Vous êtes sur la page 1sur 25

Makalah Askep ''NYERI'' dX "ISK"

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN NYERI

DI SUSUN OLEH :
KUKUH SETYAWAN 12130107
DKK...

UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
POGRAM STUDI S1ILMU KEPERAWATAN
2012/2013
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita bersama-sama sanjungkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas berkat dan rahmat-Nya kita masih diberikan kesehatan bio-psiko-sosio, dan kesehatan
spiritual, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah askep ini tepat pada waktunya. Dalam
kehidupan sehari-hari perawat adalah suatu profesi yang mulia, sebuah profesi yang sangat
berbeda dengan profesi yang lainnya.
Semoga makalah yang kami susun ini bermanfaat bagi pembaca, khususnya bagi perawat
Indonesia. Kritik dan saran serta masukan dari teman-teman sangat kami nantikan guna
memperbaiki kesalahan kami, karena kami hanya manusia biasa yang tak pernah luput dari salah
dan khilaf.

Yogyakarta, 2013

penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Definisi Nyeri
2.2 Fisiologi Nyeri
2.3 Klasifikasi Nyeri
2.4 Stimulus Nyeri
2.5 Teori Nyeri
2.6 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Nyeri
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 KASUS
3.2 Pengkajian
3.3 Analisa Data
3.4 Prioritas Diagnosa
3.5 Rencana Keperawatan
3.6 Implementasi dan Evaluasi
BAB IV
PEMBAHASAN
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setiap individu pasti pernah mengalami nyeri dalam tingkatan tertentu. Nyeri
merupakan alasan yang paling umum orang mencari perawatan kesehatan. Walaupun
merupakan salah satu dari gejala yang paling sering terjadi di bidang medis, nyeri
merupakan salah satu yang paling sedikit dipahami. Individu yang merasakan nyeri
merasa menderita dan mencari upaya untuk menghilangkannya.
Perawat meggunakan berbagai intervensi untuk dapat menghilangkan nyeri tersebut dan
mengembalikan kenyamanan klien. Perawat tidak dapat melihat dan merasakan nyeri
yang dialami oleh klien karena nyeri bersifat subjektif. Tidak ada dua individu yang
mengalami nyeri yang sama dan tidak ada kejadian nyeri yang sama menghasilkan respon
yang identik pada seseorang.
Nyeri terkait erat dengan kenyamanan karena nyeri merupakan faktor utama yang
menyebabkan ketidaknyamanan pada seorang individu. Pada sebagian besar klien, sensasi
nyeri ditimbulkan oleh suatu cidera atau rangsangan yang cukup kuat untuk berpotensi
mencederai. Bagi dokter nyeri merupakan masalah yang membingungkan. Tidak ada
pemeriksaan untuk mengukur atau memastikan nyeri. Dokter hampir semata-mata
mengandalkan penjelasan dari pasien tentang nyeri dan keparahannya. Nyeri alasan yang
paling sering diberikan oleh klien ditanya kenapa berobat.
Dampak nyeri pada perasaan sejahtera klien sudah sedemikian luas diterima sehingga
banyak institusi sekarang menyebut nyeri tanda vital kelima, dan mengelompokkannya
dengan tanda-tanda klasik suhu, nadi, pernapasan, dan tekanan darah.
Perawat menghabiskan lebih banyak waktunya bersama pasien yang mengalami nyeri
dibanding tenaga professional perawatan kesehatan lainnya dan perawat mempunyai
kesempatan untuk membantu menghilangkan nyeri dan efeknya yang membahayakan.
Peran pemberi perawatan primer adalah untuk mengidentifikasi dan mengobati penyebab
nyeri dan meresepkan obat-obatan untuk menghilangkan nyeri. Perawat tidak hanya
berkolaborasi dengan tenaga professional kesehatan lain tetapi juga memberikan
intervensi pereda nyeri, mengevaluasi efektivitas intervensi pereda nyeri, mengevaluasi
efektivitas intervensi, dan bertindak sebagai advokat pasien saat intervensi tidak efektif.
Selain itu, perawat berperan sebagai pendidik untuk pasien dan keluarga, mengajarkan
mereka untuk mengatasi penggunaan analgetik atau regimen pereda nyeri oleh mereka
sendiri jika memungkinkan.

