Vous êtes sur la page 1sur 20

ASUHAN KEPERAWATAN HEPATITIS

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Anak

Dosen Pengampu Suyami,S.Kep.,Ns.,M.Kep,SP.Kep,Anak

Disusun oleh

Dyah Nuzulita Rachmatun ( 1602098 )

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH KLATEN

PRODI DIII KEPERAWATAN IIC

2017/2018
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat,
Hidayah, dan Karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah
Keperawatan Anak I Asuhan Keperawatan Penyakit HEPATITIS tanpa ada kendala suatu
apapun. Sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah
membawa kita dari zaman jahiliyah hingga zaman yang terang benderang seperti sekarang ini.
Tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada:
1. Suyami,S.Kep.,Ns.,M.Kep,SP.Kep,Anak selaku dosen pengampu mata kuliah
Keperawatan Anak 1
2. Teman-teman serta pihak pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu, yang telah
membantu kami dalam menyusun makalah ini.
Seperti halnya manusia yang tidak sempurna di mata manusia lain ataupun di mata Allah
SWT, penyusunan makalah ini tidak terlepas dari kesalahan penulisan dan penyajiannya
mengingat akan keterbatasan kemampuan yang kami miliki untuk itu kami selalu mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca demi penyempurnaan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberi manfaat untuk kita semua. Amin
Wassalamualaikum Wr.Wb

Klaten,24 November 2017

Penyusun
BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Hepatitis merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius, tetapi perhatian dunia
masih terbatas, sampai adanya resolusi Word Hepatitis Alliance (WHA). Diperkirakan 2
milyar orang di dunia pernah terinfeksi hepatitis B, 240 juta orang diantaranya pengidap
kronis, Upaya pencegahan yang dilakukan, selain Imunisasi hepatitis B, yaitu promosi
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk mencegah penyebaran virus hepatitis,
penapisan darah donor oleh PMI terhadap Hepatitis B dan C serta pengembangan jejaring
surveilans epidemiologi (Tjandra. 2013).

Istilah Hepatitis dipakai untuk semua jenis peradangan pada hati


(liver).Penyebabnya dapat berbagai macam, Virus Hepatitis ada beberapa jenis, Hepatitis
A, Hepatitis B, C, D, E, F dan G. Manifestasi penyakit Hepatitis akibat virus bisa akut (
Hepatitis A ) dapat pula Hepatitis kronik (Hepatitis B ,C) dan adapula yang kemudian
menjadi kanker hati (Renddy, 2009).

Infeksi virus Hepatitis B merupakan masalah kesehatan masyarakat dunia. Di seluruh


dunia diperkirakan kurang lebih 350 juta orang pembawa kuman (carier) dan 78% di
antaranya terdapat di Asia (Siswono, 2008).

Berdasarkan epidemilogi dunia, Indonesia dikelompokkan ke dalam daerah epidermis


sedang sampai dengan tinggi. Prevalensi di Indonesia 9,4%, artinya di antara sepuluh orang
bisa hampir satu orang menderita Hepatitis B. Dengan demikian terdapat sekitar 20 juta
penduduk Indonesia terinveksi virus Hepatitis B. Hepatitis B merupakan penyakit hati yang
apabila tidak diatasi dapat mengakibatkan kanker hati (Sinarharan, 2010).

Pada kesempatan yang sama Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI)
Unggul Budihusodo menambahkan bahwa menurut data WHO tahun 2000, prevalensi
Hepatitis B kronik di Indonesia sekitar lima persen dan prevalensi Hepatitis C kronik tiga
persen. Di Indonesia data prevalensi penghidap virus Hepatitis B rata-rata 9,4% (rentangan
2,5%- 36,16%) makin ke Indonesia timur makin meningkat. WHO memperkirakan lebih
dari 2 milyar orang terinfeksi oleh HBV (termasuk 350 juta dengan infeksi kronis).Setiap
tahun sekitar 1juta orang meningal akibat infeksi HBV dan lebih dari 4 juta kasus klinis akut
terjadi. Di negara dimana HBV endemis tinggi (prevalensi HbsAg berkisar diatas 78%)
(James Chin, 2006).

