Vous êtes sur la page 1sur 19

BAB I

PENDAHULUAN

Benda asing esophagus adalah benda yang tajam maupun tumpul atau
makanan yang tersangkut dan terjepit di esophagus karena tertelan, baik secara
sengaja maupun tidak sengaja. Kejadian tertelan dan tersangkutnya benda asing
merupakan masalah utama pada anak usia 6 bulan 6 tahun dan dapat terjadi pada
semua umur pada tiap lokasi di esophagus.1,2,3
Benda asing yang tersangkut pada esophagus biasanya ditemukan pada 4
tempat penyempitan fisiologis pada esophagus yaitu cincin krikofaringeal,
persilangan antara esophagus dan arkus aorta, persilangan antara esophagus
dengan bronkus utama sinistra dan sfingter bawah. Berbagai jenis benda asing
yang ditemukan pada esophagus berupa gigi palsu, uang logam, jarum, tulang
ikan, cincin, kacang-kacangan dan benda kecil lainnya.3,4
Faktor predisposisi pada anak antara lain karena belum tumbuhnya gigi
molar untuk dapat menelan dengan baik, koordinasi proses menelan dan sfingter
laring yang belum sempurna, retardasi mental, gangguan pertumbuhan dan
penyakit-penyakit neurologik yang mendasarinya. Pada orang dewasa tertelan
benda asing sering dialami oleh pemabuk atau pemakai gigi palsu yang telah
kehilangan sensasi rasa (tactile sensation) dari palatum dan pada penderita
gangguan jiwa.1
Menurut American Association of Poison Control Centers pada tahun 2000
dari 116.000 kasus tertelan benda asing 75% merupakan anak-anak. Sementara
impaksi makanan merupakan kasus yang sering dijumpai pada orang dewasa
dengan prevalensi 13 per 100.000 jiwa.2,5,6 Berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh dr. Puspa Zulaika, Sp.THT-KL, M.Kes di RSUP Dr. Mohamad Hoesin
Palembang pada periode Januari 2013 hingga Desember 2015 didapatkan
sebanyak 43 pasien dengan riwayat tertelan benda asing di esophagus terdiri atas
26 orang laki-laki dan 17 orang perempuan. Benda asing terbanyak adalah uang
logam sebanyak 44,1%, gigi palsu sebanyak 25,5% dan tulang ikan hanya 2,3%.7
Benda asing esophagus merupakan masalah klinis yang memiliki tantangan
tersendiri. Meskipun belakangan ini telah terjadi kemajuan besar dalam teknik

1
anestesi dan instrumentasi, ekstraksi benda asing saluran cerna bukanlah suatu
prosedur yang mudah dan tetap memerlukan keterampilan serta pengalaman dari
dokter yang melakukannya. Oleh karena itu, referat ini dibuat untuk mengetahui
dan mendiskusikan mengenai kasus benda asing di esophagus.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Esophagus

Gambar 1. Anatomi Esophagus


Esophagus adalah suatu organ berbentuk silindris berongga dengan
panjang sekitar 25 cm, terbentang dari hipofaring pada daerah pertemuan
faring dan esophagus (vertebra servikal 5-6) dibawah kartilago krikoid,
kemudian melewati diafragma melalui hiatus diafragma (vertebra torakal
10) hingga ke daerah pertemuan esophagus dan lambung, lalu berakhir di
orifisium kardia lambung (vertebra torakal 11).8-10 Esophagus memiliki
diameter yang bervariasi tergantung ada tidaknya bolus makanan atau cairan
yang melewatinya. Diantara proses menelan, esophagus ada pada keadaan
kolaps, tetapi lumen esophagus dapat melebar kurang lebih 2 cm di bagian
anterior dan posterior serta 3 cm ke lateral untuk memudahkan dalam proses
menelan makanan.
Pada orang dewasa, panjang esophagus apabila diukur dari incivus
superior ke otot krikofaringeus sekitar 15-20 cm, ke arkus aorta 20-25 cm,
ke vena pulmonalis inferior 30-35 cm dan ke kardioesophagus joint kurang
lebih 40-45cm. Pada anak, panjang esophagus saat lahir bervariasi antara 8-
10 cm dan panjang sekitar 19 cm pada usia 15 tahun.6

3
Bagian servikal:6
a. Panjang 5-6 cm, setinggi vertebra cervicalis VI sampai vertebra
thoracalis I
b. Anterior melekat dengan trachea
c. Anterolateral tertutup oleh kelenjar tiroid
d. Sisi dextra/sinistra dipersarafi oleh nervus recurren laryngeus
e. Posterior berbatasan dengan hipofaring
f. Pada bagian lateral ada carotid sheath beserta isinya

