Vous êtes sur la page 1sur 13

Bisnis syariah dewasa ini mengalami perkembangan yang signifikan dan

Menjadi tren baru dunia bisnis dinegara-negara mayoritas berpenduduk muslim


maupun nonmuslim Perkembangan ini terutama terjadi disektor keuangan.
Perbankan Syariah dan produk-produknya telah beredar luas di masyarakat,
Asuransi Syariah juga sudah mulai bermunculan. Perkembangan bisnis syariah
ini menuntut standard akuntansi yangsesuai dengan karakteristik bisnis syariah
sehingga transparansi dan akuntan bilitas bisnis syariah pun dapat terjamin.
Oleh karena itu, lembaga keungan islam harus teliti dalam accounting yang
bebas bunga(riba) seperti akutansi mudharobah, musyarakah, ijarah,
istishna,salam dll .Dalam makalah ini kami akan menjelaskan tentang akuntansi
salam. Akad salam dapat membantu produsen dalam penyediaan modal sehingga
ia dapat menyerahkan produk sesuai dengan yang telah dipesan sebelumnya.
Sebaliknya, pembeli dapat jaminan memperoleh barang tertentu, pada saat ia
membutuhkan dengan harga yang disepakatinya diawal. Akad salam biasanya
digunakan untuk pemesanan barang pertanian.
Kendati demikian, skema transaksi ini tetap potensial dikembangkan di
Indonesia seiring dengan meningkatnya perhatian pemerintah untuk
mengembangkan sector pertanian. Secara khusus, jika pemerintah terlibat dalam
upaya mengembangkan kemampuan akses pendanaan petani, penggunaan skema
salam relative lebih cepat dan lebih menguntungkan disbanding skema lainnya.
Setelah mengikuti presentasi atau diskusi ini diharapkan peserta(audiences) akan
lebih memahami mengenai transaksi salam dan perlakuan akuntansinya.