Pada bulan November 2011 Dinkes propinsi Jawa Tengah bekerjasama dengan
Rumah Sakit Umum Pusat dr. Kariadi Semarang melakukan penelitian berdasarkan jumlah
kunjungan pasien hepatitis ke pusat pelayanan kesehatan baik berupa dalam hal ini
puskesmas dan rumah sakit didapatkan hasil jumlah penderita hepatitis terbesar berada pada
kabupaten Purbalingga dengan 54,2% dari jumlah total 56 ribu penderita. Sedangkan untuk
kabupaten Kebumen prevalenseinya mencapai 3% atau sekitar 456 penderita (Dinkes
Jateng, 2011)

B. Etiologi
Etiologi menurut Brunner, 2006, sebhagai berikut :
Lima jenis penyebab penyakit hepatitis virus dengan melalui ragam penyerangan, ragam
permulaan dan masa inkubasi. Virus ini untuk jenis parenteral dan non parenteral
sehubungan dengan mekanisme transmisi ( penyerangan ).
Jenis non-parenteral : Hepatitis A dan Hepatitis E, penyebaran virus melalui rute oral-
fecal. Jenis parenteral : Hepatitis B, Hepatitis C, dan Hepatitis D, penyebarannya melalui
transfuse darah melalui pembuluh darah vena.
a. Hepatitis A
Dahulu disebut juga dengan hepatitis infeksiosa.Penyebab yang dapat menjangkit
Hepatitis A kemungkinan adalah virus RNA dan family enterovirus. Karakteristik
Hepatitis A adalah sama dengan sifat khas dari syndrome virus dan sering kali
tidak dapat dikenali. Penyebaran Hepatitis A adalah melalui jalur fekal-oral
terutama lewat konsumsi makanan atau minuman yang tercemar virus Hepatitis
A, air yang tidak bersih mengandung sumber penyakit atau infeksi, kerang-kerang
yang diambil dari air yang tercemar. Virus dapat juga tersebar melalui aktivitas
sex oral-anal dan kadang-kadang melalui pembukaan pengeluaran fecal dalam
Rumah Sakit. Dalam kasus yang sama, Hepatitis A dapat juga bertransmisi dalam
aliran darah. Penyakit ini sering terjadi pada daerah yang sanitasinya kurang.Masa
inkubasi Hepatitis A antara 1-7 minggu dengan rata-rata 30 hari.Perjalanan
penyakit dapat berlangsung lama, dari 4-8 minggu. Umumnya Hepatitis A
berlangsung lebih lama dan lebih berat pada penderita yang berusia diatas 40
tahun.
b. Hepatitis B
Hepatitis B disebut juga sebagai serum hepatitis. Dimana penyebabnya adalah
virus Hepatitis B ( HVB ). Jenis penularan HVB ini dalah
secara parenteral atau kontrak dengan karier atau penderita dengan infeksi akut,
penularan secara perinatal dari ibu kepada bayinya, dan merupakan ancaman
kesehatan kerja yang penting bagi petugas kesehatan. Selain itu juga
penyebarannya mukosa membran dengan lewat :
1) Kontak dengan cairan tubuh, seperti : semen, saliva dan darah.
2) Kontaminasi dengan luka yang terbuka
3) Peralatan dan perlengkapan yang terjangkit
Contoh : waktu terjandinya transmisi ( penyebaran ), antara lain :
a. Jarum suntik ( secara sengaja ataupun kebetulan )
b. Transfusi darah yang terkontaminasi dengan luka, goresan atau
lecet
c. Mulut atau mata yang terkontaminasi selama irigasi luka atau
suction
d. Prosedur bedah mulut atau gigi
Perjalanan penyakit Hepatitis B sangat beragam.Hepatitis B
kemungkinan mempunyai serangan tipuan dengan sinyal yang
lemah dan sekumpulan penyakit atau komplikasi yang serius.
Maka inkubasi virus Hepatitis B ini adalah 28-160 hari dengan
rata-rata 70-8 hari ( Brunner, 2002 ).
c. Hepatitis C
Hepatitis C juga sering disebut dengan hepatitis non A dan non B. Penyebab
hepatitis ini adalah Hepatitis C ( HCV ). Virus ini dapat menular transfuse darah
dan produk darah yang terkontaminasi lewat peralatan atau peralatan obat. Masa
inkubasi dari virus Hepatitis C ini 150-160 hari dengan rata-rata 50 hari. Pada
HVC ini sering terjadi status karier pada penderita dan penyakit hati dapat
meningkatkan resiko kanker hati.
d. Hepatitis D
Hepatitis D disebabkan karena terinfeksi HDV, virus RNA yang tidak sempurna
membutuhkan fungsi pembantu HBV. Penularan dari HVD ini adalah sama
dengan penularan HVB, dengan masa inkubasi 21-140 hari dengan rata-rata 35
hari. Hasil akhir dari HVD adalah serupa dengan HBV tetapi kemungkinan status
karier, hepatitis aktif yang kronis dan sirosis hepatitis lebih besar.
e. Hepatitis E
Hepatitis E disebabkan oleh virus hepatitis E ( HEV ). Cara penularan HEV
adalah melalui jalur fekal-oral dan kontak antara manusia meskipun resikonya
rendah.Masa inkubasi dari HEV adalah selama 15-65 hari dengan masa rata-rata
42 hari.
C. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala menurut Priharjo Robert, 2006, sebagai berikut :
a. Hepatitis A
Hepatitis A dapat terjadi dengan atau tanpa gejala, sakit mirip dengn flu.
1) Pada masa preiktherik yaitu sakit kepala, malaise, fatique, anoreksia dan febis.
2) Pada fase iktherik yaitu urine berwarna gelap seperti the, gejala ikhterus pada
sclera dan kulit, nyeri tekan pada hati.
b. Hepatitis B
Dapat terjadi tanpa gejala.Namun dapat juga terjadi artalgia dan ruam pada kulit.
c. Hepatitis C
Serupa dengan HBV, tidak begitu berat dan ikhterik.
d. Hepatitis D
Tanda dan gejala yang ditimbulkan oleh HDV adalah serupa dengan tanda dan gejala
HBV.
e. Hepatitis E
Serupa dengan tanda dan gejala HAV.
D. Patofisiologi
Patofisiologi menurut Arief Muttaqin, 2013, sebagai berikut :
Inflamasi yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh infeksi
virus dan reaksi toksik terhadap obat-obatan dan bahan kimia.Unit fungsional dasar dari
hepar disebut lobul dan unit ini unik karena memiliki suplai darah sendiri.Sering dengan
berkembangnya inflamasi pada hepar, pola normal pada hepar terganggu.Gangguan
terhadap suplai darah normal pada sel-sel hepar ini menyebabkan nekrosis dan kerusakan
sel-sel hepar.Setelah lewat masanya, sel-sel hepar yang menjadi rusak dibuang dari tubuh
oleh respon system imun dan digantikan oleh sel-sel hepar baru yang sehat.Oleh
karenanya, sebagian besar klien yang mengalami hepatitis sembuh dengan fungsi hepar
normal.
Inflamasi pada hepar karena invasi virus akan menyebabkan peningkatan suhu
badan dan perengangan kapsula hati yang memicu timbulnya perasaan tidak nyaman
pada perut kuadran kanan atas. Hal ini dimanifestasikan dengan adanya rasa mual dan
nyeri di ulu hati.

