Vous êtes sur la page 1sur 7

KARAKTERISTIK TANAH VERTISOL

Author: annisa ratu aqilah | Filed Under: dasar ilmu tanah , laporan praktikum | at 08.48 |

Tanah merupakan media yang dibutuhkan oleh mahluk hidup di dunia ini untuk
melakukan segala aktivitasnya. Pada dasarnya tanah di bumi ini memiliki bentuk atau jenis yang
berbeda beda, dimana tiap bagian dikelilingi oleh kandungan air dan udara.Secara fisik, tanah
tersusun oleh partikel-partikel yang bergantung pada bahan batuan induk serta interaksinya
dengan faktor dari luar. Dalam mempelajari karakteristik tanah dibatasi oleh satuan pewakil
produser dalam bentuk pencuplikan serta analisa tanah. Karakteristik tanah vertisol pada
dasarnya dipengaruhi oleh iklim, bahan induk, perlakuan manusia, relief, kandungan bahan
organik dan lempung tanah, dan adanya bahan penutup tanah (baik organik maupun anorganik).
Dalam praktikum ini memiliki tujuan untuk mengetahui karakteristik tanah vertisol
dimana kita akan diajak untuk menelaah kadar lengas tanah, NPD, struktur dan tekstur tanah,
konsistensi tanah, kandungan bahan organik tanah, reaksi tanah, kadar kapur tanah dan muatan
tanah. Variabel variabel tersebut sangat mempengaruhi bentuk atau jenis tanah.
Sehubungan dengan kadar lengas tanah maka keanekaan konsistensi tanah dapat
dikemukakan sebagai berikut (Sugito, 2005) :
a. Pada dasarnya lengas tinggi, tanah seakan akan melakukan
kegiatan yang mengalir.
b. Apabila kadar lengas secara berangsur angsur turun / berkurang, Visceus tersebut tidak terjadi
lagi, maka keadaannya menjadi lekat, liat, dan lunak.
c. Apabila keadaan lengas ternyata lebih kecil lagi (makin berkurang) dari keadaan kadar lengas
point b, maka tanah akan kehilangan sifat lekat dan liatnya, selanjutnya berubah menjadi gembur
atau agak retak retak .
d. Apabila kadar lengas menjadi makin berkurang (lebih kecil dari point c), keadaan tanah akan
menjadi kering, keras, sukar dipecahkan dan atau kasar apabila diraba.
Sifat fisika tanah didasarkan atas derajat ketahanan dispersi oleh air yang dinyatakan
dalam Nilai Perbandingan Dispersi (NPD) mencerminkan pada umumnya tanah peka atau tidak
terhadap dispersi. NPD diperoleh dengan cara membagi debu dan lempung aktual tanah dengan
berat debu dan lempung totalnyayang dinyatakan dalam %. Nilai ini dipakai sebagai tolak ukur
sifat ketahanan tanah terhadap erosi air. Semakin kecil nilai NPD, tanah memiliki ketahanan
terhadap erosi yang makin besar (Brady, 2006).
Terdapat empat sifat tanah yang penting dalam menentukan suatu erodibilitas yaitu
(Asdak, 1995):
a. Tekstur tanah
Biasanya berkaitan dengan ukuran dan porsi partikel-pertikel tanah dan akan membentuk
tipe tanah tertentu. Tiga unsur utama tanah adalah pasir, lempung dan debu. Tanah yang
didominasi unsur liat mempunyai ikatan-ikatan partikel yang tergolong kuat sehingga tanah tidak
mudah tererosi. Begitu pula dengan tanah yang didominasi unsur pasir (tekstur tanah kasa),
kemungkinan untuk terjadi erosi pada tanah ini rendah karena laju infiltrasinya tinggi sehingga
menurunkan laju air larian.
b. Unsur Organik
Terdiri atas limbah tanaman dan hewan sebagai hasil proses dekomposisi. Unsur organik
cenderung memperbaiki struktur tanah dan bersifat meningkatkan permeabilitas tanah, kapasitas
tampung air tanah dan kesuburan tanah.
c. Struktur tanah
Susunan partikel-partikel tanah yang membentuk agregat. Struktur tanah mempengaruhi
kemampuan tanah dalam menyerap air.
d. Permeabilitas
Menunjukkan kemampuan tanah dalam meloloskan air. Struktur dan tekstur tanah serta
unsur organik ikut ambil bagian dalam menentukan permeabilitas tanah. Tanah dengan
permeabilitas tinggi menaikkan laju infiltrasi dan dengan demikian menurunkan laju air larian.
Nilai kapasitas tukar kation tanah umumnya tinggi, berkisar antara 25-45 cmol (+) kg
sampai kedalaman 1 m. Besarnya nilai KPK sangat dipengaruhi oleh kadar lempung C-Organik
dan jenis mineral lempungnya. Pengaruh kadar lempung dan C-Organik terhadap nilai KPK
tanah dapat dilihat pada grafik hubungan sifat-sifat fisik kimia. Kadar lempung berpengaruh
cukup tinggi terhadap KPK dengan nilai koefisien determinasi R2=0,62. Makin tinggi kadar
lempung makin tinggi nilai KPK. Selain kadar lempung dan bahan organik, KPK dipengaruhi
pula oleh jenis mineral lempungnya (Hikmatullah, 2002).
PH tanah diukur dengan nisbah tanah : air = 1 : 2,5 (10 g tanah dilarutkan dengan 25 ml
air) dan ditulis dengan pH 2,5 (H2O). Beberapa laboratorium pengukuran dilakukan degnan
perbandingan tanah : air = 1 : 1 atau 1 : 5. Pengukuran pada nisbah ini agak berbeda dengan
pengukuran pH 2,5 karena pengaruh pengenceran terhadap konsentrasi ion H. Untuk tujuan
tertentu, misalnya pengukuran pH tanah alkalin dilakukan terhadap pasta jenuh air. Hasil
pengukuran selalu lebih rendah daripada pH 2,5 karena lebih kental dan konsentrasi ion H lebih
tinggi (Wiyono, 2006).

