Vous êtes sur la page 1sur 16

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

DENGAN PENYAKIT GLAUKOMA

Oleh:
KELOMPOK 14

1. Herni Nur Handayani (14.401.015.040)


2. Inayatul Sholeha (14.401.015.042)

AKADEMI KESEHATAN RUSTIDA


PRODI DIII KEPERAWATAN
KRIKILAN-GLENMORE-BANYUWANGI
TAHUN 2017
A. Konsep Medis Glaukoma
1. Pengertian Glaukoma
Glaukoma adalah gangguan penglihatan yang disebabkan oleh
meningkatnya tekanan bola mata. Meningkatnya tekanan di dalam bola mata
ini disebabkan oleh ketidakseimbangan antara produksi cairan dan
pembuangan cairan dalam bola mata dan tekanan yang tinggi dalam bola
mata bisa merusak jaringan – jaringan syaraf halus yang ada di retina dan di
belakang bola mata (Nurarif, 2015 : 36).
Glaucoma adalah suatu penyakit yang ditandai dengan adanya
peningkatan tekanan intaokular, penggaungan, dan degenerasi saraf optic
serta defek lapang pandang yang khas. Istilah glaucoma diberikan untuk
setiap kondisi gangguan kompleks yang melibatkan banyak perubahan gejala
dan tanda patologik, namun memiliki satu karakteristik yang cukup jelas
yaitu adanya peningkatan tekanan intraokuli, yang menyebabkan kerusakan
diskus optic (optic disc), menyebabkan atrofi, dan kehilangan pandangan
perifer. Glaucoma umumnya terjadi pada orang kulit hitam dibandingkan
pada orang kulit putih (Tamsuri, 2011 : 72).
2. Etiologi
Penyebab dari glaucoma adalah sebagai berikut :
a. Bertambahnya produksi cairan mata oleh badan cilliary
b. Berkurangnya pengeluaran cairan mata di daerah sudut bilik mata /
dicelah pupil (Nurarif, 2015 : 36).
3. Manifestasi Klinis
a. Nyeri pada mata dan sekitarnya (orbita, kepala, gigi, telinga)
b. Pandangan kabut, melihat halo sekitar lampu
c. Mual, muntah, berkeringat
d. Mata merah, hyperemia konjungtiva, dan siliar.
e. Visus menurun
f. Edema kornea
g. Bilik mata depan dangkal (mungkin tidak ditemui pada glaucoma sudut
terbuka)
h. Pupil lebar lonjong, tidak ada refleks terhadap cahaya
i. TIO meningkat (Tamsuri, 2011 : 74 – 75).
4. Patofisiologi
Tingginya tekanan intraocular bergantung pada besarnya produksi humor
aqueus oleh badan siliari dan mengalirkannya keluar. Besarnya aliran keluar
humor aqueus melalui sudut bilik mata depan juga bergantung pada keadaan
kanal schlemm dan keadaan tekanan episklera. Tekanan intraocular dianggap
normal bila kurang dari 20 mmHg pada pemeriksaan dengan tonometer
schiotz (aplastic). Jika terjadi peningkatan tekanan intraokuli lebih dari 23
mmHg, diperlukan evaluasi lebih lanjut . secara fisiologis, tekanan intraokuli
yang tinggi akan menyebabkan terhambatnya aliran darah menuju serabut
saraf optic dank e retina. Iskemia ini akan menimbulkan kerusakan fungsi
secara bertahap. Apabila terjadi peningkatan tekanan intraocular, akan
timbul penggaungan dan degenerasi saraf optikus yang dapat disebabkan
oleh beberapa faktor.
a. Gangguan perdarahan pada papil yang menyebabkan degenerasi berkas
serabut saraf pada papil saraf optic.
b. Tekanan intraocular yang tinggi secara mekanik menekan papil saraf
optik yang merupakan tempat dengan daya tahan paling lemah pada
bola mata. Bagian tepi papil saraf otak relative lebih kuat daripada
bagian tengah sehingga terjadi penggaungan pada papil saraf otak.
c. Sampai saat ini, patofisiologi sesungguhnya dari kelainan ini masih
belum jelas
d. Kelainan lapang pandang pada glaucoma disebabkan oleh kerusakan
serabut saraf optic (Tamsuri, 2011 : 72).
5. Pathway
(Nurarif, 2015 : 40)
6. v
Penyakit mata lain Kelainan anatomis, Glukoma sudut
(Trauma, uveitis) kegagalan terbuka (obstruksi
perkembngan organ aliran aqueus
mata humor) & glukoma
Penyempitan sdut sudut tertutup
Gangguan aliran (drainase aqueus
mata/ obst aliran
drainase humor terganggu)
aqueus humor

