Vous êtes sur la page 1sur 19

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA KASUS HIPERTENSI PRAKTEK

KOMUNITAS

OLEH :

KELOMPOK B2

RAZKA UTIYA 1311312009

PRILYA VITAMAHARANIE 1311312011

SUCI RIZKI MUKHLISAH 1311312013

WIDIA HANDAYANI 1311312015

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS ANDALAS

2016
PENGKAJIAN KELUARGA

A. DATA UMUM

1. Nama Keluarga (KK) : Tn. J


2. Alamat dan Telepon : NO 14 RT 01/ RW 03 Kelurahan Gurun Laweh,
Kecamatan Nanggalo
3. Komposisi Keluarga :

N Nama JK Hub Umur Pendidik Status Imunisasi K


O dg an E
KK T
BC Ca
1 2 3 4 1 2 3 1 2 3
G m
pak
1 Ny.Y Perem Istri 43 SLTP
puan Tahun sederajat
2 An. L Perem Anak 21 SLTA
puan Tahun sederajat
3 An. Perem Anak 20 SLTA
N puan Tahun sederajat
4 An. Perem Anak 17 SLTP
N puan Tahun sederajat
5 An. R Laki- Anak 15 SLTP
laki Tahun sederajat
6 An. J Laki- Anak 10 SD
laki Tahun sederajat
7 An. Laki- Anak 5 Belum
D laki Tahun Sekolah
Genogram :

B. Tipe Bentuk Keluarga

Tipe keluarga Tn. J adalah tipe keluarga inti dimana keluarga Tn. J terdiri dari Suami,
Istri dan enam orang Anak yang masih sekolah.
4. Latar Belakang Kebudayaan (Etnik)

Keluarga Tn J merupakan keluarga yang memiliki suku Minangkabau. Tn.J menganut


suku tanjung sedangkan Ny. Y menganut suku koto. Dalam keseharian keluarga Tn. J
menggunakan bahasa minang untuk berkomunikasi. Rumah Tn J termasuk dengan tipe
rumah untuk kalangan menengah kebawah, yang dihuni oleh Tn.J ,Ny.Y serta enam orang
anak mereka. Selanjutnya dalam penggunaan praktisi dan jasa keperawatan kesehatan
keluarga, Ny.Y lebih percaya pada pelayanan kesehatan berupa klinik atau Rumah Sakit,
berbeda dengan Tn.J yang lebih percaya pada pengobatan tradisional.

5. Identifikasi Religius

Keluaga Tn.J menganut agama islam. Tn J jarang mengikuti kegiatan keagamaan di


lingkungannya. Ny Y kadang-kadang ikut dalam kegiatan keagamaan seperti majlis
taklim serta anggota qasidah dan kegiatan lainnya. Ny Y jarang melaksanakan shalat
berjamaah ke mesjid. Ny Y sehari-hari tidak memakai jilbab keluar rumah.

6. Status Kelas Sosial

Tn. J bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka. Tn. J yang bekerja sebagai Buruh
Harian Lepas (Kuli) dan Ny. Y yang bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga. Pendapatan Tn J
sekitar Rp. 600.000/minggu dan itupun kurang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan
mereka serta 6 orang anak. Mereka mengalami kekurangan dalam memenuhi kebutuhan
mereka dengan 6 orang anak yang belum berkeluarga.

7. Mobilitas Kelas Sosial

Pencari nafkah dalam keluarga adalah Tn J. Sejak Tn J dan Ny Y memutuskan untuk


menikah, Tn J sudah bekerja sebgai Buruh Harian Lepas (Kuli) yang pendapatannya yang
tidak menentu. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya anak, maka pengeluaran dan
pendapatan keluarga Tn J tidak seimbang. Pedapatan keluarga tidak menentu setiap
bulannya, kadang-kadang Tn J tidak bekerja. Sehingga tidak mampu memenuhi semua
kebutuhan keluarga serta anak-anaknya yang masih sekolah.