1.2 Tujuan

1.1.1 Tujuan Umum


Tujuan dari penulisan makalah askep ini adalah untuk memberikan asuhan keperawatan yang
maksimal pada klien dengan kasus nyeri.
1.1.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui definisi nyeri
2. Untuk mengetahui teori nyeri
3. Untuk mengetahui stimulus nyeri
4. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri
5. Untuk mengetahui proses keperawatan pada pasien yang mengalami nyeri pada
infeksi saluran kemih.

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Definisi Nyeri


Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan tidak menyenangkan bersifat sangat
subyektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala atau tingatannya,
dan hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang
dialaminya. (Aziz Alimul, 2006). Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang
mempengaruhi seseorang dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya
(Tamsuri, 2007).Sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional yang muncul
secara aktual atau potensial kerusakan jaringan atau menggambarkan adanya kerusakan
.serangan mendadak atau pelan intensitasnya dari ringan sampai berat yang dapat diantisipasi
dengan akhir yang dapat diprediksi dan dengan durasi kurang dari 6 bulan. (Asosiasi Studi
Nyeri Internasional).

2.2 Fisiologi Nyeri

Munculnya nyeri berkaitan erat dengean reseptor dan adanya rangsangan. Reseptor
nyeri yang di maksud adalah niciceptor, merupakan ujung-ujung saraf sangat bebas yang
memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki myelin yang tersebar pada kulit dan mukosa,
khususnya pada visera, persendian, dinding arteri, hati, dan kandung empedu. Reseptor nyeri
dapat memberikan respon aqkibat adanya stimulasi atau rangsangan. Stimulasi tersebut dapat
berubah zat kimiawi seperti histamine, bradikinin, prostaglandin, dan macam-macam asam
yang di lepas apabila terdapat kerusakan pada jaringan akibat kekurangan oksigenasi.
Stimulasi yang lain dapat berupa termal, listrik atau mekanis.

2.3 Klasifikasi Nyeri

Klasifikasi nyeri secara umum di bagi menjadi dua, yakni nyeri akut dan kronis. Nyeri
akut merupakan nyeri yang timbul secara mendadak dan cepat menghilang, yang tidak
melebihi 6 bulan dan di tandai adanya peningkatan tegangan otot. Nyeri kronis merupakan
nyeri yang timbul secar perlahan-lahan, biasanya berlangsung cukup lama, yaitu lebih dari 6
bulan. Yang termaksud dalam kategori nyeri kronis adalah nyeri terminal, sindrom nyeri
kronis, dan nyeri psikosomatis. Ditinjau dari sifat terjadinya, nyeri dapat dibagi kedalam
beberapa kategori, di antaranya nyeri tersusuk dan nyeri terbakar.

2.4 Stimulus Nyeri


Seseoranf dapat meneloransi, menahan nyeri ( pain tolerance), atau dapat mengenali
jumlah stimulus Nyeri sebelum merasakan Nyeri (pain tolerance).
Terdapat beberapa jenis stimulus Nyeri, di antaranya
1.Trauma pada jaringan tubuh, misalnya karena bedah akibat terjadinya kerusakan jaringan
dari iritasi secara langsung pada reseptor
2.Jngguan pada jaringan tubuh, mesalnya pada edema akibat terjadinya penekanan pada
reseptor Nyeri
3.Tumor, dapat juga menekan pada reseptor nyeri.
4.Iskemia pada jaringan, misalnya terjadi pada blockade pada arceria koronaria yang
menstimulasi resptor nyeri akibat tumpukan asam laktat.
5.Spasme otot,dapat menstimulasi mekanik

2.5 Teori Nyeri

Tedapat beberapa teori tentang terjadinya rangsangan Nyeri, di antaranya (Barbara