PENGERTIAN AKAD SALAM


Salam berasal dari kata As salaf yang artinya pendahuluan karena pemesan
barang menyerahkan uangnya di muka. Para fuqaha menamainya al mahawiij
(brang-barang mendesak) karena ia sejenis jual beli yang dilakukan mendesak
walaupun barang yang diperjualbelikan tidak ada di tempat. Mendesak, dilihat
dari sisi pembeli karena ia sangat membutuhkan barang tersebut di kemudian hari
sementara dari sisi penjual, ia sangat membutuhkan.
Salam dapat didefinisikan sebagai transaksi atau akad jual beli dimana
barang yang diperjualbelikan belum ada ketika transaksi dilakukan, dan pembeli
melakukan pembayaran di muka sedangkan penyerahan barang baru dilakukan di
kemudian hari. PSAK 103 mendefinisikan Salam sebagai akad jual beli barang
pesanan (muslim fiih) dengan pengiriman dikemudian hari oleh penjual (muslam
illaihi) dan pelunasannya dilakukan oleh pembeli (al muslam) pada saat akad
disepakati sesuai dengan syarat-syarat tertentu.
Dalam murabahah, kita kenal ada penjualan tangguh yang artinya barang
diserahkan terlebih dahulu sedangkan pembayaran kemudian. Salam merupakan
kebalikannya, dimana pembayaran dilakukan terlebih dahulu dan penyerahan
barang dilakukan kemudian. Untuk menghindari risiko yang merugikan, pembeli
boleh meminta jaminan dari penjual.
Dalam akad salam, harga barang pesanan yang sudah disepakati tidak
dapat berubah selama jangka waktu akad. Apabila pembeli menerima barang
sedangkan kualitasnya lebih rendah maka pembeli akan mengakui adanya
kerugian dan tidak boleh meminta pengurangan harga, karena harga sudah
disepakati dalam akad tidak dapat diubah. Demikian juga jika kualitasnya lebih
tinggi, penjual tidak dapat meminta tambahan harga dan pembeli tidak boleh
mengakui adanya keuntungan, karena kalau diakui sebagai keuntungan dapat
dipersamakan ada unsur riba ( kelebihan yang tidak ada iwad/faktor pengimbang
yang dibolehkan syariah).
Manfaat transaksi salam bagi pembeli adalah adanya jaminan memperoleh
barang dalam jumlah dan kualitas tertentu pada saat ia membutuhkan dengan
harga yang disepakatinya di awal. Sementara manfaat bagi penjual adalah
diperolehnya dana untuk melakukan aktivitas produksi dan memenuhi sebagian
kebutuhan hidupnya.
Salam dapat dilakukan secara langsung antara pembeli dan pejual, dan
dapat juga dilakukan oleh tiga pihak secara paralel: pembeli penjual pemasok
yang disebut sebagai salam paralel. Risiko yang muncul dari kasus ini adalah
apabila pemasok tidak bisa mengirim barang maka ia tidak dapat memenuhi
permintaan pembeli, risiko lain barang yang dikirimkan oleh pemasok tidak sesuai
dengan yang dipesan oleh pembeli sehingga perusahaan memiliki persediaan
barang tersebut dan harus mencari pembeli lain yang berminat. Sedangkan ia tetap
memiliki kewajiban pada pembeli dan pemasok.
Transaksi salam biasanya digunakan pada industri pertanian. Bahkan akad
salam dapat digunakan untuk membantu petani dengan tiga strategi pendekatan
yang dilakukan pemerintah (Syafii Antonio, 1999), antara lain sebagai berikut:
1. Pemerintah membentuk perusahaan pembiayaan syariah, untuk sektor
pertanian secara khusus dalam bentuk BUMN nonbank. Perusahaan ini
bertanggung jawab untuk menyalurkan pembiayaan pada petani, dan
kemudian menjual hasil pertanian yang didapat kepada publik atau
pemerintah dengan kata lain memperluas peran Bulog, dimana bulog
difungsikan pula sebagai lembaga pembiayaan petani. Hal yang terpenting
lembaga ini haruslah amanah.
2. Pemerintah membentuk bank pertanian syariah. Namun demikian, yang perlu
diperhatikan adalah bagaimana cara bank untuk menyimpan hasil pertanian,
mengingat ia akan menerima dalam bentuk produk dari petani dan bukan
dalam bentuk uang. Untuk itu, perlu ada modifikasi dari skema salam, dimana
bank dapat menunjuk petani yang bersangkutan untuk menjualkan hasil
pertaniannya ke pasar, dan kemudian mengembalikan sejumlah uang kepada
bank. Petani dapat diberikan komisi tambahan oleh bank karena telah
bertindak sebagai agennya.
3. Melalui penerbitan sukuk. Daerah-daerah surplus pangan dapat menerbitkan
sukuk berbasis salam dan daerah-daerah yang kekurangan pangan dapat
menginvestasikan dananya untuk membeli sukuk. Daerah surplus pangan
akan memiliki modal tambahan, dan daerah minus pangan akan mendapat
kepastian supply pangan.

JENIS AKAD SALAM


1. Salam adalah transaksi jual beli dimana barang diperjualbelikan belum ada
ketika transaksi dilakukan, pembeli melakukan pembayaran di muka
sedangkan penyerahan barang baru dilakukan dikemudian hari.

Skema Salam

Barang/Modal
Pembeli/
Pembeli
penjual
Salam
Uang

2. Salam Paralel, artinya melaksanakan dua transaksi salam yaitu antara


pemesan dan penjual antara penjual dengan pemasok (supplier) atau pihak
ketiga lainnya. Hal ini terjadi ketika penjual tidak memiliki barang pesanan
dan memesan kepada pihak lain untuk menyediakan barang pesanan tersebut.
3. Salam Paralel dibolehkan asalkan akad salam kedua tidak tergantung pada
akad pertama yaitu akad antara penjual dan pemasok tidak tergantung pada
akad antara pembeli dan penjual.
Beberapa ulama kontemperor melarang transaksi salam paralel terutama jika
perdagangan dan transaksi semacam itu dilakukan secara terus-menerus,
karena dapat menjurus kepada riba.