TAHAP PERKEMBANGAN DAN RIWAYAT KELUARGA


8. Tahap perkembangan keluarga saat ini
Tahap perkembangan keluarga berada pada tahap V yaitu keluarga dengan anak remaja
(anak tertua berusia 13-20 tahun). Tn J memiliki seorang istri dan 6 orang anak. Istri Tn J
berusia 43 tahun. Anak pertama berusia 21 tahun, anak kedua berusia 20 tahun, anak
ketiga berusia 17 tahun, anak keempat berusia 15 tahun, anak kelima berusia 10 tahun
dan anak keenam berusia 5 tahun. Anak-anak Tn J masih sekolah kecuali anak terakhir
yang masih berusia 5 tahun.
9. Sejauh mana keluarga memenuhi tugas perkembangan yang sesuai dengan
tahap perkembangan saat ini

Tahap perkembangan keluarga ini memiliki tugas perkembangan:


a. Menyeimbangkan kebebasan dengan tanggung jawab seiring dengan
kematangan remaja dan semakin meningkatnya otonomi.
b. Memfokuskan kembali hubungan pernikahan.
c. Berkomunikasi secara terbuka antara orang tua dan anak.

10. Riwayat keluarga dari lahir hingga saat ini, termasuk riwayat
perkembangan dan kejadian serta pengalaman kesehatan yang unik atau yang
berkaitan dengan kesehatan

Pada tahap perkembangan keluarga Ny. Y adalah tahap keluarga dengan anak remaja. Tn.
J dan Ny. Y memberikan kebebasan kepada anaknya dalam begaul tapi tidak terlepas dari
pengontrolan orang tua. Komunikasi dalam keluarga Ny.Y terjalin dengan sangat baik
contohnya saja dalam menyampaikan perbedaan pendapat mereka komunikasikan dengan
sangat baik sehingga hasil dan tujuan yang mereka peroleh merupakan pencapaian yang
mereka inginkan bersama. Apalagi dengan perubahan peran yang mereka alami sekarang
dengan anak usia remaja Tn. J dan istrinya mesti berperan ekstra dalam mendidik dan
mengawasi anak mereka. Sedangkan masalah kesehatan pada keluarga Tn J adalah Ny Y
mengalami hipertensi dan Ny Y pernah rawat inap di rumah sakit. Ny. Y mengalami
hipertensi sejak lima tahun yang lalu. Ny. Y dirawat di rumah sakit pada bulan Agustus
2016 selama satu minggu Ketika dirawat di rumah sakit tekanan darah Ny. Y 180/110
mmHg. Sehari-hari Ny. Y mengkonsumsi obat antihipertensi, saaat ditanya Ny. Y
mengatakan biasanya tekanan darah Ny. Y untuk sistol 130-140 mmHg.

11. Keluarga asal kedua orang tua


Orang tua Tn. J dan orang tua Ny. Y berasal dari daerah yang berbeda. Ny. Y dan Tn. J
dijodohkan oleh kedua orang tua mereka. Tn J dan Ny Y mempunyai orang tua serta
saudara-saudara yang sangat peduli dan menyayangi mereka. Akan tetapi orang tua laki-
laki dari Tn J dan Ny Y sudah meninggal karena riwayat penyakit hipertensi dan stroke
yang diderita.

DATA LINGKUNGAN

12. Karakteristik Rumah

Bangunan rumah yang dihuni Ny. Y bersifat semi permanen dan merupakan milik
sendiri. Rumah tersebut tampak belum selesai karena pernah runtuh akibat gempa 2009.
Rumah Ny. Y tampak tersisih dari rumah lain.
Bagian dalam rumah Ny. Y terlihat kurang bersih dan perabotannya tidak tertata dengan
baik. Ventilasi dan penerangan di rumah Ny. Y tidak memadai. Keluarga Ny. Y jarang
membuka jendela rumahnya. Rumah Ny. Y terdiri dari dua kamar. Kamar pertama
terletak di bagian depan dan kamar kedua terletak di bagian samping yang menyatu
dengan ruangan untuk menonton televisi, kulkas, dan ruang makan. Kondisi dapur rumah
Ny. Y terlihat kotor dan berantakan namun suplai air minum masih tercukupi dengan
baik. Ny. Y memasak menggunakan kompor minyak tanah. Kamar mandi terletak di
bagian belakang yang ditutupi oleh seng namun tidak mempunyai atap. Kamar mandinya
juga kurang bersih namun ketersediaan air dan fasilitas toilet lainnya juga memadai.
Sumber air yang digunakan oleh keluarga Ny. Y adalah air sumur bor yang digunakan
untuk mandi, mencuci, memasak air minum, dan kebutuhan sehari-hari. Di samping
rumah Ny. Y terdapat kandang ayam. Pembuangan sampah dilakukan dengan cara
dibakar.