Pemakaian kapur harus berdasarkan keasaman tanah yang tepat yang diperlukan oleh
tanaman. Untuk memberikan keputusan tentang pemberian kapur yang dikehendaki maka harus
diperiksa keadaan kimia tanahnya. Untuk itu biasanya pH ditentukan dengan elektroda glass dan
potensiometer atau dengan indikator warna. pH berkorelasi cukup berat dengan prosentase
kejenuhan basa dan merupakan indikator tentang kemungkinan kegiatan kalsium, magnesium
dan unsur lain dalam tanah (Baver, 1961).

HASIL DAN PEMBAHASAN

No. Parameter Hasil


1. Kadar Lengas Tanah Tanah 0,5mm = 10,06%; tanah 2mm =
13,39%; Tanah bongkah = 14,77%; Tanah
sampel=33,71%
2. Nilai Perbandingan Dispersi 3,15% (tahan terhadap erosi)
3. Tekstur Tanah ( Kualitatif ) Porositas = 48%
4. Struktur Tanah Tekstur lempung
5. Konsistensi Tanah (Kualitatif) Sangat keras (kering), plastis, sangat lekat
(basah)
6. Bahan Organik Tanah 3,44%

7. Muatan Tanah ( KPK dan Kation lebih tinggi daripada anion


KPA)
8. Reaksi Tanah ( pH Tanah) pH aktual = 6,89
pH potensial = 5,83

9. Kadar Kapur Setara Tanah Calsimetri = 4,3%


Titrasi = 2,5%

Tanah vertisol adalah tanah yang memiliki sifat khusus yakni mempunyai sifat vertik, hal
ini disebabkan terdapat mineral liat tipe 2:1 yang relatif banyak. Terdiri dari bahan induk
gamping, berwarna hitam, berstruktur gumpal besar kuat. Vertisol merupakan tanah lempung
berat (lempung > 30%). Lempung dalam vertisol merupakan lempung montmomilonit yang
mengembang dan mengkerut. Tanah vertisol mudah ditemukan di kawasan Gunung Kidul,
Yogyakarta.
Tanah vertisol memiliki beberapa sifat, baik sifat fisik maupun kimia tanah. Vertisol
memiliki kadar lengas yang tinggi. Tingginya kadar lengas Vertisol diakibatkan adanya pori
mikro yang dimiliki jenis tanah tersebut. Kadar lengas yang dimiliki vertisol memiliki perbedaan
ditiap variasi diameternya. Hasil yang didapat dalam praktikum yaitu kadar lengas tanah
vertisol 0,5mm sebesar 10,06 %, 2mm sebesar 13,39%, dan tanah bongkah
sebesar 14,77%. Jika dibandingkan dengan penelitian Hakim N (1986) yang menyebutkan bahwa
kadar lengas vertisol 2 mm 12,60%; 0,5 mm 12,86% dan bongkah 13,45% ada sedikit
perbedaaan tetapi tidak terlalu jauh perbedaannya dikarenakan kurang ketelitian praktikan dalam
menimbang tanah.
Kadar lengas pada tanah vertisol dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain anasir
ikllim, relief, kandungan bahan organik dan lempung tanah, dan adanya bahan penutup tanah
(baik organik maupun anorganik). Selain itu, kadar lengas tanah mempengaruhi penetrasi akar
didalam tanah, drainase aerasi, dan nutrisi tanaman. Lengas berperan penting dalam proses
genesa tanah, kelangsungan hidup tanaman, dan jasad renik tanah serta siklus hara. Dalam dunia
pertanian, kadar lengas suatu tanah diperlukan untuk mengetahui jenis tanaman apa yang dapat
ditanam pada jenis tanah tertentu.
NPD adalah nilai perbandingan dispersi yang digunakan untuk mengetahui daya tahan
tanah terhadap erosi. Penentuan Nilai Perbandingan Dispersi (NPD) diperlukan untuk menguji
ketahanan tanah terhadap erosi. Hasil penentuan nilai perbandingan dispersi dalam praktikum ini
yaitu 3,15% yang tidak jauh berbeda penelitian Hardjowigeno (2003) yaitu 3,83%. Oleh karena
itu, dapat dinyatakan bahwa tanah vertisol tahan terhadap erosi karena mempunyai nilai NPD <
15 %. Faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya NPD adalah tekstur tanah, konsistensi,
daya infiltrasi tanah, dan kandungan bahan organik. Manfaat mempelajari NPD tanah di bidang
pertanian adalah mengetahui ketahanan suatu jenis tanah terhadap erosi, tingkat porositas tanah