Bagian torakal:6
a. Panjang 16-18 cm, setinggi vertebra thorakalis II-IX
b. Berada di mediastinum superior antara trakea dan kolumna vertebralis
c. Dalam rongga toraks disilang oleh arcus aorta setinggi vertebra thorakalis
IV dan bronkus utama sinistra setinggi vertebra thorakalis V
d. Arteri pulmonalis dextra menyilang di bawah bifurcatio trachealis
e. Pada bagian distal antara dinding posterior esophagus dan ventral corpus
vertebralis terdapat ductus thoracicus, vena azygos, arteri dan vena
intercostalis

Bagian abdominal:6
a. Terdapat pars diaphragmatica sepanjang 11,5 cm, setinggi vertebra
thorakalis X sampai vertebra lumbalis III
b. Terdapat pars abdominalis sepanjang 23 cm, bergabung dengan cardia
gaster disebut gastroesophageal junction

Gambar 2. Mikroskopis esophagus

4
Dinding esophagus terdiri atas empat lapisan: mukosa, submukosa,
muskularis dan serosa. Lapisan mukosa bagian dalam terbentuk dari epitel
gepeng berlapis yang berlanjut ke faring di ujung atas; epitel lapisan ini
mengalami perubahan mendadak pada perbatasan esophagus dengan
lambung dan menjadi epitel toraks selapis. Mukosa esophagus dalam
keadaan normal bersifat alkali dan tidak tahan terhadap isi lambung yang
sangat asam. Lapisan submukosa mengandung sel-sel sekretori yang
memproduksi mucus. Mukus mempermudah jalannya makanan sewaktu
menelan dan melindungi mukosa dari cedera akibat zat kimia. Lapisan otot
lapisan luar tersusun longitudinal dan lapisan dalam tersusun sirkular. Otot
yang terdapat di 5% bagian atas esophagus adalah otot rangka, sedangkan
otot di separuh bagian bawah adalah otot polos. Bagian luar esophagus
terdiri atas jaringan ikat longgar yang menghubungkan esophagus dengan
struktur-struktur berdekatan.6

Gambar 3. Pembuluh darah esophagus


Persarafan utama esophagus dipasok oleh serabut-serabut simpatis dan
parasimpatis dari system saraf otonom. Serabut parasimpatis dibawa oleh
nervus vagus, yang dianggap sebagai saraf motoric esophagus. Selain itu,
terdapat persarafan intrinsic diantara lapisan otot sirkular dan longitudinal
(pleksus Auerbach atau mienterikus) yang berperan dalam pengaturan
peristaltic esophagus normal.6

5
Ujung saraf bebas dan perivascular ditemukan dalam submukosa
esophagus dan ganglia mienterikus. Ujung saraf ini dianggap berperan
sebagai mekanoreseptor, termoosmo, dan kemoreseptor dalam esophagus.
Mekanoreseptor menerima rangsangan mekanis seperti sentuhan, dan
kemoreseptor menerima rangsangan kimia dalam esophagus. Reseptor
termoosmo dapat dipengaruhi oleh suhu tubuh, bau, dan perubahan tekanan
osmotik.6
Distribusi darah ke esophagus mengikuti pola segmental. Bagian atas
disuplai oleh cabang-cabang arteri tiroidea inferior dan subklavia. Bagian
tengah disuplai oleh cabang-cabang segmental aorta dan arteria bronkiales,
sedangkan bagian subdiafragmatika disuplai oleh arteri gastrika sinistra dan
frenika inferior. Aliran darah vena juga mengikuti pola segmental. Vena
esophagus daerah leher mengalirkan darah ke vena azigos dan hemiazigos,
dan dibawah diafragma vena esophagus masuk ke dalam vena gastrika
sinistra.6
Esophagus mempunyai tiga daerah normal penyempitan yang sering
menyebabkan benda asing tersangkut di esophagus. Penyempitan pertama
disebabkan oleh muskulus krikofaringeal yang merupakan pertemuan antara
serat otot striata dan otot polos sehingga daya propulsifnya melemah.
Daerah penyempitan kedua disebabkan oleh persilangan cabang utama
bronkus kiri dan arkus aorta. Penyempitan yang ketiga disebabkan oleh
mekanisme sfingter gastroesofageal.6

2.2 Fisiologi Menelan


Menelan merupakan suatu aksi fisiologis kompleks ketika makanan
atau cairan berjalan dari mulut ke lambung. Menelan merupakan rangkaian
gerakan otot yang sangat terkoordinasi, dimulai dari pergerakan voluntar
lidah dan diselesaikan dengan serangkaian refleks dalam faring dan
esophagus. Bagian aferen refleks ini merupakan serabut-serabut yang
terdapat dalam saraf V, IX, dan X. Pusat menelan atau deglutisi terdapat
pada medula oblongata. Di bawah koordinasi pusat ini, impuls-impuls

