Vous êtes sur la page 1sur 14

LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIKUM

SUCTIONING PADA ANAK

Disusun Oleh:

Nama : YEYEN NALIDA


NIM : 15.IK.451
SEMESTER :V

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SARI MULIA BANJARMASIN
2017
LEMBAR PERSETUJUAN

JUDUL : Suctioning Pada Anak

NAMA : Yeyen Nalida

NIM : 15.IK.451

Banjarmasin, Oktober 2017

Menyetujui

Pembimbing Laporan Pendahuluan (LP)

Erma Erliani, S.Kep.,Ns


KONSEP DASAR KETERAMPILAN SUCTION PADA ANAK

A. Definisi
Suction (penghisapan) adalah aspirasi sekresi, seringkali melalui
suatu kateter karet atau yang dihubungkan kesuatu mesin penghisap
(penghisap portable atau dinding). Ada beberapa jenis suction, yaitu
oropharingeal suction, nasopharyngeal suction dan endotracheal suction.
Suction atau pengisapan merupakan alat untuk mempertahankan
jalan nafas sehingga memudahkan terjadinya proses pertukaran gas yang
adekuat dengan cara mengelurkan sekret pada anak yang tidak mampu
mengeluarkannya sendiri.

B. Rasional Tindakan
1. Mempertahankan kepatenan jalan nafas
2. Membebaskan jalan nafas dari sekret / lendir yang menumpuk

C. Etiologi
a. Gagal nafas
Ketidakmampuan tubuh dalam mempertahankan tekanan parsial normal
O2 dan CO2 di dalam darah, disebabkan oleh gangguan pertukaran O2
dan CO2 sehingga sistem pernapasan tidak mampu memenuhi
metabolisme tubuh.
b. Gangguan jantung (gagal jantung)
Ketidakmampuan jantung untuk memompa darah dalam jumlah yang
cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadap nutrien dan oksigen.
c. Kelumpuhan alat pernafasan
Suatu keadaan dimana terjadi kelumpuhan pada alat pernapasan untuk
memenuhi kebutuhan oksigen karena kehilangan kemampuan ventilasi
secara adekuat sehingga terjadi kegagalan pertukaran gas O2 dan CO2.
d. Perubahan pola napas.
Hipoksia (kekurangan oksigen dalam jaringan), dyspnea (kesulitan
bernapas, misal pada pasien asma),sianosis (perubahan warna menjadi
kebiru-biruan pada permukaan kulit karena kekurangan oksigen), apnea
(tidak bernapas/ berhenti bernapas), bradipnea (pernapasan lebih lambat
dari normal dengan frekuensi kurang dari 16x/menit), takipnea
(pernapasan lebih cepat dari normal dengan frekuensi lebih dari
24x/menit (Tarwoto&Wartonah, 2010:35)
e. Keadaan gawat (misalnya : koma)
Pada keadaan gawat, misal pada pasien koma tidak dapat
mempertahankan sendiri jalan napas yang adekuat sehingga mengalami
penurunan oksigenasi.
f. Trauma paru
Paru-paru sebagai alat penapasan, jika terjadi benturan atau cedera
akan mengalami gangguan untuk melakukan inspirasi dan ekspirasi.
g. Metabolisme yang meningkat : luka bakar
Pada luka bakar, konsumsi oksigen oleh jaringan akan meningkat dua
kali lipat sebagai akibat dari keadaan hipermetabolisme.
h. Post operasi
Setelah operasi, tu\buh akan kehilangan banyak darah dan pengaruh dari
obat bius akan mempengaruhi aliran darah ke seluruh tubuh, sehingga
sel tidak mendapat asupan oksigen yang cukup.
i. Keracunan karbon monoksida
Keberadaan CO di dalam tubuh akan sangat berbahaya jika dihirup
karena akan menggantikan posisi O2 yang berikatan dengan hemoglobin
dalam darah.
D. Anatomi Fisiologi
Sistem pernafasan pada dasarnya dibentuk oleh jalan atau saluran nafas
dan paru- paru beserta pembungkusnya ( pleura) dan rongga dada yang
melindunginya. Di dalamrongga dada terdapat juga jantung di dalamnya.
Rongga dada dipisahkan dengan rongga perut oleh diafragma.