serta tingkat kandungan bahan organik yang ada pada tanah. selain itu, untuk mengetahui tingkat
kesuburan tanah karena NPD berhubungan langsung dengan pengaruh terhadap erosi.
Sifat fisik yang selanjutnya adalah tekstur tanah. Tekstur tanah adalah perbandingan
antara partikel-partikel pasir, debu, dan lempung yang menyusun tanah. Tekstur tanah dapat
berubah oleh pencampuran tanah lain yang bertekstur berbeda. Tanah vertisol memang
mempunyai tekstur lempung debuan karena pada saat dibuat bubur kemudian digosokkan pada
telapak tangan terasa halus dan licin. Tekstur tanah vertisol tergolong lempung debuan dengan
kadar fraksi lempung 45 % sehingga memiliki kemampuan menyimpan air yang relatif besar.
Hasil tersebut sama dengan hasil penelitian yang dilakukan Hardjowigeno (2003).
Tekstur tanah bermanfaat bagi pertanian karena tekstur tanah terdiri dari beberapa jenis
pori. Fungsi dari pori-pori tersebut adalah sebagai tempat mengikat dan jalur transportasi
pertukaran unsur hara, air, dan udara di dalam tanah. Dengan banyaknya mikroorganisme di
dalam tanah membuat tanah menjadi gembur dan subur, sehingga mampu meningkatkan
produksi tanaman pertanian. Tekstur tanah berhubungan dengan struktur tanah, daya memegang
tanah, tata udara, dan temperatur udara tanah. Tanah yang kandungan lempungnya tinggi maka
kesuburan tanahnya makin tinggi. Selain itu, tekstur tanah juga mempengaruhi sifat fisik tanah
lainnya, yaitu daya dukung tanah, daya serap air, erodibilitas, konsistensi dan plastisitas.
Semakin halus tekstur tanah semakin besar kapasitas simpan airnya.
Selanjutnya sifat yang lainnya adalahstruktur tanah. Faktor yang mempengaruhi struktur
tanah yaitu kandungan partikel tanah primer, serta bahan sementasi berupa humus, kapur, oksida
besi/ alumunium dan sekresi sekresi tumbuhan dan jasad renik. Kualitas struktur tanah dapat
dinyatakan melalui porositas, agregrasi, kohesivitas, dan permeabilitas. Porositas dapat menjadi
tolak ukur kualitas struktur yang paling berguna karena proses-proses kimia dan biologi yang
aktif terjadi didalam poripori tanah. Pori pori tanah bermanfaat untuk aerosi dan infiltrasi,
sedangkan pori kecil untuk menyimpan lengas yang tersedia bagi tanaman.
Tanah vertisol memiliki tekstur lempung dan berstruktur. Nilai BV yang tinggi yakni
1,02 gr/cm3 , nilai BJ sebesar 1,96 gr/cm3 dan memiliki porositas sebesar 48%. Hal ini
menunjukkan bahwa vertisol berstruktur gumpal atau baji karena berkembang dari abu vulkanik
yang sifatnya mengembang pada musim hujan terbentuklah struktur baju/ lengket yag
disebabkan volume tanah bertambah akibat tanah mengembang, sedangkan musim kering tanah
akan mengkerut dan mengalami retakan. Hasil yang didapatkan tersebut hampir sama dengan
hasil penelitian yang dilakukan Dwi Dharmawati (2006) yaitu Berat Volume 1,75 gr/cm 3 , berat
Jenis 1,79 gr/cm3 , dan porositas 2, 34 %.
Konsistensi tanah menunjukkan kekuatan daya tahan atau daya adhesi butir tanah dengan
benda lain dan ditunjukkan oleh daya tahan terhadap gaya akan mengubah bentuk atau gaya-
gaya tersebut, misalnya pencangkulan dan pembajakan. Faktor-faktor yang mempengaruhi
konsistensi tanah ialah kadar tanah, Bahan-bahan penyemen agregat tanah, tingkat agregat,
bahan dan ukuran agregat tanah, Faktor-faktor penentu struktur tanah, yaitu: tekstur, macam
lempung, dan kadar bahan organik.
Pada hasil praktikum menunjukkan bahwa pada tanah vertisol memiliki konsistensi basah
yang sangat lekat, memiliki plastisitas yang plastis dan memiliki konsistensi yang sangat keras
