Vous êtes sur la page 1sur 25

Laporan Kasus

MUKOKEL

Disusun Oleh:
Christi Giovani A. H, S.Ked 04084821719204
Lola Meristi, S.Ked 04084821719205

Pembimbing
drg. Budi Asri Kawuryani, MM

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN GIGI


RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2017

i
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kasus

Mukokel

Oleh :
Christi Giovani A. H, S.Ked 04084821719204
Lola Meristi, S.Ked 04084821719205

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti
Kepaniteraan Klinik di DepartemenIlmu Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang Periode 24 Juli 9
Agustus 2017.

Palembang, Agustus 2017

drg.Budi Asri Kawuryani, MM

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkah dan rahmat-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan laporan kasus dengan judul Mukokelsebagai salah
satu syarat dalam mengikuti Kepaniteraan Klinik di Departemen Ilmu Kedokteran
Gigi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada drg.Budi
Asri Kawuryani, MM selaku pembimbing yang telah membantu penyelesaian
laporan kasus ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan
dokter muda dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan
kasus ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan kasus ini masih banyak
terdapat kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, segala saran dan kritik yang
bersifat membangun sangat kami harapkan. Demikianlah penulisan laporan ini,
semoga bermanfaat.

Palembang, Agustus 2017

Penulis

iii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. ii
KATA PENGANTAR......................................................................................... iii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... 1
BAB I STATUS PASIEN
1.1. Identifikasi .............................................................................................. 2
1.2. Anamnesis............................................................................................... 2
1.3. Pemeriksaan Fisik ................................................................................... 3
1.4. Pemeriksaan Penunjang .......................................................................... 5
1.5. Lampiran Foto Pasien ............................................................................. 5
BAB IITINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anatomi, Histologi, dan Fisiologi dari Kelenjar Saliva ......................... 6
2.1.1. Kelenjar Saliva Mayor ................................................................ 13
2.1.2. Kelenjar Saliva Minor................................................................. 13
2.2. Mukokel
2.2.1. Definisi ....................................................................................... 13
2.2.2. Etiopatogenesis ........................................................................... 13
2.2.3. Klasifikasi ................................................................................... 14
2.2.4. Gambaran Klinis dan Histopatologi ........................................... 14
2.2.5. Diagnosis .................................................................................... 14
2.2.6. Diagnosis Banding ...................................................................... 15
2.2.7. Tata Laksana ............................................................................... 15
BAB III ANALISIS KASUS ................................................................................ 17
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 18

4
BAB I
STATUS PASIEN

1.1 Identifikasi Pasien


Nama : Tn. MMK
Umur : 52 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status Perkawinan : Kawin
Agama : Islam
Alamat : Jalan Borang II No. 314, Lebong Gajah, Sematang Borang,
Palembang
Kebangsaan : Indonesia
Pekerjaan : Sopir
Pendidikan : SMA
Ruangan : Poli Gigi dan Mulut
MRS : 2 Agutus 2017

1.2 Anamnesis
a. KeluhanUtama:
Pasien mengeluhkan terdapat benjolan sebesar biji kacang di bibir bagian dalam
sebelah kiri.

b. Riwayat Perjalanan Penyakit:


Sejak 2 tahun yang lalu, pasien mengaku bahwa pernah tergigit bibir bagian dalam
sebelah kiri saat makan, kemudian timbul sariawan yang lama-kelamaan menjadi
benjolan sebesar biji kacang. Benjolan sering membesar dan pecah sendiri, kemudian
tumbuh lagi di tempat yang sama. Pasien tidak merasa sakit saat benjolan ditekan,
namun pasien merasa tidak nyaman saat makan karena adanya benjolan tersebut.

