Vous êtes sur la page 1sur 25

KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillah senantiasa Penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT atas
segala limpahan rahmat, hidayah, dan karunia-Nya, sehingga Penulis dapat menyelesaikan
laporan yang berjudul Asuhan Keperawatan Asma Bronkial dengan baik dan lancar.
Laporan ini Penulis sajikan secara sistematis agar mudah dipahami oleh pembaca.
Dengan penyusunan laporan ini, Penulis berharap dapat membantu pembaca untuk
mempermudah dalam mempelajari materi ini sesuai dengan judul laporan yang telah
ditentukan.
Penulis menyadari benar bahwa masih terdapat kekurangan-kekurangan di dalam
penyusunan laporan ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun dari
setiap pembaca sangat kami harapkan demi kesempurnaan pada pembuatan laporan kelompok
selanjutnya. Semoga laporan yang sangat sederhana ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Akhir kata Penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
terwujudnya laporan ini, terutama kepada Ibu Yanuar Eka,. S. Kep. Ners. selaku dosen
fasilitator SGD (Sistem Reproduksi) serta kepada Allah SWT jualah diserahkan atas segala
sesuatunya.

Kediri, 14 Januari 2016

Penulis

Page | i
DAFTAR ISI
Kata pengantar ........................................................................................................ i

Daftar Isi................................................................................................................... ii

BAB I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1


1.2 Rumusan Masalah ............................................................................. 2
1.3 Tujuan Penulisan ............................................................................... 2

BAB II Tinjauan Pustaka

2.1 Pengertian .......................................................................................... 3


2.2 Etiologi ............................................................................................... 3
2.3 Patofisiologi ....................................................................................... 4
2.4 Manifestasi Klinis .............................................................................. 5
2.5 Pemeriksaan Penunjang ..................................................................... 5
2.6 Penatalaksanaan medis....................................................................... 6
2.7 Efek kehamilan pada Asma ............................................................... 7
2.8 Komplikasi ......................................................................................... 7
2.9 WOC .................................................................................................. 8

BAB III Asuhan Keperawatan

3.1 Pengkajian ........................................................................................... 9


3.2 Analisa Data ....................................................................................... 14
3.3 Diagnosa Keperawatan ....................................................................... 15
3.4 Intervensi ............................................................................................ 15
3.5 Implementasi ...................................................................................... 19

BAB IV Penutup

4.1 Kesimpulan ......................................................................................... 21


4.2 Saran ................................................................................................... 21

Daftar Pustaka ........................................................................................................ 22

Page | ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sampai sekarang belum ada kesepakatan tentang definisi asma yang dapat
diterima semua ahli. Definisi yang banyak dianut saat ini adalah yang dikemukakan
oleh The American Thoracic Society yaitu asma adalah suatu penyakit dengan ciri
meningkatnya respon trakhea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan
manifestasi adanya penyempitan jalan napas yang luas dan derajatnya dapat berubah-
ubah baik secara spontan maupun sebagai hasil pengobatan. Asma adalah penyakit paru
yang heterogen dengan obstruksi saluran pernapasan yang sembuh sebagian atau total,
spontan atau dengan terapi. Serangan umumnya singkat, walaupun jarang, asma dapat
berakibat fatal. Secara tradisional asma dapat diklasifikasikan dua kelompok yaitu alergi
( ekstrinsik ) dan idiosinkrasi (intrinsik). Asma ekstrinsik merupakan asma yang dipicu
oleh alergen atau mediator IgE. Umumnya terdapat pada orang dan atau riwayat
keluarga dengan penyakit alergi. Sedangkan asma intrinsik jika tidak ditemukan alergen
spesifik sebagai pemicunya, dan terdapat pada pasien tanpa riwayat alergi dalam
keluarganya
Prevalensi asma terjadi pada 4-8% populasi umum. Pada kehamilan prevalensinya
1-4%. Di Indonesia prevalensi asma berkisar 5-7 %. Kepustakaan lain menyatakan asma
berpengaruh pada 1-9% wanita atau pada 200.000 - 376.000 kehamilan di Amerika
setiap tahunnya. Rata - rata morbiditas dan mortalitas pada wanita hamil sebanding
dengan populasi umum. Rata - rata mobilitas asma di Amerika adalah 2,1 per 100.000.
Asma bronkial merupakan salah satu penyakit saluran napas yang sering dijumpai
kehamilan dan persalinan. Pengaruh kehamilan terhadap timbulnya serangan asma
selalu sama terhadap setiap penderita, bahkan pada seorang penderita asma, serangan
tidak sama pada kehamilan pertama dan berikutnya. Penyakit ini menimbulkan yang
serius pada wanita hamil. Asma yang tidak terkontrol dengan baik, dapat berpengaruh
terhadap ibu dan janin.
Terdapat risiko yang jelas baik pada ibu maupun janin, bila gejala asma
memburuk. Pada penelitian menyatakan asma dihubungkan dengan meningkatnya
kematian perinatal dua kali lipat. Selain itu juga meningkatkan risiko komplikasi berupa
hiperemesis, preeklampsia, dan perdarahan pada pasien yang mengidap asma,
begitupula halnya terjadi peningkatan angka kematian neonatal dan persalinan prematur.
Page | 1
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya penanganan aktif pasien hamil untuk
menghindari eksaserbasi akut asma bronkhial.

