Vous êtes sur la page 1sur 8

Sabtu, 10 Juli 2010

KONSEP MOBILISASI DINI POST PARTUS

Dr. Suparyanto, M.Kes

KONSEP MOBILISASI DINI POST PARTUS

Definisi Mobilisasi Post Partus

Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk berjalan bangkit berdiri dan kembali
ke tempat tidur, kursi, kloset duduk, dan sebagianya disamping kemampuan
mengerakkan ekstermitas atas. (Hincliff, 1999)
Mobilisasi dini menurut Carpenito tahun 2000 adalah suatu upaya mempertahankan
kemandirian sedini mungkin dengan cara membimbing penderita untuk
mempertahankan fungsi fisiologis.

Bentuk Mobilisasi Dini

1. Berdiri
2. Duduk
3. Berpindah dari satu kelompok lain, seperti : a. Dari tempat tidur ke kursi; b. Dari kursi
biasa ke kursi berlubang; c. Dari kursi roda ke kloset duduk; d. Dari lantai ke kursi
atau tempat tidur; e. Bangkit dari duduk; f. Berjalan : dengan bantuan: (Penyangga
kaki dari logam, Sepatu khusus, Bidai, Kaki palsu); g. Menggerakkan tubuh, bahu,
tangan dan lengan untuk berbagai macam gerakan, seperti: (1). Menggerakkan dan
melepaskan pakaian; 2). Menjaga kebersihan pribadi; 3). Mengerjakan pekerjaan
rumah tangga; h. Melakukan gerakan badan; i. Mobilisasi dengan bantuan alat
mekanik; j. Kursi roda : di dorong oleh orang lain di jalanan sendiri.) (Roper, 2002)

Bentuk Lain Mobilisasi Dini


1. Membantu pasien duduk di tempat tidur
Tindakan ini merupakan salah satu cara mempertahankan kemampuan mobilitas pasien :

Memenuhi kebutuhan mobilitas


Mempertahankan toleransi terhadap aktivitas
Mempertahankan kenyamanan

Bentuknya meliputi :

Mengatur posisi pasien di tempat tidur

1. Posisi fowler

Posisi dengan tubuh setengah duduk atau duduk


Tujuan :

1. Mempertahankan kenyamanan
2. Memfasilitas fungsi pernafasan

2. Posisi SIM

Pada posisi ini pasien berbaring miring, baik miring ke kanan atau miring ke kiri.

Tujuan :

1. Memberikan kenyamanan
2. Melakukan hukna
3. Memberikan obat per anus (supositorial)
4. Melakukan pemeriksaan daerah anus

3. Posisi trendelenburg

Posisi ini menempatkan pasien di tempat tidur dengan bagian kepala lebih rendah dari
bagian kaki.

Tujuan :

Memperlancar peredaran darahke otak

4. Posisi Dorsal Recumbent

Pada posisi ini, pasien ditempatkan pada posisi terlentang dengan kedua lutut fleksi di
atas tempat tidur.

Tujuan :

1. Perawatan daerah genitalia


2. Pemeriksaan genetalia
3. Posisi pada proses persalinan

5. Posisi Litotomi

Pada posisi ini, pasien ditempatkan pada posisi terlentang dengan mengangkat kedua
kaki dan ditarik ke atas abdomen
Tujuan :

1. Pemeriksaan alat genetalia


2. Proses persalinan
3. Pemasangan alat kontrasepsi

Posisi Genu Pektoral (Knee chest)

Pada posisi genu pektoral, pasien menungging dengan kedua kaki ditekuk dan dada
menempel pada bagian alas tempat tidur.

Tujuan :

Pemeriksaan daerah rektum dan sigmoid

(2). Memindahkan pasien dari tempat tidur satu ke kursi roda

Aktivitas ini dilakukan pada pasien yang membutuhkan bantuan untuk berpindah dari
tempat tidur ke kursi roda.

Tujuan :

1. Melatih otot skelet mencegah kontraktur


2. Mempertahankan kenyamanan pasien
3. Mempertahankan kontrol diri pasien
4. Memindahkan pasien untuk pemeriksaan (diagnosa, fisik)

(3). Memindahkan pasien oleh dua atau tiga perawat

Pada tindakan ini pemindahan pasien dilakukan oleh dua sampai tiga orang perawat.
Pemindahan ini dapat dari tempat tidur atau ke brankart atau dari satu tempat tidur ke
tempat tidur yang lain. Pemindahan ini biasanya dilakukan pada pasien yang tidak
dapat atau tidak boleh melakukan pemindahan sendiri. Hal yang perlu disiapkan sama
dengan pemindahan pasien ke tempat tidur ke kursi roda.