a. Hidung (Nasal)
Hidung merupakan saluran udara yang pertama, mempunyai dua lubang(
cavum nasi), dipisahkan oleh sekat hidung ( septum nasi). Didalam
terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara, debu dan
kotoran-kotoran yang masuk kedalam lubang hidung.
1. Bagian luar dinding terdiri dari kulit.
2. Lapisan tengah terdiri dari otot-otot dan tulang rawan.
3. Lapisan dalam terdiri dari selaput lendir yang berlipat-lipat yang
dinamakan karang hidung (konka nasalis), yang berjumlah 3 buah:
a) konka nasalis inferior ( karang hidup bagian bawah)
b) konka nasalis media(karang hidung bagian tengah)
c) konka nasalis superior(karang hidung bagian atas).
Diantara konka-konka ini terdapat 3 buah lekukan meatus yaitu
meatus superior (lekukan bagian atas), meatus medialis(lekukan
bagian tengah dan meatus inferior (lekukan bagian bawah).
Meatus-meatus inilah yang dilewati oleh udara pernafasan,
sebelah dalam terdapat lubang yang berhubungan dengan tekak,
lubang ini disebut koana. Dasar dari rongga hidung dibentuk oleh
tulang rahang atas, keatas rongga hidung berhubungan dengan
beberapa rongga yang disebut sinus paranasalis, yaitu sinus
maksilaris pada rongga rahang atas, sinus frontalis pada rongga
tulang dahi, sinus sfenoidalis pada rongga tulang baji dan sinus
etmodialis pada rongga tulang tapis. Pada sinus etmodialis, keluar
ujung-ujung saraf penciuman yang menuju ke konka nasalis.
Pada konka nasalis terdapat sel-sel penciuman, sel tersebut
terutama terdapat di bagianb atas. Pada hidung di bagian mukosa
terdapat serabut-serabut syaraf atau respektor dari saraf
penciuman disebut nervus olfaktorius. Disebelah belakang konka
bagian kiri kanan dan sebelah atas dari langit-langit terdapat satu
lubang pembuluh yang menghubungkan rongga tekak dengan
rongga pendengaran tengah, saluran ini disebut tuba auditiva
eustaki, yang menghubungkan telinga tengah dengan faring dan
laring. Hidung juga berhubungan dengan saluran air mata disebut
tuba lakminaris. Fungsi hidung, terdiri dari:
1. Bekerja sebagai saluran udara pernafasan
2. Sebagai penyaring udara pernafasan yang dilakukan oleh
bulu-bulu hidung
3. Dapat menghangatkan udara pernafasan oleh mukosa
4. Membunuh kuman-kuman yang masuk, bersama-sama udara
pernafasan oleh leukosit yang terdapat dalam selaput lendir
(mukosa) atau hidung.
b. Tekak (Faring)
Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan
makanan. Terdapat dibawah dasar tengkorak, dibelakang rongga hidung
dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. Hubungan faring dengan
organ-organ lain keatas berhubungan dengan rongga hidung, dengan
perantaraan lubang yang bernama koana. Ke depan berhubungan
dengan rongga mulut, tempat hubungan ini bernama istmus fausium. Ke
bawah terdapat dua lubang, ke depan lubang laring, ke belakang lubang
esofagus. Dibawah selaput lendir terdapat jaringan ikat, juga dibeberapa
tempat terdapat folikel getah bening. Perkumpulan getah bening ini
dinamakan adenoid. Disebelahnya terdapat 2 buah tonsilkiri dan kanan
dari tekak. Di sebelah belakang terdapat epiglotis( empang tenggorok)
yang berfungsi menutup laring pada waktu menelan makanan. Rongga
tekak dibagi dalam 3 bagian:
1. Bagian sebelah atas yang sama tingginya dengan koana yang
disebut nasofaring.
2. Bagian tengah yang sama tingginya dengan istmus fausium disebut
orofaring
3. Bagian bawah sekali dinamakan laringgofaring.
c. Laring
Merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan suara
terletak di depan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan
masuk ke dalam trakea dibawahnya. Pangkal tenggorokan itu dapat
ditutup oleh sebuah empang tenggorok yang disebut epiglotis, yang
terdiri dari tulang-tulang rawan yang berfungsi pada waktu kita menelan
makanan menutupi laring. Laring terdiri dari 5 tulang rawan antara lain.
1. Kartilago tiroid (1 buah) depan jakun sangat jelas terlihat pada pria.
2. Kartilago ariteanoid (2 buah) yang berbentuk beker
