Vous êtes sur la page 1sur 4

A.

JUDUL PERCOBAAN
Isolasi Piperin dari Lada dan Sifat Kimia Piperin.
B. TUJUAN PERCOBAAN
Tujuan percobaan yaitu mahasiswa diharapkan mengetahui:
1. Prinsip isolasi senyawa organik dari bahan alami, khususnya golongan alkaloid.
2. Teknik isolasi dalam bahan alam, ekstraksi kontinyu, pemisahan lainnya dan cara
pemurniaannya.
3. Mengenal sifat-sifat kimia piperin berdasarkan struktur dan hasil degradasinya.
C. LANDASAN TEORI
Definisi alkaloid klasik menyatakan bahwa semua senyawa-senyawa metabolit
sekunder yang mengandung unsur nitrogen di dalam kerangkanya. Alkaloid
diklasifikasi-kan berdasarkan asam amino prekursornya dan di dalam kerangkanya
masih memiliki atom nitrogen. Adapun senyawa dengan kerangka asetat, terpenoid,
shikimat yang mengalami aminasi (pemasukan atom N) bukanlah alkaloid secara
definisi khusus (Saifuddin, 2014: 29).
Pseudoalkaloid tidak mengandung atom nitrogen yang heterosiklik. Beberapa
turunan sederhana dari pheniletil amina adalah merupakan turunan dari asam amino
lainnya seperti phenilalanin atau tirosin. Meskipun beberapa alkaloid chocicine
(bukan dasar) juga termasuk dalam kelompok ini. Nama kimia dari dua amida
disebut dengan epiderin, adrenalin, dan dua amida disebut piperin dan chocicine
(Bhat, dkk, 2005: 301).
Alkaloid merupakan senyawa-senyawa organik yang terdapat dalam tumbuh-
tumbuhan, yang bersifat basa, dan struktur kimianya mempunyai sistem lingkar
heterosilklik dengan nitrogen sebagai hetero atomnya. Unsur-unsur penyusun
alkaloid adalah karbon, hidrogen, nitrogen, dan oksigen. Alkaloid yang struktur
kimianya tidak mengandung oksigen hanya terdapat beberapa saja. Terdapat pula
alkaloid yang mengandung unsur lain selain keempat unsur yang telah disebutkan.
Adanya nitrogen dalam liingkar pada struktur kimia alkaloid menyebabkan alkaloid
tersebut bersifat alkali. Oleh karena itu, golongan senya-senyawa ini disebut sebagai
alkaloid (Sumardjo, 2009: 438).
Senyawa alkaloid memiliki peran yang sangat besar di dalam bidang kedokteran.
Senyawa yang pertama kali diisolasi secara murni adalah morfin. Berbagai obat
penting terutama obat syaraf adalah alkaloid. Berbagai doping, bahan obat narkotik,
kopi dikonsumsi sehari-hari oleh manusia mengandung alkaloid yakni kafein, coklat
adalah alkaloid teobromin. Namun secara dominan alkaloid adalah senyawa
metabolit sekunder yang berasal dari prekursor asam amino. Sehingga untuk
mempelajari alkaloid bisa ditelusuri berdasarkan building block atau kerangka asam
amino asalnya (Saifuddin, 2014: 29).
Tumbuhan dikotil adalah sumber utama alkaloid. Cara ekstraksi digunakan
untuk mendapatkan alkaloid dari tumbuh-tumbuhan. Kini, beberapa alkaloid dengan
struktur kimia yang sederhana dapat dibuat secara sintetis di dalam laboratorium.
Beberapa cara digunakan untuk mengidentifikasi alkaloid, misalnya mikroskopik
kristal, kelarutan dalam berbagai jenis pelarut, spectrum absorpsi dan perputaran
optis atau sifat farmakologisnya. Reaksi warna juga sering digunakan walaupun tidak
spesifik (Sumardjo, 2009: 438).
Piperin (C17H19NO3) dapat ditemukan pada lada hitam (Pipper nigrum, Famili
Piparaceae). Zat piperin pada lada hitam berjumlah 6 hingga 11%. Ini menunjukkan
jumlah yang cenderung lebih banyak daripada lada lainnya seperti pada Pipper
longum (sekitar 5%), dan pada P. nigrum (sekitar 1,5 %). Lada hitam digunakan
secara komersial sebagai bumbu dapur. Lada hitam juga digunakan sebagai stimulant
dan obat penurun panas. Titik didih piperin berkisar antara 128-129,5C. Berikut ini
adalah struktur molekul piperin (Bhat, dkk, 2005: 307)
Ekstraksi lada hitam dengan pelarut organik memberikan aroma, rasa dan sifat
rempah-rempah lainnya secara prinsip. Sifat organoleptik oleoresin ditentukan oleh
kandungan minyak dan piperinnya yang mudah menguap, dan kelimpahan komponen
secara prinsip tergantung pada bahan baku yang digunakan untuk ekstraksi. Lada
dapat dicampur dengan serpihan atau digiling menjadi serbuk kasar dan diekstraksi
dengan pelarut yang dimurnikan dengan tepat. Pelarut tersebut biasanya adalah
aseton, etanol atau dikloroetana, namun pelarut lainnya juga dapat digunakan (Bhat,
dkk, 2005: 347)
Karakter kimia spesies Piper yang cukup menonjol adalah adanya senyawa
minyak atsiri (terpenoid) di daun dan buahnya, sehingga banyak dimanfaatkan
sebagai bahan obat, rempah-rempah, dan bumbu dapur. Fakta menunjukan bahwa
bau remasan dari berbagai spesies Piper memiliki ciri khas masing-masing. Jenis
senyawa (kualitatif) minyak atsiri (metabolit sekunder) dapat digunakan sebagai
bukti dalam klasifikasi. Konsep spesies dalam klasifikasi dengan bukti morfologi,
dapat didukung oleh bukti fitokimia, yaitu senyawa metabolit sekunder termasuk
terpenoid (Purnomo dan Asmarayani, 2004: 12-13).
Ekstraksi dapat dilakukan dengan metode sirkulasi dengan pelarut panas atau
dingin melalui arah yang lebih rendah, atau juga dapat dilakukan dengan metode
yang didasarkan pada ekstraksi soklet. Pada proses akhir, lada tetap berada pada
ekstraktor kecil, namun pelarutnya dipindahkan dari satu ekstraktor ke yang
berikutnya selama konsentrasi bahan yang diekstraksi semakin meningkat, sampai
pelarut bercampur dengan lada, setelah itu dipindahkan ke dalam bejana baja dimana
sebagian besar pelarut dilepas. Ekstrak dilakukan distilasi vakum sehingga
konsentrasi pelarut dapat berkurang hingga tingkat terendah. Saat baru dibuat,
oleoresin lada berwarna hijau tua, kental, cairan berat dengan aroma yang kuat,
namun secara umum, terbentuk kristal piperin dan oleoresin harus dicampur sebelum
digunakan, untuk memastikan keseragaman dan konsistensi. Komponen dan kualitas
ekstrak tergantung pada bahan baku yang digunakan, metode, dan kondisi
pengolahan dan penanganan produk tersebut (Bhat, dkk, 2005: 347)
Pelarut alkaloid adalah pelarut yang sering digunakan untuk mengendapkan
larutan alkaloid. Pelarut yang penting antara lain pereaksi Mayer yaitu merkuri
kalium iodida, pereaksi Marme yaitu kadmium kalium iodida, pereaksi Wagner yaitu
larutan I2 dalam kalium iodida, pereaksi Dagendorff yaitu bismut kalium iodida,
pereaksi Sonnenschein yaitu asam fosfomolibdat, dan pereaksi Scheiber yaitu asam
fosfotungsat (Sumardjo, 2009: 438).
Hidrolisis piperin menghasilkan piperidin dan asam piperik, oksidasi lanjut
menghasilkan asam piperonilik dan asam tartarat . Asam piperic geometrinya trans
ikatan rangkap. Reaksi hidrolisis piperin sebagai berikut.

