Vous êtes sur la page 1sur 11

MAKALAH

Sumber Akhlaq,Induk Akhlaq dan Penyakit Hati

DISUSUN OLEH

KELOMPOK 2

KELAS B8

1. SITI HARDIANTI MAULIDA ( 02320150261 )


2. INCE ST MUSLIMAH ( 02320150267 )
3. HUSNA HALIM ( 02320150274 )

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA


FAKULTAS EKONOMI
AKUNTANSI
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya
sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak
terima kasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan
baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami sebagai tim penyusun makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca. Untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun
menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Makalah ini bukanlah karya yang sempurna karena masih banyak kekurangan, baik
dalam hal ini maupun sistematika dan teknik penulisannya.Oleh sebab itu, kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dalam penyempurnaaan makalah
ini.Semoga makalah ini memberikan manfaat bagi kita semua.Amiin.
PENDAHULUAN
Akhlak merupakan suatu perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang,
sehingga menjadi kepribadiannya. Karena sifatnya yang mendarah daging, maka semua
perbuatannya dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran. Dengan demikian, baik atau
buruknya seseorang dilihat dari perbuatannya.
Induk akhlak yang akan dibahas pada makalah maksudnya adalah sikap adil dalam
melakukan suatu perbuatan.Dan adapun beberapa hal yang akan kami bahas mengenai penyakit
hati, dimana penyakit hati ini timbul disetiap pribadi seseorang.Pada induk akhlak dari sikap adil
tersebut akan muncul beberapa teori pertengahan, karena sebaik-baiknya perkara (perbuatan) itu
terletak pada pertengahannya, hal ini apa yang telah Nabi sabdakan :
Artinya : Sebaik-baiknya urusan (perbuatan) adalah yang pertengahan. (HR. Ahmad).
Oleh karena itu, agar lebih jelasnya lagi tentang induk akhlak islami, di dalam makalah
ini akan membahas apa yang dimaksud dengan induk akhlak islami, serta ketiga macam induk
akhlak yang muncul dari sikap adil, yaitu sikap pertengahan atau seimbang dalam
mempergunakan ketiga potensi sohaniah yang terdapat dalam diri manusia : akal, amarah dan
nafsu syahwat.
RUMUSAN MASALAH

1. Menjelaskan mengenai sumber-sumber Akhlak


2. Menjelaskan bagian dari induk Akhlak
3. Menjelaskan pengertian dan beberapa contoh penyakit hati

PEMBAHASAN

1. Sumber-sumber Akhlaq
Sumber-sumber akhlak adalah wahyu (al-Quran dan al-Hadits). Sebagai sumber akhlak
wahyu menjelaskan bagaimana berbuat baik. al-Quran bukanlah hasil renungan manusia,
melainkan firman Allah SWT yang Maha pandai dam Maha bijaksana. Oleh sebab itu,
setiap muslim berkeyakinan bahwa isi al-Quran tidak dapat dibuat dan ditandingi oleh
bikinan manusia. Sumber akhlak yang kedua yaitu al-Hadits meliputi perkataan,
ketetapan dan tingkah laku Rasulullah SAW.
Dasar akhlak yang dijelaskan dalam al-Quran yaitu:


Artinya :Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu
(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia
banyak menyebut Allah. (Q.S.al-Ahzab : 21)
Dasar akhlak dari hadits yang secara eksplisit menyinggung akhlak tersebut yaitu sabda
Nabi:


Artinya : Bahwasanya aku (Rasulullah) diutus untuk menyempurnakan keluhuran akhlak.
Jika telah jelas bahwa al-Quran dan hadits rasul adalah pedoman hidup yang menjadi
asas bagi setiap muslim, maka teranglah keduanya merupakan sumber akhlaqul karimah.

