Vous êtes sur la page 1sur 32

MAKALAH

KONSEP PENYAKIT
ALZHEIMER

Disusun Oleh :
Kelompok 2

1. Aditya Arbi S. 9. Intan Anjasmara


2. Andre Setya Aji 10. Septiana Lestari
3. Angesti Dyah T. 11. Maya Pujiastuti
4. Baruna Eko S. 12. Monita Sukma N.
5. Emila Yudianti 13. Niken Ayuk P. U.
6. Fatimah Zakiyah 14. Siska Bela Damayanti
7. Fitri Poniasih 15. Taufiqoh Rizqi A.
8. Iin Sekarsari

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


STIKES KUSUMA HUSADA SURAKARTA
TAHUN AJARAN
2017/2018
KATA PENGATAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya untuk masyarakat.
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah
ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah dan
manfaatnya untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi
terhadap pembaca.

Surakarta, 10 November2017

Penyusun
DAFTAR ISI

COVER........................................................................................................ i
KATAPENGANTAR.................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................ iii
BAB I
A. Latar Belakang...................................................................................... 1
B. Tujuan................................................................................................... 1
C. Rumusan Masalah................................................................................. 2
BAB II
A. Pengertian............................................................................................. 3
B. Etiologi.................................................................................................. 4
C. Patofisiologi.......................................................................................... 6
D. Patogenesis............................................................................................ 7
E. Klasifikasi............................................................................................. 8
F. Gejala Klinis......................................................................................... 8
G. Penatalaksanaan.................................................................................... 10
H. Diagnosa Keperawatan......................................................................... 13
I. Asuahan Keperawatan.......................................................................... 14
BAB III
A. KESIMPULAN..................................................................................... 22
B. SARAN................................................................................................. 22
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit Alzheimer adalah suatu penyakit degeneratif otak yang
progresif, dimana sel-sel otak rusak dan mati sehingga mengakibatkan
gangguan mental berupa kepikunan (demensia) yaitu terganggunya fungsi-
fungsi memori (daya ingat), berbahasa, berpikir dan berperilaku. Sebagian
besar demensia disebabkan oleh penyakit Alzheimer (60%). Demensia adalah
suatu penyakit yang dapat ditatalaksana, dan demensia bukan merupakan
bagian normal dari proses penuaan peningkatan jumlah kasus pada kelompok
usia yang lebih muda (sekitar 40 - 50 tahun).
Penyakit Alzheimer ditemukan pertama kali pada tahun 1907 oleh
seorang ahli psikiatri dan neuropatologi yang bernama Alois Alzheimer.
Ia mengobservasi seorang wanita berumur 51 tahun, yang mengalami
gangguan intelektual dan memori serta tidak mengetahui kembali ketempat
tinggalnya, sedangkan wanita itu tidak mengalami gangguan anggota gerak
koordinasi dan reflek. Pada autopsy tampak bagian otak mengalami
atropi yang difus dan simetris, dan secara mikroskopis tampak bagian
kortikal otak mengalami neuritis plaque dan degenerasi neurofibrillary.
Hal-hal yang dianggap dapat melindungi seseorang dari Alzheimer
adalah gen APO E2&3, pendidikan tinggi (aktivitas otak tinggi), pemakaian
Estrogen, dan penggunaan obat anti inflamasi. Meskipun penyebab belum
diketahui, namun gangguan mental demensia (kepikunan) ini telah dapat
ditatalaksana dengan baik melalui berbagai upaya.

B. Tujuan
1. Tujuan umum
Tujuan umum penulis dalam menyusun makalah ini adalah untuk
mendukung kegiatan belajar mengajar jurusan keperawatan khususnya
pada mata kuliah keperawatan Neurobehavior II mengenai Asuhan
Keperawatan Klien dengan Alzheimer.
2. Tujuan khusus
Untuk mengetahui definisi alzheimer, etiologi, manifestasi klinis,
patofisiologi, pemeriksaan diagnostik dari alzheimer, penatalaksanaan
medis dan asuhan keperawatan klien dengan alzheimer.

C. Rumusan Masalah
1. Apa definisi Alzheimer?
2. Bagaimana etiologi Alzheimer?
3. Bagaimana manifestasi klinis dari Alzheimer?
4. Bagaimana patofisiologi dari Alzheimer?
5. asuhan keperawatan klien dengan Alzheimer?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Penyakit
1. Definisi
Penyakit Alzheimer merupakan sebuah kelainan otak yang bersifat
irreversible dan progresif yang terkait dengan perubahan sel-sel saraf
sehingga menyebabkan kematian sel otak. Penyakit Alzheimer terjadi secara
bertahap, dan bukan merupakan bagian dari proses penuaan normal dan
merupakan penyebab paling umum dari demensia. Demensia merupakan
kehilangan fungsi intelektual, seperti berpikir, mengingat, dan berlogika, yang
cukup parah untuk mengganggu aktifitas sehari-hari.Demensia bukan
merupakan sebuah penyakit, melainkan sebuah kumpulan gejala yang
menyertai penyakit atau kondisi tertentu. Gejala dari demensia juga dapat
termasuk perubahan kepribadian, mood, dan perilaku. (Society NAOAA.
2000)
Penyakit Alzheimer adalah penyakit yang bersifat degeneratif dan
progresif pada otak yang menyebabkan cacat spesifik pada neuron, serta
mengakibatkan gangguan memori, berpikir, dan tingkah laku. (Sylvia, A.
Price, 2006, hal 1134).
Penyakit alzheimer adalah penyakit degenerasi neuron kolinergik yang
merusak dan menimbulkan kelumpuhan, yang terutama menyerang orang
berusia 65 tahun ke atas. (Arif Muttaqin, 2008, hal 364).