Piperin dapat disintesis dengan mereaksikan asam piperic klorida dengan piperidin,
yang struktur molekulnya digambarkan di bawah ini.
Sintesis asam piperic dimulai dengan piperonal yang diperoleh dari katekol
menggunakan reaksi Reimer-Tiemann diikuti kondensasi dengan diiodometana
dengan adanya basa. Piperonal dikondensasi dengan asetaldehida dan natrium
hidroksida dan produk yang diperoleh kemudian dipanaskan dengan asetat anhidrat
dan natrium asetat untuk menghasilkan asam piperic (Bhat, dkk, 2005: 307-308).
Penggunaan sifat kimia untuk memecahkan masalah taksonomi banyak terbukti,
tetapi pada beberapa kasus bukti kimia tidak sejalan dengan bukti morfologi
sehingga menghasilkan sistematika yang berbeda. Faktor edafik dan klimatik dapat
berpengaruh terhadap kuantitas minyak atsiri setiap atau suatu spesies. Pada setiap
spesies Piper dengan adanya perbedaan faktor luar di habitatnya, terbukti memiliki
perbedaan terutama nilai kuantitas dari jenis minyak atsiri. Perbedaan tersebut
terjadi karena adanya variasi kimia yang merespons terhadap perbedaan faktor luar
di habitatnya. Dari penelitian ini diketahui bahwa hubungan kekerabatan spesies
Piper berdasarkan sifat morfologi dan minyak atsiri menghasilkan klasifikasi yang
berbeda. Spesies Piper yang berkerabat dekat secara morfologi, dapat berkerabat
jauh berdasarkan minyak atsiri daun ((Purnomo dan Asmarayani, 2004: 12,16).