C.Long, 1989);
1.Teori Pemisahan (Specificity Theory). Menurut teori ini, rangsangan sakit masuk ke
medulla spinalis (spinal cord) melalui karnu dorsalis yang bersinaps di daerah posterior,
kemudian naik ke tractus lissur dan menyilang di garis median ke sisi lainnya, dan berakhir di
korteks sensoris tempat rangsangan nyeri tersebut diteruskan.
2.Teori Pola (Pattren Theory). Rangsangan nyeri masuk melalui akar ganglion dorsal ke
medulla spinalis dan merangsang aktivitas sel T. Hal ini mengakibatkan suatu respons yang
merangsan ke bagian yang lebih tinggi,yaitu korteks serebri, serta kontraksi menimbulkan
response dan otot berkontraksi sehingga menimbulkan nyeri. Persepsi di pengaruhi oleh
modalitas respons dari reaksi sel T.
3.Teori Pengendali Gebang(Gate Control Theory). Menurut teori ini,nyeri tergantung dari
kerja serat saraf besar dan kecil yang keduanya berada di dalam akar ganglion doralis.
Rangsangan pada serat besar akan meninggalkan aktivitas subtansia gelatinosa yang
mengakibatkan tutupnya pintu mekanisme sehingga aktivitas sel T terhambat dan
menyebabkan hantaran rangsangan ikut terhambat. Rangsangan serat besar dapat langsung
merangsang korteks serebri.Hasil persepsi ini akan dikembalikan kedalam medulla spinalis
melalui serat eferen dan reaksinta mempengaruhi aktivitas sel T. Rangsangan pada serat kecil
akan menghambat aktivitas substansi gelatinosa dan membuka pintu mekanisme,sehingga
merangsang aktivitas sel T yang selanjutnya akan menghantarkan rangsangan nyeri.
4.Teori transmisi dan inhibisi. Adanya stimulus pada niciceptor melalui transmisi impuls-
implus saraf, sehingga implus nyeri menjadi efektif oleh neurotransmitter yang spesifik.
Kemudian, inhibisi implus nyeri menjadi efektif oleh implus-implus pada serabut-serabut
besar yang memblok implus-implus pada serabut lamban dan endogen opiate system supresif.

2.6 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Nyeri

Pengalaman nyeri pada seseorang dapat di pengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya
adalah:
1. Arti Nyeri.Arti nyeri bagi seseorang memiliki banyak perbedaan dan hampir sebagian arti
nyeri merupakan arti yang negatif, seperti membahayakan,merusak, dan lain-lain. Keadaan
ini di pengaruhi lingkungan dan pengalaman.
2. Persepsi Nyeri.Persepsi nyeri merupakan penilaian yang sangat subjektif tempatnya pada
korteks (pada fungsi evaluasi kognitif). Persepsi ini di pengaruhi oleh faktor yang dapat
memicu stimulasi nociceptor.
3. Toleransi Nyeri. Toleransi ini erat hubungannya dengan intensitas nyeri yang dapat
mempengaruhi kemampuan seseorang menahan nyeri. Faktor yang dapat mempengaruhi
peningkatan toleransi nyeri antara lain alcohol,obat-obatan,hipnotis,gerakan atau
garakan,pengalihan perhatian,kepercayaan yang kuat dan sebagainya. Sedangkan faktor yang
menurunkan toleransi antara lain kelelahan,rasa marah,bosan,cemas,nyeri yang kunjung tidak
hilang,sakit, dan lain-lain.
4. Reaksi terhadap Nyeri. Reaksi terhadap nyeri merupakan bentuk respons seseorang
terhadap nyeru, seperti ketakutan,gelisah cemas,menangis,dan menjerit. Semua ini
merupakan bentuk respon nyeri yang dapat di pengaruhi oleh beberapa faktor ,seperi arti
nyeri,tingkat perspepsi nyeri ,pengalaman masa lalu,nilai budaya,harapan sosial,kesehatan
fisik dan mental,rasa takut,cemas,usia, dan lain-lain.
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

