Vous êtes sur la page 1sur 9

ASKEP TRAUMA PELVIS

1. Pengkajian
A. Riwayat Penyakit :
Dilakukan anamnesa untuk mendapatkan riwayat :
- mekanisme terjadinya
- cidera, posisi tubuh saat berlangsungnya trauma
- riwayat fraktur sebelumnya,
- pekerjaan
- obat-obatan yang dikomsumsi
- merokok
- riwayat alergi
- riwayat osteoporosis
- riwayat penyakit lainnya

B. Pemeriksaan Fisik :
a. Inspeksi (look)
Adanya deformitas (kelainan bentuk) seperti bengkak, pemendekan, rotasi,
angulasi, fragmen tulang (pada fraktur terbuka).
b. Palpasi (feel)
Adanya nyeri tekan (tenderness), krepitasi, pemeriksaan status neurologis
dan vaskuler di bagian distal fraktur. Palpasi daerah ektremitas tempat
fraktur tersebut, di bagian distal cedera meliputi pulsasi arteri, warna kulit,
capillary refill test.
c. Gerakan (moving)
Adanya keterbatasan gerak pada daerah fraktur.
C. Pemeriksaan Penunjang :
a. Pemeriksaan radiologis (rontgen), pada daerah yang dicurigai fraktur,
harus mengikuti aturan role of two, yang terdiri dari :
Mencakup dua gambaran yaitu anteroposterior (AP) dan lateral.
Memuat dua sendi antara fraktur yaitu bagian proximal dan distal.
Memuat dua extremitas (terutama pada anak-anak) baik yang cidera maupun yang tidak
terkena cidera (untuk membandingkan dengan yang normal)
Dilakukan dua kali, yaitu sebelum tindakan dan sesudah tindakan
tindakan dan sesudah tindakan.
b. Pemeriksaan laboratorium, meliputi:
Darah rutin,
Faktor pembekuan darah,
Golongan darah (terutama jika akan dilakukan tindakan operasi),
Urinalisa,
Kreatinin (trauma otot dapat meningkatkan beban kreatinin untuk
kliren ginjal).

c. Pemeriksaan arteriografi dilakukan jika dicurigai telah terjadi kerusakan


vaskuler akibat fraktur tersebut.
http://dokumen.tips/documents/lp-jack-fraktur-pelvis.html

DIAGNOSA
NO DIAGNOSA NOC NIC
1. Nyeri Kriteria Hasil : Manajemen nyeri:
Secara subjektif, klien Lakukan penilaian nyeri secara
melaporkan : komprehensif dimulai dari lokasi,
- nyeri berkurang atau karakteristik, durasi, frekuensi,
dapat diadaptasi kualitas, intensitas dan penyebab.
- skala nyeri 0-1 (0-4),
Kaji ketidaknyamanan secara
dapat mengidentifikasi
nonverbal, terutama untuk pasien
aktivitas yang
yang tidak bisa
meningkatkan atau
mengkomunikasikannya secara
menurunkan nyeri
efektif
- klien tidak gelisah
Pastikan pasien mendapatkan
perawatan dengan analgesic
Gunakan komunikasi yang
terapeutik agar pasien dapat
menyatakan pengalamannya
terhadap nyeri serta dukungan
dalam merespon nyeri

Tentukan dampak nyeri terhadap


kehidupan sehari-hari (tidur, nafsu
makan, aktivitas, kesadaran, mood,
hubungan sosial, performance kerja
dan melakukan tanggung jawab
sehari-hari)

Evaluasi pengalaman pasien atau


keluarga terhadap nyeri kronik atau
yang mengakibatkan cacat

Tentukan tingkat kebutuhan pasien


yang dapat memberikan
kenyamanan pada pasien dan
rencana keperawatan

Mempertimbangkan kesediaan
pasien dalam berpartisipasi,
kemampuannya dalam
berpartisipasi, pilihan yang
digunakan, dukungan lain dalam
metoda, dan kontraindikasi dalam
pemilihan strategi mengurangi nyeri

Pilihlah variasi dari ukuran


pengobatan (farmakologis,
nonfarmakologis, dan hubungan
atar pribadi) untuk mengurangi
nyeri

Ajarkan prinsip manajemen nyeri

Ajari untuk menggunakan tehnik


non-farmakologi (spt: biofeddback,
TENS, hypnosis, relaksasi, terapi
musik, distraksi, terapi bermain,
acupressure, apikasi hangat/dingin,
dan pijatan ) sebelum, sesudah dan
jika memungkinkan, selama puncak
nyeri , sebelum nyeri terjadi atau
meningkat, dan sepanjang nyeri itu
masih terukur.

