Vous êtes sur la page 1sur 4

Patologi

Akibat beredarnya cacing dewasa di dalam usus dan beredarnya larva cacing di dalam
darah, akan terjadi perubahan patologis pada jaringan dan organ penderita. Larva cacing yang
ada di paru-paru dapat menimpulkan pneumonia pada penderita dengan gejala klinis berupa
demam, sesak dan dahak yang berdarah. Selain itu penderita juga mengalami urtikaria desertai
terjadinya eosinofil sampai 20% pada gambaran darah tepi. Terjadinya pneumonia yang disertai
dengan gejala alergi ini disebut sebagai Sindrom Loeffler atau Ascaris pneumonia (Soedarto,
2016).

Jika terjadi infeksi askariasi yang berat (hiperinfeksi), terutama pada anak-anak dapat
terjadi gangguan pencernaan dan penyerapan protein sehingga akan mengalami gangguan
pertumbuhan dan anemia akibat kurang gizi. Cacing askariasis juga dapat mengeluarkan cairan
toksik yang dapat menimbulkan gejala klinis mirip demam tifoid disertai tanda-tanda alergi
misalnya urtikaria, edema pada wajah, kunjungtivitas dan iritasi pernapasan bagian atas.
Sejumlah besar cacing askariasis dewasa yang terdapat pada lumen usus juga dapat
menimbulkan berbagai akibat mekanis, yaitu terjadinya sumbatan atau obstruksi usus dan
intususepsi. Cacing dewasa juga dapat menimbulkan perforasi ulkus yang ada di usus (Soedarto,
2016).

Pada penderita yang mengalami demam tinggi, Ascaris lumbricoides dewasa dapat
melakukan migrasi ke organ-organ di luar usus (askariasis ektopik), misalnya ke lambung,
esophagus, mulut, hidung, rima glottis atau bronkus, sehingga menyumbat pernapasan penderita.
Selain itu dapat juga terjadi sumbatan saluran empedu, apendisitis, abses hati, dan pancreatitis
akut (Soedarto, 2016).

Diagnosis

Untuk menetapkan diagnosis pasti askariasis harus dilakukan pemeriksaan makroskopis


terhadap tinja atau muntahan penderita untuk menemukan cacing dewasa. Pada pemeriksaan
makroskopis atas tinja penderita dapat ditemukan telur cacing yang khas bentuknya di dalam
tinja atau cairan empedu penderita (Soedarto, 2016).
Adanya cacing askaris pada organ atau usus dapat dipastikan jika dilakukan pemeriksaan
radiografi dengan barium. Untuk membantu menegakkan diagnosis askariasis, pemeriksaan
darah tepiakan menunjukkan terjadinya eosinofil pada awal infeksi, sedangkan scratch test pada
kulit akan menunjukkan hasil positif (Soedarto, 2016).

Pencegahan dan Pengobatan

Upaya pencegaham askariasis dapat dilakukan dengan melaksanakan prinsip-prinsip


kesehatan lingkungan yang baik. Membuat kakus untuk menghindari pencemaran tanah dengan
tinja penderita, mencegah telur cacing mencemari makanan atau minuman, selalu memasak
makanan dan minuman sebelum dimakan atau diminum, serta menjaga kebersihan perorangan
yang akan mensegah terjadinya infksi cacing askaris (Soedarto, 2016).

Dengan mengobati penderita melalui pengobatan masal pada penduduk menggunakan


obat cacing berspektrum lebar di daerah endemis dapat memutuskan rantai daur hidup cacing
askaris dan nematode usus lainnya. Pendidikan kesehatan pada penduduk perlu dilakukan untuk
menunjang upaya pemberantasan dan pencegahan askariasis (Soedarto, 2016).

Berbagai obat cacing efektif untuk mengobati askariasis dan hanya menimbulkan sedikit efek
samping, antara lain adalah Mebendazol, Ivermectin, Nitazoxanide, Pirantel pamoat, Albendazol
dan Levamisol. Obat-obat cacing ini diberikan dengan takaran sebagai berikut.

Albendazol, 400 mg dosis tunggal (dosis dewasa dan anak)


Mebendazol, 500 mg dosis tunggal atau 2500 mg selama 3 hari (dewasa dan anak)
Ivermectin, 150-200 mcg/kg dosis tunggal (dewasa dan anak)
Nitazoxanide, dosis dewasa 2500 mg selama 3 hari; dosis anak umur 1-3 tahun 2100
mg selama 3 hari, dosis anak umur 4-11 tahun 2200 mg selama 3 hari
Pirantel pamoat, dosis tunggal 10 mg/kg berat badan; maksimum 1 gram
Levamisol, 120 mg dosis tunggal (dewasa), 2.5 mg/kg berat badan dosis anak

(Soedarto, 2016).
Morfologi

Cacing nematode ini adalah cacing berukuran besar, berwarna putih kecoklatan atau
kuning pucat. Cacing jantan berukuran panjang antara 10-31 cm, sedangkan cacing betina
panjang badannya antara 22-35 cm. Kutikula yang halus bergari-garis tipis menutupi selurum
permukaan badan cacing. Cacing askaris memiliki mulut dengan tiga buah bibir, yang terletak
sebuah di bagian dorsal dan dua bibir lainnya terletak subventral (Soedarto, 2016).

Selain ukurannya lebih kecil dibandingkan cacing betina, cacing jantan mempunyai ujung
posterior yang runcing, dengan ekor melengkung ke arah ventral. Di bagian posterior ini terdapat
duah buah spikulum yang ukuran panjangnya sekitar 2mm, sedangkan di bagian ujung posterior
cacing terdapat juga banyak papil-papil yang berukuran kecil. Bentuk tubuh cacing betina
membulat (conical) dengan ukuran badan yang lebih besar dan lebih panjang daripada cacing
jantan dan bagian ekor yang lurus, tidak melengkung (Soedarto, 2016).

Gambar 2.2. Morfologi Ascaris lumbricoides dewana jantan (atas) dan


dewasa betina (bawah).
Sumber. Zeibig, 2013.
Commented [U1]: ,MON, FORMAT GAMBAR HARUS KEK GINI
YA.
Dapus

Soedarto. 2016. Handbook of Medical Parasitology, Second Edition. Jakarta: Sagung Seto.
Zeibig, Elizabeth A. 2013. Clinical Parasitology, A Practical Approach Second Edition. Saint
Louis: Elsevier Foundation.