5
c. Riwayat Pengobatan :
Pasien pernah ke dokter gigi untuk melakukan pencabutan gigi belakang kiri bawah
dan kanan bawah 3 tahun yang lalu dan pencabutan gigi belakang kiri atas dan
kanan atas 2,5 tahun yang lalu.

d. Riwayat Penyakit atau Kelainan Sistemik


Penyakit atau Kelainan Sistemik Ada Disangkal
Alergi : debu, dingin
Penyakit Jantung
Penyakit Tekanan Darah Tinggi
Penyakit Diabetes Melitus
Penyakit Kelainan Darah
Penyakit Hepatitis A/B/C/D/E/F/G/H
Kelainan Hati Lainnya
HIV/ AIDS
Penyakit Pernafasan/paru
Kelainan Pencernaan
Penyakit Ginjal
Penyakit Rinosinusitis
Epilepsi

e. Riwayat Penyakit Gigi dan Mulut Sebelumnya


Riwayat cabut gigi (+)
Riwayat tumpat gigi (-)
Riwayat membersihkan karang gigi (-)
Riwayat trauma (tergigit) pada bibir (+)

f. Riwayat Kebiasaan
Pasien memiliki kebiasaan merokok sejak 32 tahun yang lalu, 5 batang/hari.

6
1.3 Pemeriksaan Fisik (Rabu, 2 Agustus 2017, pukul 10.00 WIB)
a. Status Umum Pasien
1. Keadaan Umum Pasien : Baik.
2. Kesadaran : Compos mentis.
3. Vital Sign
Tekanan Darah : 130/80 mmHg
Nadi : 80x/menit
Respiration rate : 23x/menit
Temperatur : 37,10C
4. Berat Badan : 55 kg
5. Tinggi Badan : 160 cm
6. Kesan Gizi : Baik
b. Pemeriksaan Ekstra Oral
Wajah : Simetris
Bibir : Sehat
Kelenjar getah bening submandibula
Kanan : tidak teraba dan tidak sakit
Kiri : tidak teraba dan tidak sakit
c. Pemeriksaan Intra Oral
Debris : ada, regio A, B, D, E
Plak : ada, regio A, B, D, E, F
Kalkulus : ada, regio A, B, D, E
Perdarahan papila interdental : tidak ada
Gingiva : ada, oedem, eritema regio
A, B, D
Mukosa : sehat
Palatum : sehat
Lidah : sehat
Dasar mulut : sehat
Hubungan rahang : orthognathi
Kelainan gigi : tidak ada

7
d. Odontogram

D4 D6

e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
e. Status Lokalis
Gigi Klasifikasi Sondasi CE Perkusi Palpasi Luksasi Diagnosis
karies
17 D6 - - - - - Nekrose Pulpa
18 D4 - + - - - Karies Dentin

f. Daftar Masalah
Nekrose pulpa gigi 17
Karies dentin gigi 18
Kalkulus regio A,B,D,E
Mukokel bibir bagian dalam sebelah kiri

g. Penatalaksanaan
Nekrose pulpa gigi 17 : pro ekstraksi
Karies dentin gigi 18 : pro konservasi
Kalkulus regio A,B,D,E : pro skeling
Mukokel bibir bagian dalam sebelah kiri : pro eksisi

8
1.4. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan

1.5. Lampiran Foto Pasien

9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi, Histologi dan Fisiologi dari Kelenjar Saliva