2. Induk-Induk Akhlaq
Secara teoritis macam-macam akhlak tersebut berinduk kepada tiga perbuatan utama,
yaitu hikmah (bijaksana), syajaah (perwira atau ksatria), dan iffah (menjaga diri dari
perbuatan dosa dan maksiat). Ketiga macam induk akhlak ini muncul dari sikap adil yang
terdapat dalam diri manusia, yaitu aql (pemikiran), ghadab (amarah), dan nafsu syahwat
(dorongan seksual).

a. Pengertian Hikmah (bijaksana)


Hikmah menurut Al-Maraghi dalam kitab Tafsirnya, sebagaimana yang dikutip oleh
Masyhur Amin, yaitu perkataan yang tepat lagi tegas yang diikuti dengan dalil-dalil yang dapat
menyingkap kebenaran dan melenyapkan keserupaan.
Sedangkan menurut Toha Jahja Omar seperti yang dikutip oleh Hasanuddin, hikmah adalah
bijaksana, artinya meletakkan sesuatu pada tempatnya, dan kitalah yang harus berpikir, berusaha,
menyusun, mengatur cara-cara dengan menyesuaikan kepada keadaan dan zaman, asal tidak
bertentangan dengan hal-hal yang dilarang oleh Tuhan.
Kata hikmah mengandung tiga unsur, yaitu:
1. Unsur ilmu, yaitu adanya ilmu yang shahih yang dapat memisahkanantara yang hak dan yang
bathil, berikut tentang rahasia, faedah danseluk-beluk sesuatu.
2. Unsur jiwa, yaitu terhujamnya ilmu tersebut kedalam jiwa yang ahlihikmah, sehingga ilmu
tersebut mendarah daging dengan sendirinya.
3. Unsur amal perbuatan, yaitu ilmu pengetahuannya yang terhujam kedalam jiwanya itu mampu
memotivasi dirinya untuk berbuat.Dengan perkataan lain, perbuatanya itu dimotori oleh ilmunya
yangterhujam kedalam jiwanya itu.
b. Pengertian Syajaah
Syajaah dalam bahasa Arab artinya keberanian atau keperwiraan, syajaah atau berani yaitu
seseorang yang dapat bersabar terhadap sesuatu jika dalam jiwanya ada keberanian menerima
musibah atau keberanian dalam mengerjakan sesuatu. Seorang pengecut sukar didapatkan sikap
sabar dan berani.
Selain itu syajaah (berani) bukanlah semata-mata berani berkelahi dimedan laga, melainkan
suatu sikap mental seseorang, dapat menguasai jiwanya dan berbuat menurut semestinya.
Syajaah dapat dibagi menjadi dua macam:
1. Asy Syajaah harbiyah
Yaitu keberanian yang kelihatan atau tampak, misalnya keberanian dalam medan tempur di
waktu perang.
2. Asy Syajaah nafsiyah
Yaitu keberanian menghadapi bahaya atau penderitaan di luar medan peperangan, seperti
menegakkan kebenaran.