13. Karakteristik Lingkungan Sekitar dan Komunitas yang Lebih Besar

Ny. Y tinggal di Kecamatan Nanggalo di Kelurahan Gurun Laweh. Lingkungan disekitar


komplek perumahan Ny. Y terlihat kurang bersih. Udara disekitar rumah Ny. Y terhindar
dari polusi.
Kebiasaan keluarga Ny. Y dan lingkungan tetangga sekitar cukup dekat meskipun tidak
ada hubungan darah yang mengikat keluarga-keluarga dalam lingkungan tersebut.
Karakteristik tetangga dan komunitas RW di lingkungan tempat tinggal Ny. Y adalah
heterogen. Rumah Ny. Y berdekatan dengan rumah orang tuanya.
Dalam hal aturan tidak ada aturan-aturan khusus yang di pakai dalam lingkungan
masyarakat sekitar rumah Ny. Y. Lingkungan dibersihkan oleh masing-masing pemilik
halaman rumah, dan diwaktu luang masyarakat setempat mengadakan gotong royong.
Budaya yang digunakan adalah budaya gotong-royong. Bila ada salah satu keluarga yang
mengadakan acara seperti kenduri ataupun apabila ada kematian maka masyarakat
dilingkungan sekitar saling bantu-membantu.

14. Mobilitas Geografis Keluarga


Sejak mulai bekeluarga keluarga Tn. J sudah menetap di daerah Gurun Laweh dan tidak
pernah pindah ke daerah lain. Pada tahun 2008 keluarga Tn J mulai membangun rumah
sendiri dengan seadanya dan sebelumnya mereka tinggal di rumah orang tua Ny Y. Pada
tahun 2009 rumah Tn J terkena gempa sehingga mereka sekeluarga tinggal di kemah-
kemah sekitar. Pada akhirnya keluarga mereka mendapatkan bantuan rumah dari PMI.
Dan sampai sekarang rumah Tn J bisa dikatakan belum siap atau masih dalam
pembangunan.

15. Asosiasi Transaksi Keluarga dengan Komunitas

Di lingkungan tempat tinggal Ny. Y ada acara-acara khusus yang diagendakan untuk
berkumpul bersama seperti arisan, majelis taklim, dan lain-lainnya. Ny. Y dan keluarga
ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang dibuat oleh masyarakat sekitar. Pelayanan/
fasilitas yang biasa dimanfaatkan oleh keluarga Ny. Y adalah Puskesmas dan RSUD.
Namun, keluarga Ny. Y agak susah untuk mengakses fasilitas tersebut dikarenakan jarak
yang agak jauh dan transportasi yang kurang memadai. Jika ada anggota komunitas yang
sakit warga RT 01 pun menjenguk, seperti yang terjadi pada Ny. Y sebulan yang lalu. Ny.
Y pernah dirawat di rumah sakit sebulan yang lalu, masyarakat sekitar pun turut
menjenguk Ny. Y ke rumah sakit dan ada pula yang di rumah. Ny. Y merasa senang atas
partisipasi dan kunjungan dari tetangganya dan merasakan bahwa dirinya merupakan
bagian dari sebuah komunitas. Keluarga mengatakan puas dengan pelayanan kesehatan
yang diberikan.

STRUKTUR KELUARGA
16. Pola Komunikasi
Sejauh mana komunikasi fungsional dan disfungsional digunakan :
Tn. J memberikan kebebasan kepada Ny. Y untuk menentukan pilihan
seperti membeli barang dan sebagainya, tetapi harus memberi tahu terlebih dahulu
Jika Ny. Y memarahi anak-anaknya, Tn. J selalu mengingatkan jangan
marah berlebihan kepada anak
Ny. Y sering bercerita masalahnya kepada Tn. J dan Tn. J memberikan
umpan balik seperti nasihat dan saran kepada Ny. Y
Karakteristik jaringan komunikasi keluarga :
Anak-anak sering menyatakan keinginannya akan sesuatu secara langsung kepada Ny.
Y dan jarang langsung ke Tn. J seperti masalah pekerjaan dan lainnya.