pada kondisi kering karena kandungan lempungnya tinggi. Perbandingan antara hasil penelitian
Hikmatullah et al.(2002) dan hasil praktikum menunjukkan kesesuaian yaitu vertisol konsistensi
basah yang sangat lekat, memiliki plastisitas yang plastis dan memiliki konsistensi yang sangat
keras. Apabila tanah ini kering pengerukan dan peretakan memecahkan tanah itu menjadi
gumpalan-gumpalan besar yang padat dan sedemikian kuat sehingga sebagian besar cara untuk
pengolahan tanah tidak mudah untuk dapat dilaksanakan. Tetapi apabila basah tanah itu lunak
dan lengket. Tanah vertisol biasanya mengkerut, retak, sehingga pada umumnya tidak mantap
dan menimbukan masalah jika dipakai untuk pondasi gedung, jalan raya, dan digunakan sebagai
lahan untuk pertanian. Dengan mengetahui konsistensi kita juga dapat menyesuaikan jenis
tanaman yang tumbuh dengan jenis tanah yang akan digunakan untuk melakukan proses
pertanian.
Sifat yang selanjutnya yaitu bahan organik. Bahan organik dipengaruhi oleh beberapa
faktor, antara lain iklim, tipe penggunaan lahan, relief, bentuk lahan dan kegiatan manusia.
Bahan organik berpengaruh sifat fisik, biologi, dan kimia tanah. Berdasarkan penelitian Cahyono
(2009) yang menyebutkan bahwa nilai bahan organik tanah vertisol adalah sekitar 1,5-4 %. Pada
praktikum ini diperoleh nilai bahan organik untuk tanah vertisol adalah 3,34 % dan sesuai
dengan penelitian orang lain. Tanah vertisol mempunyai nilai bahan organik tinggi
karena banyak mengandung humus.Beragamnya tingkat kelembaban yang luas dan banyaknya
kation-kation alkali (Ca dan Mg) akan merintis pembentukan lempung humus yang sangat
spesifik. Bahan organik mempunyai peran meningkatkan produksi pertanian. Hal ini berkaitan
dengan kandungan bahan organik yang terdiri atas bahan humus dan non-humus.
Salah satu sifat kimia tanah adalah kapasitas pertukaran kation (KPK). Semua komponen
tanah mendukung untuk perluasan tempat pertukaran kation, tetapi pertukaran kation pada
sebagian besar tanah dipusatkan sesuai dengan lempung dan bahan organik. Berdasarkan hasil
praktikum menggunakan larutan gentian violet (+) menunjukkan bahwa tanah tersebut
bermuatan negatif. Penambahan eosin red digunakan untuk menujukkan bahwa tanah bermuatan
positif, yaitu ditandai dengan keadaan larutan yang hampir sama dengan blangko. Berdasarkan
hasil percobaan yang dihasilkan pada penambahan eosin red, menunjukkan intensitas warna
keruh sehingga dapat dinyatakan bahwa tanah vertisol mempunyai muatan negatif yang banyak.
Jika dibandingkan dengan penelitian B. H. Prasetyo (2007) hasil praktikum ini sesuai dengan
penelitian yaitu tanah vertisol mempunyai kapasitas tukar kation yang tinggi. Dominasi smektit
pada vertisol telah menyebabkan tanah ini mempunyai kapasitas tukar kation yang tinggi dan
mempunyai kemampuan memegang kation yang berasal dari pemupukan seperti K+, NH4+,
Ca2+ and Mg2+.
Tanah yang berpartikel lempung mempunyai luaspermukaan yang lebih luas daripada
tanah yang berpasir, karena lempung memiliki muatan negatif. Partikel tanah lempung dapat
menangkap dan menahan ion positif, sehingga tanah yang memiliki kandungan lempung tinggi,
luas permukaan tanah semakin besar dan nilai KPK menjadi semakin tinggi. Tanah yang subur
adalah tanah yang memiliki nilai KPK yang tinggi.
Reaksi tanah merupakan sifat kimia tanah yang penting untuk diamati karena
berpengaruh terhadap serangkaian proses proses kimiawi dalam tanah, antara lain proses
pembentukan mineral lempung, reaksi kimia dan biokimia tanah, serta tahanan (status) hara