Timbulnya icterus karena kerusakan sel parenkim hati.Walaupun jumlah bilirubin


yang belum mengalami konjugasi masuk ke dalam hati tetap normal, tetapi karena
adanya kerusakan sel hati dan duktuli empedu intrahepatic, maka terjadi kesukaran
pengangkutan bilirubin tersebut didalam hati.Selain itu juga terjadi kesulitan dalam hal
konjugasi.Akibatnya bilirubin tidak sempurna dikeluarkan melalui duktus hepatikus,
karena terjadi retensi (akibat kerusakan sel ekskresi) dan regurgitasi pada duktuli,
empedu belum mengalami konjugasi (bilirubin indirek), maupun bilirubin yang sudah
mengalami konjugasi (bilirubin direk).Jadi okterus yang timbul disini terutama
disebabkan karena kesukaran dalam pengangkutan, konjugasi dan eksresi bilirubin.

Tinja mengandung sedikit sterkobilin oleh karena itu tinja tampak pucat
(abolis).Karena bilirubin konjugasi larut dalam air, maka bilirubin dapat dieksresi ke
dalam kemih, sehingga menimbulkan bilirubin urine dan kemih berwarna gelap.
Peningkatan kadar bilirubin terkonjugasi dapat disertai peningkatan kadar bilirubin
terkonjugasi dapat disertai peningkatan garam-garam empedu dalam darah yang akan
meninbulkan gatal-gatal pada icterus.
E. Pathway
F. Komplikasi
Komplikasi hepatitis yang paling sering adalah sirosis. Dalam keadaan normal (sehat), sel
hati yang mengalami kerusakan akan digantikan oleh sel-sel sehat yang baru. Pada
sirosis, kerusakan sel hati diganti oleh jaringan parut (sikatrik).Semakin parah kerusakan,
semakin besar jaringan parut yang terbentuk dan semakin berkurang jumlah sel hati yang
sehat. Pengurangan ini akan berdampak pada penurunan sejumlah fungsi hati sehingga
menimbulkan sejumlah gangguan pada fungsi tubuh secara keseluruhan.

Tidak semua pasien dengan hepatitis virus akan mengalami perjalanan penyakit yang
lengkap. Sejumlah kecil pasien (kurang dari 1 %) memperlihatkan kemunduran klinis yang cepat
setelah awitan ikterus akibat hepatitis fulminan dan nekrosis hati massif.