Kelenjar saliva merupakan suatu kelenjar eksokrin yang berperan penting dalam
mempertahankan kesehatan jaringan mulut. Kelenjar saliva mensekresi saliva ke dalam
rongga mulut. Saliva terdiri dari cairan encer yang mengandung enzim dan cairan kental
yang mengandung mukus. Menurut struktur anatomis dan letaknya, kelenjar saliva dapat
dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu kelenjar saliva mayor dan kelenjar saliva minor.
Kelenjar saliva mayor dan minor menghasilkan saliva yang berbeda-beda menurut
rangsangan yang diterimanya. Rangsangan ini dapat berupa rangsangan mekanis
(mastikasi), kimiawi (manis, asam, asin dan pahit), neural, psikis (emosi dan stress), dan
rangsangan sakit. Besarnya sekresi saliva normal yang dihasilkan oleh semua kelenjar ini
kira-kira 1-1,5 liter per hari.
1. Kelenjar Saliva Mayor
Kelenjar saliva ini merupakan kelenjar saliva terbanyak dan ditemui berpasang
pasangan yang terletak di ekstraoral dan memiliki duktus yang sangat panjang.
Kelenjar-kelenjar saliva mayor terletak agak jauh dari rongga mulut dan sekretnya
disalurkan melalui duktusnya ke dalam rongga mulut. Menurut struktur anatomi dan
letaknya, kelenjar saliva mayor dapat dibagi atas tiga tipe yaitu parotis,
submandibularis dan sublingualis. Masingmasing kelenjar mayor ini menghasilkan
sekret yang berbedabeda sesuai rangsangan yang diterimanya. Saliva pada manusia
terdiri atas sekresi kelenjar parotis (25%), submandibularis (70%), dan sublingualis
(5%).
1.1 Kelenjar Parotis
Anatomi:
- Kelenjar ini merupakan kelenjar terbesar dibandingkan kelenjar saliva lainnya.
- Letak kelenjar berpasangan ini tepat di bagian bawah telinga terletak antara
prosessus mastoideus dan ramus mandibula. Kelenjar ini meluas ke lengkung
zygomatikum di depan telinga dan mencapai dasar dari muskulus masseter.

10
- Kelenjar parotis memiliki suatu duktus utama yang dikenal dengan duktus
Stensen. Duktusiniberjalanmenembus pipi dan bermuara pada vestibulus oris
pada lipatan antara mukosa pipi dan gusidihadapkan molar dua atas.
- Kelenjar ini terbungkus oleh suatu kapsul yang sangat fibrous dan memiliki
beberapa bagian seperti arteri temporal superfisialis, vena retromandibular dan
nervus fasialis yang menembus dan melalui kelenjar ini.

Histologi:
- Kelenjar ini dibungkus oleh jaringan ikat padat dan mengandung sejumlah besar
enzim antara lain amylase, lisozim, fosfatase asam, aldolase, dan kolinesterase.
- Kelenjar parotisadalah kelenjar tubuloasinosa kompleks, yang pada manusia
adalah serosa murni. Kelenjar ini dikelilingi oleh kapsula jaringan ikat yang
tebal, dari sini ada septa jaringan ikat termasuk kelenjar dan membagi kelenjar
menjadi lobulus yang kecil. Kelenjar parotis mempunyai sistem saluran keluar
yang rumit sekali dan hampir semua duktus ontralobularis adalah duktus striata.
- Saluran keluar yang utama yaitu duktus parotidikius steensenterdiri dari epitel
berlapis semu, bermuara kedalam vestibulum rongga mulut berhadapan dengan
gigi molar kedua atas. Kelenjar parotis secara khas dipengaruhi oleh mumps
yaitu parotitis epidemika.

Fisiologi:
- Kelenjar parotis menghasilkan suatu sekret yang kaya akan air yaitu serous.
- Saliva pada manusia terdiri atas 25% sekresi kelenjar parotis.

1.2 Kelenjar Submandibularis


Anatomi:
- Kelenjar ini merupakan kelenjar yang berbentuk seperti kacang dan memiliki
kapsul dengan batas yang jelas.
- Di dalam kelenjar ini terdapat arteri fasialis yang melekat erat dengan kelenjar
ini.

11
- Kelenjar ini teletak di dasar mulut di bawah ramus mandibula dan meluas ke sisi
leher melalui bagian tepi bawah mandibula dan terletak di permukaan muskulus
mylohyoid.
- Pada proses sekresi kelenjar ini memiliki duktus Wharton yang bermuara di
ujung lidah.

Histologi:
- Kelenjar ini terdiri dari jaringan ikat yang padat.
- Kelenjar submandibularisadalah kelenjar tubuloasinosa kompleks, yang pada
manusia terutama pada kelenjar campur dengan sel-sel serosa yang dominan,
karena itu disebut mukoserosa. Terdapat duktus interkalaris, tetapi saluran ini
pendek karena itu tidak banyak dalam sajian, sebaliknya duktus striata
berkembang baik dan panjang.
- Saluran keluar utama yaitu duktus submandibularis wharton bermuara pada
ujung papila sublingualis pada dasar rongga mulut dekat sekali dengan frenulum
lidah,dibelakang gigi seri bawah. Baik kapsula maupun jaringan ikat stroma
berkembang baik pada kelenjar submandibularis.