3. Kartilago krikoid (1 buah) yang berbentuk cincin
4. Kartilago epiglotis (1 buah).
Laring dilapisi oleh selaput lendir, kecuali pita suara dan bagian
epiglotis yang dilapisi oleh sel epiteliumnberlapis. Proses
pembentukan suara merupakan hasil kerjasama antara rongga mulut,
rongga hidung, laring, lidah dan bibir. Perbedaan suara seseorang
tergsantung pada tebal dan panjangnya pita suara. Pita suara pria
jauh lebih tebal daripada pita suara wanita.
d. Trakea
Merupakan lanjutan dari laring yang terbentuk oleh 16-20 cincin yang
terdiri dari tulang-tulang rawan yang berbentuk seperti kuku kuda.
Sebelah dalam diliputi oleh selaput lendir yang berbulu getar yang
disebut sel bersilia,hanya bergerak kearah luar.
Panjang trakea 9-11 cm dan dibelakang terdiri dari jaringan ikat yang
dilapisi oleh otot polos. Sel-sel bersilia gunanya untuk mengeluarkan
benda-benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara
pernafasan. Yang memisahkan trakea menjadi bronkus kiri dan kanan
disebut karina.
e. Bronkus
Bronkus terbagi menjadi bronkus kanan dan kiri, bronkus lobaris kanan (
3 lobus) dan bronkus lobaris kiri ( 2 bronkus).bronkus lobaris kanan
terbagi menjadi 10 bronkus segmental dan bronkus lobaris kiri terbagi
menjadi 9 bronkus segmental. Bronkus segmentalisini kemudian terbagi
lagi menjadi bronkus subsegmental yang dikelilingi oleh jaringan ikat
yang memiliki: arteri, limfatik dan saraf.
1) Bronkiolus
Bronkus segmental bercabang-cabang menjadi bronkiolus. Bronkiolus
mengandung kelenjar submukosa yang memproduksi lendir yang
membentuk selimut tidak terputus untuk melapisi bagian dalam jalan
nafas.
2) Bronkiolus terminalis
Bronkiolus membentuk percabangan menjadi bronkiolus terminalis(
yang mempunyai kelenjar lendir dan silia)
3) Bronkiolus respiratori
Bronkiolus terminalis kemudian menjadi bronkiolus respirstori.
Bronkiolus respiratori dianggap sebagai saluran transisional antara
lain jalan nafas konduksi dan jalan udara pertukaran gas.
4) Duktus alveolar dan sakus alveolar
Bronkiolus respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus alveolar
dan sakus alveolar. Dan kemudian menjadi alvioli.
f. Alveoli
Merupakan tempat pertukaran oksigen dan karbondioksida. Terdapat
sekitar 300 juta yang jika bersatu membentuk satu lembar akan seluas 70
m2. Terdiri atas 3 tipe:
1. Sel-sel alveolar tipe I : sel epitel yang membentuk dinding alveoli
2. Sel-sel alveolar tipe II: sel yang aktif secara metabolik dan
mensekresikan surfaktan ( suatu fosfolifid yang melapisi permukaan
dalam dan mencegah alveolar agar tidak kolaps)ahanan
3. Sel-sel alveolar tipe III: makrofag yang merupakan sel-sel fagotosis
dan bekerja sebagai mekanisme pertahanan.
g. Paru paru
Merupakan organ yang elastis berbentuk kerucut. Terletak dalam rongga
dada atau toraks. Kedua paru dipisahkan oleh mediastinum sentral yang
berisi jantung dan beberapa pembuluh dareah besar. Setiap paru
mempunyai apeks dan basis, paru kanan lebih besar dan terbagi menjadi
3 lobus dan fisura interlobaris. Paru kiri lebih kecil dan terbagi menjadi 2
lobus. Lobus-lobus tersebut terbagi menjadi beberapa segmen sesuai
dengan segmen bronkusnya.
h. pleura
Merupakan lapisan tipisyang mengandung kolagen dan jaringan elastis.
Terbagi menjadi 2:
1. Pleura perietalis yaitu yang melapisi rongga dada
2. Pleura viseralis yaitu yang menyelubungi setiap paru-paru.
Diantara pleura terdapat rongga pleura yang berisi cairan tipis pleura
yang berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan itu bergerak
selama pernafsan. Juga untuk mencegah pemisahan toraks dengan
paru-paru. Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari tekanan
atmosfir, hal ini untuk mencegah kolap paru-paru.
E. Klasifikasi Tindakan
1. Oropharingeal suction
Oropharingeal suction dilakukan melalui mulut hingga kebagian belakang
tenggorokan. Pada anak-anak umumnya dilakukan oral suction, sebab
lubang hidungnya terlalu kecil untuk dimasukan keteter suction.

