Vous êtes sur la page 1sur 8

ASAL-USUL KERAJAAN

MATARAM KUNO

Nama Kelompok :

Wahyuni
Memey Meylani. N
Dinda Febriana
Siti Nurhaeni
Tya Taslyanti

Kelas : VII F

SMP NEGERI 1 LOHBENER


Jl. Raya Pamayahan No.65. Kode Pos, : 45252. Desa Pamayahan Kec. Lohbener
Kab. Indramayu
Asal-Usul Kerajaan Mataram Kuno
Istilah Wangsa Sanjaya diperkenalkan oleh sejarawan bernama Dr. Bosch dalam karangannya
yang berjudul Sriwijaya, de Sailendrawamsa en de Sanjayawamsa (1952). Ia menyebutkan
bahwa, di Kerajaan Medang terdapat dua dinasti yang berkuasa, yaitu dinasti Sanjaya dan
Sailendra.
Istilah Wangsa Sanjaya merujuk kepada nama pendiri Kerajaan Medang, yaitu Sanjaya yang
memerintah sekitar tahun 732. Dinasti ini menganut agama Hindu aliran Siwa, dan berkiblat
ke Kunjaradari di daerah India.
Raja selanjutnya ialah Rakai Panangkaran yang dikalahkan oleh dinasti lain bernama Wangsa
Sailendra. Pada tahun 778 raja Sailendra yang beragama Buddha aliran Mahayana
memerintah Rakai Panangkaran untuk mendirikan Candi Kalasan.
Sejak saat itu Kerajaan Medang dikuasai oleh Wangsa Sailendra. Sampai akhirnya seorang
putri mahkota Sailendra yang bernama Pramodawardhani menikah dengan Rakai Pikatan,
seorang keturunan Sanjaya, pada tahun 840an. Rakai Pikatan kemudian mewarisi takhta
mertuanya. Dengan demikian, Wangsa Sanjaya kembali berkuasa di Medang.
Teori yang Menolak
Sejarawan Poerbatjaraka menolak keberadaan Wangsa Sanjaya. Menurutnya, Wangsa
Sanjaya tidak pernah ada, karena Sanjaya sendiri adalah anggota Wangsa Sailendra. Dinasti
ini mula-mula beragama Hindu, karena istilah Sailendra bermakna penguasa gunung yaitu
sebutan untuk Siwa.
Selain itu, istilah Sanjayawangsa tidak pernah dijumpai dalam prasasti mana pun, sedangkan
istilah Sailendrawangsa ditemukan dalam beberapa prasasti, misalnya prasasti Ligor, prasasti
Kalasan, dan prasasti Abhayagiriwihara.
Poerbatjaraka berpendapat bahwa, Sanjaya telah memerintahkan agar putranya, yaitu Rakai
Panangkaran pindah agama, dari Hindu menjadi Buddha. Teori ini berdasarkan atas kisah
dalam Carita Parahyangan bahwa Rahyang Sanjaya menyuruh Rahyang Panaraban untuk
berpindah agama. Dengan demikian, yang dimaksud dengan istilah raja Sailendra dalam
prasasti Kalasan tidak lain adalah Rakai Panagkaran sendiri.
Carita Parahyangan memang ditulis ratusan tahun sesudah kematian Sanjaya. Meskipun
demikian, kisah di atas seolah terbukti dengan ditemukannya sebuah prasasti yang
mengisahkan tentang seorang pangeran bernama Sankhara yang pindah agama karena
ayahnya meniggal dunia akibat menjalani ritual terlalu berat. Sayangnya, prasasti ini tidak
jelas angka tahunnya, serta tidak menyebutkan nama ayah Sankhara tersebut.
Jadi, teori Poerbatjaraka menyebutkan bahwa hanya ada satu dinasti saja yang berkuasa di
Kerajaan Medang, yaitu Wangsa Sailendra yang beragama Hindu Siwa. Sejak pemerintahan
Rakai Panangkaran, dinasti Sailendra terpecah menjadi dua. Agama Buddha dijadikan agama
resmi negara, sedangkan cabang Sailendra lainnya ada yang tetap menganut agama Hindu,
misalnya seseorang yang kelak menurunkan Rakai Pikatan.

