Vous êtes sur la page 1sur 11

AMALAN SUNNAH DI BULAN MUHARROM

Posted: 26 November 2011 in Muharrom

Berikut adalah beberapa amalan sunnah di bulan Muharram:Memperbanyak puasa selama


bulan MuharramDari Abu Hurairah radliallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam
bersabda:

Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram. (HR.
Muslim)

Dari Ibn Abbas radliallahu anhuma, beliau mengatakan:

Saya tidak pernah melihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam memilih satu hari untuk puasa
yang lebih beliau unggulkan dari pada yang lainnya kecuali puasa hari Asyura, dan puasa bulan
Ramadhan. (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Puasa Asyura (puasa tanggal 10 Muharram)

Dari Abu Musa Al Asyari radliallahu anhu, beliau mengatakan:

: .

Dulu hari Asyura dijadikan orang yahudi sebagai hari raya. Kemudian Nabi shallallahu alaihi
wa sallam bersabda: Puasalah kalian. (HR. Al Bukhari)

Dari Abu Qatadah Al Anshari radliallahu anhu, beliau mengatakan:

Nabi shallallahu alaihi wa sallam ditanya tentang puasa Asyura, kemudian beliau menjawab:
Puasa Asyura menjadi penebus dosa setahun yang telah lewat. (HR. Muslim dan Ahmad).

Dari Ibn Abbas radliallahu anhuma, beliau mengatakan:


.





.

Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam sampai di Madinah, sementara orang-orang yahudi
berpuasa Asyura. Mereka mengatakan: Ini adalah hari di mana Musa menang melawan Firaun.
Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat: Kalian lebih
berhak terhadap Musa dari pada mereka (orang yahudi), karena itu berpuasalah. (HR. Al
Bukhari)

Keterangan:
Puasa Asyura merupakan kewajiban puasa pertama dalam islam, sebelum Ramadlan. Dari
Rubayyi binti Muawwidz radliallahu anha, beliau mengatakan:

)) :
:((

Suatu ketika, di pagi hari Asyura, Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengutus seseorang
mendatangi salah satu kampung penduduk Madinah untuk menyampaikan pesan: Siapa yang di
pagi hari sudah makan maka hendaknya dia puasa sampai maghrib. Dan siapa yang sudah puasa,
hendaknya dia lanjutkan puasanya. Rubayyi mengatakan: Kemudian setelah itu kami puasa,
dan kami mengajak anak-anak untuk berpuasa. Kami buatkan mereka mainan dari kain. Jika ada
yang menangis meminta makanan, kami memberikan mainan itu. Begitu seterusnya sampai
datang waktu berbuka. (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Setelah Allah wajibkan puasa Ramadlan, puasa Asyura menjadi puasa sunnah. Aisyah
radliallahu anha mengatakan:

Dulu hari Asyura dijadikan sebagai hari berpuasa orang Quraisy di masa jahiliyah. Setelah Nabi
shallallahu alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melaksanakn puasa Asyura dan
memerintahkan sahabat untuk berpuasa. Setelah Allah wajibkan puasa Ramadlan, beliau
tinggalkan hari Asyura. Siapa yang ingin puasa Asyura boleh puasa, siapa yang tidak ingin
puasa Asyura boleh tidak puasa. (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Puasa Tasua (puasa tanggal 9 Muharram)

Dari Ibn Abbas radliallahu anhuma, beliau menceritakan:

! :
: . (( )) :

Ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam melaksanakan puasa Asyura dan memerintahkan para
sahabat untuk puasa. Kemudian ada sahabat yang berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya hari
Asyura adalah hari yang diagungkan orang yahudi dan nasrani. Kemudian Nabi shallallahu
alaihi wa sallam bersabda: Tahun depan, kita akan berpuasa di tanggal sembilan. Namun,
belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu alaihi wa sallamsudah diwafatkan. (HR. Al
Bukhari)

Adakah anjuran puasa tanggal 11 Bulan Muharram?