17. Struktur Kekuasaan


Disebabkan Tn. J merupakan kepala keluarga maka Tn. J merupakan pembuat keputusan
terakhir. Tentu saja keputusan akhir didapat setelah memusyawarahkannya bersama
anggota keluarga. Namun jika terjadi perdebatan antara Ny. Y dan Tn. J biasanya Tn. J
mengalah dan membiarkan Ny. Y pada keputusannya. Adapun yang mengatur
pembayaran rekening, biaya sekolah anak, dan bagaimana uang digunakan adalah Ny. Y.
Untuk pembelian barang seperti motor itu dianggarkan oleh Tn. J. Tn. J bertanggung
jawab memberikan nafkah/ uang kepada Ny. Y kemudian Ny. Y yang mengatur keuangan
keluarga mereka. Jika anak Ny. Y ingin memutuskan pindah pekerjaan biasanya
An.L,An.N akan mendiskusikannya dengan Ny. Y karena jika anak mereka meminta
pendapat kepada Tn. J agak sulit karena Tn. J jarang di rumah disebabkan mencari nafkah
untuk keluarga. Namun, Ny. Y akan mengkonfirmasi kembali kepada Tn. J mengenai
keputusan yang dibuat. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan dalam
keluarga diperoleh melalui diskusi dan musyawarah dengan semua anggota keluarga.

18. Struktur Peran

a. Struktur Peran Formal


Tn. J : Berperan sebagai suami dan ayah untuk anaknya. Tn. J berperan sebagai
pencari nafkah dan sebagai pemimpin keluarga.
Ny. Y : Berperan sebagai istri dan ibu untuk anaknya. Merupakan pengurus
kegiatan rumah tangga, seperti memasak, berbelanja, mencuci dll. Ny. Y juga
berperan dalam mengatur keuangan keluarga. Ia tidak bekerja karena penyakit
hipertensi yang di derita.
An. L : Berperan sebagai putri dan merupakan anak pertama.
An. N : Berperan sebagai putri dan merupakan anak kedua.
An. N : Berperan sebagai putri dan merupakan anak ketiga.
An. R : Berperan sebagai putra dan merupakan anak keempat.
An. J : Berperan sebagai putra dan merupakan anak kelima.
An. D : Berperan sebagai putra dan merupakan anak keenam.
b. Struktur Peran Informal
Tn. J : Merupakan ayah yang baik, tidak pemarah, dan sayang kepada anak
mereka.
Ny. Y : Sangat peduli akan kesehatan keluarga, perhatian, dan sangat dekat
dengan anak mereka.

Variabel yang mempengaruhi struktur peran :

Pengaruh kelas social : keluarga Tn.J yang tergolong kepada keluarga kelas pekerja lebih
cenderung bersifat tradisional dalam hal peran pernikahan. Tahap perkembangan keluarga
dan kehadiran enam orang anak membuat Ny.Y bergantung pada Tn.J sebagai pemberi
nafkah.

19. Nilai Keluarga


Nilai dan norma yang dianut adalah nilai dan norma yang berada di sekitar lingkungan.
Keluarga ini tidak percaya akan hal mistis. Keluarga dalam penanganan kesehatan juga
merujuk pada tenaga kesehatan modern seperti puskesmas / praktek dokter, jika sakit
ringan keluarga akan berobat ke pusat pelayanan kesehatan. Namun pada situasi tertentu
tampak ada konflik nilai dalam keluarga, antara Tn.J dan Ny.Y. Ny.Y mencoba secara
tidak efektif mengutarakan nilai-nilai yang dianut kepada suaminya. Tn.J
mempertahankan nilai-nilai tradisional yang dianut, karena kesehariannya Tn.J apabila
merasa kurang sehat, Tn.J tidak langssung memeriksakan kesehatannya ke pusat
pelayanan kesehatan, Tn.J lebih memilih membiarkan penyakitnya dan sembuh dengan
sendirinya, berbeda dengan nilai yang dianut oleh Ny.Y. Hal ini mempengaruhi secara
langsung status kesehatan keluarga, dengan menciptakan ketegangan dalam hubungan
pernikahan.