Kalender Sanjaya
Meskipun istilah Sanjayawangsa tidak pernah dijumpai dalam prasasti mana pun, namun
istilah Sanjayawarsa atau Kalender Sanjaya ditemukan dalam prasasti Taji Gunung dan
prasasti Timbangan Wungkal.
Kedua prasasti tersebut dikeluarkan oleh Mpu Daksa dengan tujuan untuk menunjukkan
bahwa dirinya adalah keturunan asli Sanjaya, sang pendiri kerajaan. Tahun 1 Sanjayawarsa
sama dengan tahun 717 Masehi. Tidak diketahui dengan pasti apakah tahun 717 ini
merupakan tahun kelahiran Sanjaya, ataukah tahun berdirinya kerajaan.
Daftar Para Raja
Daftar para raja Medang sebelum Dyah Balitung yang tertulis dalam prasasti Mantyasih
menurut teori Bosch adalah daftar para raja Wangsa Sanjaya, sekaligus juga silsilah keluarga
mulai dari Sanjaya sampai Balitung.
Para raja tersebut ialah:
* Sanjaya
* Rakai Panangkaran
* Rakai Panunggalan
* Rakai Warak
* Rakai Garung
* Rakai Pikatan
* Rakai Kayuwangi
* Rakai Watuhumalang
Sejarawan Slamet Muljana berpendapat lain. Menurutnya, daftar tersebut bukan silsilah
Wangsa Sanjaya, melainkan daftar para raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Medang.
Pendapatnya itu berdasarkan atas julukan Rakai Panangkaran dalam prasasti Kalasan, yaitu
Sailendrawangsatilaka atau permata Wangsa Sailendra. Jadi menurutnya tidak mungkin
apabila Rakai Panangkaran adalah putra Sanjaya.
Analisis Slamet Muljana terhadap beberapa prasasti, misalnya prasasti Kelurak, prasasti
Nalanda, ataupun prasasti Kayumwungan menyimpulkan bahwa Rakai Panangkaran, Rakai
Panunggalan, Rakai Warak, dan Rakai Garung adalah anggota Wangsa Sailendra, sementara
sisanya adalah anggota Wangsa Sanjaya, kecuali Rakai Kayuwangi yang berdarah campuran.

Raja Sesudah Balitung


Raja sesudah Dyah Balitung adalah Mpu Daksa yang memperkenalkan pemakaian Kalender
Sanjaya untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah keturunan asli sang pendiri kerajaan.
Selain itu, kemungkinan besar Daksa juga merupakan cucu Rakai Pikatan sebagaimana yang
tertulis dalam prasasti Telahap.
Daksa digantikan oleh menantunya, bernama Dyah Tulodhong, yaitu putra dari seseorang
yang dimakamkan di Turu Mangambil. Tidak diketahui dengan pasti apakah Tulodhong ini
merupakan keturunan Sanjaya atau bukan.
Menurut sejarawan Boechari, pemerintahan Tulodhong berakhir akibat pemberontakan Dyah
Wawa, putra Rakryan Landhayan. Dalam hal ini juga tidak dapat dipastikan apakah Wawa
keturunan Sanjaya atau bukan.
Raja selanjutnya bernama Mpu Sindok yang diperkirakan sebagai cucu Mpu Daksa. Jika
benar demikian, maka Mpu Sindok dapat disebut sebagai keturunan Sanjaya pula, meskipun
ia dianggap telah mendirikan dinasti baru bernama Wangsa Isana.

Sanjaya, Rakai Mataram


Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya adalah raja pertama Kerajaan Medang periode Jawa
Tengah (atau lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno), yang memerintah sekitar tahun 730-an.