Nyeri mata di Bola mata terlihat Peningkatan


kepala menonjol tekanan intra okuler
(TIO)

Tekanan pada saraf Tekanan pembuluh Tekanan pada sel


vagus darah di retina ganglion

Mual muntah Suplai O2ke mata Kerusakan retina,


menurun gangguan fungsi
penglihatan
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari Iskemik
Penurunan fungsi
kebutuhan tubuh
penglihatan,
penurunan lapang
Nyeri akut Resiko retinopati pandang, fotopobia
(kebutaan)

Gangguan citra Kebutaan


tubuh

Gangguan persepsi
Resiko cidera
sensori visual
7. Klasifikasi Glaukoma
Terdapat beberapa tipe glaucoma, bentuk glaukoma klinis terbaru
diidentifikasi sebagai glaukoma sudut terbuka, glaucoma sudut tertutup (juga
disebut sebagai blok pupil), glaucoma kongenital, dan glaucoma yang
berhubungan dengan kondisi lain. Glaukoma dapat bersifat primer atau
sekunder, bergantung pada apakah faktor terkait berperan meningkatkan
IOP. Dua bentuk glaukoma klinis yang umum ditemui pada orang dewasa
adalah glaucoma sudut terbuka (POAG) dan glaucoma sudut tertutup, yang
dibedakan oleh mekanisme yang menyebabkan gangguan aliran keluar
cairan.
Klasifikasi vaughen untuk glaucoma yaitu :
a. Glaukoma primer
1) Glaucoma sudut terbuka (glaucoma simplek)
2) Glaucoma sudut sempit
b. Glaucoma congenital
1) Primer atau infantile
2) Menyertai kelainan congenital lainnya.
c. Glaucoma sekunder
1) Perubahan lensa
2) Kelainan uvea
3) Trauma
4) Bedah
5) Rubeosis
6) Steroid
d. Glaucoma absolute
Dari pembagian diatas dapat dikenal glaucoma dalam bentuk – bentuk:
a. Glaucoma sudut sempit primer dan sekunder, (dengan blockade
pupil atau tanpa blockade pupil)
b. Glaucoma sudut terbuka primer dan sekunder
c. Kelainan pertumbuhan, primer (congenital, infantile, juvenile),
sekunder kelainan pertumbuhan lain pada mata
(Nurarif, 2015 : 36).
8. Pemeriksaan Penunjang
a. Oftalmoskopi : untuk melihat fondus mata bagian dalam yaitu retina,
diskus optikus macula dan pembuluh darah retina.
b. Tonometri : adalah alat untuk mengukur tekanan intra okuler, nilai
yang mencurigakan apabila berkisar antara 21 – 25 mmHg dan
dianggap patilogi bisa melebihi 25 mmHg.
c. Perimetri : kerusakan nervus optikus memberikan gangguan lapang
pandangan yang has pada glaucoma, secara sederhana, lapang pandang
dapat diperiksa dengan tes konfrontasi.
d. Pemeriksaan ultrasonotrapi : adalah gelombang suara yang dapat
digunakan untuk mengukur dimensi dan struktur okuler
(Nurarif, 2015 : 37)
9. Penatalaksanaan
Pengobatan dilakukan dengan prinsip untuk menurunkan TIO,
membuka sudut yang tertutup (pada glaucoma sudut tertutup), melakukan
tindakan suportif (mengurangi nyeri, mual, muntah, serta mengurangi
radang), mencegah adanya sudut tertutup ulang serta mencegah gangguan
pada mata yang baik (sebelahnya)
Untuk melancarkan aliran humor aqueus, dilakukan konstriksi pupil
dengan miotikum seperti pilocarpine hydrochloride 2 -4 % setiap 3-6 jam.
Miotikum ini menyebabkan pandangan kabur setelah 1 -2 jam penggunaan.
Pemberian miotikum dilakukan apabila telah terdapat tanda – tanda
penurunan TIO.
Penanganan nyeri, mual, muntah, dan peradangan dilakukan dengan
memberikan analgesik seperti pethidine (Demerol),antimuntah atau
kortikosteroid untuk reaksi radang.
Penatalaksanaan keperawatan lebih menekankan pada pendidikan
kesehatan terhadap penderita dan keluarganya karena 90% dari penyakit