KASUS

Nn. V dibawa ke Rumah Sakit Respati pada tanggal 9 maret 2013 oleh ibunya
dengan keluhan nyeri diabdomen. Saat dilakukan pengkajian pada nn.v nyerinya skala
7 seperti ditusuk-tusuk, klien juga tampak meringis kesakitan karena nyeri yang
dirasakan hilang timbul saat bergerak. Dari hasil pemeriksaan didapatkan hasil vital
sign sbb: N=80x/mnt RR=20x/mnt TD=110/70 S=38C. Nn V mengatakan sering
kencing (5-7 kali)dan merasa kesakitan saat buang air kecil, urin berwarna pekat
seperti air teh. Hasil pemeriksaan lab di dapatkan bakteri Escherichia coli sebanyak
50-90%, ditemukan leukosit dan eritrosit di dalam urin.

a. Pengkajian
Biodata Pasien
Nama : Nn.V
Umur : 16 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMA (Sekolah Menengah Atas)
Pekerjaan : Pelajar
Status pernikahan : Belum menikah
Alamat : Jln.anggur no.240 sleman, DIY
Diagnosa medis : Infeksi Saluran Kemih
Tgl.masuk : 9 maret 2013

Penanggung Jawab
Nama : Ny.S
Umur : 45 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMP (Sekolah Menengah Pertama)
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status pernikahan : Sudah menikah
Alamat : Jln.anggur no.240 sleman, DIY

Status Kesehatan Saat Ini


Keluhan utama klien adalah nyeri
1. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan saat ini
Nn. V dibawa ke Rumah Sakit Respati pada tanggal 9 maret 2013 oleh ibunya
dengan keluhan nyeri diabdomen. Saat dilakukan pengkajian pada nn.v nyerinya
skala 7 seperti ditusuk-tusuk, klien juga tampak meringis kesakitan karena nyeri
yang dirasakan hilang timbul saat bergerak. Dari hasil pemeriksaan didapatkan
hasil vital sign sbb: N=80x/mnt RR=20x/mnt TD=110/70 S=38C. Nn V
mengatakan sering kencing (5-7 kali)dan merasa kesakitan saat buang air kecil,
urin berwarna pekat seperti air teh. Hasil pemeriksaan lab di dapatkan bakteri
Escherichia coli sebanyak 50-90%, ditemukan leukosit dan eritrosit di dalam urin.
b. Riwayat penyakit terdahulu
Riwayat kesehtan terdahulu pasien tidak pernah mengalami kecelakaan, pasien
juga tidak pernah dirawat dirumah sakit dan tidak pernah dioperasi, pasien juga
tidak mengkonsumsi alkohol dan tidak pernah alergi obat-obatan.
c. Riwayat penyakit keluarga
Keluarga pasien tidak ada yang pernah mempunyai penyakit infeksi saluran
kemih.
d. Genogram

Keterangan:
: laki-laki
: peremepuan
: Nn. V

2. Basic Promoting Physiology of Health


1. Aktifitas dan Latihan
Pasien mampu melakukan aktifitas seperti makan, minum, dan mandi. Sebelum
sakit pasien juga sering berolahraga rutin. Tapi setelah dibawa kerumah sakit
aktifitas pasien banyak dibantu oleh keluarga.
2. Tidur dan istirahat
Pasien sebelum sakit tidur kurang lebih 6-7jam setiap hari. Tapi setelah sakit tidur
klien terganggu karena nyeri yang dirasakan hilang timbul.
3. Kenyamanan dan nyeri
Pasien sering mengalami nyeri, pasien juga mengatakn nyerinya hilang timbul
dengan skala 7.
4. Nutrisi
Pasien mengatakan sebelum sakit makan 3 kali sehari. Berat badan klien sebelum
sakit adalah 48kg dan tinggi badan klien 155cm. Namun setelah sakit berat badan
klien turun dari 48kg menjadi 45kg karena nafsu makan klien berkurang.
Makanan yang disukai klien adalah bakso dan klien juga tidak alergi pada
makanan apapun. Setelah sakit nafsu makan klien berkurang karena nyeri yang
dirasakan. Klien juga tidak pernah melakukan operasi.
5. Cairan, elektrolit dan asam basa
Pasien mengkonsumsi kurang lebih 3000 mililiter perhari. Namun setelah sakit
asupan cairan klien berkurang karena klien juga mengalami hipertermi.
6. Eliminasi urin
Pasien sebelum sakit kencing 3 kali sehari,tidak merasa sakitt,warna urin kuning
jernih. namun setelah sakit pasien kencing 5-7 kali sehari,pasien kesakitan saat
kencing,warna urin pekat seperti air teh.
7. Sensori, persepsi dan kognitif
Pasien tidak mengalami gangguan penglihatan, pendengaran, penciuman, sensasi
taktil, dan pengecapan. Dan klien tidak pernah mengalami gangguan yang
berhubungan dengan sensori, persepsi dan kognitif.

3. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum
Kesadaran pasien penuh, dengan hasil vital sign klien meliputi frekuensi nadi
80x/menit, respirasi klien 20x/menit, tekanan darah 110/70 mmHg, dan suhu
klien meningkat 38C.
b. Kepala
Setelah dilakukan pemeriksaan fisik kulit, muka dan rambut normal. Kondisi mata
konjungtiva anemis, sklera dan lensa normal.
Hidung pasien normal tidak ditemukan septum ataupun polip, dan tidak ada
gangguan dalam hidung pasien. Mulut dan bibir klien tidak ada terjadi masalah.
Telinga klien simetris, bersih dan tidak terjadi gangguan pendengaran.
c. Leher
Leher pasien normal tidak terjadi pembesaran pada thyroid ataupun lesi.
d. Tenggorokan
Tenggoroan pasien normal, tidak ada gangguan pada saat menelan.
e. Dada
Bentuk dada pasien normal.
f. Abdomen
Saat dilakukan palpasi terdapat nyeri tekan pada abdomen.
g. Genetalia
Genetalia pasien normal, tidak terdapat keputihan ataupun gangguan genetala
lainnya.

4. Psiko sosio budaya dan spiritual


Psikologis:
Perasaaan klien setelah mengalami masalah ini adalah klien merasa sangat tidak nyaman
karena nyeri yang dirasakan hilang timbul saat bergerak dan saat buang air kecil. Aktifitas
klien juga banyak dibantu oleh keluarga ataupun perawat yang sedang bertugas.
Sosial:
Sebelum sakit Nn.v sering mengikuti kegiatan masyarakat yaitu sebagi anggota remaja
masjid yang aktif.
Budaya:
Nn.v menganut budaya jawa.
Spiritual:
Sebelum sakit Nn.v sering solat berjamaah dimasjid namun setelah sakit Nn.v tidak pernah
melakukan kegiatan tersebut.

5. Pemeriksaan Penunjang
Dari hasil pemeriksaan laboratorium ditemukan bakteri Escherichia coli sebanyak 50-90%,
ditemukan leukosit dan eritrosit di dalam urin.
b. Analisa Data

Nama klien : Nn. V No.Register : 1234


Umur : 16tahun Diagnosa Medis : Infeksi saluran kemih
Ruang : Anggrek

NO Data Fokus Etiologi Problem


1. DS: Agen injuri Nyri akut
-keluhan nyeri diabdomen. biologis
-nn.v menyatakan nyerinya skala
7 seperti ditusuk-tusuk.
-klien juga tampak meringis
kesakitan karena nyeri yang
dirasakan hilang timbul saat
bergerak.
DO: -

2. DO: Penyakit Hipertermi


-Suhu= 38C
DS: -
3. DS: Infeksi Saluran Gangguan
-. Nn V mengatakan sering Kemih Eliminasi Urin
kencing (5-7 kali)dan merasa
kesakitan saat buang air kecil,
urin berwarna pekat seperti air
teh.
DO:
-Hasil pemeriksaan lab di
dapatkan bakteri Escherichia coli
sebanyak 50-90%, ditemukan
leukosit dan eritrosit di dalam
urin.

c. Prioritas Diagnosa

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis


2. Hipertermi berhubungan dengan penyakit
3. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan infeksi saluran kemih.
Rencana Keperawatan