Mendirikan Kerajaan Medang


Ratu Sanjaya alias Rakai Mataram menempati urutan pertama dalam daftar para raja
Kerajaan Medang versi prasasti Mantyasih, yaitu prasasti yang dikeluarkan oleh Maharaja
Dyah Balitung tahun 907.
Sanjaya sendiri mengeluarkan prasasti Canggal tanggal 6 Oktober 732 tentang pendirian
sebuah lingga serta bangunan candi untuk memuja Siwa di atas sebuah bukit. Candi tersebut
kini hanya tinggal puing-puing reruntuhannya saja, yang terletak di atas Gunung Wukir, dekat
Kedu.
Prasasti Canggal juga mengisahkan bahwa, sebelum Sanjaya bertakhta sudah ada raja lain
bernama Sanna yang memerintah pulau Jawa dengan adil dan bijaksana. Sepeninggal Sanna
keadaan menjadi kacau. Sanjaya putra Sannaha (saudara perempuan Sanna) kemudian tampil
sebagai raja. Pulau Jawa pun tentram kembali.
Prasasti Canggal tidak menyebutkan nama kerajaan yang dipimpin oleh Sanna dan Sanjaya.
Sementara itu prasasti Mantyasih menyebut Sanjaya sebagai raja pertama Kerajaan Medang,
sedangkan Sanna sama sekali tidak disebut. Mungkin Sanna memang bukan raja Kerajaan
Medang. Dengan kata lain, Sanjaya mewarisi takhtanya namun mendirikan sebuah kerajaan
baru yang berbeda. Kisah yang serupa terjadi pada akhir abad ke-13, yaitu Raden Wijaya raja
pertama Majapahit adalah pewaris takhta Kertanagara raja terakhir Singhasari.
Pada zaman Kerajaan Medang terdapat suatu tradisi mencantumkan jabatan lama di samping
gelar sebagai maharaja. Misalnya, raja yang mengeluarkan prasasti Mantyasih (907) adalah
Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Dharmodaya Mahasambu. Itu artinya, jabatan
lama Dyah Balitung sebelum menjadi raja Kerajaan Medang adalah kepala daerah Watukura.
Sementara itu gelar Sanjaya sebagai raja adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Mungkin
ketika Sanna masih berkuasa, Sanjaya menjabat sebagai kepala daerah Mataram (daerah
Yogyakarta sekarang). Kemudian, karena Sanjaya dianggap mendirikan kerajaan baru
bernama Medang, maka istananya mungkin terletak di daerah kekuasaannya, yaitu Mataram
sebagai ibu kota. Adapun pada masa pemerintahan Dyah Balitung, ibu kota Kerajaan Medang
sudah berpindah ke Poh Pitu.
Kapan tepatnya Kerajaan Medang berdiri tidak diketahui dengan pasti. Seorang keturunan
Sanjaya bernama Mpu Daksa memperkenalkan pemakaian Sanjayawarsa atau kalender
Sanjaya. Menurut analisis para sejarawan, tahun 1 Sanjaya bertepatan dengan tahun 717
Masehi. Angka tahun tersebut menimbulkan dua penafsiran, yaitu tahun penobatan Sanjaya
sebagai raja, atau bisa juga merupakan tahun kelahiran Sanjaya.
Apabila Sanjaya naik takhta tahun 717, berarti saat prasasti Canggal (732) dikeluarkan,
Kerajaan Medang sudah berusia 15 tahun. Sementara itu apabila 717 adalah tahun kelahiran
Sanjaya, berarti saat mengeluarkan prasasti Canggal ia masih berusia 15 tahun dan sudah
menjadi raja. Dengan kata lain, Sanna mengangkat Sanjaya sebagai kepala daerah Mataram
sejak masih anak-anak (sama seperti Jayanagara pada zaman Majapahit).