1.2 Rumusan masalah


1. Pengertian dari Asma Bronkial ?
2. Etiologi dari Asma Bronkial ?
3. Patofisiologi dari Asma Bronkial ?
4. Manifestasi Klinis dari Asma Bronkial?
5. Pemeriksaan Diagnostik Asma Bronkial?
6. Komplikasi dari Asma Bronkial?
7. Penatalaksanaan dari Asma Bronkial?
8. Pencegahan Asma Bronkial?
9. Pathway dari Asma Bronkial?
10. Bagaimana asuhan keperawatan dari kasus Asma Bronkial ?

1.3 Tujuan Penulisan


Diharapkan para pembaca dapat mengerti dan memahami tentang asma bronkial
ini, mulai dari definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan
diagnostic, komplikasi, penatalaksanaa, pencegahan, dan pathwaynya. Serta diharapkan
bermanfaat untuk pembuatan ASKEP bagi para perawat.

Page | 2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian
Asma bronchial merupakan penyakit pernapasan akut,yang disebabkan oleh
allergen, oleh perubahan mencolok pada suhu lingkungan atau oleh ketegangan emosi.
Pada banyak kasus, penyebab actual mungkin diketahui. Suatu riwayat alergi dalam
keluarga dimiliki oleh sekitar 50 % individu dengan asma. Sebagai respons reaktivitas
terhadap stimulus, jalan napas menyempit, sehingga mempersulit pernafasan.
Manifestasi klinisnya adalah mengi pada ekspirasi, batuk, sputum yang kental dan
dispneu.
Penyakit asma pada kehamilan kadang-kadang berat atau malah berkurang. Dalam
batas wajar penyakit asma yang berat dapat mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan janin dalam rahim melalui gangguan pertukaran gas oksigen dan
carbondioksida. Pengawasan hamil dan pertolongan persalinan dapat dilakukan dengan
operasi.
Asma bronkial merupakan salah satu penyakit saluran pernapasan yang sering
dijumpai pada kehamilan, mempengaruhi 1-4% wanita hamil. Pengaruh keamilan
terhadap timbulnya asma tidak selalu sama pada setiap penderita, bahkan pada seorang
penderita asma serangannya tidak selalu sama pada kehamilan pertama dan berikutnya.
Kurag dari 1/3 penderita asma kurang membaik dalam kehamilan lebih dari 1/3 akan
menetap, kurang 1/3 lagi akan bertambah buruk pada serangan bertambah berat.
Biasanya serangan akan timbul pada usia 24-26 minggu dan pada akhir kehamilan
jarang terjadi.
Asma Bronchial adalah suatu gangguan pada saluran bronchial dengan ciri
bronkospasme periodik (kontraksi spasme pada saluran nafas). Asma merupakan
penyakit kompleks yang diakibatkan oleh faktor biokimia, endokrin, infeksi, otonomik
dan psikologi. (Irman Somantri, 2008 : 43)

2.2 Etiologi
Sampai saat ini patogenesis maupun etiologi asma belum diketahui dengan pasti.
Berbagai teori tentang patogenesis telah diajukan, tetapi yang paling disepakati oleh
para ahli adalah yang berdasarkan gangguan saraf autonom dan sistem imun.

Page | 3
Asma saat ini dipandang sebagai penyakit inflamasi saluran napas. Adanya
inflamasi hiperaktivitas saluran napas dijumpai pada asma baik pada asma alergi
maupun non-alergi. Oleh karena itu dikenal dua jalur untuk mencapai keadaan tersebut.
Jalur imunologi utama didominasi oleh IgE dan jalur saraf otonom. Pada jalur IgE ,
masuknya allergen kedalam tubuh akan diolah oleh APC (Antigen Presenting Cells),
untuk selanjutnya hasil olahan alergen akan dikomunikasikan kepada sel T helper (T
penolong). Sel ini akan memberikan instruksi melalui interleukin atau sitokin agar sel-
sel plasma membentuk serta sel- sel radang lain seperti mastosit, makrofag, sel epitel,
eosinifil, neotrofil, trombosit, serta limfosit untuk mengeluarkan mediator-mediator
inflamasi seperti histamin prostaglandin (PG), leukotrin (LT), platelet activating factor
(PAF), bradikinin, tromboksin (TX) dan lain-lain akan mempengaruhi organ sasaran
menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding vaskuler, edema saluran napas,
infiltrasi sel-sel radang, sekresi mukus, dan fibrosis sub epitel sehingga menimbulkan
hiperreaktivitas saluran napas (HSN). Jalur non- alergi selain merangsang sel inflamasi,
juga merangsang sistem saraf otonom dengan hasil akhir berupa inflamasi dan
hiperreaktivitas saluran napas. Hiperreaktivitas saluran napas diduga sebagian didapat
sejak lahir. Berbagai keadaan dapat meningkatkan hiperreaktivitas saluran napas yaitu :
inflamasi saluran napas, kerusakan epitel, mekanisme neurologis, gangguan intrinsik,
dan obstruksi saluran napas.
Penyebab asma pada kehamilan antara lain :
1. Zat-zat alergi contohnya tepung, debu, bulu, dll.
2. Infeksi saluran pernapasan.
3. Pengaruh udara misalnya terlalu dingin, terlalu panas.
4. Factor psikis misalnya kelelahan, stress.