dalam tanah. Faktor faktor yang mempengaruhi pH tanah adalah bahan induk, iklim, bahan
organik, dan perlakuan manusia. Bahan induk masam mendorong terbentuknya tanah berreaksi
masam, dan bahan induk basis akan membentuk tanah agak netral sampai basis. Iklim basah
akan mendorong berkembangnya tanah masam, dan iklim kering akan mendorong
berkembangnya tanah basis. Pengaruh akibat perlakuan manusia berupa penggunaan pupuk atau
bahan amelioran lain. Jika pupuk yang digunakan dalam waktu yang lama mempunyai sifat
fisiologis masam, maka akan cenderung menurunkan pH tanah. Jika sering menggunakan bahan
amelioran yang bersifat basis (kapur), maka akan terjadi proses peningkatan pH tanah.
Berdasarkan banyaknya ion H+ yang terdapat di dalam larutan tanah dikenal 2 macam pH
yaitu pH aktual dan pH potensial. Pada percobaan ini diperoleh pH aktual tanah vertisol adalah
6,89 dan pH potensialnya 5,83. Jika dibandingkan dengan penelitian B. H. Prasetyo pH tanah
terletak diantara 5,5 7,4 sehingga dapat dinyatakan vertisol mempunyai pH netral-alkalis
karena merupakan tanah mineral. Tanah vertisol banyak mengandung kapur dan bersifat basa
sebab berbahan induk kapur dan berlempung sehingga kedap air.
Fungsi mengetahui pH tanah dalam bidang pertanian adalah mengetahui mudah tidaknya
unsur-unsur hara dalam tanah diserap oleh tanaman. Unsur hara akan mudah diserap oleh
tanaman (akar tanaman) pada pH netral. Tanah dengan pH masam banyak ditemukan ion-ion Al
yang memfiksasi unsur P, sehingga unsur P sulit diserap oleh tanaman. Mempengaruhi
perkembangan organisme. Bakteri akan berkembang biak dalam pH lebih dari 5,5, apabila pH
kurang dari itu maka perkembangannya akan terhambat. Jamur dapat berkembang biak pada pH
dibawah 5,5 dan diatas itu jamur harus bersaing dengan bakteri.
Kapur tanah memiliki asosiasi yang erat dengan keberadaan kalsium tanah dan atau
magnesium. Keberadaan kapur tanah sangat dipengaruhi oleh batuan induk yang berada di suatu
lokasi. Vertisol memiliki kandungan kapur sebesar 4,3% melalui metode calsimeter dan 2,5%
pada metode cottenie (titrasi). Perbedaan ini disebabkan karena seharusnya pada saat pemanasan
yang menguap adalah CO2, tetapi saat praktikum yang menguap adalah H2O. Hasil penelitian
yang dilakukan oleh Hakim N (1986) menyebutkan bahwa tanah vertisol mengandung kadar
kapur sebesar 1,26% menunjukkan bahwa vertisol mempunyai kadar kapur tinggi karena
bahan induknya berupa batuan gamping. Jika dibandingkan dengan penelitian orang lain, hasil
pada praktikum agak berbeda disebabkan kurang ketelitian praktikan dalam pada waktu titrasi
dan pada saat pemanasan.
Manfaat kadar kapur dalam bidang pertanian adalah sebagai salah satu elemen unsur hara
yang diperlukan tanaman dan pembentukan agregat tanah. Tinggi rendahnya kadar kapur dalam
tanah berpengaruh terhadap kesuburan tanah. Dengan mempelajari kadar kapur dalam tanah
dapat digunakan untuk menentukan proses pemupukan, baik kualitas maupun kuantitas pupuk
dan untuk mengetahui kadar unsur hara sedini mungkin, serta dapat menentukan jenis tanaman
yang cocok untuk tanah tersebut sehingga dapat menghasilkan produk dengan optimal.
Dalam pengolahannya tanah vertisol yang relatif cukup sulit, maka harus diketahui
keadaan kelengasan tanah pada lapisan permukaan yang memungkinkan untuk dilakukan
pengolahan tanah, karena sifat fisik tanah vertisol yang jelas adalah konsistensi yang keras,
sehingga untuk mengolah tanah tidak dapat menggunakan cangkul. Penggunaan traktor dan lain-
lain peralatan mekanik memungkinkan untuk melakukan persiapan lahan baik untuk pembibitan
maupun penanaman.
REFERENSI