Versi Carita Parahyangan


Naskah Carita Parahyangan ditulis sekitar abad ke-16, jadi berselang ratusan tahun sejak
kematian Sanjaya. Dikisahkan, nama asli Sanjaya adalah Rakeyan Jambri, sedangkan Sanna
disebut dengan nama Bratasenawa, atau disingkat Sena.
Sena adalah raja Kerajaan Galuh yang berhasil dikalahkan oleh saudara tirinya, bernama
Purbasora. Putra Sena, yaitu Rahyang Sanjaya alias Rakeyan Jambri telah menjadi menantu
Tarusbawa raja Kerajaan Sunda. Dengan bantuan mertuanya itu, Sanjaya berhasil
mengalahkan Purbasora tujuh tahun kemudian.
Sanjaya kemudian menyerahkan takhta Kerajaan Galuh kepada Demunawan, adik Purbasora.
Hal ini ditolak oleh Rahyang Sempakwaja, ayah Purbasora karena takut kelak Demunawan
akan ditumpas pula oleh Sanjaya. Sanjaya terpaksa menduduki sendiri takhta kerajaan
tersebut.
Karena Sanjaya juga bertakhta di Kerajaan Sunda, maka pemerintahannya di Galuh
diserahkan kepada Premana Dikusumah, cucu Purbasora. Sedangkan putra Sanjaya yang
bernama Rahyang Tamperan dijadikan sebagai patih untuk mengawasi pemerintahan
Premana.
Karena merasa tertekan, Premana akhirnya memilih pergi bertapa. Istrinya yang bernama
Pangreyep, seorang putri Sunda, berselingkuh dengan Tamperan sehingga melahirkan
Rahyang Banga. Tamperan kemudian mengirim utusan untuk membunuh Premana.
Setelah Sanjaya menjadi raja di Mataram, wilayah Sunda dan Galuh pun dijadikan satu di
bawah pemerintahan Tamperan. Kemudian terjadi pemberontakan Manarah putra Premana
yang berhasil menewaskan Tamperan. Sedangkan putranya, yaitu Banga lolos dari kematian.
Mendengar berita kematian putranya, Sanjaya pun menyerang Manarah. Perang besar terjadi
akhirya didamaikan oleh Demunawan (adik Purbasora). Akhirnya dicapai sebuah
kesepakatan, yaitu Banga sebagai raja Sunda, sedangkan Manarah sebagai raja Galuh.
Carita Parahyangan terlalu berlebihan dalam memuji kekuatan Sanjaya yang diberitakan
selalu menang dalam setiap peperangan. Konon, Sanjaya bahkan berhasil menaklukkan
Melayu, Kamboja, dan Cina. Padahal sebenarnya, penaklukan Sumatra dan Kamboja baru
terjadi pada pemerintahan Dharanindra, raja ketiga Kerajaan Medang.
Sanjaya di Jawa Barat juga dikenal dengan sebutan Prabu Harisdarma. Ia meninggal dunia
karena jatuh sakit akibat terlalu patuh dalam menjalankan perintah guru agamanya.
Dikisahkan pula bahwa putranya yang bernama Rahyang Panaraban diperintah untuk pindah
ke agama lain, karena agama Sanjaya dinilai terlalu menakutkan.

Hubungan dengan Rakai Panangkaran


Menurut prasasti Mantyasih, Sanjaya digantikan oleh Maharaja Rakai Panangkaran sebagai
raja berikutnya. Raja kedua ini mendirikan sebuah bangunan Buddha, yaitu Candi Kalasan
atas permohonan para guru raja Sailendra pada tahun 778. Berdasarkan berita tersebut,
muncul beberapa teori tentang hubungan Sanjaya dengan Rakai Panangkaran.
Teori pertama dipelopori oleh van Naerssen menyebutkan bahwa, Rakai Panangkaran adalah
putra Sanjaya yang beragama Hindu. Ia dikalahkan oleh Wangsa Sailendra yang beragama
Buddha. Jadi, pembangunan Candi Kalasan ialah atas perintah raja Sailendra terhadap Rakai
Panangkaran yang menjadi bawahannya.
Teori kedua dipelopori oleh Porbatjaraka yang menyebutkan bahwa, Rakai Panangkaran
adalah putra Sanjaya, dan keduanya merupakan anggota Wangsa Sailendra. Dengan kata lain,
Wangsa Sanjaya tidak pernah ada karena tidak pernah tertulis dalam prasasti apa pun.
Menurut teori ini, Rakai Panangkaran pindah agama atas perintah Sanjaya sebelum
meninggal. Tokoh ini dianggap identik dengan Rahyang Panaraban dalam Carita
Parahyangan. Jadi, yang dimaksud dengan istilah para guru raja Sailendra dalam prasasti
Kalasan tidak lain adalah para guru Rakai Panangkaran sendiri.
Teori ketiga dipelopori oleh Slamet Muljana bertentangan dengan kedua teori di atas.
Menurutnya, Rakai Panangkaran bukan putra Sanjaya, melainkan anggota Wangsa Sailendra
yang berhasil merebut takhta Kerajaan Medang dan mengalahkan Wangsa Sanjaya. Teori ini
didasarkan pada daftar para raja dalam prasasti Mantyasih di mana hanya Sanjaya yang
bergelar Sang Ratu, sedangkan penggantinya tiba-tiba begelar Maharaja. Selain itu, Rakai
Panangkaran tidak mungkin berstatus sebagai raja bawahan, karena ia dipuji sebagai
Sailendrawangsatilaka dalam prasasti Kalasan.
Jadi, menurut teori pertama dan kedua, Rakai Panangkaran adalah putra Sanjaya. Sedangkan
menurut teori ketiga, Rakai Panangkaran adalah musuh yang berhasil mengalahkan Sanjaya.
Sementara itu menurut teori pertama, Rakai Panangkaran adalah bawahan raja Sailendra.
Sedangkan menurut teori kedua dan ketiga, Rakai Panangkaran adalah raja Sailendra itu
sendiri. Prasasti Kalasan menyebut Rakai Panangkaran sebagai Sailendrawangsatilaka
(permata Wangsa Sailendra) serta bergelar maharaja, jadi tidak mungkin ia seorang bawahan.
Rakai Panangkaran
Sri Maharaja Rakai Panangkaran Dyah Pancapana adalah raja kedua Kerajaan Medang
periode Jawa Tengah (atau yang lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno). Ia memerintah
sekitar tahun 770-an.