2.3 Patofisiologi

Pemeriksaan yang dilakukan oleh tim ahli asma kalifornia tahun 1983 pada 120
kasus asma pada ibu hamil yang terkontrol baik, tedapat 90% dari penderita yag tidak
pernah mendapat serangan dalam persalinan, 2,2% menderita seragan ringan dan hanya
0,2% yang menderita asma berat yang dapat diatasi dengan obat-obatan intravena.
Pengaruh asma pada ibu hamil dan janin sangat tergantung dari sering dan beratnya
serangan, karena ibu dan janin akan kekurangan oksigen dan hipoksia. Keadaan
hipoksia bila tidak segera diatasi tentu akan berpengaruh pada janin yang sering terjadi

Page | 4
keguguran, persalinan premature dan berat janin tidak sesuai dengan usia kehamilan
atau gangguan perumbuhan janin.
Obstruksi saluran napas pada asma merupakan kombinasi spasme otot bronkus,
penyumbatan mukus, edema dan inflamasi dinding bronkus. Obstruksi bertambah berat
selama ekspirasi karena secara fisioiogis saluran napas menyempit pada fase tersebut.
Hal ini menyebabkan udara distal tempat terjadinya obstruksi terjebak tidak bisa
diekspirasi. Selanjutnya terjadi peningkatan volume residu, kapasitas residu fungsional
(KRF), dan pasien akan bernapas pada volume yang tinggi mendekati kapasitas paru
total (KPT). Keadaan hiperinflasi ini bertujuan agar saluran napas tetap terbuka dan
pertukaran gas berjalan lancar. Untuk mempertahankan hiperinflasi ini diperlukan otot
bantu napas.
Gangguan yang berupa obstruksi saluran napas dapat dinilai secara obyektif
dengan VEP1 (Volume Ekspirasi Paksa detik pertama) atau APE (Arus Puncak
Ekspirasi), sedang penurunan KVP (Kapasitas Vital Paksa) menggambarkan
derajat hiperinflasi paru. Penyempitan saluran napas dapat terjadi, baik pada saluran
napas besar, sedang maupun kecil. Gejala mengi (wheezing) menandakan adanya
penyempitan disaluran napas besar, sedangkan penyempitan pada saluran napas kecil
gejala batuk dan sesak lebih dominan dibanding mengi.
Perubahan fungsi paru pada kehamilan meliputi 20% karena peningkatan
kebutuhan oksigen dan metabolisme ibu, 40% peningkatan ventilasi semenit dan
peningkatan tidal volume. Terdapat sejumlah perubahan fisiologik dan struktural
terhadap fungsi paru selama kehamilan. Hiperemia, hipersekresi dan edema mukosa dan
saluran pernapasan merupakan akibat dari meningkatnya kadar estrogen. Pada uterus
gravid terjadi peningkatan ukuran lingkar perut, diafragma meninggi, dan semakin
dalamnya sudut antar kosta. Wanita hamil mengalami peningkatan tidal volume,
volume residu, serta kapasitas residu fungsional, penurunan volume balik ekspirasi,
sementara kapasitas vital tidak berubah. Hiperventilasi alveolar terjadi bila PCO2
menurun dari 34-40 mmHg menjadi 27-34 mmHg, yang biasanya terlihat pada umur
kehamilan 12 minggu. Seperti yang diperkirakan, frekuensi terjadinya serangan
eksaserbasi asma puncaknya pada umur kehamilan sekitar enam bulan, gejala yang
berat biasanya terjadi antara umur kehamilan 24 minggu - 36 minggu.
Jelasnya patofisiologi asma adalah sebagai berikut:
1. Kontraksi otot pada saluran napas meningkatkan resistensi jalan napas
2. Peningkatan sekresi mukosa dan obstruksi saluran napas
3. Hiperinflasi paru dengan peningkatan volume residu
Page | 5
4. Hiperaktivitas bronkial, yang diakibatkan oleh histamin, prostaglandin
dan leukotrin.
Degranulasi sel mast menyebabkan terjadinya asma dengan cara pelepasan
mediator kimia, yang memicu peningkatan resistensi jalan napas dan spasme bronkus.
Pada kasus kehamilan alkalosis respiratori tidak bisa dipertahankan diawal
berkurangnya ventilasi, dan terjadilah asidosis. Akibat perubahan nilai gas darah arteri
pada kehamilan (penurunan PCO2 dan peningkatan pH). Pasien dengan perubahan nilai
gas darah arteri secara signifikan merupakan faktor risiko terjadinya hipoksemia
maternal, hipoksia janin yang berkelanjutan. dan gagal napas.