Hakikat Asy Syajaah


Hakikat dari keberanian itu tidak terlepas dari keadaan-keadaansebagi berikut:
1) Berani membenarkan yang benar dan berani menyalahkanyang salah.
2) Berani membela hak milik, jiwa dan raga.
3) Berani membela kesucian agama dan kehormatan bangsa
c. Pengertian Iffah (Al-iffah)
Memelihara kesucian diri (al-iffah) adalah menjaga diri dari segala tuduhan, fitnah, dan
memelihara kehormatan hendaklah dilakukan setiapwaktu agar diri tetap berada dalam keadaan
kesucian. Hal ini dapat dilakukan muali memelihara hati (qalbu) untuk tidak membuat rencana
dan angan-angan yang buruk.
Kesucian diri terbagi ke dalam beberapa bagian:
1) Kesucian panca indra; (Q.S. An-Nur [24]: 33).
2) Kesucian jasad; (Q.S Al-Ahzab [33]: 59).
3) Kesucian dari memakan harta orang lain; (Q.S An-Nisa [4]: 6).
4) Kesucian lisan (Q.S. Al Baqarah [2]: 273)
Berikut ini akan dijelaskan ketiga macam induk akhlak yang muncul dari sikap adil, yaitu
sikap pertengahan atau seimbang dalam mempergunakan ketiga potensi rohaniah yang terdapat
dalam diri manusia :
1. Akal
Akal yang digunakan secara adil akan menimbulkan hikmah. Pemahaman tersebut pada
akhirnya akan membawa kepada timbulnya teori pertengahan, yaitu bahwa sikap pertengahan
sebagai pangkal timbulnya kebajikan. Pemahaman ini sejalan pula dengan isyarat yang terdapat
dalam hadits nabi yang artinya : Sebaik-baiknya urusan (perbuatan) adalah yang pertengahan.
(HR. Ahmad).
Sebaliknya akhlak yang buruk atau tercela pada dasarnya timbul disebabkan oleh
penggunaan dari ketiga potensi rohaniah yang tidak adil. Akal yang digunakan secara berlebihan
akan menimbulkan sikap pintar busuk atau penipu; dan akal yang digunakan terlalu lemah akan
menimbulkan sikap dungu atau ediot. Dengan demikian akal yang digunakan secara berlebihan
atau terlalu lemah merupakan pangkal timbulnya akhlak yang tercela.
2. Amarah
Amarah yang digunakan secara adil akan menimbulkan sikap perwira, demikian pula
amarah yang digunakan terlalu berlebihan akan menimbulkan sikap membabi buta atau hantam
kromo, yaitu berani tanpa memperhitungkan kebaikan dan keburukannya. Sebaliknya jika
amarah digunakan terlalu lemah akan menibulkan sikap pengecut. Dengan demikian penggunaan
amarah secara berlebihan atau berkurang sama-sama akan menimbulkan akhlak yang buruk.
Berkenaan dengan ini di dalam al-Quran dijumpai ayat yang menunjukkan akhlak yang baik
yang dihubungkan dengan sikap yang mampu menahan amarah. Allah berfirman yang artinya :
(Orang-orang yang bertakwa yaitu) Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu
lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan)
orang lain. (QS. Ali Imran : 134).
Pada ayat tersebut kemampuan menahan amarah dijadikan salah-satu sifat orang yang
bertakwa dan disebut bersamaan dengan akhlak yang terpuji lainnya, yaitu menafkahkan
sebagian hartanya, baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit serta mau
memaafkan kesalahan orang lain.
Penggunaan amarah secara pertengahan itu sejalan pula dengan hadits nabi yang artinya :
Orang yang gagah perkasa itu bukanlah orang yang kuat tenaganya, tetapi orang yang gagah itu
adalah orang yang dapat menahan amarahnya jika marah. (HR. Ahmad).
3. Nafsu syahwat
Nafsu syahwat yang digunakan secara pertengahanlah yang akan menimbulkan sikap
iffah, yaitu orang yang dapat menahan syahwat dan farjinya dari berbuat lacur. Allah Swt.
berfirman yang artinya : Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-
orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari
(perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan
orang-orang yang menjaga kemaluannya. (QS. Al-Muminun : 1-5).
Di dalam juga dijumpai keterangan tentang orang yang akan mendapatkan perlindungan
di hari kiamat, di antaranya adalah seorang yang diajak berbuat serong, namun ia dapat menjaga
dirinya. Teks hadits yang artinya : Seseorang yang diajak berbuat serong oleh seorang wanita
yang mempunyai kecantikan dan martabat, lalu ia mengatakan bahwa aku takut kepada Allah
yang menguasai sekalian alam. (HR. Bukhari).
Demikian pula nafsu syahwat yang digunakan secara berlebihan akan menimbulkan sikap
melacur, dan jika nafsu syahwat tersebut digunakan secara lemah akan menimbulkan sikap
tercela, yaitu tidak ada semangat untuk hidup.
Dengan demikian dari sikap pertengahan dalam menggunakan akal, amarah, dan nafsu
syahwat menimbulkan sikap bijaksana, perwira, dan dapat memelihara diri. Dan dari tiga sikap
inilah menimbulkan akhlak yang mulia.