2. Klasifikasi
Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di
Indonesia III (PPDGJ III).
a. Menurut umur
1) Demensia senilis (>65th)
2) Demensia prasenilis (<65th)
b. Menurut perjalanan penyakit
1) Reversible
2) Irreversible (normal pressure hydrocephalus, subdural hematoma,
defisiensi vit b, hipotiroidism, intoksikasi Pb
c. Menurut sifat klinis
1) Demensia proprius
2) Pseudo-demensia

3. Etiologi
Penyebab degenrasi neuron kolinergik pada penyakit Alzheimer tidak
diketahui. Sampai sekarang belum satupun penyebab penyakit ini
diketahui, tetapi ada tiga teori utama mengenai penyebabnya, yaitu :
a. Virus lambat
Merupakan teori yang paling populer(meskipun belum terbukti) adalah
yang berkaitan dengan virus lambat. Virus-virus ini mempunyai masa
inkubasi 2-30 tahun sehingga transmisinya sulit dibuktikan. Beberapa
jenis tertentu dari ensefalopati viral ditandai oleh perubahan patologis
yang menyerupai plak senilis pada penyakit Alzheimer.
b. Proses Autoimun
Teori autoimun berdasarkan pada adanya peningkatan kadar antibodi-
antibodi reaktif terhadap otak pada penderita penyakit Alzheimer. Ada
dua tipe amigaloid(suatu kompleks protein dengan ciri seperti pati yang
diproduksi dan dideposit pada keadaan-keadaan patologis tertentu),
yang satu kompos isinya terdiri atas rantai-rantai IgG dan yang lainnya
tidak diketahui. Teori ini menyatakan bahwa komplek antigen-antibodi
dikatabolisir oleh fagosit dan fragmen-fragmen imunoglobulin
dihancurkan di dalam lisosom.
c. Keracunan aluminium
Teori keracunan aluminium menyatakan bahwa karena aluminium
bersifat neurotoksik, maka dapat menyebabkan perubahan neuofibrilar
pada otak. Deposit aluminium telah diidentifikasi pada beberapa klien
dengan penyakit Alzheimer, tetapi beberapa perubahan patologi yang
menyertai penyakit ini berbeda dengan yang terlihat pada keracunan
aluminium. (Arif Muttaqin, 2008, hal 364-365).
4. Patofisiologi dan Pathway
Terdapat beberapa perubahan khas biokimia dan neuropatologi
yang dijumpai pada penyakit Alzheimer, antara lain: serabut neuron yang
kusut (masa kusut neuron yang tidak berfungsi) dan plak seni atau neuritis
(deposit protein beta-amiloid, bagian dari suatu protein besar, protein
prukesor amiloid (APP). Kerusakan neuron tersebut terjadi secara primer
pada korteks serebri dan mengakibatkan rusaknya ukuran otak.
Secara maskroskopik, perubahan otak pada Alzheimer melibatkan
kerusakan berat neuron korteks dan hippocampus, serta penimbunan
amiloid dalam pembuluh darah intracranial. Secara mikroskopik, terdapat
perubahan morfologik (structural) dan biokimia pada neuron – neuron.
Perubahan morfologis terdiri dari 2 ciri khas lesi yang pada akhirnya
berkembang menjadi degenarasi soma dan atau akson dan atau dendrit.
Satu tanda lesi pada AD adalah kekusutan neurofibrilaris yaitu struktur
intraselular yang berisi serat kusut dan sebagian besar terdiri dari protein
“tau”. Dalam SSP, protein tau sebagian besar sebagai penghambat
pembentuk structural yang terikat dan menstabilkan mikrotubulus dan
merupakan komponen penting dari sitokleton sel neuron. Pada neuron AD
terjadi fosforilasi abnormal dari protein tau, secara kimia menyebabkan
perubahan pada tau sehingga tidak dapat terikat pada mikrotubulus secara
bersama – sama. Tau yang abnormal terpuntir masuk ke filament heliks
ganda yang sekelilingnya masing – masing terluka. Dengan kolapsnya
system transport internal, hubungan interseluler adalah yang pertama kali
tidak berfungsi dan akhirnya diikuti kematian sel. Pembentukan neuron
yang kusut dan berkembangnya neuron yang rusak menyebabkan
Alzheimer.
Lesi khas lain adalah plak senilis, terutama terdiri dari beta amiloid
(A-beta) yang terbentuk dalam cairan jaringan di sekeliling neuron bukan
dalam sel neuronal. A-beta adalah fragmen protein prekusor amiloid (APP)
yang pada keadaan normal melekat pada membrane neuronal yang
berperan dalam pertumbuhan dan pertahanan neuron. APP terbagi menjadi
fragmen – fragmen oleh protease, salah satunya A-beta, fragmen lengket
yang berkembang menjadi gumpalan yang bisa larut. Gumpalan tersebut
akhirnya bercampur dengan sel – sel glia yang akhirnya membentuk fibril
– fibril plak yang membeku, padat, matang, tidak dapat larut, dan diyakini
beracun bagi neuron yang utuh. Kemungkinan lain adalah A-beta
menghasilkan radikal bebas sehingga mengganggu hubungan intraseluler
dan menurunkan respon pembuluh darah sehingga mengakibatkan makin
rentannya neuron terhadap stressor. Selain karena lesi, perubahan biokimia
dalam SSP juga berpengaruh pada AD. Secara neurokimia kelainan pada
otak.
PATHWAYS
5. Manifestasi Klinis
Manifestasi/ gejala klinis yang muncul pada pasien dengan penyakit
Alzheimer diantaranya :
a. Kehilangan daya ingat/memori
b. Kesulitan melakukan aktivitas rutin yang biasa
c. Kesulitan berbahasa.
d. Kesulitan tidur
e. Disorientasi waktu dan tempat
f. Penurunan kemampuan dalam memutuskan sesuatu
g. Emosi labil
h. Apatis
i. Tonus otot / kekakuan otot
j. Ketidakmampuan mendeteksi bahaya

6. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanan Medis
Pengobatan penyakit Alzheimer masih sangat terbatas oleh karena
penyebab dan patofisiologis masih belum jelas. Pengobatan
simptomatik dan suportif seakan hanya memberikan rasa puas pada
penderita dan keluarga. (Japardi I 2002).
Pengobatan simptomatik:
1) Inhibitor kolinesterase
Tujuan: Untuk mencegah penurunan kadar asetilkolin dapat
digunakan anti kolinesterase yang bekerja secara sentral
Contoh : fisostigmin, THA (tetrahydroaminoacridine), donepezil
(Aricept), galantamin (Razadyne), & rivastigmin
Pemberian obat ini dikatakan dapat memperbaiki memori dan
apraksia selama pemberian berlangsung
ESO : memperburuk penampilan intelektual pada orang normal dan
penderita Alzheimer, mual & muntah, bradikardi, ↑ HCl, dan ↓ nafsu
makan. (Robbins, Stanley. L et all 2007)
2) Thiamin
Pada penderita alzheimer didapatkan penurunan thiamin
pyrophosphatase dependent enzym yaitu 2 ketoglutarate (75%) dan
transketolase (45%), hal ini disebabkan kerusakan neuronal pada
nukleus basalis.
Contoh : thiamin hydrochloride
Dosis 3 gr/hari selama 3 bulan peroral
Tujuan : perbaikan bermakna terhadap fungsi kognisi dibandingkan
placebo selama periode yang sama.
3) Nootropik
Nootropik merupakan obat psikotropik
Tujuan: memperbaiki fungsi kognisi dan proses belajar. Tetapi
pemberian 4000 mg pada penderita alzheimer tidak menunjukkan
perbaikan klinis yang bermakna.
4) Klonidin
Gangguan fungsi intelektual pada penderita alzheimer dapat
disebabkan kerusakan noradrenergik kortikal.
Contoh: klonidin (catapres) yang merupakan noradrenergik alfa 2
reseptor agonis
Dosis : maksimal 1,2 mg peroral selama 4 minggu
Tujuan: kurang memuaskan untuk memperbaiki fungsi kognitif
5) Haloperiodol
Pada penderita alzheimer, sering kali terjadi :
Gangguan psikosis (delusi, halusinasi) dan tingkah laku: Pemberian
oral Haloperiodol 1-5 mg/hari selama 4 minggu akan memperbaiki
gejala tersebut
Bila penderita Alzheimer menderita depresi berikan tricyclic anti
depresant (amitryptiline 25-100 mg/hari)
6) Acetyl L-Carnitine (ALC)
Merupakan suatu substrat endogen yang disintesa didalam
mitokondria dengan bantuan enzyme ALC transferase.
Tujuan : meningkatkan aktivitas asetil kolinesterase, kolin
asetiltransferase.
Dosis :1-2 gr/hari/peroral selama 1 tahun dalam pengobatan
Efek : memperbaiki atau menghambat progresifitas kerusakan fungsi
kognitif (Yulfran, 2000)

b. Penatalaksanaan Keperawatan
1) Pendidikan terhadap pasien dan keluarganya mengenai alat-alat
bantu ingatan, diet dan tindakan-tindakan pengamanan mungkin
dapat memperlambat perkembangan gejala.
2) Pemberian obat cognex untuk memperlambat atau menegmbalikan
gejala-gejala dini penyakit Alzheimer.