Nama klien : Nn. V No.Register : 1234


Umur : 16tahun Diagnosa Medis : Infeksi saluran kemih
Ruang : Anggrek
NO Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
1. Nyeri akut Setelah dilakukan 1.lakukan 1.untuk mengetahui
berhubungan tindakan keperawatan pengkajian nyeri tingkat kenyerian
dengan agen 3x24 jam maka nyeri secara pasien.
injuri pasien akan berkurang komprehensif 2.untuk
biologis dengan kriteria hasil sbb: termasuk lokasi, menghindari faktor
1.pasien dapat karakteristik, penyebab nyeri.
mengontrol nyerinya durasi, frekuensi, 3.untuk
2.skala nyeri berkurang kualitas dan mengalihkan
dari skala 7 menjadi faktor presipitasi. perhatian pasien
skala 3 2.control tentang nyeri.
3.vital sign lingkungan yang 4.untuk
RR=18-24x/menit, dapat mengurangi rasa
HR=80-100x/menit, mempengaruhi nyeri.
T=36,5-37,5C, nyeri, seperti suhu
TD=110/80mmHg ruangan,
4.pasien dapat pencahayaan dan
memanajmen nyerinya. kebisingan.
3.ajarkan tentang
tehnik
nonfarmakologi.
4.berikan
analgetik untuk
mengurangi nyeri.

2. Hipertermi Setelah dilakukan 1.kaji kesadaran 1.mengetahui


b.d penyakit tindakan keperawatan pasien. bagaimana respon
3x24 jam maka suhu 2.kaji suhu tubuh pasien.
tubuh pasien dapat pasien. 2.agar kita
kembali normal dengan 3.beri banyak mengetahui
kriteria hasil sbb: minum. bagaimana
1.termoregulasi=pengatur 4.ajari keluarga perubahan suhu
an suhu tubuh. Supaya dan pasien tubuh pasien setiap
suhu tubuh pasien bagaimana cara saatnya.
kembali pada pengaturan menjaga agar 3.membantu
suhu tubuh yang normal suhu tubuh tetap memenuhi
2.vital sign berada pada kebutuhan volume
RR=18-24x/menit, kondisi normal cairan pasien.
HR=80-100x/menit, atau ajari cara 4.agar kita dapat
T=36,5-37,5C, mengompres memandirikan
TD=110/80mmHg pasien dan
keluarganya.
3. Gangguan Setelah dilakukan 1.Pantau 1.untuk mengetahui
eliminasi urin tindakan keperawatan eliminasi urine perubahan-
b.d infeksi 3x24 jam maka gangguan termasuk perubahan urine
saluran eliminasi urin teratasi frekuensi, 2.untuk mengetahui
kemih dengan kriteria hasil sbb: konsistensi, bau, bayak sedikitnya
1. Kontinensia kemih volume, dan urin yg keluar
2. Eliminasi urin warna. 3.untuk
2.Rekam output menghilangkan
urin infeksi.
3.Berikan
antibiotik.
Implementasi dan Evaluasi

Catatan Perkembangan
Nama klien : Nn. V No.Register : 1234
Umur : 16tahun Diagnosa Medis : Infeksi saluran kemih
Ruang : Anggrek
NO Jam/tanggal Implementasi Evaluasi Nama/ttd
1. 08.30/ 1.mengkaji vital sign Waktu,Tagal :
10/03/2013 DS: - 14:00,10/03/2013 kukuh_st
DO: N=80x/mnt S: klien mengatakan
RR=20x/mnt masih nyeri di abdomen
TD=110/70 S=38C.
O: - S= 30 C
2.Mengkaji tingkat -klien tampak nyeri
nyeri ketika dilakukan
DS : Pasien pemeriksaan abdomen
mengatakan nyeri di
daerah abdomen A: masalah belum teratasi
DO: pasien tampak
nyeri ketika dilakukan P: lanjutkan intervensi
pemeriksaan abdomen- Kaji vs
- Beri obat anal
3.Membantu pasin
untuk mengotrol
nyerinya
DS:-
DO: pasien tmpak
mengerti tentang
tehnik nafas dalam
yang diajarkan oleh
perawat
11.30 WIB 1.melibatkan keluarga
untuk membantu
menurunkan suhu
tubuh pasien
DS:
DO: keluarga tanpak
mengerti apa yang
dijelaskan/ diajarkan
perawat
2.memberi banyak
minum
DS: pasien
mengatakan akan
berusaha banyak
minum
DO: pasien
tampakmengerti
dengan penjelasan
perawat
14:00 1. memantau
frekueensi,warna urin
DS : klien
mengatakan sering
buang air kecil tp
sedikit -sedikit
DO : - urin berwarna
keruh seperti air teh
2 08:30 / 1.kaji vital sign Waktu,Tagal 11/03/2013,
11/03/2013 DS : 14:00 wib
DO : S=37,5C S: pasien dalam keadaan kukuh_st
N=80x/mnt composmentis/sadar
RR= 20x/mnt
TD= 120/70 O: -S=37,5C
mmHg -pasien dalam keadaan
compousmentis
A: masalah teratasi
sebagian