FUNGSI KELUARGA

20. Fungsi Afektif


Saling asuh, kedekatan dan identifikasi : Semua keluarga dekat satu sama lain dan
melakukan peran pengasuhan yang adekuat.
Keterpisahan dan keterkaitan : Tidak dibahas sedikitpun, karena Tn.J memiliki
kepemimpinan yang berkualitas dan memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi
secara mandiri. Pada saat ini, kepatuhan dan keterikatan jauh lebih dihargai daripada
perpisahan.
Pola respon dan kebutuhan keluarga: Kebutuhan keluarga ini tidak di jelaskan satu
persatu, namun kebutuhan semuanya di penuhi oleh Tn. J. Respon kebutuhan banyak di
sampaikan oleh Ny.Y serta anak-anaknya yang masih sekolah.

21. Fungsional Sosialisasi


Keluarga ini bersosialisasi dengan baik terhadap lingkungan sekitar, hal ini tampak ketika
keluarga lebih nyaman berada di teras rumah untuk bersantai dan bercerita dengan
tetangga yang lalu lalang. Disamping itu Tn.J dan Ny.Y juga aktif dalam bermasyarakat,
contohnya saja Ny.Y aktif dalam kegiatan PKK, arisan dan beberapa kegiatan lainnya
yang diadakan di lingkungan tempat tinggal mereka, begitu juga dengan Tn.J yang juga
aktif dalam kegiatan arisan bapak-bapak, serta anak-anak Tn.J dan Ny.Y juga
bersosialisasi dengan baik.
Hal ini terbukti saat Ny.Y jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit, tetangga dan orang
sekitar Tn.J dan Ny.Y bergantian dating menjenguk Ny.Y yang sedang dirawat di rumah
sakit.
22. Fungsi Perawatan Kesehatan

Keyakinan, nilai, dan perilaku kesehatan: keluarga percaya akan perawatan modern
seperti jika sakit keluarga langsung ke puskesmas, rumah sakit dan praktek dokter.
Namun Tn. J masih percaya pada pengobatan tradisional dan berobat ke dukun.
Definisi dan tingkat pengetahuan keluarga tentang sehat- sakit. Ny. Y mendefinisikan
sehat sebagai suatu keadaan ketika tubuh terasa nyaman, senang beraktifitas dan tidak
ada gejala apapun. Sedangkan sakit sebagai suatu keadaan ketika ada tanda dan gejala
seperti sakit kepala, gejala magh, dan tubuh terasa lemah. Sedangkan Tn. J
mendefinisikan sakit sebagai suatu keadaan ketika nafsu makan hilang.
Status kesehatan keluarga dan kerentanan terhadap sakit yang dirasa : Ny. Y mengkaji
status kesehatannya saat ini dengan mengenali tanda dan gejala yang dirasakan. Masalah
kesehatan yang saat ini diidentifikasi oleh keluarga yaitu hipertensi yang dialami oleh Ny.
Y.
Praktik diet keluarga :
Alergi makanan : Tidak tercatat.
Asupan kalori : Ny. Y mengatakan makan 2 - 3 kali sehari. Tn. J hanya
minum kopi sebelum berangkat kerja.
Yang bertanggung jawab terhadap perencanaan, belanja dan persiapan makanan adalah
Ny. Y. Ny. Y berbelanja di warung terdekat karena tidak mempunyai uang untuk belanja
ke pasar dan bahan yang dibeli juga pas-pasan.
Lemari pendingin dan kompor : lemari pendingin berfungsi adekuat. Namun kompor
tidak selalu digunakan karena kadang Ny.Y menggunakan tungku untuk memasak.