6
berjalan ke luar dalam rangkaian waktu yang sempurna melalui saraf kranial
V, X, dan XII menuju ke otot-otot lidah, faring, laring, dan esophagus.7

Gambar 4. Proses menelan makanan


Walaupun menelan merupakan suatu proses yang kontinu, tetapi
terjadi dalam tiga fase: oral, faringeal, dan esofageal. Pada fase oral,
makanan yang telah dikunyah oleh mulut disebut bolus didorong ke
belakang mengenai dinding posterior faring oleh gerakan voluntar lidah.
Akibat yang timbul dari peristiwa ini adalah rangsangan gerakan refleks
menelan.7
Pada fase pharingeal, palatum mole dan uvula bergerak secara refleks
menutup rongga hidung. Pada saat yang sama, laring terangkat dan menutup
glotis, mencegah makanan memasuki trakea. Kontraksi otot konstriktor
faringeus mendorong bolus melewati epiglotis menuju ke faring bagian
bawah dan memasuki esophagus. Gerakan retroversi epiglotis di atas
orifisium laring akan melindungi saluran pernapasan sehingga mencegah
makanan memasuki trakea. Pernapasan secara serentak dihambat untuk
mengurangi kemungkinan aspirasi. Sebenarnya, hampir tidak mungkin
secara voluntar menarik napas dan menelan dalam waktu yang bersamaan.7
Fase esofageal mulai saat otot krikofaringues relaksasi sejenak dan
memungkinkan bolus memasuki esophagus. Setelah relaksasi yang singkat,
gelombang peristaltik primer yang dimulai dari faring dihantarkan ke otot
krikofaringeus, menyebabkan otot ini berkontraksi. Gelombang peristaltik
terus berjalan sepanjang esophagus, mendorong bolus menuju sfingter
esophagus bagian distal. Adanya bolus merelaksasikan otot sfingter distal
ini sejenak sehingga memungkinkan bolus masuk ke dalam lambung.

7
Gelombang peristaltik primer bergerak dengan kecepatan 2 sampai 4 cm/
detik, sehingga makanan yang tertelan mencapai lambung dalam waktu 5
sampai 15 detik. Mulai setinggi arkus aorta, timbul gelombang peristaltik
sekunder apabila gelombang primer gagal mengosongkan esophagus.
Timbulnya gelombang ini dipacu oleh peregangan esophagus oleh sisa
partikel partikel makanan.7
Gelombang peristaltik primer penting untuk jalannya makanan dan
cairan melalui bagian atas esophagus, tetapi kurang penting pada esophagus
bagian bawah. Posisi berdiri tegak dan gaya gravitasi adalah faktor-faktor
penting yang mempermudah transportpada esophagus bagian bawah, tetapi
adanya gerakan peristaltik memungkinkan seseorang untuk minum air
sambil berdiri terbalik dengan kepala di bawah atau ketika berada di luar
angkasa dengan gravitasi nol.7
Sewaktu menelan terjadi perubahan tekanan dalam esophagus yang
mencerminkan fungsi motoriknya. Dalam keadaan istirahat, tekanan dalam
esophagus sedikit berada di bawah tekanan atmosfer, tekanan ini
mencerminkan tekanan intratorak. Daerah sfingter esophagus bagian atas
dan bawah merupakan daerah bertekanan tinggi. Daerah tekanan tinggi ini
berfungsi untuk mencegah aspirasi dan refluks isi lambung. Tekanan
menurun bila masing-masing sfingter relaksasi sewaktu menelan dan
kemudian meningkat bila gelombang peristaltik melewatinya.7
Ada bukti-bukti yang menyatakan bahwa rangkaian gerakan kompleks
yang menyebabkan terjadinya proses menelan mungkin terganggu bila ada
sejumlah proses patologis. Proses ini dapat mengganggu transport makanan
maupun mencegah refluks lambung.7

2.3 Benda Asing Esophagus


2.3.1. Definisi
Benda asing adalah benda yang berasal dari luar tubuh atau dari dalam
tubuh yang dalam keadaan normal tidak ada. Sedangkan definisi benda
asing esophagus adalah benda yang tajam maupun tumpul atau makanan

8
yang tersangkut dan terjepit di esophagus karena tertelan, baik secara
sengaja maupun tidak sengaja.1

