Vous êtes sur la page 1sur 4

dr. Suparyanto, M.

Kes
Weblog dr. Suparyanto, M.Kes berisi tentang materi kuliah untuk mahasiswa STIKES
program studi S1 Keperawatan, D3 Keperawatan dan D3 Kebidanan. Materi hanya
merupakan resume, kewajiban bagi mahasiswa untuk membaca lebih lanjut pada referensi
yang sesuai. Banyak kekurangan dalam penulisan, untuk itu saran dan kritik untuk perbaikan
penulisan sangat diharapkan (klik komentar).

Blog ini
Di-link Dari Sini
Blog Rekomended
Blog ini

Di-link Dari Sini

Blog Rekomended

Sabtu, 10 Juli 2010


KONSEP MASA NIFAS (PUERPERIUM)

Dr. Suparyanto, M.Kes

KONSEP MASA NIFAS

Definisi Masa Nifas

Masa nifas (Puerperium) adalah mulai partus selesai, dan berakhir setelah kira-kira 6
minggu. Akan tetapi, seluruh alat genetalia baru pulih kembali seperti sebelum ada
kehamilan dalam waktu 3 bulan. (Prawirohardjo, 2005)
Masa nifas (Puerperium) adalah periode dimana organ-organ reproduksi kembali
kepada keadaan sebelum hamil, lama masa nifas ini 6 minggu. (Farrer, 1999)

Pembagian Nifas (Nifas dibagi dalam 3 periode) :

1. Puerperium Dini: Yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan
berjalan-jalan. Dalam agama islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40
minggu.
2. Puerperium Intermedial: Yaitu kepulihan yang menyeluruh alat-alat genetalia yang
lamanya 6-8 minggu.
3. Remote Puerperium: Yaitu waktu persalinan mempunyai komplikasi waktu untuk
sempurna bisa berminggu-minggu, atau bulanan atau tahunan.

Perubahan-perubahan Fisiologi Masa Nifas

1. Perubahan fisik
2. Involusi uterus dan pengeluaran lokia
3. Perubahan sistem tubuh lainnya
4. Perubahan psikis (Sarwono, 2002)

Perawatan Pasca Persalinan

Mobilisasi

Ibu yang melahirkan secara normal bisa melakukan mobilisasi 6 jam setelah
melahirkan dan 8 jam setelah melahirka untuk ibu yang menjalani operasi cesar
kemudian ibu dianjurkan melaksanakan mobilisasi dini, misalnya ibu miring kanan-
miring kiri, turun dari tempat tidur, belajar duduk, dan berjalan sendiri. Pada hari ke 2
diperbolehkan duduk, hari ke3 diperbolehkan jalan-jalan, dan hari ke 4 atau ke 5
sudah diperbolehkan pulang. Mobilisasi ini bertujuan agar sirkulasi darah menjadi
lancar, menghindari pembengkakan, dan mencegah trombosis.
Mobilisasi diatas mempunyai variasi, tergantung pada komplikasi persalinan, nifas
dan sembuhnya luka-luka. (Sinsin, 2009).
Mobilisasi dini sangat penting dalam mencegah trombosis vena. Setelah proses
persalinan yang normal, jika gerakannya tidak terhalang oleh pemasangan infus, atau
kateter dan tanda vitalnya juga memuaskan, biasanya ibu diperbolehkan untuk mandi
dan pergi ke WC dengan dibantu satu atau 2 jam setelah melahirkan secara normal.
Sebelum waktu ini, ia harus diminta untuk melakukan latihan menarik napas yang
dalam serta latihan tungkai yang sederhana dan harus duduk serta mengayunkan
tungkainya dari tepi ranjang. Pasien sectio caesarea biasanya mulai mobilisasi dini
2436 jam sesudah melahirkan. Jika pasien menjalani analgesia epidural, pemulihan
sensibilitas yang total harus dibuktikan dahulu sebelum mobilisasi dimulai.
(Farrer,1999)

Diet

Diet untuk ibu masa nifas harus banyak mengandung protein, besi, serta kalsium,
vitamin serta serat makanan dan harus mencakup 3000 ml cairan yang 1000 ml
diantaranya berupa susu. Asupan kalori per hari harus di tingkatkan sampai 2700
kalori (11.500 kilojoule). (Farrer,1999)

Miksi

Hendaknya kencing dapat dilakukan sendiri secepatnya. Bila kandung kemih penuh
wanita sulit kencing. Sebaiknya dilakukan kateterisasi.
Stres inkontinensia dapat terjadi hanya sementara dan akan menghilang setelah tonus
otot dasar panggulnya membaik.