Fisiologi:
- Kelenjar submandibularis menghasilkan 80% serous (cairan ludah yang encer)
dan 20% mukous (cairan ludah yang padat).
- Kelenjar submandibularis merupakan kelenjar yang memproduksi air liur
terbanyak.
- Saliva pada manusia terdiri atas 70% sekresi kelenjar submandibularis.

1.3 Kelenjar Sublingual


Anatomi:
- Kelenjar ini terletak antara dasar mulut dan muskulus mylohyoid merupakan
suatu kelenjar kecil diantara kelenjarkelenjar mayor lainnya.
- Duktus utama yang membantu sekresi disebut duktus Bhartolin yang terletak
berdekatan dengan duktus mandibular dan duktus Rivinus yang berjumlah 8-20
buah.

12
- Kelenjar ini tidak memiliki kapsul yang dapat melindunginya.

Histologi:
- Kelenjar sublingualis adalah kelenjar tubuloasinosa dan kelenjar tubulosa
kompleks. Pada manusia kelenjar ini adalah kelenjar campur meskipun terutama
kelenjar mukosa karena itu disebut seromukosa. Sel-sel serosa yang sedikit
hampir seluruhnya ikut membentuk demilune. Duktus interkalaris dan duktus
striata jaringan terlihat.
- Kapsula jaringan ikat tidak berkembang baik, tetapi kelenjar ini lobular halus
biasanya terdapat 10-12 saluran luar yaitu duktus sublingualis, yang bermuara
kesepanjang lipatan mukosa yaitu plika sublingualis, masing-masing
mempunyai muara sendiri. Saluran keluar yang lebih besar yaitu duktus
sublingualis mayor bartholin bermuara pada karunkula sublingualis bersama-
sama dengan duktus wharton, kadang-kadang keduanya menjadi satu.

Fisiologi:
- Kelenjar sublingualis menghasilkan sekret yang mukous dan konsistensinya
kental.
- Saliva pada manusia terdiri atas 5% sekresi kelenjar sublingualis.

13
2. Kelenjar Saliva Minor
Kebanyakan kelenjar saliva minor merupakan kelenjar kecil-kecil yang terletak di
dalam mukosa atau submukosa. Kelenjar minor hanya menyumbangkan 5% dari
pengeluaran ludah dalam 24 jam. Kelenjar-kelenjar ini diberi nama berdasarkan
lokasinya atau nama pakar yang menemukannya.Kelenjar saliva minor dapat ditemui
pada hampir seluruh epitel di bawah rongga mulut. Kelenjar ini terdiri dari beberapa
unit sekresi kecil dan melewati duktus pendek yang berhubungan langsung dengan
rongga mulut. Selain kelenjar saliva minor tidak memiliki kapsul yang jelas seperti
layaknya kelenjar saliva mayor, kelenjar saliva minor secara keseluruhan menghasilkan
sekret yang mukous kecuali kelenjar lingual tipe Van Ebner. Saliva yang dihasilkan
mempunyai pH antara 6,0-7,4 sangat membantu didalam pencernaan ptyalin.
2.1 Kelenjar Glossopalatinal
Lokasi dari kelenjar ini berada dalam isthimus dari lipatan glossopalatinal dan
dapat meluas ke bagian posterior dari kelenjar sublingual ke kelenjar yang ada di
palatum molle.
2.2 Kelenjar Labial
Kelenjar ini terletak di submukosa bibir. Banyak ditemui pada midline dan
memiliki banyak duktus.