Tujuan :

Memindahkan pasien dari rungan satu ke ruangan yang lain untuk tujuan tertentu
(pemeriksaan diagnostik atau pindah ruangan)

(4). Membantu pasien berjalan


Seperti halnya tindakan lain, membantu pasien berjalan memerlukan persiapan.
Perawat mengkaji beberapa toleransi pasien terhadap aktivitas, kekuatan, adanya
nyeri dan keseimbangan pasien untuk menentukan jumlah bantuan yang diperlukan
paien.
Aktivitas ini memungkinkan memerlukan alat seperti kruk dan tongkat. Namun ada
prinsipnya, perawat dapat melakukan aktivitas ini meskipun tanpa menggunakan alat.

Tujuan :

1. Memulihkan kembali toleransi aktivitas


2. Mencegah terjadinya kontraktur sendi

Tabel 2.1 Derajat Kekuatan Otot

(4). Manfaat Mobilisasi Dini

1. Melancarkan pengeluaran lokia, mengurangi infeksi peurperium


2. Mempercepat involusi alat kandungan
3. Melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan
4. Meningkatkan kelancaran peredaran darah, sehingga mempercepat fungsi ASI dan
pengeluaran sisa metabolisme. (Manuaba, 1998)

Menurut Rambey, 2008 manfaat mobilisasi dini adalah :

1. Melancarkan sirkulasi darah


2. Membantu proses pemulihan
3. Mencegah terjadinya infeksi yang timbul karena gangguan pembuluh darah balik serta
menjaga pedarahan lebih lanjut

Menurut Fizari, 2009 manfaat lain dari mobilisasi dini adalah:


1. Ibu merasa lebih sehat dan kuat
2. Faal usus dan kandung kencing lebih baik
3. Kesempatan yang baik untuk mengajari merawat atau memelihara anaknya

(5). Macam Mobilisasi Dini

Mobilisasi penuh

Yaitu seluruh anggota dapat melakukan mobilisasi secara normal. Mobilisasi penuh
mempunyai peranan penting dalam menjaga kesehatan baik secara fisiologis maupun
psikologis.

Mobilisasi sebagian

Yaitu sebagian dari anggota badan yang dapat melakukan mobilisasi secara normal.

Terjadi pada pasien dengan gangguan saraf motorik dan sensorik, terdiri dari :

1. Mobilisasi sebagian dengan temporer, disebabkan oleh trauma yang reversibel


2. Pada sistem muskuloskeletal
3. Mobilisasi sebagian permanen disebabkan karena rusaknya sistem saraf yang
reversibel (hemiplagi karena kecelakaan).

(6). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Gerak

Sendi

Yaitu pertemuan antara dua atau lebih ujung tulang

Tulang

Merupakan jaringan hidup yang mempulnyai banyak suplai darah.Tulang dapat


tumbuh dan memperbaiki dirinya. Fungsi tulang sebagai tuas untuk menggerakkan
otot-otot dan menyimpan kalsium dan fosfat, mengeluarkannya bila dibutuhkan.

Tendon

Merupakan jaringan ikat yang kuat, berwarna putih dan tidak elastis untuk melekatkan
otot pada tulang.

Ligamen

Merupakan pita jaringan fibrosa yang kuat dan berfungsi untuk mengikat serta
menyatukan tulang atau bagian lain untuk menyangga suatu organ.
Otot
Otot dibagi menjadi 3, yaitu:

1. Otot skeletal yaitu otot yang ditemukan pada tulang rawan atau kulit. Dikendalikan
melalui sistem syaraf pusat, serat-seratnya memperlihatkan garis-garis melintang.
2. Otot polos ditemukan pada dinding visera dan pembuluh darah. Dikendalikan melalui
sistem syaraf otonom, serat-seratnya tidak memperlihatkan garis melintang.
3. Otot jantung yang hanya ditemukan di jantung

(6). Sistem syaraf

Jaringan syaraf dibentuk dari neuron yang sel-selnya terkadang mengalami proses
yang sangat panjang dikhususkan untuk penghantar implus syaraf yang menyokong
dan memberi makan neuron-neuron.
Neuron adalah unit dasar sistem persyarafan. (Cambridge Comunication Limited,
1998)

(7). Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Mobilisasi Dini

1. Penyakit tertentu dan cidera

Penyakit-penyakit tertentu dan cidera berpengaruh terhadap mobilitas misalnya


penderita multipe aklerosis dan cidera pada urat saraf tulang belakang. Demikian juga
pada pasien post operasi atau yang mengalami nyeri, cenderung membatasi gerakan.

2. Budaya

Beberapa faktor budaya juga mempunyai pengaruh terhadap aktivitas. Misalnya di


Jawa berpenampilan halus dan merasa tabu bila mengerjakan aktivitas berat dan pria
cenderung melakukan aktivitas lebih berat.