2.3.2. Epidemiologi
Benda asing di esophagus sering ditemukan di daerah penyempitan
fisiologis esophagus. Benda asing yang bukan makanan kebanyakan
tersangkut di servikal esophagus, biasanya di otot krikofaring atau arkus
aorta. Lokasi tersering benda asing tersangkut di esophagus adalah pada
sfingter krikofaringeus dikarenakan pada daerah tersebut adalah daerah yang
sempit dan terdiri dari otot krikofaring yang akan membuka saat bolus
melewatinya. Namun apabila bolus atau makanan tidak sempurna diolah
dimulut akan menyebabkan makanan tersebut tersangkut, apalagi untuk
suatu benda asing yang cukup besar. Terkadang benda asing dapat
ditemukan di daerah penyilangan esophagus dengan bronkus utama kiri atau
pada sfingter kardio-esophagus.8
Tujuh puluh persen dari 2394 kasus benda asing esophagus ditemukan
di daerah servikal, di bawah sfingter krikofaring, 12% di daerah hipofaring
dan 7,7% di esophagus torakal. Dilaporkan 48% kasus benda asing yang
tersangkut di daerah esofagogaster menimbulkan nekrosis tekanan atau
infeksi lokal.8
Kasus benda asing pada esophagus lebih banyak terjadi pada anak-
anak daripada orang dewasa. Umumnya, anak-anak sekitar 6 bulan sampai 5
tahun lebih sering tertelan benda asing. Pada orang dewasa sekitar 5070
tahun juga ditemukan kasus benda asing pada esophagus walaupun tidak
sebanyak pada anak anak.10
Tertelannya benda asing dapat menjadi kondisi yang serius dikaitkan
dengan morbiditas dan mortalitasnya.11 Peristiwa tertelan dan tersangkutnya
benda asing dapat menimbulkan komplikasi fatal akibat perforasi.1Pada
tahun 1999, American Association of Poison Control mendokumentasikan
sebanyak 182.105 kejadian tertelannya benda asing pada pasien dibawah 20
tahun.12 Terdapat 1500-1600 insidensi kematian per tahun akibat komplikasi
yang terjadi karena benda asing pada esophagus di Amerika.11

9
2.3.3. Klasifikasi
Berdasarkan asalnya, benda asing digolongkan menjadi dua golongan :
a. Benda asing eksogen
Yaitu yang berasal dari luar tubuh, biasanya masuk melalui hidung atau
mulut. Benda asing eksogen terdiri dari benda padat, cair atau gas. Benda
asing eksogen padat terdiri dari zat organik seperti kacang-kacangan
(yang berasal dari tumbuhan-tumbuhan), tulang (yang berasal dari
kerangka binatang) dan zat anorganik seperti paku, jarum, peniti, batu,
kapur barus (naftalen), gigi palsu dan lain-lain. Benda asing eksogen cair
dibagi dalam benda cair yang bersifat iritatif, seperti zat kimia, dan benda
cair noniritatif, yaitu cairan dengan pH 7,4.
b. Benda asing endogen
Yaitu yang berasal dari dalam tubuh. Benda asing endogen dapat berupa
sekret kental, darah atau bekuan darah, nanah, krusta, perkijuan,
membran difteri. Cairan amnion, mekonium dapat masuk ke dalam
saluran napas bayi pada saat proses persalinan.

2.3.4. Etiologi dan Faktor Predisposisi


Secara klinis masalah yang timbul akibat benda asing esophagus
dapatdibagi dalam golongan anak dan dewasa. Penyebab pada anak antara
lain, anomaly congenital termasuk stenosis kongenital, web, fistel
trakeoesophagus dan pelebaran pembuluh darah.1
Faktor predisposisi antara lain:1
a. Belum tumbuhnya gigi molar untuk dapat menelan dengan baik.
b. Koordinasi proses menelan dan sfingter laring yang belum sempurna
padakelompok usia 6 bulan sampai 1 tahun.
c. Retardasi mental
d. Gangguan pertumbuhan dan penyakit-penyakit neurologik lain yang
mendasarinya.
e. Pada orang dewasa tertelan benda asing sering dialami oleh pemabuk
ataupemakai gigi palsu yang kehilangan sensasi rasa (tactile sensation)
dari palatum; pada pasien gangguan mental dan psikosis.