14
2.3 Kelenjar Bukal
Kelenjar ini terdapat pada mukosa pipi, kelenjar ini serupa dengan kelenjar labial.
2.4 Kelenjar Palatinal
Kelenjar ini ditemui di sepetiga posterior palatal dan di palatum molle. Kelenjar ini
dapat dilihat secara visual dan dilindungi oleh jaringan fibrous yang padat.
2.5 Kelenjar Lingual
Kelenjar ini dikelompokkan dalam beberapa tipe yaitu :
2.5.1 Kelenjar anterior lingual
Lokasi kelenjar ini tepat di ujung lidah.
2.5.2 Kelenjar lingual Van Ebner
Kelenjar ini dapat di temukan di papila sirkumvalata.
2.5.3 Kelenjar posterior lingual
Dapatditemukan pada sepertiga posterior lidah yang berdekatandengantonsil.
B. Mukokel
1. Definisi
Mukokel merupakan lesi mukosa oral yang terbentuk akibat rupturnya
duktus glandula saliva minor dan penumpukan mucin pada sekeliling jaringan
lunak. Umumnya sering diakibatkan oleh trauma lokal atau mekanik. Mukokel
merupakan kista benigna, tetapi dikatakan bukan kista yang sesungguhnya, karena
tidak memiliki epithelial lining pada gambaran histopatologisnya. Lokasinya
bervariasi, bibir bawah merupakan bagian yang paling sering terkena mukokel,
yaitu lebih dari 60% dari seluruh kasus yang ada. Umumnya terletak di bagian
lateral mengarah ke midline. Beberapa kasus ditemui pada mukosa bukal dan
ventral lidah, dan jarang terjadi pada bibir atas. Banyak literatur yang menyebut
mukokel sebagai mucous cyst. Kebanyakan kasus melaporkan insidensi tertinggi
mukokel adalah usia muda tetapi hingga saat ini belum ada studi khusus pada usia
yang spesifik.

2. Etiopatogenesis

Mukokel melibatkan duktus glandula saliva minor dengan etiologi yang tidak
begitu jelas, namun diduga terbagi atas dua, pertama diakibatkan trauma, baik

15
trauma lokal atau mekanik pada duktus glandula saliva minor, untuk tipe ini disebut
mukus ekstravasasi. Trauma lokal atau mekanik dapat disebabkan karena trauma
pada mukosa mulut hingga melibatkan duktus glandula saliva minor
akibat pengunyahan, atau kebiasaan buruk seperti menghisap mukosa bibir diantara
dua gigi yang jarang, menggigit-gigit bibir, kebiasaan menggesek-gesekkan bagian
ventral lidah pada permukaan gigi rahang bawah (biasanya pada anak yang
memiliki kebiasaan minum susu botol atau dot), dan lain-lain. Dapat juga akibat
trauma pada proses kelahiran bayi, misalnya trauma akibat proses kelahiran bayi
yang menggunakan alat bantu forceps, trauma pada saat dilakukan suction untuk
membersihkan saluran nafas sesaat setelah bayi dilahirkan, ataupun trauma yang
disebabkan karena ibu jari bayi yang dilahirkan masih berada dalam posisi sucking
(menghisap) pada saat bayi melewati jalan lahir. Ketiga contoh trauma pada
proseskelahiran bayi akan mengakibatkan mukokel kongenital. Setelah terjadi
trauma yang dikarenakan salah satu atau beberapa hal di atas, duktus glandula
saliva minor rusak, akibatnya saliva keluar menuju lapisan submukosa kemudian
cairan mukus terdorong dan sekresinya tertahan lalu terbentuk inflamasi (adanya
penumpukan jaringan granulasi di sekeliling kista) mengakibatkan penyumbatan
pada daerah tersebut, terbentuk pembengkakan lunak, berfluktuasi, translusen
kebiruan pada mukosa mulut yang disebut mukokel.
Kedua, diakibatkan adanya genangan mukus dalam duktus ekskresi yang
tersumbat dan melebar, tipe ini disebut mukus retensi. Genangan mukus dalam
duktus ekskresi yang tersumbat dan melebar dapat disebabkan karena plug mukus
dari sialolith atau inflamasi pada mukosa yang menekan duktus glandula saliva
minor lalu mengakibatkan terjadinya penyumbatan pada duktus glandula saliva
minor tersebut, terjadi dilatasi akibat cairan mukus yang menggenang dan
menumpuk pada duktus glandula saliva, dan pada akhirnya ruptur, kemudian
lapisan subepitel digenangi oleh cairan mukus dan menimbulkan pembengkakan
pada mukosa mulut yang disebutmukokel.