B. Konsep Askep
1. Pengkajian
Adapun pengkajian yang dilakukan pada pasien dengan penyakit
Alzheimer diantaranya :
a. Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, agama, suku bangsa, status
perkawinan, golongan darah, dan hubungan pasien dengan penanggung
jawab.
b. Riwayat kesehatan
1) Riwayat penyakit dahulu yaitu penyakit apa saja yang pernah
diderita pasien, baik penyakit yang dapat menjadi faktor pendukung
terjadinya penyakit Alzheimer, maupun yang tidak.
2) Riwayat penyakit sekarang yaitu penyakit yang diderita pasien saat
ini, dalam kasus ini penyakit Alzheimer
3) Riwayat penyakit keluarga yaitu penyakit yang pernah diderita
anggota keluarga yang lain, baik yang dapat menjadi faktor
pendukung terjadinya penyakit Alzheimer maupun yang tidak.
c. Pengkajian PsikoSosial Spiritual
Adanya perubahan hubungan dan peran karena pasien menglami
kesulitan untuk berkomunikasi akibat gangguan bicara. Pola persepsi
dan konsep diri didapatkan pasien merasa tidak berdaya, tidak ada
harapan mudah marah, dan tidak kooperatif. Perubahan yang terpenting
pada pasien dengan penyakit Alzheimer adalah penurunan kognitif dan
memori (ingatan).
d. Aktifitas istirahat
Gejala: Merasa lelah
1) Tanda: Siang/malam gelisah, tidak berdaya, gangguan pola tidur
2) Letargi: penurunan minat atau perhatian pada aktivitas yang biasa,
hobi, ketidakmampuan untuk menyebutkan kembali apa yang
dibaca/ mengikuti acara program televisi.
3) Gangguan keterampilan motorik, ketidakmampuan untuk melakukan
hal yang telah biasa yang dilakukannya, gerakan yang sangat
bermanfaat.
e. Sirkulasi
Gejala: Riwayat penyakit vaskuler serebral/sistemik. hipertensi, episode
emboli (merupakan factor predisposisi).
f. Integritas ego
1) Gejala : Curiga atau takut terhadap situasi/orang khayalan, kesalahan
persepsi terhadap lingkungan, kesalahan identifikasi terhadap objek
dan orang, penimbunan objek : meyakini bahwa objek yang salah
penempatannya telah dicuri. kehilangan multiple, perubahan citra
tubuh dan harga diri yang dirasakan.
2) Tanda : Menyembunyikan ketidakmampuan ( banyak alasan tidak
mampu untuk melakukan kewajiban, mungkin juga tangan membuka
buku namun tanpa membacanya) , duduk dan menonton yang lain,
aktivitas pertama mungkin menumpuk benda tidak bergerak dan
emosi stabil, gerakan berulang ( melipat membuka lipatan melipat
kembali kain ), menyembunyikan barang, atau berjalan-jalan.
g. Eliminasi
1) Gejala: Dorongan berkemih
2) Tanda: Inkontinensia urine/feaces, cenderung konstipasi/ imfaksi
dengan diare.
h. Makanan/cairan
1) Gejala: Riwayat episode hipoglikemia (merupakan factor
predisposisi) perubahan dalam pengecapan, nafsu makan, kehilangan
berat badan, mengingkari terhadap rasa lapar/ kebutuhan untuk
makan.
2) Tanda: Kehilangan kemampuan untuk mengunyah,
menghindari/menolak makan (mungkin mencoba untuk
menyembunyikan keterampilan). dan tampak semakin kurus (tahap
lanjut).
i. Hiygene
1) Gejala : Perlu bantuan /tergantung orang lain
2) Tanda : tidak mampu mempertahankan penampilan, kebiasaan
personal yang kurang, kebiasaan pembersihan buruk, lupa untuk
pergi kekamar mandi, lupa langkah-langkah untuk buang air, tidak
dapat menemukan kamar mandi dan kurang berminat pada atau lupa
pada waktu makan: tergantung pada orang lain untuk memasak
makanan dan menyiapkannya dimeja, makan, menggunakan alat
makan.
j. Neurosensori
1) Gejala : Pengingkaran terhadap gejala yang ada terutama perubahan
kognitif, dan atau gambaran yang kabur, keluhan hipokondria
tentang kelelahan, pusing atau kadang-kadang sakit kepala. adanya
keluhan dalam kemampuan kognitif, mengambil keputusan,
mengingat yang berlalu, penurunan tingkah laku ( diobservasi oleh
orang terdekat). Kehilangan sensasi propriosepsi ( posisi tubuh atau
bagian tubuh dalam ruang tertentu ). dan adanya riwayat penyakit
serebral vaskuler/sistemik, emboli atau hipoksia yang berlangsung
secara periodik ( sebagai faktor predisposisi ) serta aktifitas kejang
( merupakan akibat sekunder pada kerusakan otak ).
2) Tanda : Kerusakan komunikasi : afasia dan disfasia; kesulitan dalam
menemukan kata- kata yang benar ( terutama kata benda ); bertanya
berulang-ulang atau percakapan dengan substansi kata yang tidak
memiliki arti; terpenggal-penggal, atau bicaranya tidak terdengar.
Kehilangan kemampuan untuk membaca dan menulis bertahap
( kehilangan keterampilan motorik halus ).
k. Kenyamanan
1) Gejala : Adanya riwayat trauma kepala yang serius ( mungkin
menjadi faktor predisposisi atau faktor akselerasinya), trauma
kecelakaan ( jatuh, luka bakar dan sebagainya).
2) Tanda : Ekimosis, laserasi dan rasa bermusuhan/menyerang orang
lain
l. Interaksi sosial
1) Gejala : Merasa kehilangan kekuatan. faktor psikososial sebelumnya;
pengaruh personal dan individu yang muncul mengubah pola tingkah
laku yang muncul.
2) Tanda : Kehilangan kontrol sosial,perilaku tidak tepat.
m. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Klien dengan penyakit Alzheimer umumnya
mengalami penurunan kesadaran sesuai dengan degenerasi neuron
kolinergik dan proses senilisme. Adanya perubahan pada tanda-tanda
vital, meliputi bradikardi, hipotensi, dan penurunan frekuensi
pernafasan.
1) B1 (Breathing)
Gangguan fungsi pernafasan :
Berkaitan dengan hipoventilasi inaktifitas, aspirasi makanan atau
saliva dan berkurangnya fungsi pembersihan saluran nafas.
a) Inspeksi: di dapatkan klien batuk atau penurunan kemampuan
untuk batuk efektif, peningkatan produksi sputum, sesak nafas,
dan penggunaan otot Bantu nafas.
b) Palpasi : Traktil premitus seimbang kanan dan kiri
c) Perkusi : adanya suara resonan pada seluruh lapangan paru
d) Auskultasi : bunyi nafas tambahan seperti nafas berbunyi, stridor,
ronkhi, pada klien dengan peningkatan produksi sekret dan
kemampuan batuk yang menurun yang sering didapatkan pada
klien dengan inaktivitas.
2) B2 (Blood)
Hipotensi postural : berkaitan dengan efek samping pemberian obat
dan juga gangguan pada pengaturan tekanan darah oleh sistem
persarafan otonom.
3) B3 (Brain)
Pengkajian B3 merupakan pemeriksaan fokus dan lebih lengkap
dibandingkan dengan pengkajian pada sistem lainnya.
Inspeksi umum, didapatkan berbagai manifestasi akibat perubahan
tingkah laku.
4) B4 (Bladder)
Pada tahap lanjut, beberapa pasien sering mengalami inkontinensia
urin biasanya dengan penurunan status kognitif dari pasien Alzeimer.
Penurunan refleks kandung kemih yang bersifat progresif dan pasien
mungkin mengalami inkontinensia urin, ketidakmampuan
mengkomunikasikan kebutuhan, dan ketidakmampuan untuk
menggunakan urinal karena kerusakan kontrol motorik dan postural.
5) B5 (Bowel)
Pemenuhan nutrisi berkurang berhubungan dengan intake nutrisi
yang kurang karena kelemahan fisik umum dan perubahan status
kognitif. Penurunan aktivitas umum klien sering mengalami
konstipasi.
6) B6 (Bone)
Adanya gangguan keseimbangan dan koordinasi dalam melakukan
pergerakan karena perubahan pada gaya berjalan dan kaku pada
seluruh gerakan memberikan resiko pada trauma fisik jika
melakukan aktivitas.
n. Pengkajian Tingkat Kesadaran:
Tingkat kesadaran klien biasanya apatis dan juga bergantung pada
perubahan status kognitif klien.
o. Pengkajian fungsi serebral:
Status mental : biasanya status mental klien mengalami perubahan yang
berhubungan dengan penurunan status kognitif, penurunan persepsi,
dan penurunan memori, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
p. Pengkajian Saraf kranial. Pengkajian saraf ini meliputi pengkajian saraf
kranial I-XII :
1) Saraf I. Biasanya pada klien penyakit alzherimer tidak ada kelaianan
fungsi penciuman
2) Saraf II. Tes ketajaman penglihatan mengalami perubahan, yaitu
sesuai dengan keadaan usia lanjut biasanya klien dengan alzheimer
mengalami keturunan ketajaman penglihatan.
3) Saraf III, IV dan VI. Biasanya tidak ditemukan adanya kelainan pada
saraf ini .
4) Saraf V. Wajah simetris dan tidak ada kelainan pada saraf ini.
5) Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal
6) Saraf VIII. Adanya tuli konduktif dan tuli persepsi berhubungan
proses senilis serta penurunan aliran darah regional
7) Saraf IX dan X. Kesulitan dalam menelan makanan yang
berhubungan dengan perubahan status kognitif
8) Saraf XI. Tidak atrofi otot strenokleidomastoideus dan trapezius.
9) Saraf XII. Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak
ada vasikulasi dan indera pengecapan normal
q. Pengkajian sistem Motorik
Inspeksi umum pada tahap lanjut klien akan mengalami perubahan dan
penurunan pada fungsi motorik secara umum. Tonus Otot. Didapatkan
meningkat. Keseimbangan dan Koordinasi. Didapatkan mengalami
gangguan karena adanya perubahan status kognitif dan
ketidakkooperatifan klien dengan metode pemeriksaan.
r. Pengkajian Refleks
Pada tahap lanjut penyakit alzheimer sering mengalami kehilangan
refleks postural, apabila klien mencoba untuk berdiri dengan kepala
cenderung ke depan dan berjalan dengan gaya berjalan seperti didorong.
Kesulitan dalam berputar dan hilangnya keseimbangan (salah satunya
ke depan atau ke belakang) dapat menyebabkan klien sering jatuh.
s. Pengkajian Sistem sensorik
Sesuai barlanjutnya usia, klien dengan penyakit alzheimer mengalami
penurunan terhadap sensasi sensorik secara progresif. Penurunan
sensori yang ada merupakan hasil dari neuropati perifer yang
dihubungkan dengan disfungsi kognitif dan persepsi klien secara
umum.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan
diagnosa medis Alzheimer diantaranya :
a. Resiko Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang
berhubungan dengan asupan nutrisi tidak adekuat, perubahan proses
piker.
b. Kurang perawatan diri (makan, minum, berpakaian, Hygine) yang
berhubungan dalam perubahan proses berfikir.
c. Kerusakan komunikasi verbal yang berhubungan dengan perubahan
proses fikir.
d. Perubahan pola eliminasi urin/alvi berhubungan dengan kehilangan
fungsi neurologi/tonus otot, ketidakmampuan untuk menentukan letak
kamar mandi/mengenali kebutuhan.
e. Perubahan pola tidur berhubungan dengan perubahan pada sensori.
f. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan
neuromuskuler, penurunan tonus atau kekuatan otot.
g. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan resepsi,
transmisi, dan/atau integrasi.
h. Perubahan proses pikir berhubungan dengan degenerasi neuron
irreversible.
i. Sindrom stress relokasi berhubungan dengan gangguan sensori,
penurunan fungsi fisik.
j. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan ketidakmampuan
menyelesaikan masalah, perubahan intelektual.
k. Hambatan interaksi sosial berhubungan dengan perubahan emosi (cepat
marah, mudah tersinggung, kurang percaya diri).
l. Risiko trauma berhubungan dengan kelamahan, ketidakmampuan untuk
mengenali/ mengidentifikasi bahaya dalam lingkungan.

3. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil
1 Resiko Perubahan Setelah diberikan asuhan Monitor Nutrisi (1160)
nutrisi kurang keperawatan diharapkan Mandiri
dari kebutuhan tidak terjadi perubahan 1. Kaji pengetahuan
tubuh yang nutrisi kurang dari klien/keluarga mengenai
berhubungan kebutuhan dengan kebutuhan makan
dengan asupan kriteria hasil : 2. Usahakan/ berikan bantuan
nutrisi tidak Nafsu makan (1014) dalam memilih menu
adekuat, 1. Klien mendapat diet 3. Berikan makanan kecil
perubahan proses nutrisi yang seimbang setiap jam sesuai
piker. 2. Mempertahankan/ kebutuhan.
mendapat kembali BB 4. Hindari makanan yang
yang sesuai. terlalu panas
3. Klien dapat
mengubah pola Kolaborasi
asupan yang benar Rujuk atau konsultasikan
dengan ahli gizi

2 Kurang perawatan Setelah dilakukan Bantuan Perawatan Diri :


diri (makan, tindakan keperawatan Mandi (1801), Makan (1803),
minum, selama 3x24 jam masalah IADL (1805), Eliminasi
berpakaian, kurang perawatn diri (1804).
Hygine) yang dapat terasai dengan Mandiri
berhubungan Kriteria hasil : 1. Identifikasi kesulitan
dalam perubahan Pengetahuan Manajemen berpakaian/perawatan diri,
proses berfikir. : Demensia (1851) seperti keterbatasan fisik;
1. Klien dapat apatis/depresi atau
menunjukkan temperatur ruangan.
perubahan gaya hidup 2. Identifikasi kebutuhan akan
untuk kebutuhan kebersihan diri dan berikan
merawat diri bantuan sesuai kebutuhan
2. Mengidentifikasi dengan perawatan
personal/keluarga rambut/kuku/kulit,
yang dapat bersihkan kacamata dan
membantu. gosok gigi.
3. Gabungkan kegiatan sehari-
hari kedalam jadwal
aktivitas jika mungkin.
4. Kaji kemampuan dan
tingkat itaspenurunan
kemampuan ADL dalam
skala 0 – 4.
5. Rencanakan tindakan untuk
defisit motorik seperti
tempatkan makanan dan
peralatan di dekat klien agar
mampu sendiri
mengambilnya.
6. Kaji kemampuan komnikasi
untuk BAK. Kemampuan
menggunakan urinal pispot.
Antarkan ke kamar mandi
bila kondisi memungkinkan
.
7. Identifikasi kebiasaan
BAB . anjurkan minum dan
meningkatkan aktivitas.

Kolaborasi :
1. Pemberian suppositoria dan
pelumas faeces / pencahar.
2. Konsul ke dokter terapi
okupasi.

3 Kerusakan Setelah diberikan asuhan Peningkatan komunikasi :


komunikasi keperawatan, diharapkan Kurang bicara (4976).
verbal yang klien tidak mengalami
Mandiri
berhubungan hambatan komunikasi
1. Kaji kemampuan klien
dengan perubahan verbal dengan kriteria
untuk berkomunikasi.
proses fikir. hasil :
2. Menentukan cara-cara
Komunikasi (0902)
1. Membuat berkomunikasi seperti
teknik/metode mempertahankan kontak
komunikasi yang mata, pertanyaan dengan
dapat dimengerti jawaban ya atau tidak,
sesuai kebutuhan dan menggunakan kertas dan
meningkatkan pensil/bolpoint, gambar,
kemampuan atau papan tulis; bahasa
berkomunikasi. isyarat, penjelas arti dari
komunikasi yang
disampaikan.
3. Letakkan bel/lampu
panggilan di tempat mudah
dijangkau dan berikan
penjelasan cara
menggunakannya. Jawab
panggilan tersebut dengan
segera. Penuhi kebutuhan
klien. Katakan kepada klien
bahwa perawat siap
membantu jika dibutuhkan.

Kolaborasi
Kolaborasi dengan ahli wicara
bahasa.