Defikasi

Buang air besar harus dilakukan 34 kali setelah melahirkan

Perawatan payudara

Perawatan payudara telah dimulai sejak wanita hamil supaya putting susu lemas, tidak
keras dan kering sebagai persiapan untuk mengurus bayinya.

Perubahan-perubahan terjadi pada kelenjar payudara :

Poliferasi jaringan pada kelenjar-kelenjar alveoli dan jaringan lemak bertambah


Keluar cairan susu jolog dari duktus laktiferus disebut kolostrum berwarna kuning-
putih susu.
Hipervaskularisasi pada permukaan dan bagian dalam dimana vena-vena berdilatasi
sehingga tampak jelas.
Setelah persalinan pengaruh supresi estrogen dan progesteron hilang, maka timbul
pengaruh hormon laktogenik (LH) atau prolaktin yang akan merangsang air susu.

Cuti hamil dan bersalin

Menurut undang-undang bagi wanita pekerja berhak mengambil cuti hamil dan
bersalin selama 3 bulan, yaitu 1 bulan sebelum bersalin ditambah 2 bulan setelah
bersalin.

Pemeriksaan pasca persalinan


Pemeriksaan post natal antara lain meliputi :

1. Pemeriksaan umum : TTV, keluhan dan sebagainya.


2. Keadaan umum : kesadaran, selera makan dan lain-lain
3. Payudara, ASI, putting susu
4. Dinding perut, perineum, kandung kemih dan rektum
5. Sekret yang keluar misalnya lokia, flour albus
6. Keadaan alat-alat kandungan

Nasehat untuk ibu post natal

Sebaiknya bayi segera disusui


Untuk kesehatan ibu, bayi dan keluarga sebaiknya melakukan KB untuk mengatur
jarak kelahiran berikutnya
Bawalah bayi anda untuk memperoleh imunisasi. (Mochtar, 1998)
Tujuan Asuhan Masa Nifas

1. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologi.


2. Melakukan skrining yang komperhensif, mendeteksi masalah, mengobati atau
merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.
3. Memberikan pedidikan kesehatan tentang kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana,
pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat.
4. memberikan pelayanan keluarga berencana. (Mochtar, 1998).

DAFTAR PUSTAKA

1. Alimul, A. (2007), Metode Penelitian Penulisan Ilmiah, Jakarta: Salemba Medika.


2. Alimul, H. A, dan Musrifatul, U. (2004), Buku Saku Pratikan Kebutuhan Dasar
Manusia, Jakarta: EGC.
3. Arikunto, S. (2006), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: PT
Rineka Cipta.
4. Cambridge, C. L. (1998) Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia dan System Reproduksi,
Jakarta: EGC.
5. Desiyati, D. (2008) Fisiologi Nifas, from Http://we-littlefairy. blogspot.com
6. Fizari, S. (2009) Perubahan Fisiologi pada Masa Nifas, From
Http://sekuracity/blogspot.com
7. Hincliff, S. (1999) Kamus Keperawatan, Jakarta: EGC.
8. Ibrahim, C.S. (1996) Perawatan Kebidanan, Jakarta: Bhratara.
9. Manuaba, I. B. G. (1998) Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana Untuk Pendidikan Bidan, Jakarta: EGC.
10. Mochtar, R. (1998) Sinopsis Obstetric, Jakarta: EGC.
11. Notoadmodjo, S. (2005) Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta: PT. Rineka Cipta.
12. Nursalam, (2003) Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan,
Jakarta: Salemba Medika.
13. Nursalam, dan Pariani, S. (2001) Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan,
CV, Info Medika.
14. Prawirohardjo, S. (2002) Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal, Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
15. ___________, (2002) Ilmu Kebidanan, Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
16. Pusdiknakes, WHO, JHPIEGO. (2001) Post Partum, Jakarta: MNH
17. Ramali, A. (2003) Kamus Kedokteran, Jakarta: Djambatan.
18. Rambey, R. (2008) Tetap Sehat Setelah Bersalin, from Http:// nursingwear/wordpress.
19. Roper, N. (2002) Prinsip-Prinsip Keperawatan, Yogyakarta: Yayasan Essentia
Medika.
20. Sinsin, L. (2009). Masa Kehamilan dan Persalinan. PT. Elex Media Komputindo,
from Http:// www.elexmedia.co.id, 118-119