Hepatitis fulminan, Dicirikan oleh tanda dan gejala gagal hati akut, penciukan hati, kadar
bilirubin serum meningkat cepat, pemajangan waktu protrombin yang sangat nyata dan koma
hepatic.
Hepatitis kronik persisten, Komplikasi hepatitis virus yang paling sering dijumpai di
mana perjalanan penyakit memanjang hingga 4 8 bulan, namun pasien akan sembuh kembali.
Hepatitis virus akut, Pasien mengalami kekambuhan setelah serangan awal yang biasanya
dihubungkan dengan minum alkohol atau aktivitas fisik yang berlebihan.
Hepatitis agresif atau kronik aktif, Di mana terjadi kerusakan hati seperti digerogoti
(piecemeal) dan perkembangan sirosis.
Karsinoma hepatoseluler, Merupakan komplikasi lanjut hepatitis yang cukup bermakna
yang disebabkan oleh dia faktor yang berkaitan dengan patogenesisnya yaitu infeksi HBV kronik
dan sinosis terkait.
G. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinik menurut Selekta Kapita ( 2005 ), sebagai berikut :
Infeksi virus hepatitis dapat bervariasi mulai dari gagal hati berat sampai hepatitis
anikterik subklinis.Yang terakhir ini lebih sering ditemukan pada infeksi HAV, dan
seringkali mengira menderita flu.Infeksi HBV biasanya lebih berat dibandingkan HAV,
dan insiden nekrosis masif dan payah hati berat lebih sering terjadi. Gejala-gejala
prodormal timbul pada semua penderita dan dapat berlangsung selama satu minggu atau
lebih sebelum timbul ikterus (meskipun tidak semua pasien akan mengalami ikterus)
yang dibagi dalam tiga stadium:
a. Stadium pra ikterik Pada stadium ini berlangsung selama 4-7 hari klien mengeluh sakit
kepala, lemah, anoreksia, mual dan muntah, demam, nyeri pada otot, dan nyeri di perut
kanan atas, urine menjadi lebih coklat.
b. Stadium ikterik Stadium ini berlangsung selama 3-6 minggu, ikterik mula-mula
terlihat pada sklera. Kemudian pada kulit seluruh tubuh.Keluhan-keluhan berkurang
tetapi klien masih lemah, anoreksia dan muntah, tinja mungkin berwarna kelabu atau
kuning muda.Hati membesar dan nyeri tekan.
c. Stadium post 1 Pada stadium ini ikterik mereda, warna urin dan tinja normal lagi,
penyembuhan pada anak lebih cepat dari orang dewasa yaitu pada akhir bulan kedua
karena penyebab yang biasanya berbeda. Banyak pasien mengalami atralgia, artritis,
urtikaria, dan ruam kulit sementara.Terkadang dapat terjadi glomerulonefritis.Manifestasi
ekstra hepatik dari hepatitis virus ini dapat menyerupai sindrom penyakit serum dan dapat
disebabkan oleh kompleks imun yang beredar dalam sirkulasi. Gambaran klinis yang
sering ditemukan adalah :
a. Gejala gastrointestinal seperti: anoreksia, mual, muntah dan diare.
b. Demam, berat badan menurun, lekas lelah.
c. Asites, hidrotorak, dan edema.
d. Ikterus, kadang-kadang urin menjadi lebih tua warnanya atau kecokelatan.
e. Hepatomegali, bila telah lanjut, hati dapat mengecil karena fibrosis, bila secara klinis
didapati adanya demam, ikterus, dan asites dikatakan serosis dalam keadaan aktif,
kemungkinan akan timbulnya prekoma dan koma hepatikum.
f. Kelainan pembuluh darah seperti kolateral-kolateral di dinding abdomen dan thorak,
kapur nodus wasir dan varises esophagus.