4 Perubahan pola Setelah diberikan asuhan Manajemen Eliminasi


eliminasi urin/alvi keperawatan selama Perkemihan (0590)
berhubungan 3x24 jam, diharapkan Mandiri
dengan pola eliminasi terpenuhi 1. Kaji pola sebelumnya dan
kehilangan fungsi dengan kriteria hasil : bandingkan dengan pola
neurologi/tonus Eliminasi Urin (0503), yang sekarang.
otot, Eliminasi usus (0501) 2. Letakkan tempat tidur
ketidakmampuan Mampu menciptakan dekat dengan kamar mandi
untuk pola eliminasi yang jika memungkinkan.
menentukan letak adekuat/sesuai Buatkan tanda tertentu atau
kamar pintu berkode khusus.
mandi/mengenali Berikan cahaya yang cukup
kebutuhan terutama malam hari.
3. Buat program latihan
defekasi atau kandung
kemih. Tingkatkan
partisipasi pasien sesuai
tingkat kemampuannya.
4. Anjurkan untuk minum
adekuat selama siang hari
(paling sedikit 2 liter sesuai
toleransi). Diet tinggi serat
dan sari buah. Batasi
minum saat menjelang
malam dan waktu tidur.
5. Pantau penampilan atau
warna urine, catat
konsistensi dari feses.

Kolaborasi
Berikan obat pelembek feses
metamacil, gliserin
suppositoria sesuai dengan
indikasi.

5 Perubahan pola Setelah diberikan asuhan Peningkatan Tidur (1850)


tidur berhubungan keperawatan selama Mandiri
dengan perubahan 3x24 jamdiharapkan 1. Berikan lingkungan yang
pada sensori perubahan pola tidur nyaman untuk
klien dapat teratasi meningkatkan tidur
dengan kriteria hasil : (mematikan lampu,
Istirahat (0003) ventilasi ruang adekuat,
1. Tidak terjadi suhu yang sesuai.
perubahan tingkah Menghindari kebisingan).
laku dan penampilan 2. Anjurkan latihan saat siang
(gelisah). hari dan turunkan aktivitas
2. Mampu menciptakan mental/fisik pada sore hari
pola tidur yang 3. Berikan makanan kecil sore
adekuat dengan hari, susu hangat, mandi,
penurunan terhadap dan masase punggung.
pikiran yang 4. Turunkan jumlah minuman
melayang-layang sore hari. Lakukan
(melamun) berkemih sebelum tidur.
3. Mampu menentukan 5. Anjurkan klien untuk
penyebab tidur mendengarkan musik yang
inadekuat lembut.
Kolaborasi
1. Berikan obat sesuai indikasi
:
Antidepresi, seperti :
amitriptilin (elavil),
doksepin (senequan),
trasolon (desyrel),
Oksazepam (serax),
triazolam (halcion).
2. Hindari penggunaan
difenhidramin (benadryl).

6 Kerusakan Setelah diberikan asuhan Terapi latihan : ambulasi


mobilitas fisik keperawatan diharapkan (0221)
berhubungan klien mampu rentang Mandiri
dengan kerusakan gerak optimal dengan 1. kaji kekuatan motorik atau
neuromuskuler, criteria hasil : kemampuan secara
penurunan tonus Ambulasi (0200) fungsional dengan
atau kekuatan 1. mempertahankan menggunakan skala 0-5.
otot. posisi dengan tak ada Lakukan pengkajian secara
komplikasi teratur dan bandingkan
(kontraktur,dekubitus) dengan nilai dasarnya.
2. mendemonstrasikan 2. Berikan posisi pasien yang
teknik/perilaku yang menimbulkan rasa nyaman.
memungkinkan Lakukan perubahan posisi
melakukan kembali dengan jadwal yang teratur
aktifitas yang sesuai kebutuhan secara
diinginkan. individual.
3. Lakukan latihan rentang
gerak pasif. Hindari latihan
aktif selama fase akut.

Kolaborasi
konfirmasikan dengan/rujuk
kebagian terapi fisik/terapi
okupasi.

7 Perubahan Setelah diberikan Manajemen Halusinasi (6510)


persepsi sensori tindakan keperawatan Mandiri
berhubungan diharapkan perubahan 1. Kembangkan lingkungan
dengan perubahan persepsi sensori klien yang suportif dan hubungan
resepsi, transmisi, dapat berkurang atau perawat-klien yang
dan/atau integrasi. terkontrol dengan criteria terapeutik.
hasil: 2. Bantu klien untuk
Fungsi Sensori (2405) memehami halusinasi.
1. Mengalami 3. Kaji derajat sensori atau
penurunan halusinasi. gangguan persepsi dan
2. Mengembangkan bagaiman hal tersebut
strategi psikososial mempengaruhi klien
untuk mengurangi termasuk penurunan
stress. penglihatan atau
3. Mendemonstrasikan pendengaran.
respons yang sesuai 4. Ajarkan strategi untuk
stimulasi. mengurangi stress.
5. Ajak piknik sederhana,
jalan-jalan kelilin rumah
sakit. Pantau aktivitas.
6. Tingkatkan keseimbangan
fisiologis dengan
menggunakan bola lantai,
tangan menari dengan
disertai music.
7. Libatkan dalam aktivitas
sesuai indikasi dengan
keadaan tertentu, spt:terapi
okupasi.

8 Perubahan proses Setelah diberikan asuhan Latihan memori (4760)


pikir berhubungan keperawatan diharapkan Mandiri
dengan gangguan proses pikir 1. Kaji derajat gangguan
degenerasi neuron tidak bertambah buruk, kognitif, seperti perubahan
irreversible. dengan kriteria hasil : orientasi terhadap orang,
Kognisi (0900) tempat waktu, rentang
1. Klien mampu perhatian dan kemampuan
menginterpretasikan berpikir
stimulus sedikit demi 2. Pertahankan lingkungan
sedikit yang menyenangkan dan
2. Klien mampu tenang
mengakomodasikan 3. Lakukan pendekatan
sedikit demi sedikit dengan cara perlahan dan
suatu ide/perintah tenang.
3. Klien mampu 4. Tatap wajah ketika
mengenali orang- bercakap-cakap dengan
orang terdekatnya, pasien.
seperti nama 5. Gunakan kata-kata yang
keluarganya. pendek dan kalimat yang
4. Klien mampu sederhana dan berikan
mengenali tempat- instruksi sederhana. Ulangi
tempat disekitarnya, instruksi tersebut sesuai
seperti alamat rumah. dengan kebutuhan.
5. Klien mampu
mengenali waktu Kolaborasi
seperti pagi, siang, 1. Antisiklotik, seperti
dan malam. halopiridol (Haldol) ;
tioridazin (Mallril)
2. Vasodilator, seperti
siklandelat (Cyclospasmol)
3. Agen ansiolitik, seperti
diazepam, lorazepam,
oksazepam.