Pembangunan Candi Kalasan


Maharaja Rakai Panangkaran adalah raja kedua dalam daftar raja-raja Kerajaan Medang versi
prasasti Mantyasih, yang naik takhta menggantikan Sanjaya.
Prasasti atas nama Rakai Panangkaran yang sudah ditemukan adalah Prasasti Kalasan tahun
778 tentang pembangunan sebuah candi Buddha untuk memuja Dewi Tara. Pembangunan ini
atas permohonan para guru raja Sailendra. Dalam prasasti itu ia dipuji sebagai
Sailendrawangsatilaka atau permata Wangsa Sailendra.
Candi peninggalan Rakai Panangkaran tersebut sekarang dikenal dengan sebutan Candi
Kalasan.

Hubungan dengan Sanjaya dan Dharanindra


Sanjaya merupakan raja pertama Kerajaan Medang yang beragama Hindu aliran Siwa,
sedangkan Rakai Panangkaran mendirikan sebuah candi Buddha aliran Mahayana.
Sehubungan dengan berita tersebut, muncul beberapa teori seputar hubungan antara mereka
berdua.
Teori pertama dipelopori oleh van Naerssen yang menyebutkan bahwa, Rakai Panangkaran
adalah putra Sanjaya. Ia kemudian dikalahkan oleh raja Wangsa Sailendra yang beragama
Buddha. Pembangunan Candi Kalasan sendiri merupakan perintah dari raja Sailendra sebagai
atasan Rakai Panangkaran. Nama raja tersebut kemudian ditemukan dalam prasasti Kelurak,
yaitu Dharanindra.
Teori kedua dikemukakan oleh Poerbatjaraka bahwa, Rakai Panangkaran adalah putra
Sanjaya namun keduanya sama-sama berasal dari Wangsa Sailendra. Jadi, teori ini tidak
mengakui keberadaan Wangsa Sanjaya. Sebelum meninggal, Sanjaya berwasiat agar Rakai
Panangkaran berpindah agama Buddha. Teori ini didasarkan pada tokoh Rahyang Panaraban
putra Sanjaya dalam naskah Carita Parahyangan yang juga dikisahkan pindah agama. Jadi,
yang dimaksud dengan "para guru raja Sailendra" tidak lain adalah guru Rakai Panangkaran
sendiri.
Teori ketiga dikemukakan oleh Slamet Muljana bahwa, Rakai Panangkaran bukan putra
Sanjaya. Dalam prasasti Mantyasih tokoh Sanjaya bergelar Sang Ratu, sedangkan Rakai
Panangkaran bergelar Sri Maharaja. Perubahan gelar ini membuktikan terjadinya pergantian
dinasti yang berkuasa di Kerajaan Medang. Jadi, Rakai Panangkaran adalah raja dari Wangsa
Sailendra yang berhasil merebut takhta Kerajaan Medang serta mengalahkan Wangsa
Sanjaya. Menurutnya, Rakai Panangkaran tidak mungkin bawahan Wangsa Sailendra karena
dalam prasasti Kalasan ia disebut sebagai Sailendrawangsatilaka.
Dengan demikian, Slamet Muljana menolak teori bahwa Rakai Panangkaran adalah bawahan
Dharanindra. Tokoh Dharanindra dalam prasasti Kelurak (782) juga tidak mungkin sama
dengan Rakai Panangkaran, karena nama asli Rakai Panangkaran dalam prasasti Kalasan
(778) adalah Dyah Pancapana. Mungkin, Dharanindra adalah nama asli dari Rakai
Panunggalan, yaitu raja ketiga Kerajaan Medang.