2.4 Manifestasi Klinis


1. Tanda dan gejala utama asma adalah bunyi wheezing, dispnea, dan batuk.
2. Penggunaan otot bantu napas saat serangan.
3. Sputum dengan sedikit mucus.
4. Takikardi
5. Berkeringat dingin
6. Serangan berlangsung sekitar 70 menit sampai beberapa jam dan dapat hilang
secara spontan.
7. Ronchi basah.

2.5 Pemeriksaan Penunjang


1. Sinar X dada
Hiperinflasi paru, mendatarnya diagfragma, peningakatan area udara retsosoternal,
hasil normal selama periode remisi.
2. Tes fungsi paru
3. Kapasitas inspirasi
4. GDA
PaO2 turun, PaCo2 meningkat.
5. Sputum
6. EKG dan tes stress.

2.6 Penatalaksanaan Medis

Panatalaksanaan pada penderita asma antara lain :


1. Mencegah adanya strees.

Page | 6
2. Menghindari factor pencetus yang sudah diketahui secara intensif.
3. Mencegah penggunaan aspirin karena dapat menimbulkan serangan.
4. Pada serangan ringan dapat digunakan obat inhalan.
5. Pada keadaan yang lebih berat penderita harus dirawat dan serangan dapat
dihilangkan seperti efinefrin/sc, oksigen, isoproerenol/Inhalasi, aminoplin/infuse,
glukosa,Hidrokortison/ infuse dektrose 10%.

Terapi asma bronchial memiliki dua tujuan :

1. Meredakan serangan yang akut


2. Mencegah atau membatasi serangan yang datang.

Pada semua individu yang menderita asma, allergen yang diketahui harus
dieliminasi dan suhu harus dipertahankan nyaman didalam rumah. Infeksi pernafasan
harus diobati dan inhalasi uap atau kabut diterapkan untuk mengencerkan.lendir. terapi
asma bronchial diberikan. Episode akut membutuhkan steroid, aminofilin, oksigen, dan
koreksi ketidakseimbangan cairan-elektrolit. Tindakan pencegahan khusus untuk
obstetric meliputi hal-hal berikut :

1. Jangan gunakan morfin dalam persalinan karena obat ini dapat menyebabkan
bronkospasme. Meperidin (Demerol) biasanya akan meredakan bronkospasme.
2. Hindari atau batasi penggunaan efedrin dan kortikosteroid (obat-obatan penekan)
pada klien dengan preeklamsi dan eklamsia.
3. Pilih kelahiran per vaginam serta penggunaan anestesi local atau anestesi regional
setiap kali ada kesempatan

2.7 Efek Kehamilan Pada Asma

Efek kehamilan pada asma tidak dapat diprediksi. Perubahan fisiologis, yang
diinduksi oleh kehamilan, tidak membuat wanita hamil lebih rentan terhadap serangan
asma. Asma meningkatkan insiden aborsi dan persalinan premature, tetapi kanin sendiri
tidak terpengaruh. Pada kasus-kasus yang berat, asma dapat mengancam kehidupan
wanita hamil. Pada kebanyakan kasus prognosis baik pada ibu dan janin.

2.8 Komplikasi
1. Hipoksia janin dan ibu.
2. Abortus.

Page | 7
3. Persalinan premature.
4. BBLR.