9 Sindrom stress Setelah diberikan Manajemen demensia (6460)


relokasi tindakan keperawatan Mandiri
berhubungan diharapkan klien dapat 1. Jalin hubungan saling
dengan gangguan beradaptasi dengan mendukung dengan klien.
sensori, perubahan aktivitas 2. Orientasikan pada
penurunan fungsi sehari- hari dan lingkungan dan rutinitas
fisik. lingkungan dengan baru.
kriteria hasil : 3. Kaji tingkat stressor
Tingkat stress (1212) (penyesuaian diri,
1. mengidentifikasi perkembangan, peran
perubahan. keluarga, akibat perubahan
2. mampu beradaptasi status kesehatan).
pada perubahan 4. Tentukan jadwal aktivitas
lingkungan dan yang wajar dan masukan
aktivitas kehidupan dalam kegiatan rutin.
sehari-hari. 5. Berikan penjelasan dan
3. cemas dan takut informasi yang
berkurang. menyenangkan mengenai
4. membuat pernyataan kegiatan/ peristiwa.
yang psitif tentang 6. Pertahankan keadaan
lingkungan yang baru. tenang. Tempatkan dalam
lingkungan tenang yang
memberikan kesempatan
untuk “beristirahat”
7. Atasi tingkah laku agresif
dengan pendekatan yamg
tenang.
8. Rujuk ke sumber
pendukung perawatan diri.
10 Koping individu Setelah diberikan asuhan Peningkatan Koping (5230).
tidak efektif keperawatan diharapkan Mandiri
berhubungan koping individu menjadi 1. Kaji perubahan dari
dengan efektif dengan kriteria gangguan persepsi dan
ketidakmampuan hasil : hubungan dengan derajat
menyelesaikan Koping (1320) ketidakmampuan.
masalah, 1. Mampu menyatakan 2. Dukung kemampuan koping
perubahan atau 3. Pernyataan pengakuan
intelektual. mengkomunikasikan terhadap penolakan tubuh,
dengan orang terdekat mengingatkan kembali fakta
tentang situasi dan kejadian tentang realitas
perubahan yang bahwa masih dapat
sedang terjadi. menggunakan sisi yang
2. Mampu menyatakan sakit dan belajar
penerimaan diri mengontrol sisi yang sehat.
terhadap situasi. 4. Beri dukungan psikologis
3. Mengakui dan secara menyeluruh.
menggabungkan 5. Bentuk program aktivitas
perubahan ke dalam pada keseluruhan hari
konsep diri dengan 6. Anjurkan orang yang
cara yang akurat terdekat untuk mengizinkan
tanpa haraga diri yang klien melakukan hal-hal
negatif untuk dirinya semaksimal
mungkin.
7. Dukung perilaku atau usaha
seperti peningkatan minat
atau partisipasi dalam
aktivitas rehabilitasi.
8. Monitor gangguan tidur
peningkatan konsentrasi,
letargi, dan witdhrawal.

Kolaborasi
Rujuk pada ahli neuropsikologi
dan konseling bila ada indikasi.
11 Hambatan Setelah diberikan asuhan Peningkatan Sosialisasi (5100)
interaksi sosial keperawatan, diharapkan Mandiri
berhubungan klien tidak mengalami 1. Kaji kemampuan klien
dengan perubahan hambatan komunikasi untuk berkomunikasi.
emosi (cepat verbal dengan kriteria 2. Menentukan cara-cara
marah, mudah hasil : berkomunikasi seperti
tersinggung, Ketrampilan Interaksi mempertahankan kontak
kurang percaya sosial (1502) mata, pertanyaan dengan
diri). 1. Membuat jawaban ya atau tidak,
teknik/metode menggunakan kertas dan
komunikasi yang pensil/bolpoint, gambar,
dapat dimengerti atau papan tulis; bahasa
sesuai kebutuhan dan isyarat, penjelas arti dari
meningkatkan komunikasi yang
kemampuan disampaikan.
berkomunikasi. 3. Letakkan bel/lampu
panggilan di tempat mudah
dijangkau dan berikan
penjelasan cara
menggunakannya. Jawab
panggilan tersebut dengan
segera. Penuhi kebutuhan
klien. Katakan kepada klien
bahwa perawat siap
membantu jika dibutuhkan.

Kolaborasi
Kolaborasi dengan ahli wicara
bahasa.

12 Risiko trauma Setelah diberikan asuhan Manajemen lingkungan (6480)


berhubungan keperawatan jam Mandiri
dengan diharapkan klien tidak 1. Kaji derajatkemampuan
kelamahan, mengalami trauma /kompetensi,munculnya
ketidakmampuan dengan kriteria hasil : tingkah laku yang impulsive
untuk mengenali/ Kejadian jatuh (1912) dan penurunan persepsi-
mengidentifikasi Keluarga mengenali visual,bantu orang terdekat
bahaya dalam resiko potensial di untuk mengidentifikasi
lingkungan. lingkungan dan resiko terjadinya bahaya
mengidentifikasi tahap- yang mungkin timbul.
tahap untuk 2. Hilangkan /minimalkan
memperbaikinya. sumber bahaya dalam
lingkungan.
3. Alihkan perhatian pasien
ketika perilaku teragitasi
atau berbahaya,seperti
keluar dari tenpat tidur
dengan memanjat pagar
tempat tidur tersebut.
4. Berikan gelang identifikasi
yang memperlihatkan
nama,nomor telepon,dan
diagnose,jangan
memposisikan dekat pintu
keluar untuk tangga
5. Kenakan pakaian sesuai
lingkungan fisik/kebutuhan
individu.
6. Lakukan pemantauan
terhadap efek samping
obat,tanda-tanda adanya
takar lajak,seperti tanda
ekstrapiramidal,hipotensi
ortostatik,gangguan
penglihatan,gangguan
gastrointestinal.
7. Hindari penggunan restrain
secara terus menerus.
Berikan kesempatan orang
terdekat tinggal bersama
pasien selama periode
agitasi akut.
8. Rekomendasi penggunaan
kunci “child proof” untuk
mengamankan obat,zat
racun alat-alat tajam.

