Vous êtes sur la page 1sur 6

HIV/AIDS TANPA KOMPLIKASI

No. Dokumen : 800/ / /PL/II/2017

No. Revisi :
SOP Tanggal Terbit : 15 Februari 2017
KABUPATEN
KONAWE Halaman : 1/2
UTARA

PUSKESMAS
LASOLO
Nursaniah, SKM
19860212 200903 2 003
A.Pengertian 1. HIV adalah Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang menyerang
sel-sel kekebalan tubuh.
2. AIDS atau Acquired Immunodefficiency Syndrome adalah kumpulan
gejala akibat penurunan kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi
HIV.
B. Tujuan Sebagai panduan tata laksana terapi HIV/AIDS tanpa komplikasi di
Puskesmas
C. Kebijakan Surat Keputusan Kepala Puskesmas Lasolo Nomor
800/ /ADM/PL/I/2017 tentang Standar Prosedur Operasional (SPO)
Penyakit di Puskesmas Lasolo
D. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Menkes/514/2015
Tentang Panduan Praktik Klinik bagi Dokter di Fasilitas Kesehatan
Tingkat Pertama
E. Langkah- 1. Keluhan :
langkah/ Pasien datang dapat dengan keluhan yang berbeda-beda antara lain
Prosedur demam atau diare (terus menerus atau intermiten) yang lebih dari satu
bulan. Keluhan disertai kehilangan berat badan (BB) >10% dari BB
dasar.
Keluhan lain bergantung dari penyakit yang menyertainya, seperti:
a. Kulit: kulit kering yang luas, terdapat kutil di genital.
b. Infeksi:
1) Jamur, seperti kandidiasis oral, dermatitis seboroik atau
kandidiasis vagina berulang.
2) Virus, seperti herpes zoster berulang atau lebih dari satu
dermatom, herpes genital berulang, moluskum kontagiosum,
kondiloma.
3) Gangguan napas, seperti tuberculosis, batuk >1 bulan, sesak
napas, pneumonia berulang, sinusitis kronis
4) Gejala neurologis, seperti nyeri kepala yang semakin parah dan
tidak jelas penyebabnya, kejang demam, menurunnya fungsi
kognitif.
2. Pemeriksaan Fisik : Meliputi tanda-tanda vital, BB, tanda-tanda yang
mengarah kepada infeksi oportunistik sesuai dengan stadium klinis
HIV.
3. Pemeriksaan Penunjang : Terdapat dua macam pendekatan untuk tes
HIV
a. Konseling dan tes HIV sukarela (KTS-VCT = Voluntary
Counseling & Testing)
b. Tes HIV dan konseling atas inisiatif petugas kesehatan (TIPK
PITC = Provider-Initiated Testing and Counseling)
F. Petugas Dokter
Terkait Perawat
Analis

J. Unit Poli umum


Terkait Laboratorium
LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK

No. Dokumen : 800/ / /PL/II/2017

No. Revisi :
SOP Tanggal Terbit : 15 Februari 2017
KABUPATEN
KONAWE Halaman : 1/2
UTARA