kronis dengan hasil pengobatan yang tidak permanen. Kegagalan dalam
pengobatan untuk mengontrol glaucoma dan adanya pengabaian untuk
mempertahankan pengobatan dapat menyebabkan kehilangan penglihatan
progresif dan mengakibatkan kebutaan.(Tamsuri, 2011 : 75 – 76).
B. Asuhan Keperawatan Glaukoma
1. Pengkajian
a. Identitas
Pada umumnya glaucoma ditemukan pada usia lebih dari 40 tahun
(Ilyas, 2014 : 224).
b. Keluhan utama
Pada pasien dengan glaucoma biasanya mengeluh pandangan berkabut,
mata merah dan nyeri pada mata (Tamsuri, 2011 : 74).
c. Riwayat kesehatan
1) Riwayat penyakit dahulu
Pernah mengalami infeksi : uveitis, trauma, pembedahan
(Tamsuri : 2011 : 76).
2) Riwayat penyakit sekarang
Menderita diabetes mellitus, hipertensi, penyakit kardiovaskuler,
serebrovaskuler, gangguan tiroid (Tamsuri, 2011 : 76).
3) Riwayat penyakit keluarga
Keluarga yang menderita penyakit glaucoma
4) Riwayat psikososial
Kemampuan aktivitas, gangguan membaca, risiko jatuh,
berkendaraan (Tamsuri, 2011 : 77).
d. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum :
Kesadaran compos mentis
2) Sistem penglihatan
Inspeksi : Kemerahan, perimetri (Penurunan luas lapang pandang)
Palpasi : Nyeri tumpul orbita
Pengukuran TIO dengan tonometer (TIO >23 mmHg)
Gonioskopi menunjukan sudut mata tertutup atau terbuka (Tamsuri,
2011 : 77).
3) Sistem pernapasan
I : Dada simetris dan tidak menggunakan oto bantu pernafasan
P : Vocal fremitus getaran kanan dan kiri sama
P : Terdapat suara sonor
A: Bunyi nafas bersih, tidak ada suara nafas tambahan
4) Sistem pendengaran
I : Fungsi pendengaran tidak ada gangguan, tidak ada serumen
5) Sistem kardiovaskuler
I : Iktus kordis terlihatat pada psien yang kurus
P : Iktus cordis teraba
P : Batas jantung DBN
A: Bunyi jantung 1 II Reguler tidak ada bunyi jantung tambahan
6) Sistem pencernaan
I : Bentuk perut datar
A : Frekuensi bising usus per menit hiperaktif berhubungan dengan
in adekuat nutrisi
P :Adanya nyeri tekan pada salah satu kuadran abdomen
P :Adanya suara perut hipertimpani
7) Sistem perkemihan
BAK = 0,5 – 1 ml/Kg/BB ( Tidak ada gangguan)
8) Sistem endokrin
Adanya penyakit diabetes melitus
9) Sistem reproduksi
Pada wanita Riwayat menstruasi terakhir tidak ada gangguan
10) Sistem integument
I : Warna kulit tidak sianosi, Kelembapan kulit kering, , rambut
bersih
P : turgor kulit elastisitas < 2 detik
11) Sistem muskuloskletal
I : Ekstremitas atas : Pergerakan normal ,Ekstremitas bawah :
Pergerakan normal, Kekuatan otot : Penurunan tonus otot
2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan Persepsi Sensori Visual
Definisi : Perubahan terhadap stimulus baik internal maupun eksternal
yang disertai dengan respon yang berkurang , berlebihan, atau
terdistorsi.
Penyebab :
1) Gangguan penglihatan
2) Gangguan pendengaran
3) Gangguan penghidungan
4) Gangguan perabaan
5) Gangguan serebral
6) Penyalahgunaan zat
7) Usia lanjut
8) Pemajanan toksin lingkungan
Gejala dan Tanda Mayor
Subjektif
1) Mendengar suara bisikan atau melihat bayangan
2) Merasakan sesuatu melalui indra perabaan, penglihatan, penciuman,
pengecapan.
Objektif
1) Distorsi sensori
2) Respon tidak sesuai
3) Bersikap seolah melihat, mendengar, meraba, mencium sesuatu
Kondisi Klinis Terkait
1) Glaukoma
2) Katarak
3) Gangguan refraksi ( Miopia, Hiperopia, Astigmatisma, Presbiopia,
4) Trauma okuler