Skema Salam Paralel


Barang/Modal Barang/Modal
Pembeli/ Pembeli/ Pembeli
penjual penjual
Salam 2 Salam 1

Uang Uang

Salam Forward Future


Penentuan harga Saat kontrak di Saat kontrak di Saat kontrak di
dan kuantitas buat buat buat
produk yang akan
di kirimkan

Pengiriman barang Di masa depan Di masa depan Tidak harus ada


sesuai dengan sesuai dengan pengiriman karena
kontrak kontrak pembeli atau
penjual dapat
menutup
kewajibannya
dengan bertukar
posisi. Misalnya,
Tn A menjual
1.000 kg beras
untuk pengiriman
3 bulan kemudian.
Setelah kontrak
berjalan 2 minggu
penjual dapat
menutup posisi
awal dengan
menjadi pembeli
beras 1.000 kg.
Pembayaran oleh Saat kontrak di Saat barang saat melaukan
pembeli buat, pembeli diterima dimasa pembelian atau
harus seluruh nilai depan sesuai penjual, investor
kontrak yang di dengan kontrak harus menyimpan
disetujui uang di clearing
house dan setiap
hari akan proses
mark-to-the-
market
Barang yang Barang yang halal Sesuai dengan Barang yang
menjadi objek dan harus mudah kehendak pembeli ditransaksikan
kontrak di temui di dan penjual yang distandarisasikan.
pasar(fungible). menbuat kontrak Umumnya future
Umumnya salam forward memperjual
digunakan dalam komoditas dan
kontrak jual-beli aset keuangan
produk pertanian.
Tujuan di buatnya Memberikan Lindungi nilai dan Lindungi nilai dan
kontrak modal kerja spekulasi spekulasi
kepada penjual
untuk
memproduksi

Sumber Hukum Akad Salam


Al-Quran
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara
tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaknya kamu menuliskannya dengan
benar.... (QS al-Baqarah: 282)

Hai orang-orang yang beriman penuhilah akad-akad itu... (QS 5:1)


Al-Hadits
Barang siapa melakukan salam, hendaknya ia melakukannya dengan
takaran yang jelas dan timbangan yang jelas pula. Untuk jangka waktu yang
diketahui. (HR. Bukhari Muslim).

Tiga hal yang di dalamnya terdapat keberkahan: jual beli secara tangguh
muqaradhah (mudharabah), dam mencampur gandum dengan tepung untuk
keperluan rumah, bukan untuk dijual. (HR. Ibnu Majah).

Rukun dan Ketentuan Akad Salam


Rukun salam ada tiga, yaitu:
1. Pelaku, terdiri atas penjual (muslam illaihi) dan pembeli (al muslam).
2. Objek akad berupa barang yang akan diserahkan (muslam fiih) dan modal
salam (rasu maalis salam).
3. Ijab kabul/serah terima.

Ketentuan syariah, terdiri:


1. Pelaku adalah cakap hukum dan baligh
2. Objek akad
Ketentuan syariah yang terkait dengan modal salam, yaitu:
a. Modal salam harus diketahui jenis dan jumlahnya.
b. Modal salam berbentuk uang tunai.
c. Modal salam diserahkan ketika akad berlangsung, tidak boleh utang
atau merupakan piutang.
Ketentuan syariah barang salam, yaitu:
a. Barang tesebut harus dapat dibedakan/diidentifikasi mempunyai
spesifikasi dan karakteristik yang jelaas seperti kualitas, jenis, ukuran
dan lain sebagainya sehingga tidak ada gharar.
b. Barang tersebut harus dapat dikuantifikasi.ditakar/ditimbang.
c. Waktu penyerahan barang harus jelas, tidak harus tanggal tertentu
boleh juga dalam kurun waktu tertentu, misalnya dalam waktu 6 bulan
atau musim panen disesuaikan dengan kemungkinan tersedianya
barang yang dipesan.
d. Barang tidak harus ada di tangan penjual tetapi harus ada pada waktu
yang ditentukan.
e. Apabila barang yang dipesan tidak ada pada waktu yang ditentukan,
akad menjadi fasakh/rusak dan pembeli dapat memilih apakah
menunggu sampai dengan barang yang dipesan tersedia atau
membatalkan akad sehingga penjual harus mengembalikan dana yang
telah diterima.
f. Apabila barang yang dikirim cacat atau tidak sesuai dengan yang
memilih untuk menerima atau menolak.
g. Apabila barang yang dikirim memiliki kualitas yang lebih baik, maka
penjual tidak boleh meminta tambahan pembayaran dan hal ini
dianggap sebagai pelayanan kepuasan pelanggan.
h. Apabila barang yang dikirim kualitasnya lebih rendah, pembeli boleh
memilih menolak atau menerimanya. Apabila pembeli menerima maka
pembeli tidak boleh meminta pengurangan harga.
i. Barang boleh dikirim sebelum jatuh tempo asalkan disetujui oleh
kedua pihak dan dengan syarat kualitas dan jumlah barang sesuai
dengan kesepakatan, dan tidak boleh menuntut penambahan harga.
j. Penjualan kembali barang yang dipesan sebelum diterima tidak
dibolehkan secara syariah.
k. Penggantian barang yang dipesan dengan barang lain.
l. Apabila tempat penyerahan barang tidak disebutkan, akad tetap sah.
3. Ijab Kabul
Ijab kabul adalah pernyataan dan ekspresi saling rida/rela di antara pihak-
pihak pelaku akad yang dilakukan secara verbal, tertulis, melalui
korespondensi atau menggunakan cara-cara komunikasi modern.