10
Faktor predisposisi lain ialah adanya penyakit-penyakit esophagus yang
menimbulkan gejala disfagia kronis, yaitu esofagitis refluks, striktur pasca
esofagitis korosif, akhalasia, karsinoma esophagus atau lambung, cara
mengunyah yang salah dengan gigi palsu yang kurang baik pemasangannya,
mabuk (alkoholisme) dan intoksikasi (keracunan).1

2.3.5. Gejala Klinis


Gejala sumbatan akibat benda asing esophagus tergantung pada
ukuran,bentuk dan jenis benda asing, lokasi tersangkutnya benda asing,
komplikasi yang timbul akibat benda asing tersebut, dan lama benda asing
tertelan.1
Gejala-gejala terkait tertelan benda asing terjadi dalam tiga tahap.
Pada tahap pertama gejala-gejala awal, serangan hebat dari batuk atau
muntah. Hal ini terjadi ketika benda asing pertama tertelan. Tahap kedua
adalah interval tidak ada gejala. Benda asing telah tersangkut, serta gejala-
gejala tidak lagi ditimbulkan. Dalam tahap ini dapat berlangsung untuk
sesaat atau sementara. Selanjutnya, tahap ketiga terdiri dari gejala-gejala
yang ditimbulkan oleh komplikasi. Kemungkinan timbul rasa tidak nyaman,
disfagia, sumbatan, atau perforasi esophagus dengan dihasilkan
mediastinitis.14
Gejala disfagia bervariasi tergantung pada ukuran benda asing.
Disfagialebih berat bila telah terjadi edema mukosa yang memperberat
sumbatan, sehingga timbul rasa sumbatan esophagus yang persisten. Gejala
disfagia dapat terjadi pada semua lokasi di esophagus, namun paling banyak
terjadi pada lokasi penyempitan pertama dan kedua esophagus.14 Gejala lain
ialah odinofagia yaitu rasa nyeri ketika menelan makanan atau ludah,
hipersalivasi, regurgitasi dan muntah. Kadang-kadang ludah berdarah. Nyeri
di punggung menunjukkan tanda perforasi atau mediastinitis. Ganggung
napas dengan gejala dispnoe, stridor dan sianosis terjadi akibat penekanan
trakea oleh benda asing.1

11
2.3.6. Diagnosis
Diagnosis benda asing di esophagus ditegakkan berdasarkan
anamnesis, peemeriksaan fisik, pemeriksaan radiologik dan endoskopik.
Tindakan endoskopi dilakukan untuk tujuan diagnostik dan terapi.1
a. Anamnesis
Bila pasien tampak mengeluh diduga kelainan esophagus, diikuti riwayat
tertelan sesuatu yang spesifik sebaiknya ditanyakan:14
Kesukaran dalam menelan (disfagia) makanan padat atau cairan
Sumbatan komplit (ketidakmampuan untuk menelan)
Rasa tidak nyaman dalam menelan (odinofagia)
Regurgitasi dari makanan yang belum dicerna
Hematemesis (muntah darah)
Sensasi benda asing
Sumbatan dalam tenggorokan
Rasa panas dalam perut
Penurunan berat badan
Suara serak
Sensitivitas terhadap makanan dingin atau panas

b. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik, terdapat kekakuan lokal pada leher bila
benda asing terjepit akibat edema yang timbul progresif. Bila benda asing
tersebut ireguler menyebabkan perforasi akut dan didapatkan tanda-tanda
pneumomediastinum, emfisema leher dan pada auskultasi terdengar suara
getaran di daerah prekordial atau di antara skapula. Bila terjadi
mediastinitis, tanda efusi pleura unilateral atau bilateral dapat dideteksi.
Perforasi langsung ke rongga pleura dan pneumotoraks jarang terjadi
tetapi dapat timbul akibat komplikasi tindakan endoskopi. Pada anak-
anak, gejala nyeri atau batuk dapat disebabkan oleh aspirasi dari air liur
atau minuman dan pada pemeriksaan fisik didapatkan ronki, mengi,
demam, abses leher atau tanda-tanda emfisema subkutan. Selain itu, bisa
didapatkan tanda-tanda lanjut seperti berat badan menurun dan gangguan

12
pertumbuhan. Benda asing yang berada di daerah servikal esophagus dan
di bagian distal krikofaring, dapat menimbulkan gejala obstruksi saluran
nafas dengan bunyi stridor, karena menekan dinding trakea bagian
posterior, dan edema periesophagus. Gejala aspirasi rekuren akibat
obstruksi esophagus sekunder dapat menimbulkan pneumonia,
bronkiektasis dan abses paru.1