3. Pengertian Penyakit Hati


Penyakit hati atau (psychoses) adalah kelainan kepribadian yang ditandai oleh
mental dalam (profound-mental), dan gangguan emosional yang mengubah individu
normal menjadi tidak mampu mengatur dirinya untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungannya. Dua istilah yang dapat diidentifikasikan dengan psychoses ini adalah
insanity dan dementia. Insanity adalah istilah resmi yang menunjukkan bahwa seseorang
itu kacau akibat dari tindakannya. Pada saat lain istilah demensia digunakan untuk
kebanyakan kelainan mental, tetapi secara umum kini diinterpretasikan sebagai sinonim
dengan kekacauan mental (mental disorder) yang menyolok. Sebab mereka sering
melakukan tingkah laku yang semaunya sendiri. Seseorang yang diserang penyakit hati
kepribadiannya terganggu dan selanjutnya menyebabkan kurang mampu menyesuaikan
diri dengan wajar dan tidak sanggup memahami problemanya. Seringkali orang yang
sakit hati tidak merasa bahwa dirinya sakit, sebaliknya ia menganggap dirinya normal,
bahkan lebih baik, lebih unggul, dan lebih penting dari yang lain.

Pandangan Islam tentang Penyakit Hati

Dalam perspektif Islam, penyakit hati sering diidentikkan dengan beberapa sifat buruk atau
tingkah laku tercela (al-akhlaq al-mazmumah), seperti dengki, iri hati, arogan, emosional dan
seterusnya.

Hasan Muhammad as-Syarqawi dalam kitabnya Nahw Ilmiah Nafsi, membagi penyakit hati
dalam sembilan bagian, yaitu: pamer (riya), marah (al-ghadhab), lalai dan lupa (al-ghaflah wan
nisyah), was-was (al-was-wasah), frustrasi (al-yas), rakus (tama), terperdaya (al-ghurur),
sombong (al-ujub), dengki dan iri hati (al-hasd wal hiqd).
Dalam konteks ini kami ingin menekankan pada empat jenis penyakit hati yang menonjol, yaitu:

Riya (pamer)
Marah,
Membanggakan diri
Iri hati
Dengki.

Beberapa sifat tercela di atas ada relevansinya jika dianggap sebagai penyakit hati, sebab
dalam kesehatan mental (mental hygiene) sifat-sifat tersebut merupakan indikasi dari
penyakit kejiwaan manusia (psychoses). Jadi pada penderitanya sakit jiwa salah satunya
ditandai oleh sifat-sifat buruk tersebut.

Riya (pamer)

Seperti yang dijelaskan oleh As-Syarqawi,bahwa dalam penyakit riya terdapat unsur penipuan
terhadap dirinya sendiri dan juga orang lain, karena hakikatnya ia mengungkapkan sesuatu yang
tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Penyakit riya merasuk dalam jiwa seseorang
dengan halus dan tidak terasa sehingga hampir tidak ada orang yang selamat dari serangan
penyakit ini kecuali orang arif yang ikhlas dan taat.

Dalam riya terdapat unsur kepura-puraan, munafik, seluruh tingkah-lakunya cenderung


mengharap pujian orang lain, senang kepada kebesaran dan kekuasaan. Over acting, menutup-
nutupi kejelekannya dan seterusnya. Sifat yang demikian ini digambarkan dalam al-Quran surat
an-Nisa: 142 dan at-Taubah:67 dan juga hadits Nabi: Yang paling aku kuatirkan terhadap
umatku adalah riya dan syahwat yang tersembunyi.

Islam memberikan terapi riya ini dengan cara mengikis nafsu syahwat sedikit demi sedikit dan
menanamkan sifat merendahkan diri (tawadhu) dengan melihat kebesaran Allah SWT.

Marah

Marah pada hakikatnya adalah memuncaknya kepanikan di kepala, lalu menguasai otak atau
pikiran dan akhirnya kepada perasaan. Kondisi semacam ini seringkali sulit untuk dikendalikan.