3. Klasifikasi
Berdasarkan etiologi, patogenesis, dan secara umum mukokel dapat
diklasifikasikan menjadi dua, yaitu mukokel ekstravasasi mukus yang sering disebut
16
sebagai mukokel superfisial dimana etiologinya trauma lokal atau mekanik, dan
mukokel retensi mukus atau sering disebut kista retensi mukus dimana etiologinya
plug mukus akibat sialolith atau inflamasi pada mukosa mulut yang menyebabkan
duktus glandula saliva tertekan dan tersumbat secara tidak langsung. Literatur lain
mengklasifikasikan mukokel menjadi tiga, yaitu superficial mucocele yang letaknya
tepat di bawah lapisan mukosa dengan diameter 0,1-0,4 cm, classic mucocele yang
letaknya tepat di atas lapisan submukosa dengan diameter lebih kecil dari 1 cm, dan
deep mucocele yang letaknya lebih dalam dari kedua mukokel sebelumnya. Dikenal
pula tipe mukokel kongenital yang etiologinya trauma pada proses kelahiranbayi.

Gambar 2.2 Mukokel ekstravasasi mukus

17
Gambar 2.3 Mukokel retensi mukus

4. Gambaran Klinis dan Histopatologi


Mukokel memiliki gambaran klinis yang khas, yaitu massa atau
pembengkakan lunak yang berfluktuasi, berwarna translusen kebiruan apabila
massa belum begitu dalam letaknya, kadang-kadang warnanya normal seperti warna
mukosa mulut apabila massa sudah terletak lebih dalam, apabila dipalpasi pasien
tidak sakit. Massa ini berdiameter 1 mm hingga beberapa sentimeter, beberapa
literatur menuliskan diameter mukokel umumnya kurang dari 1 cm.

Gambar 2.4 Mukokel pada anterior median line permukaan ventral lidah yang melibatkan
blandin-nuhn

18
Gambar 2.5 Mukokel pada bibirbawah

Gambaran histopatologi mukokel tipe ekstravasasi mukus berbeda dengan tipe


retensi mukus. Tipe ekstravasasi gambaran histopatologinya memperlihatkan glandula
yang dikelilingi oleh jaringan granulasi (Gambar 2.6). Sedangkan tipe retensi
menunjukkan adanya epithelial lining (Gambar 2.7).

Gambar 2.6 Gambaran histopatologi mukokel tipe ekstravasasi mukus yang terletak di bibir
bawah

19
Gambar 2.7 Gambaran histopatologi mukokel yang bagian duktusnya
mengalami dilatasi

5. Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosa mukokel dilakukan prosedur-
prosedur yang meliputi beberapa tahap. Pertama melakukan
anamnese dan mencatat riwayat pasien. Pada pasien anak dilakukan
aloanamnese yaitu anamnese yang diperoleh dari orang terdekat
pasien. Pada pasien dewasa dengan autoanamnese yaitu yang
diperoleh dari pasien itu sendiri. Kedua melakukan pemeriksaan
terhadap pasien dan pemeriksaan pendukung. Pemeriksaan yang
dilakukan meliputi pemeriksaan fisik dengan tujuan melihat tanda-
tanda yang terdapat pada pasien, yaitu pemeriksaan keadaan umum
mencakup pengukuran temperatur dan pengukuran tekanan darah,
pemeriksaan ekstra oral mencakup pemeriksaan kelenjar limfe,
pemeriksaan keadaan abnormal dengan memperhatikan konsistensi,
warna, dan jenis keadaan abnormal, kemudian pemeriksaan intra oral
yaitu secara visual melihat pembengkakan pada rongga mulut yang
dikeluhkan pasien dan melakukan palpasi pada massa tersebut.
Diperhatikan apakah ada perubahan warna pada saat dilakukan
palpasi pada massa. Ditanyakan kepada pasien apakah ada rasa sakit
pada saat dilakukan palpasi.