Berakhirnya Akad Salam


Dari penjelasan diatas, hal-hal yang dapat membatalkan kontrak adalah:
1. Barang yang dipesan tidak ada pada waktu yang di tentukan.
2. Barang yang dikirim cacat atau tidak sesuai dengan yang di sepakati
dalam akad.
3. Barang yang dikirim kualitasnya lebih rendah, dan pembeli memilih
untuk menolak atau membatalkan akad.
4. Barang dikirim kualitasnya tidak sesuai akad tetapi pembeli
menerimnya.
5. Barang diterima.

Apabila barang yang dikirim tidak sesuai kualitasnya dan pembeli memilih
untuk membatalkan akad, maka pembeli berhak atas pengembalian modal
salam yang diserahkannya. Pembatalan dimungkinkan untuk keseluruhan
barang pesanan, yang mengakibatkan pemgembalian semua modal salam
yang telah dibayarkan. Dapat juga pembatalan sebagian penyerahan barang
pesanan dengan pemgembalian sebagian modal salam.

Akuntansi Untuk Pembeli

Hal-hal yang harus dicatat oleh pembeli dalam transaksi secara akuntansi:

1. Pengakuan piutang salam, piutang salam diakui pada saat modal usaha
salam dibayarkan atau dialihkan kepada penjual. Modal usaha salam
disajikan sebagai piutang salam.
2. Pengukuran modal usaha salam
Modal salam dalam bentuk kas diukur sebesar jumlah yang dibayarkan
Jurnal:
Piutang Salam xxx
Kas xxx
Modal usaha salam dalam bentuk aset nonkas diukur sebesar nilai wajar,
selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat modal usaha nonkas yang
diserahkan diakui sebagai keuntungan atau kerugian pada saat penyerahan
modal usaha tersebut.
a. Pencatatan apabila nilai wajar lebih kecil dari nilai tercatat
Jurnal:
Piutang Salam xxx
Kerugian xxx
Aset Nonka xxx

b. Pencatatan apabila nilai wajar lebih besar dari nilai tercatat


Jurnal:
Piutang Salam xxx
Aset Nonkas xxx
Keuntungan xxx

3. Penerimaan barang pesanan


a. Jika barang pesanan sesuai akad, maka dinilai sesuai nilai yang disepakati
Jurnal:
Aset Slam xxx
Piutang Salam xxx

b. Jika pemesanan berbeda kualitasnya


1) Nilai wajar dari barang pesanan yang diterima nilainya sama atau lebih
tinggi dari nilai barang pesanan yang tercantum dalam akad, maka
barang pesanan yang diterima diukur sesuai dengan nilai akad.
Jurnal:

Aset Salam xxx


Piutang salam xxx

2) Jika nilai wajar dari barang pesanan yang diterima lebih rendah dari
nilai barang pesanan yang tercantum dalam akad, Maka barang
pesanan yang diterima diukur sesuai dengan nilai wajar pada saat
diterima dan selisihnya diakui sebagai kerugian.
Jurnal:

Persediaan-Aset Salam (diukur pada nilai wajar) xxx


Kerugian Salam xxx
Piutang Salam xxx
c. Jika pebeli tidak menerima sebagian atau seluruh barang pesanan pada
tanggal jatuh tempo pengiriman, maka:
1) Jika tanggal pengiriman diperpanjang, maka nilai tercatat piutang
salam sebesar bagian yang belum dipenuhi sesuai dengan nilai yang
tercantum dalam akad, dan jurnal atas bagian barang pesanan yang
diterima:
Aset Salam (sebesar jumlah yang diterima) xxx
Piutang Salam xxx
2) Jika akad salam dibatalkan sebagian atau seluruhnya, maka piutang
salam berubah menjadi piutang yang harus dilunasi oleh penjual
sebesar bagian yang tidak dapat dipenuhi dan jurnal:
Aset Lain-lain-Piutang pada Penjual xxx
Piutang salam xxx
3) Jika akad salam dibatalkan sebagian atau seluruhnya dan pembeli
mempunyai jaminan atas barang pesanan serta hasil penjualan jaminan
tersebut lebih kecil dari nialai piutang salam, maka selisih antara nilai
tercatat piutang salam dan hasil penjualan jaminan tersebut diakui
sebagai piutang kepada penjual. Jurnal:
Kas xxx
Aset Lain-Piutang pada Penjualan xxx
Piutang Salam xxx
Jika hasil penjualan jaminan tersebut lebih besar dari nialai tercatat
piutang salam maka selisihnya jadi hak penjual.
Kas xxx
Utang Penjual xxx
Piutang Salam xxx

4. Denda yang diterima dan diberlakukan oleh pembeli diakui sebagai bagian
dana kebajikan.
Jurnal:
Dana Kebajikan-Kas xxx
Dana Kebajikan-Pendapatan Denda xxx

Denda hanya booleh dikenakan kepada penjual yang mampu


meneyelesaikan kewajibannya, tetapi sengaja tidak melakukannya lalai. Hal
ini tidak berlaku bagi penjual yang tidak mampu menunaikan kewajibannya
karena force majeur

5. Penyajian
a. Pembeli menyajikan modal usaha salam yang diberikan sebagai piutang
salam.
b. Piutang yang harus dilunasi oleh penjual karena tidak dapat memenuhi
kewajibannya dalam transaksi salam disajikan secara terpisah dari pitang
salam.
c. Persediaan yang diperoleh melalui transaksi salam diukur sebesar nilai
terendah biaya perolehan atau nilai bersih yang dapat direalisasi. Apabila
nilai bersih dapat direalisasi lebih rendah dari biaya perolehan, maka
selisihnya diakui sebagai kerugian.

6. Pengungkapan
a. Besarnya modal usaha salam, baik yang dibiayai sendiri maupun yang
dibiayai secara bersama-sama dengan pihak lain;
b. Jenis dan kualitas barang pesanan; dan
c. Pengungkapan lain sesuai dengan PSAK NO. 101 tentang Penyajian
Laporan Keuangan Syariah.

Akuntansi Untuk Penjual

1. Pengakuan kewajiban salam, kewajiban salam diakui pada saat penjual


menerima modal usaha salam. Modal usaha salam yang diterima disajikan
sebagai kewajiban salam.

2. Pengukuran kewajiban salam, jika modal usaha salam dalam benuk kas
diukur sebesar jumlah yang di terima.
jurnal:

kas xxx
utang salam xxx
Jika modal usaha salam dalam bentuk aset nonkas diukur sebesar nilai
wajar
jurnal:

Aset nonkas (nilai wajar) xxx


utang salam xxx
3. Kewajiban salam dihentikan pengakuannya (derecognation) pada saat
penyerhan barang kepada pembeli
jurnal:

utang salam xxx


Penjualan xxx

4. Jika penjual melakukan transaksi salam paralel, selisih antara jumlah yang
dibayar oleh pembeli akhir dan biaya porolehan barang pesanan diakui
sebagai keuntungan dan kerugian pada saat penyerahan barang pesanan
oleh penjual ke pembeli akhir.
jurnal ketika membeli persedian:

aset salam xxx


Kas xxx

Pencatatan ketika menyerahkan persedian, jika jumlah yang dibayar oleh


pembeli akhir lebih besar dari biaya perolehan barang pesanan.
hutang salam xxx
Aset salam xxx
Keuntungan salam xxx

5. Pada akhirnya periode pelaporan keuagan, persedian yang diperoleh


melalui transaksi salam diukur sebesar nilai terendah biaya perolehan atau
nilai bersih yang dapat direalisasi. Apabila nilai bersih yang dapat
direalisasi lebih rendah dari biaya perolehan, maka selisihnya diakui
sebagai kerugian.