5) Trauma pada saraf kranialis II, III, IV, dan VI akibat stroke,
Aneurisma, Intrakranial, trauma/tumor otak. (PPNI, 2017:190)
b. Nyeri akut
Definisi : Pengalsmsn sensorik atau emosional yang berkaitan dengan
kerusakan jaringan actual atau fugsional, dengan onset mendadak atau
lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlansung kurang
dari 3bulan.
Penyebab :
1) Agen pencedera fisiologis (misal inflamasi, iskemia, neoplasma)
2) Agen pencedera kimiawi (misal. Terbakar, bahan kimia iritan)
3) Agen pencedera fisik (misal abses, amputasi, terbakar, terpotong,
mengangkat berat, prosedur operasi, trauma, latihan fisik
berlebihan)
Gejala dan tanda mayor :
Subjektif :
1) Mengeluh nyeri
Objektif :
1) Tampak meringis
2) Bersikap protektif
3) Gelisah
4) Frekuensi nadi meningkat
5) Sulit tidur
Gejala dan tanda minor :
Objektif :
1) Tekanan darah meningkat
2) Pola napas berubah
3) Nafsu makan berubah
4) Proses berpikir terganggu
5) Menarik diri
6) Berfokus pada diri sendiri
7) Diaphoresis
Kondisi klinis terkait :
1) Kondisi pembedahan
2) Cedera traumatis
3) Infeksi
4) Sindrom koroner akut
5) Glaukoma (PPNI, 2017 : 172).
2. Resiko cedera
Definisi : Beresiko mengalami bahaya atau kerusakan fisik yang
menyebabkan seseorang tidak lagi sepenuhnya sehat atau dalam kondisi
baik.
Faktor resiko :
Eksternal :
1) Terpapar pathogen
2) Terpapar zat kimia toksik
3) Terpapar agen nosokornial
4) Ketidakamanan transportasi
Internal :
1) Ketidaknormalan profil darah
2) Perubahan orientasi afektif
3) Perubahan sensasi
4) Disfungsi autoimun
5) Disfungsi biokimia
6) Hipoksia jaringan
7) Kegagalan mekanisme pertahanan tubuh
8) Malnutrisi
9) Perubahan fungsi psikomotor
10) Perubahan fungsi kognitif
Kondisi klinis terkait :
1) Kejang
2) Sinkop
3) Vertigo
4) Gangguan penglihatan
5) Gangguan pendengaran
6) Penyakit Parkinson
7) Hipotensi
8) Kelainan nervus vestibularis
9) Retardasi mental
A. Intervensi Keperawatan
a. Gangguan Sensori Perseptual Visual Berhubungan Dengan
Penurunan Fungsi Penglihatan
1) Intervensi
Setelah dilkukan tindakan keperawatan 1 x … jam diharapkan
masalah persepsi sensori penglihatan teratasi dengan
Kriteria Hasil NOC :
a) Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap
perubahan
b) Mengidentifikasi / memperbaiki `potensial bahaya dalam
lingkungan
2) Aktivitas Keperawatan
a) Kaji ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau dua mata
terlibat
b) Orientasikan klien terhadap lingkungan
c) Observasi tanda tanda disorientasi
3) Penyuluhan
a) Ingatkan klien menggunakan kaca mata katarak yang tujannya
memperbesar kurang lebih 25 % penglihatan perifer hilang
4) Aktifitas lain
a) Pendekatan dari sisi yang tidak dioprasi
b) Bicara dengan menyentuh pungguang pasien
c) Letakkan barang yang dibutuhkan / Posisi bel pemanggil dalam
jangkauan / posisi yang sehat
b. Nyeri Akut Berhubungan Dengan Peningkatan Tekanan Intra
Okuler
1) Intervensi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x … jam
diharapkan nyeri berkurang dengan
Kriteria hasil :
a) Meperlihatkan teknik relaksasi secara individu yang efektif
untuk mencapai kenyamanan
b) Mempertahankan tingkat nyeri pada atau kurang ( dengan skala
0-10 ).
c) Melaporkan kesejahteraan fisik dan psikologis
d) Mengenali faktor penyebab dan menggunkan tindakan untuk
memodifikasi faktor tersebut
2) Aktifitas Keperawatan