2.9 WOC ibu hamil dengan asma bronkial

Etiolologi : Zat-zat alergi, infeksi


saluran nafas, lingkungan, faktor psikis

Spasme otot bronkus, penyumbatan mukus,


oedem, inflamasi dinding bronkus

Bronkospasme

ASMA BRONKIAL

Ditandai suara nafas Takikardi Suplai O2 ke Dispneu


tambahan: ronchi, alveoli menurun
wheezing
Palpitasi Penggunaan otot
Hipoksia bantu pernafasan
Ketidakefektifan
Bersihan Jalan Kecemasan Suplai O2 ke janin
Kelemahan /
Nafas menurun
kelelahan

Ansietas
Gangguan perfusi
jaringan Hambatan Mobilitas
Fisik

Page | 8
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
3.1.1 Identitas
1. Tanggal masuk : 05 Januari 2016
2. Ruang/kelas : Graha/A
3. Jam masuk :10.15 WIB
4. No. RM :105151
5. Pengkajian tanggal : 07 Januari 2016
6. Jam : 09.00 WIB

3.1.2 HPMT

Diagnosa Medis : Asma Bronkial

1. Identitas Pasien
a. Pasien
- Nama : Ny. E
- Umur : 23 tahun
- Alamat : Surabaya
- Agama : Islam
- Pekerjaan : IRT
- Suku Bangsa : Jawa

b. Suami
- Nama : Tn. H
- Umur : 27 tahun
- Alamat : Surabaya
- Agama : Islam
- Pekerjaan : PNS
- Suka Bangsa : Jawa

Page | 9
2. Riwayat haid
a. Apakah haid teratur
Haid teratur
b. Siklus berapa
Siklus 30 hari
c. Apakah ada masalah dengan haid
Tidak ada masalah haid
d. HPHT/HPMT
3. Riwayat perkawinan
a. Menikah/belum
Sudah menikah
b. Menikah berapa lama
1 tahun 8 bulan
3.1.3 LEOPOLD

Tujuan : menentukan bagian terbawah janin. Bagian bwah sudah masuk PAP/
belum.

1. Riwayat Kehamilan Lalu


Hamil ke Masalah dalam kehamilan
- -

2. Riwayat Persalinan Lalu


Proses Lama Temapat Penolong Masalah
Partus ke
persalinannya persalinan persalinan persalinan persalinan
- - - - - -

3. Riwayat Nifas Lalu


Masalah nifas yang Masalah bayi yang pernah
Keadaan anak
dialami dialami
- - -

4. Riwayat Keluarga Berencana


a. Jenis kontrasepsi yang pernah digunakan
Belum pernah menggunakan alat kontrasepsi
b. Masalah dengan cara tersebut
Page | 10
Tidak ada
c. Jenis kontrasepsi yang direncanakan setelah persalinan tersebut
Berencana ingin menggunakan IUD
d. Jumlah anak yang direncanakan
Berencana mempunyai 2 anak
5. Riwayat Psikososial
a. Alasan ibu datang ke klinik
Karena merasakan sesak nafas, dan semakin tua usia kehamilan sesak nafas
yang dirasakan semakin parah.
b. Perubahan yang timbul saat kehamilan
Berat badan bertambah, mual, muntah, dan sesak nafas makin parah.
c. Harapan tentang kehamilannya
Ibu mengharapkan kehamilannya baik-baik saja dan bayinya dapat lahir
dengan selamat.
d. Orang yang tinggal bersama
Tinggal bersama suami, dan kedua orang tua suami
e. Orang yang terpenting
Ny. E mengatakan orang yang terpenting adalah suaminya.
f. Dampak yang terjadi pada keluarga dengan kunjungan ke klinik
Tidak ada dampak yang muncul, keluarga mendukung Ny. E untuk rutin
berkunjung ke klinik.
g. Apa suami mau menemani ke klinik
Suami Ny. E selalu menemani jika ada kunjungan klinik
h. Rencana tempat melahirkan
Berencana melahirkan di klinik tersebut
i. Rencana menyusui
Ny. E berencana memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan, dan seterusnya
akan tetap diberikan ASI serta makanan pendamping sampai 2 tahun.
j. Apakah memelihara kucing
Ny. E mengatakan tidak pernah memelihara kucing.

6. Kebutuhan Dasar Khusus


a. Ketidaknyamanan

Page | 11
Ny. E mengatakan tidak nyaman dengan perutnya yang semakin membesar
dan sesak nafasnya semakin parah, tapi dia tetap meresa senang karena
kehamilan ini.
b. Istirahat tidur
Ny. E mengatakan tidurnya sedikit terganggu bila sesak nafasnya sedang
kambuh.

c. Hygiene prenatal
Penurunan kemmapuan perawatan diri, kebersihan buruk.
d. Pergerakan penglihatan
Normal
e. Pendengaran
Normal
f. Cairan
Edama dependen, berkeringat
g. Nutrisi
Nutrisi tetap, walaupun jika sedang kambuh nafsu makan turun.
h. Eliminasi
Normal
i. Oksigenasi
Pernafasan pendek khususnya saat beraktivitas, dada seperti tertekan,
menggunakan oksigen
j. Seksual
Penurunan libido

7. Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan Umum
- Keadaan umum : Lemah
- Kelainan bentuk badan :-
- Kesadaran : Compos mentis
- Tekanan darah : 130/80 mmHg
- Nadi : 105 x/mnt
- Respirasi : 27 x/mnt
- Suhu : 37,50C
b. Pemeriksaan Kebidanan
Page | 12
- Muka
Adanya pernafasan cuping hidung
- Leher
Tidak ada nyeri leher, tidak ada pembesaran tiroid, penggunaan otot-
otot pernafasan