4. Evaluasi Keperawatan
a. Perubahan pola eliminasi urine/alvi berhubungan dengan kehilangan
fungsi neurologi/tonus otot, ketidakmampuan untuk menentukan letak
kamar mandi/mengenali kebutuhan
 Klien menciptakan pola eliminasi yang adekuat/sesuai
b. Perubahan pola tidur berhubungan dengan perubahan pada sensori
 Tidak terjadi perubahan tingkah laku dan penampilan (gelisah)
 Klien menciptakan pola tidur yang adekuat dengan penurunan
terhadap pikiran yang melayang-layang (melamun).
 Klien menentukan penyebab tidur inadekuat

c. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan


neuromuskuler, penurunan tonus atau kekuatan otot.
 Klien mempertahankan posisi dengan tak ada komplikasi.
 Klien mendemonstrasikan teknik/perilaku yang memungkinkan
melakukan kembali aktifitas yang diinginkan
d. Defisit perawatan diri berhubungan dengan penurunan kognitif,
keterbatasan fisik.
 Klien tampak bersih dan segar
 Klien tidak pucat
e. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan resepsi,
transmisi, dan/atau integrasi.
 Klien Mengalami penurunan halusinasi.
 Klien Mengembangkan strategi psikososial untuk mengurangi stress.
 Klien Mendemonstrasikan respons yang sesuai stimulasi.
f. Perubahan proses pikir berhubungan dengan degenerasi neuron
irreversible
 Klien menginterpretasikan stimulus sedikit demi sedikit
 Klien mengakomodasikan sedikit demi sedikit suatu ide/perintah
 Klien mengenali orang-orang terdekatnya, seperti nama
keluarganya.
 Klien mengenali tempat-tempat disekitarnya, seperti alamat rumah.
 Klien mengenali waktu seperti pagi, siang, dan malam.
g. Sindrom stress relokasi berhubungan dengan gangguan sensori,
penurunan fungsi fisik
 Klien mengidentifikasi perubahan
 Klien beradaptasi pada perubahan lingkungan dan aktivitas
kehidupan sehari-hari
 cemas dan takut klien berkurang
 Klien membuat pernyataan yang psitif tentang lingkungan yang baru.
h. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan ketidakmampuan
menyelesaikan masalah, perubahan intelektual
 Klien menyatakan atau mengkomunikasikan dengan orang terdekat
tentang situasi dan perubahan yang sedang terjadi
 Klien menyatakan penerimaan diri terhadap situasi
 Klien Mengakui dan menggabungkan perubahan ke dalam konsep
diri dengan cara yang akurat tanpa haraga diri yang negative
i. Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan perubahan
intelektual (pikun, disorientasi, penurunan kemampuan mengatasi
masalah).
 teknik/metode klien komunikasi yang dapat dimengerti sesuai
kebutuhan dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi
j. Hambatan interaksi sosial berhubungan dengan perubahan emosi (cepat
marah, mudah tersinggung, kurang percaya diri).
 Klien mampu berinteraksi dengan orang disekitarnya dengan baik.
 Klien tidak memiliki rasa bermusuhan/menyerang orang.
k. Risiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan perubahan sensori, mudah lupa.
 Klien mendapat diet nutrisi yang seimbang
 Mempertahankan/ mendapat kembali BB yang sesuai
 Klien dapat mengubah pola asupan yang benar
l. Risiko trauma berhubungan dengan kelamahan, ketidakmampuan untuk
mengenali/mengidentifikasi bahaya dalam lingkungan
 Keluarga mengenali resiko potensial di lingkungan dan
mengidentifikasi tahap-tahap untuk memperbaikinya.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penyakit Alzheimer merupakan sebuah kelainan otak yang bersifat
irreversible dan progresif yang terkait dengan perubahan sel-sel saraf
sehingga menyebabkan kematian sel otak. Penyakit Alzheimer terjadi secara
bertahap, dan bukan merupakan bagian dari proses penuaan normal dan
merupakan penyebab paling umum dari demensia. Demensia merupakan
kehilangan fungsi intelektual, seperti berpikir, mengingat, dan berlogika, yang
cukup parah untuk mengganggu aktifitas sehari-hari.Demensia bukan
merupakan sebuah penyakit, melainkan sebuah kumpulan gejala yang
menyertai penyakit atau kondisi tertentu. Gejala dari demensia juga dapat
termasuk perubahan kepribadian, mood, dan perilaku. (Society NAOAA.
2000)
Penyakit Alzheimer adalah penyakit yang bersifat degeneratif dan
progresif pada otak yang menyebabkan cacat spesifik pada neuron, serta
mengakibatkan gangguan memori, berpikir, dan tingkah laku. (Sylvia, A.
Price, 2006, hal 1134).
Penyakit alzheimer adalah penyakit degenerasi neuron kolinergik yang
merusak dan menimbulkan kelumpuhan, yang terutama menyerang orang
berusia 65 tahun ke atas. (Arif Muttaqin, 2008, hal 364).

B. Saran
Diharapkan kepada mahasiswa, khususnya mahasiswa keperawatan
agar dapat mengerti, memahami dan dapat menjelaskan tentang penyakit
alzheimer yang pada akhirnya mampu melakukan segala bentuk pencegahan
demi menekan angka insidensi penyakit alzheimer ini. Selain itu, mahasiswa
juga diharapkan lebih banyak menggali kembali informasi tentang hal yang
terkait dengan itu untuk mengetahui dan memperoleh informasi yang lebih
dalam lagi.
DAFTAR PUSTAKA

Harsono. Kapita Selekta Neurologi Edisi kedua. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta:2009.p3-35
Bird TD, Miller BL. Alzheimer's Disease and Other Dementias. Harrison’s
Principles of Internal Medicine. New York: McGraw-Hill Medical
Publishing Division; 2005. p. 1-22.
Rochmah W, Harimurti K. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Interna Publishing;
2009.
Society NAOAA. Alzheimer’s Disease and Dementia : A Growing
Challenge2000:[1-6 pp.]
Henry W. Querfurth MD, Ph.D, Frank M. LaFerla PD. Mechanisms of Disease :
Alzheimer’s Disease. NEJM. 2011;362:1-16.
Robbins, Stanley. L et all. Buku Ajar Patologi edis 7.Buku Kedokteran ECG:2007
Jeffrey L. Cummings MD. Drug Therapy : Alzheimer's Disease. NEJM.
2004;351:56-67.
Japardi I. Penyakit Alzheimer. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara.
2002. pp.1-11.
Reinhard Rohkamm MD. Color Atlas of Neurology Germany: Thieme; 2004