Sebagian ulama berpendapat, dianjurkan melaksanakan puasa tanggal 11 Muharram, setelah


puasa Asyura. Pendapat ini berdasarkan hadis:

Puasalah hari Asyura dan jangan sama dengan model orang yahudi. Puasalah sehari
sebelumnya atau sehari setelahnya. (HR. Ahmad, Al Bazzar).

Hadis ini dihasankan oleh Syaikh Ahmad Syakir. Hadis ini juga dikuatkan hadis lain, yang
diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra dengan lafadz:

Puasalah sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya.

Dengan menggunakan kata hubung ( yang berarti dan) sementara hadis sebelumnya
menggunakan kata hubung ( yang artinya atau).

Al-Hafidz Ibn Hajar menjelaskan status hadis di atas:


Hadis ini diriwayatkan Ahmad dan al-Baihaqi dengan sanad dhaif, karena keadaan perawi
Muhammad bin Abi Laila yang lemah. Akan tetapi dia tidak sendirian. Hadis ini memiliki jalur
penguat dari Shaleh bin Abi Shaleh bin Hay. (Ittihaf al-Mahrah, hadis no. 2225)
Demikian keterangan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Munajed.

Sementara itu, ulama lain berpendapat bahwa puasa tanggal 11 tidak disyariatkan, karena
hadis ini sanadnya dhaif. Sebagaimana keterangan Al Albani dan Syaikh Syuaib Al Arnauth
dalam taliq musnad Ahmad. Hanya saja dianjurkan untuk melakukan puasa tiga hari, jika dia
tidak bisa memastikan tanggal 1 Muharam, sebagai bentuk kehati-hatian.
Imam Ahmad mengatakan:

Jika awal bulan Muharram tidak jelas maka sebaiknya puasa tiga hari: (tanggal 9, 10, dan 11
Muharram), Ibnu Sirrin menjelaskan demikian. Beliau mempraktekkan hal itu agar lebih yakin
untuk mendapatkan puasa tanggal 9 dan 10. (Al Mughni, 3/174. Diambil dari Al Bida Al
Hauliyah, hal. 52).

Disamping itu, melakukan puasa 3 hari, di tanggal 9, 10, dan 11 Muharram, masuk dalam
cakupan hadis yang menganjurkan untuk memperbanyak puasa selama di bulan Muharram.
Sebagaimana yang dinyatakan dalam hadis dari Abu Hurairah radliallahu anhu, bahwa Nabi
shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di
bulan Allah, bulan Muharram. (HR. Muslim)

Ibnul Qayim menjelaskan bahwa puasa terkait hari Asyura ada tiga tingkatan:

1. Tingkatan paling sempurna, puasa tiga hari. Sehari sebelum Asyura, hari Asyura, dan
sehari setelahnya.
2. Tingkatan kedua, puasa tanggal 9 dan tanggal 10 Muharram. Ini berdasarkan banyak
hadis.
3. Tingkatan ketiga, puasa tanggal 10 saja.

(Zadul Maad, 2/72)

Bolehkah puasa tanggal 10 saja?

Sebagian ulama berpendapat, puasa tanggal 10 saja hukumnya makruh. Karena Nabi shallallahu
alaihi wa sallam berencana untuk puasa tanggal 9, di tahun berikutnya, dengan tujuan
menyelisihi model puasa orang yahudi. Ini merupakan pendapat Syaikh Ibn Baz rahimahullah.

Sementara itu, ulama yang lain berpendapat bahwa melakukan puasa tanggal 10 saja tidak
makruh. Akan tetapi yang lebih baik, diiringi dengan puasa sehari sebelumnya atau sehari
sesudahnya, dalam rangka melaksanakan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Dalam majmu fatawa, Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya:


Bolehkah puasa tanggal 10 Muharam saja, tanpa puasa sehari sebelumnya atau sehari
sesudahnya. Mengingat ada sebagian orang yang mengatakan bahwa hukum makruh untuk puasa
tanggal 10 muharram telah hilang, disebabkan pada saat ini, orang yahudi dan nasrani tidak lagi
melakukan puasa tanggal 10.