3. Energi

Tingkat energi bervariasi pada setiap individu. Terkadang seseorang membatasi


aktivitas tanpa mengetahui penyebabnya. Selain itu tingkat usia juga berpengaruh
terhadap aktivitas. Misalnya orang pada usia pertengahan cenderung mengalami
penurunan aktivitas yang berlanjut sampai usia tua.

(8). Resiko Bila Tidak Melakukan Mobilisasi

Berbagai masalah dapat terjadi bila tidak melakukan mobilisasi dini, misalnya :

Gangguan pernafasan yaitu sekret akan terakumulasi pada saluran pernafasan yang
akan berakibat klien sulit batuk dan mengalami gangguan bernafas.
Pada sistem kardiovaskuler terjadi hipotensi ortostatik yang disebabkan oleh sistem
syaraf otonom tidak dapat menjaga keseimbangan suplai darah sewaktu berdiri dari
berbagai dalam waktu yang lama.
Pada saluran perkemihan yang mungkin terjadi adalah statis urin yang disebabkan
karena pasien pada posisi berbaring tidak dapat mengosongkan kandung kemih secara
sempurna.
Pada gastrointestinal terjadi anoreksia diare atau konstipasi. Anoreksia disebabkan
oleh adanya gangguan katabolisme yang mengakibatkan ketidak seimbangan nitrogen
karena adanya kelemahan otot serta kemunduran reflek deteksi, maka pasien dapat
mengalami konstipasi.

(9). Jenis Gerakan Sendi

Fleksi: Yaitu tindakan menekuk dua ujung sesuatu alat saling mendekati atau keadaan
dua ujung sesuatu alat yang tertekuk berekatan.
Ekstensi: Yaitu gerakan yang membesarkan sudut antara dua ujung tulang yang
bersendi. Gerakan yang menjauhkan ujung-ujung alat atau bagian tubuh.
Hiperektensi yaitu ekstensi lebih lanjut.
Abduksi: Yaitu gerakan anggota badan atau mata kesisi menjahui sumbu tengah tubuh
Rotasi: Yaitu gerakan memutari pusat axis dari tulang
Eversi: Yaitu tindakan memutarkan telapak kaki kebagian luar
Inversi: Yaitu putar bagian telapak kaki kebagian dalam membentuk sudut dari
persendian
Pronasi: Yaitu pemutaran lengan bawah ke dalam
Supinasi: Yaitu gerakan memutar lengan bawah ke luar. (Hincliff, 1999).

DAFTAR PUSTAKA

1. Alimul, A. (2007), Metode Penelitian Penulisan Ilmiah, Jakarta: Salemba Medika.


2. Alimul, H. A, dan Musrifatul, U. (2004), Buku Saku Pratikan Kebutuhan Dasar
Manusia, Jakarta: EGC.
3. Arikunto, S. (2006), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: PT
Rineka Cipta.
4. Cambridge, C. L. (1998) Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia dan System Reproduksi,
Jakarta: EGC.
5. Desiyati, D. (2008) Fisiologi Nifas, from Http://we-littlefairy. blogspot.com
6. Fizari, S. (2009) Perubahan Fisiologi pada Masa Nifas, From
Http://sekuracity/blogspot.com
7. Hincliff, S. (1999) Kamus Keperawatan, Jakarta: EGC.
8. Ibrahim, C.S. (1996) Perawatan Kebidanan, Jakarta: Bhratara.
9. Manuaba, I. B. G. (1998) Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana Untuk Pendidikan Bidan, Jakarta: EGC.
10. Mochtar, R. (1998) Sinopsis Obstetric, Jakarta: EGC.
11. Notoadmodjo, S. (2005) Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta: PT. Rineka Cipta.
12. Nursalam, (2003) Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan,
Jakarta: Salemba Medika.
13. Nursalam, dan Pariani, S. (2001) Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan,
CV, Info Medika.
14. Prawirohardjo, S. (2002) Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal, Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
15. ___________, (2002) Ilmu Kebidanan, Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
16. Pusdiknakes, WHO, JHPIEGO. (2001) Post Partum, Jakarta: MNH
17. Ramali, A. (2003) Kamus Kedokteran, Jakarta: Djambatan.
18. Rambey, R. (2008) Tetap Sehat Setelah Bersalin, from Http:// nursingwear/wordpress.
19. Roper, N. (2002) Prinsip-Prinsip Keperawatan, Yogyakarta: Yayasan Essentia
Medika.
20. Sinsin, L. (2009). Masa Kehamilan dan Persalinan. PT. Elex Media Komputindo,
from Http:// www.elexmedia.co.id, 118-119.