g. Kelainan endokrin:
1) Impotensi, atrofi, ginekomastia, hilangnya rambut aksila dan pubis.
2) Amenore, hiperpigmentasi areola mammae,
3) Spidernevi dan eritema.
4) Hiperpigmentasi
H. Pemeriksaan Penunjang
Pe,meriksaan penunjang menurut Suddarth, 2008, sebagai berikut :
Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan adalah :
a. Darah, bisa dijumpai Hb rendah, anemia normokrom normasiter, hipokrom, mikrositer
atau hipokrom makrositer.
b. Kenaikan kadar enzim transaminase SGOT, SGPT, tidak merupakan penunjuk tentang
berat dan luasnya kerusakan parenkim hati.
c. Albumin, kadar albumin yang rendah cerminan kemampuan sel hati yang kurang.
d. Pemeriksaan CHE (kolinesterase) penting dalam menilai kemampuan sel hati, bila
terjadi kerusakan sel hati kadar CHE akan turun.
e. Pemeriksaan kadar elektrolit penting dalam penggunaan diuretik dan pembatasan
garam dalam diet. Dalam hal ensefalopati, kadar Na kurang dari 4 Meq/1 menunjukan
kemungkinan telah terjadi sindrom hepatorenal.
f. Pemanjangan masa protrombin merupakan petunjuk adanya penurunan fungsi hati,
Pemeriksaan homeostatatik pada pasien serosis hati penting dalam menilai kemungkinan
perdarahan baik dari varises esophagus, gusi maupun epitaksis.
g. Peninggian kadar gula darah pada serosis hati fase lanjut disebabkan kurangnya
kemampuan sel hati membentuk glikogen. h. Pemeriksaan mekar serelogi pertanda firus
seperti : Hba AG / Hbs / Ab, HbsAg/ Hbe, HBV DNA, HCV RNA (Corwin, 2000).
I. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan menurut Yasri, 2013, sebagai berikut :
a. Tirah baring ( bed rest )
Tirah baring merupakan penatalaksanaan yang direkomendasikan tanpa
memperhitungkan bentuk terapi yang lain sampai gejala hepatitis sudah mereda.
Selanjutnya aktivitas baru dibatasi sampai pembesaran hati dan kenaikan kadar
bilirubin serta enzim-enzim hati dalam serum sudah kembali normal ( Brunner,
dkk, 2002 ).
b. Diet
Jika pasien mual, tidak nafsu makan, atau muntah-muntah, sebaiknya diberikan
infus.Jika sudah tidak mual lagi, diberikan makanan yang cukup kalori yaitu 30-
35 kalori/BB. Pasien hepatitis dapat diberikan diet hati II-III Menurut Ester ( 2002
) secara umum, pasien dengan hepatitis dianjurkan diet seimba
ng tinggi karbohidrat dan rendah lemak. Makanan harus diberikan dalam porsi
kecil dan diberikan 4-6 kali sehari.
c. Medikamentosa
1) Kortikosteroid tidak diberikan bila untuk mempercepat penurunan
bilirubin darah. Kortikosteroid dapat digunakan apabila kolestasis terjadi
berkepanjangan, dimana transaminase serum sudah kembali normal tetapi
bilirubin masih tinggi. Pada keadaan ini dapat diberikan prednisone 3 x 10
mg selama 7 hari.
2) Berikan obat-obat yang melindungi hati.
3) Berikan krim lipid dan emolien untuk penatalaksanaan pruritus.
4) Antiemetic untuk mengontrol mual dan muntah, tetapi golongan fenotiazid
tidak digunakan karena agens ini dibiotransformasikan dihepar sehingga
berpotensi untuk menjadi toksik.
5) Vitamin K parenteral dapat diberikan pada pasien dengan masa
protrombin memanjang.
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN

Fokus pengkajian

Fokus pengkajian menurut Virginia Handerson ( 2010 ), sebagai beriukut :

a. Pola pernafasan : Kelelahan umum, napas pendek, kesulitan tidur pada malam hari atau
demam malam hari, menggigil dan atau berkeringat ketika kerja, kelelahan otot, nyeri dan sesak,
napas pendek. Peningkatan frekuensi pemapasan.

b. Pola Nutrisi : Kehilangan nafsu makan, tidak dapat mencerna, penurunan BB. Turgor kulit
buruk, kering/kulit bersisik, kehilangan otot

. c. Pola eliminasi : Konstipasi, retensi urin (kurangnya intake cairan)

d. Pola gerak dan keseimbangan : Gangguan koordinasi, kelemahan, letih, nafas pendek, gaya
hidup monoton.

e. Pola istirahat dan tidur : Kelemahan, letih, nafas pendek, sukar tidur, mata sayu dan
kemerahan, frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipneu, berdebar debar

f. Pola berpakaian : Pasien akan terlihat lebih sering menggunakan selimut. Dan baju yang tebal
di malam hari karena kondisi sistem imun pasien yang masih lemah.

g. Pola mempertahankan temperature suhu tubuh : Suhu kulit terasa dingin, warna kulit kuning.

h. Pola personal hygiene : Gigi dan mulut kotor, rambut kusam, rontok, badan kotor,

i. Pola kebutuhan rasa aman dan nyaman : Nyeri abdomen, berhati-hati pada area yang sakit.

j. Pola spiritual : Menjalankan aktivitas ibadah ditempat tidur, dengan bantuan orang lain.
Perasaan pasrah tentang keadaan dirinya dengan kondisi penyakitnya.
k. Pola Komunikasi : Terganggunya komunikasi terhadap hubungan interpersonal dan peran
serta dalam masyarakat. Perasaan isolasi/penolakan karena penyakitnya.

l. Pola bekerja : Aktivitas berkurang atau tidak pernah.

m. Pola rekreasi : Hanya dapat mengetahui dan melihat sesuatu hanya disekitarnya.
Ketidakberdayaan dan kelemahan fisik, keterbatasan biaya

n. Pola belajar : Gangguan dalam hal pengetahuan dan kemampuan dalam merawat diri.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan menyeluruh.