Lebih lanjut As-Syarqawi mengungkapkan, bahwa marah akan menimbulkan beberapa


pelampiasan, misalnya secara lisan akan memunculkan caci-makian, kata-kata kotor/keji dan
secara fisik akan menimbulkan tindakan-tindakan destruktif. Dan jika orang marah tidak mampu
melampiaskan tindakan-tindakannya di atas, maka dia akan berkompensasi pada dirinya sendiri
dengan cara misalnya: merobek-robek pakaian, menampar mukanya sendiri, membanting
perabot rumah tangga dan seterusnya. Marah juga dapat berpengaruh pada hati seseorang, yaitu
sifat dengki dan iri hati, rela melihat orang lain menderita, cemburu, suka membuka aib orang
lain dan seterusnya.

Atas dasar inilah maka Nabi melarang orang yang sedang marah untuk melakukan putusan atau
memutuskan sesuatu perkara sebagaimana sabdanya: Seseorang tidak boleh membuat
keputusan diantara dua orang (yang berselisih) sementara ia dalam keadaan marah.

Al-Ghazali berpendapat, bahwa cara untuk menanggulangi kemarahan sampai batas yang
seimbang dengan jalan mujahadah untuk kemudian menanamkan jiwa sabar dan kasih sayang.

Berkaitan dengan hal di atas, Usman Najati berpendapat bahwa emosi marah yang menguasai
seseorang dapat membuat kemandekan berpikir. Di samping itu energi tubuh selama marah
berlangsung akan membuat orang siap untuk melakukan tindakan-tindakan yang akan disesali di
kemudian hari. Untuk mengatasi marah ini adalah dengan jalan mengendalikan diri, sebab
mengendalikan diri dari marah itu mempunyai beberapa manfaat:

1. Dapat memelihara kemampuan berpikir dan pengambilan keputusan yang benar.


2. Dapat memelihara keseimbangan fisik, karena mampu melindungi dari ketegangan fisik
yang timbul akibat meningkatnya energi.
3. Dapat menghindarkan seseorang dari sikap memusuhi orang lain, baik fisik maupun
umpatan, sikap tersebut juga dapat menyadarkan diri untuk selalu berintrospeksi.
4. Dari segi kesehatan, pengendalian marah dapat menghindarkan seseorang dari berbagai
penyakit fisik pada umumnya.

Dalam hal ini Nabi juga sangat memuji tindakan pengendalian diri terhadap emosi marah ini dan
menganggapnya sebagai orang yang kuat, sebagaimana sabdanya: Tidaklah orang dikatakan
kuat itu adalah orang yang pandai berkelai, tetapi orang kuat adalah orang yang mampu menahan
amarahnya.

Rasa Bangga Diri (Ujub)

Perasaan membanggakan diri (ujub) sedikit berbeda dengan perasaan sombong (kibr). Menurut
al-Ghazali, kibr merupakan perasaan yang muncul pad diri seseorang, di mana ia menganggap
dirinya lebih baik dan lebih utama dari orang lain. Sedangkan ujub adalah perasaan bangga diri
yang dalam penampilannya tidak memerlukan atau melibatkan orang lain. Ujub lebih terfokus
kepada rasa kagum terhadap diri sendiri, suka membanggakan dan menonjolkan diri sendiri.
Kadang-kadang pada sebagian orang emosi ini merupakan tingkah laku yang dominan dalam
kepribadian dan dapat menimbulkan sikap sombong, angkuh serta merendahkan orang lain.

Penilaian yang tinggi terhadap suatu pemberian, sikap yang selalu mengingat-ingat pemberian
dan sikap pamrih terhadap perbuatan yang dilakukan merupakan hal-hal yang termasuk kategori
ujub Menurut As-Syarqawi, bahwa ujub merupakan perasaan senang yang berlebihan.
Kemunculannya disebabkan adanya anggapan bahwa ia merasa yang paling baik dan paling
sempurna di dalam segalanya. Sikap ujub adalah penyakit mental yang sangat berbahaya, sebab
eksistensinya membuat hati menjadi beku dalam menerima kebaikan, dan selalu menutup-nutupi
kesalahan, sebagaimana firman Allah Swt.: Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada
manusia ia berpaling dan menjauhkan diri, tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak
berdoa. (Q.S. Fusilat: 51).