PUSKESMAS
LASOLO
Nursaniah, SKM
19860212 200903 2 003
A.Pengertian Lupus Eritematosus Sistemik (LES) telah menjadi salah satu penyakit
reumatik utama di dunia dalam 30 tahun terakhir.
B. Tujuan Sebagai panduan tata laksana terapi Lupus Eritematosus Sistemik di
Puskesmas
C. Kebijakan Surat Keputusan Kepala Puskesmas Lasolo Nomor
800/ /ADM/PL/I/2017 tentang Standar Prosedur Operasional (SPO)
Penyakit di Puskesmas Lasolo
D. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Menkes/514/2015
Tentang Panduan Praktik Klinik bagi Dokter di Fasilitas Kesehatan
Tingkat Pertama
E. Langkah- 1. Keluhan :
langkah/ Manifestasi klinik LES sangat beragam dan seringkali tidak terjadi saat
Prosedur bersamaan. Keluhan awal dapat berupa:
a. Kelelahan
b. Nyeri sendi yang berpindah-pindah
c. Rambut rontok
d. Ruam pada wajah
e. Sakit kepala
f. Demam
g. Ruam kulit setelah terpapar sinar matahari
h. Gangguan kesadaran
i. Sesak
j. Edema anasarka
2. Pemeriksaan Fisik :
a. Gejala konstitusional, misalnya: kelelahan, demam (biasanya tidak
disertai menggigil), penurunan berat badan, rambut rontok,
bengkak, dan sakit kepala.
b. Manifestasi musculoskeletal mialgia, artralgia atau artritis (tanpa
bukti jelas inflamasi sendi).
c. Manifestasi mukokutaneus, misalnya ruam malar/ruam kupukupu,
fotosensitifitas, alopecia, dan ruam diskoid.
d. Manifestasi paru, misalnya pneumonitis (sesak, batuk kering, ronkhi
di basal), emboli paru, hipertensi pulmonum, dan efusi pleura.
e. Manifestasi kardiologi, misalnya Pleuropericardial friction rubs,
takipneu, murmur sistolik, gambaran perikarditis, miokarditis dan
penyakit jantung koroner.
f. Manifestasi renal, misalnya hipertensi, hematuria, edema perifer
g. dan edema anasarka. 7. Manifestasi gastrointestinal umumnya
merupakan keterlibatan berbagai organ dan akibat pengobatan,
misalnya mual, dispepsia, nyeri perut, dan disfagi.
h. Manifestasi neuropsikiatrik misalnya kejang dan psikosis.
i. Manifestasi hematologi, misalnya leukopeni, lymphopenia, anemia
atau trombositopenia.
3. Pemeriksaan Penunjang :
a. Laboratorium
1) Pemeriksaan DPL (darah perifer lengkap) dengan hitung
diferensial dapat menunjukkan leukopeni, trombositopeni, dan
anemia.
2) Pemeriksaan serum kreatinin menunjukkan peningkatan serum
kreatinin.
3) Urinalisis menunjukkan adanya eritrosit dan proteinuria.
4) Radiologi : X-ray Thoraks dapat menunjukkan adanya efusi
pleura
F. Petugas Dokter
Terkait Perawat
Analis

J. Unit Poli umum


Terkait Laboratorium
LIMFADENITIS

No. Dokumen : 800/ / /PL/II/2017

No. Revisi :
SOP Tanggal Terbit : 15 Februari 2017
KABUPATEN
KONAWE Halaman : 1/2
UTARA

PUSKESMAS
LASOLO
Nursaniah, SKM
19860212 200903 2 003
A.Pengertian Limfadenitis adalah peradangan pada satu atau beberapa kelenjar getah
bening. Limfadenitis bisa disebabkan oleh infeksi dari berbagai organisme,
yaitu bakteri, virus, protozoa, riketsia atau jamur. Secara khusus, infeksi
menyebar ke kelenjar getah bening dari infeksi kulit, telinga, hidung atau
mata.
B. Tujuan Penatalaksanaan kasus Limfadenitis sesuai standar terapi.

C. Kebijakan Surat Keputusan Kepala Puskesmas Lasolo Nomor


800/ /ADM/PL/I/2017 tentang Standar Prosedur Operasional (SPO)
Penyakit di Puskesmas Lasolo
D. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Menkes/514/2015
Tentang Panduan Praktik Klinik bagi Dokter di Fasilitas Kesehatan
Tingkat Pertama
E. Langkah- 1. Keluhan
langkah/ a. Pembengkakan kelenjar getah bening
Prosedur b. Demam
c. Kehilangan nafsu makan
d. Keringat berlebihan
e. Nadi cepat
f. Kelemahan
g. Nyeri tenggorok dan batuk bila disebabkan oleh infeksi saluran
pernapasan bagian atas.
h. Nyeri sendi bila disebabkan oleh penyakit kolagen atau penyakit
serum (serum sickness)
2. Pemeriksaan fisik
a. Pembesaran kelenjar getah bening (KGB)
b. Nyeri tekan bila disebabkan oleh infeksi bakteri
c. Kemerahan dan hangat pada perabaan mengarah kepada infeksi
bakteri sebagai penyebabnya
d. Fluktuasi menandakan terjadinya abses
e. Bila disebabkan keganasan tidak ditemukan tanda-tanda
peradangan tetapi teraba keras dan tidak dapat digerakkan dari
jaringan sekitarnya.
f. Pada infeksi oleh mikobakterium pembesaran kelenjar berjalan
mingguan-bulanan, walaupun dapat mendadak, KGB menjadi
fluktuatif dan kulit diatasnya menjadi tipis, dan dapat pecah.
g. Adanya tenggorokan yang merah, bercak-bercak putih pada tonsil,
bintik-bintik merah pada langit-langit mengarahkan infeksi oleh
bakteri streptokokus.
h. Adanya selaput pada dinding tenggorok, tonsil, langit-langit yang
sulit dilepas dan bila dilepas berdarah, pembengkakan pada jaringan
lunak leher (bull neck) mengarahkan pada infeksi oleh bakteri
Difteri.
F. Petugas Dokter
Terkait Perawat

J. Unit Poli umum


Terkait