2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampu
dalam memasukkan, mencerna, mengabsorbsi makanan karena faktor biologi.
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan interna ; perubahan kondisi metabolik, perubahan
sirkulasi.
4. Cemas berhubungan dengan perubahan peran dalam lingkungan sosial

NO Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


1 Intoleransi aktivitas NOC : NIC :
berhubungan dengan Emergency conservation Energy Management
kelemahan menyeluruh. Self Care : ADLs Observasi adanya
Kriteria Hasil ; pembatasan klien dalam
Berpartisipasi dalam melakukan aktivitas
aktivitas fisik tanpa Dorong untuk
disertai peningkatan mengngkapkan
tekanan darah, nadi dan perasaan terhadap
RR keterbatasan
Mampu melakukan Kaji adanya faktor yang
aktivitas sehari-hari menyebabkan kelalahan
(ADLs) secara mandiri Monitor nutrisi dan
sumber energi yang
adekuat
Monitor pasien akan
adanya kelelahan fisik
da emosi secara
berlebihan
Monitor respon
kardiovaskuler terhadap
aktivitas
Monitor pola tidur dan
lamanya tidur/istirahat
pasien
Activity Therapy
Bantu klien untuk
mengidentifikasi
aktivitas yang mampu
dilakukan.
Bantu untuk memilih
aktivitas konsisten yang
sesuai dengan
keampuan fisik,
psikologi dan sosial.
Bantu untuk
mendapatkan alat bantu
aktivitas.
Bantu untuk
mengidentifikasi
aktivitas yang disukai.
Bantu klien untuk
membuat jadwal
layihan di waktu luang
Bantu anak/orang tua
untuk mengidentifikasi
kekurangan dalam
beraktivitas.
Sediakan penguatan
positif bagi yang aktif
beraktivitas.
Bantu pasien untuk
mengembangkan
motivasi diri.
-
2 Ketidakseimbangan NOC : NIC :
nutrisi kurang dari Nutritional Status ; food and Nutrition Management
kebutuhan tubuh fluid intake Kaji adanya alergi
berhubungan dengan Kriteria Hasil : makanan
tidak mampu dalam Adanya penngkatan Kolaborasi dengan ahli
memasukkan, berat badan sesuai gizi untuk menentukan
mencerna, dengan tujuan jumlah kalori dan
mengabsorbsi makanan Berat badan ideal nutrisi yang dibutuhkan
karena faktor biologi. sesuai dengan tinggi anak.
badan Anjurkan anak untuk
Mampu meningkatkan intake
mengidentifikasi Fe.
kebutuhan nutrisi Anjurkan anak untuk
Tidak ada tanda-tanda meningkatkan protein
malnutrisi dan vitamin C.
Tidak terjadi Berikan makanan yang
penurunan berat badan terpilih oleh anak.
yang berarti Monitor jumlah nutrisi
dan kandungan kalori.
Berikan informasi
tentang kebutuhan
nutrisi.

- Nutrition Monitoring
BB anak dalam batas
normal.
Monitor adanya
penurunan berat badan.
Monitor tipe dan jumlah
aktivitas yang bisa
dilakukan.
Monitor kulit kering
dan perubahan
pigmentasi.
Monitor turgor kulit.
Monitor kekeringan,
rambut kusam.
Monitor mual dan
muntah.
Monitor makanan
kesukaan.
Monitor pertumbuhan
dan perkembangan.
Monitor kalori dan
intake nutrisi.