Beliau menjawab:
Makruhnya puasa pada tanggal 10 saja, bukanlah pendapat yang disepakati para ulama. Diantara
mereka ada yang berpendapat tidak makruh melakukan puasa tanggal 10 saja, namun sebaiknya
dia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. Dan puasa tanggal 9 lebih baik dari pada
puasa tanggal 11. Maksudnya, yang lebih baik, dia berpuasa sehari sebelumnya, berdasarkan
sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam : Jika saya masih hidup tahun depan, saya akan puasa
tanggal sembilan (muharram). maksud beliau adalah puasa tanggal 9 dan 10 muharram..
Pendapat yang lebih kuat, melaksanakan puasa tanggal 10 saja hukumnya tidak makruh.
Akan tetapi yang lebih baik adalah diiringi puasa sehari sebelumnya atau sehari
setelahnya. (Majmu Fatawa Ibn Utsaimin, 20/42)

Artikel www.KisahMuslim.com

malan-Amalan di Bulan Muharram


24 October 2013 Redaksi Ibadah 10 comments
Pembaca yang semoga senatiasa dirahmati Allah Taala, sebentar lagi kita akan memasuki tahun
baru hijriyah. Dimana bulan pertama dalam kelender hijriyah adalah bulan Muharram. Allah
Taala telah menjadikan bulan Muharram sebagai bulan yang mulia dan menjadikannya sebagai
salah satu dari empat bulan haram (yang disucikan).

Bulan Muharram, Bulan yang Dimuliakan

Para pembaca yang budiman, Allah Taala berfirman (yang artinya), Sesungguhnya jumlah
bulan di sisi Allah adalah 12 bulan (yang telah ditetapkan) di dalam kitab Allah sejak
menciptakan langit dan bumi. Di antara 12 bulan tersebut terdapat 4 bulan yang suci. Itulah
(ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menzhalimi diri kalian pada bulan-bulan
(suci) tersebut. (QS. At Taubah : 36)

Diantara keempat bulan haram (suci) tersebut adalah bulan Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram,
dan Rajab. Sebagaimana yang disebutkan oleh sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
(yang artinya), Satu tahun ada 12 bulan, diantaranya ada 4 bulan suci: 3 bulan secara
berurutan yaitu Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram dan bulan Rajab diantara bulan Jumada
dan bulan Syaban. (HR. Bukhari)

Mengapa keempat bulan tersebut dinamakan bulan haram? Abu Yala rahimahullah mengatakan,
Dinamakan bulan haram karena dua makna. Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai
pembunuhan sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang jahiliyyah dahulu. Kedua, pada bulan
tersebut larangan untuk melakukan perbuatan maksiat lebih ditekankan daripada bulan yang
lainnya dikarenakan mulianya bulan tersebut. (Zaadul Maysir, Ibnul Jauziy)

Beberapa Amalan yang Dilakukan di Bulan Muharram

Para pembaca rahimakumullah, berikut akan kami bawakan beberapa amalan yang hendaknya
dilakukan pada bulan Muharram.

1. Perbanyak Amalan Shalih dan Jauhi Maksiat

Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata tentang tafsir firman Allah Taala dalam Surat At
Taubah ayat 36: maka janganlah kalian menzhalimi diri kalian; Allah telah
mengkhususkan empat bulan dari kedua belas bulan tersebut. Dan Allah menjadikannya sebagai
bulan yang suci, mengagungkan kemulian-kemuliannya, menjadikan dosa yang dilakukan pada
bulan tersebut lebih besar (dari bulan-bulan lainnya) serta memberikan pahala (yang lebih besar)
dengan amalan-amalan shalih. (Tafsir Al Quran Al Azhim, Ibnu Katsir)

Mengingat besarnya pahala yang diberikan oleh Allah melebihi bulan selainnya, hendaknya kita
perbanyak amalan-amalan ketaatan kepada Allah pada bulan Muharram ini dengan membaca Al
Quran, berdzikir, shadaqah, puasa, dan lainnya.