Dari sisi lain orang yang bangga dengan dirinya telah menyadari akan kepribadiannya dan
mengerti akan kesalahannya, tetapi tidak tertarik untuk kembali kepada kebenaran, melainkan
bersikap putus asa, tetap ingkar dan bahkan ogah melakukan kebajikan dan pengabdian kepada
Allah.

Iri Hati dan Dengki

Iri hati atau juga disebut dengki merupakan gejala-gejala luar yang kadang-kadang menunukkan
perasaan dalam hati. Akan tetapi gejala-gejala tersebut tidak mudah untuk diketahui, sebab
seseorang akan berusaha semaksimal mungkin menyembunyikan gejala-gejala tersebut.

Secara umum dapat dikatakan, bahwa rasa iri muncul akibat kegagalan seseorang dalam
mencapai sesuatu tujuan. Oleh sebab itu emosi ini sangat kompleks, dan pada dasarnya terdiri
atas rasa ingin memiliki.

Meski demikian, tidak dapat dikatakan, bahwa rasa iri sebagai kumpulan dari rasa marah, rasa
ingin memiliki dan rasa rendah diri, akan tetapi lebih dari itu adalah memiliki karekteristiknya
sendiri. Dan di antara gejala-gejala yang nampak adalah marah dengan segala bentuknya mulai
dari memukul, mencela, menghina, membuka rahasia orang lain, dan seterusnya.

As-Syarqawi menjelaskan bahwa emosi ini secara garis besar diklasifikasikan menjadi dua
macam:

1. Iri yang melahirkan kompetisi sehat (al-munafasah);


2. Iri yang melahirkan kompetisi tidak sehat (al-hiqd wal hasad).

Iri jenis pertama merpuakan kompetisi sehat untk meniru hal-hal positif yang dimiliki orang lain
tanpa didasari oleh interes jahat dalam rangka fastabiqul khairat. Iri dalam jenis ini merupakan
sesuatu yang diharuskan bagi stiap muslim berdasarkan firman Allah: Maka berlomba-
lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukannya
kepadamu apa yang telah kamu peraselisihkan. (Q.S. al-Maidah: 48).
Sementara iri dalam jenis kedua lebih didasari oleh rasa benci terhdap apa-apa yang dimiliki oleh
orang lain, baik yang berkaitan dengan materi maupun yang berhubungan dengan
jabatan/kedudukan. Iri dalam kategori ini, menurut As-Syarqawi cenderung memunculkan sikap
antipati dan bahkan melahirkan sikap permusuhan terhadap orang lain. Kemunculannya lebih
disebabkan oleh rasa sombong, bangga, riya, dan rasa takut kehilangan kedudukan.

KESIMPULAN

Ahklak adalah perbuatan manusia yang memiliki dua sisi yaitu baik dan buruk.Ahklak seseorang
itu tergantung bagaimana orang tersebut memilih kemana orang tersebut akan
mengikutinya.disini kami membahas tentang ahklak-ahklak yang tercela.Ahklak tercela
merupakan ahklak yang tidak sepatutnya untuk di ikuti oleh seorang manusia yang beriman
karena Allah SWT dan Rasullullah SAW tidak menyukai akan sifat-sifat yang termasuk ahklak
tercela.
Penyakit hati merupakan penyakit di dalam jiwa yang lebih parah dari penyakit fisik. Karena
bilamana hati seseorang sakit, atau bahkan buruk, maka perilakunya pun demikian.
Sebagai salah satu contoh adalah Ujub : mula-mula ujub itu hanya berada di dalam hati,
yakni mengganggap dirinya paling mulia, kemudian berkembang menjadi sebuah perkataan yang
menggungkapkan tentang pandangan manusia kepada dirinya sendiri yang mulia. Padahal yang
demikian ini sangat dicela dalam agama dan dibenci Allah, karena seseorang telah di jangkiti
penyakit ujub maka ada sikap meremehkan dalam berbuat amal..Dari pengertian salah satu sifat
ahklak tercela tersebut telah tercantum dalam firman Allah dan sabdaan Rasullah bahwa hal
tersebut tidak baik.