diskusikan dengan klien cara mengatasi harapan yang belum
terpenuhi dan kejadian traumatis
Diskusikan dengan klien apakah ada halusinasi yang
meningkatkan pikiran terkait dengan wahamnya
Diskusikan dengan klien antarakejadian-kejadian halusinasi
dengan wahamnya
4. Bantu klien untuk mengidentifikasi kenyakinan yang salah tentang
situasi yang nyata
Diskusikan dengan klien pengalaman wahamnya
Katakan perawat ragu dengan pernyataan klien
Diskusikan dengan klien respon perasaan terhadap
wahamnya
Diskusikan frekuensi, intensitas dan durasi terjadinya waham
Bantu klienmembedakan situasi nyata dengan situasi yang
dipersepsikan oleh klien
5. Bantu klien mengidentifikasi konsekuensi dari waham
Diskusikan dengan klien pengalaman yang tidak
menguntungkan akibat wahamnya
Ajak klien melihat bahwa waham adalah masalah yang
membutuhkan bantuan orang lain
Diskusikan dengan klien tempat minta bantuan saat wahamnya
muncul
6. Bantu klien melakukan teknik distraksi sebagai cara menghentikan
pikiran yang terpusat pada wahamnya
Diskusikan dengan klien hobby yang di sukai
Anjurkan klien memilih aktivitas yang membutuhkan perhatian
dan ketrampilan
Libatkan dalam TAK orientasi realita
Bicara topik-topik nyata
Anjurkan klien bertanggung jawab terhadap kesehatannya
Beri penghargaan bagi upaya pasien yang positif
7. Klien dapat dukungan keluarga
Diskusikan dengan klien pentingnya keluarga
Diskusikan potensi keluarga untuk mengatasi waham
Penkes pada keluarga tentang waham
Beri pujian pada keluarga atas keterlibatan ikut merawat klien
di RS
8. Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik
Diskusikan dengan klien tentang nama obat, dosis, frekuensi,
efek dan efek samping minum obat.
Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama
pasien, obat, dosis, cara dan waktu).
Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang
dirasakan.
Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar

H. Daftar Pustaka
1. Keliat BA. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC. 1999
2. Maramis WF. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga
University press. 2004
3. Rasmun. Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi dengan
Keluarga. Cetakan I. Jakarta: PT. Fajar Interpratama. 2001
4. Towsend. Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan
Psikiatri (ed. Indonesia). Jakarta: EGC. 1998
5. Stuart GW, Sundeen. Buku Saku Keperawatan Jiwa (ed. Indonesia).
Jakarta: EGC. 1998
6. Aziz R, dkk. Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang. RSJD Dr.
Amino Gonohutomo. 2003
7. Darsana W. Asuhan Keperawatan Pasien dengan Waham. 2009.Diakses
pada tanggal 21 agustus 2009 dari
http://darsananursejiwa.blogspot.com/2009/03/asuhan-keperawatan-
pasien-dengan-waham.html

Semarang, 7 September 2009

Mengetahui,
Pembimbing Klinik, Praktikan,

Oktavianus, S.Kep
NIM. G6B009032

Pembimbing Akademik,

______________________