1
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan pendukung meliputi
pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radiografi. Pemeriksaan
laboratorium sangat membantu dalam menegakkan diagnosa. Pada
kasus mukokel, cairan diambil secara aspirasi dan jaringan diambil
secara biopsi, kemudian dievaluasi secara mikroskopis untuk
mengetahui kelainan-kelainan jaringan yang terlibat. Kemudian
dapatdilakukan pemeriksaan radiografi, meliputi pemeriksaan secara
MRI (Magnetic Resonance Imaging), CT Scan (Computed
Tomography Scan), ultrasonografi, sialografi, dan juga radiografi
konfensional.

6. Diagnosis Banding
Beberapa penyakit mulut memiliki kemiripan gambaran klinis
dengan mukokel, diantaranya hemangioma, lymphangioma, pyogenic
granuloma (apabila letaknya pada bagian anterior lidah), salivary
gland neoplasm, dan lain-lain. Untuk dapat membedakan mukokel
dengan penyakit-penyakit tersebut maka dibutuhkan riwayat
timbulnya massa dan gambaran klinis yang jelas yang
menggambarkan ciri khas mukokel yang tidak dimiliki oleh penyakit
mulut lain, dan dibutuhkan hasil pemeriksaan fisik dan hasil
pemeriksaan pendukung lain yang akurat seperti pemeriksaan
laboratorium dan pemeriksaan radiografi.

7. Perawatan
Pada umumnya pasien yang berkunjung ke dokter gigi dan
meminta perawatan, memiliki ukuran mukokel yang relatif besar.
Perawatan mukokel dilakukan untuk mengurangi dan menghilangkan
gangguan fungsi mulut yang dirasakan pasien akibat ukuran dan
keberadaan massa. Sejumlah literatur menuliskan beberapa kasus
mukokel dapat hilang dengan sendirinya tanpa dilakukan perawatan
terutama pada pasien anak-anak.

2
Perawatan yang dilakukan meliputi penanggulangan faktor
penyebab dan pembedahan massa. Penanggulangan faktor penyebab
dimaksudkan untuk menghindarkan terjadinya rekurensi. Umumnya
mukokel yang etiologinya trauma akibat kebiasaan buruk atau trauma
lokal dan mekanik yang terjadi terus menerus dapat menyebabkan
terjadinya rekurensi mukokel. Karena jika kebiasaan buruk atau hal
yang menyebabkan terjadinya trauma tidak segera disingkirkan atau
dihilangkan, maka mukokel akan dengan mudah muncul kembali
walaupun sebelumnya sudah dilakukan perawatan bedah.
Pembedahan massa dibagi atas tiga jenis, yaitu eksisi,
marsupialisasi, dan dissecting. Pemilihan teknik pembedahan
tergantung kepada ukuran dan lokasi massa.