2. Nasopharyngeal suction
Nasopharyngeal suction adalah pengangkatan sekresi dari saluran
pernapasan atas. nasopharyngeal suction dilakukan dengan cara
menginsersikan suction melalui salah satu lubang hidung.
F. Indikasi
1. Ada atau tidaknya sekret yang menyumbat jalan napas dengan ditandai
adanya: suara pada jalan napas, hasil auskultasi yaitu ditemukannya
suara crakels atau ronchi, kelelahan pada anak. Nadi dan laju pernafasan
meningkat, ditemukannya mukus pada alat bantu napas.
2. Anak mampu batuk secara efektif tetapi tidak mampu membersihkan
sekret dengan mengeluarkan atau menelan.
3. Anak yang kurang responsif atau koma yang memerlukan pembuangan
sekret oral.
4. Pengambilan spesimen untuk pemeriksaan laboratorium.
5. Pasien yang koma

G. Kontraindikasi
1. Pasien dengan stridor.
2. Pasien dengan kekurangan cairan cerebro spinal.
3. Pulmonary oedem.
4. Post pneumonectomy, ophagotomy yang baru.

H. Persiapan
No Tindakan
1 Persiapan Diri
a. Melakukan verifikasi program pengobatan klien
b. Mencuci tangan

2 Persiapan Alat dan Bahan


a. Regulator vakum set
b. Kateter penghisap steril sesuai ukuran
Neo - bayi 6 bulan 6 - 8 Fr
18 bulan - 22 bulan 8 - 10 Fr
24 bulan - 7 tahun 10 - 12 Fr
7 tahun - 10 tahun 12 Fr
Dewasa 12 16 F
c. Air steril/ normal salin
d. Hanscoon steril
e. Pelumas / Jelly larut dalam air
f. Selimut/ handuk
g. Masker wajah
h. Tong spatel k/p
i. Pinset anatomis
j. Pengisap pertebel atau yang terpasang di dinding
dengan selang penghubung
k. Cairan desinfektan untuk mencuci kateter steril

l. Alas dada atau handuk.

I. Prinsip Tindakan Keperawatan


1. Tindakan dilakukan prinsip steril menggunakan peralatan yang steril dan
handscoon steril.
2. Perawat harus mencuci tangan sebelum dan sesudah perawatan luka.
3. Perawat tidak boleh menyentuh kateter langsung tanpa menggunakan
sarung tangan steril
4. Menggunakan satu selang penghisap lendir steril untuk satu klien
5. Menggunkan selang penghisap lendir yang lembut
6. Penghisapan dilakukan dengan gerakan memutar dan intermitten

J. Prosedur Tindakan
Prosedur dan tindakan harus sesuai dengan advice dokter dan sesuai
dengan tindakan yang akan kita lakukan.
NO TINDAKAN
A. 1. Tahap Pra Interaksi
a. Melakukan verifikasi program pengobatan klien
b. Mencuci tangan
c. Menempatkan alat didekat pasien dengan benar
B. 2. Tahap Orientasi
a. Memberikan salam sebagai pendekatan therapeutic
b. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada klien

c. Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan


dilakaukan
C. 3. Tahap Kerja
1. Siapkan peralatan disamping tempat tidur klien
2. Berikan oksigen awal (praoksigenasi 100%).
3. Cuci tangan dan memakai sarung tangan
4. Mengatur posisi klien (perhatikan keadaan umum anak)

5. Pasang handuk pada bantal atau di bawah dagu klien


6. Pilih tekanan dan tipe unit vakum yang tepat
7. Tuangkan air steril/ normal salin dalam wadah steril
8. Sambungkan kateter penghisap steril ke regulator
vakum
9. Ukur jarak antara daun telinga dan ujung hidung klien
10. Basahi ujung kateter dengan larutan steril
11. Penghisapan Orofaringeal: masukkan ke satu sisi mulut
klien dan arahkan ke orofaring dengan perlahan
12. lebih dari 15 detik.
13. Bilas kateter dengan larutan steril. Bila klien tidak
mengalami disteress pernafasan, istirahat 20-30 detik,
sebelum memasukkan ulang kateter.
14. Bila diperlukan penghisapan ulang, ulang langkah 9 -
11.
15. Bila klien mampu minta untuk nafas dalam dan batuk
efektif diantara penghisapan.
16. Hisap secret pada mulut atau bawah lidah setelah
penghisapan nasofaringeal dan orofaringeal.
17. Buang kateter penghisap bersamaan dengn pelepasan
hanscoon
18. Cuci tangan
D.
4. Tahap Terminasi
a. Mengevaluasi hasil tindakan (Kaji keberhasilan , kaji
rasa nyaman pasien)

b. Membereskan dan kembalikan alat ke tempat semula

c. Mencuci tangan

K. Pendokumentasian
a. Mencatat tanggal dan jam tindakan.
b. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan (Tanggal dan
waktu prosedur, Ukuran kateter, Sekret (warna, bau, jumlah, dan
konsistensi), Toleransi pasien terhadap tindakan yang dilakukan.
c. Mencatat respon pasien
d. Mencatat nama dan memberi paraf perawat yang melakukan
Daftar Pustaka

Brunner & Suddarth, (2012), Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah 2, Edisi


8, Penerbit: Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Kotler B, Erb G, Olivieri R, 1995, Fundamental Of Nursing, Concepts,
Process and Prctice, Vol 11, 4 Ed, California;
Potter, Perry, 2000, Buku Paket Prosedur Dan Kemampuan Skil, Ed, 3 St,
Lours, Mosby Year Book Ine.
Perry,Anne Griffin & Potter.1994.keterampilan dan prosedur dasar. Jakarta :
Buku Kedokteran EGC