Kebiasaan tidur dan beristirahat : kebiasaan tidur Ny. Y mulai pukul 22.00,
terkadang Ny.Y tertidur saat menonton televisi bersama
Tn. J dan anak-anaknya. Terkadang Tn. J istirahat di
warung dekat rumah sebelum tidur.
Praktik aktivitas fisik dan rekreasi : keluarga menyadari bahwa rekreasi aktif dan
olahraga secara teratur penting untuk kesehatan, namun jarang dilaksanakan. Pekerjaan
harian yang biasa tidak memberikan kesempatan untuk latihan. keluarga melakukan hal
yang disenangi masing-masing anggota keluarga. Biasanya Ny. Y mengikuti senam di
kantor camat sekali seminggu.
Kebiasaan keluarga menggunakan obat : keluarga biasanya meminum obat dari dokter
setelah berobat. Sebelumnya Ny. Y rajin mengkonsumsi obat antihipertensi, namun
beberapa minggu ini Ny. Y sudah tidak mengkonsumsi obat tersebut lagi. Tn. J biasanya
mengkonsumsi obat dari warung ketika merasakan gejala seperti sakit kepala. Sampai
saat ini Tn.J tetap mengkonsumsi rokok dalam jumlah banyak.
Peran Keluarga dalam praktik perawatan diri : Hal yang dilakukan keluarga untuk
memperbaiki status kesehatannya adalah dengan memberikan obat secara benar dan hati-
hati.
Tindakan pencegahan secara medis : Ny. Y selalu melakukan check up ke rumah sakit
selama 1 bulan sekali. Tidak ada informasi terbaru mengenai pemeriksaan penglihatan/
pendengaran atau status imunisasi anggota keluarga.
Praktik kesehatan gigi : Ny. Y dan keluarga biasanya menggosok gigi dua kali sehari
yaitu ketika mandi. Sebelum tidur tidak pernah dilakukan. Keluarga tidak melakukan
pemeriksaan dan pembersihan gigi.
Terapi komplementer dan alternatif : keluarga tidak menggunakan terapi komplementer
dan alternatif.
Riwayat kesehatan keluarga : Ayah Ny. Y memiliki riwayat penyakit hipertensi dan ibu
Ny. Y memiliki penyakit diabetes mellitus. Sementara ibu Tn. J juga memiliki penyakit
diabetes mellitus.
Layanan perawatan kesehatan yang diterima : Ny. Y biasanya mendapat layanan
kesehatan dari petugas kesehatan di rumah sakit dan puskesmas tempat Ny. Y berobat.
Anak Ny. Y juga pernah dibawa ke pelayanan kesehatan karena terjadi luka serius di
kakinya. Sementara Tn. J tidak pernah menemui dokter atau tenaga kesehatan lainnya
untuk pemeriksaan fisik.
Perasaan dan persepsi mengenai pelayanan kesehatan : Ny. Y sempat merasa tidak cocok
dengan obat yang diresepkan oleh dokter tempat Ny. Y berobat sehingga beralih ke
dokter lain. Ny. Y dan Tn. J merasa kurang puas dengan pelayanan yang diberikan karena
banyak menghabiskan waktu menunggu dokter yang memberikan pelayanan dan kadang
mereka disuruh membeli obat sendiri ke tempat lain dengan alasan obat yang dimaksud
tidak tersedia di rumah sakit tersebut. Harga obat yang dibeli diluar rumah sakit tersebut
sangat mahal bagi mereka. Tn. J sempat complain terhadap dokter tersebut karena ia
merasa berobat dengan menggunakan KIS (Kartu Indonesia Sehat ).
Pelayanan kesehatan darurat : keluarga langsung pergi ke rumah sakit bila ada kondisi
gawat darurat.
Sumber pembayaran : keluarga menggunakan asuransi kesehatan yaitu KIS (kartu
Indonesia sehat). keluarga membayar sebagian obat yang diresepkan.
Logistik untuk mendapatkan perawatan : jarak fasilitas perawatan dari rumah keluarga
cukup jauh. Biasanya Ny. Y diantar oleh Tn. J untuk pergi ke pelayanan kesehatan
dengan menggunakan sepeda motor, namun karena Tn. J harus bekerja, Ny. Y pulang
dengan menggunakan angkutan umum.