3
BAB III
ANALISIS MASALAH

Seorang pasien datang ke poliklinik gigi dan mulut RSUP Dr. Moh.Hoesin
Palembang mengeluhkan terdapat benjolan sebesar biji kacang di bibir bagian
dalam sebelah kiri. Dari hasil anamnesis, didapatkan sejak 2 tahun yang lalu,
pasien mengaku bahwa pernah tergigit bibir bagian dalam sebelah kiri saat makan,
kemudian timbul sariawan yang lama-kelamaan menjadi benjolan sebesar biji
kacang. Benjolan sering membesar dan pecah sendiri, kemudian tumbuh lagi di
tempat yang sama. Pasien tidak merasa sakit saat benjolan ditekan, namun pasien
merasa tidak nyaman saat makan karena adanya benjolan tersebut. Berdasarkan
temuan tersebut, didapati adanya riwayat trauma pada mukosa bibir bagian dalam
sebelah kiri sebelum terbentuknya benjolan. Trauma lokal dan mekanis ini
merupakan salah satu penyebab tersering terjadinya kerusakan duktusglandula
saliva minor.
Pada pemeriksaanfisik, keadaan umum pasien tampak kompos mentis,
denyut nadi 80x/m, laju pernapasan 23x/m, suhu 37,10 C dan tekanan darah
130/80 mmHg. Pada pemeriksaan ekstraoral,dijumpai bentuk wajah simetris, pada
bibir terdapat benjolan lunak dengan ukuran 7 mm di mukosa bibir bagian
dalam sebelah kiri, tidak nyeri ketika ditekan, dan berfluktuasi, tidak teraba
kelenjar getah bening submandibula dan kelenjar lainnya, pada TMJ tidak
terdapat kelainan. Pada pemeriksaan intraoral, didapatkan debris dan kalkulus
pada regio A, B, D, E dan plak pada regio A, B, D, E, F. Berdasarkan
pemeriksaan ektraoral, didapati benjolan lunak yang tidak nyeri saat ditekan dan
berfluktuasi. Hal ini sesuai dengan manifestasi klinisi dari salah satu kerusakan
glandula saliva minor, yaitu mukokel. Mukokel memiliki gambaran klinis yang
khas, yaitu massa atau pembengkakan lunak yang berfluktuasi, berwarna
translusen kebiruan apabila massa belum begitu dalam letaknya, kadang-kadang
warnanya normal seperti warna mukosa mulut apabila massa sudah terletak lebih
dalam, apabila dipalpasi pasien tidak sakit.Massa ini berdiameter 1 mm hingga
beberapa sentimeter, beberapa literatur menuliskan diameter mukokel umumnya

4
kurang dari 1 cm. Selain itu, benjolan pada kasus ini ditemukan pada bibir bawah
dan arah lateral bibir. Hal ini sesuai dengan penelitian yang menyebutkan bahwa
bibir bawah merupakan bagian yang paling sering terkena mukokel, yaitu lebih
dari 60% dari seluruh kasus yang ada dan umumnya terletak di bagian lateral
mengarah ke midline.
Tujuan perawatan mukokel adalah untuk mengurangi dan menghilangkan
gangguan fungsi mulut yang dirasakan pasien akibat ukuran dan keberadaan
massa.Pada kasus ini, pasien merasa tidak nyaman dengan benjolan tersebut dan
ingin membuang benjolan.Perawatan yang dilakukan meliputi penanggulangan
faktor penyebab dan pembedahan massa. Penanggulangan faktor penyebab
dimaksudkan untuk menghindarkan terjadinya rekurensi. Sedangkan, pembedahan
massa dibagi atas tiga jenis, yaitu eksisi, marsupialisasi, dan dissecting. Pemilihan
teknik pembedahan tergantung kepada ukuran dan lokasi massa. Pada kasus ini,
dengan ukuran kurang dari 1 cm maka dilakukan pembedahan eksisi pada pasien.

5
DAFTAR PUSTAKA

1. Amerogen AV. Ludah dan Kelenjar Ludah Arti Bagi Kesehatan Gigi. Alih
Bahasa Rafiah Abyono. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press. 1988
2. Guyton. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 7 th. Jakarta: EGC. 1994
3. Atlas Anatomi Manusia Sobotta. EGC
4. Dixon, Andrew D. Anatomi untuk Kedokteran Gigi ed.5. Jakarta: Hipokrates.
1993
5. Roth GL, Calmes R. Oral Biology. St. Louis: CV Mosby. 1981
6. Geneser, Finn. Buku Teks Histologi, Jilid 2. Jakarta: Binarupa Aksara. 1994.
7. Mandel L. Salivary Gland Center. Salivary Glands-Mucoceles. Available from
URL: http : /www. cpmcnet. coIumbia. edu/dept/dental-OMS/OMS-salivary0 l
4.html
8. Selim AM. Mucous Cyst. eMedical J November 14, 2001; 2; 1 l:sl-t0