6. Penyajian, penjual menyajikan modal usaha salam yang diterima sebagai


kewajiban salam.

7. Pengungkapan
a) Piutang salam kepada produsen (dalam salam parallel) yang
memiliki hubungan istimewa.
b) Jenis dan kuantitas barang pesanan; dan
c) Pengungkapan lain sesuai PSAK No. 101 tentang penyajian
laporan keuangan syariah.

Jurnal ketika membeli persediaan:


Aset salam xxx
Kas xxx

Pencatatan ketika menyerahkan persediaan bila jumlah yang dibayar oleh


pembeli akhir lebih kecil dari biaya perolehan barang pesanan.
Utang salam xxx
Aset salam xxx

Jurnal ketika menyerahkan persediaan bila jumlah yang dibayar oleh pembeli
akhir lebih besar dari biaya perolehan barang pesanan.
Utang salam xxx
Keuntungan salam xxx

4. Pada akhir periode pelaporan keuangan, persediaan yang diperoleh melalui


transaksi salam diukur sebesar nilai terendah biaya perolehan atau nilai bersih
yang dapat direalisasi. Apabila nilai bersih yang dapat direalisasi lebih rendah
dari biaya perolehan, maka selisihnya diakui sebagai kerugian.
5. Penyajian, penjual menyajikan modal usaha salam yang diterima sebagai
kewajiban salam.
6. Pengungkapan, penjual dalam transaksi salam mengungkapkan:
a. Piutang salam kepada produsen (dalam salam paralel) yang memiliki
hubungan istimewa
b. Jenis dan kuantitas barang pesanan
c. Pengungkapan lain sesuai dengan PSAK No. 101 tentang Penyajian
Laporan Keuangan Syariah.

ILUSTRASI KASUS AKAD SALAM


a. Penyerahan Dilakukan secara Tunai
Transaksi (dalam ribuan rupiah) Penjual Pembeli
1 Januari 2007

Pembeli memberikan modal salam Kas 100.000 Piutang salam 100.000


kepada penjual senilai Rp 100.000 Utang salam 100.000 Kas 100.000
secara tunai.
Pengiriman akad dilakukan setelah
Tgl 31 Maret 2007/masa panen.

b. Transaksi dengan Penyerahan Aset Nonkas


Transaksi Penjual Pembeli
Penyerahan aset nonkas dengan Aset 110.000 Piutang salam 110.000
nilai Rp 80.000 tercatat Rp 20.000 Utang salam 110.000 Aset nonkas 80.000
Nilai wajar Rp 110.000 Keuntungan 30.000
Penyerahan aset nonkas dengan Aset 70.000 Piutang salam 70.000
nilai tercatat Rp 80.000 Utang salam 70.000 Kerugian 10.000
Nilai wajar Rp 70.000 Aset nonkas 80.000

Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa salam adalah transaksi dimana
Pembeli membayar terlebih dahulu atas suatu barang yang spesifikasi dan
Kuantitasnya jelas sedangkan barangnya baru akan diserahkan pada saat tertentu
di
kemudian hari. Penggunaan skema salam relatif lebih cepat dan lebih
menguntungkan dibanding skema lainnya karena dapat mengembangkan

Kemampuan akses pendanaan petani dan mengembangkan sector pertanian dan


industri.
Manfaat transaksi salam bagi pembeli adalah adanya jaminan memperoleh
Barang dalam jumlah dan kualitas tertentup ada saatia membutuhkan dengan
Harga yang disepakatinya diawal. Sementara manfaat bagi penjual adalah
Diperolehnya dana untuk melakukan aktivitas produksi dan memenuhi sebagian
Kebutuhan hidupnya. Selain itu, manfaat salam ialah selisih harga yang didapat
Dari nasabah dengan harga jual kepada pembeli.