- Dada
Inspeksi : Dinding torak tampak mengembang, diafragma terdorong
ke bawah disebabkan oleh udara dalam paru-paru susah untuk
dikeluarkan karena penyempitan jalan nafas. Frekuensi pernafasan
meningkat dan tampak penggunaan otot-otot tambahan
Palpasi : dada simetris
Perkusi : suara hipersonor, dan diafragma datar dan rendah karena
kontraksi otot polos yang mengakibatkan penyempitan jalan nafas.
Auskultasi : suara vesikuler meningkat disertai dengan ekspirasi lebih
dari 4 detik, dan bunyi pernafasan wheezing karena sekresi mucus
yang kental dalam lumen bronkhiolus dan spasme otot polos
brobkhiolus.
- Perut
Bentuk normal, turgor baik, tidak ada nyeri.
- Ekstremitas
Adanya edema pada ekstremitas bawah
- Genetalia
Normal

8. Pemeriksaan Penunjang
a. Urine
- Protein urin : -
- Glukosa :-
b. Darah
- HB : 12 gr/dl
- HT : 36%
- Golongan :O
c. GDA :
Page | 13
- PO2 : 35 mmhg
- PCO2 : 49 mmhg
d. Feses :-
e. USG :-
f. Papsmear :-

3.2 Analisa Data

No. Data Etiologi Masalah

1. DS : Asma bronchial Ketidakefektifan


- Klien mengatakan susah bersihan jalan nafas
bernafas Bunyi nafas wheezing
- Klien mengatakan jika
bernafas ada bunyinya Ketidakefektifan bersihan
DO : jalan nafas
- Bunyi nafas wheezing
- Bunyi nafas px melemah
- RR 27x/m
2. DS : Asma bronchial Ansietas
- Klien mengatakan cemas
dengan keadaan bayi yang Palpitasi
dikandungnya.
- Klien mengatakan takut tidak Kecemasan
dapat sembuh.
- Klien juga mengatakan Ansietas
khawatir jika bayinya lahir
dengan keadaan abnormal.
DO :
- Klien banyak bertanya
tentang penyakit dan tindakan
yang akan dilakukan pada
klien
- Klien gelisah

Page | 14
- Klien berkeringat dingin
- TD : 130/80 mmHg
- N : 105x/mnt
3. DS: Asma bronchial Hambatan mobilitas
fisik
- Klien mengatakan sesak
nafasnya bertambah parah Dispnue
sejak kehamilannya
bertambah besar.
- Klien mengatakan ketika Penggunaan otot bantu
beraktivitas berat sesak nafas
nafasnya kambuh.
- Klien mengatakan aktivitas Kelemahan
sehari-hari terhambat
- Klien mengatakan merasa Hambatan mobilitas fisik
lemas setelah sesak nafasnya
kambuh.
DO :
- Klien lemas
- Klien dibantu suaminya
ketika beraktivitas
4. DS: Suplai O2 ke alveoli Gangguan perfusi
- klien mengatakan sesak saat menurun jaringan
melakukan aktifitas fisik
- Klien mengatakan mengalami
kesulitan tidur karena merasa Hipoksia
kesulitan bernafas

DO: Suplai O2 ke janin


- Klien merasakan cemas atas menurun
kondisi janinnya
- Klien banyak bertanya apakah Gangguan perfusi jaringan
kondisi janinnya akan baik-
baik saja
- TTV:

3.3 Diagnosa Keperawatan

Page | 15
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan spasme jalan nafas
2. Ansietas berhubungan dengan ancaman pada status kesehatan.
3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan fisik yang tidak bugar.
4. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan hipoksia

3.4 Intervensi Keperawatan

Diagnosa
Tujuan Intervensi Rasional
Keperawatan
Ketidakefektifan Setelah dilkukan tindakan - Kaji status oksigen - Posisi yang
bersihan jalan keperawatan 1x24 jam pasien nyaman dapat
nafas jalan nafas klien sudah - Ajarkan keluarga mengurangi
berhubungan efektif bagaimana cara keluhan pasien.
dengan spasme Kriteria hasil : melakukan suction - Untuk mengetahui
jalan nafas - Pencegahan aspirasi : - Pastikan kebutuhan perubahan tanda-
tindakan personal untuk oral/tracheal suctioning tanda vital pasien.
mencegah masuknya - Berikan oksigen - Batuk efektif dapat
cairan dan partikel padat dengan menggunakn membantu
kedalam paru. nasal untuk mengeluarkan
- Status pernafasan : memfasilitasi suction secret.
kepatenan jalan nafas : nasotracheal - Kolaborasi dengan
jalan nafas - Gunakan alat yang tim medis dapat
trakeobronkeal, steril setiap melakukan mempercepat
terbukaan dan bersih tindakan proses
untuk pertukaran gas. - Posisikan pasien penyembuhan.
- Status pernafasan : senyaman mungkin.
ventilasi : pergerakan - Ajarkan pasien batuk
udara masuk dan keluar efektif.
paru. - Observasi tanda-tanda
- TD 120/80 mmHg vital pasien.
- N 80-100 x/mnt - Kolaborasi dengan
- RR 16-24 x/mnt dokter untuk
- S 36,5-37,50C pemberian obat.