a) Gunakan laporan dari pasien sendiri sebagia pilihan pertama
untuk mengumpulkan informasi pengkajian
b) Minta pasien untuk menilai nyeri atau ketidak kenyamanan
pada skala 0 samapai 10
c) Gunakan bagan alir nyeri untuk memantau peredaan nyeri oleh
analgesik dan kemungkinan analgesik dan kemungkinan
efeksampingnya.
d) Kaji dampak agama, budaya, kepercayaan dan lingkungan
terhadap nyeri dan respon pasien
e) Dalam mengkaji nyeri pasien, gunakan kata-kata yang sesuai
usia dan tingkat perkembangan pasien
3) Penyuluhan Untuk Pasien atau Keluarga
a) Sentakan dalam instruksi pengulangan pasien obat kusus yang
harus diminum, frekuensi pemberian, kemungkinan efek
sampinf, kemungkinan intruksi obat.
b) Intruksikan pasien untuk menginformasikan kepada perawta
jika peredaan nyeri tidak dapat di capai
c) Informasikan kepada pasien tentang prosedur yang dapat
meningkatkan nyeri dan tawarkan strategi koping yang
disarankan
d) Perbaiki kesalahan persepsi tentang analgesik narkotik
4) Aktifitas Kolaborasi
a) Kelola pasca bedah awal dalam pemeberian obat yang
terjadwal
b) Gunakan tindakan pengendalian nyeri sebelum nyeri meenjadi
lebih berat
5) Aktivitas Lain
a) Sesuaikan frekuensi dosis sesuai indikasi melalui pengkajian
nyeri dan efeksamping
b) Bantu pasien mengidentifikasi tindakan kenyamanan yang
efektif di masalalu
c) Lakukan perubahan posisi, masase punggung dan relaksasi.
( Judith, 2015 : 530-537).
c. Resiko Cedera Berhubungan Dengan Penurunan Lapang Pandang
1) Intervensi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam
diharapkan pasien bebas dari resiko terjadinya cedera dengan
kriteria hasil:
a) Mempersiapkan lingkungan yang aman (misalnya, merapikan
kondisi yang berantakan dan tumpahan, memasang pagar tanda,
dan menggunakan tikar karet, serta susur tangan di kamar
mandi)
b) Mengidentifikasi resiko yang meningkatkan kerentanan
terhadap cedera
c) Menghindari cedera fisik
2) Aktivitas Keperawatan
a) Identifikasi faktor yang mempengaruhi kebutuhan keamanan,
misalnya perubahan status mental derajat keracunan, keletihan,
usia kematangan, pengobatan dan deficit motoric atau sensorik.
b) Identifikasi faktor lingkungan yang memungkinkan resiko
terjatuh
3) Penyuluhan untuk Pasien/ Keluarga
a) Ajarkan pasien untuk berhati-hati dengan alat terapi panas
b) Berikan materi edukasi yang berhubungan dengan strategi dan
tindakan untuk mencegah cedera
4) Aktivitas Kolaborasi
a) Rujuk ke kelas pendidikan dalam komunitas
5) Aktivitas Lain
a) Orientasikan kembali pasien terhadap realitas dan lingkungan
saat ini bila dibutuhkan
b) Sediakan alat bantu berjalan (seperti tongkat dan walker)
c) Gunakan alarm untuk mengingatkan pemberi perawatan bila
pasien bangun dari tempat tidur atau meninggalkan ruangan
d) Ajarkan pasien untuk meminta bantuan dengan gerakan bila
perlu (Wilkinson, 2015 : 428 – 435).
DAFTAR PUSTAKA

Ilyas, S. (2014). Ilmu Penyakit Mata Edisi Kelima. Jakarta: FKUI.

Nurarif, A. H. (2015). Aplikasi Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis.


Yogyakarta: Mediaction Jogja.

PPNI. (2016). Standart Diagnosa Keperawatan Indonesia. Jakarta: Tim Polja PPNI.

Tamsuri, A. (2011). Klien Gangguan Mata dan Penglihatan Keperawatan Medikal


Bedah. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Wilkinson, J. (2015). Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 9. Jakarta: Buku


Kedokteran EGC.