c. Pemeriksaan Penunjang
Foto rontgen polos esophagus servikal dan torakal anteropsterior
dan lateral harus dilakukan pada penderita yang diduga tertelan benda
asing. Benda asing radioopak seperti uang logam mudah diketahui
lokasinya dan harus dilakukan sesaat sebelum tindakan esofagoskopi
untuk mengetahui kemungkinan benda asing berpindah ke arah distal.
Letak uang logam umumnya koronal, maka pada hasil foto rontgen
servikal/torakal posisi PA akan dijumpai bayangan radioopak berbentuk
bundar, sedangkan pada posisi lateral berupa garis radioopak yang sejajar
dengan kolumna vertebralis. Benda asing seperti tulang, kulit telur, dan
lain-lain cenderung berada pada posisi koronal dalam esophagus,
sehingga lebih mudah dilihat dalam posisi lateral. Benda asing radiolusen
seperti plastik, aluminium dan lain-lain, dapat diketahui dengan tanda
inflamasi periesophagus atau hiperinflamasi hipofaring dan esophagus
bagian proksimal.1
Foto rontgen toraks dapat menunjukkan gambaran perforasi
esophagus dengan emfisema servikal, emfisema mediastinal,
pneumotoraks, pyotoraks, mediastinitis, serta aspirasi pneumonia. Foto
rontgen leher posisi lateral dapat menunjukkan tanda perforasi, dengan
trakea dan laring bergeser ke depan, gelembung udara di jaringan, adanya
bayangan cairan atau abses bila perforasi telah berlangsung beberapa
hari.1
Gambaran radiologik benda asing batu baterai menunjukkan
pinggir bulat dengan gambaran densitas ganda, karena bentuk bilaminer.
Foto polos sering tidak menunjukkan gambaran benda asing, seperti

13
daging dan tulang ikan sehingga memerlukan pemeriksaan esophagus
dengan kontras (esofagogram). Esofagogram pada benda asing
radiolusen akan memperlihatkan filling defectpersistent. Pemeriksaan
esophagus dengan kontras sebaiknya tidak dilakukan pada benda asing
radioopak karena densitas benda asing biasanya sama dengan zat kontras,
sehingga akan menyulitkan penilaian ada tidaknya benda asing. Risiko
lain adalah terjadi aspirasi bahan kontras. Bahan kontras Barium lebih
baik daripada zat kontras yang larut di air (water soluble contrast),
seperti Gastrografin, karena sifatnya kurang toksis terhadap saluran napas
bila terjadi aspirasi kontras, sedangkan Gastrografin bersifat mengiritasi
paru. Oleh karena itu penggunaan kontras Gastrografin harus dihindari
terutama pada anak-anak.1
Xeroradiografi dapat menunjukkan gambaran penyangatan
(enhancement) pada daerah pinggir benda asing. Computed tomography
scan (CT Scan) esophagus dapat menunjukkan gambaran inflamasi
jaringan lunak dan abses. Magnetic resonance imaging (MRI) dapat
menunjukkan gambaran semua keadaan patologik esophagus.1

2.3.7. Tatalaksana
Benda asing yang tertelan dapat melewati saluran perncernaan tanpa
kesulitan sehingga terapi konservatif dapat dilakukan pada beberapa kasus
benda asing dengan melalukan observasi. Terapi ini dilakukan pada kasus
benda asing tumpul, pendek (panjang <6cm), dan kecil (diameter <2,5cm).
Benda asing akan berlalu dengan spontan dalam waktu 4-6 hari. Pada
beberapa kasus, dapat bertahan hingga 4 minggu. Pasien harus selalu
mengobservasi fesesnya sampai benda asing tersebut keluar. Tidak perlu
ada perubahan pola makan dalam hal ini.16
Benda asing di esophagus dapat dikeluarkan dengan tindakan
endoskopi yaitu esofagoskopi dengan menggunakan cunam yang sesuai
dengan benda asing tersebut. Benda asing tajam yang tidak berhasil
dikeluarkan dengan esofagoskopi harus segera dikeluarkan dengan
pembedahan, yaitu servikotomi, torakotomi, atau esofagotomi, tergantung

14
lokasi benda asing tersebut. Bila dicurigai adanya perforasi yang kecil
segera dipasang pipa nasogaster agar pasien tidak menelan makanan atau
ludah. Dapat diberikan antibiotika berspektrum luas selama 7-10 hari untuk
mencegah sepsis. Benda asing tajam yang telah masuk ke dalam lambung
dapat menyebabkan perforasi di pylorus, oleh karena itu perlu dilakukan
evaluasi sebaik-baiknya untuk mendapatkan tanda perforasi sedini mungkin
dengan melakukan pemeriksaan radiologik untuk mengetahui posisi dan
perubahan letak benda asing. Benda asing uang logam di esophagus bukan
keadaan gawat darurat, namun uang logam tersebut harus dikeluarkan
sesegeramungkin dengan persiapan tindakan esofagoskopi yang optimal
untuk mencegah komplikasi. Benda asing baterai bundar (disk/button
battery) di esophagus merupakan benda yang harus segera dikeluarkan
karena risiko perforasi esophagus yang terjadi dengan cepat dalam waktu 4
jam akibat nekrosis esophagus.1
Tabel 1.Endoskopi untuk Tertelannya Benda Asing18
Emergent Endoscopy
Pasien dengan obstruksi esophagus
Baterai pada esophagus
Benda tajam dan runcing pada esophagus
Urgent Endoscopy
Benda asing non-tajam dan non-runcing pada esophagus
Impaksi makanan pada esophagus tanpa obstruksi total
Nonurgent Endoscopy
Koin pada esophagus dapat diobservasi dahulu dalam 24 jam
pertama
Benda asing berupa baterai jika sudah sampai di lambung tanpa
adanya gejala sistem gastrointestinal