Page | 16
Ansietas Setelah diberikan tindakan - Kaji TTV - Mengurangi keluhan
berhubungan keperawatan selama - Instruksikan klien - Memberikan tehnik
dengan ancaman 1x24 jam perasaan menggunakan teknik untuk mengurangi
pada status tidak nyaman atau relaksasi ansietas
kesehatan. kekhawatiran dapat - Temani klien untuk - Posisi yang nyaman
teratasi. memberikan keamanan dapat mengurangi
dan mengurangi takut. keluhan
Kriteria Hasil : - Jelaskan semua - Menurunkan
- Klien mampu prosedur dan apa yang ansietas pasien
mengidentifikasi dan dirasakan selama
mengungkapkan gejala prosedur - Memberikan
cemas - Dorong klien untuk motivasi pada pasien
- Mengidentifikasi, mengungkapkan
mengungkapkan, dan perasaan, ketakutan,
menunjukkan teknik dan persepsinya.
untuk mengontrol - Observasi tingkat
cemas kecemasan klien
- Postur tubuh, ekspresi - Kolaborasikan dengan
wajah, bahasa tubuh dokter untuk
dan tingkat aktivitas pemberian obat untuk
menunjukkan mengurangi
berkurangnya kecemasan.
kecemasan.
- TD 120/80 mmHg
- N 80-100 x/mnt
- RR 16-24 x/mnt
- S 36,5-37,50C

Hambatan Setelah diberikan tindakan - Kaji tingkat - Memaksimalkan


mobilitas fisik keperawatan selama 2x24 kemampuan klien ekspansi dada
berhubungan jam keterbatasan pada dalam mobilisasi. - Dapat
dengan fisik pergerakan fisik tubuh - Ajarkan klien untuk mempertahankan
yang tidak dapat berkurang. menggunakan alat aktivitas

Page | 17
bugar. Kriteria Hasil : bantu saat berjalan dan - Dengan tehnik
- Klien meningkat dalam cegah terhadap cedera. dapat membantu
aktivitas fisik. - Ajarkan klien tentang mempertahankana
- Mengerti tujuan dari aktivitas hidup sehari aktivitas
peningkatan mobilitas hari yang dapat - Menghindarkan
fisik. dikerjakan dari aktivitas yang
- Memverbalisasikan - Instruksikan klien berlebihan
perasaan dalam untuk latihan selama
meningkatkan kekuatan kurang lebih 30 menit
dan kemampuan dan selingi dengan
berpindah istirahat dengan
- Memperagakan berbaring selama 15
penggunaan alat bantu menit
untuk mobilisasi - Dampingi dan bantu
(walker) klien saat mobilisasi
- TD 120/80 mmHg dan bantu memenuhi
- N 80-100 x/mnt ADLs klien.
- RR 16-24 x/mnt - Rencanakan tentang
- S 36,5-37,50C pemberian program
latihan
- Bantu klien jika
diperlukan latihan
- Peningkatan latihan
fisik secara adekuat :
dorong latihan dan
hindari tekanan pada
tulang seperti berjalan
- Hindari latihan fleksi,
membungkuk tiba
tiba,dan pengangkatan
beban berat.
- Observasi TTV
sebelum dan sesudah
latihan dan lihat respon

Page | 18
klien.
- Konsultasikan dengan
ahli terapi fisik tentang
pemberian latihan yang
adekuat.

Resiko hipoksia Setelah dilakukan tindakan - Kaji tanda-tanda vital - Mengetahui tingkat
janin keperawatan 1x6 jam janin ibu kesehatan ibu dan
berhubungan tidak lagi beresiko - Observasi kondisi ibu janin
dengan suplai terjadinya hipoksia janin dan janin. - Mengurangi gejala
oksigen - Ringankan gejala- agar tidak jatuh
inadekuat Kriteria Hasil : gejala yang timbul. pada kondisi yang
- Tidak terjadi gejala- - Jaga kondisi ibu tetap lebih buruk
gejala asma stabil. - Mempertahankan
- Menghindarkan factor - Cegah adanya kesehatan ibu
pencetus terjadinya serangan asma. - Menghindarkan
asma - Hindari factor pencetus dari terjadinya
- TD 120/80 mmHg serangan asma. asma
- N 80-100 x/mnt - Menjauhkan factor
- RR 16-24 x/mnt pencetus serangan
- S 36,5-37,50C