Dorong pasienuntuk
menggunakanobat penghilang rasa
sakityang memadai

Anjurkan untuk istirahat/tidur yang


adekuat untuk mengurangi nyeri

Beritahu dokter jika metoda yang


digunakan tidak berhasil atau jika
ada komplain dari pasien mengenai
metoda yang diberikan

Menyertakan keluarga dalam


mengembangkan metoda mengatasi
nyeri
Monitor kepuasan pasien terhadap
manajemen nyeri ynag diberikan
dalam interval yang ditetapkan.

Administrai analgesik
tentukan lokasi, karakteristik,
kualitas, dan derajat nyeri sebelum
pemberian obat

cek instruksi dokter tentang jenis


obat, dosis dan frekuensi

cek riwayat alergi

pilih analgetik yang diperlukan atau


kombinasi dari analgetik ketika
pemberian lebih dari satu

tentukan pilihan analgetik


tergantung tipe dan beratnya nyeri

tentukan analgetik pilihan, rute


pemberian dan dosis optimal

pilih rute pemberian secara IV, IM


untuk pengobatan nyeri secara
teratur

evaluasi efektifitas analgetik, tanda


dan gejala (efek samping)

Melaksanakan tindakan
untuk mengurangi efek yang tidak
diinginkan dari analgesik(misalnya,
sembelit dan iritasi lambung)
Berkolaborasi dengan dokter jika
obat, dosis, cara pemberian, atau
interval perubahan
yang ditunjukkan,
membuat rekomendasi
spesifik berdasarkan
prinsip equi analgesic

2. Gangguan . 1. Managemen Eliminasi Urin


eliminasi Urin monitor eliminasi urine termasuk
frekuensi, konsistensi volume dan
warna yang sesuai
memantau tanda dan gejala
retensi urin
mengidentifikasi faktor-faktor yang
berkontribusi terhadap episode
inkontinensia
ajarkan tanda dan gejala infeksi
saluran kemih pasien
perhatikan waktu eliminasi urin
anjurkan pasien atau keluarga untuk
merekam output urin
masukkan uretra supositoria
mendapatkan spesimen untuk
urinalisis
laporkan pada dokter jika tanda dan
gejala infeksi saluran kemih
mengajarkan pasien untuk
mendapatkan spesimen urin untuk
mengenali tanda dan gejala infeksi
mengajarkan pasien untuk minum 8
ons cairan dengan makanan antara
waktu makan dan di sore hari
2. Latihan Otot Pelvik
menginstruksikan individu untuk
mengencangkan, kemudian
relaks, cincin otot di sekitar uretra
dan anus, seolah berusaha
mencegah gerakan buang air kecil
atau buang air besar
menginstruksikan individu untuk
menghindari kontraksi perut,
paha, dan bokong, menahan napas
atau mengejan turun selama
latihan
menjamin bahwa individu dapat
membedakan antara yang
diinginkan dalam kontraksi otot
dan yang tidak diinginkan
menginstruksikan individu
perempuan untuk
mengidentifikasi levator ani dan
otot urogenital dengan
menempatkan jari di vagina dan
meremas
menginstruksikan individu untuk
melakukan pengetatan otot
latihan, bekerja hingga 300
kontraksi setiap hari, menahan
kontraksi selama 10 detik masing-
masing dan beristirahat
setidaknya 10 detik antara setiap
kontraksi
menginformasikan individu
bahwa latihan selama 6-12
minggu untuk menjadi efektif
mendiskusikan catatan harian dari
kontinensia dengan individu
untuk memberikan penguatan

3. Resiko Infeksi Knowledge : Infection NIC :


control Pertahankan teknik aseptif
Risk control Batasi pengunjung bila perlu
Setelah dilakukan Cuci tangan setiap sebelum
tindakan keperawatan dan sesudah tindakan
selama pasien tidak keperawatan
mengalami infeksi Gunakan baju, sarung tangan
dengan kriteria hasil: sebagai alat pelindung
Klien bebas dari Ganti letak IV perifer dan
tanda dan gejala dressing sesuai dengan
infeksi petunjuk umum
Gunakan kateter intermiten
Menunjukkan
untuk menurunkan infeksi
kemampuan
kandung kencing
untuk mencegah
timbulnya infeksi Tingkatkan intake nutrisi
Berikan terapi
Jumlah leukosit antibiotik:.................................
dalam batas Monitor tanda dan gejala
normal infeksi sistemik dan lokal
Pertahankan teknik isolasi k/p
Menunjukkan Inspeksi kulit dan membran
perilaku hidup mukosa terhadap kemerahan,
sehat panas, drainase
Monitor adanya luka
Status imun,
Dorong masukan cairan
gastrointestinal,
Dorong istirahat
genitourinaria
Ajarkan pasien dan keluarga
dalam batas
tanda dan gejala infeksi
normal
Kaji suhu badan pada pasien
neutropenia setiap 4 jam