P: Lanjutkan intervensi
11:30 WIB 1.kaji tingkat
kesadaran
DS
DO: Pasiendalam
keadaan
composmentis

3 08:30/ 1.kaji tingkat nyeri S:-pasien


12/03/2013 DS: Pasien mengatakan sudah kukuh_st
mengatakan sudah tidak merasa nyeri lagi.
tidak nyeri lagi pada - pasien mengatakan
abdomen . sudah tidak sering buang
DO: tidak ada nyeri air kecil lagi.
tekan pada abdomen
O:- S=37,5C
- tidak ada nyeri tekan
pada abdomen.

A: masalah teratasi

P: hentikan intervensi.
11.00/ 1.kaji vital sign
12/03/2013 DS :
DO : S=37,5C
N=80x/mnt
RR= 20x/mnt
TD=
120/70mmHg
14.00/ 1.kaji eliminasi urine
12/03/2013 termasuk frekuensi,
konsistensi, bau,
volume, dan warna.
DS: pasien
mengatakan sudah
tidak sering buang air
kecil lagi.

BAB IV

PEMBAHASAN

Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan tidak menyenangkan bersifat sangat subyektif
karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala atau tingatannya, dan hanya
orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang dialaminya.
(Aziz Alimul, 2006).
Munculnya nyeri berkaitan erat dengan reseptor dan adanya rangsangan. Reseptor nyeri yang
di maksud adalah niciceptor, merupakan ujung-ujung saraf sangat bebas yang memiliki
sedikit atau bahkan tidak memiliki myelin yang tersebar pada kulit dan mukosa, khususnya
pada visera, persendian, dinding arteri, hati, dan kandung empedu. Reseptor nyeri dapat
memberikan respon aqkibat adanya stimulasi atau rangsangan. Stimulasi tersebut dapat
berubah zat kimiawi seperti histamine, bradikinin, prostaglandin, dan macam-macam asam
yang di lepas apabila terdapat kerusakan pada jaringan akibat kekurangan oksigenasi.
Stimulasi yang lain dapat berupa termal, listrik atau mekanis.
Pengkajian
Proses pengkajian yang dilakukan pada Nn.v diruang anggrek Rumah Sakit Respati
dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik secara langsung kepada
klien.
Pelaksanaan pengkajian dilakukan berdasarkan teori, namun disesuaikan dengan kodisi klien
saat dikaji. Pada saat dilakukan pengkajian klien cukup terbuka dan sudah terjalin hubungan
saling percaya antara klien, keluarga dan perawat sehingga mempermudah perawat dalam
mengkaji pasien dan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan.
Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan tinjauan teori diagnosa yang muncul pada Nn.v adalah sbb:
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis
Dintadai dengan keluhan nyeri diabdomen. Nn.v juga menyatakan nyerinya skala
7 seperti ditusuk-tusuk.klien juga tampak meringis kesakitan karena nyeri yang
dirasakan hilang timbul saat bergerak.
2. Hipertermi berhubungan dengan penyakit
Ditandai dengan peningkatan suhu tubuh pasien yatitu Suhu= 38C.
3. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan infeksi saluran kemih
Dintadai dengan Nn. V mengatakan sering kencing (5-7 kali)dan merasa kesakitan
saat buang air kecil, urin berwarna pekat seperti air teh. Hasil pemeriksaan lab di
dapatkan bakteri Escherichia coli sebanyak 50-90%, dan ditemukan leukosit dan
eritrosit di dalam urin.