3.5 Implementasi

No. Implementasi Ttd

1. - Mengkaji status oksigen pasien


- Mengajarkan keluarga bagaimana cara melakukan
suction
- Memastikan kebutuhan oral/tracheal suctioning
- Memberikan oksigen dengan menggunakn nasal
untuk memfasilitasi suction nasotracheal
- Menggunakan alat yang steril setiap melakukan

Page | 19
tindakan
- Memberikan posisi pasien senyaman mungkin.
- Mengajarkan pasien batuk efektif.
- Melakukan observasi tanda-tanda vital pasien.
- Memberikan obat yang sudah diinstruksikan oleh
dokter.
2. - Mengkaji TTV
- Menginstruksikan klien menggunakan teknik
relaksasi
- Menemani klien untuk memberikan keamanan dan
mengurangi takut.
- Menjelaskan semua prosedur dan apa yang
dirasakan selama prosedur
- Mendorong klien untuk mengungkapkan perasaan,
ketakutan, dan persepsinya.
- Mengobservasi tingkat kecemasan klien
- Memberikan obat yang sudah diindikasikan oleh
dokter untuk mengurangi kecemasan

3. - Mengkaji tingkat kemampuan klien dalam


mobilisasi.
- Mengajarkan klien untuk menggunakan alat bantu
saat berjalan dan cegah terhadap cedera.
- Mengajarkan klien tentang aktivitas hidup sehari
hari yang dapat dikerjakan
- Menginstruksikan klien untuk latihan selama
kurang lebih 30 menit dan selingi dengan istirahat
dengan berbaring selama 15 menit
- Mendampingi dan bantu klien saat mobilisasi dan
bantu memenuhi ADLs klien.
- Merencanakan tentang pemberian program latihan
- Membantu klien jika diperlukan latihan
- Meningkatkan latihan fisik secara adekuat :
Mendorong latihan dan menghindari tekanan pada

Page | 20
tulang seperti berjalan
- Menghindari latihan fleksi, membungkuk tiba
tiba,dan mengangkat beban berat.
- Mengobservasi TTV sebelum dan sesudah latihan
dan lihat respon klien.
- Melakukan latihan yang sudah diindikasikan
secara adekuat.

4. - Mengkaji tanda-tanda vital ibu


- Meringankan gejala-gejala yang timbul.
- Menjaga kondisi ibu tetap stabil.
- Mencegah adanya serangan asma.
- Menghindari factor pencetus serangan asma.
- Melakukan observasi kondisi ibu dan janin.

Page | 21
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Asma bronchial merupakan penyakit pernapasan akut,yang disebabkan oleh
allergen, oleh perubahan mencolok pada suhu lingkungan atau oleh ketegangan emosi.
Pada banyak kasus, penyebab actual mungkin diketahui. Suatu riwayat alergi dalam
keluarga dimiliki oleh sekitar 50 % individu dengan asma.

Sampai saat ini patogenesis maupun etiologi asma belum diketahui dengan
pasti. Berbagai teori tentang patogenesis telah diajukan, tetapi yang paling disepakati
oleh para ahli adalah yang berdasarkan gangguan saraf autonom dan sistem imun.
Pada semua individu yang menderita asma, allergen yang diketahui harus
dieliminasi dan suhu harus dipertahankan nyaman didalam rumah. Infeksi pernafasan
harus diobati dan inhalasi uap atau kabut diterapkan untuk mengencerkan.lendir. terapi
asma bronchial diberikan. Episode akut membutuhkan steroid, aminofilin, oksigen, dan
koreksi ketidakseimbangan cairan-elektrolit

4.2 Saran

1. Diharapkan perawat serta tenaga kesehatan lainnya mampu memahami dan mendalami
tentang penyakit meniere.
2. Perawat serta tenaga kesehatan lainnya mampu meminimalkan faktor resiko dari penyakit
demi mempertahankan dan meningkatkan status derajat kesehatan.
3. Mahasiswa dengan latar belakang medis sebagai calon tenaga kesehatan mampu
menguasai baik secara teori maupun skill untuk dapat diterapkan pada masyarakat secara
menyeluruh.

Page | 22
DAFTAR PUSTAKA

Bobak, dkk.2014.Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi : 4.Jakarta : EGC

Noer, Sjaifoellah. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid Kesatu. Jakarta : Balai

Penerbit FKUI

Purwaningsih, Wahyu dan Siti fatmawati.2010.Asuhan Keperawatan Maternitas.Yogyakarta

: Nuha Media

Wilkinson, Judith M dan Nancy R. Ahern.2011.Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 9.

Jakarta : EGC.

Page | 23