3 Kerusakan integritas NOC : NIC : Pressure Management


kulit berhubungan Tissue Integrity ; Skin and Anjurkan pasien untuk
dengan interna ; Mucous Membranes menggunakan pakaian
perubahan kondisi - Integritas kulit yang baik bias yang longgar.
metabolik, perubahan dipertahankan 9sensasi, Hindari kerutan pada
sirkulasi. elastisitas, temperature, hidrasi, tempat tidur.
pigmentsi) Jaga kebersihan kulit
Kriteria hasil : agar tetap bersih dan
Tidak ada luka/lesi pada kering.
kulit.. Mobilisasi anak ( ubah
Perfusi jaringan baik. posisi anak ) setiap 2
Menunjukkan pemahaman jam sekali.
dalam proses perbaikan Monitor kulit akan
kulit dan mencegah adanya kemerahan.
terjadinya cedera Monitor aktivitas dan
berulang. mobilisasi anak.
Mampu melindungi kulit Monitor status nutrisi
dan mempertahankan anak.
kelembaban kulit. Anjurkan anak dengan
sabun dan air hangat.

4 Cemas berhubungan NOC ; NIC :


dengan perubahan Anciety control Anxiety Reduction
peran dalam lingkungan Coping Gunakan pendekatan
sosial Impulse control yang menyenangkan
Kriteria Hasil : Nyatakan dengan jelas
Anak mampu harapan terhadap
mengidentifikasi dan perilaku pasien
mengungkapkan gejala Jelaskan semua
cemas prosedur dan apa yang
Mengientifikasi, dirasakan selama
mengungkapkan dan prosedur
menjukkan teknik untuk Pahami perspektif
mengontrol kecemasan faktual mengenai
Vital sign dalam batas diagnosis, tindakan
normal prognosis
Postur tubuh, ekspresi Lakukan back/neck rub
wajah, bahasa tubuh dan Dengarkan dengan
tingkat aktivitas penuh perhatian
menunjukkan Identifikasi tingkat
berkurangnya kecemasan kecemasan
Dorong pasien untuk
mengungkapkan
perasan ketakutan
persepsi
Insruksikanpasien
menggunakan teknik
relaksasi
BAB III

KESIMPULAN

Hepatitis merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus menyebabkan peradangan pada
hati. Hepatitis selain disebabkan oleh virus disebabkan juga oloeh obat-obatan dan bahan-bahan
kimia. Hepatitis pada anak-anak sebagian besar disebabkan oleh bahan-bahan kimia yang
terkandung dengan snakc. Selain itu juga anak-anak kurang memperhatikan akan kebersihan
sehingga memudahkan virus untuk masuk ke dalam tubuh.

Saran

Orang tua harus memberikan perhatian khusus pada anak dalam pemilihan makanan serta
memberikan pendidikan akan pentingnya kebersihan agar tidak terkena virus yang dapat
menyebabkan penyakit hepatitis. Pada bayi sebaiknya ibu memberikan imunisasi secara tepat
waktu untuk mencegah terjadinya hepatitis.
DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer A., dkk, 2005, Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1, Jakarta, Media Aesculapius
Price, Sylvia Anderson, 2006, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Edisi
6, Jakarta : EGC
Priharjo Robert, 2006, Pengkajian Fisik Keperawatan, Jakarta : EGC
Lynda Juall Carpenito. 2009 Diagnosis Keperawatan Aplikasi pada Praktik Klinis.
Jakarta : EGC
Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta: Salemba Medika
Cristina (2012). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Pemenuhan Kebutuhan
Nutrisi
Hidayat A. 2012. Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi Konsep dan Proses Keperawata,
Jakarta: Salemba Medika
Rudi Haryono. 2012. Keperawatan Medikal Bedah Sistem Pencernaan, Yogyakarta: Tim
Gosyen
Arief Muttaqin dan Kumala Sari. 2013. Gangguan Gastrointestinal Aplikasi Asuhan
Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta: Salemba Medika
Padila.2013. Asuhan Keperawatan Penyakit Dalam, Yogyakarta: Nuha Medika