Esofagoskopi memiliki dua tipe dasar. Tipe satu adalah tuba logam
kaku dengan suatu lumen berbentuk oval dimana dapat digunakan untuk
melihat langsung gambaran esophagus dan berbagai alat untuk biopsi dan
pengeluaran benda asing.14 Esofagoskopi kaku juga dapat melindungi

15
esophagus dari bagian yang tajam pada benda asing.17 Tipe kedua adalah
esofagoskopi fleksibel yang memiliki saluran kecil untuk melihat gambaran
mukosa, aspirasi sekresi, dan memasukkan forsep kecil untuk biopsi dan
pengeluaran benda asing.13
Pembedahan dilakukan hanya <1% kasus benda asing pada
esophagus. Karena tindakan endoskopi memberikan hasil yang cukup
memuaskan, pembedahan hanya dilakukan untuk indikasi-indikasi tertentu.
Tindakan pembedahan dilakukan jika terdapat perforasi dan komplikasi
lainnya yang tidak dapat diatasi dengan tindakan endoskopi.16Bila letak
benda asing menetap selama 2x24 jam maka benda asing tersebut harus
dikeluarkan secara pembedahan (laparotomi).1

Tabel 2. Ukuran Tuba Esofagoskopi pada Bayi dan Anak14


USIA ESOFAGOSKOPI
Prematur 3,5 mm x 25 cm
Bayi baru lahir 4,0 mm x 35 cm
3 hingga 6 bulan 4,0 mm x 35 cm
1 tahun 5,0 mm x 35 cm
2 tahun 5,0 mm x 35 cm
4 tahun 6,0 mm x 35 cm
5 hingga 7 tahun 6,0 mm x 35 cm
8 hingga 12 tahun 6,0 mm x 35 cm

2.3.8. Komplikasi
Benda asing dapat menimbulkan laserasi mukosa, perdarahan,
perforasi lokal dengan abses leher atau mediastinitis. Perforasi esophagus
dapat menimbulkan selulitis lokal, fistel trakeo-esophagus. Benda asing
bulat atau tumpul dapat juga menimbulkan perforasi, akibat inflamasi
kronik dan erosi dengan striktur. Jaringan granulasi di sekitar benda asing
timbul bila benda asing berada di esophagus dalam waktu yang lama. Bila
terjadi perforasi ke pleura dapat timbul pneumotoraks atau pyotoraks.8

16
BAB III
KESIMPULAN

Benda asing esophagus adalah benda yang tajam maupun tumpul atau
makanan yang tersangkut dan terjepit di esophagus karena tertelan, baik secara
sengaja maupun tidak sengaja. Benda asing di esophagus sering ditemukan di
daerah penyempitan fisiologis esophagus terutama pada sfingter krikofaringeus
Kasus benda asing pada esophagus lebih banyak terjadi pada anak-anak daripada
orang dewasa. Etiologi dan faktor predisposisi tertelan benda asing esophagus
pada anak-anak meliputi belum tumbuhnya gigi molar untuk dapat menelan
dengan baik, koordinasi proses menelan dan sfingter laring yang belum sempurna,
retardasi mental, gangguan pertumbuhan dan penyakit-penyakit neurologik yang
mendasarinya, sedangkan pada orang dewasa adalah pemabuk, pemakai gigi
palsu, gangguan mental dan psikosis serta penyakit-penyakit esophagus yang
menimbulkan gejala disfagia kronis.
Gejala sumbatan akibat benda asing esophagus tergantung pada ukuran,
bentuk dan jenis benda asing, lokasi tersangkutnya benda asing, komplikasi yang
timbul akibat benda asing tersebut dan lama benda asing tertelan. Gejala-gejala
dikaitkan dengan tertelan benda asing terjadi dalam tiga tahap. Diagnosis benda
asing di esophagus ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan radiologik dan endoskopik. Tindakan endoskopi dilakukan untuk
tujuan diagnostik dan terapi.
Tatalaksana tertelan benda asing dapat dilakukan dengan terapi konservatif
dengan observasi, ektraksi dengan esofagoskopi atau tindakan pembedahan.
Komplikasi tertelan benda asing dapat berupa laserasi mukosa, perdarahan,
perforasi lokal dengan abses leher atau mediastinitis. Perforasi esophagus dapat
menimbulkan selulitis lokal, fistel trakeo-esophagus. Bila terjadi perforasi ke
pleura dapat timbul pneumotoraks atau pyotoraks.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Yunizaf, M. 2007. Benda Asing di Esophagus. Dalam: Soepardi, E.A., Iskandar,N.,