Selain memperbanyak amalan ketaatan, tak lupa untuk berusaha menjauhi maksiat kepada Allah
dikarenakan dosa pada bulan-bulan haram lebih besar dibanding dengan dosa-dosa selain bulan
haram.
Qotadah rahimahullah juga mengatakan, Sesungguhnya kezaliman pada bulan-bulan haram
lebih besar kesalahan dan dosanya daripada kezaliman yang dilakukan di luar bulan-bulan
haram tersebut. Meskipun kezaliman pada setiap kondisi adalah perkara yang besar, akan tetapi
Allah Taala menjadikan sebagian dari perkara menjadi agung sesuai dengan kehendaknya.

2. Perbanyaklah Puasa

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda (yang
artinya), Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan
Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam. (HR.
Muslim)

Para salaf pun sampai-sampai sangat suka untuk melakukan amalan dengan berpuasa pada bulan
haram. Sufyan Ats Tsauri rahimahullah mengatakan, Pada bulan-bulan haram, aku sangat
senang berpuasa di dalamnya. (Lathaa-if Al Maarif, Ibnu Rajab)

3. Puasa Asyuro (Tanggal 10 Muharram)

Para pembaca yang dirahmati Allah, hari Asyuro merupakan hari yang sangat dijaga
keutamannya oleh Rasulullah, sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma,
beliau mengatakan, Aku tidak pernah melihat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam begitu
menjaga keutamaan satu hari di atas hari-hari lainnya, melebihi hari ini (yaitu hari Asyuro) dan
bulan yang ini (yaitu bulan Ramadhan). (HR. Bukhari dan Muslim)

Salah satu bentuk menjaga keutamaan hari Asyuro adalah dengan berpuasa pada hari tersebut.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, beliau mengatakan, Ketika Nabi shallallahu alaihi wa
sallam sampai di Madinah, sementara orang-orang Yahudi berpuasa Asyuro, mereka
mengatakan, Ini adalah hari di mana Musa menang melawan Firaun. Kemudian Nabi
shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat, Kalian lebih berhak terhadap Musa
dari pada mereka (orang Yahudi), karena itu berpuasalah (HR. Bukhari)

Rasulullah menyebutkan pahala bagi orang yang melaksanakan puasa sunnah Asyuro,
sebagaiamana riwayat dari Abu Musa Al Asyari radhiyallahu anhu, beliau mengatakan, Nabi
shalallahu alaihi wasallam ditanya tentang puasa Asyuro, kemudian beliau menjawab, Puasa
Asyuro menjadi penebus dosa setahun yang telah lewat (HR. Muslim)

4. Selisihi Orang Yahudi dengan Puasa Tasua (Tanggal 9 Muharram)

Setahun sebelum Nabi shallallahu alaihi wasallam wafat, beliau berrtekad untuk tidak berpuasa
hari Asyuro (tanggal 10 Muharram) saja, tetapi beliau menambahkan puasa pada hari
sebelumnya yaitu puasa Tasua (tanggal 9 Muharram) dalam rangka menyelisihi puasanya orang
Yahudi Ahli Kitab.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma beliau mengatakan, Ketika Rasulullah shalallahu
alaihi wasallam berpuasa Asyuro dan menganjurkan para sahabatnya untuk berpuasa, mereka
berkata, Wahai Rasulullah, sesungguhnya ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang
Yahudi dan Nasrani. Maka beliau bersabda, Kalau begitu tahun depan Insya Allah kita akan
berpuasa juga pada hari kesembilan (Tasua, untuk menyelisihi Ahli kitab). Ibnu Abbas
berkata, Belum sampai tahun berikutnya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah wafat.