Dharanindra
Dharanindra Sri Sanggrama Dhananjaya, atau kadang disingkat Indra, adalah seorang raja
dari Wangsa Sailendra yang memerintah sekitar tahun 782. Salah satu pendapat
menganggapnya identik dengan Sri Maharaja Rakai Panunggalan raja ketiga Kerajaan
Medang periode Jawa Tengah (atau yang lazim disebut Mataram Kuno).
Penumpas Musuh-Musuh Perwira
Nama Dharanindra terdapat dalam prasasti Kelurak tahun 782. Dalam prasasti itu ia dipuji
sebagai Wairiwarawiramardana, atau "penumpas musuh-musuh perwira". Julukan yang mirip
terdapat dalam prasasti Nalanda, yaitu Wirawairimathana, dan prasasti Ligor B yaitu
Sarwwarimadawimathana.
Sejarawan Slamet Muljana menganggap ketiganya adalah julukan untuk orang yang sama,
yaitu Dharanindra. Dalam prasasti Nalanda, Wirawairimathana berputra Samaragrawira ayah
dari Balaputradewa. Dengan kata lain, Balaputradewa raja Kerajaan Sriwijaya adalah cucu
Dharanindra.
Sementara itu prasasti Ligor B menurut pendapat Sejarawan George Coedes dikeluarkan oleh
Maharaja Wisnu raja Sriwijaya, sama seperti prasasti Ligor A, yaitu tahun 775. Teori ini
ditolak Slamet Muljana yang berpendapat bahwa, hanya prasasti A saja yang ditulis tahun
775, sedangkan prasasti B ditulis sesudah Kerajaan Sriwijaya jatuh ke tangan Wangsa
Sailendra.
Perbedaan tata bahasa antara prasasti A dan B membuat Slamet Muljana berpendapat bahwa,
kedua prasasti itu ditulis dalam waktu yang tidak bersamaan. Ia juga memadukannya dengan
prasasti Po Ngar, bahwa Jawa pernah menjajah Kamboja (Chen-La) sampai tahun 802. Selain
itu, Jawa juga pernah menyerang Campa tahun 787.
Jadi, Dharanindra sebagai raja Jawa telah berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya,
termasuk daerah bawahannya di Semenanjung Malaya, yaitu Ligor. Prasasti Ligor B
ditulisnya sebagai pertanda bahwa Wangsa Sailendra telah berkuasa atas Sriwijaya. Prasasti
tersebut berisi puji-pujian untuk dirinya sebagai penjelmaan Wisnu. Daerah Ligor kemudian
dijadikannya sebagai pangkalan militer untuk menyerang Campa tahun 787 dan juga
Kamboja.
Penaklukan terhadap Sriwijaya, Ligor, Campa, dan Kamboja ini sesuai dengan julukan
Dharanindra, yaitu "penumpas musuh-musuh perwira". Kamboja sendiri akhirnya berhasil
merdeka di bawah pimpinan Jayawarman tahun 802. Mungkin saat itu Dharanindra telah
meninggal dunia.
Dalam teorinya, George Coedes menganggap Maharaja Wisnu merupakan ayah dari
Dharanindra. Sementara itu, Slamet Muljana menganggap Wisnu dan Dharanindra
merupakan orang yang sama. Selain karena kemiripan julukan, juga karena kemiripan arti
nama. Wisnu dan Dharanindra menurutnya sama-sama bermakna pelindung jagad.
Rakai PANANGKARAN bukan dari SAILENDRA TETAPI dia menikahi PUTRI dari
SAILENDRA.
SANJAYA adalah THE FOUNDER sedangkan SAILENDRA adalah pendatang dari LUAR