PERENCANAAN

Perencanaan dalam proses asuhan keperawatn dimulai setelah data-data terkumpul,


dikelompokkan, dianalisa dan kemudian ditetapkan masalah keperawatan. Perencanaan
disusun berdasarkan prioritas diagnosa yang disesuiakan dengan kondisi klien. Setelah
masalah ditentukan berdasarkan prioritas diagnosa/masalah kemudian tujuan pelayanan
keperawatan ditetapkan. Tujuan bisa dilakukan berdasarkan dalam jangka panjang atau
jangka pendek, harus jelas, dapat diukur dan realistis. Ditegaskan dalam bentuk perubahan,
kriteria hasil sebagai alat ukur pencapaian tujuan yang mengacu pada tujuan yang disususn
pada rencana keperawatan. Pada penyusunan kriteria hasil perawat menyesuaikan dengan
waktu pemberian perawatan yang dilakukan oleh perawat yaitu selama 3 hari.
Implementasi/pelaksanaan
Setelah rencana keperawatan dibuat, kemudiian dilanjutkan dengan pelaksanaan. Pelaksanaan
rencana asuhan asuhan keperawatan merupakan kegiatan atau tindakan yang diberikan pada
Nn.v dengan menerapkan pengetahuan dan kemampuan klinik yang dimilikki oleh perawat
berdasarkan ilmu-ilmu keperawatan dan ilmu-ilmu lainnya yang terkait.
Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dalam proses asuhan keperawatan, tahap ini menyangkut
pengumpulan data subjektif dan objektif yang akan menunjukkan apakah tujuan asuhan
keperawatan sudah tercapai sepenuhya, sebagian atau belum tercapai. Serta menentukan
masalah apa yang perlu dikaji, direncanakan, dilaksanakan ddan dinilai kembali.
Tujuan tahap evaluasi adalah untuk memberikan umpan balik rencana asuhan keperawatan,
menilai, mmeningkatkan mutu asuhan keperawatan yang diberikan serta hasilnya dengan
standar yang telah ditetapkan lebih dulu. Pada kasus Nn.v masalah teratasi.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan tidak menyenangkan bersifat sangat subyektif
karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala atau tingatannya.
Munculnya nyeri berkaitan erat dengan reseptor dan adanya rangsangan. Reseptor nyeri yang
di maksud adalah niciceptor, merupakan ujung-ujung saraf sangat bebas yang memiliki
sedikit atau bahkan tidak memiliki myelin yang tersebar pada kulit dan mukosa, khususnya
pada visera, persendian, dinding arteri, hati, dan kandung empedu. Reseptor nyeri dapat
memberikan respon aqkibat adanya stimulasi atau rangsangan.
Diagnosa keperawatan yang muncul Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis,
Hipertermi berhubungan dengan penyakit, dan gangguan eliminasi urin berhubungan dengan
infeksi saluran kemih.

5.2 Saran

1. Bagi mahasiswa diharapakn dengan adanya makalah asuhan keperawtan ini dapat
membantu dalam membuat makalah asuhan keperawtan tentang nyeri, dan
memperbanyak pengetahuan dari berbagai refrensi lainnya.
2. Bagi perawat diharapkan agar meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tidak
hanya sebagai pemberi asuhan keperawatan namun juga berperan aktif dalam
mencegah akan terjadinya suatu penyakit.
3. Bagi dunia keperawatan diharapakan kita sebagai tenaga kesehatan mampu
memberikan pelayanan kesehatan semaksimal mungkin, dan meningkatkan
kualitas perawat yang lebih bermutu.
DAFTAR PUSTAKA

Nanda International, 2011. Nursing Diagnoses: Definition & classification 2012-2014,


penerbit: Buku Kedokteran EGC
Moorhead soe, Jhonson Marion, dkk (ed) 2008. Nursing Outcome Classification
(NOC),penerbit: Mosby Elsevier, Academic Press
Dochtherman McCloskey Joanne, 2008. Nursing Interventions Classification (NIC), penerbit:
Mosby An Affiliate Of Elsefer