Sebagian ulama ada yang berpendapat di-makruh-kannya (tidak disukainya) berpuasa pada
tanggal 10 Muharram saja, karena menyerupai orang-orang Yahudi. Tapi ada ulama lain yang
membolehkannya meskipun pahalanya tidak sesempurna jika digandengkan dengan puasa sehari
sebelumnya (tanggal 9 Muharram). (Asy Syarhul Mumti, Ibnu Utsaimin)

5. Muhasabah dan Introspeksi Diri

Hari berganti dengan hari dan bulan pun silih berganti dengan bulan. Tidak terasa pergantian
tahun sudah kita jumpai lagi, rasa-rasanya sangat cepat waktu telah berlalu. Semakin
bertambahnya waktu, maka semakin bertambah pula usia kita. Perlu kita sadari, bertambahnya
usia akan mendekatkan kita dengan kematian dan alam akhirat.

Sebuah pertanyaan besar, Semakin bertambah usia kita, apakah amal kita bertambah atau
malah dosakah yang bertambah??! Maka pertanyaan ini hendaknya kita jadikan alat untuk
muhasabah dan introspeksi diri kita masing-masing. Ibnu Masud radhiyallahu anhu pernah
mengatakan, Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, masa
hidupku berkurang, namun amalanku tidak bertambah.

Wahai saudaraku, sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk menuju perjalanan yang panjang di
akhirat kelak dengan amalan-amalan shalih? Sudahkah kita siap untuk
mempertanggungjawabkan semua perbuatan yang telah kita perbuat di hadapan Allah kelak?
Allah Taala berfirman (yang artinya), Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dan setiap diri hendaklah memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat) (QS. Al Hasyr: 18)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang tafsir ayat ini, Yaitu, hendaklah kalian menghitung-
hitung diri kalian sebelum kalian di-hisab (pada hari kiamat), dan perhatikanlah apa yang telah
kalian persiapkan berupa amal kebaikan sebagai bekal kembali dan menghadap kepada Rabb
kalian.

Semoga Allah senantiasa memberikan kita taufik untuk tetap teguh berada di atas jalan
kebenaran-Nya, bersegera untuk melakukan instrospeksi diri sebelum datang hari di-hisab-nya
semua amalan, dan menjauhkan dari perbuatan maksiat yang bisa membuat noda hitam di hati
kita. Wallahu Taala alam.

Penulis : Raksaka Indra (Alumni Mahad Al Ilmi Yogyakarta)

Murojaah : Ustadz Abu Salman


Doa serta Amalan yang Disunnahkan Akhir
dan Awal Tahun Hijriyah
19.48.00 Muharram

MusliModerat.Com - Sebentar lagi tahun 1434 H akan berakhir dan tahun baru 1435 H
akan datang. Kesempatan menjalani tahun baru berarti Allah masih memberikan
nikmatNya berupa umur panjang yang merupakan satu nikmat yang wajib disyukuri.

Cara mensyukuri nikmat Allah adalah dengan menggunakan nikmat tersebut pada
tempat tujuan penciptaannya. Untuk mensyukuri nikmat umur yang Allah berikan
maka kita harus menggunakan umur tersebut untuk beribadah kepada Allah. Maka di
akhir tahun dan di awal tahun baru sangatlah dianjurkan untuk memperbanyak doa
dan amalan sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Berikut ini beberapa amalan yang kami kutip dari kitab para ulama yang dapat
diamalkan dalam mengakhiri tahun ini dan menyambut tahun baru, semoga Allah
mengampunkan dosa kita dalam tahun yang telah lalu dan Allah memberikan tahun
kedepan sebagai tahun yang penuh rahmat dan jauh dari tipu daya syaithan, sehingga
kita sempat menjalaninya dengan beribadah kepada Allah dengan niat yang ikhlas.
Amiin Ya Rabbal Alamiin.

Doa Akhir tahun

Doa ini di baca sebanyak tiga kali


.

