Vous êtes sur la page 1sur 3

Nama : Ayu Puspita Sari

No : 05
Kelas : IX A
Relakan Semua

Di luar masih hujan. Aku hanya berdiam diri di dalam kamar, terbaring lemah dengan
selimut tebal yang nyaris menutupi seluruh tubuh.
Sudah dua hari aku tak masuk ke sekolah, karena demam yang menyerangku. Dan
beberapa menit yang lalu, dokter baru saja pulang setelah memeriksa keadaanku. Katanya
tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku akan cepat sembuh jika mau meminum obat yang
telah dokter beri tadi. Tapi, itulah masalah utamanya; aku tak suka meminum obat. Mencium
aromanya dari jarak jauh saja, sudah membuatku benar-benar mual.
Aku langsung menoleh, begitu mendengar suara seseorang memasuki kamar.
Ternyata Stella, gadis yang sudah menjadi tetangga sekaligus sahabatku sejak lima tahun
yang lalu.
Gimana Bas keadaan kamu? Dia bertanya, duduk di sampingku.
Dengan suara lemah, aku menjawab. Masih kayak kemarin, Stel.
Yah. Cepat sembuh dong, Bas. Aku khawatir banget kalau kamu kayak gini.
Tentu saja aku tersenyum mendengar pernyataannya. Dia bilang, dia
mengkhawatirkanku.
Sakit itu enak tau. Kalau aku minta sesuatu, pasti langsung dikasih sama mama.
Seketika itu dia langsung mencubit lenganku. Ih!! Ya sudah sini! Bagi sakitnya.
Jangan pelit. Tukasnya.
Eh, jangan! Kamu nggak boleh sakit!
Kamu saja boleh, masa aku nggak boleh. Biar kita sama-sama ngerasain sakit, kan?
Nggak boleh pokoknya.
Dia tidak tahu betapa aku sangat mengkhawatirkannya kalau sampai dia jatuh sakit.
Dulu saja, waktu dia terbaring lemah karena terkena virus influenza, aku benar-benar
khawatir. Ingin rasanya menggantikan posisi dia saat itu juga.
Minggu depan aku mau pergi ke Bandung, ke rumah kakek. Mau ikut nggak? Dia
memulai percakapan lagi.
Mau! Aku berseru semangat.
iya. Nanti kita pergi bareng-bareng. Syaratnya, kamu harus sembuh dulu. Oke? Dia
tersenyum. Bahkan senyumnya selalu mampu mengubah suasana hatiku.
Siap, Kapten. Aku nyengir.
Sejak pertama kali Stella pindah rumah di daerahku, hubungan kami memang sangat
dekat. Bahkan kelewat dekat dari sekedar sahabat. Aku yang menjadi pendengar terbaiknya
jika dia sedih. Dia yang menjadi motivatorku jika aku merasa kurang semangat.
Beberapa hari kemudian, Aku sudah sembuh. Dan bisa menjalani aktivitas lagi seperti
hari biasanya.
Malam itu Stella datang ke rumah, dia meminta aku supaya pergi dengannya ke taman
dekat kota. Katanya ada yang ingin dia tunjukkan.
Cukup lama aku dan Stella berjalan menyusuri taman. Aku sama sekali tidak tahu dia
sedang mencari apa? Tapi kelihatannya, Stella sedang mencari sesuatu yang amat berharga.
Dan sepertinya, sesuatu itulah yang akan dia tunjukkan kepadaku.
Itu dia! Stella berseru senang. Langsung menarik pergelanganku ke arah bangku
panjang yang telah diduduki oleh seorang lelaki. Tentu saja aku kenal lelaki itu, dia adalah
Aldi. Lelaki yang kutahu satu kelas dengan Stella.
Hai. Aldi langsung bangkit dari duduknya. Tersenyum padaku, dan Stella.
Maaf ya sudah bikin kamu nunggu. Kata Stella untuk Aldi.
Ok. Nggak papa kok Aldi membalas.
Jadi, kalian janjian buat dateng ke sini? Tanyaku. Menatap Aldi dan Stella
bergantian.
Stella langsung tersenyum. Pipinya kulihat merona.
Sebenarnya aku malu buat ngasih tahu kamu, Bas Stella menjeda ucapannya. Tapi,
karena kamu adalah sahabat terbaikku. Jadi, kayaknya kamu perlu tahu, bahwa aku sama
Aldi udah jadian seminggu yang lalu.
Aku langsung diam. Mencerna baik-baik ucapan Stella barusan. Sementara di lain
sisi, berbagai macam tak nyaman rasa langsung bermain di dalam hatiku. Perih. Sesak
rasanya.
Jadi, ini yang ingin Stella tunjukkan? Dia memberitahuku tentang kekasihnya.
Udah satu minggu? Berarti udah tujuh hari dong. Wah, kalau gitu, pajak jadiannya
mesti tujuh kali lipat nih. Aku senyum. Berpura-pura senang karena akan mendapat traktiran
dari Stella dan Aldi. Kurasa mereka tidak perlu tahu, bahwa sebenarnya aku sakit hati
mengetahui kabar ini.
Stella dan Aldi tertawa bersama. Kalau masalah itu, tenang aja. Besok kita mau pergi
ke Bandung, kan? Nanti semua keperluan kamu, aku dan Aldi yang bayarin. Ya nggak, Al?
Oh, jadi besok pagi, Aldi juga akan ikut pergi ke Bandung? Bersama aku dan Stella?
Wow. Untuk yang pertama dalam sejarah, bahwa kami akan pergi bertiga dengan Aldi.
Bukan berdua hanya aku dan Stella, seperti biasanya.
Tentu. Tenang aja, Bas. kita bakal bayar pajak kok. Aldi menepuk pundakku.
Ok. aku senyum lagi. Senyum yang sudah seharusnya aku tunjukkan, untuk
menutupi kesedihanku.
Tubuhku masih gemetar. Menahan gejolak yang sedari tadi merasuki raga. Aku
seperti kehilangan sesuatu berharga, dan sepertinya itu adalah Stella. Selama ini dia sangat
perhatian padaku, bodohnya aku selalu berpikir bahwa tak pernah ada orang lain di dalam
hidupnya selain aku. Lalu, malam ini tepatnya, aku mendapati sebuah pernyataan yang sama
sekali tak pernah kubayangkan.
Jadi, aku harus melepaskan Stella, untuk kebahagiaannya?
Dan menyedihkan, karena jawabannya adalah Iya. Aku tak punya pilihan selain
berusaha relakan semua.

Nama Siswa Mengetahui Orang Tua

Ayu Puspita Sari Maryoto


Guru Bahasa Indonesia

Ida Gunarti, S.Pd