Bashiruddin, J., Restuti, R.D. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok
Kepala & Leher. Edisi Keenam. Jakarta: Balai Penerbit FK UI, h.299-302.
2. Asroel, H.A. & Aboet, A. 2001. Penanganan Benda Asing Daging pada Esophagus
dengan Enzim Proteolitik. Dalam: Kumpulan Abstrak PIT Perhati-KL. Palembang:
180.
3. Nastia, P. 2012. Prevalensi Benda Asing Pada Telinga, Hidung, Trakeobronkial, dan
Esophagus di Departemen THT FK USU/RSUP H. Adam Malik tahun 2010.
Universitas Sumatera Utara.
4. Price, AS., Wilson, ML. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Jakarta: EGC, H.404-407.
5. Pramono. 2001. Deskripsi Benda Asing dalam Esophagus di Bagian THT RSUP Dr.
Kariadi Semarang tahun 1994-1998 dan Resume Singkat 2 Kasus dengan
Komplikasi. Dalam: Kumpulan Naskah Ilmiah Kongres Nasional XIIPERHATI.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Oktober 2001, h.445-53.
6. Chandramata, 2000. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah. Edisi Keenam.
Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC, h.361.
7. Zuleika Puspa, Ghanie Abla. Karakteristik Benda Asing Esophagus di Bagian
THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya/RSUP Dr. Mohammad
Hoesin Palembang Periode Januari 2013Desember 2015. KONAS XVII Perhati-
KL. Solo: 2016.
8. Sherwood, L. 2009. Fisiologi Manusia: Dari Sel ke Sistem. Edisi Keenam.Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC, h.652-654.
9. American Society For Gastrointestinal Endoscopy, Guideline for the management
of ingested foreign bodies. Volume 73, No. 6: 2011.
10. Netter, F.H. 2011. Atlas of Human Anatomy. Edisi Kelima. USA: SaundersElsevier.
11. Ekim, H. (2010) Management of Esophageal Foreign Bodies: A Report on 26
patients and literature review, Eastern Journal of Medicine, 15, p.21-25.
12. Erbil, B., Karaca, M.A., Aslaner, M.A., Ibrahimov, Z., Kunt, M.M., Akpinar, E., and
Ozmen, M.M. (2013) Emergency Admission Due to Swallowed Foreign Bodies in
Adults, World Journal Gastroenterology, 19(38), pp. 6447 6452.

18
13. Abdurehim, Y., Yasin, Y., Yaming, Q., and Hua, Z. (2014) Value and Efficacy of
Foley Catheter Removal of Blunt Pediatric Esophageal Foreign Bodies, ISRN
Otolaryngology, 2014, pp. 1-4.
14. Siegel, L.G. 2014. Penyakit Trakea dan Esophagus Servikalis. Dalam: Adams,G.L.,
Boies, L.R., Jr., Higler, P.A. Boies: Buku Ajar Penyakit THT. Edisi Keenam. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC, h.455.
15. Rybojad, B., Niedzielska, G., Niedzielski, A., Rudnicka-Drozak, E., and Rybojad, P.
(2012) Esophageal Foreign Bodies in Pediatrics Patients: A Thirteen-Year
Retrospective Study, The Scientific World Journal, 2012, pp. 1-6.
16. Munter, D.W. 2014. Gastrointestinal Foreign Bodies, Eastern Virginia Medical
School. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/776566-
overview#showall. [diakses pada 5 November 2016].
17. Ambe, P., Weber, S.A., Schauer, M., and Knoefel, W.T. (2012) Swallowed Foreign
Bodies in Adults, Deutsches Arzteblatt International, 109(50), pp. 869-875.
18. Rathore, P. K., Raj, A., Sayal, A., Meher, R., Gupta, B., and Girhotra, M. (2009)
Prolonged Foreign Body Impaction in Oesophagus, Singapore Med J, 50(2), pp. 53.
19. ASGE Standards of Practice Committee (2011) Management of Ingested Foreign
Bodies and Food Impaction, Gastrointestinal Endoscopy, 73(6), pp. 1085-1091.

19