JAWA. RAJA YANG MEMILIKI DAN HAK PENUH KERAJAAAN MATARAM
ADALAH SANJAYA oleh karena itu SATU2NYA TOKOH yang memakai GELAR 'RAKI
MATARAM' hanya SANG RATU SANJAYA,sedangkan SAILENDRA tidak punya hak
samasekali > Dikeluarkannya PRASASATI CANGGAL (654 SAKA = 732 MASEHI) tiada
lain merupakan tanda berdirinya KERAJAAN MATARAM oleh SANJAYA yang didapat
secara SAH dari AYAHANDA dan IBUNYA yakni SENNA dan SANNAHA....
Prasasti pertama SAILENDRA bukan berbahasa dan dengan beraksara JAWA melainkan
MALAYU KUNO > ini bukti dirinya siapa?
RAKAI MATARAM SANG RATU SANJAYA (CANGGAL 732 MASEHI) = RAHIYANG
SANJAYA (CARITA PARAHIYANGAN abad ke 16 MASEHI) = RAKRYAN JURU
PANGAMBAT (kawihaji panca pasagi = 654 Saka = 732 MASEHI) DIA ini yang
MENGUSIR SRIWIJAYA dari TANAH SUNDA
SANJAYA MENDIRIKAN MATARAM ? KARENA DIA DITAHBIS SEBAGAI
PENGUASA TUNGGAL NUSA JAWA SAAT ITU DAN AHLI WARIS SAH...
1) MENANTU RAJA SUNDA (TARUSBAWA sebagai penerus TARUMANAGARA) shg
SANJAYA juga mewaris SUNDA
2) AHLI WARIS SAH KERAJAAN GALUH dari ayahandanya SENNA
3) AHLI WARIS MATARAM dari AYAH - BUNDAnya
Maka itu SANJAYA perlu menyatukannnya sebagai pendiri DINASTI BARU PENGUASA
JAWA 'MAHARAJADHIRAJA' atau EMPEROR... untuk itu dia mendirikan LINGGA di
GUNUNG WUKIR SLEMAN yang letak PERSIS DI TENGAH2 NUSA JAWA coba lihat di
PETA ...
Jadi SANJAYA adalah PITUIN dari GALUH! Lalu SANJAYA mengapa mendirikan
LINGGA sebagai tanda PUSAT baru karena berlaku hukum bahwa IBUKOTA=PUSAT
KERAJAAN = PUSEUR DANGIANG maka HARUS BENAR2 BERSIH dan SUCI.
Pusat kerajan SUNDA = sudah pernah tercermar oleh musuh dari luar; demikian juga pusat
kerajaan GALUH = sudah dikotori oleh PERANG SAUDARA> maka PUSEUR
DANGIANG seperti itu TIDAK BISA DITEMPATI LAGI oleh karena itu SANJAYA
memindahkannya ke MATARAM - dan kala itu NUSA JAWA tidak dibatasi oleh geografis
JABAR-JATENG-JATIM melaiinkan PUSAT KERAJAAN mak MATARAM (GUNUNG
WUKIR) bukan berarti JAWA TENGAH tetapi PUSAT NUSA JAWA ! Pernyataan ini telah
disampaikan sejak tahun 1921 oleh R.M.Ng. Poerbatjaraka bahwa LUAS KERAJAAN
GALUH
meliputi seluruh JAWA.
SITUS BATUJAYA adalah BUKTI bahwa PENGARUH SRIWIJAYA pernah ada di SUNDA
(BUKAN GALUH).
Oleh karena itu MATARAM selalu diembel-embeli 'i MEDANG... I BHUMI MATARAM..'
karena posisinya di tengah2 NUSA JAWA ... selanjutnya dalam pewayangan kerap hanya
disebut MEDANG saja sebetulnya 'MEDHANG - MDHANG - MDANG" = madhya ing ....
1. Pertanyaan awal.Kenapa Wangsa Warman (Sanjaya) bisa berpindah dari sekitar situs
Batutapak ke Kedu? apa yang terjadi? apakah penyebabnya sama dengan kepindahan
mataram kuno ke Jawa Timur? :)
2. Kenapa Ratu Sanjaya memberikan nama Mataram pada kerajaannya..? Visi apa yang
hendak disampaikan oleh Ratu Sanjaya kepada rakyat dan anak turunnya (kita-kita ini)..?