23. Stres, Koping, dan Adaptasi Keluarga

Stresor jangka pendek : Stresor jangka pendek keluarga yaitu anak-anaknya yang kadang
tidak mendengarkan nasihat Ny. Y dan Tn. J
Stressor jangka panjang : stresor jangka panjang yaitu pendapatan Tn. J yang pas-pasan
bahkan masih kurang, kadang tidak mampu membayar hutang tepat waktu dan masalah
kesehatan Ny. Y.
Kekuatan yang mengimbangi stresor : pekerjaan suami yang tetap, status kesehatan
anggota keluarga lain yang adekuat, adanya asuransi kesehatan, hubungan yang baik
dengan komunitas.
Definisi keluarga terhadap situasi tertentu : Keluarga berespon cepat dalam menangani
masalah, keluarga ini tidak membagi siapa yang harus menyelesaikan masalah tetapi
mereka memecahkan bersama- sama.
Strategi koping keluarga : Strategi koping internal yang digunakan yaitu sistem dukungan
sosial dari keluarga besar. Keluarga mampu menangani stresor sehari hari yang
dialaminya. Sedangkan strategi koping eksternal yang digunakan yaitu memelihara
jalinan aktif dengan komunitas.
Strategi koping disfungsional : Tidak terlihat strategi koping disfungsional dalam
keluarga ini.
Adaptasi keluarga : stresor/ masalah keluarga dikelola secara adekuat oleh keluarga.
Dampak dari stresor pada fungsi keluarga yaitu terdapat pada masalah ekonomi keluarga.
Keluarga tidak berada dalam krisis karena keluarga mempunyai cukup sumber koping
yang digunakan ketika menghadapi stresor/ masalah. Keluarga menghasilkan proses
koping yang berguna.

FORMAT RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA


ANALISIS DATA
No Batasan Karakteristik Pengkajian Keterangan
1 Percepatan gejala penyakit pada anggota
keluarga
2 Akivitas keluarga yang tidak sesuai dengan V Tidak mengikuti diet
tujuan kesehatan hipertensi dengan
mengkonsumsi garam yang
berlebihan
3 Menyatakan keinginan untuk V Ny. Y mengatakan ingin
memanajemen penyakit sembuh dari penyakitnya dan
berusaha untuk mengikuti
diet hipertensi dan rutin
mengkonsumsi obat
antihipertensi. Namun belum
ada motivasi yang kuat dari
keluarga dalam manajemen
penyakit Ny. Y
4 Mengungkapkan kesulitan dengan regimen V Ny. Y kesulitan mengakses
yang ditentukan transportasi untuk menuju
puskesmas dan butuh biaya
transportasi

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


NO Diagnosis Intervensi Rasional
Keperawatan
1 Ketidakefektifan Luangkan waktu Untuk mengetahui
penatalaksanaan bersama keluarga anggota keluarga
pengobatan keluarga secara individu,
membina hubungan
saling percaya
dengan setiap
anggota keluarga dan
untuk membantu
mengidentifikasi
sumber daya keluarga
Mendukung anggota Untuk meningkatkan
keluarga untuk kebersamaan
menghadiri dan keluarga dan
berpartisipasi di dalam meningkatkan solusi
tahap pengobatan penyelesaian konflik
atau masalah
Bantu anggota keluarga Tidak terselesainya
untuk menyatakan konflik dalam
perasaan yang keluarga bisa
berhubugan dengan mencegah anggota
penyakit pada saudara keluarga
mereka agar membawa mengimplementasika
konflik keluarga n regimen
menjadi terbuka pengobatan secara
menyeluruh
Mendorong Untuk
kepercayaan individu/ menciptakan
kepercayaan diri setiap dukungan mereka
anggota keluarga dalam meningkatkan
tentang penyakit dan manajemen regimen
review informasi yang pengobatan
relevan
Ajarkan anggota Jika keluarga
keluarga mengenal mengetahui alasan
proses penyakit dan tentang perilaku yang
jelaskan hubungan spesifik, mereka
antara proses penyakit menjadi lebih yakin
dan regimen untuk mengatur gaya
pengobatan hidup mereka
Bekerjasama Untuk
dengan keluarga untuk meningkatkan
mengidentifikasi penyelesaian masalah
perilaku yang atau konflik untuk
berkontribusi menjadi meningkatkan
konflik dalam keluarga pemahaman
dan membantu mereka mengenai konflik
mengidentifkasi atau masalah antara
perilaku alternative gaya hidup dan
tuntutan dari regimen
pengobatan
Bekerjasama Berkaloborasi
dengan anggota dengan anggota
keluarga untuk keluarga
mengembangkan menciptakan factor-
aktifitas sehari-hari faktor gaya hidup
yang mengatur regimen yang sesuai menjadi
pengobatan yang sesuai mungkin untuk
dengan gaya hidup diterapkan
Arahkan anggota Ini bisa meyakinkan
keluarga ke agensi yang keberlanjutan
sesuai bila dibutuhkan dukungan keluarga
dan membantu
mengurangi konflik
atau masalah
Membantu keluarga Peningkatan
merencanakan untuk kemampuan
mengikuti penyuluhan perencanaan anggota
mengenai penyakit keluarga untuk
untuk masa yang akan mengembangkan
dating strategi yang sesuai
yang bertujuan untuk
mengatur regimen
pengobatan
FORMAT CATATAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