Asdak, C. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.
Baver, L. D. 1961. Soil Physics. Modern Asian Printing, USA.
Brady, R. 2006. The Nature and Properties of Soil 8th Edition. Mac Milliand Pub. Co, Inc., New York.
Cahyono, Agus. 2009. Grumusol. <elisa1.ugm.ac.id>. Diakses tanggal 5 April 2012.
Dharmawati, Dwi. 2006. Pemanfaatan Bahan Organik Dari Limbah Pertanian Untuk Memperbaiki
Kinerja Pengolahan Tanah Vertisol Di Gunungkidul. Institut Pertanian STIPER, Yogyakarta.
Hakim N., M. Yusuf, Nyakpa, A.M Lubis, G. H. Sutopo, M. Amin., D. Gobh, H. H. Bailey. 1986. Dasar-
Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung, Lampung.
Hardjowigeno, S. 2003. Ilmu Tanah. Mediyatama Sarana Perkasa, Jakarta.
Hikmatullah, B. H., Prasetya, dan M. Hendrisman. 2002. Vertisol dari daerah guruntalo: sifat-sifat fisik
kimia dan komposisi mineralnya. Jurnal Tanah dan Air 3: 21-23.
Prasetya, B. H. 2007. Perbedaan sifat-sifat tanah vertisol dari berbagai bahan induk. Jurnal Ilmu-Ilmu
Pertanian Indonesia. Volume 9: 20 31.
Wiyono, A. Syamsul dan E. Hanudin. 2006. Aplikasi soil taxonomy pada tanah-tanah yang berkembang
dari bentukan karst gunung kidul. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan 6: 13-26.