( )



( )

.

Amalan Awal tahun

1. Puasa

Salah satu amalan yang dapat dilaksanakan pada awal hari pertama bulan Muharram
adalah puasa.
Al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani meriwayatkan :

Barang siapa berpuasa pada akhir dari bulan Zulhijjah dan awal dari bulan Muharram
akan Allah jadikan baginya keampunan lima tahun dan puasa sehari di bulan
Muharram bagaikan puasa 30 hari.

Bulan Muharram adalah bulan yang sangat di anjurkan untuk berpuasa terlebih lagi di
sepuluh awal bulan Muharram, terutama pada hari Tasu`a (9 Muharram) dan Asyura
(10 Muharram). Bahkan bulan Muharram adalah bulan yang lebih utama untuk
berpuasa setelah bulan Ramadhan.

2. Doa-doa di awal tahun


Banyak doa yang warid dari Rasulullah dan yang di amalankan oleh para ulama pada
awal tahun, antara lain:

Membaca ayat kursi sebanyak 360 kali disertai dengan basmalah pada setiap kali
bacaan, kemudian dilanjutkan dengan membaca doa di bawah ini:

Imam Sayyid Zaini Dahlan mengatakan bahwa beliau selalu mengamalkan amalan
tersebut setiap awal tahun dan sangat berfaedah sebagai benteng dari syaithan. Guru
beliau Syeikh Usman ad-Dimyathy juga selalu mengamalkan amalan tersebut.

Syeikh Hasan al-`idawy al-Hamzawy mengatakan bahwa faedah amalan tersebut


adalah memelihara pengamalnya dalam setahun tersebut dari hal-hal yang ia benci.
Membaca doa di bawah ini sebanyak tiga kali :

)(


) .(








.

Doa ini berfaedah memelihara manusia dari gangguan syaithan pada tahun tersebut.

Doa Nabi Khidir as.


Disebutkan dalam satu riwayat bahwa Imam Ghazali menceritakan : saya berada di
Makkah pada awal hari tahun baru Hijriyah, saya melakukan thawaf Baitil Haram.
Kemudian tergores dalam hati saya supaya bisa melihat Nabi Khidir as pada hari
tersebut, kemudian Allah mengilhami saya untuk berdoa, maka saya berdoa supaya
Allah menghimpunkan saya dengan Nabi Khidir pada hari tersebut. Belum selesai saya
berdoa tampaklah bagiku Nabi Khidir di tempat Thawaf, sayapun berthawaf bersama
beliau dan mengerjakan apa yang beliau kerjakan, dan mengikuti bacaannya sehingga
)selesai thawaf, kemudian saya duduk sambil melihat rumah yang mulia (ka`bah
kemudian beliau berpaling kepada saya dan berkata hai Muhammad, apa yang
membuatmu meminta kepada Allah untuk menghimpunkan saya dengan dirimu pada
hari ini di tanah haram yang mulia ini? Saya menjawab Ya Sayyidi, hari ini adalah
tahun baru, saya mencintai mengikuti engkau dalam menghadapi tahun baru dengan
ibadat dan tadharumu. Nabi Khidir menjawab ya. Kemudian beliau berkata
rukuklah dengan rukuk yang sempurna. Maka saya segera berdiri dan shalat
sebagaiman beliau perintahkan, ketika selesai dari shalat beliau berkata berdoalah
dengan doa matsur ini yang menghimpunkan bagi kebaikan dan barakah. Doa
tersebut adalah :


) .(

) .(



)(






)
(

Salah satu doa yang berfaedah memelihara diri dari syaithan dalan setahun adalah doa
bawah ini, dibaca setiap hari dari hari pertama Muharram hingga sepuluh Muharram
sebanyak tiga kali:






.

Referensi:
Syeikh Abdul Hamid Qudus, Kanz Najah wa al-Surur fi Ad`iyyah allati Tusyrih al-
Shudur.

Sumber Abu MUDI