(CATATAN PERAWATAN / PERKEMBANGAN)

NO Diagnosis Hari / Implementasi Paraf


Tgl
1 Ketidakefektifan Minggu Meluangkan waktu bersama keluarga
Menjelaskan tujuan dan membina
Penatalaksanaan / 4
hubungan saling percaya dengan
Pengobatan Aguatu
keluarga
Keluarga s 2016
Respon : keluarga memberikan respon yang
positif.
Mendukung anggota keluarga untuk
menghadiri dan berpartisipasi di dalam tahap
pengobatan
Meminta Tn. J untuk menemani Ny. Y
untuk konsul ke pelayanan kesehatan
Respon : Tn. J bersedia menemani Ny. Y untuk
konsul ke pelayanan kesehatan
Membantu anggota keluarga untuk menyatakan
perasaan yang berhubungan dengan penyakit
pada saudara mereka agar membawa konflik
keluarga menjadi terbuka
Respon : keluarga menyampaikan perasaan
terhadap penyakit yang dialami anggota lain
Mendorong kepercayaan individu/kepercayaan
diri setiap anggota keluarga tentang penyakit
dan review informasi yang relevan
Mendiskusikan bersama anggota keluarga
mengenal proses penyakit dan jelaskan
hubungan antara proses penyakit dan regimen
pengobatan
Respon : keluarga mendengarkan dan kadang
menyampaikan apa yang diketahui.

FORMAT EVALUASI ASUHAN KEPERAWATAN

N Diagnosis Hari / Kriteria Hasil Evaluasi


O Tgl
1. Ketidakefektifan Senin, 5 Anggota Keluarga
Penatalaksanaan Agustus keluarga memahami dan
Pengobatan 2016 mengidentifikasi mampu
Keluarga konflik yang tidak mengidentifikasi
terselesaikan konflik yang belum
terselesaikan dalam
Anggota
keluarga
keluarga
Keluarga
menghadiri dan
mampu dan ikut
berpartisipasi dalam
berpartisipasi dalam
tahapan pengobatan
tahapan pengobatan
keluarga
Ny.Y
Anggota
keluarga
Keluarga
menyatakan
memahami dan
keinginan untuk
mampu
menyelesaikan
mengaplikasikan
konflik atau
keinginan untuk
masalah
Anggota menyelesaikan konflik
keluarga atau masalah dalam
melaksanakan keluarga
Keluarga
regimen
mamahami dan
pengobatan
mampu
Anggota
melaksanakkan
keluarga membuat
program pengobatan
perencanaan untuk
dengan baik
mengikuti Keluarga
penyuluhan memahami dan
mengenai penyakit mampu dalam
untuk masa yang mengikuti penyuluhan
akan datang mengenai penyakit
untuk masa yang akan
datang

DAFTAR PUSTAKA

promkes.depkes.go.id/dl/booklet phbs rumah tangga.pdf diakses pada alamat


http://promkes.depkes.go.id/portfolio/booklet-pola-hidup-bersih-sehat-di-rumah-tangga/

www.kalbemed.com/Portals/6/06_192Tata Laksana Hipertensi.pdf

http://www.univmed.org/wp-content/uploads/2011/02/Vol.20_no.2_6.pdf

https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/11617/4419/3%20Fery%20Agusman.pdf?
sequence=